Summary:

Dunia sihir butuh seorang pahlawan. Namun, apa yang akan terjadi jika topi seleksi tak mau mempertimbangkan pilihan Harry Potter kecil? Bagaimana jika topi kumal itu meneriakkan 'Slytherin' untuk Harry? Apakah kisah penyelamat dunia sihir itu akan berubah sepenuhnya? / "Tidak, Potter. Aku akan menempatkanmu disana. Tempat dimana kau seharusnya berada. SLYTHERIN!" / "Kau yakin dia sanggup beradaptasi disini? Santo Potter itu—" / "Akan kulakukan apapun untukmu. Apapun. Kumohon ubahlah aku, Malfoy." / "Kau bilang apapun kan?" / DRARRY! Read and review, please.

...

Draco Malfoy menahan keinginan menjambret tongkat sihir dari sakunya ketika iris hijau itu lagi-lagi memicing tajam ke arahnya.

Brengsek. Jangan tatapan itu lagi.

"Jadi kenapa seorang Draco Malfoy ada di sini?" mengucap.

Haha. Pertanyaan bagus. Terlalu bagus hingga yang ditanya tak mampu menjawab. Jadi kenapa kau ada di sini, Draco baby?

Jadi kenapa sejak awal kau berjanji padanya, menuruti permintaannya, berdampingan dengannya, dari waktu ke waktu, dari kelas ke kelas, dari tugas ke tugas?

"Jadi kenapa kau bertanya saat kau tahu jawabannya? Saat kau tahu semua alasannya, Potter?"

"Tidak."

Jadi kenapa sejak awal kau bersikukuh bahwa kau mampu mengubahnya menjadi seorang Slytherin, dan bahkan merenggangkan hubunganmu dengan sahabat-sahabat lama hanya demi dirinya?

Malfoy mendengus. "Takut untuk membuka mata? Merlin, akuilah, Potter."

Jadi kenapa, Draco, kenapa kau terlibat sejauh ini?

"Kau yang merusakku."

Kadang kala batinmu mengangkat bahu, sekali waktu logikamu mengumpat. Mungkin semenjak hatimu terjatuh dalam labirin hijau cemerlang itu, memang sudah hakikatnya kau tersesat.

...

Change Me, Malfoy

Original by: GinevraPutri

Disclaimer: J.K. Rowling

Rate T

Romance, Drama, and Adventure

"."

...

Chapter 10 – Jatuh

Harry James Potter mundur selangkah ketika frasa itu merayapi kokleanya dan segera saja dikirim ke otak untuk diterjemahkan.

Merlin, sepertinya ia sudah tuli.

"Jangan pura-pura bodoh," Draco Malfoy tertawa getir. "Jangan bersikap seakan kau tidak bersalah, seakan kau tidak melakukan apa—"

"Malfoy—"

"—apa, karena kau adalah satu-satunya alasan aku ada di sini, Potter. Kau. Kau, di antara urusan lain yang lebih mendesak, dan itu kau."

Jeda.

"Aku tak tahu apa yang kau bicarakan, Malfoy. Jangan sok melankolis, oke, aku takut mendengarnya. Kau perlu ke Madam Pomfrey."

Dan mendadak ujung tongkat sihir Malfoy sudah berada di pangkal leher Harry.

Iris abu-abu itu berkilat senada dengan helai pirang-platinanya yang diterpa angin senja.

"Aku tak perlu pergi ke Madam Pomfrey jika saja kau tidak memorak-morandakan hidupku, Potter. Ini salahmu. Ini salahmu dan kepengecutanmu."

Harry merogoh tongkatnya dari balik jubah dan menempelkannya balik di pangkal leher Malfoy.

"Dan ini salahmu aku menjadi pengecut begini. Dan ini salahmu aku menjadi kontradiktif seperti ini. Dan ini salahmu, semuanya salahmu, ketika ada perang berkecamuk di dalam diriku, dan aku harus selalu berpura-pura tak peduli di hadapan yang lain, Malfoy. Aku tak ingin memberitahumu, tapi sepertinya kau memang harus tahu. Kau. juga. merusakku."

