Biarkan Aku Mencintaimu
Chapter 10
^^Selamat Membaca^^
Naruto menggapai tangan Hinata, "kau mau tahu siapa saja wanita ku sebelum diri mu?" Naruto membisikannya ditelinga Hinata. Hinata berharap dia tidak punya telinga sekarang. "katakan padaku, kau mau tahu?"
"hentikan!" ujar Hinata.
"aku tidak akan berhenti sebelum memberitahu mu, wanita itu..."
"hentikan itu!"
"wanita itu..."
"Naruto, hentikan!" Hinata melepaskan pegangan tangan Naruto, dia berbalik mengahadap Naruto, Hinata bernapas tidak beraturan, dia membentak Naruto tadi, dengan menyebut namanya langsung. Itu membuat Naruto tersenyum senang, kenapa?
"kau memanggil namaku, aku jarang sekali mendengarnya bahkan hampir tidak pernah, sebutkan namaku sekali lagi!"
Hinata menggelengkan kepalanya. Naruto mendesah, dia mulai menghampiri Hinata lalu mengangkatnya dan mendudukan Hinata di meja makan. Hinata terkejut sekaligus bingung, Naruto meraih pinggangnya dan mempereratnya, Hinata menaruh tangannya di dada Naruto agar tidak terlalu menempel, tapi Naruto memaksa Hinata. Hinata berpaling darinya, "apakah kau tahu siapa wanita yang paling berkesan dalam pencarian ku?" Hinata tetap diam.
"wanita itu membuatku gila, dia benar-benar merusak hidupku dan tidak, dia membuat hidupku terasa lebih berwarna, dia cantik, seksi dan baik hati, aku beruntung mengenalnya," Hinata semakin mendorong Naruto, tapi Naruto semakin mempererat, "dia benar-benar cantik!" bisik Naruto ditelinga Hinata. Hinata ingin sekali menangis sekarang, tapi dia tidak bisa, kenapa?
"kau mau tahu siapa namanya?" Hinata mengepalkan tanganya kuat-kuat, "namanya adalah... Hyuuga Hinata." Hinata membelalakan matanya dan menoleh kearah Naruto, wajahnya dekat sekali dengan wajah Naruto, mereka hampir berciuman, "seseorang yang ku kenal, yang membuatku gila, seorang wanita yang memberikan ku kehidupan yang sempurna, aku mencari-cari wanita itu, dan tentunya kau yang selama ini aku inginkan, dari dulu hingga sekarang, bahkan selamanya!"
Hinata menteskan air matanya, Naruto mengusap air mata itu dengan ibu jarinya, "aku senang sekali melihat mu cemburu, kau cemburu pada sendiri, menggelikan!" ujar Naruto, itu adalah pembalasan darinya, tapi dia juga tidak bermaksud membuat Hinata terharu dan menangis.
"bodoh!" ujar Hinata, "kenapa harus aku, kenapa?"
"entahlah! Saat melihat mu untuk pertama kalinya, jantung ku berpacu, kau tahu apa itu artinya? Aku tidak pernah tahu apa itu!"
"aku minta maaf karena bersikap seperti tadi, ini semua salah mu, kau membuat ku..."
"kau? Kenapa harus kau lagi hah, panggil namaku, aku senang sekali saat wanita ku yang cantik ini memanggil nama ku, ayo, katakan lagi!"
Hinata menghela napas, Naruto semakin mendekat kearahnya, "ayo panggil namaku!"
"Naruto."
"lagi!" pinta Naruto.
"Naruto." Naruto semakin mendekatkan wajahnya, "lagi!" ujar Naruto
"Naruto!"
Naruto tersenyum dan seketika itu juga Naruto mencium Hinata dengan sangat lembut. Entah apa yang merasuki Hinata hingga dia membalas ciuman itu, Naruto semakin mengeratkan pelukannya, dia tidak menyangka bahwa Hinata lebih agresif sekarag, dan dia suka akan hal itu.
