Author's: Terima kasih buat yang masih menyempatkan diri untuk mengikuti cerita tidak penting ini dan mereviewnya. Review kalian sangat berarti buat saya. Oh ya jika ada yang tidak mengerti tentang sesuatu di dalam cerita ini, silahkan bertanya kepada saya via PM. Saya akan dengan senang hati menjawabnya sejauh itu bukanlah sebuah spoiler. Kalian pasti tidak ingin mengetahui hal yang belum waktunya kan? Nanti kejutannya jadi tidak seru lagi. ^_^
Dedication: Cakeberry, Beyond Nate, Akira Fujikaze and Li Chylee.
Im so glad that you all loved my stories, guys. Thanx very much.
Genre: Mysteri/Criminal/Sci Fi/Suspense
Note: Cerita ini dibagi menjadi beberapa bagian (phase). Alurnya akan bergerak maju dan mundur di sepanjang cerita berlangsung. Tapi tenang saja, saya membuatnya dengan keterangan yang sangat jelas untuk memudahkan pembaca memahami inti dari cerita ini. Dan tentu saja untuk menikmatinya.
Warning: Fiksi ini berbasiskan berdasarkan Many world interpretation theory dan semua kemungkinan yang mengikutinya.
Setting: Setting dimulai dari keadaan dimana Light mengalami 'lupa ingatan' terhadap death note. No chain.
Please enjoy.
-29-
Chapter Ten: Save The World
PHASE FUTURE
Phase One: Brave
[2005]
[Kanagawa, Tokyo 10:20]
[The Motel]
Suara Televisi mengalun pelan.
Malam yang hening mengintip dari balik kaca jendela.
Anak usia sepuluh tahun itu menatap ruangan yang berkedut di sekelilingnya.
Asing.
Sangat jauh dari tempat dimana dia seharusnya berada.
'Kejadian ini terjadi tiga hari yang lalu... beberapa warga melaporkan tentang hal misterius ini... klarifikasi kejelasan mengenai hal ini masih diupayakan, namun sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa kejadian itu bermula sekitar pukul tengah malam.'
Anak itu beringsut perlahan ke arah Televisi.
'Di daerah Kanagawa... perbatasan Tokyo... sejumlah warga merasakan gangguan pada sumber daya listrik... walaupun terlihat seperti gangguan biasa, namun, sejumlah orang tahu bahwa kejadian itu bukanlah hal yang biasa... kejadian misterius ini segera dikaitkan oleh beberapa hal berbau konspirasi... sejumlah orang yakin, bahwa tanda-tanda pada kejadian tersebut mirip seperti tanda-tanda badai matahari...'
Nikolai berada di depan Televisi sekarang.
Wajahnya memperlihatkan sebuah pemahaman.
Tentu saja, pikirnya.
Badai Matahari.
Efek samping dari The Cube.
Lubang hitam memang bersinggungan dengan semesta. Apalagi berhubungan dengan penjelajahan dimensi.
The Cube masih belum sempurna.
Pemakaiannya mengakibatkan banyak akibat yang bersifat mistis dan supernatural.
Nikolai menyimpannya dalam ingatan.
Aku harus membuat benda itu lebih baik lagi.
Tapi bukan sekarang.
Ya, bukan.
Sekarang adalah waktunya untuk mempertaruhkan seluruh hal yang ada.
Segalanya, termasuk hidupnya sendiri.
Nikolai masih menatap Televisi.
Gambar dalam Televisi mengabur, kemudian bergoyang-goyang.
Tak lama, Nikolai menatap garis-garis horisontal berwarna membosankan di layar benda di hadapannya.
Mengabur, berganti-ganti antara tayangan berita dengan deretan garis-garis horisontal yang berantakan.
Dasar motel bobrok.
Nikolai menghela napas.
Entah mengapa Televisi membuat hatinya semakin tidak tentram.
Ia meraih remote dan mematikan benda tersebut.
Nikolai memandang ruangan, dan kemudian beranjak ke depan pintu kamar Light.
Tidak ada suara yang terdengar dari dalam.
Apakah pria itu tertidur?
Nikolai yakin seratus persen bahwa Light belum tidur.
Orang itu terlalu waspada.
Nikolai menghela napas sekali lagi dan kemudian mengetuk pintu.
.
Awalnya tidak ada balasan dari dalam.
Setelah mengetuk kedua kalinya, suara Light yang teredam terdengar menembus pintu kayu.
"Masuk."
Nikolai membuka pintunya yang ternyata tidak terkunci.
Light-yang tengah duduk di meja kayu di dalam kamarnya-melirik anak sepuluh tahun yang baru saja membuka pintu itu.
Nikolai terdiam sejenak di ambang pintu.
Ia dapat melihat banyak sekali kertas-kertas di hadapan Light di atas meja.
Sebuah pena hitam berada di dalam genggaman jemari kanan Light.
Kopi yang sepertinya sudah menjadi dingin terletak di sebelah kanan-di meja satunya lagi.
Laptop di sebelah kanan di atas meja yang dipenuhi dengan berkas-berkas.
Beberapa alat elektronik di samping kiri jauh Light-di atas tempat tidur.
Dan The Cube berada di antara peralatan elektronik tersebut.
