Haloo~ akhirnya saya update jugaa~^^ Yah, mungkin setelah ini saya resmi bakal update paling nggak seminggu sekali. Atau mungkin lebih. Harap maklum yaa^^ Tapi kalo mampir ke FFn saya sih bisa kapan aja kayaknya.

Eniwei, bales review dulu.

Hime Shiroyuki : Iya wahahaha Hitsu ga mati loh! XD buktinya ada di chapter ini XD oke, ini udah update^^ maap kalo ga kilat ya...

Kadiri Kobayashi : waaah... makasih ya! XD Rukia 'kayaknya' ga suka sama Toushiro. Kayaknya kejelasan pairing bakalan keliatan di akhir doang deh, saya masih demen bikin triangle love nih :P #plak okee~ ini udah update^^ sip! nanti saya mampir ke fic anda XD

Zanpaku nee : wah, anda niat juga ya sampai baca lagi 8'D #terharu hmm, yasud la. sudah terjadi (?) IchiRuki? well, saya masih demen bikin triangle love, jadi silahkan ditunggu ya! XD

wu : minal aidzin wal faidzin jugaa^^ waah makasih yaa^^ semoga anda tetep klop sama ceritanya^^ yah, ini udah update!

RiruzawaStrife Hiru15 : saya juga suka 2 pair ituu! XD HitsuRuki-ny kurang kuat? Mungkin aja nanti jadi kuat :P #loh ini udah apdet yaak^^

Wi3nter : ^^ angpao...? err, saya aja ga dapet THR loh... #mewek eh? hmm. IchiRuki / HitsuRuki deh :P oke ini udah update^^

zuu-nii ako 21 : kyaaa~ ada Sebastian mampir ke fic guee! #histeris #ehsalah

Yuina Valkyrion : gaya rambut Hitsu awalnya yang dulu. Tapi mulai dari chapter ini gaya rambutnya berubah jadi yang baruuu! #maksa IYA! IYA! gaya rambut hitsu yang baru bisa bikin tepar, orangnya cakep banget... 8'D yah, disini sih emang punya~ XD oke, ini udah update^^

Yosh, thanks for all of your review^^ Happy reading!


A/N : err, ada reviewers yang bilang, kalo 'aishiteru yo' itu artinya 'I love you too'. Dan jujur, saya baru tahu 8'D jadi, di chapter yang sebelumnya, waktu hitsu ngomong 'aishiteru yo' sebenernya itu 'I love you' doang yak, gak pake too. Hehe, maafkan author yak XD


Warning : AU, OOC, ABAL, GENRE DIPERTANYAKAN (?)

.

Orange Butler

By : ariadneLacie

.

Disclaimer

BLEACH by Tite Kubo

Kuroshitsuji by Yana Toboso


Chapter 9

"He's Back."


Rukia membuka matanya perlahan. Ia dapat mendengar burung-burung berkicau diluar. Dan ia juga dapat melihat sinar mentari masuk ke kamarnyna melalui sela-sela gorden. Hari sudah pagi rupanya.

Hal yang terjadi kemarin sungguh melelahkan. Kejadian kemarin membuat fisik dan mentalnya sangat lemah. Bahkan ia masih ingin menangis jika mengingat tentang Toushiro. Mungkin ia harus tidur lagi saja sekarang, melupakan segalanya lagi, dan terbang ke alam mimpi. Masa bodoh dengan sekolah, Ichigo pasti bisa mengurusnya.

Ngomong-ngomong soal Ichigo, kenapa dari tadi Rukia tidak merasakan keberadaannya ya? Padahal biasanya Ichigo selalu membangunkannya di pagi hari, sambil membawa secangkir susu hangat. Dan sekarang ia bangun sendiri. Apa Ichigo lupa membangunkannya?

"Selamat pagi, nona."

Rukia hampir saja loncat terbangun dari tempat tidur begitu mendengar suara Ichigo. Lagipula Ichigo muncul secara tiba-tiba, tidak mengetuk pintu dulu, malah tidak membuka pintu! Dasar iblis.

