Persetan dengan acara rapat yang masih berlangsung, Luhan meninggalkan ruangan dan berlari. Stiletto bewarna hitam itu beradu dengan lantai keramikhingga menimbulkan bunyi keras. Luhan tidak peduli orang-orang yang berlalu lalang menatapnya ingin tahu.

Perempuan ini membuka pintu yang tersedia di samping lift. Kakinya jenjangnya terlihat lincah menuruni tangga walaupun masih menggunakan stiletto.

Luhan sampai di undakan tangga yang menghubungkan lantai lima dengan lantai enam. Mendudukkan tubuhnya yang lemas lalu bersandar pada tembok.

Tidak mungkin 'kan?

Bagaimana ia tidak tahu kalau selama hampir delapan tahun ini bekerja di perusahaan ayah Yifan? Minseok yang lebih dulu menawarinya bekerja disini.

Lebih bodohnya lagi, presdir yang ia anggap berwibawa adalah sosok ayah yang egois bagi Yifan. Seseorang yang pernah Luhan kutuk dalam hati meskipun ia sama sekali tidak pernah punya bayangan seperti apa ayah Yifan.

Luhan mengusap kasar wajahnya. Keringat mulai bermunculan di dahinya. Bibir bawahnya tergigit; kebiasaan jika dia terlihat gelisah dan merasakan sesuatu yang buruk.

"Luhan?"

Satu suara sontak membuat Luhan menoleh ke belakang. Yifan dengan keringatnya bercucuran. Apalagi lelaki itu membungkukkan badannya sedikit dan menarik nafas pendek-pendek. Detik berikutnya, Yifan sudah memeluk Luhan erat.

"Luhan.." lirih Yifan berbisik di telinganya

Luhan merasa sangat tidak pantas sekarang.

Dia adalah karyawan kecil disini. Yifan adalah calon Presdir Utama yang baru dan sudah memiliki tunangan. Di mata orang-orang yang melihat akan terjadi kesalah pahaman.

Mereka berdua tidak menyadari ada satu orang lagi yang masih berada di tangga atas. Melihat kejadian awal yang berlangsung.

Sosok Oh Sehun dengan ekspresi datarnya yang sedingin es Antartika.


"Sassy Lady and City Cool Man."

Xi Luhan | Oh Sehun EXO-K | Wu Yifan

Romance | Friendship | Drama

Lenght: Chaptered | Rated: T

WARNING! : GS, drama-adict, menye-menye.

Disclaimer: semua cast yang kalian tahu dari dunia K-pop bukanlah milikku (berdoa saja, semoga Sehun milikku #slapped), mereka sepenuhnya milik Tuhan YME dan keluarga mereka masing-masing. Aku hanya yang memiliki plot cerita ini atas nama ©Hwang0203 dan kuharap kalian bisa membuat cerita khayalan kalian sendiri daripada harus meniru orang lain ._.

[1]A/N: Ya ampun! Aku berterima kasih sekali pada readers-nim sekalian yang udah mau nge-review fanfic aneh ini. Aku nggak bakal nyangka kalau review-nya nembus 200+. Aku berterima kasih banget! Makasih juga udah ada yang mau ngertiin ke-hiatus-an ku di dunia fanfic. ILYSM readers-nim!

P.S: Please listen 'Feist – Comfort Me' when you read scene about Yifan-Luhan and Sehun-Luhan. Thank You^^

.

Chapter 9 : The Savor of Me

.


(Back Song: Feist – Comfort Me)

Luhan melepas paksa pelukan Yifan. Dia mencoba menilik manik mata Yifan. Mencoba mencari apa yang disembunyikan lelaki itu padanya. Nyantanya, Luhan tidak menemukan apapun selain sorot kejujuran dari mata lelaki itu.

"Untuk apa kesini? Ayahmu pasti sangat malu putranya kabur dari acara penting berkumpulnya para investor dunia." sindir Luhan. dia tidak tahan untuk bersikap dingin pada pria ini.

"Lu, tolong jangan salah paham dulu." Yifan mencoba menggapai telapak Luhan untuk digenggam. Nyatanya Luhan menepis lebih cepat dari dugaannya.

"Apalagi? Selama delapan tahun aku dibodohi. Minseok juga yang hampir sepuluh tahun bekerja disini dari magang. Aku tidak menyangka aku bekerja untuk orang yang memisahkan anakku dengan ayahnya."

Disatu sisi Yifan ingin membantah, tapi ditelah rasa bersalah luar biasa hanya membuatnya seperti robot anggukan.

"Kau pun juga sama seperti pria itu! Kau lebih memilih hal yang tidak berguna daripada anakmu sendiri –darah dagingmu sendiri!" Luhan berseru kesal, untung saja di daerah tangga ini terkenal angker maka tidak ada yang berani melewati daerah tangga darurat lantai enam-lima.

"Apa kau tahu posisiku? Kau mengenalku hampir tujuh tahun; dan kau masih belum mengerti aku, Luhan?"

