Disclaimer: I don't own Harry Potter or its respective characters. JK. Rowling does. I only own Oliver Wayne and Amelia Lynch.

Warnings: SLASH, DRAMA & DRAMA! Kinda OOC, typo, mention LMSS and one-sided LMNM, etc.


Chapter 10


"Really, mate. Kupikir awalnya diriku pasti sedang bermimpi melihat Malfoy ada di flatmu. Apa yang sedang kaupikirkan, huh? Apa kau sadar hal yang mungkin terjadi jika seandainya bukan aku dan Hermione yang datang ke flatmu kemudian melihat kau dan Malfoy dalam... dalam keadaan seperti itu? Blimey, mate!" Ron berbicara dengan nada setengah berteriak. Harry terlihat membuka mulut dan ingin berbicara sebelum pria berambut merah itu terlebih dahulu mengibaskan tangan; menyuruh Harry untuk diam. "No! Aku tidak ingin mendengar apa yang sedang kalian lakukan ataupun alasan yang akan kaukemukakan. Telingaku—ouch! Berhenti memukul kepalaku, 'Mione!"

Harry hanya bisa mengulum senyum ketika melihat Hermione dengan cepat melayangkan sebuah pukulan tepat di kepala Ron; membuat pria itu meringis dan menggerutu setelah Hermione meneriakkannya untuk diam. Harry memilih diam dan melihat kedua pasangan suami isteri itu berdebat. Sesekali mencuri pandang ke arah ruang tamu di mana sosok Malfoy tengah duduk di salah satu kursi dengan pandangan yang mengarah ke televisi. Entah apa yang sedang dipikirkan mantan Pangeran Slytherin itu, Harry tidak tahu. Malfoy memilih untuk tidak berkata apa-apa ketika Ron dan Hermione yang tiba-tiba masuk ke flatnya dan memergoki dirinya dan Malfoy dalam kondisi yang err—hanya setengah berbusana.

Well, mendapat kejutan di pagi hari seperti ini bukanlah sesuatu yang diinginkan Harry. Ia justru lebih memilih untuk menikmati paginya yang tenang dengan secangkir kopi dan sarapan daripada harus mendengar racauan yang dikatakan Ron sejak beberapa menit yang lalu mengenai pemandangan yang telah dilihat pria itu sebelumnya.

"... Harry!" Sang mantan Seeker Gryffindor itu mengerjapkan matanya beberapa kali; mendapati sosok Hermione yang mengibaskan telapak tangan di depan wajahnya. Ia tidak menyadari sejak kapan wanita itu sudah berada tepat di hadapannya. "Apa kau mendengarkanku?"

Harry menggeleng pelan. "Sorry. Bisa kau ulangi apa yang barusan kaukatakan, 'Mione?"

"Kurasa Harry sedang sibuk memikirkan Malfoy sehingga tidak mendengar apa yang sudah kaukatakan." Harry hanya memutar bosan kedua matanya mendengar kata-kata Ron. "Apa? Kaupikir aku tidak melihat kau yang melirik ke arah Malfoy setiap satu menit sekali, mate?"

"Oh, Ron! Bisakah kau diam untuk beberapa menit saja?" Kali ini Hermione terlihat sangat terganggu. Wanita berambut cokelat mengembang itu hampir memukul kembali kepala Ron jika saja pria itu tidak cepat menghindar dengan berlari menjauh. "Geez... aku sungguh tidak tahu mengapa bisa menikah dengan orang sepertimu, Ron."

"Why? Tentu saja karena kau mencintaiku, Mrs. Weasley," ujar Ron dengan senyum lebar di wajahnya. Namun ketika mendapat tatapan tajam dari Hermione, pria itu segera terdiam. Bersandar di lemari pendingin dengan wajah yang terlihat serius. Harry hanya menatap bingung ke arah salah satu sahabatnya. Ia ingat kalau kedua orang itu belum memberinya alasan mengapa mereka seperti terburu-buru untuk menemuinya. "Oke... oke... aku akan berhenti bermain-main sekarang. Silahkan lanjutkan urusan yang ingin kausampaikan kepada Harry, 'Mione."