"Kenapa kau tidak mengetuk dulu, Ichigo?" protes Rukia sambil bangkit dari tempat tidurnya. "Hargai privasi tuanmu ini..."

"Tapi, nona. Ini adalah kamar saya," jawab Ichigo. Rukia yang kaget langsung melihat sekeliling.

Benar. Ini memang kamar Ichigo. Lantas, apa yang ia lakukan disini? "Kenapa aku bisa ada disini?" tanya Rukia panik.

"Ahh... jangan berprasangka buruk, nona. Anda tidur sambil berjalan kemarin malam," kata Ichigo sambil tersenyum menyebalkan. "Dan, anda langsung masuk ke kamar ini. Mengejutkannya, anda langsung naik ke tempat tidur dan..."

Ichigo berhenti. Rukia jadi blushing dan salah tingkah. 'Kira-kira apa yang aku lakukan semalam?' batinnya. "Apa?" tanya Rukia sewot.

"Tenang, anda hanya langsung tertidur lagi setelah itu. Dan tentu saja saya tidak mencuri kesempatan, meskipun anda adalah setengah iblis," lanjut Ichigo, masih tersenyum menyebalkan. Muka Rukia sudah semerah kepiting rebus sekarang.

"Sialan kau, Ichigo!" serunya sambil melempar bantal pada Ichigo. Bantal tersebut langsung ditangkap oleh Ichigo, masih dengan senyumnya itu. "Hei Ichigo, kau pasti tahu segala sesuatu tentang masa laluku, kan?"

Ichigo kembali memasang wajah dinginnya sekarang. Lalu ia menjawab, "Ya, nona."

"Kalau begitu... kau bisa menjelaskan berbagai pertanyaan yang akan kutanyakan, kan?" tanya Rukia lagi.

"Saya harap saya bisa, nona," jawab Ichigo. Ia mulai tidak menyukai arah pembicaraan ini.

Rukia terdiam sejenak. Ia memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang akan ia ajukan. Apa yang ingin ia ketahui lebih dulu? Hal ini sungguh memusingkan. Ia ingin mengetahui segalanya.

Tetapi akhirnya Rukia memutuskan bahwa ia akan menanyai Ichigo secara acak. "Kau sudah mengenal kakak-ku sebelum bertemu denganku?"

"Ya."

"Kau tahu bahwa aku itu dulunya iblis disaat menjalin kontrak denganku?"

"Ya."

"Kau tahu bahwa aku setengah iblis? Sejak kapan?"

"Ya. Sejak saya bertemu dengan nona di hari hujan waktu itu."

"Kalau begitu, kenapa kau mau menjalin kontrak denganku?"

Kali ini Ichigo terdiam. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bodoh. Tentu saja tidak. Paling tidak, jangan sekarang. "Anda ingin kejelasan kontrak kita sekarang?"

"Tentu," jawab Rukia tidak sabar. Ia merasa Ichigo menutup-nutupi sesuatu.

"Tapi saya tidak bisa mengatakannya sekarang," kata Ichigo akhirnya. "Maafkan saya, nona."

"Apa? Kenapa?" tanya Rukia, semakin penasaran. Sementara Ichigo hanya terdiam dan menatap Rukia nanar. "Ini perintah!"

Ichigo pun berjalan cepat menuju Rukia dan mencengkram bahu Rukia hingga ia terbanting ke kasur. Mata violet Rukia membulat sempurna melihat bahwa wajah Ichigo sudah sangat dekat dengannya sekarang. "I-Ichigo…?"

Tiba-tiba Ichigo terdiam. Ia menatap Rukia bersalah. Lalu ia pun melepaskan cengkaramannya pada bahu Rukia dan berbalik. "Maafkan saya, nona." Lalu Ichigo pun menghilang seperti sebuah bayangan hitam yang melesat cepat.

