Yohaaaa chapter 9 di sini, silahkan baca yang masih ingin meneruskan dan terima kasih buat yang udah baca sampe sekarang dan memutuskan untuk berhenti. I still appreciate it very much :D Thanks for the reviews tooo....Jadi berdasarkan 'pengumuman' kemaren, FiaGunter menang FiaReever kalah. Smoga hasil sesuai dengan keiinginan kalian.
Tanpa banyak kata lagi, silahkan dibaca chapter 9nya :)
P.S.:Mengandung bahasa yang sedikit vulgar dan hubungan yang belum bisa dimengerti oleh pikiran-pikiran muda. Yang berumur di bawah 15 tahun dimohon tidak membaca thanks.
300310
Pagi itu Gunter bermaksud untuk membesuk Fia, sungguh, Ia benar-benar bermaksud untuk membesuk gadis slengeean tersebut. Ia cemas, dan tak pernah sebelumnya Ia sekhawatir ini. Namun melihat Reever yang baru keluar dari klinik Black Order dengan senyum dan lambaian tangan pada Gunter, Ia tahu lebih baik untuknya bila Ia mengurungkan niatnya tersebut, apalagi saat Ia melihat senyum sumingrah Fia dari balik pintu yang tidak ditutup sepenuhnya. Ketidak sukaan Fia pada Gunter diperlihatkan dengan sedemikian rupa sehingga tidak mungkin Gunter, atau orang lain yang melihatnya, tidak menyadarinya dan tentunya bila Ia masuk sekarang, saat ini juga, senyum itu akan langsung hilang.
Karena senyuman hangat itu sama sekali tidak pernah ditujukan untuk Gunter Eisenberg. Setidaknya tidak lagi.
Gunter hanya bisa menghela nafas yang secara tak sadar telah ditahannya, dan berjalan kembali ke kamarnya, tersenyum dengan mempesona ketika Ia berpapasan dengan seorang suster, membuat wanita malang tersebut memerah dan meleleh. Sejak kapan, tepatnya, Fia mulai tidak suka dengan dirinya, Gunter merasa semua itu dimulai sejak kejadian 3 tahun yang lalu, dirinya masih berumur 15 tahun, usia dimana hampir semua pikiran dan perasaan seorang laki-laki dikuasai oleh hormon bukan otak, dan memiliki wajah yang bisa dibilang lumayan, meski tak bisa dibanding oleh Kanda ataupun Lavi, tentunya. Dan Fia masih berumur 14 tahun, usia yang sangat tidak tepat untuk memergoki teman dekatnya sedang bersetubuh dengan wanita lain.
Oh tidak, Gunter sangat tidak menyesali interaksi sosial yang dilakukan olehnya dengan wanita tersebut. Ia adalah janda muda cantik yang berasal dari kota dekat Black Order yang ditinggal mati oleh suaminya yang merupakan polisi setempat tanpa diberkahi satu anak pun, dan Ia sangat sangat kesepian. Maka Gunter mengunjunginya tiap hari dan bahkan dalam umurnya yang masih muda itu, Ia tahu bahwa ada perasaan yang hanya bisa ditemukan oleh seorang wanita dalam pelukan seorang pria. Perasaan dicintai, dilindungi. Seakan Ia adalah wanita tercantik yang pernah dilihat. Oh, Gunter sangat mengerti bagaimana tepatnya membuat seorang wanita merasa seperti itu dan Ia juga tahu bahwa telah lama wanita yang usianya lebih tua darinya itu merasakan perasaan tersebut. Wanita itu tersenyum bahagia setelah hubungan intim tersebut dan Gunter berpikir bukankah lebih baik bila seorang wanita terus tersenyum seperti ini, tanpa rasa khawatir dan cemas, tanpa rasa pedih dan sakit? Sejak itu, bisa dibilang Gunter sering menyelinap di tengah kegelapan malam, untuk mengunjungi satu atau dua temannya dan memberikan kepadanya apa yang tidak bisa diberikan suaminya. Karena Ia merasa semua wanita patut merasa diingini dan berharga. Namun Ia tak pernah menyentuh gadis yang masih suci, karena Ia tahu Ia tak akan bisa memberikkan apa yang mereka ingini, karena keinginan mereka sungguh berbeda dengan para wanita dewasa tersebut. Dan Gunter tidak ingin menjadi penyebab dari air mata mereka, oh Ia akan melukai dirinya sendiri bila Ia sampai melakukannya.