~~~###~~~
"metode mu itu tidak sesuai dugaan Sakura, aku bahkan tidak akan melakukan hal itu lagi!"
"tapi saat aku mencobanya pada Sasuke, jawabanya membuat ku senang."
"tapi tidak bagiku. Aku bertanya padanya saat dia sudah sadar."
"apa? Lalu bagaimana hasilnya?"
"aku sangat senang, dia benar-benar tergila-gila padaku!" Hinata... Hinata.. kau baru sadar yah? Dasar! Hinata dan Sakura tengah berada di sebuah caffe, hari itu adalah hari minggu, tepat ulang tahunnya Sakura, kira-kira apa yah yang disiapkan Sasuke untuk Sakura, batin Hinata. "aku ingin pergi berjalan-jalan Hinata, ayo!" Hinata menuruti kemauan Sakura, di hari ulang tahunnya ini, apapun akan Hinata berikan.
Tidak jauh dari toko bunga Ino, Sakura dan Hinata tengah berjalan-jalan, Hinata melihat-lihat pemandangan musim dingin yang sebentar lagi akan berakhir. Tapi Sakura, dia hanya melihat satu objek, Sasuke, dia sedang bersama seorang wanita, siapa dia, batin Sakura. Sasuke memberikan sebuket bunga pada Ino, bunga yang tidak diharapkan itu ternyata terbawa olehnya, dan Sasuke memberikan lagi bunga itu pada Ino, Sakura melihatnya saat bunga itu diberikan. Gawat!
Sasuke lalu pergi, dia tersenyum pada wanita itu, sial, siapa dia? Sakura menarik tangah Hinata dan berlalu menuju toko bunga itu. Entah mengapa Sakura membawanya menuju toko Ino, "apa yang..." kata-kata Hinata terpotong kala Sakura memasuki toko itu dan melabrak Ino, "siapa kau, ada hubungan apa kau dengannya, apa kau wanita simpanannya, katakan padaku?"
"hey apa mksud mu, kenapa tiba-tiba marah seperti ini, lagi pula apa maksud mu aku tidak mengerti!"
Hinata melerai mereka berdua, "tenang Sakura, kenapa tiba-tiba kau marah pada Ino?"
"kau mengenalnya?" Hinata mengangguk, dia juga memberitahu Sakura bahwa Ino adalah teman Hinata sejaki kecil, "teman mu ini, ada hubungan apa dengan Sasuke?"
"Sasuke, dia tadi kesini?" tanya Hinata pada Ino, Ino menangguk, "dia tadi memberikan bunga mawar putih yang..." Hinata menutup mulut Ino, "aku tahu apa yang terjadi disini Sakura, dengarkan aku. Sasuke membeli sebuah bunga, dia bilang bunga itu untuk ibunya, aku sendiri yang mengantar Sasuke ke toko Ino, jadi mungkin bunga itu tidak sesuai dengan keinginannya, benarkan Ino?"
"yaah, aku tadi memasukan bunga yang salah, jadi mungkin dia menyadarinya dan mengembalikan bunga itu padaku, apa kau puas, dasar!"
"benarkah? Aku jadi merasa bersalah...
"sudah seharusnya!" ketus Ino.
"maafkan aku, karena menuduh mu yang tidak-tidak!"
"aku maafkan!" ujr Ino.
"baiklah, karena kalian sudah saling memaafkan sebaiknya aku mengenalkan kalain berdua, Sakura ini adalah Ino, dia teman ku sejak aku kecil, dan Ino, dia adalah Sakura, kekasih Sasuke, aku sudah memberitahu mu sebelumnya bukan." Yah, dan setelah itu mereka semua berteman baik. Sangat menyenangkan mempunyai banyak teman, pikir Hinata.
