.
.
.
SAKURA MUSIM DINGIN
The Character is belong to Masashi Kimoto-san
Story by
7 Gold
Warning: AU, AT, Typo, OOC, Alur gaje, Cerita se-mau-gue!
Rated T+
Genre: Drama, Romance, Hurt/comfort, Family, Friendship
Haruno Sakura: 21th
Uchiha Sasuke: 22th
Happy Reading!
.
.
.
"Karna tidak ada pohon Sakura yang akan bersemi saat salju turun"
.
.
.
Chapter 10
'PRAAAANGGG!' Suara benda kaca yang menyentuh lantai terdengar diruang santai sebuah rumah yang tampak tenang
Iris aquamarine-nya menatap nanar apa yang baru saja dilihatnya dari Televisi yang menyala dihadapannya. Sebuah saluran tentang gosip baru saja mengangkat berita mengenai pertunangan antara Uchiha Sasuke dengan Akimi Tayuya.
Ino terdiam. Pandangannya kosong. Dia menggigit kuat bibirnya ketika menyadari alasan kenapa sikap Sakura berubah menjadi sangat aneh akhir-akhir ini. Dan dalam sepersekian detik dia kembali menyadari sesuatu. Amarah gadis Yamanaka itu memuncak, dengan cepat dia menyambar sebuah smartphone yang tergeletak di meja.
Jari lentiknya menekan beberapa tombol yang sudah dihafal olehnya diluar kepala. Namun pemilik nomor itu tidak kunjung menjawab telfonnya. Sampai pada percobaan ketiga terdengar sebuah suara dari sebrang sana.
"Jelaskan padaku! Apa yang sedang terjadi disini, Uzumaki Naruto!" desis gadis itu pada pemuda disebrang sana
.
.
.
Sementara ditempat lain. Gadis berambut merah muda panjang itu menatap kosong layar televisi yang menyala dihadapannya. Dia terdiam. Lagi-lagi perasaan itu merayap dan mengisi kekosongan hatinya. Membuat hatinya tercekat dan terasa sangat sakit.
Dia mengabaikan jeritan dering ponselnya yang sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu. Terus seperti itu sampai keadaan kembali menjadi sunyi. Dia seperti sebuah mayat hidup sekarang. Tanpa izin darinya fikiran brengsek itu dengan lancang memutar memori mengenaskan itu.
Memutar memori tentang kejadian yang membuat dia pulang dengan keadaan mengenaskan kemarin malam. Dengan luka memar yang bahkan sampai sekarang belum hilang bekasnya. Lebih daripada luka fisiknya, luka hati yang diderita gadis itu terasa semakin menyakitkan.
Flashback On [Sakura POV]
Langkah kakiku membawaku menuju tempat ini. Tempat yang penuh dengan kenangan. Tempat aku dibesarkan. Sebelum aku sempat menekan bel yang terpasang disisi pintunya, sebuah suara lembut membuat lamunanku buyar.
Disana berdiri dengan anggun sosok seorang malaikat. Malaikat yang selalu ada disetiap keadaan dalam hidupku. Malaikat yang selalu membantuku dan membuatku kuat. Dia, ibuku. Menatap khawatir ketika melihat putrinya pulang dengan keadaan wajah yang kacau.
Aku melihat dia menghampiriku dengan sedikit tergesa-gesa. Menatap penuh khawatir aku yang masih terpaku ditempatku berdiri. Tangannya terulur menyentuh kedua pipiku, terasa lembut dan nyaman.
"Masuklah, istirahat didalam. Kau membutuhkannya" aku mendengar ucapan ibuku mengalun dengan lembut sembari membuka pintu yang sejak tadi belum sempat tersentuh olehku
Aku menurutinya. Masuk kedalam bersamanya. Dan langsung menuju lantai dua rumah ini. Menuju kamarku. Sementara dia pergi kearah dapur, menyiapkan sesuatu yang entah apa.
Sudah 2 bulan aku tidak pulang kerumah ini. Pekerjaanku membuatku tidak memiliki waktu barang sedikitpun untuk mengunjungi tempat ini. Aku pindah ke Apartemen sejak tahun ketiga aku kuliah sampai sekarang. Dan akan pulang kerumah ini minimal sebulan sekali.
Aku menatap berkeliling suasana kamarku yang tidak berubah walaupun sudah 2 bulan tidak aku kunjungi. Tak lama setelah aku duduk di kasur, Kaa-san datang dengan membawakanku secangkir ocha. Meletakkan gelas yang masih mengeluarkan kepulan uap panas itu dimeja belajar samping kasur. Dengan dia sendiri yang sudah menarik kursi dan duduk dihadapanku.
Matanya menatap khawatir kearahku dan setelahnya dia berkata "Kau baik-baik saja?"
Aku menoleh kearahnya. Aku benci tatapan khawatir itu. Aku benci membuat orang tuaku –terutama Kaa-san merasa sangat khawatir seperti ini. Butuh sepersekian detik sampai aku menampilkan sebuah senyuman manis yang aku miliki
"Aku baik-baik saja, Kaa-san" Namun ada keraguan dalam iris emerald miliknya. Aku menyadari hal itu.
Siapa orangtua yang akan percaya hal itu jika mendengar putrinya menangis ketika menelfon dirinya pagi-pagi? Siapa orangtua yang akan percaya ucapan laknat itu ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri keadaan kacau dan pucat putri semata wayangnya?
Namun sebelum dia mengatakan sesuatu, aku menyela ucapannya "Dimana Tou-san?"
