Aliran darah Sasuke seperti membeku, melihat senyuman tulus yang Naruto berikan kepadanya, wajah bahagia yang seolah setelah sekian lama melewati fase derita, membuat Sasuke terpesona dan mengagumi paras tampan pemuda pirang yang kini mulai beranjak dari perutnya.

'Apa—apaan ini?' gumam Sasuke dalam hati, saat matanya tetap tidak mau melepaskan diri dari sosok Namikaze Naruto, yang masih saja membanggakan diri pada semua orang bahwa dia sudah berhasil mengalahkan sosok pemuda yang begitu semua orang agungkan, dan bernama Uchiha Sasuke. Dan juga… memiliki burung yang lebih besar dari si 'Teme'.

Sasuke sedikit mengerutkan alisnya, kenapa Naruto asal menebak padahal mereka bahkan belum pernah melihat ukuran masing—masing?

'Kenapa mataku tidak mau berkedip?' Sasuke mengutuk matanya sendiri. Tidak mengerti kenapa ia terus saja menatap sosok Namikaze—Uzumaki bungsu itu dengan tatapan menelanjangi? Sasuke bahkan berpikir untuk mencongkel kedua matanya sendiri.

'Dia…' pada akhirnya Sasuke tidak bisa membohongi perasaannya, perasaan hangat dan senang karena melihat Naruto bahagia. 'Indah…'

'Benar—benar indah…'

Disclaimer

Mashashi Kishimoto sensei have Chara. Yang lainnya asli dari pemikiran otak bebal Nay. Nyontek drama korea dikit sih. hehehe

Rating

T

Pairing

SasuNaru – ItaKyuu

Slight

SasoDei, GaaNaru, ShukaGaa

F4 : Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi, Sabaku Gaara, Akasuna Sasori

Warning

OOC, BL, BoyXBoy, gay story, miss typos, sedikit lime mungkin?

Peringatan!

Fanfic ini hanya mengambil sedikit alur dari drama super keren BBF. Alur cerita, setting tempat, karakter, penokohan, semuanya murni dari pemikiran Nay. Jadi jangan aneh kalo nih fic beda jauh sama drama aslinya.

NO LIKE DON'T READ

Sasuke, Naruto, Gaara, Deidara = 17 tahun dan duduk kelas 11.

Itachi, Kyuubi, Sasori, Shukaku = hampir 19 kelas 12. Jadi Mikoto ma Kushina itu lahirannya tuntu alias setahun satu. Wkwkwkwk

10. Budak

Naruto berjalan bangga, dagunya sejak tadi terus diangkat dengan semua orang yang menatapnya tidak percaya. Ia melangkah bak raja dan dunia berada di dalam genggaman tangannya.

Sebenarnya, pandangan orang yang menatapnya shock itu karena seorang Uchiha Sasuke yang berjalan di belakangnya, membawakan tas Naruto, menjadi hukuman pertama pagi hari sialnya setelah satu minggu ia libur tidak masuk sekolah.

Sasuke berjalan dengan wajah datar, tidak jauh darinya, kelompok genk Naruto yang lain pun tampak puas karena perkelahian mereka minggu lalu hasilnya tidak sia—sia.

Mereka, berhasil memperbudak seorang Uchiha Sasuke. Bayangkan? Seorang Uchiha—Teme—Sasuke yang memiliki rasa gengsi setingkat gunung tertinggi, keangkuhan yang menyeratai Sun Go Kong, karismatik bagaikan para Dewa Yunani, saat ini menjadi budak? Budak dari seorang Namikaze Naruto?

"Teme, kau belikan aku ramen, ya!"

Sasuke berusaha tidak mendengus saat mendengar perintah lainnya.

Demi Tuhan, seumur hidup baru kali ini ia diperlakukan hina. Uchiha berkuasa, mereka yang memerintah, bukan diperintah. Dan karena taruhan konyol sialan itu, sekarang Uchiha Sasuke mencorengkan arang di marga kebanggaannya.

Ia menjadi budak.

Brengsek!

"Kau dengar aku, Teme?"

"Ya Dobe."

"Naruto—sama, Teme. Panggil aku Naruto—sama yang paling tampan di dunia."

"Aku yakin tidak lama lagi akan memuntahi wajahmu, Do—chan—sama."

