.

ANYEONG YEOROBEUN!

HOPE YOU ENJOY TO READ IT

NO FLAME | NO BASHING | PLEASE COMMENT

.

Title

I LOVE YOU HYUNG 10

Length

N - CHAPTER

Rating

PG-18 (M)

Genre

SCHOOL LIFE, ROMANCE, ANGST, DRAMA, VIOLENCE, YAOI

(DON'T LIKE, DON'T READ)

Author

RUKA17

Main Cast

DAEHYUN, YOUNGJAE, SEHUN, LUHAN

Support Cast

ALL MEMBER BAP AND EXO

(BTS AND ALL as cameo)

Disclaimer

THIS FANFICTION IS MINE!

Warning

A lot of typo *ngaks*. Dirty talk.

.

.

Chapter 10 : Can you know my feeling?

.

.

Pintu utama rumah berwarna emas terbuka lebar. Sehun melangkahkan kakinya memasuki ballroom yang berhiaskan patung-patung bergaya Eropa dengan lukisan abstrak hasil karya seniman jalanan asal Paris. Ia pun berjalan menaiki tangga menuju ruangan yang terletak diujung koridor. Sehun dengan segera membuka pintu ruangan itu dan terpampanglah ruang bergaya classic yang didominasi oleh warna hitam putih. Ia berjalan menghampiri tempat tidur berukuran king size, lalu merebahkan namja yang sejak tadi bergelayut dalam gendongannya. Sehun mengangkat tinggi selimut sampai menutupi sebagian tubuh namja itu, lalu mengacak lembut surai coklat eboni namja tersebut sambil tersenyum kecil.

GREP

Namja itu memegang erat tangan Sehun ketika Sehun bergerak untuk beranjak dari sana. Sehun pun menolehkan kepalanya menatap namja yang terlihat ketakutan itu. Ia juga dapat merasakan tangan namja itu bergetar hebat.

"Jangan tinggalkan aku." lirih Luhan

Sehun menatap luhan yang tertunduk, menyembunyikan wajah dan juga air mata yang mulai berlinang disudut matanya. Ia pun duduk berhadapan dengan luhan, mensejajarkan tubuhnya agar dia bisa melihat dengan jelas kedua obsidian hazel yang selalu dikaguminya itu.

"Aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Aku selalu berada disini...disampingmu..." ujar Sehun seraya membelai lembut pipi luhan. "Tapi kau tidak pernah melihatku..." lirihnya

Luhan kembali menundukkan wajahnya dalam-dalam, menahan air mata yang tidak bisa ia bendung lagi. "Maafkan aku Sehunnie..."

Sehun merasa sangat bersalah telah membuat namja yang sangat dicintainya menangis dihadapannya. Ia pun segera mendekap tubuh rapuh luhan. Ia dapat merasakan tubuh luhan bergetar hebat dan pundaknya basah karena tangis luhan yang tidak kunjung berhenti. Sehun mencoba untuk mengeratkan dekapannya dan mengusap punggung luhan, berharap namja itu akan menghentikan tangisannya.

TIK TOK TIK TOK

Hanya dentingan jam yang terdengar ditelinga Sehun. Tidak ada lagi isakan atau suara tangis. Sehun menolehkan kepalanya, melihat wajah damai luhan yang tertidur dipundaknya. Ia merebahkan tubuh luhan dan mengangkat selimut hingga menutupi tubuh luhan, lalu mengecup sekilas keningnya. Sehun kembali menatap wajah luhan. Bagai terperangkap dalam sebuah labirin, keindahan luhan sepertinya telah menjadi candu baginya hingga ia tak bosan-bosannya memandangi wajah tampan namja yang kini berada disampingnya.

"Saranghae hyung..." sebuah senyuman terulas dibibir Sehun. Ia pun kembali mengecup kening luhan, lalu ikut memejamkan kedua matanya, menyongsong mimpi indah yang menanti dihadapannya.

.

.

.

TRAK TRAK

Daehyun mendongakkan kepalanya, menatap Youngjae yang sejak tadi hanya mengais-ngais sup yang ada dihadapannya tanpa ia masukkan kedalam mulutnya. Wajah Youngjae terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang sepertinya bisa ditebak oleh daehyun.