Kaa-san tampak terdiam. Sebelum akhirnya menjawab "Dia sedang ada urusan sejak tadi pagi"
Aku mengangguk kemudian kembali menundukkan kepala. Berbagai macam perasaan berkecambuk dalam hatiku. Aku benci keadaan seperti ini.
Lamunanku buyar ketika Kaa-san bangkit dari duduknya. Dan aku sukses tertegun ketika dia mengucapkan sesuatu sebelum beranjak pergi meninggalkanku sendirian dikamar.
"Aku tahu ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan. Kau bisa menceritakannya setelah merasa lebih baik. Istirahatlah, wajahmu terlihat sangat lelah" itulah yang Kaa-san ucapkan sebelum benar-benar pergi dari kamarku
~OoOoO~
Hari beranjak malam. Aku bisa melihat siluet langit jingga diujung sana. Matahari yang terbenam terlihat sangat indah. Setelah makan malam bersama kedua orang tuaku, aku memutuskan untuk pulang. Aku merasa lebih baik sekarang, walaupun aku tidak menceritakan apapun pada mereka. Tapi sepertinya Kaa-san dan Tou-san mengerti hal itu.
Sedikit bernostalgia. Sudah lama sekali aku tidak melewati jalan ini. Jalan yang sangat jarang dilalui orang-orang –apalagi ketika hari beranjak malam seperti sekarang. Dan langkahku terhenti ketika tepat diujung sana aku melihat seorang gadis sedang berdiri. Seorang gadis yang sangat ingin aku hindari sekarang. Namun aku terdiam ketika melihat lebih jelas matanya yang sembab. Gadis itu seperti habis menangis. Dia berjalan pelan kearahku, dan raut wajahnya semakin terlihat jelas seiring langkah kakinya yang semakin dekat padaku.
Seketika itu juga kekhawatiran meluap dalam dadaku. Aku memang membencinya. Aku sangat membencinya. Tapi dia tetap sahabatku. Dia tetaplah Tayuya. Aku tidak bisa untuk tidak bersikap khawatir padanya. Dengan perlahan aku mulai melangkah mendekat kearahnya. Semakin dekat. Dan semakin dekat sampai akhirnya jarak diantara kami hanya terpaut selangkah.
"Tayuya-chan? Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat kacau? Apa terjadi sesua–"
'PLAAAKKK' Rasa panas dan nyeri menguap diatas permukaan kulit pipiku. Tamparan keras itu berhasil membuat wajahku berpaling. Aku tertegun ketika menyadari bahwa Tayuya-lah yang baru saja menamparku.
"Apa yang kau–"
"Menjauh dari Uchiha Sasuke!" desisnya dengan tatapan tajam yang sangat menusuk
Aku merasa seperti dijatuhkan dari ketinggian beribu-ribu kaki diatas tanah. Rasanya sakit dan hancur berkeping-keping. Aku kembali terluka. Berusaha tegar aku mengangkat wajahku, berpura-pura menatap bingung kearahnya.
"Apa maksudmu? Kenapa aku harus menjauhi sahabat masa kecilku?" aku terkekeh, kontras sekali dengan jeritan hatiku yang meminta untuk segera pergi dari hadapan Tayuya
"Jangan bersikap bodoh! Aku tahu kalau kau dan Uchiha itu memiliki hubungan lebih daripada sekedar Sahabat"
DEG
Aku terdiam. Wajahku kembali tertunduk. Pelupuk mataku kembali terasa panas. Namun aku berusaha mati-matian menahan agar air mata itu tidak jatuh. Tayuya tahu aku memiliki hubungan lebih dari sekedar sahabat dengan Sasuke? Dia tahu? Tapi kenapa dia malah memutuskan untuk bertunangan dengannya?
Setelah menarik cukup banyak oksigen akan menjadi lebih tenang. Aku kembali mengangkat wajahku. Menatap nyalang kearahnya.
"Kenapa kau masih mau bertunangan dengannya kalau kau tahu tentang hubunganku dengan Sasuke?!" aku membentaknya dan dia terlihat terkejut akan hal itu
Namun keterkejutan itu hanya sesaat, sebelum aku melihatnya menyeringai. Sebelum pandangannya kembali menajam.
"Jika kau tidak ingin melihatnya menderita. Jauhi dia!"
"Apa maksudmu?" aku bingung atas apa yang baru saja diucapkan oleh Tayuya
"Pertunangan ini terjadi karna sebuah kerjasana antar dua perusahaan. Uchiha Corp membutuhkan perusahaanku untuk bisa selamat dari ambang kerugian. Mereka membutuhkan kerja sama ini agar bisa keluar dari ambang kebangkrutan! Apa yang bisa diberikan oleh gadis sepertimu, hah?! Apa yang bisa kau bantu agar perusahaan Sasuke kembali pada keadaan semula? Apa yang kau punya, Haruno Sakura?!" ucapnya tajam
Aku terdiam. Pandanganku kosong. Tayuya benar. Aku hanyalah gadis biasa, apa yang bisa aku berikan pada Sasuke untuk membantu perusahaannya? Apa yang bisa kulakukan? Aku tidak memiliki apapun. Aku juga bukan gadis yang berasal dari keluarga terpandang dengan segudang harta.
"Tapi aku mencintainya" Sakura mengangkat wajahnya ketika mendengar Tayuya berucap dengan pelan
"Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali dalam pesta bisnis. Dia dengan sejuta kelebihan yang dimilikinya membuat aku seketika itu jatuh cinta padanya. Setiap waktu sejak hari itu aku berusaha mencari tahu tentang dia.