Naruto menggerutu. Rupanya Sasuke tetap sama menyebalkannya dan bersikap seenaknya. Ia yang pagi ini sedang melangkah di koridor itu menghentikan langkahnya kemudian berbalik, ia menatap Sasuke dari ujung kaki sampai kepala kemudian mendecak.

"Tidak ada babu yang tidak sopan sepertimu, Teme!" kata Naruto menghina. "Kau benar—benar tidak tahu diri."

"Tidak ada majikan yang lebih miskin dari budaknya, Do—chan." Sasuke tersenyum miring. Ia berjalan selangkah lalu kemudian menatap Naruto intens. Tinggi mereka tidak jauh berbeda, membuat mereka yang berdiri dalam jarak amat dekat itu bisa langsung saling menatap mata.

Safir yang indah…

Sasuke merasakan degupan jantungnya mulai tidak karuan. Ia berdehem kemudian mundur untuk memberi jarak antar mereka. Ia bahkan bisa mendengar detakan jantungnya sendiri, ia terpesona pada dua permata biru bundar yang menatapnya polos karena tidak mengerti kenapa Sasuke mendadak menghindarinya?

Memalingkan wajah, dan menghirup napas dalam—dalam. Sasuke sama sekali tidak membalas tatapan Naruto.

"Teme! Kenapa kau mendadak mundur? Napasku bau, ya?" Tanya Naruto polos. Shukaku dan Kyuubi hanya memutar kedua bola mata mereka bosan, sementara Deidara, langsung menutup hidungnya seolah takut akan pingsan jika mencium bau mulut Naruto.

"Tadi aku sikat gigi, kok."

Sasuke mengutuk diri. Untunglah Naruto sama sekali tidak menyadari rona merah tipis yang menghiasi kedua pipinya. Ini tidak baik, Sasuke merasa ada yang salah dengan dirinya karena merasa Naruto semakin hari semakin tampan saja.

"Aku juga tadi mandi dengan sabun jeruk."

Naruto yang terus berceloteh karena salah paham itu mencium aroma seluruh tubuhnya. Ia bersih kok, baju seragamnya ganti setiap hari. Kenapa Sasuke menghindar seolah dirinya adalah kuman bau yang menyebarkan virus mengerikan?

Yah… Naruto hanya tidak menyadari bahwa Sasuke sedang terkena virus cinta.

"Teme…"

"Berhenti merengek, dan cepatlah enyah ke kelasmu Dobe. Aku sedang ada urusan!" tanpa memedulikan rengekan Naruto, yang membuat telinganya berdengung dan jantungnya berdegup semakin kencang, Sasuke melemparkan tas Naruto ke wajah si blonde sebelum akhirnya ia melarikan diri.

"Ada apa dengan si Uchiha itu?" Tanya Shukaku speechless. Kagum pada kecepatan Sasuke lari setelah melemparkan tas yang sanggup membuat Naruto terjengkang.

"Entahlah." Kyuubi menggidikkan bahunya. "Keriput di mana, ya?" katanya watados. Ia melenggang pergi sambil bersiul—siul mencari Uchiha Itachi. "Push—push…" imbuhnya semakin tidak waras saja.

"TEME BRENGSEK! TIDAK PERLU LEMPAR—LEMPAR DONG!" teriak Naruto tidak terima. Tapi percuma saja ia marah, Sasuke sudah tidak lagi berdiri di depannya. Ia segera berdiri, menepuk bagian celananya yang kotor sambil menenteng tas sekolahnya.

"Awas kau Sasgay—temeincestsama, istirahat nanti, aku akan membalas perbuatanmu." Dumel Naruto sambil melangkahkan kakinya menuju kelas.

.

Naysaruchikyuu

.

..

"Teme belikan aku jus jeruk."

"Teme, pijat bahuku, aku pegal."

"Teme, berikan aku psp—mu, aku pinjam, Ne?"

"Teme, aku lapar."

"Teme!"

"Teme!"

"Teme!"

"Teme!"

"BERHENTI MEMERINTAHKU KARENA AKU MULAI MUAK DOBE!" teriak Sasuke akhirnya. Keringat dingin bercucuran dari pelipis dan punggungnya karena istirahat siang ini, ia sudah disuruh bolak—balik oleh Naruto.