Hening.

Gelenyar angin berhembus dari barat, memperlihatkan bekas luka sambaran kilat di balik poni hitam acak-acakan miliknya.

Hanya saja kini bekas luka itu bukan satu-satunya luka yang ia miliki.

Hanya saja kini ada luka yang nampak terlalu jelas membayang di lensa kacamatanya, dari sorot yang diwariskan ibunya, dan air mata yang menggenang di pelupuknya.

Tidak. Harry tak mau menangis.

Apalagi di sini.

Ketika dua tongkat teracung mengancam, sementara dua pasang mata bertabrakan.

Merlin, sepertinya ada dua hati yang tengah bertautan.

...

"Jadi, aku sudah mempersiapkan segalanya, makanan dan boneka favoritnya, tapi dia pasti akan kesepian di dalam sana sendirian.."

Hagrid mengintip ke sela-sela rapatan kotak tempat Norbert (nama naga kesayangannya) diletakkan. Tangannya yang kelewat besar mengetuk-ngetuk pintu kotak sementara Norbert sepertinya bersin, jika dilihat dari ujung jari Hagrid yang hangus pasca mengucapkan salam perpisahannya.

"Oh, sudahlah, Hagrid," Harry menggeleng-geleng. "Kau kan sudah berhasil melepas Fluffy, ini pasti akan lebih mudah,"

"Hei! Soal Fluffy itu urusan lain! Itu penting sekali, asal kau tahu, melibatkan rahasia besar antara Proffesor Dumbledore dan Nicholas Flamel. Kalau tidak sepenting itu, mana mau aku memimjamkannya!"

"Tunggu dulu. Apapun yang dijaga Fluffy ini berkaitan dengan Nicholas Flamel?"

"Darimana kau tahu itu?"

"Kau yang bilang, Hagrid," Harry berdecak sebal. "Benarkah?"

"A-aku seharusnya tidak bilang begitu. S-sudah, bawa pergi Norbert, aku tak sanggup melihatnya untuk terakhir kali—"

Harry menghela napas dan mulai mengangkat kotak berisi bayi naga tersebut.

"E-eh, kau tak akan kuat, Harry. Aku saja keberatan membawanya. Bagaimana jika kau bawa dengan temanmu— eh, Malfoy!"

Harry mengumpat dalam hati. Tidak lagi.

Malfoy mengangkat alis dan menyilangkan tangannya di dada. "Tanganku terlalu bersih untuk—"

"Diam dan angkat sajalah, Malfoy." gerutu Harry otomatis.

Malfoy mengerling kesal ke arah cowok satu itu sebelum menghela napas dalam-dalam dan ikut mengangkat kotak raksasa itu.

(oh yaa, mereka selalu sukses berpura-pura tak ada yang terjadi, kan?)

"Ah, ya ampun, padahal seseorang sudah bermurah mati mau memberikan sebutir telur naga untukku.. tahu saja aku lagi ingin.."

"Seseorang memberikannya? Siapa yang kelewat gila sampai membawa-bawa telur naga untuk diberikan ke orang lain?" Malfoy mencerca.

"Entahlah," Hagrid mengangkat bahu. "Aku terlalu banyak minum untuk bisa mengingat wajahnya. Pokoknya yang kuingat ia nampak antusias sekali bertanya-tanya tentang Fluffy— oh, sudahlah. Selamat jalan, Norbert.." Hagrid mendadak terisak ke dalam sapu tangan seukuran taplaknya.

Harry mengerutkan dahi. Mengerling Malfoy yang nampaknya sudah kesal gara-gara keberatan muatan. Dua Slytherin itu pun perlahan mulai mengendap-endap ke arah kastil, menuju Menara Astronomi, tempat Charlie Weasley dan kawan-kawannya menunggu.

