PS: Sebelumnya Author mau minta maaf karena tadinya cerita ini akan berakhir di chapter 9 tapi ternyata plot berubah. Project yang lama hilang padahal cerita sudah jadi. Tinggal tambahan sedikit, tapi krakkk laptop rusak dan mati. Jadilah harus mulai dari awal. Rasanya ingin berkata kasar tapi... ah sudahlah. Mulai dari chapter 9 seharusnya sudah masuk trilogi ke-2. Tapi disini author mencoba untuk memendekan alur cerita supaya tidak terlalu banyak chapter kkk. Sekali lagi maaf karena di chapter2 sebelumnya banyak sekali typo yang tidak jelas dan terima kasih atas review kalian. Sumpah author sangat terharu masih ada yang menunggu cerita ini dan maaf jika author ini banyak sekali mengecewakan kalian. Terakhir terima kasih atas dukungan kalian. Aku menciantai kalian. Salam hangat dariku *bawa daejae pulang kerumah *ditimpuk BABYs.
.
.
.
ANYEONG YEOROBEUN
HOPE YOU ENJOY TO READ IT
NO FLAME | NO BASHING | PLEASE COMMENT
.
Title
Fifty Shade of Jung 10
Length
N - chapter
Rating
PG-18 (M)
Genre
ROMANCE, ANGST, SMUT, YAOI, BOYXBOY
(DON'T LIKE, DON'T READ)
Author
RUKA17
Main Cast
JUNG DAEHYUN, YOO YOUNGJAE
Disclaimer
THIS FANFICTION IS MINE!
Warning
DIRTY TALK! CURSING! Tidak patut dicontoh!
Bukan bacaan untuk bocah. Ini serius! Under 18 must be not read it!
.
.
.
.
Salah satu keuntungan tidak mempunyai mobil adalah selama perjalanan di dalam bis menuju tempat kerja, aku bisa memasang headset ke iPadku yang tersimpan dengan aman di dalam tas dan mendengarkan semua lagu-lagu indah dari Daehyun yang dia berikan padaku semalam. Saat aku tiba di kantor, aku menarik senyum lebar. Chanyeol langsung bereaksi saat memandang ke arahku.
"Selamat pagi, Youngjae. Kau terlihat berseri-seri," Aku merasakan rona merah naik diwajahku. Ya ampun, aku malu.
"Akhirnya aku bisa tidur nyenyak, terima kasih, Chanyeol-ah dan selamat pagi." Alisnya berkerut.
"Bisakah kau membacakan ini untukku dan tolong, kirim hasil laporannya setelah makan siang" Dia menyerahkan empat naskah laporan padaku. Saat ekspresiku tampak terkejut, ia menambahkan, "Hanya bab pertama."
"Tentu," aku tersenyum lega, dan dia membalas dengan tersenyum lebar.
Aku menyalakan komputer untuk memulai pekerjaan, menghabiskan americano-ku dan makan pisang.
Kling. Tiba-tiba ada e-mail dari Daehyun.
.
Dari: Daehyun
Perihal: Tolong Aku
Untuk: Youngjae
Aku harap kau sudah sarapan. Aku rindu padamu semalam.
Jung Daehyun CEO, Jung Enterprises Holdings Inc
.
Dari: Youngjae
Perihal: Lagu Lama
Untuk: Daehyun
Aku sedang makan pisang saat mengetik. Aku tidak pernah sarapan beberapa hari ini. Aku suka Aplikasi British Library. Aku mulai membaca ulang Robinson Crusoe dan tentu saja aku mencintaimu. Sekarang kumohon tinggalkan aku sendiri. Aku mencoba untuk bekerja.
.
Dari: Daehyun
Perihal: Hanya itu saja yang kau makan?
Untuk: Youngjae
Kau bisa makan lebih baik dari itu. Kau membutuhkan energi...untuk memohon padaku nanti
Jung Daehyun CEO, Jung Enterprises Holdings Inc
.
Shit! Dia memulai lagi.
.
Dari: Youngjae
Perihal: Pengganggu
Untuk: Daehyun
Tuan Jung yang terhormat, aku mencoba bekerja untuk mencari nafkah…dan kau yang akan memohon bukan aku.
.
Dari: Daehyun
Perihal: Siap Terima Tantangan!
Untuk: Youngjae
Ah aku menyukai tantangan.
Jung Daehyun CEO, Jung Enterprises Holdings Inc
.
Aku duduk tersenyum menatap layar seperti seorang idiot. Tapi aku perlu membaca laporan ini untuk Chanyeol dan menulis semua laporan. Aku menempatkan naskah di mejaku dan mulai mengerjakannya. Saat jam makan siang aku menuju ke kedai makanan untuk membeli sepotong sandwich dan mendengarkan lagu-lagu dari iPad-ku. Lagu pertama – Her dari 'Block B'. Oh, ternyata dia memiliki selera humor juga, dan aku menyukainya untuk itu. Aku kembali tersenyum. Kapan seringai bodoh ini pergi meninggalkan wajahku? Ah, sore ini terasa berjalan sangat lambat. Aku memutuskan untuk kembali mengirim e-mail untuk Daehyun.
.
Dari: Youngjae
Perihal: Bosan
Untuk: Daehyun
Bagaimana kabarmu? Apa yang sedang kau lakukan?
.
Dari: Daehyun
Perihal:Bosan
Untuk: Youngjae
Kau seharusnya bekerja ditempatku. Kau tidak akan bosan. Aku yakin. Aku sedang melakukan kegiatan memeriksa laporan yang sangat menjemukan seperti biasanya. Semuanya sangat membosankan.
.
Aku terkekeh melihat balasan email darinya. Tepat pukul lima tiga puluh, Chanyeol berada di mejaku. Ia menggunakan pakaian santainya, celana jeans dengan kemeja hitam. Dia terlihat kasual.
"Kami akan pergi minum. Biasanya kami suka jalan ke club di seberang jalan."
"Kami?" Aku bertanya, penuh dengan harapan.
"Ya, sebagian besar dari anggota kita biasanya ikut pergi. Kau jadi ikut kan youngjae?" Untuk beberapa alasan yang tidak jelas, aku tak ingin mengkaji terlalu mendetail, tapi aku merasa sangat lega.
"Tentu saja. Apa nama club-nya?"
"50."
"Kau bercanda." Dia menatapku dengan aneh.
"Tidak. Apa nama itu punya arti untukmu?"
"Tidak, maaf. Aku akan bergabung denganmu di sana."
"Apa yang ingin kau minum?"
"Beer or wine"
"Keren."
"Aku ke toilet sebentar"
Aku mengirim e-mail untuk Daehyun dari ponselku.
.
Dari: Youngjae
Perihal: Kau Pasti Benar-benar Cocok Di Sini
Untuk: Daehyun
Kami akan pergi ke club namanya 'Fifty'. Apa ini sebuah lelucon? *emoticon tertawa* Aku berharap bisa bertemu denganmu di sana, Tuan Jung.
.
Dari: Daehyun
Perihal: Bahaya
Untuk: Youngjae
Hati-hati disana berbahaya. Aku akan segera bertemu denganmu. Lebih cepat lebih baik, sayang.
Jung Daehyun CEO, Jung Enterprises Holdings Inc
.
Aku memeriksa diriku di cermin. Ada perbedaan dari diriku yang sekarang. Aku memiliki warna merah yang lebih di pipiku, dan mataku bersinar. Apa ini akibat dari efek yang diberikan oleh Daehyun? Apa sedikit berdebat di e-mail dengannya akan memberi efek seperti itu untuk seorang Yoo Youngjae? Aku menyeringai pada cermin dan meluruskan kemeja biru mudaku. Hari ini aku juga mengenakan jeans favoritku.
Saat aku berjalan keluar gedung, aku mendengar namaku dipanggil. "Tuan Yoo?" Penasaran dan aku pun berbalik, dan seorang wanita muda bermuka pucat mendekatiku dengan hati-hati. Dia tampak seperti hantu, begitu pucat dan aneh. Tatapannya kosong. "Tuan Yoo Youngjae?" Dia mengulangi, wajahnya kaku dan datar meski dia berbicara.
"Ya?" Dia berhenti, menatapku berjarak sekitar tiga kaki dari trotoar, dan aku membalas menatapnya, tidak mampu bergerak. Siapa dia? Apa yang dia inginkan?
"Ada yang bisaku bantu?" Aku bertanya. Bagaimana dia tahu namaku?
"Tidak. Aku hanya ingin melihatmu." Suaranya lembut menakutkan. Seperti aku, dia memiliki rambut hitam yang sungguh kontras dengan warna kulitnya. Matanya berwarna coklat, seperti minuman bourbon, ekspresinya datar. Sama sekali tidak ada kehidupan di dalamnya. Wajahnya cantik, pucat, yang terukir dalam kesedihan.