Ya, Itu adalah peraturan tak tertulis untuk Gunter, Ia tak akan berhubungan dengan gadis yang masih suci, atau wanita berstatus. Ia hanya akan melakukannya dengan seorang janda atau wanita yang suaminya sepenuhnya merelakannya, karena sama sekali tidak perduli atau alasan lainnya, jujur Gunter tidak ingin tahu-menahu
Tapi tampaknya Fia yang masih suci itu tak bisa memahami alasan mengapa Gunter melakukan semua hal itu. Ia berpikir Gunter bermain-main dengan perasaan wanita-wanita tersebut saat sebenarnya mereka hanya menggunakan Gunter. Betapa Ia ingin Fia mengerti hal ini, tapi gadis keras kepala tersebut tidak akan mau mengerti atau mencoba mengerti. Ia tak akan mengubah pendapatnya dan betapa Gunter ingin mengguncang tubuh kecil itu sampai tenaganya habis dan membuat Ia mengerti, membuat dirinya kembali menyukainya. Karena Gunter tahu Ia menyayangi gadis tersebut.
Fia, Fia, Fia. Namanya bergulir dengan sangat mudah dari ujung lidahnya dan tanpa sadar Ia meninju tembok di sampingnya, meninggalkan sedikit retakan di tembok tersebut, dan menikung menuju kamarnya.
"Gunter?" Panggil sebuah suara, sang pemilik nama menengok ke belakang dan menemukan Lavi, tanpa bandana kesayangannya. Salah satu ujung bibirnya naik secara otomatis melihat temannya itu. Ia menggumamkan balasannya secara pelan dan berjalan menuju Lavi.
"Mau kemana kau Lavi? Habis menyelinap keluar dari kamar Akira kah?" senyuman Gunter berubah menjadi cengiran besar sebelum dia terkekeh, bahkan ketika tangan Lavi membuat kontak dengan belakang kepalanya. "Oh, ayolah, kawan, kau pikir seluruh Black Order tidak tahu dengan semua suara yang Ia keluarkan kemarin malam? Nampaknya kau tahu bagaimana membuatnya senang, eh?"
"Kau tidak punya tempat untuk mengomentariku tentang itu, kau sendiri tahu kau juga seperti itu kan?" Lavi membalas cengirannya yang lalu dengan cepat hilang ketika Ia bertanya, "Benarkah kemarin Akira seberisik itu?"
Gunter hanya mengangguk pelan dan tersenyum mengejek ke arah Lavi, dan sekali lagi menerima pukulan dari temannya tersebut. Mata biru tua bertemu dengan mata hijau terang, dan keheningan sesaat di antara mereka berdua terpecahkan dengan suara tawa bergemuruh yang memenuhi lorong.
"Tapi, jujur, ada apa denganmu hari ini?" Ketika Ia tak mendapat balasan lebih dari sebuah gerutu, Lavi melanjutkan, "Tidak setiap hari kau meninju tembok, Gunter, kau bukan Kanda."
"Masalah biasa, Lavi, masalah biasa." Jawabnya dengan enteng sebelum menepuk pundak temannya dan masuk ke kamar, menutup pintunya dengan pelan, hampir tak bersuara, seperti biasa, sebelum suara musik menggelegar dari dalam, seperti biasa.
"Kau tidak bicara banyak mengenai dirimu sendiri ya?" Tanya Lavi, lebih untuk mengutarakan pikirannya sebelum beranjak pergi untuk menemui Bookman, Sang Master Panda.