Harry dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah Hermione; melihat wanita itu menyodorkan sesuatu kepadanya. Ia dengan cepat mengenali apa yang diberikan Hermione; membuat keningnya berkerut. Untuk apa wanita itu memberikan Daily Prophet kepadanya? Tidakkah Hermione lupa kalau ia sama sekali tidak berminat untuk mengetahui berita apa pun yang tengah terjadi di komunitas sihir? Harry membuka mulut dan ingin menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut sebelum Hermione menyuruhnya untuk membaca apa yang ada di sana. Kedua matanya segera melebar hanya dengan melihat headline berwarna hitam yang tercetak di bagian paling atas surat kabar di tangannya. Namun yang lebih membuatnya terkejut adalah foto-foto bergerak yang sekarang dilihatnya. Ia sangat mengenali sosok yang ada di foto-foto tersebut.

Sosok dirinya dan Scorpius yang sedang bermain di taman tidak jauh dari tempat tinggalnya serta foto Malfoy yang sedang menaiki anak tangga gedung flatnya.


DRACO MALFOY. KEKASIH BARU THE-BOY-WHO-LIVED?

'Setelah bertahun-tahun kabar mengenai Harry Potter—sang Pahlawan—tidak lagi terdengar, kini sang pahlawan kembali dengan berita yang cukup menggemparkan. Rita Skeeter (58) berkesempatan untuk menulis kembali berita dari sang pahlawan dan membeberkan kehidupan pria berumur dua puluh sembilan tahun itu setelah menyembunyikan diri sekian lama... (bersambung ke halaman 4, kolom 2.)'


Harry tanpa sadar menahan napasnya sendiri ketika matanya menelusuri beberapa baris kalimat yang tercetak di lembaran kertas berwana cokelat kekuningan di tangannya sebelum membalikkan lembaran itu ke halaman yang dimaksud. Keterkejutan terlihat jelas di wajahnya setiap kali membaca kalimat-kalimat yang tercetak beserta dengan beberapa foto hitam putih.

Ia sungguh tidak tahu apa yang terjadi.

Mengapa ada berita mengenai hubungan dirinya dan Malfoy di Daily Prophet? Bagaimana mungkin Rita Skeeter mengetahui di mana dirinya tinggal dan bahkan berhasil menangkap foto dirinya?

"... Kau tidak tahu betapa terkejutnya saat kami pertama kali membaca berita itu, mate," kata Ron kepadanya. "Kami tidak tahu bagaimana Skeeter bisa mengetahui di mana tempat tinggalmu ataupun bagaimana caranya wanita itu mendapatkan foto-foto itu. Kami segera datang menemuimu karena tahu kalau kau pasti belum mendengar berita ini."

Harry tidak bereaksi sedikit pun saat merasakan pria itu meremas pelan bahu kanannya. Pikirannya masih tertuju kepada berita yang ada di hadapannya; berusaha mencerna apa yang tengah terjadi. Tubuh Harry sedikit tersentak begitu dirinya sadar akan keadaaan apa yang tengah melandanya. Dengan langkah terburu-buru meninggalkan dapur menuju ruang tamu. Ia berdiri dengan surat kabar di tangannya tepat di hadapan Malfoy; tidak mengacuhkan tatapan tanya di mata pria itu. Harry dengan ragu mengulurkan surat kabar di tangannya dan menunggu reaksi pria itu.

Harry bergeming. Kedua matanya mengamati perubahan ekspresi di wajah Malfoy. Ia bisa melihat bagaimana rahang pria itu mengeras dengan kedua mata yang membulat. Malfoy menggeretakkan giginya sembari meremas surat kabar itu sebelum membantingnya ke atas lantai.

"Apa maksud semua ini, Potter?" Malfoy mendesis pelan setelah sebelumnya menarik kerah kemeja yang dipakai Harry. "Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi? Apa kau mempunyai sebuah penjelasan yang masuk akal untukku? Bagaimana... bagaimana mungkin Skeeter memberitakan hal semacam—dammit! Katakan kalau berita ini hanya lelucon buatanmu!"