"Maaf, kau menemuiku disaat yang tidak menguntungkan," kataku sopan, mencoba untuk mengabaikan peringatan yang menggelitik tulang belakangku. Jika dilihat lebih dekat, dia tampak aneh, berantakan dan tidak terawat. Ukuran pakaiannya dua kali lebih besar, termasuk ukuran mantelnya. Dia tertawa, aneh, suaranya sumbang yang hanya membuatku bertambah cemas. "Apa yang kau punya yang tidak aku punya?" Tanya dia sedih. Kecemasanku berubah menjadi takut.
"Maaf, siapa anda?"
"Aku? Aku bukan siapa-siapa." Dia mengangkat tangannya untuk menyibakkan rambut panjangnya kebahu, saat dia melakukan itu, otomatis lengan mantelnya ketarik keatas, memperlihatkan perban yang kotor di sekeliling pergelangan tangannya. Ya ampun.
"Selamat sore, Tuan Yoo." Dia berbalik dan berjalan menuju jalanan saat aku berdiri terpaku. Aku menyaksikan saat tubuh kecilnya menghilang dari pandangan, menghilang diantara para pekerja yang baru keluar dari berbagai kantor mereka. Sebenarnya tadi itu apa? Dengan bingung, aku menyeberang jalan menuju bar, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, sementara alam bawah sadarku menegakkan kepalanya yang jelek dan mengejek padaku. Apa dia ada hubungannya dengan Daehyun?
.
.
.
Fifty adalah sebuah club seperti pada umumnya dengan lampu germelap dan poster yang tergantung di dinding. Chanyeol sudah berada di disana bersama Irene, seorang editor juga, dua pria dari bagian keuangan, dan Hyosung dari bagian resepsionis. Dia seperti biasa memakai anting-anting bulat yang terbuat dari perak.
"Hai, Youngjae!" Chanyeol memberiku sebotol Beer.
"Cheers… dan terima kasih," gumamku, aku masih terguncang oleh pertemuanku dengan gadis hantu tadi.
"Cheers." Kami saling mendentingkan botol, dan ia meneruskan berbicara dengan Irene.
Hyosung tersenyum manis padaku. "Jadi, bagaimana minggu pertamamu selama ini?" Tanyanya.
"Baik, terima kasih. Tampaknya semua orang sangat ramah."
"Kau terlihat lebih bahagia hari ini." Mukaku memerah.
"Ya, dan sekarang hari Jumat" gumamku dengan cepat. "Jadi, apa kau punya rencana akhir pekan ini?" ini caraku untuk mengalihkan perhatianku. Hyosung ternyata salah satu dari tujuh bersaudara, dan dia bersama keluarga besarnya tinggal di Ilsan. Dia menjadi agak bersemangat, dan aku menyadari bahwa aku belum pernah berbicara dengan wanita yang seumuran denganku ini.
Selama percakapanku dengan Hyosung, Irene menawarkan beer lagi. "Terima kasih," aku tersenyum padanya. Hyosung sangat mudah untuk diajak bicara - dia orang yang ramah - dan tanpa kusadari, aku sudah minum beer yang ke tiga saat aku berbasa-basi dengan salah seorang pria dari keuangan, Mark.
Chanyeol yang kini berada disampingku bertanya "Youngjae-ah, apa kira-kira kau membuat keputusan yang tepat bekerja disini?" Suara Chanyeol lembut, dan dia duduk agak terlalu dekat. Tapi aku memang sudah memperhatikannya sejak lama bahwa ia punya kecenderungan untuk melakukan hal ini dengan semua orang, bahkan di kantor. Alam bawah sadarku berkata. Kau menafsirkan terlalu banyak dalam hal ini, ia memperingatkan aku.
"Aku merasa senang minggu ini, terima kasih, Chanyeol-ah. Ya, aku pikir aku membuat keputusan yang tepat."
"Kau pria yang sangat cerdas, Youngjae. Kau akan cepat sukses."
Aku malu. "Terima kasih," gumamku, karena aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan.
"Jauhkah tempat tinggalmu?"
"Gangnam."
"Tidak jauh dari tempatku." Sambil tersenyum, ia bergerak lebih dekat dan bersandar di dekat bahuku, secara efektif aku terperangkap.
"Apa kau punya rencana akhir pekan ini?"
"Yah... ummm…" ucapanku terhenti
Aku bisa merasakannya. Seolah-olah seluruh tubuhku sangat selaras dengan kehadirannya. Rasa menenangkan dan terbakar pada saat bersamaan - dua sisi internal yang aneh - dan aku merasakan seperti ada denyutan listrik. Daehyun menempatkan tangannya di bahuku seperti kebiasaannya memamerkan tanda sayang - tapi aku tahu ini berbeda. Dia ingin memperlihatkan bahwa aku miliknya, dan saat ini aku menerima dengan senang hati. Dengan lembut ia mencium rambutku.
"Halo, Sayang," bisiknya.
Aku tidak bisa tidak merasa sangat lega, merasa aman, dan senang karena lengannya ditempatkan di bahuku. Dia menarikku ke sisinya, dan aku melirik ke arahnya saat ia menatap Chanyeol, ekspresinya tenang. Berpaling, dia menatapku, tersenyum miring sebentar diikuti dengan sekilas kecupan. Dia mengenakan jaket jeans biru, celana jeans hitam dan t-shirt putih yang menempel pas didada bidangnya. Dia tampak mempesona.
Chanyeol terlihat tidak nyaman. "Hmm..maaf Chanyeol, ini Daehyun," bisikku minta maaf. Mengapa aku minta maaf?
"Daehyun, ini Chanyeol."
"Aku kekasihnya," kata Daehyun sambil tersenyum agak dingin yang tidak sampai menyentuh matanya saat dia menjabat tangan Chanyeol. Aku melirik Chanyeol yang secara psikis sedang mengukur kemampuan orang yang sedang berada di depannya.
"Aku bosnya," jawab Chanyeol arogan. "Youngjae pernah menyebut Anda sebagai mantan kekasih." Oh, sialan. Kau pasti tak ingin bermain-main dengan Daehyun.
"Yah, sekarang bukan mantan lagi," jawab Daehyun dengan tenang. "Ayo, sayang, saatnya pergi."
"Tolong, tinggallah dan bergabung dengan kami untuk minum," kata Chanyeol lancar. Aku tidak berpikir itu ide yang baik. Mengapa rasanya tidak begitu nyaman? Aku melirik Hyosung, yah, tentu saja dia terang-terangan sedang menatap pria disampingku, mulutnya menganga melihat Daehyun. Kapan aku akan berhenti memikirkan efek dia terhadap perempuan atau pria lain?
"Kami sudah punya rencana lain," balas Daehyun dengan senyum penuh teka-teki. Kami punya rencana? Dan getaran penuh harap menjalar di seluruh tubuhku. "Mungkin, lain waktu," tambahnya. "Ayo," katanya padaku saat ia menggenggam tanganku.
"Sampai ketemu hari Senin." Aku tersenyum pada Chanyeol, Hyosung, Irene dan cowok-cowok lainnya dari bagian keuangan, berusaha keras untuk mengabaikan ekspresi Chanyeol yang kurang senang, dan mengikuti Daehyun keluar pintu.
Jongup menunggu dibalik kemudi Audi di pinggir jalan. "Mengapa itu tadi seperti kompetisi buang air kecil?" Aku bertanya pada Daehyun saat ia membuka pintu mobil untukku. "Karena itu harus," bisiknya dan memberiku senyum misterius lalu menutup pintuku.
"Hai, Jongup-ah," kataku saat mata kami bertemu di spion dalam mobil.
"Selamat malam Tuan Yoo," Jongup menjawab dengan senyum ramah.
Daehyun duduk di sampingku, menggenggam tanganku, dan dengan lembut mencium buku-buku jariku. "Hai," katanya lembut. Pipiku bersemu merah muda, menyadari bahwa Jongup bisa mendengar kami, bersyukur bahwa dia tidak bisa melihat, sepertinya Daehyun bisa membuat celana dalamku terbakar. Aku berusaha untuk menahan diri supaya tidak melompat padanya di sini, di kursi belakang mobil. Oh, kursi belakang mobil…hmm. Aku merenung dengan tenang sambil membelai dagunya dengan lembut.
"Hai," aku mengambil napas, mulutku kering. "Apa yang ingin kau lakukan malam ini?"
"Kau bilang kita punya rencana."
"Oh, aku tahu apa yang aku ingin lakukan, Youngjae. Aku bertanya padamu apa yang ingin kau lakukan." Aku tersenyum padanya. "Aku tahu," katanya sambil menyeringai nakal dan mesum. "Jadi… Apa kau ingin memohon di tempatku atau tempatmu? "Dia memiringkan kepalanya ke satu sisi dan tersenyum. Oh damn. senyumnya yang begitu seksi ditujukan padaku.
"Aku rasa kau menjadi sangat sombong, Tuan Jung. Tapi daripada merubah arah, kita bisa pergi ke apartemenku saja."