Ia kesal.

Sasuke amat kesal.

"Ka—kau—" meski sempat terkejut karena Sasuke berteriak padanya. Ia segera berdiri dari kursinya kemudian menatap Sasuke geram. "Kau kan sudah kalah taruhan, selama seminggu ini kau harus mengikuti semua yang kuinginkan."

"Tapi kau sudah keterlaluan."

"Setidaknya aku tidak menyuruhmu berkelahi dengan sepuluh preman —ttebayo!"

Kali ini Sasuke yang bungkam. Yah, dibanding dengan Naruto, jelas saja sikap Sasuke dulu saat menang taruhan lebih keterlaluan. Masih untuk si pirang itu masih selamat walau dengan sekujur tubuhnya yang babak belur. Tapi ego Uchiha dalam dirinya tidak mau dikalahkan, ia tidak suka saat dirinya kalah dan tidak berkutik melawan kata—kata Naruto.

"Kau—"

"Sekarang kau pijat lagi bahuku. Kau mau membuat tensi darahku naik dan— kau ingin membuatku cepat mati?" Naruto mengomel. Tidak mau menerima kalimat bantahan dari Sasuke. Ia segera mengambil kursi yang tadi sempat didudukkinya kemudian kembali duduk manis.

Mereka sedang berada di ruangan khusus F4, tempat yang biasanya tidak ada siapa pun yang menempatinya kecuali para anggota F4 atau pelayan yang mereka tugaskan untuk membersihkannya.

Naruto duduk di sebuah bangku kayu jati, di depannya meja kecil bertahta akuarium berisi beberapa ekor ikan koki di dalamnya. Tersenyum melihat ekor ikan bergerak ke sana kemari dengan safir biru yang terus saja memperhatikan.

Tidak jauh dari Naruto, Kyuubi ikut menikmati kemewahan yang Naruto dapatkan. Ia merebahkan diri di atas sofa panjang merah yang biasanya hanya akan ditempati Itachi, membaca manga yang tadi diambilnya dari lemari, kedua telinganya di sumpal dua headshet yang juga masih merupakan milik sang sulung Uchiha yang memang tergeletak di atas meja.

Deidara tampak asyik sendiri bermain playstation. Ia duduk bersila dengan dua tangannya yang sibuk memegangi joystick, berteriak atau mengumpat saat dirinya lagi—lagi kalah.

Shukaku yang terlihat sedang menggila. Rupanya, selain saat minggu lalu berkelahi dengan Gaara untuk ikut serta dalam pertaruhan Naruto, ia juga melakukan taruhan sendiri dengan si bungsu Sabaku.

Jangan tanya betapa kejinya sikap Shukaku pada Gaara saat Gaara menyanggupi taruhan mereka dan akhirnya harus menyesali keputusannya sendiri. Tubuhnya yang lebih kecil itu saat ini sedang merangkak berjalan ke sana kemari, dengan Shukaku yang sedang mendudukki punggungnya seolah sedang bermain kuda—kudaan.

Shukaku memang sangat kejam.

"Teme, berikan aku apel, dan kupaskan untukku, Ne?" perintah Naruto lagi.

Sasuke hanya menggeram. Tapi kemudian ia mengangguk juga, ia berjalan menuju meja bar yang berada di pojok kanannya, mengambil sebuah apel, kemudian melangkah menuju wastafel dan mencucinya. Sasuke mengambil sebuah piring ukuran sedang lalu pisau kecil yang ada di dalam lemari dapur yang selama ini jarang disentuhnya.

Ia tidak pernah mengupas apel.

Sasuke biasanya hanya tinggal makan, bahkan apel itu sudah mulus tanpa sedikit pun kulit atau biji yang masih menempel sebelum dimakannya. Tapi ia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri. Apa pendapat Naruto jika tahu diusianya yang sudah menginjak tujuh belas tahun, ia bahkan belum bisa mengupas apel sendiri?

Tidak—tidak—tidak, Sasuke tidak akan membiarkan dirinya semakin dihina. Perlahan, ia mulai mengupas kulit apel merah itu hati—hati. Yah, sangat hati—hati, walau tetap saja tidak seharusnya tangannya yang sedang menggenggam apel itu tetap diam di tempatnya saat pisau yang ia genggam dengan tangannya yang lain, mulai mengarahkan mata pisau ke arahnya.