...

Pertemuan itu berlangsung singkat. Hanya perkenalan dan sarkasme Malfoy mengenai pekerjaan hina-dina mengurus naga. Selebihnya berlangsung di antara teleskop-teleskop dan poster-poster hitungan astronomi, disaksikan obor-obor yang menyala di sepanjang ruangan.

Harry masih memandangi ekor sapu Charlie yang perlahan menghilang di balik kabut, sementara Malfoy sudah asyik nangkring di tangga, tak sabar untuk segera turun dan menyerbu ranjang empuknya di asrama.

"Malfoy, namamu berasal dari konstelasi bintang, kan?"

Pirang-platina itu memutar mata dari tangga. "Bintang-bintang itu tidak akan kemana-mana, Potter, ayo cepat pergi dari sini."

"Kau duluan saja."

"Kau bisa tertangkap berkeliaran di luar jam malam."

"Aku tahu." Harry mengangkat bahu. "Lagipula, sejak kapan kau peduli tentang melanggar aturan?"

"Sejak kapan kau tidak peduli?" mengangkat alis.

Harry menghela napas, mengalihkan pandangannya dari langit malam. "People changes, Malfoy. Kuharap kau tidak keberatan."

"Whatever,"

"Malfoy?" Harry menggigit bibirnya dan melangkah ke arah tangga. "Terima kasih.. sudah menepati janji itu."

"Kau memang seharusnya berterimakasih."

"Yaa, aku tahu." Harry memejamkan matanya. "Karena itu, karena aku sudah berterimakasih.. bisa dikatakan perjanjian itu berakhir, kan?"

Deg.

"Ya." tandas Malfoy. "Akhiri saja."

Harry membuka matanya dan menahan napas. "Kau setuju?"

"Kau akan melakukan apapun sebagai imbalanku?"

"Y-yaa."

"Bagus. Aku punya dua permintaan."

Uh-oh. Harry hampir yakin dua-duanya tidak mengenakkan hati. "Go on,"

"Jaga dirimu baik-baik, Potter." oke, itu bisa diterima.

"Setelah itu, jangan pernah kembali."

Sori?

"Setelah itu, anggaplah tak ada yang terjadi selama ini. Anggaplah kau tak pernah mengenalku, dan jangan pernah tatap aku dengan tatapan itu lagi, Potter. Anggap saja aku tak pernah ada."

"Oke."

Aku tak pernah ingin merusakmu dari awal,

kau sebenarnya juga, kan?

...

"Mr. Potter? Mr. Malfoy?"

Suara Proffesor Sinistra menggema ke seluruh ruang. Dalam piyamanya ia berkacak pinggang, matanya memicing tajam pada dua bocah Slytherin yang tengah berargumen di menara kesayangannya.

"Apa yang kalian lakukan di sini?"

Tak ada jawaban.

"Mr. Potter? Mr. Malfoy?"

"Selamat malam, Proffesor. Aku harap anda memberi kami detensi terpisah." Draco Malfoy mengangkat bahu dan beranjak menuruni tangga— begitu saja.

Harry mengikuti tanpa suara. Tanpa daya. Tanpa asa.

Lagi, untuk kesekian kalinya, iris hijau itu meredup, semakin abu-abu.

...

"SHIT! AKU MELETAKKANMU DI TIM DAN INI BALASANMU? TAK BISA IKUT LATIHAN?"

Harry mengacak rambut dengan kesal. "Oke, aku benar-benar minta maaf, Urquhart, tapi kau bisa gunakan seeker cadangan untuk latihan sementara aku menghadapi detensi malam ini, kan? Lagipula, toh pertandingan itu masih minggu dep—"

"—tutup mulutmu, Potter. Jangan coba-coba mengguruiku. Dengar, aku ingin Slytherin yang membawa piala Quidditch tahun ini, dan itulah yang akan terjadi. Jadi kalau kau masih ingin di tim—"

"Aku kelewat ingin, Merlin, hanya saja— begini, kau izinkan aku tidak ikut latihan hari ini, dan aku janjikan kemenangan Slytherin minggu depan. Kau akan lihat snitch itu di tanganku. Bagaimana?"