Aku menggigit bibir dengan sengaja, dan ekspresinya menjadi lebih gelap. "Jongup, tolong ke antar kami ke tempat Youngjae." Ujarnya segera
"Yes, Sir," Jongup menjawab dan pandangannya menatap lalu lintas.
"Jadi bagaimana dengan harimu?" Tanya dia.
"Baik. Dan kau?"
"Baik, terima kasih." Senyumnya lebar bercampur geli sepertiku, dan dia mencium tanganku lagi. "Kau tampak menarik," katanya.
"Kau juga."
"Bosmu, Chanyeol, apa pekerjanya baik?" Whoa! Kenapa tiba-tiba arah pembicaraan berubah? Aku mengerutkan kening. "Kenapa? Ini bukan tentang kompetisi buang air kecilmu kan?" Daehyun nyengir.
"Pria itu ingin masuk ke celana dalammu, Youngjae," katanya datar. Mukaku merah padam, mulutku menganga, dan aku melirik gugup pada Jongup.
Aku menghirup napas panjang, terkejut. "Yah, dia bisa menginginkan semua yang dia suka. Mengapa kita memiliki pembicaraan seperti ini? Kau tahu aku sama sekali tidak tertarik padanya. Dia hanya bosku."
"Itulah intinya. Dia ingin apa yang menjadi milikku. Aku perlu tahu apa dia baik dalam pekerjaannya." Aku mengangkat bahu. "Aku kira begitu." Kemana arah pembicaraannya? "Yah, sebaiknya dia membiarkanmu sendirian, atau dia akan menemukan pantatnya di pinggir jalan."
"Oh, Daehyun, apa yang kau bicarakan? Dia tidak melakukan kesalahan apapun."
Tapi dia hanya berdiri terlalu dekat denganku. Batinku.
"Kau harus mengatakan padaku, jika dia melakukan kejahatan moral atau pelecehan seksual."
"Itu hanya minum sepulang kerja."
"Aku serius. Satu gerakan, dia langsung keluar."
"Kau tidak punya kekuasaan semacam itu." Yang benar saja! Tapi sebelum aku sempat memutar mata ke arahnya, kesadaran memukulku seperti kekuatan truk barang yang sedang ngebut. "Apa kau punya kekuasaan itu, Daehyun?" Daehyun memberiku senyum penuh teka-teki.
"Kau membeli perusahaannya?" bisikku ngeri. Senyumnya terlepas dalam menanggapi suaraku yang panik. "Tidak persis seperti itu. Aku ingin kau aman."
"Tapi kau bilang kau tidak akan ikut campur dalam pekerjaan dan karirku!"
"Dan aku tidak melakukan itu." Aku menarik tanganku keluar dari tangannya. "Daehyun. . ." Aku tidak bisa meneruskan kata-kataku. "Apa kau marah padaku?"
"Ya. Tentu saja aku marah padamu."
Aku seperti mendidih. "Maksudku, tanggung jawab eksekutif bisnis macam apa yang membuat keputusan berdasarkan dengan siapa mereka biasa berhubungan intim?" aku langsung pucat dan melirik kembali dengan gelisah pada Jongup yang tampak tenang yang mengabaikan kami. Sial! Waktu yang tak tepat saat otak dan mulut mengalami malfungsi penyaringan.
Daehyun membuka mulutnya kemudian menutupnya lagi dan merengut padaku. Aku menatapnya tajam. Suasana di dalam mobil langsung berubah dari reuni hangat yang menyenangkan menjadi dingin dengan kata-kata yang tak terucap dan berpotensi saling menuduh saat kami saling menatap dengan marah. Untunglah, perjalanan mobil kami yang tidak nyaman ini tidak berlangsung lama, dan Jongup menghentikan mobil di depan apartemenku. Aku langsung keluar dari mobil, tidak menunggu siapa pun untuk membukakan pintu. Aku mendengar Daehyun bergumam pada Jongup, "Aku pikir sebaiknya kau menunggu disini." Aku merasa dia berdiri mendekat di belakangku saat aku berusaha untuk menemukan kunci pintu depan di dalam tasku. "Youngjae," katanya dengan tenang seakan-akan aku binatang liar yang terpojok. Aku menghela napas dan berbalik untuk melihatnya. Aku sangat marah padanya, kemarahanku sangat jelas berwujud gelap yang mengancam akan mencekik lehernya.
"Pertama, aku sudah lama tidak berhubungan intim denganmu yang rasanya sudah sangat lama. Dan kedua, aku ingin mencoba masuk ke dunia penerbitan. Dari empat perusahaan di Seoul, perusahaan tempatmu bekerjalah yang paling menguntungkan, karena sudah berada di titik puncak, perusahaan itu tidak akan mengalami kemajuan makanya perlu dikembangkan." Aku menatap dingin padanya. Matanya begitu intens, bahkan mengancam, tapi seksi. Aku bisa tersesat di kedalaman matanya. "Jadi sekarang kau adalah bosku?" aku menaikan nada suaraku.
"Secara teknis, aku adalah bos dari bosmu itu."
"Dan, secara teknis, itu adalah kejahatan moral yang kotor. Faktanya aku sudah tidur dengan bos dari bosku."
"Saat ini, kau sedang bertengkar dengannya." Jawab Daehyun dengan cemberut.
"Itu karena dia sangat bodoh seperti seekor keledai," Aku mendesis. Daehyun tertegun melangkah mundur dengan kaget. Oh sial. Apa aku sudah terlalu jauh?
"Seekor keledai?" Gumamnya, ekspresinya berubah menjadi lucu. Brengsek! Aku marah padamu, jangan membuat aku tertawa!
"Ya." Aku berjuang untuk mempertahankan penampilanku yang sedang marah.
"Seekor keledai?" Kata Daehyun lagi.
Kali ini bibirnya berkedutan menahan senyum.
"Jangan membuatku tertawa saat aku marah padamu!" Teriakku. "Aishhh, menyebalkan." Dan dia tersenyum, mempesona, memperlihatkan semua giginya, dan aku tidak bisa menahannya. Aku tersenyum dan tertawa juga. Bagaimana aku tidak bisa terpengaruh kegembiraan saat ini ketika aku melihatnya tersenyum?
"Hanya karena aku memiliki senyum sialan bodoh di wajahku ini tidak berarti aku tidak marah besar padamu," gumamku terengah-engah, mencoba untuk menekan cekikikan.
Dia bersandar, dan aku pikir dia akan menciumku tapi dia tidak melakukannya. Dia mengendus rambutku dan menghirup dalam-dalam. "Seperti biasa, Youngjae, kau tidak bisa diduga." Dia bersandar dan menatapku, matanya menari dengan humor. "Jadi, apa kau mau mengundangku masuk, atau apa aku akan disuruh pergi hanya karena aku berlatih menggunakan hak demokrasi yang benar sebagai pengusaha dan konsumen, untuk membeli apapun yang aku inginkan?"
"Apa kau sudah bicara dengan direksi tentang ini?" Dia tertawa. "Apakah kau akan membiarkan aku masuk atau tidak, Youngjae?" Aku mencoba untuk terlihat enggan dengan menggigit bibirku tapi aku tersenyum saat aku membukakannya pintu.
Daehyun menoleh dan melambaikan tangan pada Jongup, dan Audi hitam itu berjalan pergi. Sungguh aneh rasanya ada Daehyun di dalam apartemenku. Tempat ini terasa terlalu kecil untuknya. Aku masih marah padanya sifat penguntitnya tidak mengenal batas, dan aku baru sadar, bagaimana ia tahu tentang perusahaanku? Dia mungkin tahu lebih banyak tentang perusahaan tempatku bekerja daripada aku. Pikiran itu membuatku tidak nyaman.
Apa yang bisa aku lakukan? Mengapa ia perlu menjagaku supaya aman? Aku sudah dewasa. Ya ampun. Apa yang bisa aku lakukan untuk meyakinkan dia? Aku menatap wajah tampannya saat ia melangkah masuk kedalam ruangan seperti predator yang terkurung, dan kemarahanku jadi mereda. Melihat dia di sini, didalam ruanganku, aku pikir suasana hati kami menjadi hangat. Lebih dari hangat, aku mencintainya, dan hatiku membengkak dengan gelisah, kegembiraan yang memabukkan. Dia melihat sekeliling, menilainya. "Tempat tinggal yang nyaman," katanya. "Orang tua Kyoungsoo membelinya untuk dia." Dia mengangguk dengan bimbang, dan mata abu-abunya sangat tegas menatapku.
"Errr. Apa kau ingin minum? "gumamku, mukaku memerah dengan gelisah. "Tidak, terima kasih, Youngjae." Matanya bertambah gelap. Oh sial. Mengapa aku begitu gelisah?
"Apa yang ingin kau lakukan, Youngjae?" Tanya dia lembut saat ia berjalan ke arahku, semua tampak liar dan panas. "Aku tahu apa yang ingin aku lakukan," tambahnya dengan suara rendah. Aku mundur sampai membentur meja dapur yang terbuat dari beton.