"Berita ini bukan lelucon dan aku juga tidak tahu mengapa hal seperti ini bisa terjadi, Malfoy," bisik Harry; lega ketika Malfoy melepaskan cengkeraman pada kerah bajunya. "Aku sungguh tidak tahu bagaimana Skeeter bisa mengetahui di mana tempat tinggalku dan berhasil mengambil foto-foto itu."

Pria pirang itu menghempaskan tubuh ke atas sofa dan menutup kedua matanya sementara harian Daily Prophet teronggok begitu saja di dekat kaki pria itu. Harry mendongakkan kepala mendengar suara langkah kaki yang menuju ke ruang tamu. Hanya mendesah pelan melihat sosok Ron dan Hermione yang berdiri di ambang pintu. Keduanya terlihat tidak tenang.

"Apa kau ingin menemui Skeeter dan menyuruhnya meralat semua berita yang ditulis mengenai dirimu dan Malfoy, Harry?" Hermione bertanya. Wanita itu berjalan menyeberangi ruangan dan mendudukkan diri tepat di samping sofa di mana Malfoy duduk. "Kita mungkin bisa menyuruhnya untuk melakukan hal itu dari—"

"—Tidak ada gunanya kau melakukan hal itu, Granger," Malfoy memotong. Pria berambut pirang itu mendesah panjang dan membuka matanya. "Tidak ada gunanya sama sekali karena semua orang mungkin sudah membaca berita itu. Lagi pula kalaupun kalian melakukan sesuatu, apa ada jaminan Skeeter akan berhenti memberitakan hal ini? Wanita itu kemungkinan besar justru akan semakin membesarkan berita yang sebelumnya. Skeeter itu sudah seperti api yang tidak akan padam walau kau menyiramnya dengan air."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Harry mendecakkan lidah begitu tidak satupun ada yang membuka suara. Baik Malfoy dan kedua sahabatnya memilih diam; bergelut dengan pemikirannya masing-masing.

Sejujurnya, Harry tidak terlalu memedulikan berita-berita yang ditulis Skeeter sebelum ini. Ia tidak peduli bagaimana wanita itu sering menuliskan ke mana perginya dirinya selama ini. Awalnya ia memang sempat kesal, namun setelah beberapa bulan berlalu, Harry mulai bosan. Ia membiarkan wanita itu menuliskan omong kosong tentangnya. Toh, Harry tidak akan membaca berita apa pun yang ditulis Skeeter setelah ia berhenti membaca Daily Prophet.

Namun sepertinya, setelah hampir sepuluh tahun berlalu, wanita itu tidak juga mau meninggalkannya sendirian. Harry bahkan memutuskan untuk tinggal di lingkungan Muggle daripada the Burrow ataupun Grimmauld Place nomor 12 karena keberadaan wanita itu yang tidak pernah mau meninggalkannya sendiri. Memang apa menariknya berita tentang dirinya? Harry terkadang tidak pernah bisa mengerti.

"... Aku harus pergi sekarang." Harry mendongakkan kepala ke arah Malfoy. Entah sejak kapan pria berambut pirang platina itu sudah berdiri. "Aku tidak bisa hanya berdiam diri di sini dengan Skeeter yang memberitakan kita seperti itu."

"Apa yang akan kaulakukan?" Harry bertanya; sempat menyadari Malfoy terdiam sejenak sebelum menggelengkan kepala. Pria itu hanya mengatakan kepadanya akan kembali ke Manor sebelum berjalan menuju kamarnya. Tidak sampai beberapa menit, Malfoy keluar sambil menggandeng Scorpius yang setengah tertidur. Anak laki-laki itu menanyakan mengapa Malfoy membangunkannya sepagi ini.

"Ada hal yang harus kulakukan, 'Pius," kata Malfoy. Pria itu mengangkat tubuh Scorpius dan menggendongnya.

"Tanpa sarapan terlebih dahulu, Father?" Sepasang iris kelabu anak laki-laki itu mengerling ke arah Harry. Terlihat sedikit kecewa ketika Malfoy mengatakan kalau mereka tidak punya waktu untuk sarapan di tempatnya. Dengan enggan, Scorpius mengucapkan selamat tinggal kepada Harry. Tertawa pelan ketika dirinya mengacak helaian rambut pirang anak laki-laki itu. "Umm... sampai jumpa lagi, Harry."