Urquhart mendecak. "Malfoy juga mengatakan hal yang sama padaku pagi tadi. Sialan,"

Harry terdiam sejenak.

Nama itu—

"Malf— dia, kenapa?"

Mengangkat alis. "Detensi, sama sepertimu. Bukankah waktunya bersamaan? Jam 8 nanti malam?"

"Oh." Harry mengangguk linglung.

Oh.

...

Draco Malfoy tiba di dekat Hutan Terlarang— lokasi detensinya pukul setengah sembilan malam. Yah, bukan Malfoy namanya kalau datang tepat waktu.

Filch sudah siap meluncurkan omelannya ketika Hagrid mendadak memotong, "Harry, Ron, Hermione, yang kita tunggu sudah datang! Ayo berangkat!"

Malfoy mengangkat alis tinggi-tinggi memandang Harry Potter, Ron Weasley, dan Hermione Granger melangkah keluar dari bayangan pepohonan.

"Sedang apa mereka bertiga di sini?"

"Err— detensi, benar, Filch?"

Filch terkekeh sinis. "Titipan Proffesor Snape yang dua itu, lalu— Harry Potter dan si pirang ini dari Proffesor Sinistra, kau bawa saja ke tempat mengerikan, Hagrid,"

Malfoy menelan ludah. "Kau akan membawa kami kemana?"

"Masuk hutan, kurasa."

"APA?" Ron menyentak kaget. "D-di sana ada bermacam-macam makhluk liar!"

"Pelajar dilarang masuk ke sana, Hagrid." Hermione menimpali.

"Kalian bukan pelajar, kalian pelanggar peraturan," kekeh Filch kembali.

Hagrid mengangkat bahu. "Ayolah, bantu aku mencari sesuatu di sana sebentar saja."

Malfoy menghela napas panjang dan mulai beranjak mengikuti rombongan itu memasuki kedalaman Hutan Terlarang.

...

"Oke, kita berpencar saja supaya cepat. Slytherin ke arah sana. Gryffindor ke sini. Sori, Harry, aku akan ikut Ron dan Hermione, mereka hanya punya satu laki-laki, soalnya."

"Kalau begitu kami dapat Fang," Malfoy mengerling anjing Hagrid yang sedaritadi berjalan di sebelahnya.

"Fine, asal kau tahu saja, dia ini pengecut," cibir Hagrid sembari memberikan tali kekang Fang ke tangan Malfoy.

"Tapi, Hagrid," Harry membuka suara akhirnya. "Kau belum memberitahu kami apa yang harus kami cari."

Hagrid menepuk dahi. "Lihat itu," tangannya melambai ke arah salah satu pohon.

"Lumos," rapal Hermione.

Seberkas cahay memancar dari ujung tongkat Hermione dan mengenai sesuatu di bawah pohon."

"Unicorn?" celetuk Ron.

"A dead unicorn." Hagrid mendekat. "Kau lihat? Darahnya memancar."

Cairan bening perlahan mengaliri tubuhnya dari bagian perut.

"Lalu kami harus menemukan pembunuh satu unicorn ini di antara entah-makhluk-apa saja yang ada di dalam hutan? Bisa saja dia mati tertusuk cabang pohon atau apalah," Malfoy mengacak rambut gemas.

"Unicorn macam apa yang mati tertusuk cabang pohon, dasar dangkal—" gerutu Hermione pelan.