Saat menjelang malam Hinata tidak sama sekali pulang ke apartement, dia tahu Naruto pasti butuh kebebasan sekarang. Sejak mereka tinggal bersama Naruto jarang sekali keluar untuk bermain bersama teman-temannya. Jadi Hinata ingin Naruto agar terbebas sekarang, bebas dari pikirannya akan Hinata, "kau kenapa Hinata?"
"aku tengah memikirkan Naruto, apa menurut mu dia sedang bersenang-senang sekarang?"
"entahlah! Aku dengar dari Sasuke bahwa Naruto sedang bersamanya, sudahlah, lupakan pria yang ada dipikiran mu, sekarang waktunya untuk kita bersenang-senang tanpa gangguan mereka, setuju!" Hinata mengangguk setuju.
Disisi lain Naruto sedang bersama Sasuke, dia meminta Naruto untuk menyiapkan semuanya, acara pesta kejuta untuk Sakura. Malam ini hanya dia dan Sakura yang akan berpesta, pikir Sasuke. "aku tidak punya waktu banyak Sasuke, aku ingin segera pulang dan bertemu Hinata!"
"kau ini egios sekali, teman mu sedang membutuhkan bantuan, kau buru-buru ingin bertemu dengan Hinata, menyebalkan! Lagi pula, wanita itu tidak suka dikekang Naruto!"
"apa maksud mu?"
"aah ya ampun, dengar yah, sesering apapun kau bertemu dengannya, dia juga pastinya butuh waktu dimana tidak ada dirimu untuk waktu sesaat. Kau tahu kenapa? Karena wanita itu mempunyai banyak privasi sendiri untuk tidak di ganggu. Contohnya aku yang selalu membuat Sakura bebas kemana pun dia pergi, asalkan dia memberi kabar padaku dan kau tahu apa yang wanita butuhkan? Sebuah rasa nyaman dari pasangan yang tidak overprotektiv, salah satunya dirimu, berhentilah menyebut nama Hinata!"
"kau yang harus berhenti bicara, mana mungkin Hinata seperti itu, dia bukan Sakura yang tampil modis, dia adalah wanita sederhana yang sempurna bagiku. Tidak mungkin dia..."
"sesederhana apapun dia, dia pasti butuh waktu untuk terbebas dari belenggu mu. Sudah jangan membicarakan wanita lagi, aku pusing sekarang!"
Apakah yang dikatakan Sasuke itu benar, apa Hinata terlalu ia kekang. Tapi mana mungkin dia memberi kebebasan pada Hinata, itu artinya dia tidak akan bertemu Hinata setiap hari, Hinata akan selalu berpergian dengan Sakura, dan Naruto akan sendirian, ini tidak boleh terjadi! Tapi apa yang diarasakan Hinata, apa dia terbelenggu bila setiap saat berada didekat Naruto? naruto bertanya-tanya sekarang. Mungkin Sasuke benar, aku harus sedikit menjauh dari Hinata agar dia bisa leluasa berpergian tanpa belenggu dari Naruto
~~~###~~~
Menjelang tengah malam Sakura sudah berada di sebuah taman dengan mata tertutup. Sasuke menjemput Sakura saat mereka tengah berada di salon kecantikan. Dengan dirinya yang sedang di medi dan pedi, sedangkan Hinata hanya melihat saja, tapi itu membuat Naruto salah paham, dia mengira Hinata juga akan melakukan perawatan. Sasuke benar, ia harus sedikit memberi kebebasan pada Hinata.
"kau siap?" ujar Sasuke, ditelinga Sakura. Ia tengah berdiri di belakang Sakura, siap untuk membuka penutup mata. Saat dia membukanya Sakura sangat terkejut dengan apa yang sudah Sasuke lakukan untuknya. Taman yang dihiasi banyak balon dan bunga lili kesukaannya, "Selamat ulang tahun Sakura!"
Sakura berbalik menghadap Sasuke dan memeluknya erat, "terima kasih!"