Nikolai menatap koper besar di belakang Light.
Ia tidak mau membayangkan apa saja yang dibawa orang ini dalam menyusuri dimensi.
Bahkan Merlin-pun tidak akan bisa menebaknya.
"Kau mau tidur?"
Nikolai tersadar dari lamunannya dan menatap Light.
"Jika kau mau tidur, aku akan segera membereskan semua ini..." lanjut Light seraya membereskan kertas-kertas di hadapannya.
Nikolai mendekati Light dan berdiri di depan meja kayu.
"Anda tidur dimana?" tanya Nikolai, merespon.
"Aku tidak tidur."
"Jangan takut... aku tidak bisa kemana-mana kan..."
Light mendelik, menatap Nikolai. "Tentu saja... walau aku tertidur pun kau tetap tidak bisa kemana-mana. Kau tahu persis hal itu."
"Aku hanya ingin mengobrol..."
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Light seraya masih membereskan peralatannya.
"Apakah... anda benar-benar akan membunuhnya?"
Light melirik Nikolai lagi. "Ya. Tentu saja, itulah tujuanku kesini, kan?"
"Um... oke... um... apakah... anda akan membunuhku?"
Keheningan menyusup.
Light berhenti sejenak dari pekerjaannya, sebelum kemudian ia melanjutkannya kembali.
"Mungkin."
"Mungkin?"
"Mungkin. Jika kau menyusahkanku."
"Anda tidak mungkin melakukannya."
Light menatap Nikolai. "Waw, dan apa yang membuatmu sangat yakin?"
"Karena anda tidak akan bisa kembali lagi."
"Tergantung. Jika aku membunuhmu di dimensiku, aku tidak punya apa pun yang merugikan, bukan?"
"Anda masih ingin mempelajari The Cube, kan?"
Light menghentikan pekerjaannya membereskan laptop dan menatap Nikolai di matanya.
"Jika ini adalah sebuah tawar menawar, kuberitahukan padamu, bahwa kau sama sekali tidak akan pernah bisa menebakku."
"Aku tahu itu, Sir. Aku hanya ingin membuat taruhan."
"Kau sungguh berani. Mirip ayahmu."
"Sesungguhnya, Sir... ada yang Anda lewatkan, bukan?"
"Apa itu?"
"Seharusnya Anda sudah bisa menebaknya."
"Tentang apa?"
"Ayah."
"Well?"
"Sesungguhnya, Sir... aku tidak pernah bertemu dengannya."
.
Phase Two: The Story
Light mengangkat alisnya dengan dramatis.
"Tentu saja."
"Anda sudah tahu?"
"Kau bilang ia meninggal sepuluh tahun yang lalu, kan? Nah coba tebak berapa usiamu, nak? Kau bukan vampir, kan? Aku tidak tahu jika kau berusia tujuh ratus tahun walau tubuhmu masih serupa bocah sepuluh tahun, tapi kau bukan vampir, kan?"
"Anda benar. Tapi anda tidak merespon saat saya mengatakan bahwa saya bercakap-cakap dengannya di percakapan kita kemarin dulu."
Light mendengus.
"Kau tentu saja berimajinasi atau berkhayal. Tidak perlu merespon hal seperti itu."
"Aku memimpikannya."
Light mengangkat alis lagi.
"Aku sering bermimpi tentang dia."
Light tidak merespon.
"Aku lahir dan besar tanpa sosok seorang ayah di sampingku. Walau aku adalah pewaris keluarga Ivanovich, aku merasa seperti orang paling miskin di dunia. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Namun, aku hanya bisa mendengar kisahnya dari orang-orang saja. Kebanyakan dari orang-orang yang sangat membencinya."
Light berhenti total sekarang.
Nikolai terdiam.
Pandangannya menerawang.
"Aku harus sudah puas mendengar kisah tentangnya dari sanak keluarga. Dari ibu, dari teman-temannya, dan dari orang-orang yang membencinya."
"Dari perkataanmu, sepertinya ayahmu itu orang yang tidak disukai ya?"
"Entahlah, aku tidak pernah bertemu dengannya, ingat? Tapi aku yakin ia orang yang baik. Entahlah, mungkin sebuah ikatan batin yang ada di antara kami, walau ia telah tiada... tapi aku bisa merasakannya."
"Ia orang yang baik."
Nikolai tersenyum.
"Aku tahu ia melakukannya di dimensi anda."
"Lalu? Tentang percakapan kalian?"
"Aku bermimpi... ia datang padaku. Aku senang sekali. Tapi ia hanya diam. Aku ingin ia memelukku, namun, ia hanya diam. Aku berkata banyak hal, tapi ia hanya terdiam sambil menatapku dengan ekspresi yang kosong. Seakan-akan ia tidak mengenalku. Saat terjaga, aku menyadari bahwa aku menangis."
"Ia memang begitu, kau jangan bersedih."
Nikolai tersenyum lemah. "Ayah adalah orang yang dingin, kata mereka. Tapi kata ibu ayah adalah orang yang hangat. Namun ibu tidak menyangkal bahwa terkadang ayah menjadi pribadi yang lain sama sekali, seakan-akan ibu tidak mengenalnya."
"Well?"