Harry tersenyum tipis sebelum mengalihkan perhatian kepada sosok Malfoy. "Bisa kita bicara setelah ini?" tanyanya. Ia tidak tahu mengapa dirinya perlu menanyakan pertanyaan seperti itu kepada Malfoy; seolah-olah dirinya hanya ingin mendapat suatu kepastian dari pria itu. "Aku rasa kita tidak bisa membiarkan Skeeter memberitakan hal lainnya mengenai... well, kau dan aku. Apa kau punya waktu?"

Malfoy sempat mengangguk. "Tentu. Aku akan menghubungimu nanti," jawab pria itu. Harry tidak mengerti mengapa tiba-tiba dirinya merasakan dorongan untuk meminta Malfoy agar tetap berada di sini. Ia tidak tahu mengapa sampai memikirkan hal seperti itu. Namun menyadari kalau permintaan itu terdengar sangat konyol, Harry memilih untuk tidak mengatakan apa pun; hanya mengangguk singkat sebelum sosok Malfoy dan Scorpius menghilang di balik pintu.

Suara deham pelan terdengar dari arah belakang; membuat Harry segera membalikkan tubuh dan mendapati Ron dan Hermione berdiri di ambang pintu. Ia mengerutkan kening menyadari kalau Ron tengah mengulum senyum.

"Jadi... kau dan Malfoy, huh? Seriously, Harry?" tanya pria itu; membuat Harry tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang pelan. Ia sudah bisa menduga apa yang ada di pikiran kedua sahabatnya.


"... Kau terlihat sedikit panik. Apa ada yang sedang terjadi, Father?"

Draco menatap sosok Scorpius yang berdiri sambil menatapnya. Anak laki-lakinya tengah menyilangkan kedua tangan di depan dada sementara menunggu jawaban pertanyaan barusan. Draco hanya mendesah pelan dan mengatakan tidak ada sesuatu yang tengah terjadi. Scorpius terlihat ingin kembali menanyakan sesuatu kepadanya sebelum dirinya mendengar suara mirip ledakan di dekat tangga. Draco mengernyit melihat peri rumah keluarga Malfoy menghampirinya dengan sedikit terburu-buru.

"Selamat datang, Master Draco, Master Scorpius," sapa peri rumah itu sebelum membungkuk di hadapannya. "Mistress Narcissa ingin bertemu dengan Master Draco jika Master Draco sudah kembali. Mistress menunggu Master Draco di kamarnya."

Draco yang mempunyai firasat mengapa Narcissa ingin menemuinya padahal ia baru saja kembali ke Manor tanpa sadar meremas tangannya sendiri. Berkali-kali berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia sempat berharap kalau alasan mengapa Narcissa ingin bertemu dengannya bukanlah mengenai berita yang ditulis di Daily Prophet.

"Father...?"

Pria berambut pirang platina itu kembali menatap Scorpius. Menggelengkan kepala ketika anak laki-laki itu menanyakan mengapa wajahnya terlihat pucat. Draco kembali mengatakan dirinya baik-baik saja sebelum menyuruh Scorpius untuk kembali ke kamar dan mengganti pakaian. Dengan ragu Scorpius mengiyakan permintaannya. Sempat menyuruhnya untuk melakukan hal yang sama. Draco mendesah pelan sebelum berjalan ke arah di mana kamar Narcissa berada. Ia sempat mematung di depan pintu kamar Narcissa; berdebat dengan dirinya sendiri apakah ia harus menemui wanita itu atau tidak. Namun pada akhirnya, Draco memberanikan diri untuk membuka pintu kamar ibunya. Terdiam di ambang pintu kala melihat sosok Narcissa yang duduk di sofa panjang di dekat perapian.

Draco segera mengumpat dalam hati ketika menyadari lembaran harian penyihir itu terlipat di atas pangkuan Narcissa.

Bohong jika Draco mengatakan kalau dirinya tidak terkejut membaca berita yang dibawa Granger tadi. Ia tidak pernah menduga kalau hubungannya dengan Potter akan sampai dimuat di surat kabar dan diketahui semua orang. Ia tidak pernah menyangka kalau hubungannya bisa diketahui semua orang dengan cara seperti ini. Tidak. Draco tidak pernah mengharapkan hal seperti ini terjadi.

