Chapter9 Chapter9 Chapter9 Chapter9 Chapter9 Chapter9 Chapter9 Chapter9

-Setengah Tahun Kemudian-

"Naruto?" sapa seorang tua kepada sosok pirang yang tengah menjemur pakaian di halaman gubuk miliknya.

"Ah~ pasti Chiyou-baachan ne?" tanyanya. Ia meenolehkan kepala pirangnya kearah suara tua itu terdengar.

"Hari ini baachan bawakan ramen kesukaanmu," dibawanya bungkusan makanan dengan kain ditangan tuanya kearah si pirang. Ia menengadahkan telapak tangan si pirang dan meletakkan bungkusan kain itu disana.

"Makanlah ya, besok baachan bawakan lagi yang lebih enak dari pada ini," senyumnya kearah si pirang.

"Hu-um!"seru si pirang sambil menganggukkan kepalanya. Di pelukknya dengan erat bungkusan yang berada ditangannya.

"Maaf ya aku merepotkan baachan terus, hehe.." ujarnya sungkan.

"Tidak apa-apa, kau sudah baachan anggap cucu sendiri, jadi jangan sungkan meminta bantuan pada baachan ne?" sembari mengelus pelan surai pirang itu ia kembali tersenyum.

"Terima kasih baachan!" ujarnya.

"Nah, sekarang baachan harus ke lading dulu, sepertinya beberapa buah sudah matang disana,"

"Jaga diri baik-baik ne, Naru," dipeluknya tubuh tan milik sipirang.

"Tenang saja baachan, aku pasti baik-baik saja," yakinnya dengan mantap. "Baachan juga hati-hati ya," nasehatnya balik. Yang didapati anggukan kecil dari nenek yang selalu memperhatikannya selama setengah tahun ini.

Ya, dan selama itu pula ia harus hidup dengan bantuan orang lain. Dengan mata yang seperti itu, akan sangat susah baginya untuk dapat hidup tanpa sokongan orang lain.

Tapi, walaupun matanya tak berfungsi lagi, ia merasa lega. Ia seperti menemukan kehidupan baru yang lebih baik daripada kehidupan lama miliknya. Bersama dengan orang yang kini menyayanginya dan yang ia sayangi. Bersama keluarga baru miliknya. Bersama dengan nenek yang selalu merasa kesepian seperti dirinya. Karena inilah ia yang sekarang. Seorang Naruto dengan kehidupan barunya. Meskipun kekurangan masih melekat di dirinya. Meski ia cacat. Tapi, itu tak lagi berarti.

.

.

"Sasuke…" panggil sebuah suara lemah milik wanita yang dikenal dengan permaisuri itu. Ya, Uchiha Mikoto—sang permaisuri kerajaan Konoha.

"…." Tak ada tanggapan sama sekali dari dalam kamar itu. Hanya keheningan yang menyapanya.

"Sasuke…. Keluarlah nak," suara bernada khawatir itu masih terlontarkan dari bibir pucat sang ibu.

"…" namun berapa kalipun ia memanggil nama sang putra bungsu, tetap hanya keheningan yang menyapa dirinya.

Perlahan ia memundurkan langkahnya, kembali memandang nanar kearah pintu yang entah mengapa ia rasakan seperti dinding setinggi 10 kaki. Lama ia pandangi pintu kamar sang putra, terus berharap agar pintu itu terbuka,tapi nyatanya bergeser sama sekalipun tidak dari tempatnya.

"Apa yang harus kaasan lakukan, nak?" lirihnya sedih.

Perubahan cepat terjadi diwajahnya, selama setengah tahun ini—tepatnya setelah pengumuman pertunangan putra bungsunya dengan putri Hyuuga—nampak dengan sangat kerutan-kerutan di wajahnya, semakin membuat ia terlihat tua dari pada umur yang sebenarnya.