"Aku masih marah padamu tuan Jung."
"Aku tahu. Maaf." Dia tersenyum dengan senyum miring meminta maaf dan aku meleleh. Yah, mungkin tidak begitu marah. "Apa kau ingin sesuatu untuk dimakan?" Aku bertanya. Dia mengangguk perlahan. "Ya. kau," bisiknya. Bagian bawah tubuhku langsung menegang. Aku tergoda mendengar suaranya, terlihat lapar dan matanya seperti berkata – aku sangat menginginkanmu sekarang – Oh. Dia berdiri di depanku, sama sekali tidak bersentuhan, menatap ke dalam mataku dan merendamku dengan panas yang terpancar dari tubuhnya. Aku merasa gerah, bingung, dan kakiku seperti jelly saat keinginan gelap melewati tubuhku. Aku menginginkan dia. "Kau makan apa hari ini?" Bisiknya.
"Aku makan siang dengan sandwich," bisikku. Aku tidak ingin membicarakan masalah makanan. Dia menyipitkan matanya. "Kau harus makan."
"Sekarang aku benar-benar tidak lapar untuk makanan."
"Apa yang kau laparkan, Youngjae?"
"Aku pikir kau sudah tahu, Daehyun." Dia membungkuk, dan sekali lagi kupikir dia akan menciumku, tapi dia tidak melakukan. "Apa kau ingin aku menciummu, Youngjae?" Bisiknya lembut di telingaku.
"Ya," aku menarik napas.
"Dimana?" lanjutnya.
"Di seluruh tubuhku."
"Kau harus sedikit lebih spesifik dari itu. Aku bilang aku tidak akan menyentuhmu sampai kau memohon padaku dan katakan padaku apa yang harus kulakukan." Jiwaku menggeliatkan tubuhnya diatas kursi malasnya. Aku kalah. Dia bermain curang. "Kumohon," bisikku.
"Mohon apa sayang?"
"Sentuh aku."
"Di mana, sayang?" Dia begitu dekat sangat menggoda, aromanya memabukkan. Aku mengulurkan tangan, dan dia segera mundur kebelakang. "Tidak, jangan," tegurnya. Tiba-tiba matanya melebar dan gugup.
"Apa?" Tidak. Ku mohon kembalilah.
"Jangan." Dia menggeleng. "Tidak sama sekali?" Aku tidak bisa menahan kerinduan keluar dari suaraku. Dia menatapku dengan ragu, dan aku semakin berani karena kebimbangannya. Aku melangkah ke arahnya, dan dia melangkah mundur sambil mengangkatkan tangannya untuk bertahan tapi sambil tersenyum.
"Jangan, Youngjae." Ini adalah peringatan, dan tangannya mengacak-acak rambutnya dengan putus asa. "Kadang-kadang kau tidak keberatan," aku melihatnya dengan sedih. "Mungkin aku harus mengambil spidol, dan kita bisa memetakan daerah yang tidak atau boleh disentuh."
Dia mengangkat alis. "Itu bukan ide yang buruk. Dimana kamar tidurmu?" Aku mengangguk ke arah kamar tidurku. Apa dia sengaja mengubah topik pembicaraan?
"Ayo, mari kita cari sesuatu untuk dimakan."
Oh tidak! "Aku pikir kita akan tidur! Aku ingin masuk ke tempat tidur denganmu."
"Aku tahu, sayang." Dia tersenyum, tiba-tiba dia bergerak cepat mendekatiku, ia meraih pergelangan tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya hingga tubuhnya menekan tubuhku. "Kau harus makan, begitu juga denganku," bisiknya, mata abu-abunya membakar menatap ke arahku. "Disamping itu. Antisipasi adalah kunci dari rayuan, memang benar sekarang, aku benar-benar bisa menunda kepuasan."
Hah, sejak kapan? "Aku sudah tergoda dan aku ingin kepuasanku sekarang. Aku akan memohon, kumohon." Suaraku seperti merengek. Jiwaku berada di samping dirinya sendiri. Dia tersenyum padaku dengan lembut. "Makanlah. Kau terlalu kurus." Dia mencium keningku dan melepaskan aku. Ini adalah sebuah permainan, bagian dari beberapa rencana jahatnya. Aku cemberut padanya. "Aku masih marah karena kau sudah membeli perusahaan tempatku bekerja, dan sekarang aku marah padamu, lagi, karena kau membuat aku menunggu." Kataku sambil cemberut.
"Kau adalah salah satu nyonya kecil yang pemarah, bukan? Kau akan merasa lebih baik setelah makan enak."
"Aku tahu apa yang bisa membuatku merasa lebih baik."
"Youngjae. Berhenti menggodaku. Kau melawan secara tidak adil." Ia meredam seringainya dengan menggigit bibir bawahnya. Dia terlihat cukup menggemaskan. Salah satu kesenangan Daehyun, mempermainkan libidoku. Kalau saja keterampilan menggodaku bisa lebih baik, aku tahu apa yang harus kulakukan, tapi tidak bisa menyentuhnya memang inilah yang menghambatku. Aku menyipitkan mataku dan tampak berpikir sangat keras. Aku harus berusaha keras untuk ini.
Saat Daehyun dan aku saling menatap, aku merasa panas, terganggu dan mendambakannya dan dia terlihat santai dan terhibur dengan keinginanku. Aku sadar aku tidak punya makanan di apartemen. "Aku bisa memasak sesuatu, kecuali kita harus belanja dulu."
"Belanja?"
"Untuk bahan makanan."
"Kau tidak punya makanan di sini?" Ekspresinya mengeras. Aku menggelengkan kepala. Sial, dia terlihat cukup marah.
"Ayo kita belanja," katanya tegas, dia berbalik lalu berjalan menuju pintu, membukanya lebar-lebar untukku.
.
.
.
"Kapan terakhir kali kau ke supermarket?" Daehyun terlihat canggung disini, tapi dia mengikutiku dengan patuh, memegang keranjang belanjaan.
"Aku tidak ingat.. hmmm apa kau suka ramen? Masaknya bisa cepat."
"Ramen kedengarannya enak." Daehyun menyeringai, tidak diragukan lagi, memikirkan motif tersembunyiku untuk makan dengan cepat. "Apa mereka sudah lama bekerja padamu? Jongup.. Himchan.. lalu lelaki super tinggi kemarin.."
"Junhong?"
Aku mengangguk. "Aku pikir Jongup sudah mengenalku sejak kami masih kanak-kanak," Daehyun menjelaskan. "Himchan.. dia sudah bekerja denganku selama 6 tahun dan Junhong, dia adik Himchan, ia bekerja dengankku selama empat tahun. Mengapa kau tidak memiliki makanan di apartemen?" dia kembali melayangkan pertanyaan padaku
"Kau tahu mengapa?" bisikku, memerah. "Itu karena kau yang meninggalkan aku," Ia bergumam dengan mencela.
"Aku tahu," jawabku dengan berbisik, tidak ingin mengingat hal itu kembali. Kami sudah sampai di kasir dan berdiri diam saat mengantri. Jika aku tidak meninggalkannya, apakah dia menawarkan hubungan alternatif? Hubungan normal? Diam-diam aku ingin tahu.
"Apa kau punya sesuatu untuk diminum?" Dia menyadarkan aku dari lamunan. "Kalau tidak salah masih ada beer dilemari pendingin."
"Aku akan mengambil wine." Oh Tuhan. Aku tidak yakin ada anggur yang tersedia di Supermarket kecil. Daehyun datang lagi dengan tangan kosong, menyeringai memperlihatkan ekspresi kecewa.
"Ada toko minuman keras yang lengkap di toko sebelah," kataku cepat. "Aku akan melihat apa yang mereka miliki." Mungkin kami seharusnya ke apartemen dia saja, supaya kami tidak mengalami semua kerumitan ini. Aku menonton dia saat berjalan keluar dengan anggun menuju pintu. Dua wanita masuk, berhenti dan ternganga saat melihatnya, menatap mata Daehyun-ku, aku memikirkan itu dengan putus asa. Aku ingin ada kenangan saat dia berada di tempat tidurku, tapi dia berlagak jual mahal untuk didapatkan. Mungkin aku juga harus begitu. Batinku setuju sambil mengangguk dengan panik. Aku punya sebuah rencana.
.
.
.
Daehyun membawa kantong belanjaan sampai apartemen. Dia membawanya saat kami berjalan pulang dari toko ke apartemen. Dia tampak aneh. Sama sekali bukan perilaku CEO seperti basanya. "Kau terlihat seperti kebanyakan orang sekarang."