"Kau sedang memikirkan luhan?" ujar daehyun memecah keheningan

TUK

Youngjae menghentikan kegiatan mengais-ngaisnya. Kini ia menatap tajam kearah namja yang ada dihadapannya.

"Kenapa hyung tidak pergi menemui luhan?"

Daehyun menghentikan acara mengunyah makanannya tanpa membalas tatapan tajam Youngjae. "Sudah ada Sehun yang menjaganya."

"Tapi-"

"Diamlah dan habiskan makananmu." titah daehyun

"Aku tidak mau makan."

"Habiskan makananmu atau aku yang akan memakanmu."

"Nde?!" Youngjae melebarkan matanya, berusaha mencerna apa yang telah dikatakan hyung-nya.

"Tsk...buka mulutmu." titah daehyun seraya menyodorkan sesendok penuh sup.

Youngjae menatap sendok yang disodorkan daehyun padanya dengan raut muka sedih. "Apa luhan hyung sudah makan? Terakhir kali aku melihatnya ia bertambah kurus saja." gumam Youngjae

"Yak, berhenti memikirkan keadaan orang lain. Pikirkan keadaan dirimu sendiri." bentak daehyun.

Youngjae tersentak akibat ucapan daehyun yang menggema dalam ruangan yang cukup luas itu. Ia menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Daehyun yang menyadari kesalahannya pun segera meminta maaf pada Youngjae. "Maafkan aku...aku tidak bermaksud untuk membentakmu...hanya saja kau seharusnya lebih mengkhawatirkan keadaanmu sendiri. Apa kau tidak ingat apa yang telah luhan lakukan padamu? Dia yang telah membuat luka ditubuhmu. Dia hampir saja membuatmu lumpuh."

"Aku tidak apa-apa. Lagipula ini hanya luka kecil." ujar Youngjae seraya tersenyum membuat daehyun terperangah. Ia benar-benar tidak bisa mengerti apa yang tengah ada dipikiran Youngjae.

Daehyun tertawa kecil mendengar perkataan Youngjae,"Haha...kenapa aku bisa menyukai anak seperti dia."

"Nde?!"

Daehyun beranjak dari tempat duduknya,"Cepat habiskan makananmu atau kau lebih memilih untuk tidur diluar?!"

"Yak, ancaman macam apa itu? Aku tidak mau makan!"

"Tsk..anak ini...sekarang kau pilih. Habiskan makananmu atau kau tidur diluar atau...kau ingin tidur denganku?"

Wajah Youngjae pun berubah menjadi merah padam akibat ucapan daehyun. Ia dapat merasakan tubuh daehyun yang semakin mendekat.

Deg Deg

Irama jantung Youngjae terdengar tidak beraturan. Nafasnya tercekat. Ia bisa merasakan hangat tubuh daehyun yang berjarak hanya 1 inchi saja.

"Kuhitung sampai lima..."

Deg Deg

"1...2..."

Deg Deg

"3...4..."

"Hentikan permainanmu hyung." Youngjae memberanikan dirinya menatap daehyun.

Kini ia dapat dengan jelas melihat bayangan dirinya tercetak dikedua manik hitam daehyun.

"Tapi sayangnya aku tidak sedang bermain-main," ujar daehyun seraya ber-smirk ria.

GREPPP

Youngjae merasakan tubuhnya terangkat keatas. "A-apa yang kau lakukan hyung?!" Daehyun mengangkat tubuh youngjae dan menggendongnya diatas bahunya seperti membawa karung beras. "Kyaaaaa~ turunkan aku hyung!" ronta Youngjae, sedangkan daehyun hanya tertawa sambil menggendong Youngjae ke kamarnya.

BRUKKK

Daehyun menghempaskan tubuh Youngjae diatas kasur berukuran king size. Youngjae sedikit tersentak dan meringis ketika bokongnya dengan keras mencium kasur nan empuk itu.

"Yak hyung...a-apa yg sedang kau rencanakan?!" Youngjae menatap takut pada namja yang kini sedang menatapnya tajam.

Daehyun tidak menghiraukan ucapan Youngjae sedikitpun. Ia pun beranjak menaiki kasur berukuran king size itu dan merebahkan dirinya disamping youngjae.

"Kau berat juga...pundakku sakit sekali."