"Kau akan temukan unicorn mati kehabisan darah di mana-mana, Malfoy. Dan anehnya, darah yang ada di tanah tidak banyak. Tidak ada tanda darah mengucur sepanjang jalan pula." Hagrid mengeluh. "Ada sesuatu yang tega membantai unicorn-unicorn ini dan mengambil darahnya, kurasa. Kirim bunga api merah kalau kalian menemukannya, ya?"

"Terserah," Malfoy memutar mata. "Kau di depan, Potter."

Harry tersentak. "Y-yeah."

Setengah jalan menuju arah yang dituju habis dalam hening. Fang menggonggong keras-keras setiap ada laba-laba melintas diatas kakinya. Malfoy memasukkan kedua tangannya ke saku, nampak benar-benar tak peduli apapun yang terjadi. Sementara Harry sibuk menodongkan cahaya di ujung tongkatnya kemana-mana. Sekali dua kali mereka menemukan unicorn mati lagi— kehabisan darah pula.

Namun tak ada yang bicara, sepatah katapun.

Hingga mereka menemukan unicorn mati yang ketiga, dan akhirnya Malfoy menyerah sudah. "KITA TAK AKAN MENEMUKANNYA OH MERLIN AYO KEMBALI SA—"

Krek.

"—SSTTT!" Harry menempelkan jemarinya ke bibir kuat-kuat, tatapannya memperingatkan.

Malfoy mematung. Ia juga mendengar suara itu.

Kedua Slytherin itu perlahan melangkah ke balik pohon terdekat dan mulai mengintip.

Di sana, di atas tubuh unicorn yang tak bernyawa itu, sesosok makhluk bertudung berjongkok sembari menekankan bibirnya ke luka di perut hewan malang itu. M-meminum darahnya.

Harry dan Malfoy bertukar pandang.

Keduanya menahan napas.

"GUK GUK GUK GUK—"

"—Fang!"

Oh, terlambat.

"Potter—" Malfoy mundur selangkah.

Harry mengarahkan tongkatnya ke langit. Sepercik bunga api merah mengangkasa.

Sosok itu bangkit secepat cahaya, tudung hitamnya berkibar ketika ia perlahan mendekat— nyaris melayang, tanpa suara gesekan apapun di tanah..

Malfoy mengumpat dan mulai mundur teratur.

Jemari pucat nampak dari balik tudungnya, pelan tapi pasti, bergerak ke arah Harry.

S-shit. Seluruh tubuh Harry membeku.

Jemari itu semakin dekat.. dekat.. dekat.. dan..

Ctash!

—lenyap begitu saja.

Suara derapan kuda mendadak mendominasi udara, dan seekor centaurus memacu kakinya dari balik kabut.

Centaurus. Harry pernah memelajarinya dalam Pemeliharaan Satwa Gaib. Makhluk menakjubkan dengan tubuh setengah manusia-setengah kuda.

"Harry Potter, isn't it?"

Harry mengangguk kaku.

"Apa yang kau lakukan di tengah hutan?" bisiknya heran. "Kau harus hati-hati, kau tahu, ada sesuatu yang belakangan ini berkeliaran di sini— dan itu jahat, Potter. Perhatikan langkahmu."

"Apa maksudmu sesuatu yang meminum darah para unicorn ini?" tanya Harry takut-takut.

"Kau tahu apa fungsi sebenarnya darah unicorn, Potter? Darah itu mampu membuatmu abadi. Namun sekali bibirmu mengecapnya, kau tak akan pernah hidup seutuhnya. Kau harus terus meminumnya, berulang kali, setiap waktu, untuk menjegal ajal.."

Menelan ludah. "Makhluk apa yang sudi melakukan hal keji seperti itu?"

Centaurus itu mengangkat alis. "Tak kenalkah kau, Potter? Makhluk hitam apakah ini?"

Deg.

Harry hanya tahu satu makhluk yang benar-benar hitam— benar-benar jahat.

"Oh, tidak. Aku tak seharusnya bilang begitu. Kau ada di garis takdir yang tepat, Potter. Jangan biarkan aku memengaruhimu."