"Issh…" ringis Sasuke pelan, saat pisaunya justru berbalik menyayat tangannya sendiri. Lukanya cukup lebar, darah mengalir lumayan banyak menetesi piring putih di bawah tangannya. Sasuke mendengus. Rasanya benar—benar perih. Padahal apel yang dia kupas belum mencapai seperempatnya, tapi tiga jarinya sudah menjadi korban dan terluka.

"Kau kenapa Tem— astaga!" Naruto yang tadinya hendak mengambil air minum di kulkas sendiri dan kebetulan ada di belakang Sasuke itu memekik saat melihat banyaknya darah yang keluar dari tiga jari Sasuke.

"Aku memintamu mengupas apel dattebayo, bukan mengiris tanganmu sendiri!" sentak Naruto kesal. Ia segera menyeret Sasuke menuju wastafel kemudian memutar keran dan mencuci jemari Sasuke. Merasa pendarahannya tidak juga berhenti, tanpa pikir dua kali Naruto memasukan tiga jari Sasuke sekaligus ke dalam mulutnya.

Sasuke melotot horror. Ia masih tidak berkata—kata selain menatap Naruto yang memejamkan matanya mengisap darah Sasuke berharap luka itu segera menutup dalam satu kali hisapan saja.

Lagi—lagi jantung Sasuke berdegup kencang. Ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan? Ia hanya bisa menatap Naruto dengan kedua bola mata onyx—nya yang menyayu. Ia tidak percaya bahwa setelah semua pertengkaran dan perkelahian mereka, Naruto tetap tampak begitu memedulikannya.

Si blonde itu…

Sekali lagi Sasuke meringis saat lidah panjang Naruto mulai menjilati jari—jarinya yang masih ada di dalam mulut si pirang. Ugh!

Astaga! Jangan sampai dia berpikiran kotor. Ingat harga dirimu yang setinggi gunung Himalaya, Uchiha!

Sasuke tidak tahu apa yang harus ia ucapkan untuk menggambarkan Naruto di pikirannya saat ini? Yang ia tahu, Naruto itu tulus. Ia memedulikan Sasuke sekali pun Sasuke selalu menjahatinya, ia terlihat sangat cemas seolah ada syaraf di jari Sasuke yang putus karena sejak beberapa detik lalu masih tidak juga mengeluarkan jemari Sasuke dalam mulutnya.

Sasuke merasa dipedulikan seseorang yang bahkan tidak mengenalnya…

Dan itu… membuatnya hangat. Sasuke merasa dadanya semakin menghangat.

"Kau baik—baik saja?" Tanya Naruto saat tidak ada lagi darah yang keluar dari jemari Sasuke. Ia segera meludah ke wastafel lalu berkumur, setelahnya Naruto tetap menyempatkan diri mencucikan jari Sasuke yang terluka lagi.

"Kau punya kotak P3K?"

"Sepertinya ada di dalam laci belakang kepalamu."

Naruto mengangguk tanpa memedulikan jawaban Sasuke yang bisa masuk kategori kasar. Ia segera berbalik membuka laci itu kemudian menemukan kotak yang Sasuke maksudkan. Sedetik kemudian ia menarik Sasuke ke sofa. Ia mendudukkan Sasuke dengan cara mendorongnya kemudian ikut duduk di sisinya.

Tidak menyadari semua pasang mata kini menatap mereka berdua, Naruto hanya fokus pada kotak P3K yang dia buka, menemukan obat antiseptik kemudian mengambil kapas dan meneteskannya. Merasa kapas yang dipegangnya sudah cukup basah, ia menarik tangan Sasuke dan mengolesi luka memanjang di tiga jari itu perlahan—lahan.

"Katakan padaku jika sakit, Teme!"

"Hn."

Sasuke memang tidak mengeluh sakit, tapi dilihat dari kedua alisnya yang mendadak berkerut saja sudah cukup menjadi ekspresi bahwa dirinya memang sedang menahan nyeri. Mengetahui hal itu, Naruto semakin mengoleskan kapasnya berhati—hati.