"Mwo?! Yak, aku tidak seberat yang kau katakan." protes Youngjae. "Kalau aku berat kenapa kau menggendongku? Seharusnya kau-"

GREPPP

Daehyun menarik tubuh youngjae agar sejajar dengan dirinya hingga wajah mereka hanya berjarak satu jengkal saja.

"Kau ini berisik sekali. Aku sudah sangat mengantuk." ujar Daehyun dengan mata terpejam dan tangannya memeluk pinggang Youngjae.

DEG DEG

Irama jantung Youngjae mulai tidak beraturan lagi. Wajah damai seorang Jung Daehyun yang sedang tertidur membuat Youngjae tak henti-hentinya meramalkan mantra untuk menenangkan detak jantungnya yang melompat kesana kemari. Oh God, tenangkan dirimu Yoo Youngjae.

.

.

.

CIP CIP CIP

Suara kicauan burung dipagi hari terdengar sangat merdu. Sinar matahari menerobos celah jendela, menghangatkan ruangan berarsitektur classic. Youngjae dengan enggannya membuka kedua bola matanya. Menatap samar-samar pemandangan yang ada dihadapannya. Youngjae melebarkan kedua matanya tatkala ia sadar apa yang sedang berada didepan matanya. Kulit tan dengan tekstur wajah tegas, rambut hitam kelam dan juga bibir tebal yang ugghhh sepertinya ia mengalami shockterm (suhu meningkat drastis). Youngjae menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba untuk menghilangkan pikiran anehnya.

"Youngie-ah!" terdengar teriakan dari luar kamar.

Youngjae terhenyak mendengar suara nan merdu yang memanggil nama kecilnya. Suara lembut yang sangat dirindukan olehnya. "Eomma..." Youngjae menyibak selimut yang dipakainya, hendak beranjak dari tempat tidurnya.

GREP

Youngjae merasakan sebuah tangan kekar melingkar dipinggangan dan membuatnya kesusahan untuk bangun dari tempat tidurnya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati daehyun masih tertidur dengan mata terpejam.

"Hyung...singkirkan tanganmu. Aku tidak bisa-"

GREP BUKKK

Youngjae merasakan tubuhnya terhempas kembali diatas kasur nan empuk itu. "H-hyung..." Youngjae menatap daehyun yang masih enggan untuk membuka matanya.

"Lima menit saja...biarkan seperti ini." ujar daehyun sambil berbisik.

TAP TAP TAP

Terdengar suara langkah kaki yang kian mendekat.

CEKLEK

Pintu kamar terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang berdiri tepat diambang pintu. "Dae- Youngie?" Eomma youngjae menatap bingung pada dua namja yang sedang tidur bersama diatas ranjang yang sama.

"Eo-eomma..." suara Youngjae tercekat. Ia segera menggeser tubuhnya menjauh dari daehyun dan beranjak memeluk sang ibunda. "Eomma...aku rindu padamu." Youngjae mengeratkan pelukannya.

Eomma Youngjae membalas pelukkan sang anak dengan erat. "Eomma juga merindukanmu sayang. Tapi...apa yang kau lakukan dikamar hyungmu chagi?"

"A..em..itu.." Youngjae bingung harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

"Dia hanya mencoba membangunkanku." ujar daehyun dengan wajah dinginnya.

Eomma Youngjae menatap kedua namja itu bergantian. "Aa..em..itu benar. Aku sedang membangunkan hyung. Ah eomma, aku sangat merindukan masakanmu. Ayo kita bikin sarapan berdua." ujar Youngjae seraya menarik pelan tangan sang ibu keluar dari kamar daehyun. Eomma Youngjae mempercayai apa yang barusan dikatakan oleh anaknya dan ia tidak bertanya lagi soal Youngjae yang berada dikamar daehyun.

"Eumm..eomma..bagaimana suasana di jeju? Apa disana sangat menyenangkan?" Youngjae membuka pembicaran setelah mereka berdua sampai di ruang tempat mereka menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecil mereka.

"Ne, sangat menyenangkan. Yah, walaupun appamu sering meninggalkan eomma sendirian karena harus mengurus perusahan cabang disana, tapi eomma senang berada disana."

"Benarkah?"

