This Chapter Dedicated to: definn. Thanks a bunch for the heart fluttering(and detailed) review, honey! Saranghae!
.
.
.
Butuh waktu 2 hari hingga panggilan pertama dari Jungkook mampir di ponsel Taehyung. Saat itu Taehyung sedang menonton film di laptopnya, dan ia membiarkan benda malang itu terguling dengan bunyi menyakitkan karena terlampau bersemangat menerima telepon dari kekasihnya.
"Akhirnya kau menghubungi juga!" Taehyung tidak sadar kalau suaranya sudah naik beberapa oktaf dari seharusnya. "Aku khawatir setengah mati. Penerbangannya selama itu ya?"
"Sebenarnya sih tidak, hyung. Hanya saja aku harus mencari wi-fi dan menghubungi Yoongi hyung dahulu, jadi aku baru bisa menghubungimu sekarang. Hyung dimana?"
"Di kamar. Kamarmu yang disana bagaimana?"
"Perfect!" Taehyung harus menjauhkan ponselnya dari telinga mendengar teriakan Jungkook. "Hyung ingat kamar-kamar yang serba putih dan simpel dengan furniture keren yang dulu sering kusimpan fotonya dari tumblr?"
Tentu saja Taehyung ingat. Ia juga ingat argumen panjang Jungkook dengan ayah ibunya untuk merombak habis kamarnya, yang tentu saja gagal.
"It looks exactly like that! Kamarnya kecil, dan tempat tidurnya tingkat! Di tingkat pertama ada kasur, dan di atasnya ada rak buku, almari, serta meja belajar. Ini keren! Sungguh!"
Bibir Taehyung melengkung otomatis, "Aku senang kalau kau betah disana. Ngomong-ngomong suaramu kenapa?"
Jungkook berdehem pelan, berusaha membuat suara seraknya terdengar lebih baik. "Flu. Mungkin karena tubuhku sedang menyesuaikan diri."
Taehyung menghela nafas, entah bagaimana merasa kesal. "Take care of yourself, can't you?"
Jeda sejenak. Jungkook yang tidak menjawab membuat Taehyung merasa bersalah. "Maaf. Aku hanya khawatir karena tidak bisa menjagamu dengan tanganku sendiri disana."
"Tidak apa-apa, hyung." Taehyung bisa merasakan Jungkook tersenyum di ujung sana. "Aku malah akan marah kalau hyung tidak mengomeliku untuk terus menjaga kesehatan."
"Jaga kesehatan, Jeon Jungkook. Kalau tidak, aku akan menelpon superman, menumpang di punggungnya, kemudian mendarat di jendela kamar barumu untuk memberimu selusin ciuman." Taehyung tertawa. "Seperti itu?"
"No!" Jungkook mengerang protes, "Kau tidak boleh menyentuh orang lain selain aku. Apalagi naik ke punggungnya."
Taehyung terbahak, membayangkan menjadi seme untuk seorang superman yang dua kali lipat lebih kekar dari dirinya yang kurus.
"Walaupun, still, aku tidak akan menolak selusin ciuman itu." Jungkook melanjutkan dengan usil.
"Oh, gosh. Jangan mulai lagi." Taehyung memegang pelipisnya yang mendadak berdenyut. "Atau aku benar-benar akan berlutut pada appa untuk membelikan tiket pergi kesana. Tanpa tiket pulang."
Jungkook tertawa. "Appa tak akan menolak kan?"
"Ya, tapi ia akan sekalian menikahkan kita di depan dosen-dosenmu yang botak dan tua itu."
"Kata siapa dosenku botak –" Jungkook menyangkal sewot " –dan tua?!"
"Memangnya tidak?"
"Well, aku ingin menyimpan ini sebagai rahasia, tapi tadi yang mengantarku keliling universitas dan asrama adalah dosen muda super tampan dengan darah mongoloid dan kaukasoid yang bercampur dengan apik di satu tubuh hingga menciptakan pahatan dewa macam dia. Namanya Wu Yi Fan. Hanya 7 tahun lebih tua dariku."
Dahi Taehyung sudah terlipat-lipat sekarang. Tipikal Jungkook-si-fanboy yang selalu mendeskripsikan sesuatu yang ia senangi dengan begitu detil dan sarat akan pemujaan, kadang membuatnya jengkel setengah mati. "Mengajar apa?"
"Sastra inggris." Jungkook berdecap mengingat aksen calon dosennya yang sangat enak didengar. "Dan itu mata kuliah wajib jadi aku tidak perlu repot-repot mengorbankan jam lain untuk mengagumi wajahnya."
"Yasudah." Taehyung mengendikan bahu tak acuh, walaupun masih merasa super kesal. "Aku juga akan cari selingkuhan. Um, dosen muda mungkin? Dengan kacamata berlensa tipis dan rok ketat setengah paha."
"Kupastikan Yoongi hyung akan mematahkan kedua kakimu sebelum kau sempat mengajaknya berkencan."
"Its not fair!" Taehyung menjerit frustasi. Walaupun seluruh rasa kesalnya langsung menguap begitu mendengar tawa puas Jungkook dari seberang sana. Rasanya seperti berendam di oasis setelah seharian tersesat di padang pasir. So refreshing. "Okelah, kau bisa mengencaninya semaumu kalau itu bisa membuatmu tertawa sebahagia tadi."