Luhan melongo tidak mengerti. Kenapa Yifan balik menyerangnya? Ia termasuk hitungan korban dan tidak sepatutnya Yifan membuatnya kembali terpojok. Seolah semua kesalahan itu terletak pada dirinya.

"Terpisah sejak kecil karena keegoisan ibuku sendiri. Bertahun-tahun selalu berpindah tempat agar orang-orang suruhan ayahku tidak mengetahui dimana kami. Kau bagaimana rasanya dipisahkan oleh orang tua yang dekat denganmu selain ibu?"

Luhan pernah merasakannya. Dulu saat ia masih kecil, ibunya marah besar pada ayahnya dan memaksa Luhan ikut bersama ibu ke rumah Nenek yang ada di Yunnan. Dipisahkan dari sang ayah yang dekat dengannya selama berminggu-minggu sebelum masalah teratasi membuat Luhan kecil menjadi depresi ringan.

Apalagi Yifan yang bertahun-tahun dan selalu berpindah tempat kemanapun asal tidak ditemukan. Tidak lama, ibu Yifan meninggal saat mereka masih di Korea dan Yifan memutuskan menetap di Korea dengan menggunakan nama pemberian ibunya –Li Jiaheng.

"Bagaimana rasanya, Luhan? Karena dulu aku adalah anak yang dipisahkan oleh ibu dari ayah, aku tahu rasanya kehilangan dan merindu."

"Yue juga merasakan yang sama sepertiku. Ayahku mencariku dan memintaku kembali; aku menurutinya karena ini juga menjadi tanggung jawabku. Sebagai penebus kesalahan dari ibuku juga," Yifan menatap dalam ke manik Luhan. Dalam satu tarikan nafas, "biarkan aku juga sama seperti ayahku untuk satu ini; meskipun Yue tidak ada disini, setidakya aku bertanggung jawab terhadapmu."

Perempuan ini melangkahkan kakinya mundur beberapa langkah. Kepalanya menggeleng seolah pekataan Yifan seperti komedi dagelan yang tidak ada humornya.

"Kau… bagaimanapun perbuatanmu yang kau anggap sebagai 'tanggung jawab' tidak akan mengembalikan Yue-ku. Kau mencoba jadi pahlawan, terlambat dalam jangka waktu sangat lama, Jiaheng." desis Luhan. Yifan mendengarnya, tetapi terasa sulit menerima kenyataan bahwa ia sangat terlambat.

"Setidaknya biarkan aku bertanggung jawab kepadamu."

"Apa yang salah dariku?" Luhan mencoba mengontrol emosinya.

"Aku bahkan bisa meninggalkan jabatanku sekarang, membatalkan pertunangan dengan Zitao. Apapun –sebagai ganti Yue."

Luhan benar-benar marah sekarang. Ia melangkah maju mendekati Yifan dan menampar keras pipi lelaki itu.

"Kau bilang apa? Sebagai ganti Yue? Dengar, Yue-ku sudah tiada –salah faktornya adalah KAU!" nafasnya memburu, suasana semakin tegang diantara mereka.

"Kau akan meninggalkan semua yang kau dapat demi aku? KENAPA TIDAK DARI DULU LAKUKAN ITU UNTUK ANAKMU?!" Luhan tidak habis pikir bagaimana Yifan akan membuat semuanya terasa lebih sulit dari yang semestinya. Ditambah campur tangan ayah lelaki itu malah memporak-porakan semuanya.

Tamparan telak itu serasa mengahantam diri Yifan beribu kali lipat. Menghimpit dirinya dan selalu ingin meledakkan rasa yang Yifan pendam selama ini.

"Jangan harap aku bisa memaafkanmu jika kau masih bertingkah seperti ini." Luhan bersiap meninggalkan Yifan, tetapi sebelum sempat, Yifan mencekal pergelangan tangannya.

"Bukankah… kau pernah bilang apapun yang terjadi, aku akan berada di pihakku?"

"Aku pernah berkata begitu, tetapi itu bukanlah janji. Jika dalam keadaan seperti ini, mungkin aku juga akan berpikir sepertimu. Sayangnya… kau sendiri yang membuat bertambah rumit. Karena itu aku memilih jalan lain; melupakanmu."

Luhan menghempaskan cekalan Yifan yang mengendur lalu pergi dari sana meninggalkan Yifan sendirian.

Luhan tidak mencintainya lagi…

Luhan sudah terlalu lama menunggu dan terlalu banyak dilukai…

Sekarang, Yifan harus berusaha melepas Luhan terbang. Bukan menahannya dengan alasan tanggung jawab sebagai ayah Yue.

Diam-diam Yifan merutuki kebodohannya sendiri.

"ARGH!" Tinjuan keras pada dinding membuat tangannya berdenyut sangat sakit dan lecet. Bahkan tembok disana meninggalkan jejak tangan Yifan yang meninjunya.

.

.

Luhan mendatangi mejanya dan membereskan apapun yang ada di sana. Semuanya. Bahkan kardus sebagai barang cadangan pun Luhan keluarkan untuk memasukkannya ke dalam kardus.

Semua yang ada di sana tampak keheranan dan bingung. Terutama Minseok.