Tapi.. di Hogwarts?

Apakah sedekat ini?

"Harry!" teriakan Hermione membelah keheningan malam.

Harry berbalik dan mendapati rombongan itu bergegas menghampirinya— berikut Malfoy, di paling belakang.

"Kau baik-baik saja?" tanya Ron canggung.

"Aku oke," Harry mengangkat bahu, "Ada— tunggu, di mana centaurus tadi?"

"Apa? Malfoy beritahu ada sosok bertudung—" Hagrid mengangkat alis.

"Err— seekor centaurus, kau tahu, baru saja menyelamatkanku dari entah-apa-itu—"

"Jangan berkhayal, Potter, aku di sini dan tak ada centaurus daritadi." cetus Malfoy.

"Kau lari, dasar pengecut," bisik Harry. "Pergi begitu saja."

"Lalu apa yang kau harapkan? Aku mengajakmu pergi bersama-sama? Sepersekian detik dan aku bisa saja mati—"

"Tapi kau masih hidup, Malfoy!"

"Tentu saja aku masih hidup, bodoh. Aku masih bernapas karena aku pergi darimu, sesimpel itu."

"Oke, terserah, kalian berdua," lerai Hermione. "Hagrid, kurasa lebih baik kita kembali ke kastil— s-siapa tahu makhluk itu masih ada di sekitar sini."

Hagrid mengangguk kuat-kuat. "Baik, baik, ayo cepat, kita kembali."

...

"Benarkah darah unicorn dapat membuatmu abadi?"

Harry membanting matanya ke arah si penanya— Malfoy. Mereka tengah berada di pondok Hagrid, kelelahan sehabis berjalan jauh menyusuri Hutan Terlarang.

"Darimana kau tahu hal itu?"

"Aku— membacanya."

"Aktingmu kurang meyakinkan."

"Fine, whatever. Apa itu benar?"

"Kau mendengarnya dari centaurus itu, kan?"

"Sudah kubilang aku tidak melihat centaurus manapun, Potter. Aku hanya— mendengarkan."

Harry mengangkat alis heran. "Kau.. tidak lari?"

"Jawab saja, deh!" gerutu Malfoy.

"Itu kepercayaan kuno sepertinya," celetuk Hermione. "Bagaimana menurutmu, Hagrid?"

"Ya, tapi kau kan tidak benar-benar hidup setelah meminumnya—"

"Aku sudah tahu itu," potong Malfoy, dan sebelum Harry bisa memprotes, ia melanjutkan, "Oke! Aku mendengarkan dari balik pohon. Aku tidak lari. Puas?"

"Tidak seperti Draco Malfoy yang biasa." cibir Ron, mengacu pada insiden Troll beberapa bulan lalu ketika Malfoy lari begitu saja memanggil guru-guru dan bukannya ikut membantu menghabisi si Troll gunung. Well, tentu saja ingatan itu masih terpeta jelas di benak Ron.

"Tidak lari?" Harry mendengus. "Kenapa? Takut aku mati?"

Malfoy memutar mata. "Hell, siapa peduli mau kau mati atau tidak."

"Omong kosong, Malfoy."

"Jangan terlalu berharap, Potter."

"Oh, Merlin, kalian sudah seperti pasangan yang sedang tahap pendekatan saja—" Hermione menghela napas. "Cekcok sepanjang waktu."

Malfoy memasang wajah pura-pura mual, sementara Harry mengacak rambut hitamnya. Keduanya mengerling tak suka ke arah Hermione.

"Sosok bertudung? Kau yakin kau melihatnya meminum darah unicorn, Harry?" tanya Hagrid ragu.

Harry mengangguk setengah bimbang. "Mungkinkah—menurutmu—sosok itu.. Voldemort?"

Hening.

"Jangan sebut namanya, Harry." bisik Hermione.

"But he's already dead!" Ron menggeleng keras-keras.