Kembali ia mengingat memori kejadian setengah tahun yang lalu, ketika ia mendapati sang putra bungsu menangis meraung-raung untuk pertama kalinya. Sikap yang tak pernah ia lihat atau dapatkan berada di wajah putra bungsunya yang datar itu. Hanya saat itu, untuk pertama kalinya ia melihat putra bungsunya itu menangis hingga seperti itu, sambil menyebutkan nama yang tak pernah ia dengar, yang terus-menerus di ucapkan oleh sang putra. Saat itu ia merasa sangat sakit ketika melihat putranya menangisi seseorang hingga seperti itu. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu bagi putranya, ia hanya wanita yang bergelar 'ibu' tanpa melakukan tugasnya sebagai seorang 'ibu'.

Sering ia berpikir apakah sudah terlambat untuknya berperan sebagai seorang ibu bagi putranya? Tidak adakah kesempatan yang bisa ia dapatkan?

Dan kini setelah setengah tahun berlalu, nampaknya jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya sedikit terjawab, karena Tuhan sepertinya menjauhkan kesempatan itu darinya.

Walau begitu ia tak menyerah, ia masih menunggu. Menunggu dengan setia, datangnya kesempatan yang membolehkan ia melakukan tugas sebagai seorang ibu, yaitu melindungi anaknya dan membantu kebahagian sang anak.

.

.

.

Tirai itu terbuka lebar menampakkan guratan-guratan awan yang sedikit menutupi langit biru diatas sana. Angin sepoi berhembus. Membawa masuk wangi pohon-pohon tinggi yang berada diluar sana.

Sosok bersurai hitam yang terbaring di ranjang miliknya menatap langit biru itu dengan sendu.

Perlahan lelehan airmata yang telah mongering, kini mengalir lagi.

Tanpa suara, hanya memandang ke langit.

Tanpa berkedip dan terus memandang langit.

Bibirnya bergetar, menggumamkan nama itu berulang kali.

Selama setengah tahun, hanya nama itu yang keluar dari bibirnya.

Nama orang yang ia cintai.

Orang yang membawa hatinya.

Orang yang kini tak lagi bisa ia lihat, ia sentuh, dan ia bagi kehangatan dengannya.

Sosok cantik yang telah meninggalkannya.

Meninggalkannya dalam dunia yang penuh kegelapan, tanpa cahaya dari sosoknya.

Sang mentarinya.

Sosok pirang miliknya.

Yang telah mengikat janji dengannya, yang telah lama menunggunya, yang dengan setia menjaga janji itu untuknya.

Namun, janji hanya tinggal janji.

Sosok pirang cantik itu telah tiada. Tak lagi bersamanya menapaki bumi. Ia pergi. Membawa janji yang ia lupakan selamanya. Tanpa membiarkannya menepati janji itu.

Narutonya….

.

.

"Konohamaru!" teriak sosok gadis kecil berlari kearah pemuda yang setengah tahun lalu masih kecil namun kini ia dengan cepat bertambah tinggi.

Pemuda itu membalikkan tubuhnya menatap kearah gadis yang berlari kearahnya dengan tergesa.

"Kenapa kau meninggalkanku disana huh?!" marah sang gadis padanya.

Ia memandang gadis itu dari atas kebawah, melihat kimononya yang tak rapi akibat berlari. Sama sekali tak mencerminkan keanggunan seorang putrid keluarga terhormat. Berbeda dengan sosok kakak pirangnya itu.

"Lihat kimonomu sampai seperti itu. Sana benarkan dulu, kau nampak kacau," ujarnya tanpa basa basi. Sementara sang gadis hanya bisa berdecak kesal sambil mengumpat, benar-benar bukan tingkah laku putri bangsawan.

.

"Oh ya, kenapa kau selalu kesini Konohamaru?" tanyanya penasaran setelah ia selesai merapikan kimononya.

"Aku hanya merindukan tempat ini, begitu juga dengannya…" ujarnya sambil menerawang.

Gadis itu sedikit bingung mengenai ucapan pemuda bersyal dihadapannya itu.