Rukia memandang tempat Ichigo sebelumnya berada dengan bingung dan juga kaget. Perlahan rona merah muncul di kedua pipinya. Lalu akhirnya ia pun membanting tubuhnya kembali ke kasur dan menatap kosong langit-langit ruangan. "… apa maksudnya tadi itu?"


Ichigo menatap langit biru yang sangat jernih itu dengan tatapan kosong. Lalu ia pun membuka jendela, dan perlahan merasakan tiupan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya.

"Hah… kau ini kenapa Ichigo… kenapa belakangan ini kau jadi tidak bisa menahan diri…" gumamnya frustasi. Lalu ia pun mulai menjambak-jambak rambutnya kesal.

"…Ichigo?"

Ichigo tersentak mendengar suara kecil yang memanggil namanya itu. Ia langsung berbalik untuk memastikan dari mana sumber suara tersebut.

"K-kau…?" katanya kaget.


Rukia baru saja selesai mandi dan mengganti baju. Ia mengenakan baju terusan selutut berwarna putih dipadu dengan cardigan berwarna merah tua. Ia memerhatikan dirinya di cermin dengan seksama. Ia baru menyadari bahwa matanya masih berwarna violet.

"Hah? Tunggu… jika Toushiro sudah mengembalikan kekuatanku… lalu kenapa mataku tidak kembali menjadi merah?" gumamnya heran. Lalu ia pun mencoba mengeluarkan pedang putih yang waktu itu dari tangannya. Tetapi tidak bisa.

"Hmmm, apakah ini karena aku belum menguasai kekuatanku?" gumam Rukia heran. "Ah sudahlah, lebih baik aku sarapan saja dulu sekarang." Lalu ia pun pergi meninggalkan kamarnya menuju ruang makan.


Ruang makan kosong dan sepi. Tetapi Rukia dapat melihat sarapan sudah tertata dengan rapi di meja makan. Tetapi ia tidak dapat menemukan sosok Ichigo di manapun.

"Hhh… sedih sekali rasanya. Lagipula, kenapa sih si Ichigo itu?" gumam Rukia kesal sambil menarik kursi dan duduk di atasnya. Ia pun menyeruput teh-nya sedikit. Wangi manis vanilla tercium sedikit dari teh tersebut.

Vanilla adalah wangi yang selalu membuat Rukia senang dan tenang. Ternyata Ichigo masih memperhatikannya dengan baik.

"Dasar," katanya sambil meletakan cangkir teh itu kembali.

"Rukia."

Rukia pun menengok dan mendapati bahwa Byakuya sudah berdiri di sampingnya. "Nii-sama?"

"Ikutlah denganku," kata Byakuya datar.

"Eh? Kemana?" tanya Rukia heran.

"Ikut saja," kata Byakuya sambil berjalan menuju ruang tamu, menuju pintu keluar, tepatnya.

"Ah… tunggu, nii-sama!" seru Rukia sambil berjalan cepat mengejar Byakuya.


"…Ichigo?"

"K-Kau?" Ichigo segera mendekati sumber suara tersebut. Wajahnya yang frustasi mendadak menjadi lega. "Kau masih hidup!"

Toushiro memandang Ichigo dan memasang seulas senyum tipis. Wajahnya masih tampak sangat pucat, tetapi yang pasti ia masih hidup. Dan sadar. "Ya… ternyata hal seperti itu belum cukup untuk membunuhku."

Ichigo nyengir. Ia sangat senang Toushiro masih hidup. Apakah ini karena Hisana? Lagipula kemarin Hisana mengatakan bahwa ia hendak merawat Toushiro. "Tapi, bukankah kau sudah mengembalikan kekuatanmu pada Rukia? dengan hanya jiwa manusia-mu saja aku sempat berpikir bahwa kau tidak mungkin selamat."