"Tidak ada yang menyuruhku seperti itu sebelumnya, berbelanja di supermarket kecil." katanya datar. Dia meletakkan kantong belanja di meja dapur. Saat aku mulai membongkar belanjaan, ia mengeluarkan sebotol anggur putih dan mencari pembuka botolnya. "Tempat ini masih baru bagiku. Aku pikir pembuka botol ada dalam laci sebelah sana." Aku menunjukkan dengan daguku. Ini rasanya begitu normal. Dua orang, ingin saling mengenal satu sama lain, makan bersama. Namun terasa aneh. Ketakutan yang kurasakan saat kehadirannya tidak ada lagi. Kami sudah pernah melakukan begitu banyak hal bersama, aku pun merasa malu karena mengingat hal itu, tapi aku hampir tidak mengenalnya.
"Kau sedang memikirkan apa?" Daehyun menyela lamunanku saat dia melepas jaketnya jeansnya dan meletakkan di sofa. "Betapa aku hanya tahu sedikit tentang dirimu." Dia menatap ke arahku dan matanya melunak. "Kau mengenalku lebih baik dari siapa pun."
"Aku pikir itu tidak benar."
"Youngjae. Aku orang yang sangat, sangat tertutup." Dia mengulurkan segelas anggur putih. "Cheers," katanya.
"Cheers," aku merespon dengan meneguknya sedikit saat ia memasukkan botol ke dalam lemari es. "Bolehkah aku membantumu?" Tanya dia. "Tidak usah duduk aja."
"Aku ingin membantu." Ekspresinya bersungguh-sungguh. "Kalau begitu kau bisa memotong sayuran."
"Aku tidak pernah memasak," katanya, melihat pisau yang aku berikan padanya dengan was-was. "Aku bisa membayangkan kau tidak perlu memasak. Kau punya 100 oh bahkan mungkin 1000 maid yang bisa melayanimu." Aku meletakkan talenan dan beberapa paprika merah di depannya. Dia bingung melihat itu. "Kau tidak pernah memotong sayur?"
"Tidak" Aku menyeringai padanya.
"Apa kau menyeringai padaku?"
"Sepertinya ini adalah sesuatu yang bisa kulakukan sedangkan kau tidak bisa. Perhatikan tuan muda Jung Daehyun, aku akan menunjukkan caranya padamu." Aku menyenggol tubuhnya dan dia mundur kebelakang. "Seperti ini." Aku memotong paprika merah, dengan hati-hati membuang bijinya.
"Sepertinya sangat mudah."
"Kau seharusnya tidak punya masalah dengan hal itu," gumamku sedikit mengejek. Sejenak dia menatap ke arahku tanpa ekspresi kemudian bersiap untuk melakukan tugasnya karena aku meneruskan menyiapkan daging yang sudah dipotong. Dia mulai mengiris, dengan hati-hati, perlahan-lahan. Oh, kami akan berada di sini sepanjang hari. Aku mencuci tanganku dan mencari panci, minyak, dan bahan lainnya yang aku butuhkan, berulang kali menyenggol tubuhnya. Pinggulku, lengan, pantat, dan tanganku berulang kali menyentuh tubuhnya. Sedikit sih, seperti sentuhan tanpa sengaja. Dia terdiam setiap kali aku melakukan itu.
"Aku tahu apa yang sedang kau lakukan, Youngjae," bisiknya muram, masih menyiapkan paprika yang pertama. "Aku pikir inilah yang dinamakan memasak," kataku, sambil mengedipkan mataku. Mengambil pisau yang lain, aku bergabung dengannya di talenan, mengupas dan mengiris daun bawang, terus menerus menyenggol dirinya. "Kau sangat pandai dalam hal ini," ia bergumam saat ia mulai mengiris paprika merah yang kedua.
"Mengiris?" Aku mengedipkan bulu mataku padanya. "Bertahun-tahun praktek." Aku menyenggol dia lagi, kali ini dengan pantatku. Dia terdiam sekali lagi.
"Jika kau melakukan itu lagi, Youngjae, aku akan mencumbuimu di lantai dapur ini." Oh, wow. Berhasil. Aku menjerit tertahan, ingin tertawa lebar. "Kau harus memohon padaku dulu."
"Apakah itu sebuah tantangan?"
"Mungkin." Ia meletakkan pisaunya dan berjalan pelan ke arahku, matanya membara. Condong melewati aku, dia mematikan kompor. Air dalam panci langsung berhenti mendidih. "Aku pikir makannya nanti saja," katanya. "Taruh dagingnya dalam kulkas." Ini bukan kalimat yang pernah aku harapkan keluar dari bibir Daehyun dan hanya dia yang bisa mengatakan sesuatu menjadi terdengar sangat panas, benar-benar panas. Aku mengambil mangkuk daging yang sudah dipotong, dengan agak gemetar meletakkan piring di atasnya, dan memasukkan ke dalam kulkas. Ketika aku berbalik, dia sudah di sampingku.
"Jadi kau akan memohon?" Aku berbisik, dengan berani menatap ke dalam matanya yang gelap. "Tidak, Youngjae." Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang memohon." Suaranya lembut, menggoda. Dan kami berdiri saling menatap, menyelami satu sama lain, mengisi atmosfir diantara kami, hampir berderak, tidak berkata-kata, hanya menatap. Aku menggigit bibirku saat gairah pada pria tampan ini menyitaku dengan sepenuh hati, membakar darahku, menyesakkan napasku, bersatu di bawah pinggangku. Aku bisa melihat reaksiku yang terpantul disikapnya, dimatanya. Sejenak, dia menarik pinggangku untuk mendekat padanya, tanganku meraih rambutnya dan bibirnya menciumku. Dia mendorongku sampai menempel ke lemari es, dan aku mendengar samar-samar bunyi getaran botol dan wadah dari dalam kulkas saat lidahnya masuk ke dalam mulutku. Aku mengerang di dalam mulutnya, dan salah satu tangannya meremas rambutku, menarik kepalaku kebelakang saat kami berciuman dengan liar.
"Apa yang kau inginkan, Youngjae?" desahnya. "Enghh-Kau." Aku terengah-engah.
"Dimana?"
"Tempat tidur." Dia melepaskan diri, menggendongku, dan membawaku dengan cepat seperti tanpa adanya beban masuk ke dalam kamar tidurku. Menurunkan aku di samping tempat tidur, dia membungkuk dan menyalakan lampu samping tempat tidurku. Dia melirik dengan cepat sekeliling ruangan dan buru-buru menutup gorden warna krem muda.
"Sekarang apa?" Katanya lembut.
"Bercintalah denganku."
"Bagaimana?" Astaga. Apa aku harus menjelaskannya secara detail? "Kau harus menjelaskannya padaku, sayang." Sialan kau Jung Daehyun.
"Buka pakaianku." Aku sudah terengah-engah. Dia tersenyum dan mengaitkan jari telunjuknya ke kemeja terbukaku, menarikku ke arahnya. "Anak manis," bisiknya, tanpa melepaskan tatapan matanya yang berkobar padaku, perlahan mulai membuka kancing bajuku. Sementara aku meletakkan tanganku di atas lengannya supaya aku tetap stabil. Dia tidak protes. Lengannya adalah daerah aman. Ketika selesai membuka kancingku, dia menarik lepas kemejaku melewati bahuku, dan aku melepaskan peganganku dari lengannya dan membiarkan bajuku jatuh ke lantai. Dia meraih pinggang celana jeansku, membuka kancing, dan menarik turun risletingnya.
"Katakan padaku apa yang kau inginkan, Youngjae." Matanya membara dan bibir terbuka sambil terengah-engah. "Cium aku dari sini ke sini," bisikku, jariku menelusuri dari pangkal telingaku, turun ke tenggorokanku. Dia menyibakkan poni rambutku keluar dari pangkal telingaku yang terbakar dan membungkuk, meninggalkan ciuman manis yang lembut di sepanjang jalan jariku tadi lalu kembali lagi.
"Jeans dan celana dalamku," bisikku, dan dia tersenyum di tenggorokanku sebelum berlutut dihadapanku. Oh, aku merasa begitu berkuasa. Mengaitkan ibu jarinya ke dalam celana jeansku, dengan lembut dia menarik jeans dan celana dalamku menuruni kakiku. Aku melepaskan sepatu dan pakaianku hingga kini aku benar-benar naked. Dia berhenti dan menatapku dengan penuh harap, tapi dia tidak berdiri.
"Sekarang apa, Youngjae?"
"Cium aku," bisikku.
"Dimana?"
"Kau tahu di mana."
"Dimana sayang?" Oh, dia tidak mau berbelit-belit. Karena merasa malu aku segera menunjuk pada pangkal pahaku, dan ia menyeringai dengan nakal. Aku menutup mataku, sangat malu tapi sekaligus sangat terangsang. "Oh, dengan senang hati," ia terkekeh. Dia menciumku dan melepaskan lidahnya, lidahnya yang terlatih memberikanku kenikmatan. Aku mengerang dan tanganku meremas rambutnya. Dia tidak berhenti, lidahnya berputar-putar disekitar holeku, membuatku gila, dan terus, berputar-putar. Ahhh. . . ini hanya. . . sampai berapa lama. . . ? Oh. . . shit!
"Ahh...Daehyun, kumohon," Aku memohon. Aku tidak ingin lepas sendiri. Aku tidak punya kekuatan.