"Hmm… aku tidak mengerti…" ujarnya sarat dengan nada yang meminta penjelasan lebih lanjut.

"Setengah tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku merasakan sakit yang teramat sangat disini," ujarnya sambil menunjuk dadanya.

"Dan saat itu juga pertama kalinya aku melihat putra mahkota menangis,"

"Apa?!"gadis itu terkejut mendengar penuturan si pemuda.

"Ya, aku melihat putra mahkota menangis sangat keras hingga aku sendiri bisa merasakan suara di tenggorokanku tercekik,"

Gadis itu semakin menatap pemuda itu penasaran. Ia baru tahu jika putra mahkota yang kini diisukan sedang sakit itu pernah menangis. Apalagi menangis dengan kencang, siapakah yang bisa membuat sang putra mahkota hingga seperti itu? pikirnya.

"Nee, ceritakan padaku Konohamaru, kau membuatku semakin penasaran!" serunya sangat tertarik.

Pemuda itu menatap sang gadis lama. Hingga ia mengambil nafas dalam, dan mulai menceritakan apa yang ia lihat saat itu.

.

.

.

"Naruto! Dimana kau?!" serunya panik. Dengar kali ini ia memiliki alasan, bagaimana tidak. Ia sudah berkeliling mencari sosok pirang yang tak sengaja ia lihat di acara pertunangan sialan itu, namun sampai sekarang tak jua ia menemukan sosok itu.

Okiya adalah pilihan utama baginya tapi sayang Shizune pun sedang mencari anaknya itu.

Ramen ichiraku? Itu opsi keduanya, tapi disana pun ia tak ada.

Di pohon sakura yang berada di tengah kota? Disana juga ia tak menemukan sosok pirang itu.

Sampai pada akhirnya ia harus mengunjungi satu persatu tempat yang terlintas di kepala bersurai hitamnya. Dan sangat disayangkan sekali, hasilnya tetap nihil.

"Dimana? Dimana lagi aku harus mencari?" pikirnya.

Ia nampak semakin kacau, pakaian bersulam sutranya kotor karena debu.

Setelah berputar-putar di satu tempat, arah pandang matanya menuju ke tebing yang tak jauh dari tempatnya.

Instingnya membawa kakinya untuk melangkah kesana.

Membelah jalan berbatu yang sedikit terjal, serta tanaman-tanaman tinggi yang sedikit menganggu langkah kakinya. Angin malam yang bertiup semakin dingin. Salju yang turun pun semakin banyak.

Nafasnya terengah-engah selama perjalanannya menuju tebing itu.

Dan ketika ia akan sampai di puncak tebing itu, sayup-sayup ia mendengar suara tangisan seseorang.

'Mungkinkah?' batinnya.

"Hiks… kak naru.. hiks…"

Suara itu semakin jelas.

Dadanya berdegup kencang. Ia percepat langkah kakinya.

"Hiks…. Hiks…" tangisan itu semakin kencang.

Dan ketika ia sampai di puncak tebing itu, seorang anak duduk bersimpuh sambil menangis kencang, ia meremat rumput dibawahnya yang tertutupi salju dengan erat. Tetes demi tetes air mata jatuh membasahi tanganya. Sambil menggumamkan nama yang ia kenal.

Naruto…

"Hei, apa yang terjadi?!" paniknya. Tanpa sadar ia mencengkram dengan erat pundak anak kecil itu. Hingga anak itu meringis.

"Ya—yang mulia?" kaget sang bocah yang mendapati sosok putra mahkota berada tepat dihadapannya, dengan tampang yang—teramat panic?

"Naruto, dimana dia? Katakan padaku!" serunya tak sabaran.

Anak itu menatap kearah putra mahkota dengan sedih, tangisannya kembali terdengar, dan dalam tangisannya itu ia hanya menggumankan nama Naruto berkali-kali.

"Che!" merasa tak akan menjawab pertanyaan yang ia lontarkan, ia mengabaikan anak itu.