Setelah merasa cukup, Naruto menaruh kapasnya sembarang di atas meja, ia mengambil kapas yang lain kemudian membalutkannya di setiap jemari Sasuke yang luka, untuk merekatkannya, Naruto mengambil perban kemudian mengikat kapas tadi dengan cara memutar.

"Aku tidak tahu kalau kalian sudah menikah."

"Yah, tentu saja kami sudah menik—, apa maksudmu Kak Kyuu?!" Tanya Naruto garang. Menoleh menatap Kyuubi yang sedang menatapnya dengan sorot menghina. Kyuubi hanya menggeleng tidak peduli, kemudian membaca kembali bukunya tanpa memedulikan ekspresi wajah Naruto yang mendadak pucat.

"Kau akan menjadi istri yang baik, Naru." Deidara mengangguk—angguk, belum sempat Naruto menjawab dan balas menghina, Deidara yang memang berkata di ambang pintu itu sudah terlanjur keluar –kabur—.

"DEIDARA!" Naruto berteriak kesal. Sasuke mendadak diam tanpa melakukan apa pun di sisinya, terus menatap ketiga jarinya yang sudah diobati Naruto. Naruto mendelik ke arahnya kemudian melongo. Tidak menyangka Sasuke bisa berekspresi sepolos itu.

"Aku capek, hentikan ini rakun buluk. Kau mau membunuhku?!" kesal Gaara membuat baik Naruto atau pun Sasuke menoleh ke arahnya, meringis bersamaan melihat Gaara yang telungkup dengan napas terengah dan Shukaku masih menaiki punggungnya. Kalau saja tiga orang di dalam ruangan itu tidak melihat kejadian yang terjadi dari awal, pasti mereka akan menduga bahwa dua orang itu sudah melakukan hal yang 'iya—iya'.

"Shu, hentikan. Kau menyakiti Gaara —ttebayo!"

"Dia panda peliharaanku, kau urus saja bebek peliharaanmu sendiri, Pirang!" Shukaku menggidikkan bahunya, dengan tidak tahu dirinya, ia merebahkan diri di atas punggung Gaara sambil nyengir lebar.

"Menyingkir dari atasku, Brengsek!"

"Nyamannya…" Shukaku semakin tidak tahu diri, ia justru mulai menyamankan posisi tidurnya tanpa menyadari bahwa dirinya mulai menghirup aroma tubuh si Sabaku bungsu. Begitu harum dan menyenangkan, Shukaku semakin betah saja meniduri punggung Gaara.

Gaara menghela napas berat. Percuma saja dirinya bicara apa pun, yang ada bukannya mendengarkannya, manusia laknat di atasnya justru akan semakin semena—mena. Hanya buang—buang tenaga.

"Kenapa kau terus menatapku, Teme?" sentak Naruto saat menyadari sejak tadi Sasuke terus memperhatikannya, nyaris tidak berkedip sama sekali. "Apa?!" sentak Naruto kian kesal. Pemuda raven di sisinya itu sama sekali tidak membuka suara.

"Matamu…" Sasuke bergumam serak, tanpa sadar ia mengulurkan tangannya menunjuk mata Naruto. "Softlens?"

"Kau kira aku wanita?" Naruto mendengus. "Ini asli, turunan dari ayahku. Keren bukan? Tidak banyak yang memiliki mata biru serupa langit layaknya aku." Naruto tertawa bangga, menyombongkan matanya sendiri. "HAHAHA! AKU MEMANG LUAR BIASA!" imbuhnya semakin tidak waras.

Sasuke kembali terpaku. Bukan hanya terhipnotis oleh iris mata sebiru langit musim panas milik lawan bicaranya, tapi karena sekali lagi mendengar tawa renyah si blonde yang amat merdu. Seperti nyanyian dari surga, Sasuke nyaris jatuh terbuai dibuatnya.

"Kau memang memiliki mata yang indah." Sasuke berucap jujur. Membuat semua orang yang mendengarnya langsung melotot horror. Tidak menyangka sang Uchiha bungsu akan memuji musuh bebuyutannya sendiri.

Menyadari kini semua mata menoleh kepadanya, Sasuke segera mengutuk diri. Sumpah, bibirnya bergerak sendiri mengungkapkan isi hati. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa sebersit pemikirannya barusan akan dia ucapkan.