Berusaha mendekatinya. Menggapai dia dan hatinya. Namun semua itu gagal. Dia tidak pernah sedikitpun melirik kearahku. Sampai akhirnya kesempatan seperti ini datang. Kesempatan yang membuatku bisa memiliki dia seutuhnya. Tapi aku salah! Aku memang bisa memiliki raganya! Tapi tidak dengan hatinya. Karna hatinya sudah terlebih dahulu tertambat padamu! Gadis biasa yang sangat memuakkan!" Tayuya berucap dengan panjang lebar, air mata sudah setia mengalir dari kedua matanya. Gadis itu tampak sangat rapuh.
Dia terlihat tulus. Aku bisa melihat itu dari sorot matanya. Kebencian dan cinta yang sangat besar.
"Walaupun ini hanya bentuk sebuah kerjasama aku tetap mencintainya. Aku mencintainya dengan tulus. Aku bahkan rela memberikan semua yang kumiliki untuknya. Untuk Sasuke. Tapi dia tetap tidak berpaling darimu. Dia tetap mencintaimu. APA YANG KAU MILIKI SAMPAI MEMBUAT DIA MENJADI SEPERTI ITU?!" Aku terkejut ketika Tayuya mendorong tubuhku dengan kuat, membuat keseimbanganku goyah dan akhirnya terjatuh diatas tanah.
"Buat dia membencimu atau dia akan aku buat menderita"
DEG
Aku menatap nanar kearahnya. Menatap gadis yang berdiri dihadapanku dengan angkuh. Tanpa terasa air mata yang sedari tadi kutahan terjatuh. Aku menangis dalam diam.
Ini gila! Aku tidak bisa membuat Sasuke-kun membenciku! Aku tidak cukup kuat untuk melakukannya! Tapi yang lebih mengenaskan lagi aku tidak bisa melihat Sasuke-kun menderita. Aku tidak akan sanggup melihatnya menderita. Tidak! Tidak akan pernah!
Lamunanku buyar ketika Tayuya mengeluarkan ponselnya. Jari lentiknya tampak menari-nari diatas layar touchscreen itu sebelum akhirnya dia menempelkan benda canggih itu ketelinganya. Dia tampak berbicara pada seseorang.
Dan tak lama setelahnya ada dua orang wanita yang datang. Wajah mereka tampak menyeramkan. Dan tepat setelah kedua wanita itu datang, Tayuya mulai berpaling. Sebelum dia benar-benar meninggalkanku dengan kedua wanita sangar ini. Dia sempat mengucapkan sesuatu yang membuatku tercengang sekaligus menatap tidak percaya kearahnya.
"Beri gadis itu pelajaran! Tapi jangan membunuhnya! Aku ingin dia sadar akan posisinya!"
End Of Flashback [End Of Sakura POV]
Lamunan gadis Haruno itu buyar ketika ponselnya kembali menjerit. Dia tahu siapa yang menghubunginya. Karna ringtone yang diberikan olehnya pada nomor itu berbeda dengan yang lain. Dengan ragu gadis ini mengangkat sambungan telfonnya.
"Moshi-Moshi... Gaara"
~OoOoO~
Itachi menatap sendu seorang pemuda yang sedang duduk diberanda taman belakang rumahnya. Dilihat dari kejauhan pemuda itu seperti sedang menikmati suasana sore dalam ketenangan. Namun jika dilihat dari dekat akan terlihat sebuah kepedihan yang mendalam.
Berhari-hari terkurung dirumah semewah ini membuat pemuda itu terlihat seperti seekor elang dalam sangkar emas. Terlihat gagah namun terkurung. Dia kehilangan kebebasannya. Kehilangan kebahagiaannya. Dan yang paling penting, dia kehilangan harapannya.
Lagi-lagi ucapan pemuda Uzumaki yang ditemuinya beberapa hari lalu kembali berputar dan menggema difikirannya.
"Mereka adalah sahabatku. Aku mengenal mereka berdua hampir sepanjang umur yang kumiliki. Dan selama ini aku tidak pernah melihat mereka begitu 'sakit', apalagi Sakura-chan. Kalau aku jadi adikmu, aku akan melakukan apapun untuk menyelesaikan hal ini tanpa harus melepaskan tangannya"
Itachi melangkah dengan pasti mendekati kursi taman yang sedang diduduki oleh seorang pemuda. Oleh adiknya.
Kosong. Hampa. Putus asa. Kecewa. Gelisah. Sedih. Perasaan seperti itulah yang tergambar pada sorot mata bungsu Uchiha ini. walaupun wajahnya terlihat datar namun semua perasaannya terlalu mudah dilihat melalui sorot matanya.
Itachi menghela nafasnya sebelum akhirnya mengambil tempat untuk duduk disamping pemuda itu. Pemuda yang sejak tadi tidak menggubris kedatangannya. Pemuda yang sangat disayangi olehnya. Pemuda yang selalu berkata datar dan pedas ini hanya diam. Mulutnya seolah dikunci oleh sesuatu.
"Kau jadi pendiam sejak aku pulang. Apa terjadi sesuatu? Kau bisa membagi ceritamu denganku" akhirnya Itachi membuka suara. Sudah selama beberapa hari ini dia ingin berbicara dengan adiknya. Tapi aura yang dikeluarkan adiknya selalu membuatnya mengurungkan diri. Ditambah sikap tertutup dan raut kesedihan itu.
Namun suasana tetap hening. Sasuke tetap terdiam. Bahkan dia tidak memberikan sedikit gerakan atau lirikan apapun pada Itachi. Bungsu Uchiha itu terdiam seperti sebuah patung.
