Naruto disclaimer Masashi Kishimoto dan Fate/Stay Night disclaimer Type-Moon

Tapi cerita ini sepenuhnya milik author.

Author hanya meminjam karakter untuk cerita ini dan tidak mengambil keuntungan materi apapun dari cerita yang di-publish.

.

Warning : OC, OOC, AU, AR, AT, Typo (s), miss-Typo, dan banyak kesalahan yang lainnya.

.

.

.

My Library

Drama, Friendship, Romance, Humor, Parody, Family, Suspense, Spiritual, Hurt/Comfort, Poetry

.

.

.

Chapter 10 Love is Beautiful Pain

.

Denting jam dinding di suatu ruangan rumah sakit terus berdetak tanpa henti. Terlihat seorang pemuda berambut merah berpakaian sweater merah marun, celana jeans hitam dan sepatu sport putihnya tengah duduk menunggu seorang gadis siuman dari tak sadarkan diri.

Roman wajahnya terlihat begitu mengkhawatirkan sang gadis hingga ia tidak memperdulikan tiga mata kuliah yang harus ia ikuti hari ini. Tampak ia terus menggenggam tangan kanan gadis bersurai kuning itu sambil terus berdoa, memohon kesembuhan untuk gadis tersebut yang tak lain adalah Arthuria.

Dialah Gaara, seorang pemuda yang selalu setia mendampingi Arthuria. Bahkan ikatan batinnya kepada gadis ini begitu besar melebihi yang Naruto miliki. Gaara sudah lebih dari sekedar teman bagi Arthuria, karena sejak semasa SMA mereka selalu bersama. Cinta dalam diam Gaara rasakan tanpa berani diungkapkannya kepada seorang gadis yang tengah terbujur tak sadarkan diri.

Ya, Gaara menahan diri dari perasaannya sendiri. Ia masih mampu bertahan untuk tidak mengungkapkan perasaannya itu. Entah sampai kapan, hanya dirinyalah yang tahu.

"Arthuria ..."

Wajahnya tampak berbinar kala merasakan gerakan dari tangan sang gadis. Kesedihannya berubah menjadi rasa syukur saat Arthuria perlahan membuka kedua matanya.

"Ga-gaara ..."

Arthuria sendiri masih belum dapat memandang dengan jelas keadaan di mana dirinya berada. Tapi dengan perlahan ia dapat melihat jika Gaara tengah berada di hadapannya.

"Arthuria, syukurlah."

Gaara begitu senang, wajah dinginnya menyiratkan sebuah senyuman kebahagiaan yang sangat jarang dilihat orang banyak.

"Gaara, arigatou," ucap Arthuria pelan.

Gadis itu perlahan tersadarkan dari pingsannya dan mulai mengenali keadaan sekitar, tempat di mana ia berada.

"Arthuria, aku tidak butuh terima kasihmu. Aku hanya ingin kau sembuh. Dan sekarang sudah cukup."

Gaara begitu riang, energi semangat itu mengalir langsung kepada Arthuria hingga membuat gadis ini tersenyum sambil menahan haru.

Arthuria lalu berusaha bangkit dari tidurnya. Ia ingin duduk di kasur pembaringan rumah sakit itu.

"Sepertinya leherku begitu sakit."

Arthuria memegang lehernya yang terasa sangat sakit dan napasnya pun masih sedikit sesak. Akibat dari cekikkan sang kakak, Gilgamesh. Tampak bekas memerah di leher sang gadis bersurai kuning ini.

"Tadi pagi aku lewat depan gang rumahmu, tanpa sengaja aku melihat Gilgamesh terburu-buru masuk ke dalam mobilnya sambil membawa sesuatu. Aku kemudian memutar arah karena perasaanku tiba-tiba tak enak. Dan kuberanikam diri ke rumahmu. Pintu rumah dalam keadaan terbuka, tapi kupanggil tak ada seorangpun yang menjawab. Hingga aku beranikan diri masuk ke dalam rumah dan aku temukan kau dan ibumu tengah tak sadarkan diri. Arthuria, ada apa sebenarnya?"

Gaara ingin mengetahui apa penyebab dari kejadian yang menimpah Arthuria dan juga ibunya. Tetapi Arthuria malah terdiam, sepertinya ia belum siap untuk menceritakan semuanya.

Tiba-tiba dalam keheningannya, ia teringat akan sang ibu.

"Di mana ibuku, Gaara?" tanya Arthuria dengan nada pelan kepada Gaara.

"Ibu-mu ..."