Sang kepala keluarga Malfoy itu berusaha menenangkan dirinya. Pemilik iris kelabu itu mengerling ke sosok ibunya yang masih sibuk memandang perapian. Entah sudah menyadari keberadaannya atau tidak. Perlahan, Draco mendekati Narcissa, berdiri di samping ibunya dengan ekspresi datar terpatri di wajahnya.

"Mother," sapa Draco. Ia melihat Narcissa melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali menatap perapian yang menyala. "Kau ingin bicara denganku?"

Narcissa menggumamkan sesuatu yang tidak bisa ditangkap Draco. Wanita itu menegakkan tubuhnya dan mengulurkan Daily Prophet kepadanya. "Bisa kau menjelaskan apa yang ada di sini, Draco?" tanya Narcissa. Draco bisa melihat sekilas raut kecewa di wajah ibunya. "Bisa kau menjelaskan padaku mengapa kau muncul di sini dengan berita bahwa kau adalah kekasih Potter? Katakan padaku bahwa berita yang ditulis Skeeter hanyalah omong kosong!"

"Mother—"

Kedua bibir Draco terkatup rapat. Pikirannya sedang berdebat apakah dirinya harus mengatakan hal yang sebenarnya kepada wanita itu. Haruskah ia mengatakan kalau dirinya memang berkencan dengan Potter? Haruskah ia menjelaskan kalau Potter adalah kekasihnya? Kekasih? Entah mengapa Draco tidak keberatan dengan sebutan seperti itu. Ia merasa kalau hal itu adalah sesuatu yang wajar. Tapi bagaimana dengan ibunya? Apakah di mata Narcissa Malfoy hubungan sesama jenis adalah hubungan yang wajar?

"Mengapa, Draco?" Kata-kata Narcissa berhasil membuat Draco tersadar. "Mengapa di antara semua orang kau harus berhubungan dengan Potter? Tidak adakah gadis-gadis di luar sana yang menarik perhatianmu?"

"Mother, tidak bisakah kau mendengarkan penjelasanku dulu sebelum mempercayai apa yang ditulis Skeeter?" desah Draco. Ia menyadari kalau ibunya tidak akan dengan mudah mempercayai apa pun alasan yang diberikannya. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Draco bisa mendengar suara di dalam dirinya yang menyuruhnya untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Tidak ada gunanya membohongi Narcissa. Cepat atau lambat wanita itu pasti akan mengetahui hubungannya dengan Potter.

Wanita berambut pirang itu memandangnya dengan pandangan ragu sebelum mendesah dan mengalihkan pandangan darinya. "Aku sempat menemui Miss Lynch sebelum ini," kata wanita itu. "Aku mendesaknya untuk mengatakan siapa orang yang sedang kaukencani setelah sebelumnya ia sempat mengatakan bahwa tidak ada gunanya meneruskan perjodohan antara keluarga Malfoy dan Lynch. Dia mengatakan kepadaku kalau kau... kau menyukai seorang pria. Aku sungguh tidak mengerti... aku tidak mengerti mengapa kau berhubungan dengan Potter? Apa kau mencintainya, Draco? Tidak. Kau tidak mungkin mempunyai perasaan seperti itu terlebih lagi kepada seorang pria."

Mencintai... Potter? Draco dengan cepat menyangkal hal itu. Mungkin terlalu cepat jika dirinya mengasumsikan demikian. Suka? Tertarik? Ya, Draco tidak akan menyangkalnya. Namun ia yakin kalau perasaannya kepada Potter belum sampai sedalam itu.

"Bisakah kau menghentikan lelucon ini, Draco?" tanya Narcissa. "Kau tidak seharusnya menyebarkan lelucon seperti ini di Daily Prophet. Kau tidak akan bisa menebak berapa orang yang akan dengan mudah percaya dengan berita seperti ini. Anak laki-lakiku tidak mungkin berhubungan dengan sesama jenis. Hal—"

"—Apakah salah jika aku menyukai Potter, Mother?" potong Draco. Ia cukup terkejut kepada dirinya sendiri yang bisa berbicara seperti itu di hadapan ibunya. Akan tetapi... kata-kata Narcissa jauh lebih membuatnya terkejut. Ia tidak tahu jika ibunya begitu menolak berita mengenai dirinya dan Potter. "Kurasa bukan hal yang salah jika aku menyukai seorang pria."