Toushiro mengalihkan pandangannya dan menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. "Sebenarnya aku tidak mengembalikan kekuatannya sepenuhnya. Hanya sebagian. Aku masih memiliki sedikit jiwa Rukia dalam diriku sekarang. Karena itulah aku masih dapat bertahan hidup."

Ichigo mengangguk-angguk mengerti. "Lalu, bagaimana dengan Hisana-san?"

"Hisana? Oh, ya. Kemarin malam ia datang kemari dan merawatku. Lukaku hampir sembuh sepenuhnya. Aku harus berterima kasih padanya suatu hari nanti," kata Toushiro sambil berusaha bangkit dari tempat tidur.

"Hei hei, kau masih belum sembuh sepenuhnya. Diam saja di sini, aku akan panggilkan Rukia," kata Ichigo.

"Apa? Untuk apa memanggil dia?" tanya Toushiro heran.

"Tentu saja kau sangat ingin bertemu dengannya kan?" kata Ichigo dengan nada yang agak kesal.

Toushiro terdiam. "Katakan saja apa maksudmu."

"Bagaimana jika kau menggunakan mata merah-mu itu untuk melihat maksudku yang sebenarnya?" balas Ichigo. Pembicaraan mereka mulai beralih menuju topik yang tidak menyenangkan.

"Hei hei, aku hanya memiliki sebagian kecil dari jiwa Rukia sekarang, mata merah-ku sudah menghilang. Kekuatan itu seharusnya sudah kembali ke Rukia sekarang," kata Toushiro sambil menyandarkan punggung-nya pada bantal. Ia tidak jadi bangkit tetapi hanya mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.

"Yah… kau benar. Baiklah, sebenarnya mungkin Rukia-lah yang sangat ingin bertemu denganmu," kata Ichigo akhirnya. Ia pun duduk di sisi tempat tidur dan memandang lurus ke luar jendela.

"Kau cemburu?" tanya Toushiro.

"Tentu," jawab Ichigo.

"Hhh… ternyata perkataanku soal iblis yang paling berperasaan memang benar ya," kata Toushiro, ikut memandang keluar jendela.

"Mungkin. Dan kau juga. Kau juga menyukainya," kata Ichigo. Kali ini dengan kepala tertunduk.

"Yah… soal itu…" Toushiro jadi tidak tahu harus menjawab apa. Karena itu memang benar, sih. "Tapi aku tidak tahu apakah Rukia mencintai-ku juga atau tidak."

Ichigo langsung menengok ke arah Toushiro. Memastikan apakah Toushiro sedang bercanda atau tidak.

"Aku serius," kata Toushiro. "Aku bertanya padanya waktu itu, apakah dia juga mencintaiku? Ketahuilah, bahwa dia hanya terdiam."

"Hee…" Ichigo tersenyum sedikit. Lalu ia kembali menatap ke luar jendela.

"Hei, Ichigo, bukankah itu Rukia…?" tanya Toushiro sambil menunjuk ke luar jendela. Ichigo segera melihat apa yang ditunjuk Toushiro.

"Hah? Dia… bersama siapa…?" kata Ichigo heran. Lalu ia segera berjalan mendekati jendela.

Mata hazel Ichigo membulat begitu melihat apa yang dilihatnya. Ya, itu Rukia. Rukia digendong oleh seorang yang sangat ia kenal. Aizen. Mau kemana mereka?

"Toushiro, kau diam saja disini," kata Ichigo.

"Kau mau menyusulnya?" tanya Toushiro.

"Ya." Lalu Ichigo pun segera melesat keluar jendela. Sementara Toushiro hanya menatapnya sambil tersenyum tipis.

"Aku akan menyusul."


To be Continued


Selesaaai^^

Puas gak sama chapter ini? Soalnya saya bikin di sela-sela kemalesan saya ngerjain tugas XD Jadi agak geje deh XD

Well, iklan lewat dong. Disini ada yang cerpenis ga? Yang suka ngirim ceritanya ke majalah-majalah. Kalo ada, PM saya dong. XD

So... mind to review?