Tampak Gaara yang terbata, seakan enggan mengutarakan keadaan yang sebenarnya. Helaan napas panjangnya membuat Arthuria semakin cemas akan keadaan sang ibu.

"Gaara?"

"Arthuria ... ibumu-"

Gaara lagi-lagi seperti enggan menjawabnya.

"Gaara, ada apa? Apa sesuatu terjadi pada ibuku?" tanya Arthuria lagi.

"Maaf, Arthuria. Ibumu ..."

"Gaara?"

"Ibumu tengah dalam keadaan koma," ucap Gaara kemudian memberanikan dirinya.

"Apa?!"

JLEBB

Sontak saja kabar itu membuat Arthuria terkejut. Ia segera bangkit dari pembaringannya tanpa memperdulikan keadaan dirinya yang masih lemas. Dengan segera Arthuria beranjak berjalan menuju pintu keluar ruangan.

"Arthuria, keadaanmu masih belum stabil."

Gaara mencoba memperingatkan tetapi Arthuria tidak menggubrisnya.

"Aku ingin menemui ibuku. Tolong antarkan aku."

"Arthuria, tapi kau tidak boleh-"

"Aku tidak peduli!"

"Arthuria ..."

"Jika kau tidak mau mengantarkannya, aku akan mencarinya sendiri!"

Arthuria lalu berjalan sambil tertatih menuju pintu keluar ruangan.

"Arthuria, tunggu!"

Gaara kemudian mengikuti ke mana langkah kaki sang gadis. Ia tidak tega membiarkan Arthuria tertatih sendirian.

"Arthuria!"

Ia kemudian mendekap Arthuria dari belakang.

"Arthuria, kumohon dengarkan aku sejenak untuk kali ini saja."

Sesaat Arthuria terhenti dari segala keinginannya untuk menemui sang ibu. Setelah mendengar permohonan Gaara kepadanya.

"Arthuria ..."

Gaara kemudian membalikkan tubuh Arthuria menghadap ke arahnya.

"Dengar ..."

Sambil mengusap kedua pipi Arthuria, Gaara kemudian berucap kepada seorang gadis yang sudah ia cintai sejak lama.

"Dokter melarang kita untuk menemui ibumu saat ini, kita harus bersabar, Arthuria. Jika nanti dokter sudah mengizinkannya. Aku akan mengantarkanmu ke ruang rawat ibu. Ya ...?"

Gaara berucap dengan lembut kepada Arthuria dengan tatapan yang sendu.

"Gaara ..."

Arthuria merasa tersentuh dengan sikap Gaara kepadanya. Entah mengapa ia menjadi terharu dan juga merasa bersalah.

"Gaara ... maafkan aku."

Tiba-tiba saja Arthuria merebahkan dirinya di pelukan Gaara, mencoba menahan diri dari keinginannya kala ini. Gaara pun menyambutnya dengan hangat.

'Arthuria ...'

Kenangan masa-masa SMA itu seketika terlintas di benak Gaara. Bagaimana riangnya seorang gadis yang mampu mengubah persepsinya akan dunia. Hanya Arthurialah yang mampu melakukannya. Seorang gadis yang kini tengah menangis di dalam pelukannya.

Cinta dalam hati, terpendam bertahun-tahun lamanya. Tak mampu untuk diungkapkan, entah sampai kapan.

.

.

.

Sementara itu...

Gilgamesh tengah menunggu seseorang di depan gerbang kampus Arthuria. Ia mempunyai sebuah rencana untuk sang adik.

"Hari ini, aku akan membuatmu hancur, Arthuria. Sebagaimana kau menghancurkan masa depanku. Tak sulit bagiku untuk mengetahui siapa saja yang dekat denganmu. Dan aku akan membuat mereka satu persatu membenci dirimu. Hahaha."

Gilgamesh bukan tanpa alasan untuk melakukan hal ini kepada Arthuria. Seingat dirinya, semasa kecil kala Arthuria datang dan menjadi bagian dari keluarganya. Hidup Gilgamesh tak seindah seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan diingatannya, ia mengingat jika sang ayah tertabrak mobil saat berusaha menyelamatkan Arthuria yang berlarian di pinggir jalan dan menyeberang dengan tergesa-gesa.

Ya, dendam lama itu akhirnya bisa terbalaskan sekarang. Karena sang ibu sudah tidak mampu berbuat apa-apa untuk melerai keduanya.

Tak lama, datang seorang pemuda yang pernah Gilgamesh lihat di handphone adiknya itu. Segera saja Gilgamesh mendekati sang pemuda berpakaian sweater hitam, jeans dan sepatu sport hitam yang terlihat menyampirkan tas punggung di bahu kirinya.