"Mohon apa, Youngjae?"
"Bercintalah denganku."
"Aku sedang melakukannya," bisiknya, dengan lembut menghembuskan napas padaku.
"Tidak. Aku ingin kau dalam diriku."
"Apakah kau yakin?"
"Kumohon." Dia tidak mau menghentikan siksaannya yang nikmat. Aku mengerang keras. "Ahhh...Daehyun. . . kumohon." Dia berdiri dan menatap ke arahku, dan bibirnya berkilau dengan bukti gairahku. Sialan.
"Jadi?" Tanya dia. "Jadi apa?" Aku terengah-engah, menatapnya dengan keinginan yang membara. "Aku masih berpakaian." Aku menganga padanya dengan bingung. Menanggalkan pakaiannya? Ya, aku bisa melakukan itu. Aku meraih kemejanya dan dia melangkah mundur. "Oh bukan itu," ia memperingatkan. Sial, maksudnya celana jeansnya.
Oh, dan ini memberiku sebuah ide. Jiwaku bersorak dengan lantang keatas, dan akupun berlutut dihadapannya. Agak canggung dengan jari gemetar, aku membuka ikat pinggangnya, kemudian menarik celana jeans dan celana boxernya ke bawah, dan dia pun terlepas. Wow. Aku mengintip ke arahnya melalui bulu mataku, dan dia menatapku dengan... Apa? Gelisah? Terpesona? Terkejut? Dia melangkah keluar dari celana jeansnya dan melepas kaus kakinya, dan aku mengambil miliknya lalu menggenggamnya dengan tanganku dan meremas erat, mendorong kembali tanganku seperti sebelumnya yang pernah dia tunjukkan padaku. Dia mengerang dan menegang, dan napasnya mendesis melalui giginya yang terkatup. Aku menempatkannya ke dalam mulutku dan mengisapnya dengan keras. Mmm, rasanya enak.
"Ahh...Youngjae... whoa, pelan-pelan sayang." Dia memegang kepalaku dengan lembut, dan aku mendorongnya lebih dalam ke dalam mulutku, mengatupkan bibirku seketat mungkin, menyelubunginya dengan gigiku, dan mengisapnya dengan keras.
"Shhh..Sialan," dia mendesis. Oh, ini bagus, membangkitkan semangat, suara yang seksi, jadi aku melakukannya lagi, menghisapnya lebih dalam lagi, lidahku berputar-putar di ujungnya.
"Mhhhh.." Aku merasa seperti Apolo. "Youngjae, sudah cukup. Tidak lagi." Aku melakukannya lagi - memohonlah, Daehyun, memohonlah - dan lagi. "Youngjae, kau sudah menunjukan maksudmu," ia mengerang melalui giginya yang terkatup. "Aku tidak mau terlepas didalam mulutmu." Aku melakukannya sekali lagi, dan ia membungkuk, mencengkeram bahuku, menarikku berdiri, dan melemparkan aku ke tempat tidur. Menarik kemejanya ke atas kepalanya, kemudian ia meraih kebawah untuk membuang celana jeansnya.
"Berbaringlah. Aku ingin melihatmu." Aku berbaring menatapnya. Aku sangat menginginkan dia. Dia menatap ke arahku dan menjilati bibirnya. "Kau adalah pemandangan yang sangat indah, Yoo Youngjae." Dia membungkuk di atas tempat tidur dan perlahan-lahan merangkak naik di atasku sambil menciumi seluruh tubuhku. Dia mencium leherku dan memainkan putingku secara bergantian. Sementara aku mengerang dan menggeliat di bawahnya, dan dia tidak berhenti. Tidak. . . Berhenti. Aku menginginkanmu.
"Daehyun, kumohon."
"Mohon apa?" Gumamnya di perpotongan leherku.
"Aku ingin kau dalam diriku."
"Apakah kau memohon sekarang?"
"Kumohon." Menatapku, ia mendorong kedua kakiku agar terpisah kemudian dia berpindah di atasku. Tanpa mengalihkan tatapan matanya dariku, dia tenggelam ke dalam diriku dengan kecepatan yang lambat dan terasa nikmat. Aku memejamkan mata, menikmati rasa penuh ini, perasaan indah saat menjadi miliknya, secara naluriah aku menaikkan pinggulku untuk bergabung dengannya, mengerang keras. Dia mendorong masuk kembali dan dengan sangat lambat mengisiku lagi. Jari-jariku meremas ke dalam rambut halusnya yang sulit diatur, dan dia oh begitu perlahan gerakannya, masuk dan keluar lagi dalam tubuhku.
"Lebih cepat, Daehyun, lebih cepat. . . kumohon." Dia menatap ke arahku dengan penuh kemenangan dan menciumku dengan keras, dan benar-benar mulai bergerak. Ya ampun, sebuah hukuman, tanpa henti. Oh sial dan aku tahu ini tidak akan lama. Dia mulai melepaskan hentakan berirama. Aku mulai mempercepat, kakiku menegang di bawahnya.
"Ayo, sayang," ia terengah-engah. "Berikan padaku." Kata-katanya meruntuhkan aku, dan aku pun meledak, menakjubkan, pikiranku seakan mati rasa, menjadi berkeping-keping di sekelilingnya, dan dia mengikutiku sambil meneriakan namaku. "Youngjae! Oh, Shit, Youngjae!" Dia jatuh di atasku, kepalanya terkubur ke leherku.
Saat kesadaranku kembali, aku membuka mataku dan menatap ke wajah pria yang aku cintai. Ekpresi wajah Daehyun lembut dan mesra. Dia menggosokkan hidungnya ke hidungku, menahan berat tubuhnya dengan sikunya, dan tangannya menggenggam kedua tanganku di sisi kepalaku. Aku berpikir dengan sedih ia melakukannya agar aku tidak menyentuhnya. Dia memberi ciuman lembut dibibirku saat dia keluar perlahan dari dalam tubuhku.
"Aku merindukan ini" desahnya. "Aku juga" bisikku. Dia menggenggam daguku dan mencium bibirku dengan kuat. Ciumannya penuh harapan dan gairah, berharap untuk apa? Aku tidak tahu. Ciumannya membuatku kehilangan nafas. "Jangan tinggalkan aku lagi" pintanya, menatap ke dalam mataku, wajahnya serius.
"Baiklah," Bisikku dan aku tersenyum padanya. Senyuman balasannya sangat menawan, lega, gembira dan girang bergabung menjadi suatu pandangan memikat yang dapat melelehkan hati paling dingin sekalipun. "Terima kasih untuk iPod-nya."
"Sama-sama, Youngjae."
"Apa lagu favoritmu didalamnya?"
"Ada saatnya. Aku akan memberitahukannya padamu jika saat itu tiba." Aku menyeringai
"Ayo sekarang masakkan aku makanan, Daddy's lil boy...aku sangat lapar," tambahnya, tiba-tiba duduk dan menarikku untuk mengikutinya.
"Daddy's lil boy?" aku terkikik. "Come on dad's lil boy. Please.Food. Right. Now."
"Karena kau meminta dengan cara yang baik, daddy, baiklah aku akan membuatnya sekarang." Saat aku turun dari tempat tidur, tanpa sadar aku menggeser bantal-bantalku, sehingga muncullah balon helikopter kempes yang berada dibawahnya. Daehyun meraihnya dan menatapku, bingung.
"Itu balonku," kataku, merasa memilikinya saat aku meraih jubahku dan memakainya disekeliling tubuhku. Astaga, mengapa dia bisa menemukannya? "Di tempat tidurmu?" bisiknya.
"Ya," aku tersipu. "Balon ini yang menemaniku selama ini."
"Beruntungnya Angel," katanya dengan terkejut. Ya, aku sentimentil, karena aku mencintaimu, Daehyun-ah. "Jangan rusak balonku," kataku lagi dan aku berputar keluar menuju ke dapur, meninggalkan dia yang tersenyum sangat lebar.
.
.
.
Daehyun dan aku duduk di permadani persia milik Kyungsoo, memakan ramen dengan sumpit dan menyeruput beer dingin. Daehyun bersandar di sofa, kaki jenjangnya terjulur didepannya. Dia hanya memakai celana denim dan kemeja dengan rambut acak-acakannya menunjukkan bahwa kami baru saja selesai bercinta. Sebuah lagu klasik mendayu-dayu keluar dari iPod Daehyun.
"Ini enak", dia memuji sambil melahap makanannya. Aku duduk dengan kaki menyilang disampingnya, makan dengan rakus, lebih daripada lapar sambil mengagumi kaki telanjangnya. "Aku biasanya memang selalu membantu Kyungsoo memasak, Dia koki yang hebat. Dia sering mengajariku."
"Seberapa dekat kau dengan Kyungsoo?" tanyanya.
Aku mengernyitkan dahiku. "Kami saling menjaga satu sama lain."