"Kau tahu, aku bertemu dengan Naruto beberapa waktu lalu" Itachi mulai bercerita tanpa menghiraukan adiknya yang hanya diam ditempat
"Dia bersumpah akan menghajarmu jika kau tetap bersikap seperti ini" kekehan ringan terdengar dari sela bibir tipis Itachi
"Perkataan bodoh 'kan? Bagaimana mungkin dia bisa menghajarmu? Bahkan kau yang memiliki otak jenius tidak bisa keluar dari sini. Bagaimana dengan dia yang bodoh bisa masuk kedalam sini" lanjutnya masih dengan sebuah senyuman –yang entah sejak kapan terlihat sedikit lebih sendu
"Biarkan. Aku akan membiarkan dia menghajarku. Karna faktanya aku memang tidak bisa melakukan apapun. Dia bahkan bisa mengambil Sakura dariku. Ya, dia bisa melakukannya" onyx Itachi membulat, matanya menatap nanar adik semata wayangnya
"Apa maksudmu?" desis Itachi, kedua tangannya segera mencengkam kerah baju sang adik. Memaksanya menatap langsung onyxnya
DEG
Itachi terdiam, cengkramannya melonggar ketika melihat sorot mata Sasuke tampak sangat rapuh dan kosong. Semakin melonggar sampai akhirnya terlepas. Itachi menghela nafasnya. Tidak menyangka kalau adiknya yang angkuh dan memiliki sifat egois yang sangat tinggi ini bisa terlihat sangat rapuh.
"Jadilah dirimu apapun yang terjadi. Kejarlah segala hal yang kau inginkan. Jagalah apa yang membuatmu bahagia dan jika kau kehilangan hal itu maka kejarlah sampai kau berhasil mendapatkannya" Sasuke mengangkat wajahnya, menatap langsung Itachi yang sedang menatap langit senja
"Kau ingat kalimat itu?" Itachi menoleh, menatap langsung mata Sasuke yang membulat
Untuk sesaat Uchiha bersaudara itu terdiam. Merenungi ucapan yang dilontarkan oleh Itachi.
~OoOoO~
"Apa yang terjadi?! Kenapa semuanya jadi begini? Apa yang kau sembunyikan, Naruto?" Iris Blue Ocean itu menatap sendu gadis yang amarahnya sedang memuncak
Suasana cafe tempat mereka berada saat ini sedang sepi mengingat jam makan siang sudah berlalu sejak beberapa jam yang lalu.
Hening. Pemuda dihadapannya terdiam. Pandangan matanya berubah sendu. Namun tatapan menuntut yang diberikan oleh Ino mau tidak mau membuat pemuda Uzumaki ini menceritakan semua yang diberitahukan Itachi padanya beberapa waktu yang lalu. Termasuk siapa yang membuat Sakura babak belur kemarin malam.
Ino mendengarkan dengan cermat. Setiap kata yang keluar dari mulut Naruto membuat air mata gadis Yamanaka ini terjatuh. Dia sedih. Kecewa. Marah. Terlebih lagi dia tidak percaya kalau Sasuke ternyata diam saja dan tidak melakukan apapun.
Apakah pemuda itu sudah tidak perduli pada Sakura? Tapi kalimat terakhir Itachi yang baru saja diberitahukan padanya membuat pemikiran itu hilang dalam otaknya. Gadis itu merasa bingung dengan keadaan yang ada.
Sasuke tidak mengetahui perihal Tayuya yang menyakiti Sakura. Itulah salah satu poin yang bisa ditangkap Ino selama pembicaraan tadi.
Dan ternyata selama beberapa hari ini bungsu Uchiha itu ditawan dirumahnya. Dia bahkan tidak bisa keluar dari kamarnya. Semua keperluannya selalu dibawa masuk kedalam kamar. Itulah yang diceritakan Itachi pada Naruto mengenai keadaan adiknya.
Benar-benar tragis. Mereka tidak pernah menyangka kalau semuanya akan jadi seperti ini.
"Naruto..?" Pemuda Uzumaki itu menoleh, Blue Ocean miliknya menatap terkejut pemuda berambut merah yang berdiri dibelakang kursi Ino
"G-Gaara.." Gumam Ino ketika matanya menangkap sosok Gaara yang sedang berdiri dengan datar
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Naruto ketika pemuda Sabaku itu mulai mendekat kearahnya
"Aku mencarimu" sahut Gaara sembari duduk disebelah Naruto
"Mencariku? Untuk apa?" kebingungan terlihat jelas diwajah Naruto, sementara Gaara hanya menganggukkan kepalanya
Semuanya terdiam. Menunggu Gaara mengatakan sesuatu. Dan ketika itu terjadi, pertanyaannya sukses membuat dua orang berambut pirang dihadapannya menegang "Apakah Sakura sedang ada masalah?"
"K-Kenapa kau bertanya seperti itu?" Mata Gaara memicing ketika mendengar Ino balik bertanya
"Aku bertemu dengannya pagi tadi. Dan wajahnya terlihat pucat" baik Ino maupun Naruto, keduanya tanpa sadar menahan nafas mereka masing-masing
"Ka-Kau bertemu dengannya?" Iris jade itu berpaling kearah Naruto, menatap datar pemuda disampingnya sebelum dia sendiri menganggukkan kepala
"Bagaimana bisa?" Ino tanpa sadar sedikit berteriak dan Gaara menyadari hal itu. Ada yang sedang disembunyikan oleh kedua orang ini
"Aku sudah melihat berita itu tadi pagi. Cukup mengejutkan. Apalagi aku mendengar kabar kalau mereka berdua sedang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih sejak beberapa bulan lalu. Aku mengkhawatirkannya, jadi aku memutuskan untuk menghubunginya. Dan saat itu dia meminta tolong padaku"
Terkejut dengan penuturan Gaara. Naruto dan Ino memilih untuk mendengarkan cerita pemuda Sabaku ini.