"Hai, kau yang bernama Sai?"

Gilgamesh berjalan mendekati sosok pemuda yang sudah ingin masuk ke dalam kampusnya.

"Iya, saya Sai. Anda siapa ya?" tanya pemuda yang memang benar adalah Sai. Salah satu orang kepercayaan Arthuria dalam jajaran BEM yang dipimpinnya.

"Gilgamesh, aku kakak Arthuria. Ada sebuah kabar yang ingin aku titipkan padamu. Bisa masuk ke dalam mobil sebentar?" Gilgamesh menunjuk mobilnya.

Mendengar penuturan jika Gilgamesh adalah kakak dari Arthuria, Sai kemudian mau menerima tawaran Gilgamesh untuk masuk ke dalam mobil.

Dan perbincangan itu pun terjadi. Kala mereka tengah duduk berdua di dalam mobil, Gilgamesh kemudian menuturkan keinginannya.

"Kau tahu, sebenarnya aku tidak menyukai jika Arthuria menjadi ketua BEM di kampus ini. Dia tidak punya tanggung jawab sama sekali. Dan bersikap semena-mena terhadap anggota. Apakah menurutmu dia masih pantas memegang jabatan itu?"

Gilgamesh bertanya sambil menyalakan sebatang rokok di dalam mobilnya. Sementara kaca mobilnya itu ia buka lebar-lebar.

"Jadi maksud Anda ...?"

"Aku ingin menawarkan kerja sama kepadamu. Tentunya dengan imbalan yang lumayan besar."

Gilgamesh berucap sambil menoleh ke arah Sai.

"Maksudnya aku harus-"

"Ya, kau pasti mengerti apa maksudku, Sai. Buat semua mahasiswa di kampus ini membenci Arthuria karena dia melepas tanggung jawabnya beberapa minggu ini. Dia tidak masuk kampus dan menelantarkan pekerjaannya, bukan?"

Gilgamesh mulai serius berbicara kepada Sai.

"Tapi ... aku-"

"Ini!"

Gilgamesh kemudian memberikan Sai sebuah amplop tebal yang berisi uang.

"Ini baru awalan saja. Jika kau berhasil menghasut mahasiswa lain untuk membenci Arthuria, maka aku akan memberikan imbalan dua kali lipat dari ini. Terimalah!"

Gilgamesh kemudian menyerahkan amplop berisi uang itu kepada Sai.

Sejenak Sai berpikir di dalam hatinya. Ia menimbang tawaran yang diberikan oleh kakak Arthuria itu. Terlebih iming-iming uang yang akan dia terima lebih banyak, membuat hati Sai tergoyahkan.

"Sudahlah, jangan terlalu lama berpikir. Tugasmu begitu mudah, hanya menyebarkan kebencian sehingga pemberontakkan terjadi. Ya, daripada kau menjadi babunya mengapa tidak dirimu saja yang menggantikan Arthuria?"

Gilgamesh benar-benar gila, ia menghasut Sai yang merupakan orang kepercayaan Arthuria untuk menjatuhkan Arthuria, adiknya sendiri. Sedang Sai tampak membenarkan apa yang dikatakan oleh Gilgamesh.

"Jadi, bagaimana?" tanya Gilgamesh lagi sambil membuang puntung rokoknya.

Sai pun kemudian menjalin kesepakatan bersama Gilgamesh, tentunya Gilgamesh menyambut hal ini dengan senang hati.

'Cih! Harga dirimu bisa dibeli dengan uang juga, Sai. Sungguh tak kusangka semudah ini. Lihatlah Arthuria, orang kepercayaanmu akan menyerang dirimu hingga dirimu jatuh. Hahahahaha. Rasakan dan nikmati permainan ini, Arthuria ...'

Dalam perasaan senang Gilgamesh bergumam di dalam hatinya. Sepertinya Gilgamesh terlalu sulit untuk melupakan dendamnya kepada Arthuria. Ia tidak ingin jika Arthuria memperoleh kebahagiaan.

Tapi apakah benar jika Arthuria adalah anak pungut keluarga Gilgamesh? Dan benarkah kematian ayah Gilgamesh disebabkan oleh Arthuria? Tentunya kebenaran ini hanya sang ibu yang dapat menjawabnya dengan pasti. Namun sayang, sang ibu tengah berada dalam keadaan koma yang bahkan Gilgamesh tidak memperdulikannya sedikit pun.

.

.

.

Esok harinya...