"Luhan! Apa yang terjadi?!" Luhan tidak menjawab. Dia masih sibuk membereskan barangnya.

"Luhan!"

"Kau sebaiknya membereskan semua barangmu, Kim Minseok. Tinggalkan surat keterangan kalau surat pengunduran diri akan segera menyusul. Tanpa pesangon pun tidak apa-apa."

"APA?!" semua yang mendengar perkataan Luhan menjadi ricuh. Terutama Minseok.

"Apa-apaan kau?!"

"Turuti saja! Kau harus ikut denganku, Minseok!"

Sebelum menjawab apa yang terjadi atas kekacauan yang Luhan buat di ruangannya, seseorang sudah berdiri di belakang Luhan. Memegang erat pundak Luhan untuk berbalik menatap iris matanya.

Iris mata atas sikapnya yang dingin dan juga –Luhan tidak berbohong dan yakin– ada sayatan luka pada sorot mata itu.

"Kau buat kekacauan apalagi, perempuan bar-bar?" emosi Luhan makin memuncak mendengar Sehun menyebutnya seperti ia adalah perempuan yang pantas dihina.

Tidak cukupkah emosinya disulut oleh Yifan dan sekarang Oh Sehun?!

"Persetan denganmu! Jangan ikut campur!"

"Dengar," Sehun berhasil membuat Luhan mengehentikan kegiatan gilanya. Dengan mengkungkung gadis itu agar tidak bisa bergerak. Mengunci dalam pandangan yang menuntut lawan.

Cara aneh, tapi ampuh. Cara murahan, tetapi efektif.

"Kau menyuruh Minseok juga keluar? Kau sadar tidak, mencari pekerjaan di Seoul tidak segampang kau meminum kopi Americano-mu. Apa kau menjamin pekerjaan Minseok setelah kalian keluar? Meski dia sahabat sejatimu, kau tidak perlu mengganggunya sampai batas pribadi yang tidak ingin kau usik."

Luhan menggeram marah. "Lalu siapa kau?! Apa masalahmu padaku hingga bisa ikut campur?!"

"XI LUHAN!" geram Sehun tidak tahan. Semuanya yang ada di sana diam tidak bisa berkomentar apapun atau memberikan penengahan.

"APA YANG INGIN KAU DENGAR, BASTARD!"

Sehun menggeret Luhan menuju parkiran bawah tanah. Lebih baik bicarakan ini berdua dengan Luhan tanpa ada yang mengganggu.

Mereka sampai dan untung saja disana sepi kendaraan. Sehun melepas kasar cekalannya pada Luhan sehingga perempuan itu meringis sakit.

Sehun sudah diliputi kabut emosi.

Mereka saling beradu pandang. Tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka sama-sama dicekam rasa kekecewaan dari sumber pengkhianatan.

"Apa hubunganmu dengan Yifan hyung?"

Luhan terdiam di tempatnya. Tidak menyangka pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulut Sehun. Ia melirik takut-takut ke arah mata Sehun. Lelaki yang lebih muda darinya itu menatapnya penuh tanya, kekecewaan dan juga rasa sakit yang mendera.

"Kau tahu?"

"Aku menyusulmu, tidak sengaja melihatmu adu mulut dengan laki-laki itu." Sehun menghela nafas. Tidak ada gunanya juga ia berbohong darimana sumber yang ia dapat.

"Kau tahu; kau terlihat sangat menyedihkan. Atau bagi orang lain, kau sama seperti perempuan penijilat. Mendekati Yifan karena kalian dulu teman satu sekolah. Apa yang kau sangkal?"

Kuku putih Luhan memucat. Giginya bergemelutuk marah.

"Kupikir Yifan hyung adalah orang baik sehingga aku bisa melepas Zitao dengan mudah. Dia terlihat mencintai Zitao dengan tulus. Nyatanya? Hahaha…. aku salah besar," Sehun tekekeh meski intonasi suaranya terdengar berdeda dari cara orang tertawa secara alami.

"Penilaianku terhadapmu juga berbeda dari sebelumnya. Dari awal memang kau seperti perempuan barbar. Setelah aku mencoba mengertimu, aku malah tertarik padamu. Bukankah tu sebuah hal aneh?"

Luhan masih diam. Dia tidak ingin berkomentar apapun karena kelihatannya Sehun masih belum ingin mengakhiri racauannya.

"Tuhan berbaik hati padaku. Untung saja, Dia memperlihatkanku kebusukan yang dipendam. Kau dan Yifan. Hahaha… aku seperti orang idiot yang mudah dibodohi. Zitao dan aku benar-benar ditipu oleh akting kalian selama ini–"

"Tutup mulutmu jika tidak mengerti aku. Kau tahu aku, tetapi tidak mengenalku. Kau hanya melihat apa yang aku tunjukkan di luar, tapi kau tidak mencoba memahamiku secara psikis. Orang macam itulah orang yang tersesat."

Sehun menegang di tempatnya. Luhan hanya memfokuskan pandangannya ke arah lain, asalkan bukan ke arah mata Sehun.