"Ayah menyukai kesendirian. Ia besar dalam kesendirian. Walau ia dibesarkan di dalam hiruk pikuk keluarga, ia merasa bahwa ia sendirian. Itu yang dikatakannya pada ibu."
"Ia memang menyukai kesendirian, nak. Kehidupan sosial tidak cocok untuknya."
"Tepat. Itulah yang dikatakan ibu. Ayah seperti sebuah mutiara yang tersesat di cangkang kerang. Ia tidak tahu mengapa ia bisa berada disana, dan mengapa ia terkurung dalam tembok-tembok yang asing itu. Ibu sering mengatakan bahwa ayah sering mengurung diri. Ia menyukai kesendirian."
"Kupikir ia dikelilingi oleh banyak intrik?"
"Ya. Politik keluarga, perusahaan keluarga maksudku, terkadang juga politik negara... gosip-gosip jahat yang bertebaran, well sebenarnya keluarga Ivanovich memang sudah diwarnai oleh konspirasi dari abad-abad terdahulu. Jauh sejak nenek moyang kami. Banyak yang berkata bahwa keluarga Ivanovich adalah keluarga yang gelap. Penuh intrik dan juga kecurangan. Keluargaku dipenuhi oleh orang-orang yang jahat, Sir."
"Keluarga yang rumit."
"Kami keras dan juga kejam. Itu pedoman keluarga kami. Tapi ayah tidak seperti itu. Dia adalah Ivanovich pertama yang menentang gagasan nenek moyang kami."
"Aku tahu itu. Insting keadilannya sangat tinggi."
"Ya, itu dia! Dia menyukai hal-hal berbau hukum dan keadilan. Maka dari itu ia memilih kuliah Hukum, sebelum kemudian kakek mengancamnya akan menelantarkannya jika ia tidak beralih ke Managemen dan Akuntansi. Kakek-seperti orang pada generasi-generasi sebelumnya-memang berkewajiban mengarahkan anaknya ke bisnis keluarga. Tidak ada satu pun Ivanovich yang berminat dalam dunia hukum kecuali ayah."
"Tentunya ayahmu mengalami masa-masa yang sulit dengan kakekmu, kan?"
"Ya, mereka tidak akur. Ayah sangat bertolak belakang dengan kakek. Ia penyendiri, penyuka gagasan-gagasan yang brilian, penggemar alkimia dan juga ilmu-ilmu ilmiah, ia orang yang cerdas. Namun kakek adalah seorang yang handal dalam menguasai orang lain, lihai dalam hal politik dan juga intrik-intrik, ia penyuka jalan-jalan kekerasan. Ia adalah Godfather bagi Ivanovich."
"Jelas, sepertinya ayahmu salah tempat."
"Tapi aku tahu kakek menyayangi ayah. Ibu mengatakan itu padaku, oh ya dan juga beberapa sanak keluarga. Mereka mengatakan bahwa ayah memang tidak mirip, baik secara fisik maupun sifat dengan kakek, tapi kakek sangat menyayanginya. Untunglah ayah bukan tipe pemberontak, dan walaupun ia tidak mau, ia tetap mengambil jalan yang tidak disukainya. Ia akan menggantikan kakek dalam pengambilan keputusan tertinggi. Ia adalah pemimpin perusahaan jika kakek meninggal. Ia melakukan tugasnya dengan sangat sempurna. Aku bangga padanya."
Light mendengus. "Cerita yang menarik... aku sungguh ingin sekali melihat Nikolai Senior ini..." Light terkekeh.
"Anda mungkin akan bertemu dengannya, Sir..."
Light menatap Nikolai.
"Kita kan punya The Cube." Nikolai tersenyum.
"Tidak, terima kasih. Cukup satu orang saja."
Nikolai tersenyum lemah.
"Jadi...?" Light memberikan pandangan menuntut.
"Um... ya, er... ada yang harus kulakukan dengan The Cube..."
Light memberikan pandangan selidik.
"Kau tahu kan apa yang akan terjadi bila kau berusaha menipuku?"
"Hei, aku hanya ingin memperlihatkan sesuatu padamu."
"Ho?"
"Coba, berikan aku kesempatan, lagipula apa yang bisa kulakukan?"
"Apa saja." Light bergumam, tapi ia meraih The Cube, meletakannya di atas meja, menyambungkannya dengan laptop dan memberikan isyarat kepada Nikolai untuk mendekat.
Nikolai mendekat dan segera meraih The Cube dan bekerja.
"Anda tahu, kan benda ini memerlukan daya yang sangat besar jika hanya untuk membukanya saja. Tapi untuk mengoperasikannya dan sekedar untuk menguncinya, kita bisa melakukannya tanpa daya yang besar."
"Ya, kau sudah mengatakan itu."
"Sesungguhnya benda ini memiliki banyak fungsi. Aku mendesainnya seperti itu."
"Fungsi... seperti?"
"Banyak fungsi, aku membuat beberapa kode dan senang bermain-main dengan hal itu."
"Kode?"
"Ya. Kode untuk mengunci apa pun di dalam benda ini."
"Kau sungguh berhati-hati."
"Dengar, Sir, aku akan memberitahukan kepada anda beberapa kode rahasia..."
"Bukankah kau sudah memberikan semuanya padaku?"
Nikolai menatap Light. "Tidak. Belum semua, Sir."