"Eum, Mansion yang kami tinggali disana cukup luas dan udara disana sangat menyegarkan. Kau harus mencobanya sayang." cerita eomma Youngjae dengan senyum bahagia.

Youngjae membalas senyuman eommanya. "Hmm...baiklah. Lain kali aku akan pergi kesana bersama eomma dan appa."

Pembicaraan anak dan ibu itu membuat mereka lupa akan waktu hingga mereka baru menyadari bahwa masakan hasil karya mereka kini telah tertata rapi diatas meja makan. Yah, melepas rindu adalah hal yang sangat menyenangkan.

"Sayang...pergilah. Beritahukan pada hyungmu kalau sarapan sudah siap."

"Yes Mam!" teriak Youngjae seraya beranjak pergi kekamar daehyun

TOK TOK TOK

Youngjae mengetuk pintu kamar daehyun. "Hyung, apa kau tidur lagi?"

Tidak ada jawaban dari dalam kamar daehyun. Youngjae pun akhirnya memantapkan diri untuk membuka pintu kamar kakaknya. Tak ada seorang pun yang terlihat didalam kamar.

"Hyung. Daehyun hyung." panggil Youngjae.

SERRRRRRRR

Terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi.

"Hyung, kau didalam?" teriak Youngjae tepat didepan pintu kamar mandi

CEKLEK

Bagai berlari dengan kecepatan tinggi, detak jantung Youngjae berpacu dengan sangat cepat. Apa yang disuguhkan dihadapannya kini membuat ia kehabisan oksigen dan suhu tubuh yang meningkat drastis. Bagaimana tidak kalau kau melihat orang yang kau sukai hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya dan tubuh bagian atas tertampang dengan jelas tanpa sehelai benang yang menutupinya.

Youngjae pun dengan segera membalikkan tubuhnya, menutupi kedua matanya dan berusaha menghilangkan pikiran 'pervert'nya jauh-jauh.

"H-hyung...sarapan sudah siap. Eo-eomma menyuruhku untuk memanggilmu." ujar Youngjae terbata-bata sambil menggigit bibir bawahnya.

SERRR~

Bau maskulin tercium dihidung mancung Youngjae. Bau itu berasal dari aroma sabun yang dipakai daehyun, membuat Youngjae mati-matian menahan detak jantungnya yang kian berpacu dengan cepat.

GREP

Nafas Youngjae tercekat. Ia bisa merasakan tangan kekar daehyun memeluk lehernya. "H-hyung..."

Daehyun ber-smirk ria melihat Youngjae gelagapan. "Katakan pada ahjuma. Aku akan segera pergi keruang makan." bisik daehyun tepat ditelinga Youngjae membuat Youngjae semakin berusaha keras untuk menetralkan detak jantung dan nafasnya yang tidak beraturan.

"A-aku akan memberitahukannya pada eomma." ujar youngjae seraya berlari keluar kamar.

Daehyun melipat kedua tangannya didada dan tersenyum penuh arti melihat tingkah laku youngjae yang menggemaskan. Ia pun beranjak mengambil pakaiannya dan memasangnya ditubuh atletisnya. Celana jeans selulut dan kaos putih cerah membuatnya terlihat tampan walau hanya memakai pakaian yang sangat simple. Ia sedikit menata rambutnya lalu beranjak keluar menuju ruang makan tempat Youngjae dan yang lainnya berkumpul menikmati sarapan pagi buatan Youngjae dan eommanya.

Daehyun pun mengambil tempat duduk disebelah youngjae, berdekatan dengan ayahnya yang duduk diujung meja. Ia melihat makanan yang sangat banyak dengan lapar. Jakunnya terlihat naik turun menelan saliva karena bau harum masakan yang ada dihadapannya.

"Makanlah yang banyak. Kau terlihat lebih kurus dari sebelumnya," ujar eomma Youngjae pada daehyun. Daehyun hanya menganggukkan kepalanya dan mulai menyendok sup kedalam mulutnya.

"Ehem..." Mr. Jung berdeham dan semua pasang mata kini tertuju padanya. "Aku ingin memberi pengumuman untuk kalian."

Lama mereka menatap Mr. Jung yang kian tak kujung bicara hingga pada akhirnya ia membuka mulutnya, "Pernikahan kami akan segera dilakukan secepatnya."