Pagi ini rintik hujan turun membasahi dedauan taman rumah sakit tempat ibunda Arthuria dirawat. Rintikkan hujan itu seakan mewakilkan hati Arthuria yang sedang menangis kala melihat sang ibu terbaring tak berdaya dari kaca pintu ruang ICU.

Air matanya menetes membasahi pipi dan tak dapat terbendung lagi. Terbalut baju terusan berwarna krim muda dan sepatu sandal yang berwarna cokelat, ia tampak menyandarkan kepalanya pada daun pintu sambil melihat keadaan sang ibu yang tengah koma.

"Arthuria ..."

Sesosok pria berpakaian mantel hitam dan juga jeans biru menepuk pelan pundak kiri sang dara cantik yang sedang dirundung duka.

"Gaara ..."

Arthuria menoleh ke sebelah kanannya dan ia melihat jika pemuda itu sedang tersenyum ke arahnya.

"Arthuria, aku sudah bawakan sarapan untukmu. Sebaiknya kau memakannya selagi hangat."

Gaara begitu mencurahkan perhatiannya kepada Arthuria. Rasa sayangnya terhadap Arthuria sudah tidak dapat ditutupi lagi.

Arthuria mengusap air matanya lalu melihat ke arah kaki Gaara.

"Kau tidak memakai sepatu? Di mana sepatumu?" tanya Arthuria yang terheran melihat Gaara tidak memakai sepatu.

"Oh, ini. Sepatuku basah, tadi tanpa sengaja terkena cipratan genangan air hujan dari mobil yang berlawanan arah." Gaara menjawab seadanya.

"Begitu ya, tapi tidak kau jual untuk membeli sarapan ini kan?" Arthuria berusaha menyelidik.

"Hahaha..."

Gaara pun tertawa mendengar ucapan Arthuria kepadanya.

"Kau masih sama seperti yang dulu. Walau dirundung duka kau masih saja perhatian kepada orang lain. Baiklah, mari kita sarapan bersama."

Gaara kemudian merangkul Arthuria untuk segera menyantap sarapan paginya.

Sejenak Arthuria dapat melupakan kesedihannya akan sang ibu yang tengah dalam keadaan koma. Itu semua karena Gaara yang selalu setia mendampingi Arthuria. Menemani sang dara dalam keadaan suka dan duka. Hingga benih-benih cinta itu bersemayam di hati Gaara, bertahun-tahun lamanya.

Namun tidak untuk Arthuria, di hatinya hanya ada nama seorang pria bodoh yang berani merenggut sesuatu yang telah ia jaga. Siapa lagi kalau bukan Uzumaki Naruto. Seseorang yang dengan berani mengambil ciuman pertamanya tanpa izin. Yang entah mengapa Arthuria sendiri tidak dapat menolaknya.

Kadang kita tidak dapat menentukan kepada siapa kita akan jatuh cinta. Tapi setidaknya kita masih dapat berusaha untuk menjaga cinta tersebut.

Begitulah terkadang kehidupan di dunia ini, segala sesuatunya tidak dapat dipastikan. Seperti perasaan Gaara yang mencintai Arthuria. Namun Arthuria malah mencintai Naruto, begitupun sebaliknya.

.

.

.

Tokyo, 10.00am.

Sang surya mulai memberi kehangatan setelah awan berarak memberikan kasih sayangnya berupa hujan yang turun membasahi bumi. Terlihat di sebuah taman rumah sakit, Arthuria dan Gaara tengah duduk bersama di atas sebuah kursi kayu yang mengahadap ke arah kolam ikan.

Mereka sedang memperbincangkan sesuatu yang membuat keduanya tertawa bersama. Gaara tak henti-hentinya tersenyum saat mendengar penuturan Arthuria akan cerita yang menggelitik hatinya. Begitupun Gaara, sesekali membuat dara bersuarai kuning ini tampak terbawa perasaan kala Gaara mengejek dirinya.

"Tak terasa waktu yang membawa kita menjadi sedekat ini."

Arthuria tersenyum sambil sesekali menatap Gaara yang duduk di sebelah kirinya.

"Hm, ya. Itu benar. Tapi kau masih juga tidak peka dan beralih kepada yang lain."

Gaara berusaha membuka percakapan tentang perasaannya.

"Yang lain?"

Arthuria menoleh, memutar badannya ke arah Gaara.

"Hum, iya. Dengan pria yang kemarin. Benar kan?"

Gaara berusaha menyelidiki siapa gerangan pria yang bersama Arthuria kala itu.

"Oh, dia ..."

Entah mengapa tiba-tiba Arthuria menurunkan nada bicaranya. Ia terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.

"Dia pacarmu?" tanya Gaara dalam harap-harap cemas untuk memastikan sesuatu.