Ia kemudian menelusuri tebing itu sambil meneriakkan nama 'Naruto' berulang kali.

Sampai ketika ia menemukan sebuah sapu tangan dibawah batu yang terhalang salju.

Diambilnya sapu tangan berwarna biru dengan ornament bunga sakura di pojok kiri, benda yang dulu ia punya dan benda yang ia berikan pada orang yang telah memikat hatinya.

Dahulu ketika ia masih kecil ia berjanji pada seseorang, janji dimana ia akan menjemputnya ketika ia sudah besar, janji yang akan membawanya pergi dari tempat terkutuk itu, janji yang ia ucapkan dengan pasti tanpa keraguan sedikit pun, dan janji yang kini tak bisa ia tepati, ingatpun tidak.

Dan ia sadar, sosok yang ia berikan benda itu adalah sosok yang sama yang ia cari saat ini.

Sosok pirangnya.

Narutonya.

Sosok yang menunggunya selama lebih dari 10 tahun. Terus menunggunya, hingga kini. Memanjangkan rambut pirangnya, dan terus menjaga benda itu.

Lalu, bagaimana dengannya?

Rasa sesal semakin menghimpit dadanya.

Ia tak menyangka sosok itu telah memikat hatinya untuk yang kedua kalinya, sosok yang ternyata pernah ia lupakan.

Sayangnya, mungkin kini terlambat baginya..

Sepanjang ia memandang, hanya hamparan rumput yang tertiup angin serta bocah yang masih menangis di belakangnya dan sebuah haori—jaket kimono—bergelayut manja tertiup angin di cabang pohon sakura yang tumbuh disana.

Haori yang ia tahu itu adalah milik sosok pirangnya.

Haori yang tadi ia kenakan.

Haori yang tak lagi melekat di tubuh tan si pirang.

Haori yang…

Tidak!

"Naruto?!" serunya.

Namun, keheninganlah yang menyapa.

"Ya—yang hiks.. mulia… kak naru.. hiks.. hiks…" ujar anak itu dengan suara yang sesenggukkan. Berusaha mengatakan apa yang baru saja ia lihat.

"Kak.. na—ru.. hiks.. ia terjun ke jurang itu.. hiks.. ya—yang mulia.." walau tersendat namun apa yang ingin ia sampaikan terucap.

Terbelalaklah matanya mendengar penuturan anak itu.

Haori yang terpisah dari tubuh, sebuah benda yang terselip diantara batu, anak kecil yang menangis, dan sosok pirang yang tak berada disana.

"Tidak! Kau!" geramnya menatap tajam kearah sang bocah.

"Ma—maafkan hamba yang mulia!" serunya meminta ampun.

"Kau beraninya membohongiku! Katakan, dimana dia! Dimana Naruto!" teriaknya. Ia nampak bukan seperti bangsawan.

"Hiks… hamba tidak berani membohongi yang mulia. Hamba hanya bermaksud mengikuti kak naru hingga kesini, namun ketika hamba telah sampai di sini, kak naru menjatuhkan tubuhnya ke bawah sana sambil tersenyum kecil kepadaku yang mulia." Jelasnya.

"Kau bohong! Bohong! Bohong!" teriaknya sambil meremas surai hitam milikknya.

Dan bersamaan dengan itu, pohon sakura tanpa bunga itu pun roboh seketika dan terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. Membawa pergi haori yang masih berkibar di salah satu cabang pohonnya. Meninggalkan bukti akhir hidup dari seorang geisha. Geisha bersurai pirang nan cantik. Geisha laki-laki pertama yang mampu mengikat hati seorang bangsawan Uchiha.

Ya, geisha yang bermata biru sebiru langit, Naruto….

.

.

.

