"Kau sudah membacanya?"

Sehun mendekat, berdiri tepat di sebelah Baekhyun yang masih tampak sesenggukkan. Matanya merah, hidungnya apalagi. Dia tampak sangat berduka.

Anggukan pelan menjadi jawab atas tanya Sehun. Baekhyun terlalu enggan untuk berkata lebih.

"Dia bodoh,"

Sehun mengumpat pelan sambil terus mengusap bahu Baekhyun. Mencoba menguatkan. Barangkali bisa.

Tapi tidak. Mana mungkin kau akan semudah itu berdiri kuat saat datang ke upacara pemakaman orang yang kau kenal? Terlebih itu terjadi beberapa jam setelah kau menikah.

Baekhyun tak sekuat itu.

Gundukan tanah dihadapannya masih basah, masih baru. Begitu juga dengan air mata Baekhyun yang terus membasahi pipinya. Luka yang dirasa, masih segar.

Baekhyun tidak mau kehilangan secepat ini. Meski dia tak sungguh mencintai, tapi setidaknya Baekhyun juga ingin orang ini hidup bahagia.

Dengan ataupun tanpa dirinya.

Sesederhana itu.

Tapi siapa sangka bahagia yang ingin Baekhyun beri justru di nilai sulit oleh Sang Kuasa?

Dia, orang itu, menolak bahagia seperti yang Baekhyun inginkan. Menolak hidup dengan terus menahan sesak atas kenyataan orang yang dicinta tak pernah benar-benar mencintanya.

Jadi untuk apa dia hidup jika tak lagi ada yang diharapkan?

"A-aku pikir, setelah dia p-pamit, dia akan pulang ke rumah. Bukan kesini,"

Baekhyun kembali menangis. Terbayang di benak, saat sosok tinggi itu pamit untuk pulang lebih dulu. Langkahnya pelan, seperti enggan pergi tapi juga enggan terus di sisi.

"Siapa yang tahu apa yang tengah otaknya pikirkan,"

Sehun menyahut sambil terus berdiri tegap menopang Baekhyun yang bisa kapan saja tumbang.

"Dia gila. U-untuk apa menabrakkan mobilnya ke kereta? Apa dia pikir itu hebat?"

Baekhyun yang mulai emosi membuat Sehun mulai kewalahan. Tapi mau bagaimanapun, Baekhyun ini teman baiknya dan Chanyeol. Jadi sudah sepantasnya dia menjaga pemuda ini.

"Kau tahu, Hun? Bajingan ini mengirimiku banyak pesan. T-tapi aku tak tahu. A-aku masih sibuk. Dia pamit dan berkata akan terus mencintaiku selamanya,"

Itu nyata. Sehun tahu. Bunyi pesan itu adalah fakta. Benar. Baekhyun akan terus dicintai meski yang mencinta tak lagi punya raga.

"A-aku yang membunuhnya. Aku membiarkan dia pergi. A-aku penyebab dia mati,"

Emosi Baekhyun semakin menjadi. Ketidakrelaannya membuat dia gila. Bagaimanapun, Baekhyun ingin dia hidup dan bahagia. Bukan mati dan membuatnya semakin lara.

"Berhenti, Baek,"

Chanyeol mendekat. Mengambil alih Baekhyun yang masih lemas bersandar pada Sehun.

"Dia tak akan bahagia bila kau terus begini,"

Chanyeol mundur selangkah sebelum membawa Baekhyun pergi dari area pemakaman yang sudah sepi sedari tadi.

Sehun di belakang sana masih terus memandang kedua punggung temannya yang menjauh.

"Dari awal aku seharusnya tahu. Kemanapun kau pergi, kau akan kembali pada Chanyeol,"

Mendongak menatap langit, mencoba menahan likuid yang siap jatuh kapan pun. Berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menatap gundukan tanah basah.

"Kau seharusnya tak terlibat dalam drama ini, Yunha,"

.

.

END

.

.

Hayooo, siapa yang nebak part kemarin itu part terakhir? Ciyeee ketipuu.

Ingat!! Jangan mengumpat. Kan hari kemerdekaan Indonesia, masa mau di isi dengan mengumpat.

See ya di story selanjutnya.

Jangan bosan untuk terus mampir dan review.

Phay-phay