"Aku tanya padamu, Tuan Oh. Bagaimana jika kau meninggalkan Zitao dalam keadaan hamil?"

"A-apa?" Sehun tidak bisa percaya ini. Apa maksud Luhan sebenarnya? Dia hanya bisa menebak dalam hati dan menunggu berbagai jawaban yang sekiranya membantu.

"Aku sekali lagi bertanya padamu; bagaimana perasaanmu jika dipaksa meninggalkan Zitao dalam keadaan hamil anakmu untuk segala kekayaan maupun perempuan pilihan seperti aku –contohnya."

Mereka sama-sama diam. Tidak bisa memusatkan segalanya pada satu hal. Saat itu dipikiran mereka hanyalah lelah dari segala kenyataan yang pahit. Ingin menemukan jalan keluar dengan cepat.

"Aku mungkin akan… gila." lirih Sehun.

Luhan menoleh ke arah Sehun. Lelaki itu menunduk, tidak ingin melihat mata Luhan yang mulai berair.

"Aku tidak membela Yifan; tetapi kau tidak mengenal Yifan lebih dari sekedar rekan bisnis dan sebagai pengambil hati perempuan yang kau cintai. Aku hanya menunjukkan apa yang tidak kau tahu dan tidak seharusnya kau men-judge seperti kau tahu segalanya."

Sehun masih diam di tempatnya. Kali ini dia yang bisu dan Luhan yang mulai berbicara.

"Posisiku adalah… sebagai perempuan masa lalu Yifan dan sebagai ibu dari anak kandung Yifan."

Sehun nyaris jatuh dari tempatnya berdiri. Lututnya serasa lemas untuk menompang segala keterkejutan. Matanya terbelelak tidak percaya. Hingga sesekali kepalanya menggeleng tidak percaya.

"Dan anak kami… tidak selamat. Korban dari keegoisan orang dewasa. Tuhan mengambil bayi kami agar tidak kembali disiksa keegoisan para orangtua."

Sehun menarik nafasnya dalam-dalam.

Inilah jawaban dari segala rasa penasaran Oh Sehun ketika insiden di pinggiran Sungai Han beberapa waktu yang lalu.

Xi Luhan pernah menjadi ibu tunggal untuk bayi yang tidak selamat.

Dan ayah dari bayi Luhan adalah Wu Yifan; orang yang telah ia anggap sebagai hyung sendiri.

"Kau…"

Mereka masih menyelami perasaan masing-masing. Luhan berusaha terlihat tegar di hadapan Sehun; seperti ia tunjukkan pada orang-orang yang menaruh simpati padanya.

"Luhan… bagaimana jika Zitao tahu ini?" entah Sehun sadar atau tidak telah menanyakan hal yang paling membuat Luhan sensitif.

"Sehun, kau memintaku untuk bersamamu. Kau memiliki ketertarikan padaku. Benar 'bukan?"

Sehun hanya diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Alasanku untuk ragu menerimamu adalah… dalam bagian hatimu masih terdapat Zitao. Kau memilihku hanya sebagai pelarianmu semata."

Bukan itu. Sehun ingin membantah jika selama ini ia murni tertarik pada Luhan. Bukan karena pelarian apalagi Zitao.

"Tidak. Aku benar-benar tertarik padamu."

"Pembohong besar!" maki Luhan tidak sadar. "Itulah yang membuatku semakin membencimu, Oh. Aku juga salah menilaimu! Aku mengira kau tulus–"

"–AKU TULUS PADAMU, LUHAN!"

"Lalu kenapa kau masih memusingkan Zitao? Apa yang ada di kepalamu?"

Benar. Secara tidak sadar, tubuh dan pikirannya sudah terbiasa reflek jika menyangkut Zitao. Meskipun sepenuhnya ia tidak lagi mencintai Tao dan terkadang sering sekali bernostalgia waktu bersama Zitao; dalam hati Sehun tahu bahwa semuanya telah salah dan berubah.

Karena lelaki ini bukan lagi tertarik, tetapi mulai mencintai Luhan.

"Jika kau masih ragu, aku bisa mundur dan menghilang." Luhan melangkah menjauhi basement. Sudah cukup banyak emosinya yang terkuras.

Sedangkan Sehun masih mematung di tempatnya. Tidak tahu harus apa. Seolah beku yang membuatnya terpaku. Punggung Luhan yang ringkih menghilang memasuki gedung.

Kalimat Luhan terus saja terngingang di kepalanya.

'Jika kau masih ragu, aku bisa mundur dan menghilang'

"Sialan!"

.

.

Yang membuat Zitao bingung adalah kepergian Sehun dan Yifan yang sangat kompak. Setelah pengumuman penerus jabatan berakhir, Yifan dan Sehun segera melesat meninggalkan ruang rapat. Presdir Yi Wei pun terlihat bingung oleh tingkah dua orang itu. Tapi Zitao meyakinkan calon ayah mertuanya kalau Sehun kembali ke pekerjaannya dan Yifan mungkin butuh udara segar.