"Setelah itu yang mulia mengerahkan pasukannya untuk mencari kak naru dibawah sana, namun hasil yang diinginkan tak seperti dugaan, cuaca yang ekstrim menghalangi pencarian itu, kurang lebih selama seminggu lamanya pencarian itu dihentikan, dan dimulai lagi setelah badai salju menghilang. Sayangnya, dibawah sana kami tak menemukan apapun, hanya robekan pakaian milik kak naru serta darah yang tercecer. Anehnya tubuh kak naru tak ditemukan, dan semenjak itu kondisi yang mulia menjadi aneh. Ia lebih memilih diam, dan memandang langit. Pertunangan mereka pun batal, mungkin rakyat tidak tahu alasan sebenarnya, yang mereka tahu hanya, karena sang putra mahkota terserang penyakit aneh, maka pertunangan itu batal. Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah, yang mulia yang merasa sangat menyesal hingga memilih diam dan memandang langit, berharap ia diberikan kesempatan lagi untuk melihat kak naru, begitu juga aku. Aku sangat merindukan sosoknya, sangat…" ujarnya parau mengakhiri kisahnya.

Gadis itu diam, perlahan air mata mengalir turun ke pipinya, ia menangis.

Jadi, cerita yang ia dengar dari kakaknya hampir sama dengan yang Konohamaru ceritakan. Tapi, cerita yang Konohamaru ceritakan membuat dadanya lebih sesak, ia merasa sangat sedih. Walaupun ia tak begitu mengenal putra mahkota kerajaan konoha—Sasuke—namun, ia dapat sedikit merasakan apa yang Sasuke rasakan. Ketika kakaknya tahu calon suaminya sakit ia langsung mengunjungi istana saat itu juga, dan ketika ia melihat kondisi sang calon suami, ia tahu, mata yang ia pandang menyimpan sejuta rasa sakit dan penyesalan. Yang tentunya bukan tertuju untuknya, melainkan untuk seseorang. Dan tanpa bertanya apapun pada calon ibu mertuanya, ia tahu. Pilihannya untuk menjadi bagian dari kerajaan konoha itu salah. Ia sedih, ketika ia mendapati sosok dingin itu berubah menjadi sosok rapuh yang hanya bisa diam sambil memandang langit. Seperti mencari sesuatu disana. Yang ia tak tahu apa itu. dan bagaimana ia bisa hidup bahagia sedangkan orang yang ia cintai tak bahagia?

"Kau menangis," ujar Konohamaru ketika ia mendapati gadis kecil tanpa pupil mata itu mengeluarkan air mata bagai sungai.

"Aku.. hiks tidak menangis, Baka!" diusapnya aliran sungai dipipinya.

"…." Konohamaru hanya diam. Kembali memandang langit biru diatas sana.

"Aku harap kak naru itu masih hidup dan bisa bersama lagi dengan pangeran Sasuke," ujarnya setelah mengusap air mata diwajahnya.

"Ya, semoga…" ujar Konohamaru menimpali harapan sang gadis yang merupakan adik dari mantan tunangan sang pangeran kedua konoha.

.

"Ia masih hidup, dan sekarang ia mendapat apa yang ia harapkan, kebahagian sebagai seorang manusia…" pria bersurai merah marun itu menyelipkan tangannya ke saku lengan kimononya yang berwarna putih. Kemudian iapun melangkah pergi meninggalkan dua anak manusia yang masih menikmati langit biru diatas sana.

:::To Be Continued:::

Ohayou~ minna~

Wuaahhh… gomenne, ku ga bisa update cepat.

N

Ku ga bisa bales reviewnya sekarang ya minna, gomen..

m(_ _)m

n

maaf ini update-annya belum sempat tak edit, tadi langsung publish, hehe, jadi typo ato alur gaje itu bertebaran hehehe~

btw, apa bener ya FF mau di blokir/ tutup? Wah kalo jadi ku jadi ga bisa publish ff lagi donk? Dou shiyou kana? -_-"

btw, makasi yang udah ngefollow n ngefav ini fic ya~ ga nyangka bisa nembus angka 100 hehehe~ hehehe~ yeiyyy!

Jaa, nee~