"Ya—yah!" Sasuke melanjutkan gugup. Ia berdiri dari kursinya. "Kau memiliki mata yang indah, saking indahnya… aku ingin mencungkilnya lalu melemparkannya ke kandang buaya." Imbuhnya asal.

"TEME!" Naruto berdiri, ia mencengkeram kerah kemeja Sasuke dan menatap onyx di depannya nyalang. "Kau semakin kurang ajar saja pada Namikaze Naruto—sama." Desisnya mengagungkan dirinya sendiri. Ia berdecak kesal saat Sasuke lagi—lagi tidak berkutik di depannya. "Kau akan mendapat hukuman."

"Heh, ayam!" panggil Kyuubi akhirnya, membuat baik Naruto maupun Sasuke menoleh padanya yang masih enak—enakkan berbaring di sofa, mengedarkan pandangan matanya, Kyuubi mendengus dan balas menatap Sasuke lagi. "Di mana istriku?"

"Hah?" Sasuke tidak connect. Ia tidak mengerti apa atau siapa yang Kyuubi maksud? Apa rubah itu sedang bertanya di mana keberadaan istrinya? Mana Sasuke tahu? Dia bahkan tidak tahu kalau Kyuubi sudah menikah.

"Ck!" Kyuubi berdecak kesal. Mengerti Sasuke tampaknya tidak paham tentang siapa yang sedang dirinya cari?

"Itachi—Itachi, ke mana dia? Kenapa aku tidak melihatnya?" akhirnya, Kyuubi menjelaskan.

"Oh." Kyuubi menyahut datar. Sedikit geli pada pemikiran si merah yang sudah terlalu serius dengan permainannya sendiri. Apa Kyuubi benar—benar jatuh cinta pada Itachi?

Entahlah… hanya Tuhan, Kyuubi, dan makhluk—makhluk astral di sekelilingnya saja yang tahu isi hati dari si sulung Namikaze—Uzumaki.

"Hn."

"Itu bukan jawaban, Brengsek!" maki Kyuubi murka. Bicara dengan Sasuke, benar—benar makan hati. Dia mulai berpikir sebenarnya Uchiha bungsu itu hanya seorang autis yang dipaksa masuk sekolah orang—orang normal 'akal' demi menjaga nama baik keluarga Uchiha. "Di mana dia?"

"Mana kutahu? Kau kira aku baby sitter—nya!" Sasuke menjawab menyebalkan. Tidak peduli lagi pada Kyuubi yang nyaris melemparkan tendangan ke wajahnya yang angkuh itu. Bungsu Uchiha menundukkan kepalanya, menatap buntalan perban yang membebat tiga jari tangannya.

Ahh…

Kenapa dia senang sekali, ya?

.

Naysaruchikyuu

.

..

"Itachi."

"Jangan menggangguku." Itachi mengibaskan tangannya, tidak mau diganggu Sasori. Dia rupanya masih sangat merasa bersalah karena kekalahannya beberapa hari lalu, sekarang ini adik semata wayangnya dijadikan babu oleh orang—orang bertampang pembantu –menurut Itachi—.

"Ah, kau ini. Ayo kita keluar, kita cari tempat yang nyaman untuk tiduran." Sasori mengusulkan. Sedikit bosan juga karena Itachi sejak tadi terus memasang wajah murung minta ditelan. "Kau itu seperti baru mendengar kabar kekasihmu mati dimakan Titan saja."

"Sasori…" desis Itachi berbahaya. Dia melemparkan onyx tajamnya menatap Sasori yang nyengir canggung, sadar bahwa gurauannya barusan sama sekali tidak lucu. "Pertama, di dunia kita, tidak ada Titan, kedua, aku belum memiliki kekasih. Paham?"

"Oke." Sasori mengangkat tangannya tinggi—tinggi. Pertanda dia menyerah membujuk Itachi. Sulung Uchiha itu memang sulit sekali diusik kalau sedang badmood. Dan memaksanya disaat seperti ini, bukan sesuatu hal yang bagus untuk keselamatan wajah tampannya yang masih dihinggapi beberapa memar akibat insiden KDRT minggu lalu.