.
Phase Three: Status
"Mengapa kau melakukan ini?"
"Sesungguhnya, Sir... aku punya pendapat pribadi mengenai perbuatan anda. Tapi sejujurnya aku katakan bahwa aku tidak peduli. Tujuan sesungguhnya aku ke dimensi anda hanyalah untuk bertemu dengan ayah, namun..." Nikolai terdiam sejenak, "Anda mungkin bertemu dengannya... dan saat anda bertemu dengannya, tolong sampaikan salamku..."
Light terdiam.
"Nah, Sir... saya perlu pena..."
Light menyerahkan pena.
"Anda sudah melihat ke dalam 'histori', kan?"
"Ya."
"Nah, tahukah anda bahwa saya telah mengunci sesuatu di dalam kotak 'histori'?"
Light terperangah. "Kau membuat sebuah bilik di dalam bilik?"
"Ya."
"Apa yang kau simpan di dalam sana?" tanya Light setengah takjub.
"Banyak. Dan aku juga mengunci sesuatu di dalam otak The Cube."
"Sesuatu?"
"Informasi. Informasi keseluruhan proyek benda ini. Baik yang masih dalam cetak biru ataupun yang sudah rampung."
"Kau menyimpan informasi penting itu di dalam benda yang bersangkutan? Kau pasti bercanda!"
"Benar, kan? Justru tidak akan ada yang memikirkan hingga kesana. Sebagian besar orang akan menyimpan rahasia benda mereka jauh dari benda tersebut. Untuk pengamanan, namun mereka semua tidak tahu bahwa tempat teraman adalah di dalam otak benda yang bersangkutan."
"Banyak orang yang memang sudah tertipu... tapi kau benar-benar jenius..."
"Terima kasih. Aku tahu itu." Nikolai memberikan Light senyuman.
"Jadi? Kau menyimpan informasi tentang cetak biru The Cube di dalam otak benda ini... lalu, apa lagi yang kau simpan?"
Nikolai menatap Light tepat di mata.
"Virus."
.
"Tentu saja. Koin dua arah, ya?" Light takjub.
"Ya. Jadi, jika anda salah memasukkan kode, maka anda tidak tahu apa yang akan keluar... harta karunkah, atau sebuah virus mematikan..."
"Jadi... tuliskan untukku kalau begitu..."
"Aku akan menuliskannya... tapi dengan satu syarat."
Light menatap Nikolai, mengernyitkan dahi.
"Aku akan bertemu dengan ayah. Anda harus menjamin itu. Mulai dari sini kita harus mengubah statusku. aku tidak mau lagi berperan sebagai korban, aku ingin kita bekerja sebagai satu tim."
"Wah, keputusan yang berani... kau tahu kan bahwa aku bisa saja membunuhmu?"
"Aku tahu, maka dari itu, aku menawarkan sebuah harga."
Light tampak berpikir.
"Baik. Tuliskan aku kodenya, maka setelah ini kita akan bertemu dengan Ivanovich Senior-mu."
Nikolai tampak puas.
Anak itu meraih kertas dan mulai menuliskan sesuatu dalam kertas.
Sejenak situasi dipenuhi dengan keheningan, sebelum Light membuka suara.
"Kenapa ia meninggal?"
Nikolai tampak berhenti saat mendengar pertanyaan itu.
Ia tahu persis apa yang dimaksudkan Light.
"Kenapa ia meninggal?"
Ada waktu setengah menit yang senyap sebelum Nikolai menjawab.
"Dia dibunuh."
.
Phase Four: Link
"Dia dibunuh."
Light mengerjapkan mata.
"Dibunuh?"
"Aku memang tidak melihatnya, tapi aku percaya pada ibu. Ibu memiliki insting yang kuat. Karena itulah ayah memilihnya."
"Siapa yang membunuhnya?"
"Menurut versi Rumah Sakit, ia meninggal karena serangan jantung. Tapi semua orang tahu bahwa ia tidak punya sejarah penyakit jantung. Tidak, seluruh anggota Ivanovich memiliki jantung yang kuat."
"Ia terkena serangan jantung?"
"Sir... aku tidak tahu, apakah di dimensi anda terjadi atau tidak... tapi di dimensi kami, terjadi suatu hal yang menggemparkan."
"Teruskan."
"Aku tidak tahu tepatnya, di masa aku lahir, hal itu mulai memudar kehebohannya. Tapi, di masa ayahku, hal itu sedang hangat-hangatnya. Aku hanya diceritakan ibu."
"Oh ya?" Light tampak tertarik.
"Pada masa ayahku, seseorang yang misterius menyebarkan sebuah konspirasi. Orang itu misterius, dan hingga kini masih tersembunyi. Dia mengaku sebagai seseorang yang mendukung keadilan, tapi kukatakan kepadamu, ia sama sekali tidak seperti itu. Ibu berkata bahwa orang itu cuma orang sakit jiwa yang bermain-main dengan sihir. Awal kemunculannya kira-kira lima belas tahun yang lalu... ia mulai melakukan tindakan-tindakan teror yang sangat mengerikan. Ia mengklaim bahwa seluruh pribadi yang melakukan kejahatan akan berakhir dengan mengenaskan. Mereka akan binasa."