Arthuria serasa enggan untuk menjawabnya.

"Haaahh ... dia bukan siapa-siapa bagiku. Hanya saja keadaan yang memaksaku untuk menjaga perasaannya," sahut Arthuria pelan.

"Maksudmu?"

"Ya, aku berutang kepada ayah Archer untuk membiayai operasi Ibu kemarin. Dengan syarat aku harus mendekat ke anaknya."

"Arthuria, bukankah ...?"

"Ya, aku tahu itu bukan hal yang baik. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan untuk Ibu. Tak ada jalan lain, Gaara."

Tiba-tiba Arthuria seperti terisak, namun terlihat berusaha ditahan olehnya. Gaara pun mulai mengerti apa yang Arthuria alami kala ini. Ia turut iba dan juga perihatin atas musibah yang menimpah gadis yang dicintainya. Namun, dirinya pun tidak dapat berbuat banyak.

'Kau rela menjual hatimu demi membiayai operasi ibumu. Kau benar-benar anak yang berbakti, Arthuria.'

Rasa segan melanda diri Gaara untuk menyatakan perasaannya kepada sang gadis. Ia memilih mencarikan jalan keluar untuk Arthuria daripada menyatakan perasaannya. Gaara benar-benar seorang pemuda yang sangat baik teruntuk gadis bersurai kuning ini. Terbukti dari kerelaan dirinya dalam berkorban untuk sang dewi. Walau Arthuria tidak memahami sama sekali akan maksud hati Gaara.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Gaara.

"Mungkin ... aku akan meminta bantuan lagi kepada ayah Archer. Semoga saja ini adalah permintaanku yang terakhir," cetus Arthuria kemudian.

Gaara yang merasa iba lalu lebih mendekat ke arah Arthuria, ia kemudian merangkul Arthuria untuk menyandarkan kepala sang gadis di bahunya.

"Aku akan ikut membantumu, Arthuria. Jangan pernah merasa sendiri."

Gaara mengusap lembut kepala Arthuria dengan seluruh kasih sayangnya. Namun, Arthuria hanya membalasnya dengan sebuah tetesan air mata. Hatinya sedih dan juga merasa bersalah karena harus membohongi banyak orang. Jujur saja, seandainya Naruto dapat membantu mungkin hanya kepada Narutolah ia menyerahkan diri.

Namun lagi-lagi kenyataan selalu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Arthuria hanya dapat menangisi segala apa yang telah terjadi dan tetap berupaya untuk bersemangat dalam menjalani hari-harinya.

.

.

.

Malam harinya...

Tepat pukul 03.00 pagi waktu Tokyo dan sekitarnya, Gilgamesh baru saja pulang sehabis menikmati kencan dengan seorang wanita kupu-kupu malam. Ia terlihat mabuk namun tetap mengendarai mobilnya. Mobil inventaris yang Sakumo berikan kepadanya.

Malam itu seperti biasanya ia pulang melewati terowongan sepi menuju ke sebuah rumah yang ia sewa dekat dengan pabrik industri. Dalam keadaan mabuk ia menempuh kecepatan 60km/jam di jalan yang sepi. Tanpa menyangka jika dari arah belakang sebuah truk kontainer melaju mengikutinya.

Bukan tanpa alasan, truk itu adalah bagian dari rencana Julian untuknya. Ya, Julian temannya sendiri yang berniat menghabisi nyawa dari kakak Arthuria, malam ini juga.

BRUGGGH

Truk itu melaju cepat ke arah mobil yang dikendarai Gilgamesh lalu menabraknya dari belakang dengan kencang. Sontak Gilgamesh terkejut dan berusaha mengendalikan laju mobilnya.

"Ada apa ini?!"

BRUUGGH

Lagi-lagi truk kontainer itu menabrak mobil Gilgamesh hingga memaksa Gilgamesh menaiki kecepatan mobil yang dikendarainya lalu segera menghindar. Spedometer pun naik dengan cepat hingga ke arah jarum 100km/jam.

Truk itu tidak tinggal diam, masih mengejar Gilgamesh dengan menaikkan kecepatan yang sama. Gilgamesh panik hingga ia tidak mampu berpikir. Entah mengapa ia terus saja melaju tanpa mengingat jika di depan terowongan merupakan sebuah belokkan yang cukup tajam.

"AAAAAAA"

BRRUGGH

Mobil Gilgamesh kehilangan kendali saat berusaha menyeimbangkan lajunya setelah melewati terowongan yang sepi. Tapi takdir berkata lain. Truk itu malah menabrak Gilgamesh dari arah belakang hingga mobil yang dikendarai Gilgamesh tidak dapat melarikan diri lagi. Dan...