Setelah mendapat ijin dari Yi Wei dengan alasan menyusul Yifan. Dia segera bergegas di seluruh gedung untuk mencari kemana keberadaan Yifan saat ini.

Mungkin dia ada di lantai enam. Lantai enam terkenal dengan kafe mungil di sudut ruangan yang berada di lantai ini. Tempat para karyawan bersantai jika jam makan siang.

"Bagaimana rasanya, Luhan? Karena dulu aku adalah anak yang dipisahkan oleh ibu dari ayah, aku tahu rasanya kehilangan dan merindu."

Langkah Zitao terhenti. Dia mendengar suara Yifan samar-samar. Dia mengikuti kemana suara itu berasal, hingga akhirnya ia membuka pintu darurat dan melihat Yifan dengan seorang perempuan yang hanya terlihat punggungnya saja. Zitao seperti tahu siapa itu, tetapi tidak bisa mengingatnya lebih.

Zitao mencoba untuk lebih dekat. Ini memang kurang sopan; menguping pembicaraan orang. Tetapi calon suaminya terlibat dan ia harus tahu.

Dengan perlahan, Zitao berada di pinggiran pegangan tangga. Dia tidak mencoba untuk menunjukkan diri karena di spot ini juga Zitao akan terlihat lebih mudah. Hanya bersembunyi di balik pegangan tangga untuk bisa melihat dan mendengar lebih jelas.

Kaget? Tentu saja! Perempuan itu ternyata Xi Luhan; teman seangkatan Yifan saat di SHS!

Apa yang mereka perbincangkan sehingga harus memiliki quality time. Sepenting apakah dan serahasia apa?

"Apa yang salah dariku?" wajah Luhan sudah memerah penuh emosi. Zitao tahu itu.

"Aku bahkan bisa meninggalkan jabatanku sekarang, membatalkan pertunangan dengan Zitao. Apapun –sebagai ganti Yue." Zitao melongo tidak percaya. Dia bahkan hampir terjatuh jika tidak berpegangan pada pegangan tangga.

Apa yang terjadi sebenarnya?

Selagi Zitao masih sibuk berspekulasi, perempuan modis ini bisa mendengar suara tamparan keras. Pipi kiri Yifan yang memerah dan tangan Luhan yang terangkat tinggi.

Zitao berspekulasi lagi kalau Luhan menampar Yifan. Dan itu benar terjadi.

"Kau akan meninggalkan semua yang kau dapat demi aku? KENAPA TIDAK DARI DULU LAKUKAN ITU UNTUK ANAKMU?!"

Zitao benar-benar jatuh terduduk saat ini. Sekaligus membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan isakannya.

Apa kata Luhan tadi? 'Anakmu'? Apa selama ini… –

Oh, jangan. Zitao merasa beban hidupnya makin bertambah.

Zitao masih bisa mendengar apa yang mereka peributkan. Tetapi ia tidak menyimak sama sekali. terakhir yang Zitao tahu adalah teriakan frustasi Yifan dan juga suara hantaman yang keras.

Zitao berjengit saking kagetnya. Selama ini dia adalah penyebab hubungan Luhan dan Yifan retak. Selama ini, dia tidak tahu kalau darah daging Yifan sendiri menderita dan harus kehilangan nyawa.

Luhan menuruni tangga menuju lantai lima sedangkan Yifan masih berdiri di tempatnya.

Zitao menyalahkan dirinya sendiri.

Mereka bertiga diam-diam saling terluka dan melukai. Ziato, Yifan, dan Luhan.

Lingkaran takdir membawa mereka dalam persoalan hati yang rumit.


\'Luhan sekarang lebih tenang. Kau tidak usah khawatir, dia ada padaku dan Yixing.'/

"Terima kasih banyak, Noona. Aku merepotkanmu."

Sayangnya, Sehun tidak bisa melihat senyum Minseok disana. \'Kau tenang saja. Luhan seperti keluargaku sendiri. Yang kucemaskan adalah dirimu. Kau terlihat kacau sekali di kantor.'/

"Aku baik, tenang saja. Aku mohon bantuanmu untuk menjaga Luhan."

\'Baik. Aku tutup teleponnya. Luhan bisa curiga padaku.'/

"Ya, selamat malam." Sehun memutuskan panggilan bersama Minseok.

Setelah insiden di parkiran bawah tanah, Sehun berniat menyusul Luhan dan mencoba menjelaskan lebih persoalan hati. Nyatanya Sehun terlambat. Meja Luhan bersih dari barang-barangnya sedangkan meja Minseok terlihat seperti biasanya –hanya saja pemilik dan tas tangan itu lenyap.

Yongguk mengatakan kalau Luhan memaksa Minseok pulang bersamanya. Wajah Luhan terlihat pucat dan matanya sembap. Minseok sempat berpamitan pada Yongguk dengan alasan mengantar Luhan ke rumah sakit dan memilih opsi langsung pulang.

Sehun menggeram frustasi. Tidak alam saat mednekati jam makan siang, Minseok datang ke kantor. Sehun terus saja menyita jam makan siang perempuan itu (dan Jongdae sempat merasa cemburu) dengan memborbadir berbagai pertanyaan tentang Luhan.