Gunter menghempaskan badannya dengan kasar di atas ranjangnya, membiarkan dirinya tenggelam dalam alunan lagu Griechischer Wein yang dulu memenuhi seisi rumahnya, menghiraukan protes dari tulang belakangnya yang tidak seharusnya diperlakukan sekasar itu. Ada yang menyayangimu? Pikir Gunter, mengingat kembali perkataan Fia yang tak sengaja dicuri dengar olehnya, dengan senyum penuh ironi. Apakah selama ini Fia tak sadar Ia juga menyayanginya? Bahwa Tapp dan Johnny juga menyayanginya? Gunter tak habis pikir bagaimana Fia bisa menganggap Komui dan Lenalee tak menyayanginya. Apakah gadis itu bodoh, telmi atau hanya sepenuhnya egois sehingga Ia bisa menghiraukan curahan perhatian mereka begtu saja? Ia menutup kelopak matanya dan memijit pelipisnya dengan pelan, seperti yang selalu dilakukannya saat sedang berpikir keras.
Ia tahu Fia kadang terlalu curiga akan perhatian orang padanya dan mungkin perasaannya hanya terguncang setelah ledakan ticnya beberapa hari yang lalu. Ia juga tahu Fia kerap kali terlalu keras pada dirinya sendiri dan selalu pesimistis dan selalu menyalahkan dirinya sendiri. Ia tahu benar semua faktor itulah yang menyebabkan gadis mungil tersebut merasa tiba-tiba tak disayangi tapi, demi Tuhan, mendengarnya langsung membuatnya merasa sakit hati. Dan tentu saja Reever, bukan dirinya, menghibur Fia dalam pergumulannya hanya menambah sulutan amarah dalam hatinya.
Oh demi Tuhan.
xXx
Luna berdiam di kamarnya, sudah siap dan rapih dan wangi, merenungkan kejadian kemarin malam dan memerah dalam hitungan detik. Ia tidak hanya memimpikannya kan? Itu benar-benar terjadi kan? Oh, Ia tahu Ia tak seharusnya memikirkan hal remeh-temeh seperti ini saat dalam kurun waktu beberapa hari Ia akan menjalani misi pertamanya, bersama Fia namun Ia berusaha menghiraukan fakta tersebut, namun Ia tak kuat menahan pikirannya untuk tidak mengarah ke kejadian kemarin, bagaimana tidak, setelah malam penuh keajaiban beberapa hari silam, Allen sama sekali mengacuhkannya. Tentu saja mereka masih saling bertegur sapa dan lain-lain saat berpapasan namun Allen tidak pernah mencarinya sekali pun bila bukan karena kebetulan atau dalam rangka memberi laporan mengenai tugas dan hal tidak penting lainnya.
Bagaimana Luna tidak bingung? Ia masih hijau dalam bidang asmara dan tidak tahu apa yang harus Ia lakukan atau harapkan.
Suara ketukan tiba-tiba di pintunya membuat Luna nyaris melompat dari ranjangnya. Dengan pelan dan hati-hati Ia berjalan menuju pintu putih polos yang belum dihiasnya itu dan membuka pintunya sedikit untuk mengintip siapa yang mengetuk kamarnya.
"A-Akira?" Luna sedikit merasa bersalah atas kekecewaan yang dirasakannya ketika melihat gadis berambut biru lurus itu dan bukan rambut seputih salju yang dinanti-nantinya.
"Yo, Luna!" Sapa Akira dengan ramah dan ceria, sebuah senyum menawan menghiasi wajah putihnya dengan indah. "Lenalee bilang Reever bilang kalau hari ini Fia sudah bangun, jadi aku pikir kita bisa menjenguknya bersama? Lagipula kau masih ada masalah yang harus dibereskan dengannya kan?" Lanjut gadis semampai tersebut sambil mengedipkan sebelah matanya, mengingatkan Luna akan masalahnya dengan Fia yang sudah beberapa hari terlantar tersebut.
"Ah…Aku tidak yakin Fia mau bertemu denganku bagaimana pun ju-"
"Omong kosong, Ia sedari tadi meneriakkan namamu, kok." Potong Akira dengan lambaian tangan, seakan perkataan Luna tidak penting sama sekali dan dengan segera menarik Luna dari kamarnya.