"Meminta tolong?" Ino membeo ucapan Gaara
"Ya, dia meminta tolong agar aku mau berpura-pura menjadi kekasihnya"
DEG
Baik Naruto maupun Ino, keduanya sama-sama mematung mendengar penuturan Gaara. Berbeda dengan pemuda itu yang malah menatap datar dirinya
"Awalnya aku menolak permintaan itu, mengingat dia sudah memiliki Sasuke. Tapi ketika melihat tatapan dan raut wajahnya yang kacau, aku jadi tidak bisa menolaknya. Dia terlihat rapuh" pemuda itu menundukkan kepalanya, menatap sendu kedua tangannya yang mengepal erat diatas meja
"Jadi bisa kau ceritakan? Apa yang sedang terjadi pada Sakura?" kali ini Gaara memintanya dengan tulus. Ada kekhawatiran dalam iris jadenya. Membuat Naruto menghela nafas sebelum akhirnya kembali menceritakan kisah itu.
~OoOoO~
Hari beranjak Sore. Matahari mulai beranjak menuju peraduannya diufuk sana. Memperlihatkan pada seorang gadis yang sedang duduk dibangku taman itu siluet indah yang dibuat ketika sang matahari perlahan mulai turun.
Suasana disana persis seperti suasana 6 bulan lalu. Sebuah taman yang dulu menjadi saksi bisu pernyataan cinta Uchiha Sasuke. Sakura tersenyum ketika memori itu datang menyusup kedalam otaknya. Sebuah senyum getir.
Gadis Haruno itu ada disini bukan tanpa alasan. Melainkan karna sebuah sms yang diterimanya beberapa jam yang lalu. Saat ini addalah bulan November, jadi tidak heran jika udara disekitar gadis itu mulai berubah dingin. Namun sepertinya udara dingin tidak berpengaruh apapun pada gadis yang sejak tadi hanya duduk memandangi langit. Menatap siluet-siluet indah yang tercipta dilangit sampai orang yang ditunggunya tiba.
"Sakuraa!" panggilan itu berhasil membuat jantung Sakura berdegup kencang
Disana. Tepat dipintu masuk taman ini. Seorang pemuda berdiri dengan nafas tersengal-sengal dan keringat yang membanjiri pelipisnya. Sepertinya dia baru saja berlari dari jarak jauh. Ada rasa rindu dan kebahagiaan ketika melihat pemuda itu datang dan semakin mendekat.
Namun sanyuman manis yang biasanya mampir diwajah cantik itu kali ini hilang. Apalagi ketika pembicaraannya dengan Tayuya beberapa waktu lalu kembali terulang difikirannya. Sakura terus saja melamun sampai tidak menyadari sosok itu sudah berdiri tepat didepannya.
Sebuah senyuman cerah mampir diwajah tampan pemuda itu. Senyuman yang sangat jarang dia perlihatkan oleh siapapun. Senyuman yang ditujukan hanya untuk gadisnya. Kekasihnya. Belahan jiwanya.
"Kau datang, Sasuke-kun" Sakura berusaha bersikap seperti biasanya. Bersikap ceria, seolah-olah tidak terjadi apapun selama beberapa hari kemarin.
"Jadi? Ada apa kau memanggilku, hmm?" To the point. Sakura memilih melakukan itu sekarang.
Dia memang merindukan Sasuke. Senyumannya. Ucapannya. Suaranya. Pelukannya. Bibir itu. Onyx itu. Semuanya! Sakura merindukan semua yang ada pada diri Uchiha Sasuke. Namun ada perasaan sakit ketika dia berada dihadapan adik dari Uchiha Itachi ini. Perasaan sakit yang teramat sangat.
"Aku mencintaimu, Sakura. Menikahlah denganku"
DEG
DEG
DEG
"Apa... yang baru saja... kau katakan?" Sakura tampak terkejut. Wajahnya terlihat pucat! Walaupun siluet matahari membuat Sasuke tidak bisa melihat hal itu. sangat disayangkan.
"Ayolah, jangan membuatku mengulangnya" Sasuke terlihat sedikit panik dan gusar.
Hening. Baik Sasuke maupun Sakura tidak ada yang mengatakan sepatah katapun. Hanya suara koakan gagak dari kejauhan yang mengisi kesunyian diantara mereka. Entah karna terlalu terkejut atau karna ada hal lain. Tapi gadis Haruno itu hanya diam. Matanya memandang nanar Sasuke yang mulai kembali menatap Emerald itu.
"Menikahlah denganku, Sakura" akhirnya kalimat itu kembali meluncur. Membuat Sakura sadar dari lamunannya. Mencoba berfikir bahwa ini adalah mimpi. Namun dugaannya salah! Ini bukan mimpi! Ini adalah kenyataan! Kenyataan yang terus menamparnya! Kenyataan yang terasa sangat pahit!
"Haha, jangan bercanda Sasuke-kun" tawa renyah Sakura tiba-tiba mengudara, membuat Sasuke mengernyitkan alis. Bingung! Tentu saja!
"Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda?" Tawa renyah itu hilang. Membuat Sasuke lagi-lagi terdiam melihat perubahan pada wajah kekasihnya. Ada kesedihan disana. Kesedihan yang amat sangat. Dan sekarang Sasuke menyadarinya
"Ada apa Sakura?" Sasuke mencoba bertanya ditengah kekhawatirannya
Namun kembali hening. Gadis itu kembali terdiam. Wajahnya tertunduk, membuat Sasuke tidak tahu pasti wajah seperti apa yang dipasang oleh putri tunggal keluarga Haruno
"Jawab aku! Ada apa?" Sakura terlonjak kaget ketika Sasuke berteriak tepat didepan wajahnya.