Luhan memang berniat mengundurkan diri dari perusahaan binaan ayah Yifan. Sehun tidak bisa menebak jalan pikir Luhan. Mungkin gadis itu merasa bodoh jika terus-terusan berada di sana.

Mungkin, Luhan berpikir sehun tengah mempermainkan perasaan perempuan itu. Menganggap jika Sehun tidak serius tertarik pada Luhan.

Apalagi setelah rahasia Luhan terkuak langsung oleh Luhan, tidak membuat Sehun lantas menjauhi perempuan berdarah China itu. Dia ingin merengkuh Luhan, melindunginya dari segala hal yang dapat menyakiti perempuan itu. Dia ingin mengatakan pada Luhan selama akan baik-baik saja selama Luhan masih ada disisinya.

Ya, Sehun harap begitu sebelum malamnya yang penuh dilemma itu tergantikan oleh suara bel apartemen. Sehun kira mungkin saja itu petugas pengurus apartemen atau malah… Luhan. Tapi opsi terakhir itu ditepis jauh-jauh oleh Sehun.

Ketika pintu kayunya terbuka, sosok Zitao yang tersenyum cerah dengan kantung plastik yang terangkat tinggi sejajar wajahnya.

"Zitao-yah.."

"Ingin minum, Sehunnie?"

.

Sehun masih menonton apa yang dilakukan Zitao. Meneguk berbotol-botol soju tanpa membiarkan Sehun menghentikan gadis panda itu. Sejujurnya, ia khawatir. Zitao tidak pernah berurusan dengan minuman berakohol kadar tinggi. Benar saja, baru minum dua botol, Zitao sudah kepayahan karena mabuk. Meracau ini, meracau itu. Tiap kali Sehun mencoba menjauhkan botol soju dari Zitao, tangan Sehun ditepis kasar.

"Apa kau ingin tahu rasanya tongkat wushu-ku, Sehunni?" Sehun bersumpah saat itu pertama dan terakhir kali Sehun terkena tongkat wushu Zitao saat gadis itu salah sasaran. Kalau tidak salah saat di SHS ketika Sehun menonton Zitao berlatih.

"Apa ada yang mengganggumu?" Zitao bukannya menjawab, malah tertawa kencang sekali. Telinga Sehun menjadi pening. Oh, gadis yang ia kira selalu polos ini ternyata mabuk lebih parah dari Jongin.

"Hikss... Sehunnie~ aku gadis menyedihkan yang terlalu naif." celutuk Zitao dan kembali meneguk soju-nya. Alis Sehun berkerut.

"Ya, saking naifnya kau terkena imbasnya."

Zitao tersenyum lebar. "Nde~~ inilah balasan setimpal yang kudapat atas apa yang telah kurebut tanpa sadar." meski mabuk, Sehun masih heran mengapa Zitao masih bisa membuat pola kalimat yang susah dimengertinya.

"Katakan, Huang Zitao. Kau semakin menyedihkan." Zitao terkikik pelan, meneguk sebentar soju-nya dan mendesah lega ketika cairan itu melewati tenggorokannya.

"Sehun, kau pasti tahu 'kan kalau Luhan-jie dan Yifan-ge punya hubungan di masa lalu?" Sehun tersentak di tempat duduknya. Bagaimana Zitao bisa tahu? Darimana gadis ini dapat info secepat tanpa ia duga?

"Zi–"

"–bahkan Luhan menderita banyak karena Yifan memilih meneruskan perusahaan ayahnya dan aku. Dia bilang, dia bahkan rela meninggalkanku demi Luhan. Padahal aku… hiks…"

Sehun tidak berkata apapun. Hatinya teriris melihat Zitao menangis. Bukan, bukan seperti perasaan dulu yang ia kira adalah perasaan cinta meluap-luap, tapi seperti… kasihan?

Ia tidak tahu.

"Kenapa? Kenapa harus sekarang baru terungkap?! Apa Luhan yang meminta Yifan-ge seperti itu?"rjengit.

"Dasar bajingan gila!" teriak Zitao tanpa sadar membuat Sehun.

"Mereka berdua sama saja! Bajingan gila! Mati saja di neraka!"

"HUANG ZITAO!" Sehun tidak tahan dengan makian yang dilontarkan Zitao. Meskipun ia tahu Yifan memang pantas mendapatkannya, tetapi untuk kasus Luhan, ia sedikit tidak terima.

"APA?! Bahkan sekarang pun kau membela jalang itu di depanku!"

"Jangan sekali-kali berkata Luhan jalang! Dia kira dia mau menerima kehidupan seperti ini?!"

"Bagaimana dengan aku?! Kau pernah mencintaiku, Sehun. Kita pernah berbagi sebagai teman. Mana solidaritasmu untukku?!"

Plak!

Sehun menatap tidak percaya pada tangannya yang baru saja mendarat kasar di pipi kiri Zitao. Sedangkan Zitao merasakan pipinya panas dan basah oleh air matanya sendiri.