"Akira? Apa kau yakin Ia mencariku? Sampai kemarin ini kan Ia masih mengacuhkanku. Ia bahkan tak mau memandangku sama sekali." Luna sedikit tertatih-taih dalam jalannya berhubungan langkah kaki Akira yang panjang tak seirama dengan miliknya yang sedikit lebih pendek.
"Oh, kau tahu gadis itu. Sedikit angin-anginan. Mungkin Ia sudah memutuskan untuk memaafkanmu. Bukankah itu bagus?" Jawab Akira dengan santai. Tipikal Akira. Dahi Luna terbentur punggung Akira ketika gadis yang berada di depannya itu tiba-tiba berhenti di depan sebuah pintu setelah hanya beberapa langkah berjalan dan membukanya.
"Gunter, kau sudah menjenguk Fia?" Tanya Akira, suaranya nyaring namun anehnya merdu di telinga, Luna selalu berpikir orang bersuara nyaring tidak enak didengar. Mungkin Akira adalah salah satu pengecualian. Luna melongokkan kepalanya ke balik pintu yang terbuka lebar itu, menyipitkan matanya ketika mendengar suara musik yang terlalu keras untuknya, dan melihat Gunter terbaring di ranjangnya. Kakinya yang panjang tergolek di pinggir ranjang dan menyentuh lantai, salah satu tangannya menutupi matanya.
"Tidur?" Fia bertanya lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada orang lain dan mengamati ruangan tersebut. Fia tak pernah melihat kamar lelaki sebelumnya namun Ia merasa kamar Gunter cukup rapih. Lantai dan dindingnya tetap dibiarkan putih dengan pengecualian beberapa poster dan potongan artikel yang tertempel di salah satu sisi dindingnya. Jendela kamarnya ditutupi gorden biru tua yang tebal, membuat kamarnya remang-remang, cocok untuk tidur. Beberapa rak yang penuh berisi album lagu dan buku berdiri di pinggir kamar dan ranjang kayunya di pinggir satunya lagi, sebuah gramophone tua berdiri di atas meja samping ranjangnya sementara sebuah meja kayu yang rendah, dari penampilannya sepertinya hasil karya sendiri, terletak di tengah-tangah ruangan, setumpuk kartu, sekotak rokok dan sebuah koran di atasnya.
"Ah, biarkanlah. Mungkin Ia kecapaian, akhir-akhir ini suka pulang malam sih."
"Eeh? Tahu darimana?"
"Lavi suka pergi dengannya. Mereka kan duo lelaki tak benar." Akira menjawab asal-asalan, karena memang itulah adanya. Dan menarik Luna lagi ke arah klinik sebelum menutup pintu setelah diingatkan Gunter, yang tertidur lagi secepat Ia terbangun oleh suara Akira. Akira sesaat berpikir apa yang mereka lakukan berdua sampai tengah malam, namun memutuskan akan lebih baik bila Ia tak tahu. Ia menengok lagi ke arah Luna ketika mendengar gadis yang lebih muda itu memanggil namanya dengan ragu-ragu.
"Hmm…Akira-san, kalau aku boleh tanya, apakah laki-laki suka tiba-tiba berbuat sesuatu yang sangat manis pada kita dan tiba-tiba mengacuhkan kita begitu saja?"
Akira mengedipkan matanya pelan dan secara tak sadar menghentikkan langkahnya, menyebabkan Luna hampir jatuh untuk kedua kalinya. Akira adalah shi fu dalam masalah percintaan dan laki-laki dan Ia tahu Luna ada hati untuk Allen namun Ia tak menyangka Ia akan secepat ini menyadarinya. Atau mungkin Ia belum menyadarinya?
"Mereka memang sering begitu Luna. Makanya pada saat seperti itu kita harus aktif dan agresif." Jawab Akira otomatis sebelum tersenyum licik "Apakah Allen yang sedang kita bicarakan?"