"Tentu saja hal seperti itu adalah hal yang salah!" seru Narcissa. Draco bisa melihat tubuh ibunya bergetar. Wanita yang biasanya terlihat tegar dan bersikap dingin bahkan ketika pemakaman Lucius kini terlihat seperti benda yang terbuat dari kaca; sangat mudah sekali untuk hancur berkeping-keping. Draco sangat jarang melihat kondisi Narcissa yang seperti ini. "Kau bukan ayahmu, Draco... kau tidak akan pernah mengikuti jalan yang sama dengan ayahmu..."

Draco menautkan kedua alisnya, berlutut di depan sosok ibunya. Dengan ragu, ia menggenggam tangan wanita itu. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja Narcissa mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Mengapa wanita itu mendadak mengingat Lucius?

"Mother...?"

Namun panggilan Draco tidak pernah disahuti oleh Narcissa. Wanita itu hanya diam dan tidak mengacuhkan keberadaannya; membuat Draco tidak tahu apa yang membuat Narcissa terlihat tertekan seperti ini.


Narcissa Malfoy tidak ingat siapa yang pernah menasehatinya bahwa menikahi pria dari keluarga Malfoy bukanlah pilihan yang bagus. Ia tidak ingat siapa yang pernah mengatakannya. Bellatrix-kah? Andromeda? Atau ayahnya? Tidak. Narcissa ragu kalau orang tuanya pernah mengatakan hal itu karena mereka berdualah yang berkeras agar dirinya menikah dengan Lucius Malfoy.

Menikah dengan pria dari keturunan Darah Murni sama seperti dirinya.

Mungkin memang seharusnya Narcissa tidak pernah mau mendengarkan kata-kata kedua orang tuanya yang menginginkan ia menikahi sang pewaris keluarga Malfoy itu tiga puluh dua tahun yang lalu. Mungkin sebaiknya jika ia mencari pria lain yang memiliki status yang sama dengan keluarganya.

Namun semua sudah terlanjur, bukan? Dirinya sudah menikah dengan Lucius walau banyak hal yang terjadi sebelum ini. Banyak hal yang hampir membuatnya tidak menikahi pria itu.

Karena ia tidak mencintai Lucius? Tidak. Bukan seperti itu. Sudah sejak lama Narcissa memiliki perasaan kepada pria aristokrat tersebut. Sejak bersekolah di Hogwarts? Mungkin jauh sebelum itu. Ia masih ingat bagaimana dirinya bertemu dengan Lucius di salah satu pesta yang diadakan keluarga Malfoy. Mungkin sejak pertama kali Narcissa bertemu dengan Lucius, ia sudah menyukai pria itu.

Tapi... hidup tidak pernah berjalan sesuai dengan kehendaknya. Ia mencintai Lucius. Hal itu memang benar. Namun perasaannya tidak terbalaskan. Narcissa tahu bagaimana perasaan Lucius kepadanya—hanya menganggapnya sebagai teman semata. Narcissa mengetahui hal itu sudah sejak tahun kelimanya di Hogwarts.

Dan di tahun terakhirnya, ia mengetahui kalau Lucius mencintai orang lain.

Pria itu mencintai seorang Severus Snape.

Menggelikan? Bukan hanya dirinya yang menganggap seperti itu. Abraxas Malfoy—ayah Lucius—yang mengetahui alasan mengapa Lucius menolak menikahi dirinya juga menganggap perasaan seperti itu adalah hal yang menggelikan. Bagaimana mungkin Lucius mencintai seorang pria? Pria yang tidak pernah melepaskan pandangan dari seorang gadis keturunan Darah Lumpur seperti Lily Evans? Seorang pria yang bersikap seperti keturunan Darah Murni sementara darah Muggle mengalir di nadi pria itu.