"Tidak perlu. Aku kan punya Kim Taehyung yang bisa membuatku tertawa seperti itu selama tiga ribu enam ratus detik non-stop." Jungkook terkekeh. "Kim Taehyung si paket lengkap yang bisa terlihat begitu bodoh tapi romantis disaat yang bersamaan."
Taehyung tersenyum lebar hingga kulit-kulitnya terasa sakit karena teregang terlalu kuat. "Dan Kim Taehyung yang itu punya Jeon Jungkook, satu-satunya orang berwajah seindah jutaan aurora dan pelangi digabung menjadi satu, yang cukup bodoh untuk mau menemaninya."
"Dan ia akan dengan senang hati menjadi cukup bodoh selamanya…"
.
Bonus Scene
An hour ago…
Ponsel Yoongi baru bergetar selama sepersekian detik ketika jemari itu buru-buru menggeser ikon telepon ke kanan. "Yeoboseyo? Jungkook-ah? Kau baru sampai?"
"Tidak, hyung. Aku sampai disini tadi pagi dan langsung mengurus segala macam urusan, jadi baru sempat menghubungi sekarang." Jungkook bergumam serak, "Rumah apa kabar?"
"Rumahnya tidak kemana-mana. Baik-baik saja." Yoongi mengernyit ketika mendengar suara adiknya yang tidak karuan. "Kau menelan kodok atau bagaimana?"
"Tidak, hanya flu. Besok juga akan membaik."
Tapi terimakasih untuk segala kepekaan Yoongi yang sudah menemani Jungkook sejak ia masih buang air di celana, kakaknya itu jelas tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Bohong. Kau habis menangis kan?"
"Nope."
"Kau pasti merindukan Taehyung dan menyesal karena tidak bisa memeluknya lebih lama kan? Pasti kamar barumu bagus sekali dan kau tak sabar untuk memamerkannya pada Taehyung, tapi kemudian kau sadar kalau ia tidak ada disana untuk menemanimu dan memelukmu sepanjang malam." Yoongi mengatakan itu dalam satu tarikan nafas, dengan nada mengejek pula. "Am I right or nah?"
Dan Jungkook mulai menangis lagi. Kali ini Yoongi yang kerepotan menenangkan adik kecilnya, yang sebenarnya sudah tidak kecil lagi. "Hey, Jeon Jungkook, jangan terisak-isak seperti itu, oh lord!"
"Taehyung tidak ada disini. Yoongi hyung juga tidak ada disini. Kamarku sepi sekali." Jungkook terisak lagi, "Aku benci sendirian…"
Kali ini malah Yoongi yang ingin menangis. Tapi ia sudah bersumpah pada ibunya untuk menjaga Jungkook dan tidak akan menangis di depannya apapun yang terjadi, agar Jungkook tidak ragu untuk bersandar padanya. "Kau akan pulang sebentar lagi, oke? Jangan menangis."
Jadi Jungkook berhenti menangis, membayangkan Yoongi ada di sampingnya untuk menempelkan plaster berwarna biru pada lukanya saat ia masih berusia 5 tahun. Menjaganya sebaik itu.
Yoongi menghela nafas. "Kau telanjang dada kesana kemari untuk memamerkan ototmu, bertaruh pudding dan memenangkannya dengan tidak menangis, tetapi terisak seperti ini di depanku."
"Percuma saja, bayi."
"Tidak percuma." Jungkook terkekeh di seberang sana. "Karena aku hanya adik dari Yoongi hyung. Aku hanya akan jadi bayi di depan hyung."
"Akan kupastikan eomma mengepak cukup popok untukmu semester depan." Yoongi mengulum senyumnya, "Sekarang lebih baik kau cuci muka lalu menelpon Taehyung. Ia pasti mengkhawatirkanmu."
"Dengan suara seperti ini?" Jungkook bergumam, "Ia tidak akan percaya kalau kubilang aku terkena flu."
"Ia akan percaya." Yoongi berkata sebal, seolah itu adalah hal yang paling jelas di dunia. "Ia tidak memiliki syaraf. Sama sekali tidak sensitif."
"Baiklah." Jungkook tersenyum geli. "Kututup, hyung."
"Ya. Jaga diri."
"Hyung juga. Aku menyayangimu."
"Hm."
TBC
Ini buat kalian yang menyangsikan reaksinya si adek kemarin wkwk. Maaf ya dimasukin kak Yoongi lagi, habisnya aku suka gemes liat brothership mereka, belum bisa move on dari Run ;_;
Maaf juga baru dilanjut, soalnya my days went shitty dan ku kehilangan nafsu untuk memisahkan mereka, jadi malah nulis oneshoot mereka yang fluff fluff, tapi tadi begitu buka file ini, malah nggak bisa berhenti ngetik. huft. Dan kemarin ffn error baru ada maintance bulanan. Hm.
Tapi kalian ngerasa nggak sih kalo beberapa chapter ini pointless banget? Cuma mesra mesraan gaje gitu, berasa kopong isinya ;_; Kalian mau ini tetep diulur ulur kek tukang bubur naik haji apa buru buru masuk konflik utama aja? Aku takut kalian eneg lama lama ;_;
Btw lagi, GWS-in hatiku dong :') Ayang minseok habis tempel tempel kening sama cewek lain :') Mana nyanyi duet segala :') Berasa pengen ganti uname jadi kekasihyangtakdianggap :')
Tapi teteup, terimakasih sudah membaca yaa~~
.
.
XOXO, Kim Ara