"Tidaaaaaakkk!"

BRRUGGHHH

Mobil yang dikendarai Gilgamesh keluar jalur, menabrak pagar pembatas jalan lalu salto bebas di udara. Dan tak terelakkan lagi, mobil itupun perlahan-lahan jatuh ke dalam jurang.

BRAAAKKK

Mobil yang dikendarai Gilgamesh jatuh menabrak bumi dan tak lama kemudian...

DOOOMMMM

Api besar melahap mobil yang dikendarai Gilgamesh. Mobil itu meledak lalu terbakar bersama dirinya yang tak mampu menyelamatkan diri.

Supir yang mengendarai truk kontainer itu sesaat kemudian terlihat menelepon seseorang.

"Halo?" Suara dari seberang.

"Beres, Bos," jawab sang supir truk.

"Kerja bagus, sekarang kau bisa menikmati uangmu dengan tenang," ucap suara dari seberang.

Suara itu adalah suara Julian, teman Gilgamesh sendiri yang tega menghabisi nyawa temannya karena merasa sakit hati atas ucapan Gilgamesh kala itu. Ia terlihat tersenyum tipis dari balik gelapnya ruangan tempat di mana ia berada.

"Habis kau, Gilgamesh! Cih!"

Ia merasa senang karena rencananya berhasil dalam sekejap. Rasa bangga menyelimuti dirinya kala mampu menghabisi satu nyawa hanya dalam hitungan menit. Sementara sang supir truk yang merupakan orang suruhan Julian, segera pergi dan meninggalkan mobil yang ditabraknya, terbakar menjadi puing-puing tak tersisa.

Begitulah jika kebencian sudah merasuk di dalam kalbu, tak akan ada akal sehat untuk mencegahnya. Hanya ada balas dendam dan niat untuk menghabisi.

.

.

.

Esok sore di kediaman Archer.

Arthuria mendapat telepon dari Sakumo perihal kecelakaan yang menimpah sang kakak. Sambil menunggu kedatangan Sakumo, Arthuria berbincang bersama Archer mengenai hubungan mereka ke depannya.

"Beberapa hari ini kau hilang tanpa kabar. Handphone-mu pun tak aktif. Aku sungguh khawatir, Arthuria."

Archer tampak begitu menyesal setelah mengetahui keadaan Arthuria dari sang ayah.

Terbalut kaus lengan panjang berbahan wol tebal berwarna merah dan juga celana dasar hitam panjangnya, ia menyambut kedatangan Arthuria di ruang tamu rumahnya yang megah.

"Andai saja ayah tidak memberitahuku, mungkin aku akan tetap berdiam diri sambil terus menunggumu untuk menghubungiku. Aku merasa tidak enak hati jika terus-terusan mengganggumu."

Archer menuturkan apa yang ada di dalam hatinya.

Seketika Arthuria merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan kepada Archer kala itu. Ia pun kemudian meminta maaf sambil memegangi tas kecil berwarna cokelat muda yang dipangkunya.

"Aku minta maaf. Jika kemarin aku telah mengusirmu dari rumahku."

Dalam balutan baju terusan berwarna krim muda setinggi lutut dan rambut yang dibiarkan tergerai, Arthuria menuturkan perasaan bersalahnya kepada Archer. Ia merasa bersalah atas kejadian waktu itu yang mana dirinya tidak mampu menahan emosi akan perasaannya.

"Tak apa, aku bisa mengerti akan hal itu."

Archer tersenyum berusaha menutupi rasa rindunya selama tidak bertemu Arthuria beberapa hari terakhir.

Kini Archer mulai dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya. Dan ia mulai mencoba memahami dan ikut merasakan apa yang Arthuria rasakan. Archer secara perlahan telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Terbukti dari dirinya yang kini tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada siapapun.

"Arthuria!"

Sakumo tak lama datang dan segera memanggil Arthuria.

"Sakumo-sama."

Gadis itu beranjak berdiri lalu membungkukkan badannya ke arah Sakumo yang datang. Pria paruh baya itu terlihat membuka jas kerjanya yang berwarna hitam, lalu mengarahkan keduanya untuk segera mengikuti dirinya.

"Baiklah, kalian berdua sudah hadir. Ayah akan segera berbincang secara terbuka."

Entah mengapa Sakumo menganggap dirinya sebagai ayah bagi anak semata wayangnya dan juga Arthuria. Perkataan Sakumo sontak membuat Arthuria bertanya di dalam hatinya.