Sampai sekarang Narcissa tidak pernah mengerti mengapa Lucius memiliki perasaan seperti itu kepada Severus Snape. Bukankah mereka berdua seperti hidup di dunia yang berbeda? Lucius adalah pria yang hidup di bawah cahaya sementara Severus hidup di balik bayang-bayang—tidak sekalipun pernah menapak keluar. Narcissa juga menyadari kalau mereka berdua hanya sesekali saling menyapa satu sama lain. Tidak lebih dari itu.

Lucius tidak pernah tahu betapa inginnya Narcissa agar pria itu melihatnya walau hanya sekali. Ia ingin Lucius melihatnya sebagai seorang wanita dan bukannya sebatas teman. Narcissa hampir berhenti berharap ketika Pangeran Kegelapan menempatkan Lucius dan Severus di jajaran lingkaran dalam Pelahap Maut. Ia sudah hampir berhenti berharap jika saja Abraxas tidak menawari bantuan kepadanya.

Ya. Karena pria itulah akhirnya Lucius bersedia menikahi dirinya. Tidak apa-apa, pikirnya waktu itu. Tidak apa-apa jika Lucius hanya berpura-pura mencintainya. Tidak apa-apa jika pernikahan yang akan dijalaninya hanya sebuah sandiwara. Semua akan baik-baik saja.

Menyedihkan? Narcissa sudah membuang jauh-jauh pikiran semacam itu dari benaknya.

Namun rupanya, nasib seperti itu tidak hanya dialami oleh dirinya saja. Hal yang sama juga dialami oleh Astoria Greengrass. Narcissa tahu kalau Draco menikahi wanita itu atas perintah Lucius. Ia tahu kalau anak laki-lakinya tidak pernah mencintai Astoria. Narcissa sangat mengenal bagaimana perasaan Astoria yang menikah dengan pria yang tidak mencintainya. Ia memang menyayangkan bagaimana pernikahan Draco harus berakhir dengan perceraian. Narcissa tidak pernah menginginkan hal semacam itu.

Dan sekarang, di saat Draco sepertinya terlihat memiliki ketertarikan terhadap seseorang, mengapa anaknya justru memilih Potter di antara semua orang? Memilih seorang pria dibandingkan dengan wanita-wanita yang ia sodorkan kepada pria itu. Memang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Narcissa mendesah pelan; berusaha untuk tidak menimbulkan suara apa pun. Kedua matanya menelusuri ruangan di hadapannya sebelum tertuju kepada sosok pria yang tertidur di atas tempat tidur. Ia bisa melihat bagaimana sosok Draco yang tengah tertidur pulas.

Terlihat tanpa beban...

Terlihat sangat mirip dengan sosok Lucius...

Narcissa bisa merasakan dadanya berdenyut tidak nyaman. Dengan tangan yang bergetar, ia mengacungkan tongkat sihir di tangannya ke wajah Draco. Ia tahu apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Ia menyadari apa akibat dari perbuatannya ini. Namun sekarang, ia tidak peduli. Ia tidak peduli jika suatu saat nanti Draco akan membencinya sama seperti Lucius yang bersikap seperti itu.

Ia hanya ingin agar Draco tidak mengalami nasib yang serupa seperti Lucius.

Ia tidak ingin anak laki-lakinya mendapat hinaan dan hujatan di antara keluarga Darah Murni karena menjalin hubungan dengan Potter. Tidak. Narcissa tidak mengharapkan hal seperti itu terjadi. Hubungan Draco dengan Potter tidak seharusnya terjadi. Ya. Ini adalah jalan satu-satunya. Jalan yang sama yang pernah dilakukan Abraxas Malfoy kepada suaminya.

"Maafkan aku, Draco." Narcissa berbisik tanpa sadar. Air mata menggenang di sudut matanya; membuat pandangannya mengabur. Ia sedikit tersentak melihat gerakan dari sosok di hadapannya. Sempat terdiam melihat kelopak mata Draco yang perlahan terbuka.

"Mother—?"

"—Obliviate."


To be continued


[a/n]: hohoho... Narcissa stress-kah? Mungkin. Sama seperti author yang juga sedang stress karena tugas kuliah, orz. No rambling, terima kasih banyak atas review dan waktu untuk membaca fanfiksi ini. Sampai jumpa lagi~ *kabur dengan Firebolt* :D