"He's coming back. On his way," Hagrid mengangkat bahu. "Kau tahu, masa-masa kelam itu dapat kembali kapan saja. Apalagi kau sudah di sini, Harry."

"Mungkin saja ia sedang menyusun kekuatan dengan darah unicorn itu." celetuk Malfoy.

"Yah, tak heran kau tahu jalan pikirannya. Seluruh keluargamu adalah pengikut setianya." sindir Ron tajam.

"Sori?" Harry mengerjap.

"Kau tak tahu, ya? Sahabatmu ini punya relasi yang sangat kuat dengan Kau-Tahu-Siapa, yang memberimu luka itu dan membunuh keluargamu. Oh, jangan terkejut begitu, dunia ini memang sempit kan—"

"Ron!" sentak Hermione.

"Apa? Aku hanya beritahu—"

Brak!

Malfoy membanting tubuhnya bangkit dari kursi dan menendang pintu pondok hingga terbuka lebar, sebelum melangkah pergi dalam keremangan malam, ke arah kastil dalam diam.

Harry mencengkram tepian kursinya dan menggeleng pelan. "K-kau bercanda."

"Aku tak main-main, Harry," Ron menghela napas, "Aku sudah peringatkan kau, malam itu, semua penyihir jahat berasal dari Slytherin— dan toh ternyata kau malah memilih jadi salah satu dari mereka."

"Ron, cukup," sela Hermione. "Itu bukan salah Harry, topi seleksi yang memasukkannya ke Sly—"

"Dan dia memilih untuk tetap berada di sana, Her—"

"Dia bisa apa?" Suara Hermione meninggi. "Masalahnya di sini adalah kau merindukannya dan—"

"Cukup," Hagrid melerai. "Cukup sudah. Kalian bertiga, berhenti bicara dan kembalilah ke kastil. Kalau dugaan Harry benar, Kau-Tahu-siapa ada di hutan sana, maka kalian harus jauh-jauh darinya."

Dan begitu saja, dengan wajah Ron yang masih memerah karena kalimat terakhir Hermione dan Harry yang sedikit linglung setelah fakta yang barusan menghujam otaknya— atau hatinya, mereka berjalan kembali ke kastil, menyusul Draco Malfoy dengan asap yang nampak mengepul dari telinganya.

Sementara itu, dalam hening malam, benak Harry sibuk berpikir, mengurai benang rumit yang memenuhi kepalanya dengan spekulasi-spekulasi mengerikan ditambah kebimbangan yang mendasar.

—jadi mereka.. bukan hanya dipisahkan oleh benci dan kontradiksi masing-masing, ya? Memang ada garis takdir yang memisah pihak mereka. Memang ada persimpangan yang membelah jalan hidup mereka.

Jadi mereka.. memang tak mungkin bisa—

bersama?

...

Natal.

Itulah yang pertama kali menghantui pikiran Malfoy ketika kakinya menjejak lantai kastil dan matanya menangkap rangkaian holly dan mistletoe di sepanjang dinding. Mendadak emosinya perihal ucapan Ron di pondok tadi sirna seketika.

Natal. Hari Natal.

Otaknya berputar. 25 Desember, masih minggu depan— dan hiasan-hiasan norak ini sudah memenuhi kastil? Oke, lupakan saja. Itu tidak penting. Satu-satunya yang penting adalah liburan natal yang akan segera datang. Dan itu berarti Malfoy akan pulang ke manornya, dan ia akan kembali duduk di meja makannya bersama ayah dan ibunya, mendengarkan selusin pertanyaan mengenai sekolahnya dan memaksa bibirnya yang kelu untuk menjawab dengan sopan.

Dengan jawaban yang harus dikarang-karang agar terlihat sempurna, pula.

Oh, keluarga harmonis.

Kini rasanya Malfoy butuh istirahat di ranjang empuknya di asrama sana. Hari ini sungguh melelahkan. Ia butuh jeda dari penat yang menjeratnya. Dan ia tidak butuh—

"Malfoy, tunggu!"