'Apa maksud di balik ucapan ini?'

Ketiganya lalu memasuki sebuah ruang keluarga. Sakumo duduk di sofa sendirian sedang Archer dan Arthuria duduk di sofa yang sama. Kepala rumah tangga itu lalu mulai menuturkan sesuatu kepada keduanya, baik Archer sang anak maupun Arthuria.

"Arthuria, ada hal yang harus aku sampaikan padamu. Dan ini mengenai Gilgamesh."

Sakumo memulai pembicaraan.

Arthuria terdiam dan mendengarkan ucapan dari mulut ayah Archer dengan saksama.

"Gilgamesh mengalami kecelakaan. Dan dia tewas bersama mobil inventaris kantor."

JLEBB

Seketika itu juga, Arthuria terkejut bukan main kala mendengar berita tentang sang kakak.

"Di-dia ... bukankah dia hanya ..."

"Kami turut berduka cita, Arthuria. Namun ada hal yang harus kami mintai pertanggungjawabannya darimu. Ini menyangkut masalah pekerjaan Gilgamesh," lanjut Sakumo.

"Maksud Anda ...?"

"Kami meminta ganti rugi atas mobil inventaris yang terbakar kepada pihak keluarga, karena hal itu merupakan perjanjian yang telah disepakati."

DEBB

DEBB

Sudah jatuh tertimpah tangga, mungkin inilah pribahasa yang tepat untuk menggambarkan keadaan Arthuria kala ini. Sang ibu masuk rumah sakit lagi pasca operasi dan mengalami koma, sedang sang kakak berbuat ulah dengan meninggalkan banyak utang. Beban berat lagi-lagi ditanggung oleh Arthuria, sendirian.

"Kami menyesal mengatakan hal ini, namun perjanjian tetaplah perjanjian. Kami tidak dapat berbuat banyak."

Penuturan Sakumo lantas membuat Arthuria menitikkan air matanya, air mata kepedihan yang membuat Archer merasa iba, seiba-ibanya.

"Ayah-"

Archer berusaha untuk membantu Arthuria namun sang ayah menolaknya.

"Arthuria, secara pribadi aku akan menawarkan suatu kesempatan untukmu. Dan mungkin ini menjadi jalan satu-satunya yang terbaik untuk kau tempuh," cetus Sakumo.

"Ayah, tolong-"

"Menikahlah dengan Archer, anakku. Maka semua utangmu akan aku anggap lunas. Dan biaya rumah sakit ibumu saat ini akan aku tanggung sepenuhnya."

TAAARRR

Bagai halilintar menyambar di tengah hari yang terik. Ucapan Sakumo benar-benar menyudutkan Arthuria.

"Ayah! Ini pemerasan!"

Archer bangkit dari duduknya dan berusaha menolak perkataan sang ayah. Ditambah melihat deraian air mata dalam isak tangis yang terlihat di wajah sang dara yang ia cintai.

"Keputusan ini merupakan jalan tengah yang terbaik. Sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Bukankah kau mencintainya juga, Archer?"

Sakumo lalu beranjak dari duduknya, ia kemudian berjalan pergi, menjauh dari keduanya.

"Ayah, tapi ini-"

"Sudahlah, jika kau mampu membantunya maka bantulah sebisamu."

Sakumo kemudian bergegas pergi meninggalkan keduanya.

Archer diambang kegelisahan, ia dilema. Dirinya memang mencintai Arthuria, namun perkataan sang ayah seolah memaksakan cinta yang ia sendiri belum mengetahui akan kebenarannya. Saat ia menoleh ke arah Arthuria yang sedang duduk, entah mengapa hatinya terasa terluka dan begitu sakit. Perasaan dan sisi baiknya tumbuh sempurna kala melihat penderitaan yang sedang dialami seorang gadis yang ia cintai.

"Arthuria ... maafkan ayahku."

Archer kemudian berlutut di depan Arthuria, memohon maaf atas sikap ayahnya. Tanpa ia sadari jika sang ayah melihat sikapnya dari balik dinding ruangan.

Perlahan Archer mengusap air mata yang membasahi pipi licin gadis bersurai kuning ini, yang membuat Sakumo berbangga hati atas perubahan sikap yang terjadi pada anaknya.

'Sekarang kau sudah dewasa, Nak.'

Senyum kecil tersirat dari wajah sang bos yang memimpin perindustrian di Jepang.

.

.

.