"Kau terbiasa menjaga orang lain?" Nada akhir ucapannya menarik perhatianku dan aku menoleh kearahnya. "Ada apa?" tanyaku, terkejut dengan ekpresi hati-hatinya.
"Aku ingin menjagamu." Mata berkilaunya memancarkan suatu emosi tak bernama. Debaran jantungku bertambah.
"Aku tahu," Bisikku. "Kau hanya melakukannya dengan cara yang aneh." Alisnya berkerut.
"Hanya cara itu yang aku tahu," Dia berkata lirih.
"Aku masih marah denganmu karena telah membeli perusahaanku." Dia tersenyum. "Aku tahu kau akan marah, sayang, tapi itu tidak akan menghentikanku."
"Apa yang akan kukatakan pada rekan-rekan kerjaku, pada Chanyeol?"
Dia menyipitkan matanya. "Si brengsek itu lebih baik menjaga dirinya sendiri."
"Daehyun!" Tegurku. "Dia itu Atasanku."
Mulut Daehyun terkatup rapat seperti garis, dia seperti anak sekolah yang keras kepala. "Jangan bilang pada mereka." Katanya.
"Jangan bilang apa?"
"Kalau aku telah memilikinya. Perjanjian atas Kepemilikan baru ditanda tangani kemarin. Berita tentang itu masih ditahan 4 minggu selama manajemen melakukan beberapa perubahan."
"oh ... apakah aku jadi kehilangan pekerjaanku?", tanyaku, terkejut. "Aku meragukannya," Daehyun berkata dengan sedikit hati-hati, berusaha menahan senyum.
Aku cemberut. "Jika aku keluar dan menemukan pekerjaan lain, apakah kau akan membeli perusahaan itu juga?"
"Kau tidak berpikir untuk keluar, bukan? Ekpresinya berubah, kembali berhati-hati. "Mungkin juga, aku tidak yakin kau memberiku banyak pilihan."
"Ya, aku juga akan membeli perusahaan itu juga". Dia bersikukuh. Aku cemberut lagi padanya, Aku berada dalam situasi yang tak mungkin bisa kumenangi sekarang. "Apakah kau tidak merasa menjadi seorang yang overprotektif?"
"Ya, aku memahami bagaimana aku kelihatannya."
Dia meletakkan mangkuk kosongnya, dan menatap mataku tanpa bergerak. Aku mendesah. Aku tidak mau bertengkar dengannya. Berdiri, aku mengambil mangkuknya. "Apa kau mau dessert?"
"Nah, sekarang kau mengatakannya!" katanya, memberiku seringai bergairah. "Bukan aku dessert-nya. Aku punya es krim. Rasa Vanila." Aku terkikik.
"Benarkah?" Seringai Daehyun semakin lebar. "Menurutku kita bisa melakukan sesuatu dengan itu." Apa? Aku menatap bodoh kearahnya ketika dia dengan luwes berdiri. "Bolehkan aku tinggal?" Tanyanya.
"Apa maksudmu?"
"Aku bermalam disini"
"Aku juga berpikir kau akan menginap." Aku tersipu.
"Bagus, dimana es krimnya?"
"Di dalam oven." Aku tersenyum manis padanya. Dia memiringkan kepala, mendesah dan menggeleng-gelengkan kepalanya kepadaku. "Sarkasme adalah bentuk terendah dari gurauan, tuan Yoo." Matanya berbinar. Oh sial, apa yang ia rencanakan? Aku masih bisa membuatmu bertekuk di bawah lututku. Aku meletakkan mangkuk-mangkuk di bak cuci piring. "Apakah kau membawa bola-bola perak?" Dia meraba dada, perut dan saku dibelakang celana denimnya. "Cukup lucu, aku bahkan tidak pernah membawa serepnya kemana-kemana denganku, hampir tidak pernah dipakai saat aku berada dikantor."
"Aku sangat senang mendengarnya, tuan Jung dan kupikir tadi kau mengatakan bahwa sarkasme adalah bentuk terendah dari gurauan."
"Yah, Youngjae, motto terbaruku adalah 'Jika kau tidak bisa mengalahkan mereka, maka bergabunglah dengan mereka'."
Aku terbelalak - aku tidak percaya dia baru saja mengatakan hal itu - Dan dia terlihat sangat puas dengan dirinya sendiri ketika dia melemparkan cengiran kepadaku. Berbalik, dia membuka kulkas dan mengeluarkan 1 kotak es krim Baskin Robbin rasa vanila terbaik. "Ini saja sudah cukup baik." Dia menatapku, matanya kelam. "Baskin Robbin dan Yoo Youngjae." Dia mengucapkan tiap kata dengan perlahan, setiap suku kata diucapkan dengan jelas. Oh sial. Aku rasa rahang bawahku barusan menyentuh lantai. Dia membuka laci peralatan makan dan menggambil sendok. Ketika mendongak, matanya sendu, dan lidahnya menjilat bibir atasnya. Oh, lidah itu. Aku merasa seperti berputar. Hasratku, gelap, manis dan tak bermoral mengalir panas dalam urat nadiku. Kita akan bersenang-senang, dengan makanan. "Aku harap kau cukup merasa hangat." Bisiknya. "Aku akan mendinginkan dengan ini. Come on." Dia mengulurkan tangannya, dan aku meletakkan tanganku diatas tangannya.
Dikamarku, dia meletakkan es krim di meja di samping tempat tidur, menarik selimut dari kasur, menyingkirkan kedua bantal dan meletakkan semuanya dalam satu tumpukan di lantai. "Kau punya seprai pengganti, bukan?" Aku mengangguk, menatapnya terpesona. Dia menggenggam Angel. "Jangan membuat kotor balonku" Ancamku. Bibirnya naik keatas setengah tersenyum.
" Tidak pernah aku bayangkan, sayang, tapi aku akan membuat kotor dirimu dan seprai ini." Tubuhku langsung menegang. "Aku akan mengikatmu."
Oh. "Oke," Bisikku. "Hanya kedua tanganmu. Di kasur, Aku ingin kau tetap diam."
"Oke," Bisikku lagi. Tak mampu mengatakan yang lain. "Kita akan memakai ini." Dia menarik pengikat jubahku, lalu dengan sensual, pelan dan menggoda melepas simpulnya dan dengan lembut membebaskan ikatan itu dari jubahku. Jubahku terbuka saat aku berdiri terdiam dibawah tatapan membaranya. Setelah beberapa saat, ia mendorong jubahku lepas dari kedua bahuku, jatuh dan tergeletak dibawah kakiku sehingga aku berdiri telanjang dihadapannya. Dia membelai pipiku dengan belakang buku jarinya, dan sentuhannya menjalar kedalam pangkal pahaku. Menunduk, dia mencium bibirku sekilas. "Berbaringlah ditempat tidur, wajah keatas," bisiknya, matanya kelam, tatapan yang tajam membakar ke dalam mataku.
Aku melakukan apa yang dimintanya, kamarku diselimuti kegelapan kecuali cahaya lembut dan lemah dari lampu mejaku. Biasanya, aku benci lampu hemat energi - cahaya sangat suram - tapi telanjang disini bersama Daehyun, aku bersyukur dengan adanya cahaya yang lembut. Dia berdiri di dekat tempat tidur sambil menatapku. "Aku bisa hanya menatapmu sepanjang hari, Youngjae", katanya dan dia merangkak keatas tempat tidur, diatas tubuhku dan menduduki tubuhku.
"Lengan diatas kepala." Perintahnya. Aku menurut. Dia lalu mengikat ujung pengikat jubahku di pergelangan tangan kiriku, menjalinkan ujung yang lain melewati batang logam di atas kasurku. Dia menariknya dengan kuat sampai lengan kiriku menekuk diatas kepalaku, ia lalu mengunci tangan kananku, dan mengikatnya dengan kuat. Ketika aku sudah terikat, aku menatapnya, dia kelihatan rileks. Dia suka melihatku terikat sehingga aku tak bisa menyentuhnya. Aku juga teringat tak ada satupun dari para submisifnya yang boleh menyentuhnya dan terlebih lagi mereka tidak akan dapat kesempatan itu sama sekali. Dia akan selalu berada dalam kendali dan menjaga jarak. Itu mengapa dia suka dengan aturan-aturannya.
Dia turun dari atas tubuhku dan membungkuk untuk memberiku kecupan kilat di bibir, kemudian menarik kaosnya ke atas kepala, membuka celana denimmya dan menjatuhkannya ke lantai. Dia telanjang. Oh Tuhan, jiwaku melakukan lompatan turun tiga kali dari palang tak rata dan tiba-tiba mulutku menjadi kering. Dia benar-benar lebih daripada indah. Dia punya fisik seperti gambaran klasik, bahu lebar berotot, pinggang ramping, dan seperti segitiga terbalik. Dia pasti latihan fisik, aku bisa hanya dengan memandangnya sepanjang hari.