Light merasa jantungnya seakan berhenti.
"Orang ini membuktikan omongannya. Ia mulai membinasakan seluruh kriminal. Kriminal menurut pandangannya. Tidak mengenal belas kasihan, dan juga hati nurani. Kemudian ia mulai populer. Selebriti yang mulai mengepakkan sayapnya ke mana-mana. Hingga ia mengenal nama Ivanovich."
Light menatap Nikolai tanpa berkedip.
Ia berharap anak di depannya itu tidak mendengar bunyi jantungnya yang memburu kencang.
"Dunia memang mengenal Ivanovich sebagai satu nama yang dipenuhi dengan intrik dan kecurangan. Ivanovich adalah kriminal besar yang bersembunyi di balik bisnis-bisnis supernya. Di balik politik-politik pemerintah. Di balik peranannya yang meneriakkan tentang perdamaian. Ivanovich adalah organisasi kriminal yang bersembunyi di balik sejumlah besar alasan-alasan mulia. Maka tidak heran jika orang gila itu memilih ayahku untuk dibinasakan. Ia hanya tidak tahu ayah tidak seperti nenek moyang keluarga kami. Ia berusaha mengubah pandangan orang terhadap Ivanovich. Ia berusaha memulihkan nama baik keluarga."
Light terpana.
Apa yang dibicarakan anak ini?
Dia pasti bergurau!
"Ibu tahu bahwa ayah telah dibunuh oleh orang yang mengaku sebagai pembela keadilan itu. Dan aku percaya itu."
"Jadi..." kata Light lamat-lamat, "Kau percaya bahwa ada orang yang bisa melakukan hal semacam itu?"
"Apakah anda tidak percaya akan sihir? Para malaikat gelap mewariskan hal itu kepada manusia-manusia terkutuk... orang itu pasti salah satunya..."
Tentu saja!
"Well... aku tahu bahwa ada kekuataun yang bertolak belakang dengan kekuatan Tuhan... kebaikan dan kejahatan, selalu seperti itu... tapi untuk hal yang kau ceritakan itu, itu terlalu luar biasa..."
"Tapi itu kenyataan, Sir... ia menghilang setelah aku berusia sekitar lima tahun... tapi ibu dan teman-teman ayah serta seluruh orang pada angkatan yang sama selalu membicarakan tentang orang itu. Ia sangat populer. Selebriti Kriminal, mereka menyebutnya."
Ya Tuhan! Betapa mudahnya diriku tanpa kehadiran orang itu!
Light terkekeh tiba-tiba.
Nikolai tampak terkejut.
"Mengapa... bahkan di lain dimensi pun... kami selalu berhubungan..."
Nikolai tampak bingung.
"Dengar, nak... ada yang harus kukatakan kepadamu..."
Nikolai merasakan firasat buruk.
"Orang itu... di dimensimu itu... Selebriti Kriminal itu... sesungguhnya di dimensiku pun dia eksis..."
"Benarkah?"
"Ya... tentu saja... dia telah membunuh banyak orang... orang-orang yang menurutnya sangat tidak berguna dan harus dimusnahkan..."
"Aku tidak berpikir begitu... mereka tetap memiliki hak untuk hidup... tidakkah ia memikirkan tentang pengampunan dan kesempatan kedua? Intinya manusia tidak bisa menghakimi sesamanya..."
"Tentu saja... manusia tidak bisa..."
"Lalu?"
"Orang ini, yang kita bicarakan ini, bukan manusia tentunya..."
Light tersenyum.
"Anda mau katakan bahwa semua itu pekerjaan iblis? Maksudku memang itu adalah pekerjaan iblis, tapi anda tidak mungkin memaksudkannya secara harfiah, kan?"
"Tidak, tidak... yang ingin kukatakan adalah... orang itu tentu saja bukan sekedar manusia baisa... ia memiliki sebuah pemikiran yang menyamai dewa."
"Tidak mungkin, Sir... lebih mirip seorang anak kecil bermain dengan mimpi-mimpinya menurutku..."
"Tentu saja, dengan bermimpi kita bisa menjadi besar."
"Tidak, bukan itu maksudku..."
"Dengar... kau benar.. ayahmu itu... memang telah dibunuh oleh orang ini... ibumu benar, nak..."
Nikolai terpana.
"Kenapa anda sangat yakin?"
"Karena..." Light terkekeh, nyaris kekanakkan, "Aku-lah orang itu."
.
Ekspresi yang terpantul di wajah Nikolai tidak lebih dari seseorang yang putus asa.
Bukan ekspresi keterkejutan yang berlebihan, bukan juga ekspresi terperangah yang memilukan.
Anak itu menatap Light tepat di mata.
Kedua matanya berusaha mengirimkan sebuah kepedihan mendalam kepada wajah menyeringai di depannya.
Nikolai merasakan seluruh tubuhnya lemas.
Ia tahu sekarang bahwa keberuntungan sejak awal tidak pernah mendukungnya.
Ia tidak bertemu dengan ayahnya.
Ia bertemu dengan pembunuh ayahnya.
Orang ini, walau lain dimensi, tetap saja satu jiwa. Ia orang yang sama.
Nikolai melanjutkan menulis.
Light beranjak mendekati anak di depannya itu.