—gangguan sekecil apapun dari makhluk yang sudah terlanjur masuk blacklistnya.

Contohnya, Harry James Potter.

"Jangan ganggu aku."

"Hanya satu pertanyaan." pinta Harry. "Please,"

"Harus berapa kali kukatakan bahwa kata 'please' tidak membuat perbedaan yang berarti?"

"Apakah semua yang Ron katakan tadi benar?"

Draco membuka mulutnya sebelum menutupnya kembali. "Apa?"

"Apakah.. keluargamu pengikutnya?"

"Nyaris seluruh keluarga penghuni asrama Slytherin adalah pengikutnya, bodoh."

"Aku tidak peduli keluarga Slytherin manapun." Harry mengibaskan tangannya. "Aku tanya kau. Apa yang tadi itu benar?"

"Jadi kau peduli padaku?"

"Merlin— jawab saja!"

Malfoy mengacak rambutnya. "Ya!"

Hening. Harry terdiam.

"Sudah kukatakan jangan pernah kembali, Potter, dan seharusnya kau mendengarkanku."

"A-apa?"

"Tolong hentikan kepedulian itu. Tidak masalah jika dulu keluargaku pengikut Kau-Tahu-Siapa. Hal itu tidak akan memengaruhi hidupmu, kan? Aku bukan siapa-siapa." tandas Malfoy. "Sudah kubilang anggap saja kita tak pernah saling mengenal. Anggap saja—"

"Anggap saja kau tak ada?" sela Harry getir. "Bagaimana bisa aku menganggapmu tak ada jika kau terus-terusan memerhatikanku setiap aku mengalihkan pandang? Kau pikir aku tak tahu, Malfoy? Aku melihatmu. Aku selalu melihatmu, bahkan setelah kau menyuruhku pergi dari hidupmu. Setelah perjanjian itu berakhir. Setelah kita tamat. Dan kini biarkan aku bertanya satu pertanyaan lagi, siapa yang sebenarnya kembali?"

"Aku tidak kembali, Potter." bisik Malfoy. "Aku tidak kembali karena aku tak pernah pergi. Tak pernah sekalipun berhenti peduli. Aku memintamu menganggapku tak ada, tapi bukan berarti aku menghilang, kan? Aku hanya— tak bisa."

Harry tertawa pelan. "Aku merasa tersanjung kau mengira aku bisa melakukan hal yang kau sendiri tak bisa."

"Aku hanya ingin menghapusmu. Mengertilah,"

"Aku mengerti." Harry mengangkat bahu. "Aku juga ingin menghapusmu. Tapi sayangnya, apapun yang kulakukan tak satupun berhasil. Dan kau ingin tahu masalahnya apa, Malfoy?"

Malfoy menghela napas dan menatap lekat-lekat iris hijau itu.

"Kita sudah jatuh terlalu dalam."

...

To Be Continued

...

AuthorNote:

HEYHOO~ Jadi pengen ngejitak Draco deh ya lama-lama. Gemez tarik ulur tarik ulur mulu-.- OIYAA thanku buat para reader tercintah yang masih mau buka ff lumutan ini:" dan mau merepotkan diri untuk ngisi kolom review huwaa:'(((((( maaf kalau mungkin chap ini kurang memuaskan yaa:" untuk yang bertanya, mungkin tahun pertama Harry ini akan selesai di chapter 14 atau 15, kemudian lanjut ke seri berikutnya tahun kedua wkwk, jadi yaa sudah diputuskan bakal bikin ff baru untuk tahun-tahun berikutnya, satu ff untuk satu tahun, jadi semacam #CMMSeries gt ahahaha:v mohon dukungannya yaa, peran kalian sangat besar buat ff ini{{}} akhir kata, as always, please enjoy and review{{}} Thanku so much!

Sign,

GinevraPutri.