Setelah menarik nafas panjang akhirnya gadis itu mengangkat wajahnya. Menatap langsung wajah Sasuke yang terlihat panik. Ada perasaan sangat saat Sakura melihat wajah itu. Perasaan hangat karna Sasuke masih perduli padanya. Namun perasaan itu kembali hilang. Hatinya kembali menjadi dingin.
"Kau sudah memiliki Tayuya-chan, kenapa kau masih berani meminta hal itu padaku?"
JDEEERRRR
Sasuke merasa seperti ada sambaran petir yang menyambar langsung dirinya. Tubuh pemuda itu menegang. Apalagi ketika menyadari apa sumber kesedihan tampak terlihat jelas diwajah Sakura.
"Apa maksudmu?" hanya itu yang dapat diucapkan oleh Sasuke
"Jangan berpura-pura bodoh, Sasuke-kun. Semua orang di Negri ini tahu kalau kau adalah milik Tayuya-chan" Lagi. Sasuke kembali menegang
"Apakah selama ini aku mengatakan bahwa dia adalah milikku?! Apakah selama ini kau melihat kami bermesraan?" tanya Sasuke, wajahnya terlihat gusar dan panik
Sakura tahu. Pemuda Uchiha itu sedang berusaha meyakinkannya. Kalau hanya dia yang dicintai seorang Uchiha Sasuke. Namun semuanya sudah kepalang menyakitkan bagi gadis ini. Persetan dengan cinta!
"JAWAB AKU HARUNO SAKURA!" Sasuke berteriak dengan frustasi. Sangat frustasi.
"Memang benar kau tidak menunjukkannya padaku secara langsung. Tapi kau menunjukkannya didepan publik, didepan semua kamera para wartawan. Didepan mata dunia. Apakah itu tidak cukup membuktikan bahwa kau mencintainya?"
Kedua tangan pemuda itu terulur untuk mencengkram lengan atas Sakura. Mengguncangkannya dengan panik dan gelisah. Wajahnya memucat ketika mendengar ucapan gadis yang dicintainya ini.
"Hentikan omong kosong ini Sakura. Gadis yang aku cintai hanya dirimu!"
DEG
Perasaan Sakura kembali menghangat. Sebuah senyuman hangat terpasang diwajahnya sebelum berubah menjadi getir.
"Maaf, Sasuke-kun. Aku tidak bisa menerima lamaranmu" Sasuke terdiam. Pemuda ini tertegun dan menunggu Sakura melanjutkan kalimatnya "Aku tidak bisa karna aku sudah tidak mencintaimu!" kali ini giliran Sakura yang berteriak. Matanya menatap nyalang Sasuke yang membeku ditempatnya
"Apa maksudmu?!" cengkaraman itu melonggar. Iris Onyxnya menatap nanar Sakura yang sedang tersenyum
"Kau tahu jelas apa maksudku" kedua tangan Sasuke sukses terlepas dari lengan atas Sakura, matanya masih menatap nanar Sakura yang sedang menyeringai "Aku mencintai pemuda lain. Apakah kau ingin tahu siapa orangnya?"
Sasuke terdiam. Menunggu Sakura melanjutkan kalimatnya. Dia tidak ingin Sakura mengucapkan nama lelaki itu, tapi disisi lain dia ingin mendengar siapa yang sudah berani merebut Sakura darinya. Dan alhasil pemuda Uchiha ini hanya diam. Menunggu Sakura melanjutkan kalimatnya.
"Pemuda itu adalah Sabaku Gaara"
DEG
"Jadi bajingan itu yang sudah membuatmu berpaling dariku?! Lihat saja! Aku pasti akan memberikan pelajaran padanya! Dan aku akan merebutmu kembali!" onyx Sasuke menatap tajam Sakura yang hanya diam bergeming
Dan tepat ketika Sasuke akan melangkah pergi Sakura berkata dengan nada putus asa "Tidakkah kau sadar? KAU YANG MEMBUATKU BERPALING PADANYA, UCHIHA!"
Sasuke menoleh. Memandang tidak mengerti Sakura yang mulai berkaca-kaca. Nafasnya tersengal-sengal seperti baru saja berlari ribuan kilometer.
"Apa maksudmu?"
"Aku bertahan dengan segala sifat keras kepalamu. Sifat egoismu. Sifat dingimu! Semuanya! Aku bertahan selama ini, Uchiha! Karna apa?! Karna aku mencintaimu! Tapi tidak setelah kau menyakitiku sedalam ini! Tidak, setelah aku mendengar kau bertunangan dengan Tayuya! Kau tahu 'kan? Dia sahabatku! KAU BERTUNANGAN DENGAN SAHABATKU, BRENGSEK!"
"Tapi aku tidak menginginkan pertunangan ini Sakura! Aku–"
"Apapun yang kau ucapkan tidak akan merubah status bahwa aku sudah berpacaran dengan Gaara!"
DEG
Sasuke terdiam. Lidahnya terlalu kelu untuk membalas ucapan Sakura. Kenyataan seperti membuat pemuda ini terhempas kedalam jurang tanpa dasar. Sasuke merasa hampa!
"Kau tidak menyangkanya 'kan?! Ya! Ini benar! Aku sudah resmi menjadi kekasih Sabaku Gaara" Sakura tersenyum dengan sinis! Kedua tangannya dilipat didepan dada. seperti memandang puas Sasuke yang hanya diam dan memandang kosong tanah dibawahnya
Tapi apakah benar kau puas dengan hal ini Haruno Sakura?