"Dan aku pula yang telah membunuh ayahmu di dimensiku."
"Hebat, bukan? Mengapa kita sekarang bertemu ya?"
Hening.
"Berarti... anda telah membunuh ayahku... baik di dimensiku maupun di dimensi anda..."
"Jangan salahkan aku... di dimensiku ia adalah polisi, sedangkan di dimensimu dia adalah kriminal..."
"Dia bukan kriminal..." suara Nikolai bergetar.
"Well, yang jelas, ia berkecimpung di dalam organisasi yang telah berabad-abad melakukan kecurangan..."
Nikolai berhenti menulis dan kemudian beranjak ke laptop.
Jari-jari cekatannya menari-nari di atas keyboard.
"Aku tidak percaya ini..." Light tergelak.
"Jadi... kau masih ingin menjadi partnerku, he?" tanya Light.
Nikolai tidak menjawab.
"Aku tahu... peran korban sangat cocok untukmu, nak...jadi, jangan pernah memimpikan sebuah tim denganku..."
"Aku sudah mengambil keputusan. Aku akan mengantar anda hingga tujuan. Terserah anda jika seandainya pun anda tetap akan membunuhku..."
Light meraih tengkuk Nikolai dan menarik helaian rambutnya ke belakang.
"Bagaimana, ya... aku akan membunuhmu atau tidak..." kata Light dengan nada diseret-seret.
"Sir..."
"Ya?"
"Tahukah anda, bahwa anda itu sangat sempurna?"
"Tanyakan pada Tuhan."
"Anda memiliki fisik yang baik, keluarga yang baik, pekerjaan yang baik... segalanya... aku sempat melihat putra anda... ia adalah anak yang baik... ia pasti membanggakan di masa depan..."
"Namanya Hikaru..."
"Tapi... aku benar-benar kasihan terhadap anda... anda telah menyia-nyiakan segalanya... segalanya... dan menurutku tidak ada diantara tindakan anda yang benar-benar layak untuk dipuji..."
"Oh ya?" Light menyeringai. Ia semakin merenggut kuat rambut Nikolai, menarik wajah kecil itu semakin mendongak.
"Dan... suara anda, Sir... anda memiliki suara yang sangat jernih... setiap orang pasti menyukai mendengar suara itu..."
Light mengangkat alis.
"Tapi tidak untukku..."
Jemari Nikolai bergetar.
Perlahan-lahan ia mengepalkan jemarinya.
Menekan pena hitam yang ada di dalamnya.
"Oh ya? Mengapa?" tanya Light berbisik.
"Karena... memang seperti itu... suara anda jelek... sangat jelek... setidaknya mulai malam ini..."
Dan kejadian selanjutnya bergerak dengan sangat cepat.
.
-Flashback-
Seperti potongan acak sebuah film.
Light merasakan memorinya beradu-berdesakan di dalam pikirannya untuk meluncur keluar dari sarang yang telah mengungkungnya.
Dimulai dari sebuah scene yang paling diingatnya.
Jauh sebelum semua ini terjadi.
Seorang pemuda jangkung yang berwajah kekanakkan menyalami tangannya.
Seorang gadis berambut emas.
Emasnya berkilau di tengah matahari senja.
Sebuah buku hitam yang permukaan depannya sangat halus.
Seorang bocah berambut putih yang terjatuh.
Kemudian setelah semua itu berputar-putar dengan memusingkan, kejadian itu berhenti.
.
Light tengah berada di ruang kerjanya di rumahnya.
"Ya, aku hanya ingin meminjamnya." kata Light di telepon.
"Pak, itu namanya bukan meminjam." orang di seberang sana terkekeh.
"Apapun, Jordan... ini masalah penting."
"Aku tahu, pak. Berkaitan dengan pertahanan negara, eh?"
"Kau tidak perlu tahu. Yang pasti aku sangat membutuhkan semua benda di dalam list tersebut."
"Biar kulihat..." suara Jordan sejenak hilang, kemudian muncul kembali, "Nomor dua puluh empat, Pak. Anda pasti bercanda." kata Jordan. Light membayangkan wajah pemuda itu memucat.
"Tentu saja." Light tersenyum
Aku sangat menyukai nomor dua puluh empat itu.
"Jadi... efek ledakannya harus setara setengah nuklir? Dan er... memastikan bahwa tidak ada yang selamat, eh?" olok Jordan.
"Begitulah."
"Wah, Pak... entahlah... kau kenal Sir Emelton... sulit sekali meminta sebuah paprika darinya, apalagi meminta benda ini..."
"Untuk itulah aku meminta bantuanmu, Jordan."
"Entahlah, Pak..."
"Dan Jordan... kirimkan semua itu besok, ke rumahku... semua itu sudah harus ada di depan rumahku besok pagi pukul setengah lima."
"Oh waw..."
"Dan Jordan... mungkin aku akan merindukanmu..."
"Maaf, Pak?"
"Aku akan pergi dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan. Doakan saja urusan ini bisa cepat selesai."
"Anda mau kemana, Pak?"
"Ini Top Secret, Jordan."
"Anda memang keparat, Pak..."
"Haha... aku menunggu surat permintaan maafmu besok, Jordan..."
.
Anak itu berusia sekitar sepuluh tahun.