Muka Luna kontan memerah dan dalam sekejap Ia kehilangan kemampuan bicara, maka Ia hanya menganggukan kepalanya dan memandang lantai, Ia tahu bila Ia melihat mata jail Akira Ia hanya akan tambah merah dan panas.
"Mmm…Kalau Allen mungkin karena dia malu, kau tahu sendiri dia seperti apa. Laki-laki lain mungkin menganggapnya seperti sebuah permainan, kau tahu? Tarik ulur. Tapi aku tak merasa Allen tipe laki-laki seperti itu. Tenang saja. Paling dia sedarng berbenah diri dan mengumpulkan keberanian untuk langkah selanjutnya."
"La-Langkah selanjutnya?" Luna mau tak mau bertanya, wajahnya tersentak ke atas menghadap Akira tepat di matanya.
"Nantikan saja tanggal mainnya, Luna~" Akira tersenyum penuh misteri lagi dan Luna pun hanya bisa pasrah.
xXx
Mendekati ranjang Fia, Luna tak bisa mengontrol rasa gugup yang dirasakannya. Meski Fia tampak sedikit konyol dengan rambut merah - merah kecoklatan, coklat kemerahan, sungguh ribet. Luna memutuskan rambut Fia berwarna merah dan merah saja- panjangnya dikepang satu dengan agak berantakan dan disampirkan di bahunya, membiarkan beberapa ikal rambut menggantung di sekitar wajahnya, tubuhnya hanya berbalut daster putih polos yang terlihat seperti model baju tidur abad 18an. Dan Ia tengah memakan pudding. Ya, pudding karamel tepatnya.
"Ooooh~ Akicchi~ Luna~" Sapa Fia dengan riang, seperti tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka yang mengejutkan Luna sedikit, sambil mengayunkan tangannya yang memegang sendok, menyebabkan potongan pudding melayang ke berbagai arah.
"Fia darliiing~ Kau sudah baikkan?" Tanya Akira yang langsung menhampiri ranjang Fia dan menarik satu bangku, membuka mulutnya dengan sigap ketika Fia menyuapinya dengan pudding karamel spesial Jerry, teman gosipnya.
"Hmm..aku sih merasa fit dan bugar sekali, tapi Suster Theresina bilang aku baru boleh kembali ke kamar nanti malam." Jawab Fia santai sambil mejilati sendoknya dan memandang dengan penuh kerinduan ke gelas puddingnya yang sudah kosong.
"Heh, tentu saja kau bugar, kau tidur selama kurang lebih 3 hari tanpa bangun sama sekali!" Akira terkikik. Dan benar saja, kulit Fia yang biasanya sedikit kecoklatan kini berwarna putih pucat, hampir kemerahan malah, karena dikurung dalam ruangan terus, mengakibatkan frecklenya lebih nampak dari biasanya.
"Luna, tidak duduk?" Tanya Fia, suaranya tak biasanya lembut ketika mata coklat besarnya memandang ke arah Luna dan Luna dengan sedikit buru-buru duduk di sebelah Akira. "Aku menantikan misi kita dua minggu ke lagi, Luna. Kuharap kita bisa melupakan masalah kita di belakang dan bekerja sama dengan baik." Lanjutnya lagi dengan senyum bersalah. Dan Luna tahu kalau Fia sedang meminta maaf, meski tidak secara langsung. Ia pun mengembalikan senyum Fia dengan senyum manisnya sendiri dan mengambil gelas pudding Fia yang kosong dan meletakkannya di atas meja ranjang.
"Aku juga tidak sabar ingin beraksi." Ujar Luna, menyebabkan dua gadis lainnya terkikik.
Yeps, Itulah akhir dari chapter 9 ini, semoga bisa dinikmati dan berkenan di hati. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam pengetikkan dan sebagainya karean chapter ini belum di-edit dan ditulis ulang hahahaha ;D
Maaf ya pendek TAT. Mohon kritik dan sarannya agar cerita ini bisa jadi lebih baik. Makasiih~