"Sejak kapan?" Sakura terdiam ketika ucapan itu keluar dari mulut Sasuke "Sejak kapan kau berpacaran dengannya"
"Hmm, sejak kau tidak memberiku kabar beberapa hari lalu. Dia sudah memintaku untuk menjadi pacanya ketika SMA dulu. Tapi aku menolaknya hanya untuk menunggu pemuda Uchiha yang bahkan sekarang mencampakkanku. Tragis dan malang sekali nasibku!" Sakura mendecih dan masih mempertahankan raut wajahnya
"Jadi, mulai detik ini kita putus, Uchiha Sasuke! Mulai detik ini kau sudah tidak terikat lagi padaku! Selamat! Kau bisa bebas bertunangan bahkan menikah dengan Tayuya! Aku ucapkan selamat padamu!"
'Tap'
'Tap'
'PLAAAKKK'
"INOOO!" panggilan nyaring dari kejauhan itu cukup berhasil merebut perhatian Sasuke dan Sakura yang semula hanyut dalam keadaan
"Naruto?" gumam Sasuke, ketika melihat pemuda itu berlari dengan nafas tersengal-sengal
"Apa yang kau katakan, Haruno Sakura?!" geram Ino, kedua tangannya sudah mencengkram erat kerah baju Sakura. Namun gadis itu hanya diam sampai akhirnya Sasuke menepuk dan mencoba melepaskan kedua tangan gadis Yamanaka itu
"Lepaskan, Uchiha! Aku–"
"Sudah. Cukup." potong Sasuke yang langsung membuat Ino melepaskan cengkramannya
Dan Sakura mencelos ketika melihat tatapan dingin itu terarah padanya. Tatapan itu bahkan lebih dingin daripada udara disekitar mereka. Onyx Sasuke menatap dingin kearahnya. Wajahnya bahkan lebih datar dari biasanya.
"Sakura sudah memilih keputusan itu. Dia sudah memilih Gaara untuk menjadi penggantiku" Sasuke kembali menatap langsung emerald milik Sakura. Dia menyadarinya. Ada yang janggal dari tatapan Sakura. Walaupun gadis itu masih tetap menatapnya dengan nyalang.
"Aku ucapkan selamat juga padamu, Haruno Sakura! Aku doakan kau berbahagia dengan Sabaku Gaara! Dan semoga saja kau tidak menyesali keputusan ini" dan setelah mengucapkannya Sasuke pergi meninggalkan Sakura yang menatap kosong punggung pemuda itu berjalan semakin jauh dan mulai menghilang
"PUAS KAU?!" bentak Ino tepat didepan wajah Sakura
"APAKAH KAU SUDAH MERASA BAHAGIA SETELAH MENGUCAPKAN HAL INI, HAH?! JAWAB AKU HARUNO SAKURA!" Sakura mengangkat wajahnya untuk menatap Ino.
Emerald itu terlihat kosong. Baik Naruto dan Ino menyadari hal itu. Ino tahu kalau pertanyaan yang dilontarkannya adalah pertanyaan bodoh, tapi tatap saja Ino merasa perlu mengetahui hal ini langsung dari sahabat pink-nya yang bodoh!
"Ya" jawaban yang diberikan oleh Sakura sukses membuat Ino dan Naruto terkejut. Kedua remaja itu menatap nanar Sakura yang kembali menundukkan kepalanya sebelum kembali menjawab "Aku bahagia, Ino"
Mematung. Kedua remaja yang memiliki warna rambut hampir serupa itu hanya bisa mematung ketika Sakura mulai beranjak pergi dengan langkah gontai "Dan Ino" panggil gadis itu membuat Ino tersadar dari lamunannya kemudian menatap gadis Haruno yang sudah berada beberapa langkah dibelakang Naruto
"Terimakasih sudah menamparku. Aku berhak mendapatkan hal ini. Yaa.. aku... sangat berhak mendapatkannya" Naruto dan Ino melihatnya dengan jelas
Tepat sebelum Sakura membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan dengan langkah gontai. Setetes air mata sudah meluncur dan membasahi pipi gadis itu. air mata yang jujur. Air mata kepedihan ketika harus melepaskan orang yang dicintainya.
"Apakah kau benar-benar bahagia, Haruno Sakura"
DEG
'Suara ini...'
Sakura segera mengangkat wajahnya ketika melihat siluet seorang pemuda sedang berdiri tidak jauh darinya. Pemuda itu berdiri dengan gaya yang sedikit angkuh. Mata Sakura terbelalak ketika mengetahui siapa pemuda itu.
"G-Gaara" lirih Sakura pada akhirnya
"Aku bertanya padamu. Apakah kau bahagia setelah melepaskan orang yang kau cintai demi melihat sahabat yang kau sayangi bahagia bersamanya?" Sakura terdiam. Matanya menatap kosong tanah yang menjadi pijakannya
"Aku rasa kau cukup cerdas untuk mengetahui apa jawabannya tanpa harus bertanya" Sakura kembali melangkah, namun sebelum gadis itu berhasil melewati Gaara ucapannya berhasil menghentikan langkah Sakura
"Aku butuh jawaban langsung darimu" datar. Pemuda itu masih bertanya dengan raut wajah datar. Dan menunggu, ketiga remaja yang berada ditaman itu menunggu Sakura menjawab pertanyaan Gaara
"Ya, aku bahagia, Apakah kau puas? Bisakah kau menyingkir. Aku mau pulang" Sakura mencoba menatap Gaara yang masih bergeming ditempatnya
"Kau berbohong" sela Gaara
And that`s it! Emosi Sakura sudah berada diubun-ubun. Pemuda Sabaku ini benar-benar menguji kesabarannya.