TUK

Daehyun menaruh sendoknya diatas piring, lalu bangkit berdiri dan beranjak pergi tanpa mengacuhkan teriakan Mr. Jung yang memanggilnya.

"Yak dasar anak kurang ajar...dengarkan saat orang tua sedang berbicara...yak!" Meskipun Mr. Jung berteriak memanggil-manggil daehyun, daehyun tetap tidak mengacuhkannya dan menghilang dibalik pintu ruang makan.

"Tenangkan dirimu yeobbo..." ujar eomma Youngjae seraya memijit pundak Mr. Jung

"Biar aku yang bicara pada hyung," ujar Youngjae seraya pergi mengejar daehyun.

Youngjae berjalan membuntuti daehyun. Ternyata sang kakak pergi ke taman yang terletak dibelakang rumah megah mereka. Disana daehyun berdiri memandangi keindahan kota Seoul yang terlihat dari kejauhan.

"Udara disini sangat menyegarkan," ujar Youngjae yang berdiri disebelah daehyun seraya mengikuti arah pandang daehyun.

SYUUU~

Angin sepoi berhembus menerpa kulit mereka. Udara sejuk menyegarkan badan dan menenangkan pikiran mereka. Youngjae melirikkan matanya, memandangi wajah sang kakak yang tidak berubah sama sekali. Wajah tanpa ekspresi yang sangat tidak disukai oleh Youngjae kembali dilihatnya setelah sekian lama ia tidak melihatnya lagi.

"Kau tidak menyetujui pernikahan mereka?"

Hening...hanya terdengar kicauan burung yang hinggap dibatang pohon oak.

"Aku...pada awalnya aku juga tidak menyetujuinya. Tapi setelah melihat senyum eomma, aku tidak bisa menolaknya." ujar Youngjae seraya tersenyum, membayangkan sang eomma yang dengan bersemangat bercerita padanya

Daehyun membalikan badannya, hendak pergi darisana. Tiba-tiba ia merasakan tangan seseorang melingkar diperut datarnya. Tangan itu memeluknya dengan erat, membuat dirinya membeku sesaat. Ia dapat merasakan nafas hangat Youngjae yang mendarat dipunggungnya. Ingin rasanya ia menghentikan waktu saat itu juga dan memutarnya berulang kali. Tapi dia bukan malaikat atau sejenisnya yang bisa menghentikan waktu sesuka hati mereka.

"Aku tahu...ini sangat berat untukmu hyung. Posisi eomma yang digantikan oleh wanita lain yang tidak dikenal. Kau pasti tidak akan rela. Aku juga sepertimu. Tapi aku yakin pasti suatu saat kau bisa menerima eomma dengan senang hati."

Raut tanpa ekpresi daehyun masih setia melekat diwajahnya. Daehyun memejamkan matanya ,menghela nafas dalam,"Kau tidak tahu apa-apa tentang perasaanku."

"Aku tahu tapi-"

"Berhentilah mengatakan seolah-olah kau tahu semuanya tentang diriku dan aku harus menyetujui pernikahan mereka."

Youngjae terdiam dan mengeratkan pelukkannya. "Mianhae hyung..."

Daehyun memutar badannya menghadap youngjae, menatap dalam kedua obsidian hazel milik Youngjae. "Kau pernah mengatakan padaku kalau kau mencintaiku. Apa sekarang perasaan itu sudah hilang?"

Youngjae terhenyak. Ia menundukkan kepalanya. Sungguh ingin rasanya ia mengatakan bahwa ia sangat mencintai namja yang ada dihadapannya itu tetapi otaknya berkata lain. Ia tidak boleh egois. Ia sungguh bahagia melihat senyum sang eomma yang telah lama hilang kini telah kembali.

"Bagaimana kalau aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu?" Youngjae mendongakkan kepalanya dan menajamkan pendengarannya. Apa ia tidak salah mendengar? Daehyun memiliki perasaan yang sama dengannya? Apa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan?

"Naega saranghanda. Naega nomu joah."

.

.

.

TBC

.

.

*ngakak evil*

.

.

Terimakasih atas masukannya.

Sampai jumpa dichapter selanjutnya.

.

.

Mind to review?