Tangan sialan, Yifan bajiangan!, Sehun terus saja merutukkan kalimat itu dalam hatinya selama satu menit keterkejutannya.

"Maafkan aku Zitao, sungguh, ini diluar nalarku!" Sehun berusaha mendekati Zitao, tetapi Zitao malah menjauh dari Sehun.

"Kau berubah, Sehun. Jalang itu telah mengubahmu sejauh ini." lirih Zitao.

"Zitao, bagaimana kalau kau di posisi Luhan? Apa kau bisa membayangkannya? Tidak pernah; aku benar bukan? Aku juga tidak bisa membayangkan diriku berada di posisi bajingan gila itu. Yang harus disalahkan dari semua ini adalah Yifan; kenapa kau masih membelanya, Zitao?!"

Zitao masih diam. Sedikit dengan isakannya.

"Aku melakukan ini karena aku bukan membela Luhan sebagai orang yang spesial bagiku; karena aku paham bagaimana rasanya jadi Luhan. Kuharap kau berpikir lebih matang lagi dan segera meminta konfirmasi pada si bajingan gila itu –aku tahu kau belum membicarakan hal ini dengannya."

Zitao menangis keras.

"Kau tidak salah, Taotao. Hanya saja… keadaan yang membuatnya semakin rumit." tutur Sehun melembut. Segera ia rengkuh tubuh Zitao dan gadis itu menangis sepuasnya.

Dan tepat saat itu, Yifan datang memasuki apartemen Sehun tanpa ijin.

Menemukan tunangannya menangis keras di pelukan , jangan lupa mata tajam Wu Yifan juga menangkap berbotol-botol soju yang kosong di atas meja makan.

.

.

Yifan kalang kabut ketika Nyonya Huang mengatakan Zitao belum sampai ke rumah sedari acara perkenalan singkat sebagai pewaris di perusahaan Wu Corp.

Lelaki blasteran ini tentu saja kalang kabut. Pasalnya, ia yang bertanggung jawab atas Zitao sebagai tuangannya. Mereka pulang bersama dan bodohnya Yifan, mengijinkan Zitao mampir ke tempat tujuannya tanpa ditemani Yifan.

Lelaki jangkung ini melirik pergelangan tangannya, mencoba melihat jarum jam di jam tangannya. Sesekali juga memerhatikan ponselnya; siapa tahu Zitao atau anggota keluarga menelepon mengabarkan keberadaan Zitao.

Yifan mendnegus keras.

Hari ini hidupnya sekacau kapal pecah.

Pagi tadi dia mendapatkan tamparan Luhan, sekarang masalah Zitao yang membuat pundaknya semakin berat.

Ada satu tempat di kepala Yifan. Mungkin saja Zitao mendatangi tempat tersebut. Lagipula, ia cukup tahu. Tidak alam kemudian, Yifan sampai di tempat tujuannya. Menaiki lift menuju lantai lima dan mencari letak pintu apartemen yang dikehendaki.

Tidak perlu berusah payah, Yifan tahu password apartemen Sehun karena dia pernah memergoki Sehun yang menginput nomor password-nya tanpa Yifan sengajai.

Ya, kalian berpikir benar bahwa tujuan Yifan adalah apartemen Sehun. bisa saja 'kan lelaki albino itu tahu keberadaan Zitao.

Tapi, begitu dia memasuki ruang tengah, hal yang tidak ia percayai terjadi di depan matanya.

Zitao menangis keras di pelukan Sehun. Apalagi ia menemukan berbotol-botol soju yang kosong. Yifan tidak bisa berpikir jernih kali ini. Ia menatap geram Sehun yang juga menatapnya dengan ekspresi datar.

Dengan cepat, Yifan menarik kerah baju Sehun hingga membuat pelukan lelaki itu mengendur dan Zitao jatuh terduduk begitu saja. Yifan mencekal kuat-kuat kerah Sehun, tetapi Sehun masih bisa mempertahankan expressionless-nya.

"Apa yang kau lakukan pada Zitao, heh?!" desis tajam Yifan. Sehun tersenyum miring mendengarnya.

"Ada apa denganmu? Harusnya aku yang bertanya seperti itu." Sehun memablasnya dengan keras. Volume yang meninggi itu makin membuat Yifan mendidih.

"Brengsek! Ikuti aku!" Yifan terus saja menarik kerah Sehun untuk mengikuti langkah Yifan yang terilang cepat. Mereka keluar dari apartemen Sehun disusul Zitao yang mencoba melerai. Untung saja ini sudah mendekati tengah malam; kemungkinan kecil tetangga akan tahu ini. Yifan mencoba membawa Sehun ke atap untuk menghindari ribut di lantai apartemen sehun hingga mengganggu para tetangga.

Setelah sampai di atap, Yifan melepas cekalannnya dan berganti meninju rahang Sehun hingga bibir lelaki albino itu robek dan berdarah. Zitao yang baru datang dan memekik hebat mengetahui Yifan telah meninju Sehun dengan amat kuat.