Dia bergerak ke ujung tempat tidur dan memegang pergelangan kakiku, menyentakku dengan tiba-tiba dan kuat kebawah sehingga kedua lenganku terentang dan tak bisa bergerak. "Seperti itu lebih baik," Gerutunya. Dia mengambil kotak es krim, memanjat kembali ke tempat tidur dan mendudukiku sekali lagi. Dengan pelan ia membuka penutup es krim dan memasukkan sendok kedalamnya. "Hmm...ini masih sedikit keras," katanya sambil menaikkan alisnya. Mengambil sesendok es krim, dia memasukkannya ke mulutnya. "Enak," bisiknya, sambil menjilat bibirnya. "Ternyata vanila yang biasapun ini cukup nikmat", ia memandang kearahku dan menyeringai. "Mau coba sedikit?" ejeknya. Dia terlihat sangat menggoda, muda dan jenaka – sambil duduk diatas tubuhku dan memakan es krim – mata cerah dan wajah bersinar. Oh apa yang sebenarnya akan dia lakukan padaku?
Seperti tidak tahu saja, aku mengangguk malu. Dia mengambil lagi satu sendok penuh dan menawari aku sendoknya, jadi aku membuka mulut, tapi dengan cepat dia masukkan ke mulutnya. "ini terlalu enak untuk dibagi dengan orang lain," katanya, tersenyum licik. "Hei," aku mulai protes. "Kenapa tuan Yoo, kau suka vanila-mu?"
"Ya," aku berkata lebih keras daripada maksudku sebenarnya dan gagal berusaha menendangnya turun dari atas tubuhku. Dia tertawa. "Kita jadi lebih liar kan? Aku tak akan melakukan hal itu jika jadi kau."
"Es krim," pintaku. "Yah, kau telah membuatku sangat senang hari ini, Youngjae." Dia kasihan padaku, menawariku sesendok, dan kali ini membiarkan aku memakannya. Aku ingin terkikik, dia benar-benar menikmatinya, dan rasa humornya menular. Dia mengambil sesendok lagi dan menyuapiku lagi, lagi, dan lagi. Oke cukup. "Hmm, yah, ini salah satu caranya memastikan kau makan atau lebih tepatnya memaksamu makan. Aku mulai terbiasa dengan cara ini." Mengambil sesendok lagi, dia menawariku lagi. Kali ini aku menutup mulutku, dan menggelengkan kepala, lalu dia membiarkan es krim meleleh perlahan di sendok sehingga lelehan es krim turun ditenggorokanku, terus ke dadaku. Dia menunduk, dan dengan pelan menjilatnya habis. Seluruh tubuhku langsung terangsang.
"Mmm, rasanya lebih enak berpadu denganmu, Youngjae." Aku meronta berusaha lepas dari ikatanku dan tempat tidur berderak keras, tapi aku tak perduli, aku terbakar dalam nafsu dan nafsu ini menelanku. Dia mengambil lagi sesendok penuh dan membiarkan es krim itu meleleh kembali didadaku dan dengan belakang sendok, dia memoleskannya ke setiap putingku. Oh ... dingin. Kedua putingku berdiri dan mengeras dibawah lelehan es krim.
"Dingin?" Daehyun bertanya pelan dan menunduk untuk menjilat dan mengisap habis semua es krim dari tubuhku, mulutnya terasa panas dibandingkan dinginnya es. Oh, ini siksaan. Ketika mulai meleleh, es krim turun dari tubuhku dan mengalir dikasur. Bibirnya melanjutkan siksaan dengan pelan, mengisap putingku dengan kuat, dan mengelusnya dengan lembut - Oh shit! - Aku terengah-engah.
"Mau lagi?" dan sebelum aku sempat mengiyakan atau menolak permintaanya, lidahnya sudah ada dalam mulutku, dingin dan terampil dan rasanya adalah Daehyun dan vanila. Lezat. Dan ketika aku mulai terbiasa dengan sensasinya, dia duduk kembali dan menjalankan sesendok penuh es krim di bagian tengah tubuhku, di perutku dan didalam pusarku dimana dia memasukkan banyak es krim. Oh, ini lebih dingin dari sebelumnya, tapi anehnya aku merasa terbakar.
"Sekarang, kau sudah pernah melakukannya sebelumnya." Mata Daehyun bersinar. "Kau akan tetap diam, atau akan ada lelehan es krim di seluruh kasur." Dia mencium kedua putingku dan mengisapnya dengan kuat, kemudian mengikuti aliran es krim turun dari tubuhku, sambil mengisap dan menjilatnya. Aku coba, aku coba untuk tetap diam diantara kombinasi dingin dan sentuhan panas membakar yang memabukkan, tapi pinggulku bergerak tanpa sadar, berputar mengikuti iramanya sendiri, tertawan dengan mantra vanilanya. Dia beringsut kebawah dan mulai makan es krim di perutku, memutar lidahnya di dalam dan sekitar pusarku. Aku merintih. Ya ampun. Rasanya dingin, panas dan memabukkan, tapi dia tak berhenti. Dia mengikuti aliran es krim terus kebawah tubuhku, di antara twinsball-ku, diatas holeku. Aku menjerit kuat. "Akhhh..."
"Sssttt, diamlah" Daehyun berkata pelan sambil lidah ajaibnya bekerja menjilati vanila, dan sekarang aku hanya bisa mengeliat pelan. "Oh . . . tolonglah . . . Daehyun-ah."
"Aku tahu, sayang, aku tahu," Dia mendesah sambil lidah ajaibnya bekerja. Dia tidak berhenti, tidak berhenti dan tubuhku rasanya naik semakin tinggi dan tinggi. Dia menyelipkan satu jari kedalamku, dan satu lagi dan bergerak dengan kepelanan yang menyiksa, masuk dan keluar.
"Hanya disini," bisiknya, dan dengan berirama membelai dinding depan holeku sambil dengan nikmat terus menjilat dan mengisap sekeliling tubuhku.
Holy shit! Aku merasakan cairan precum meledak tiba-tiba kedalam orgasme gila yang menulikan semua inderaku, melenyapkan semua hal yang terjadi diluar tubuhku saat tubuhku mengeliat dan mengerang. Hmm, tadi itu cepat sekali. Aku samar-samar menyadari bahwa dia telah menghentikan siksaannya. Dia mendekatiku, memasukkannya kedalamku dengan cepat dan kuat.
"Oh yes!" Dia mengerang saat ia menghentak masuk dalam tubuhku. Tubuhnya lengket dengan sisa es krim yang meleleh menyebar diantara tubuh kami. Ini suatu sensasi mengganggu yang aneh, tapi tidak bisa kunikmati lebih lama dari beberapa detik saat Daehyun tiba-tiba keluar dari tubuhku dan membalikkan badanku. "Seperti ini", bisiknya dan tiba-tiba dia sekali lagi berada didalam diriku, tapi dia belum memulai irama siksaannya yang biasa secara langsung. Dia maju sedikit, melepaskan tanganku dan menarikku keatas sehingga aku seperti duduk diatas tubuhnya. Tangannya bergerak menuju putingku, meremas keduanya dan menyentak pelan putingku. Aku mengerang, menjatuhkan kepalaku dibahunya.
Dia mengelus leherku, menggigitnya saat dia melenturkan pinggulnya, dengan kepelanan yang nikmat, mengisi tubuhku lagi dan lagi.
"Kau tahu berapa berartinya kau bagiku?" dia mendesah di telingaku.
"T-tidak," Aku terengah. Dia tersenyum dileherku, dan jari-jarinya melingkar di sekitar dagu dan leherku, memegangku dengan kuat sesaat. "Ya, kau tahu. Aku tak akan melepaskanmu." Aku mengerang saat dia menambah kecepatannya. "Kau adalah milikku, Youngjae."
"Y-ya, aku milikmu," aku terengah. "Aku menjaga apa yang menjadi milikku," Dia mendesis dan mengigit telingaku. Aku menjerit. "Ahhhh daehyun-ah"
"Ya, sayang, aku ingin mendengar suara indahmu." Dia melingkarkan satu tangan disekeliling pinggangku sambil tangan yang lain meremas pinggulku dan dia menekan masuk ke dalam tubuhku lebih kuat, membuatku menjerit lagi.
"Ahhhh... Daehyun," dan irama siksaan pun dimulai, nafasnya terdengar lebih kasar, lebih kasar, tidak teratur, seperti nafasku. Aku mulai merasakan dengan cepat sensasi yang familiar didalam tubuhku. Astaga…lagi! Aku larut dalam kenikmatan. Inilah yang dilakukannya padaku - membawa tubuhku dan menghipnotisnya sampai aku tak bisa memikirkan yang lain kecuali dirinya. Mantranya sangat kuat, tak terkalahkan. Aku adalah kupu-kupu yang tertangkap dijaringnya, tidak bisa dan tidak mau lepas. Aku miliknya...miliknya sepenuhnya. "Ayolah, sayang," Dia menggeram lewat gigi yang mengertak, dan seperti dipandu, aku, kami berdua klimaks secara bersamaan.
.
.
.
TBC