"SAYANGKU!"

Itachi tersentak. Saat panggilan suara mengerikan itu berdendang gaib di kedua telinganya. Ia merasakan akan datangnya kehadiran makhluk orange yang sama sekali tidak dirinya harapkan.

Ciuman 'basah' pemaksaannya minggu lalu, masih menorehkan trauma di dalam benak Itachi. Itachi semakin takut dan bahkan tidak mau lagi berhadapan dengan si rubah,

Sasori menatap ke arah pintu.

"Hei Sasori, aku akan bersembunyi di bawah meja, kau jangan katakan pada siluman itu. Mengerti?"

Sasori mengangguk. Dia tidak berani membantah kecuali sudah tidak sayang nyawa. Meski dalam hatinya dia ingin sekali tertawa karena sikap sang Uchiha sulung yang semakin tertekan karena phobianya. Dia diam saja saat Itachi sudah bersembunyi di kolong meja, beberapa detik kemudian Kyuubi masuk dan melenggang santai menghampiri Sasori.

"Mana istriku?"

Sasori memutar kedua bola matanya –annoyed. Sedikit geli dengan pernyataan Kyuubi. Pemuda itu lama—lama memang semakin keterlaluan. Ia mulai merasa bahwa si sulung Namikaze itu memang sduah ada hati pada sahabat karibnya.

Dasar homo! Batin Sasori dalam hati. Tidak menyadari bahwa dirinya juga menyandang predikat yang sama akibat cinta rabunnya pada Deidara.

"Kau jangan mencoba menghasut istriku untuk berselingkuh denganmu, gundul!"

"Kau yang gundul!" Sasori memaki sinis. Tidak terima seenaknya saja dia dikatai gundul. Rambut merahnya masih bertengger baik di atas kepalanya, apa si Namikaze itu buta? Ia menatap Kyuubi tajam, tatapan yang amat meremehkan. "Itachi tidak ada di sini. Sana, kau cari saja dia di luar."

"Huh?" Kyuubi berdecih. Menatap Sasori tidak percaya. Ia yakin Itachi ada di sekitar sini. Karena itu, ia mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menyapu pemandangan dalam kelas yang sudah sepi. Ini waktu istirahat, jadi wajar saja semua murid di kelas ini mengungsi ke kafetaria. "Bau—bau perselingkuhan bisa kutangkap dengan jelas di sini. Aku bahkan bisa menghirup aroma parfum istriku sendiri." Imbuhnya sambil mengendus—ngendus.

Mendengar itu, sosok raven yang berada di bawah meja merinding. Ia sedikit memundurkan badannya agar keberadaannya tidak ditemukan si Namikaze. Terus merapalkan doa pengusir setan yang semoga saja juga berfungsi untuk mengenyahkan setan jadi—jadian.

"MANA ISTRIKU?!" teriak Kyuubi sinting. Menggebrak meja seenak udelnya membuat Sasori nyaris melompat dari tempatnya. Itachi berjengit kaget di kolong meja. Untung dia memiliki refleks yang bagus sehingga kepalanya tidak terbentur. "Berani—beraninya kau menggoda istriku yang seksi." Dia semakin ngawur.

Kyuubi melirik ke bawah, melihat sedikit pergerakan meski tidak kentara. Dia tersenyum sinis, sebersit ide jahil mulai muncul di kepalanya yang seolah memiliki dua tanduk. Kini ia sudah tahu di mana keberadaan Itachi.

"CILUKBA!"

"HUAAAA!"

DUG!

"MUAHAHAHAHAHAHA!"

TBC

Oke, Nay tau lama banget lanjut chap ini. Berapa bulan ya? Huehehehe. Masih pendek ya. Maklum, namanya bangkit dari hiatus kan emang susah—susah gimana gitu?

Ini adalah ff penutup buat Naruto Birthday kemarin. Semoga feelnya gak terlalu meleset aja. Nay juga gak yakin sih. heheu.

Makin ke sini kapasitas humornya emang bakalan makin berkurang, jadi maklum kalo udah gak selucu kemarin—kemarin.

Untuk sekarang Nay belum bisa bales review dulu. Gomen.

Semoga chap selanjutnya gak terlalu ngaret.

RnR Peliis?

Trims