Hari demi hari pun berganti, di kampus terjadi pemberontakkan atas sang ketua BEM. Banyak mahasiswa yang menuntut pihak kampus untuk segera mengganti ketua BEM mereka dengan yang baru. Shikamaru, Shino dan Utakata masih berusaha mencari tahu siapa dalang dari semua ini sambil terus mencoba menenangkan teman-teman seperjuangannya yang berdemo di depan rektor kampus.

Berita ini tersebar hingga ke kampus lain dan juga sampai ke telinga Naruto. Ia sendiri masih berusaha mencari tahu di mana keberadaan Arthuria kala ini. Namun, tak juga ditemukan. Saat ia mendatangi rumah sang dewi pun rumah itu tampak terkunci dari luar dan kala Naruto bertanya kepada tetangga sekitar, mereka hanya berkata jika Arthuria sudah pindah rumah sejak lama dan rumah saat ini sedang dilelang.

Betapa terkejutnya Naruto kala mendengar berita ini, ia ingin meminta bantuan Shikamaru untuk mencari tahu, namun ia juga menyadari jika tidak selamanya dirinya akan terus meminta bantuan sang teman.

Akhirnya Naruto memutuskan untuk mencari Arthuria sendiri, dengan kendaraan yang dipinjamkan oleh ibunya. Dalam keadaan gelisah, Naruto berusaha bertanya ke sana dan kemari.

'Arthuria ... di mana dirimu berada?'

Naruto cemas dan juga khawatir akan keadaan sang dewi. Ia sungguh amat menyesal karena terlalu fokus bekerja mencari uang hingga melupakan keadaan Arthuria yang sedang mengalami masalah serius.

Lain Naruto, lain pula Gaara. Kala ini Gaara tengah mendengar keluh kesah dari Arthuria yang membuatnya terkejut bukan main. Arthuria menuturkan semua isi hatinya kepada Gaara. Yang mana Gaara ketahui jika tidak ada namanya di dalam hati Arthuria.

"Aku mencintainya, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa."

Arthuria menangis dalam pelukan Gaara. Mengeluarkan semua keluh kesahnya selama ini. Betapa sakit hati Gaara kala mendengar jika di hati Arthuria hanya ada nama Naruto seorang. Tetapi, ia pun tidak dapat melakukan penolakkan atas kabar yang ia dengar langsung dari Arthuria.

"Aku ... aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak mempunyai pilihan kedua, aku ... aku harus melepas perasaanku kepadanya."

Isak tangis yang tersedu-sedu itu membuat hati Gaara merasa iba bukan main. Baru kali ini di dalam pelukannya Arthuria menangis. Menangisi sesuatu hal yang sangat berharga baginya. Gaara pun berusaha menerima kenyataan pahit itu dengan lapang dada. Ia kemudian membalas pelukan Arthuria lalu membelai rambut Arthuria yang tergerai.

"Arthuria ..."

Rasanya Gaara ingin ikut menangis, menangisi dirinya sendiri yang telah terlewati. Dan juga menangisi cintanya yang tak terbalaskan. Sebuah perasaan yang telah lama ia pendam, dan sebuah perasaan yang tak akan pernah bisa diungkapkan. Cintanya pada Arthuria.

"Arthuria ... dengarkan aku."

Gaara melepaskan pelukan Arthuria, ia kemudian menatap wajah sang gadis yang telah lama bertahta di dalam hatinya. Mengusap air mata yang terjatuh sambil memotivasi sang gadis.

"Aku yakin, kau pasti bisa melalui semua ini, Arthuria. Kau adalah wanita tangguh, kau kuat. Karena kau adalah seorang wanita pejuang yang tidak pernah menyerah kepada takdir. Bangkit, Arthuria! Semua ini pasti ada jalan keluarnya, aku yakin itu!"

Dalam rasa sedih dan sakit, Gaara masih berusaha untuk menyemangati gadis yang berada di hadapannya. Ia berulang kali mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi Arthuria.

"Gaara ..."

Arthuria sendiri merasa jika semangat yang diberikan oleh Gaara sedikit-banyak dapat membantu hatinya yang sedang dilanda dilema. Ia memutuskan untuk tetap tegar dalam menghadapi kenyataan yang pahit ini.

"Jangan menangis lagi, aku bersamamu, Arthuria."

Gaara kemudian memeluk Arthuria dengan erat. Pelukan sebagai pelampiasan akan dukanya yang menyayat hati. Mencurahkan kasih sayangnya sebelum pernikahan itu benar-benar terjadi.

Dalam rerintikkan hujan yang menjadi saksi, Gaara harus merelakan cintanya yang akan segera pergi jauh dan tak kembali.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N :

Saksikan dua chapter terakhir My Library.

Hanya di sini, ChiiChan2806.