"LALU APA YANG BISA AKU LAKUKAN?! APA YANG BISA DILAKUKAN GADIS MISKIN SEPERTIKU?! JAWAB AKU! APA YANG BISA AKU LAKUKAN?!" Ino terkejut melihat Sakura berteriak
Akhirnya setelah sedari tadi menahan. Air mata itu meluncur dengan bebas dari matanya. Tidak lupa pula isak tangis yang mengiringi Sakura. Gadis itu jatuh terduduk, keadaan yang benar-benar mengenaskan bagi ketiga remaja yang melihatnya.
"Apa yang bisa aku lakukan Gaara? Aku mencintainya! Aku mencintai Sasuke! Aku akui itu! Dan aku meminta maaf padamu karna sudah melibatkanmu dalam hal ini. Tapi aku bisa apa?! Yang bisa menolong Sasuke hanya Tayuya! Aku tidak mau melihat Sasuke menderita! Kalau dengan melepaskannya aku bisa melihat dia bahagia, maka aku akan melakukannya walaupun itu menyakiti diriku!" Sakura meraung. Terisak dengan sangat keras. Sementara Ino yang melihat hal itu langsung berlari dan memeluk Sakura. Memeluknya dengan harapan hal itu bisa menenangkah hati Sakura
Sementara Naruto dan Gaara mulai jalan mendekat kearahnya. Menatap penuh iba gadis musim semi itu. "kau tahu? Dengan mengatakan hal seperti tadi, kau membuat dia menderita seumur hidup"
DEG
Sakura mendongak. Melihat Gaara yang berdiri menjulang dihadapannya. "Karna baginya, kaulah sumber kebahagiaannya. Aku sudah tahu apa masalahmu. Semuanya! Ino dan Naruto juga sudah tahu. Termasuk Tayuya yang mengancammu dan membuatmu babak belur. Atau tentang perusahaan Uchiha yang sedang berada diambang batas. Kami tahu. Tapi bagiku kau melakukan sebuah kebodohan, Sakura"
"Apapun yang aku lakukan tetap tidak bisa membuatnya kembali, Gaara. Semuanya sudah terlanjur. Semuanya sudah hancur. Dan waktu tidak bisa diputar kembali. Aku–" ucapan Sakura terpotong oleh Naruto yang menggenggam kedua tangannya dengan erat
"Masih belum terlambat, Sakura. Kau masih bisa menemui dan meminta maaf padanya. Masalah tentang Uchiha Corp serahkan hal itu padaku dan Gaara. Kami bisa menangani–" pemuda Uzumaki itu tampak terlihat sangat yakin. Kedua maniknya menampilkan sebuah semangat yang membuat Sakura menghangat
"Terimakasih, tapi ini sudah berakhir. Sebaiknya aku pulang, karna besok aku harus bangun pagi" gadis itu bangkit berdiri. Mengabaikan ucapan-ucapan lain yang dilontarkan Naruto atau Ino. Mengabaikan tatapan khawatir Gaara. Dia pulang dengan hati yang hancur.
.
.
.
TBC
.
.
.
Author's area:
Okee! Gold udah update nih :) Gimana feel nya dapet ga? Oh ya, Flashback dari sudut pandang author udah cukup sampe chapter ini dan chapter depan akan dilanjutin flashback dari sudut pandang Itachi, apa aja yang terjadi selama 3 tahun setelah Sakura bilang kayak gitu ke Sasuke. semuanya akan kejawab dichapter depan termasuk siapa yang nabrak Sakura. Hohoho *Smirk
Buat yang udah review tapi ga Gold bales, bukannya Gold gamau bales tapi di kolom review komen kalian gaada -_- padahal komen itu masuk ke email Gold :( Ebtah ini siapa yang salah~
Over all, terimakasih buat yang udah review, Follow dan Favorite. Setelah baca jangan lupa meninggalkan jejak dikolom review yaa, Termasuk kamu para silent riders, sekali-sekali bisaa laah meninggalkan jejak kalian~ *ngarep* hahha
Balas Review:
Hinamori Hikari : Banting saja mejanya biar ramai~ *Heeh?!* Tau tuuh, Bapa yang satu itu emang bener-bener deeh -_- Gold aja ga habis fikir wkwkwkw *Ikutan marah ceritanya* Iyaaa, Naruto emang suka sama Sakura dari lama tapi akhirnya mup on ke Hinata juga deh~ Buktinya mereka berdua udah tunangaan :D *Tapi emang bener begitu? Atau…
Akuro Asahara : Udah next yaaa
zarachan : Apanya yang sedih? Kisah cinta Gold? Kisah cinta Gold mah emang sedih PLAAKKK/Apaansi?
Jamurlumutan462 :Ini udah lanjut yaaa, Maafkanlah si 'Tbc' dia emang gitu anaknya *Apaandaaah* wkwkw *peace*
prince ice cheery : Kamu jatuh cinta sama fict aku? Kalo aku jatuh cintanya sama kamuu gimana dong? Hihihi, Terharu atau sedih? Dua hal itu beda tipis loh~ *Masaa? Gold sotau*
1 : Jangan nangiiiss! *Kasih tissue* Sinih Gold elapin aer matanyaaa :D Btw udah lanjut yaaa
dianarndraha : Ini udah lanjut yaaa
Harika-chan ELF : Ini anak abis makan apaan si? Girang banget kayaknya tiap komen -_- tapi gapapaah buat ramein kolom review *loh?* hahahaha Ini udah next yaa sayaaangg~ Jangan lupa review lagii, kalo ga review Gold aduin ke Sasu-chan looh *apa hubungannya Gold? -_-*