Berkulit bersih, berambut lurus sebahu dan berwajah tirus.
Mata dan rambutnya sama-sama berwarna hitam.
Ia memanggul sebuah tas ransel besar di punggungnya.
Light berdehem.
Anak itu seakan tersadar dari lamunannya dan ia membuka suara.
"Oh, Im so sorry Sir... Im just wanna ask u a question..."
Pertama kali yang ditangkap Light adalah sebuah kesan yang asing.
Anak ini sudah pasti adalah orang asing.
Namun, entah kenapa Light dapat mengenali sesuatu dari mata anak di depannya itu.
Sebuah masa lalu yang telah terlupakan, berdesir melewatinya.
Dan saat itu Light tahu bahwa akhirnya kebosanannya yang sudah terasa seperti selamanya akan segera berakhir.
"Are you lost?"
"N-no... um, but... oh, wait a second, please..."
Ya. Kau tersesat, nak.
-End of flashback-
.
Phase Five: Sound
Nikolai menggeram.
Jemarinya bergetar hebat.
Ia merasakan keringat dingin mengaliri seluruh tubuhnya.
Ia merasakan keberadaan pena ramping di dalam genggaman jarinya.
Panas, membakar.
Jari-jari itu memutih, karena genggamannya sangat kencang.
"Mulai hari ini, Sir... setidaknya suara anda akan berubah..."
Dalam sepersekian detik itu, Light terpana.
Nikolai menganggkat tangan kanannya dengan kecepatan yang luar biasa.
Liar.
Anak itu kemudian menghantamkan pena yang ada di dalam genggamannya tepat ke tengah-tengah tenggorokan Light-tepat di tengah-tengah antara tulang selangkanya.
Light mengeluarkan suara seperti tercekat.
Kemudian perlahan-lahan ia melepaskan genggamannya pada rambut Nikolai.
Nikolai menatapnya dengan ekspresi ngeri.
Ia benar-benar ketakutan.
Wajahnya mengernyit.
Light kemudian membuka mulut.
Kedua lengannya-yang hendak menyentuh pena yang masih menancap di tenggorokannya-bergetar hebat.
Matanya membelalak. Nyaris putih.
Jemarinya menyentuh ujung pena, dan Light kemudian menatap Nikolai.
Menancapkan pandangan horor ke dalam tatapan ketakutan si anak.
Kemudian, Nikolai bergerak melepaskan diri dari dekat Light.
Menjauh dari jangkauan pria itu.
Nikolai berjalan dengan tubuh bergetar hebat. Ia melewati ambang pintu dan menatap Light.
"Sir... sudah kukatakan bahwa suara anda tidak akan merdu lagi, bukan?" Nikolai berusaha tersenyum.
Light mengeluarkan suara seperti orang tercekik.
Matanya memancarkan kemarahan yang sangat.
"Sejujurnya, Sir... aku tidak akan membiarkan anda membunuh Sembilan Belas... tidak... andalah yang akan dibinasakan..."
Nikolai menatap Light untuk terakhir kalinya sebelum kemudian ia berlari keluar.
Tak lama terdengar suara pintu yang dibanting tertutup.
.
Phase Six: Wound
Light tidak dapat memutuskan rasa seperti apakah yang saat ini tengah dirasakannya.
Seperti terbakar, tapi juga seperti ditikam.
Ia merasakan seluruh indranya menjerit saat pena hitam itu menembus masuk ke dalam tenggorokannya.
Ia yakin bahwa benda sialan itu telah merobek pita suaranya.
Light berusaha untuk tenang dan menguasai tubuhnya yang bergetar hebat.
Ia sudah memutuskan untuk mencabut benda sialan itu dari tenggorokannya, itu adalah satu-satunya hal yang harus ia lakukan pertama kali.
Namun, tidak semudah itu.
Light menyentuh ujung pena dengan jemarinya, dan sekejap saja ia menarik jarinya kembali.
Sial!
Bocah sialan!
Light merasakan seluruh tubuhnya bergetar kuat.
Ia memutuskan untuk duduk. Ia berlutut dan memusatkan pikirannya.
Ia memejamkan mata dan berusaha untuk fokus.
Ia bisa merasakan aliran darah membeku di sekitar tenggorokannya.
Ia bisa merasakan seluruh syarafnya membeku.
Tenang!
Yang harus kau lakukan sekarang adalah mencabut benda sialan ini!
Light masih memejamkan matanya.
Menahan kesakitan yang sangat di sekitar tenggorokannya.
Kemudian, setelah ia berdiam diri sekitar satu menit penuh, ia membuka matanya.
Ekspresinya dingin.
Ia menggerakkan jemarinya perlahan-lahan ke arah pena dan kemudian menggenggamnya kuat-kuat.
Dengan satu hentakan yang sangat kuat, Light menarik pena hitam itu keluar dari tenggorokannya dibarengi oleh jeritan tertahan dari mulutnya.
Light terengah.
Ia membiarkan dirinya terdiam lima menit sebelum kemudian ia beranjak ke toilet untuk melihat seberapa parah luka pada tenggorokannya.
Ternyata tidak terjadi pendarahan.
Light kemudian membasuh lukanya pelan-pelan.
Ia meringis. Di tatapnya bayangannya di cermin.