Mereka berdua terhanyut dalam pelukan, dengan dua orang yang sedang melihat mereka bermesraan, "romantis sekali, Sasuke benr-benar hebat!" Naruto yang mendengarnya pun naik pitam, dia juga tidak akan kalah dari Sasuke, awas saja, kalau Hinata ulang tahun dia juga akan membuat pesta hanya untuk mereka berdua. tentunya lebih dari ini, "ayo kita pulang ini sudah larut!"
Naruto pergi duluan tanpa menggandeng tangan Hinata, tumben sekali, biasanya dia tidak pernah ketinggalan dengan hal semacam itu, batin Hinata, apa yang terjadi dengannya? Saat mereka sampai di apartement Naruto langsung tertidur di sofa, "apa kau tidak mau mandi?" Naruto hanya berkata tidak, "baiklah, tapi apa kau lapar, aku akan menyiapkan..."
"aku tidak lapar, tidurlah!" Aneh sekali, apa yang terjadi? Batin Hinata.
Keesokan harinya Naruto berangkat ke kantor lebih dulu dari Hinata, tidak biasanya dia berangat tanpa Hinata. Di kantor pun Naruto hanya terdiam, saat makan siang dia juga hanya terdiam, ingin sekali Hinata bertanya tapi tidak, dia harus tahu dulu apa yang mengganggu pikiran Naruto, "hari ini aku mungkin pulang larut, pulanglah dulu tanpa ku, atau kau mungkin ingin bersenang-senang dengan teman-teman mu, silahkan saja, tapi ingat jangan pulang terlalu malam!" lalu Naruto pun berlalu dari Hinata.
Hinata memang pulang, dan tidak bersenang-senang dengan siapapun, dia hanya ingin melihat Naruto saat ini, karena dia merindukannya. Samar-samar Hinata mendengar pintu terbuka dan itu adalah Naruto, dia tidak sama sekali meneyentuh Hinata, Naruto langsung tertidur di sofanya, Hinata takut kalau Naruto tidak lagi membutuhkannya, atau bahkan menginginkan dirinya lagi.
Kejadian itu hampir setiap hari berulang-ulang, dan ini sudah yang ketiga kalinya mereka jarang bicara, dan juga sudah yang ketiga kalinya Naruto selalu pulang larut malam. Hinata harus tahu penyebabnya, dia sama sekali tidak tahu menahu apa yang sedang ada dalam pikiran Naruto. hari itu hari minggu jadi mereka di rumah, "apa kau tidak bermai dengan teman-teman mu?" tiba-tiba Naruto bertanya.
"bermain? Apa itu yang selalu kau pikirkan, apa kau berpikir aku selalu bermain dengan teman-temanku?"
"yah, sayang kurasa itu bagus untuk mu!"
Syukurlah bahwa Naruto masih memanggilnya dengan sebutan sayang. "kau tahu apa yang kulakukan tiga hari belakangan ini?" Naruto menggeleng, "aku selalu menunggu mu pulang Naruto, berharap kau datang tepat waktu saat makan malam, tapi apa? Nyatanya kau sudah berubah, kau bukan lagi Naruto yang ku kenal, kemana dirimu saat itu, kau tahu? Aku merindukanmu!"
"t-tunggu dulu, bukankah kau perlu kebebasan? Apa kau tidak bermain dengan teman-teman mu? Aku sepertinya terlalu membelenggu mu dengan kehadriran diriku yang setiap hari selalu kau lihat, mungkin dengan kau sedikit menjauh dariku kau akan seperti merasa bebas, bukankah itu yang kau inginkan?"
"dasar bodoh! Aku tidak menginginkan hal itu, justru dengan menjauh dariku kerinduan ini membelengguku Naruto, apa kau tidak menyadarinya?"
"Hinata aku..."
Naruto menggelengkan kepalanya dan berlalu menghampiri Hinata, dia memeluk Hinata erat, "kukira dengan aku menjauh kau bisa bebas berpergian dan tidak terkekang olehku. Kau harus tahu aku juga sangat merindukan mu, maafkan aku, tindakan ku sangat salah, aku tidak akan mengulanginya lagi, aku berjanji!"