Sembilan Belas... tunggu aku...
Light menyeringai.
Kemudian ia tertawa.
Tertawa sekencangnya.
Dan yang di dengarnya adalah suara asing yang sangat mengerikan.
"Nikolai... terima kasih... kau telah membuatku semakin menakutkan... sebagai ucapan terima kasih... aku akan memberikan hadiah yang sangat indah kepadamu..."
Suara seorang malaikat maut.
Light beranjak dari toilet dan meraih kopernya.
Ia mengeluarkan sebuah syal berwarna merah dan kemudian menyeka lukanya dan mengobatinya.
Setelah selesai, ia melingkarkan syal di sekeliling lehernya untuk menutupi luka yang menganga di tenggorokannya.
Mata Light menangkap kertas yang berada di atas meja.
Kertas yang tadi ditulisi oleh Nikolai.
Awalnya anak itu sepertinya memang menuliskan kode-kode, tapi Light melihat bahwa setelah itu, Nikolai tidak melanjutkan kode-kode itu. Yang terlihat di akhir baris hanyalah sebuah kalimat yang ditulis dengan huruf kapital: JUSTICE WILL PREVAIL.
Light tersennyum.
Well... tidak apa-apa.
Aku tahu ia berbohong.
Rupanya ini hanyalah sebuah rencana untuk kabur dariku.
Semua percakapan itu, walau benar, tetap saja hanya omong kosong.
Hebat.
Tapi Light masih bertanya-tanya untuk apa bocah itu lari darinya.
Apakah karena ia ketakutan?
Tidak, Light mengenalnya.
Ada sesuatu yang tidak diketahui Light tentang rencana di dalam otak si bocah.
Light mengerutkan dahi.
Ia meninggalkan The Cube dan lari dariku.
Sungguh tindakan yang tolol.
Apakah ia berpikir dengan menikam tenggorokanku, lalu aku akan mati?
Lalu ia akan kembali dan mengambil kembali The Cube?
Tidak!
Light tahu ada yang tidak beres.
Ia tahu ada sesuatu yang dipikirkan Nikolai.
Sebuah rencana yang bisa menggagalkan seluruh tujuannya.
Kemudian, saat suara gemuruh terdengar di kejauhan, Light sadar.
Ia tahu apa yang akan dilakukan Nikolai.
Sial!
Jika benar begitu, ia harus segera bertindak.
Light meraih laptopnya dan mengecek sesuatu di dalam The Cube.
Sesaat kemudian, sebuah jeritan yang mengerikan terdengar.
Light memukul meja dan jemarinya terkepal.
Wajahnya jelas marah.
SIALAN!
ANAK ITU BARU SAJA MENGUNCI THE CUBE!
Light mengutuki diri karena telah lengah.
Anak itu tentunya punya rencana malam ini, dan ia berhasil.
Ia mengelabui Light dengan cerita-ceritanya yang simpatik, dan kemudian ia berbohong supaya ia diperbolehkan meraih The Cube.
Setelah itu, dengan berbohong bahwa ia akan memberitahukan sesuatu kepada Light, Nikolai diam-diam mengunci The Cube.
Dan setelah The Cube terkunci, ia menjalankan rencana puncaknya.
Pintar!
Light menatap layar laptopnya yang memampangkan sebuah jendela tepat di tengah-tengah layar.
Acces Denied
The Cube has been locked. Please insert password to open.
Light tersenyum.
Ia terkekeh.
"Nikolai Ivanovich... kau telah bermain-main denganku... aku akan memburumu hingga ke ujung neraka hanya untuk mendapatkan kode ini... dan setelah itu, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan kulakukan kepadamu..."
Light menutup The Cube dan membereskan barang-barangnya.
Ia tidak terbiasa berantakan.
Ia menyukai keteraturan.
Dan ia yakin bahwa semua rencananya pasti akan terpenuhi.
Lakukan dengan sangat rapi, Light.
Lakukan dengan sangat rapi.
Light tersenyum.
Ia merapikan seluruh peralatannya dan kemudian beranjak dari kamarnya.
Ia mengenakan mantel dan sarung tangan.
Sejak melakukan perjalanan ini ia selalu mengenakan sarung tangan dan sangat berhati-hati akan sidik jarinya.
Akhirnya ia melangkah ke pintu depan.
Setelah mengunci pintunya, ia merapikan mantel dan syalnya.
Kemudian tersenyum penuh kehangatan.
Saatnya berburu.
To Be Continued
Author's: Yup, Nikolai pergi hanya untuk satu tujuan. Bukan untuk dirinya, tapi untuk dunia.
Menghentikan orang yang memiliki ambisi terlalu besar-melampaui manusia-adalah perbuatan yang mulia.
lol
Terima kasih buat yang masih mengikuti cerita ini. Kalian sangat berarti bagi saya.
Silahkan dinantikan chapter selanjutnya.
Thanx for read and review.
Note: Saya membuat gambaran Nikolai ivanovich Senior. Jika 29 saya buat dengan sentuhan digital, maka Ivanovish saya buat dengan sentuhan manual. Jika pembaca ada waktu silahkan mengunjungi: http:/clairelawliet(dot)deviantart(dot)com/#/d35zlff
Thanx.