"aku kira kau sudah bosan dengan ku, dan kau berniat untuk meninggalka..."
Naruto melepaskan pelukannya dan menutup mulut Hinata dengan jarinya, "jangan pernah mengatakan hal itu, tidak sedikit pun terbesit dalam pikiran ku untuk... tidak Hinata, kau tahu bukan, aku mencintai mu, hanya kau, selamanya!"
"kau membuatku menjadi wanita paling beruntung di dunia ini!"
"itu mungkin kata-kata yang cocok untukku, aku adalah pria yang beruntung!"
Saat semua kesalahpahaman ini berakhir dan semua berakhir dengan senyum bahagia, mereka tidak tahu bahwa di depan nanti akan ada bahaya yang mungkin sulit untuk mereka hindari, apapun bahaya itu apakah mereka siap, tak ada yang tahu.
~~~###~~~
"kau sepertinya senang akan bertemu lagi dengannya."
"tentu saja, ini sudah lima tahun, aku merindukannya!"
Seorang wanita berambut panjang berjalan diantara kerumunan orang-orang yang sedang sibuk dengan jadwal penerbangan mereka. Berlatar belakang di sebuah bandara internasional, wanita itu akan kembali lagi ke tempat dimana dia dilahirkan, tanah airnya. Rasa rindunya pada seseorang benar-benar kuat, hingga ia tak sabar lagi untuk bertemu dengan orang itu. "apa dia menunggumu?" teman dekatnya bertanya, namun ia tak bisa menjawab jujur, "kurasa!" jawabnya gelisah.
Bila dia merindukan seseorang, mana mungkin seseorang itu juga tidak merindukannya. Tentu pasti rindu, namun itu hanya spekulasinya, "aku akan merindukan negara ini pastinya, senang bisa berteman dengan mu, aku pergi dulu!" ujar wanita itu. Sementara itu temannya melambaikan tangan padanya saat dia memasuki pintu pesawat.
Didalam pesawat ia duduk dengan seorang pria cukup tampan dan berkelas, tapi pria ini bukan tipenya. "permisi," ujar wanita itu. Lalu pria itu terbangun dari tidurnya, "maafkan saya karena telah membangunkan tdur anda, tapi boleh saya meminta bantuan anda, bisa tolong saya menaruhkan tas saya di..."
"akan ku lakukan!" sebelum menyelesaikan kata-katanya pria itu langsung menaruh tas itu dibagasi pesawat, "terima kasih, kau..."
"Sai, namaku Sai."
"ooh, terima kasih Sai, namaku Shion. Sekali lagi terima kasih."
"terima kasih kembali nona Shion." Sai menyeringai lalu duduk dan tertidur kembali.
^^Bersambung...^^
CAT:
Haloooooo mina-san... ini chapter yang ke 10, Sophia "selametan" nieh karena udah nyampe 10 chapter^^... makasih yah buat kawan-kawan semua yang udah baca fic Sophia, Sophia seneng bangetzzz^^.. jangan lupa yah, kasih saran dan kritik membangunnya^^ Sophia tunggu lho!"
Tapi untuk chapter yang selanjutnya, Sophia up date nya lebih lama nieh kayanya ...bentar lagi soalnya ada UAS, jadi Sophia "STOP" dulu deh... tapi masih ada ko kelanjutnya, tenang ajah!^^
Yang terpenting untuk saat ini adalah.. ucapan terimakasih dari Sophia yang sebesar-besarnya kepada kawan semua karena "sudi mampir" untuk membaca fic Sophia, apalagi buat kawan yang udah kasih Saran dan Kritik membangunnya. Semoga kawan semua selalu dilindungi oleh yang maha kuasa, Amin! terutama bagi kawan yang membaca fi Sophia^^... hehe pilihpilih nie Sophia.