Zitao berlari ke arah mereka, menjadi penengah. "Kalian berpikir berkelahi menyelesaikan masalah?! Berpikirlah secara logis!" amuk Zitao.

"Zizi!" Yifan tidak habis pikir bagaimana Zitao bertingkah seolah dia berada di pihak Sehun. "Bagaimana aku tidak berpikir logis; tunanganku bersama mantan pacarnya sekaligus temannya, tengah malam dengan berbotol-botol soju. Dimana pikiranmu yang logis, Zi?!"

Sehun mendorong pelan Zitao untuk berada di pinggir. "Taotao, berhentilah membuang tenagamu. Biar kali ini kuurus sebagai temanmu. Ini urusan lelaki, okay."

Zitao melotot, "Kau gila! Bagaimana–"

"Just watch and enjoy!" sela Sehun lalu segera berbalik menuju Yifan dengan senyumnya yang remeh. Dia bukan lagi melihat Yifan sebagai sosok hyung yang patut dihormati. Semua itu menghilang seperti asap ke yang menghilang dengan cepat.

"Siapa yang seharusnya marah disini? Aku, kau, Zitao atau… Luhan?" satu nama yang disebut oleh Sehun mampu membuat Yifan menegang di tempatnya. Kenapa Sehun membawa nama Luhan dalam pertengkaran yang ada diantara mereka bertiga?

"Jangan kira aku tidak tahu apa yang terjadi padamu dan Luhan. Lelaki brengsek sepertimu pantas mendapatkan…"

BUGH!

Satu tinjuan keras yang juga membuat luka lebam kecil di rahang Yifan. Dia tidak percaya Sehun bisa melakukan ini padanya.

Sehun balik menantangnya. "Kau tidak terima? Ini balasanku untuk Luhan dari apa yang kau perbuat, brengsek! Kenapa saat itu kau lebih memilih perusahaan sialan itu daripada kekasih yang mengandung anakmu? KAU YANG HARUSNYA BERPIKIR LOGIS, WU!"

Bugh!

Kali ini Sehun meninju perut Yifan yang membuat lelaki blasteran itu terduduk dengan lutunya. Menahan perih akibat hantaman keras di perutnya.

"Kali ini untuk Zitao. Kemana lagi otak warasmu? Apa kau gila meninggalkan semuanya yang hampir seratus persen demi egomu untuk bertanggung jawab? Kau terlambat, Wu. Sangat. Bagaimanapun, masa lalu tidak bisa kau ubah sesuai kehendakmu. Inilah resiko yang kau dapat. Jika berani lagi kau melakukan hal konyol; mungkin aku bisa mengirim pembunuh bayaran untukmu."

"Sehun.." rintih Yifan. Dia mendongak dan mendapati wajah sengit Sehun yang seakan benar-benar ingin membunuhnya.

"Kau benar-benar keterlaluan. Disaat ada dua wanita yang memikirkanmu dan mencintaimu tulus, kau mengabaikan salah satunya dan membuat beberapa orang terluka. Termasuk aku dan Luhan." di akhir kalimat, Sehun tertawa keras. Setelahnya dia hanya menatap remeh Yifan yang masih terduduk.

"Sekarang aku dan Luhan memilih melupakan jalan lama dan memilih jalan baru untuk tujuan kami. Kenapa kau menghalangi jalan kami semakin susah, Wu? Asal kau tahu, aku sudah ikhlas jika kau menikah dengan Zitao karena memang kaulah kebahagiaan Zitao. Aku bertemu Luhan dan kami sama-sama ingin menyembuhkan luka di hati masing-masing. Kenapa kau harus muncul lagi, Wu? Luka itu malah semakin menyebarkan infeksi kerena kau adalah kumannya."

Sehun bahkan hampir menangis jika mengingat Luhan tadi pagi di basement. Wajah frustasi dan penuh sarat kekecewaan itu membuat hati Sehun berdenyut sakit.

"Zitao tahu, Wu. Karena itu dia mengadu padaku dan mabuk adalah cara satu-satunya dia bisa melupakan masalah tentangmu." Yifan tidak percaya dnegan kata-kata Sehun. Dia mencoba melihat ke arah Zitao yang memandangnya cemas. Wajah itu… jujur. Tidak menemukan kebohongan sama sekali.

"Aku mencoba menenangkannya, tapi kau malah berlagak seolah aku adalah penjahat. Justru kaulah yang penjahat!"

Mata Yifan terasa panas dan nanar. Yang sempat ia sadari adalah, Sehun yang pergi meninggalkan mereka berdua dan Zitao yang segera memeluknya erat.

"Kau baik-baik saja? Apa Sehun terlalu melukaimu?"

Suara lembut Zitao membuat Yifan sadar. Sepenuhnya sadar.

Kalau dia adalah penjahat sekaligus bajingan yang brengsek dan gila!

.

.

(Back Song: Feist – Comfort Me)

Saat ini Bugatti Veyron milik Yifan melaju pesat melewati hiruk pikuk jalanan Seoul yang masih padat. Baik Zitao dan Yifan masih bungkam semenjak mereka turun dari atap gedung apartemen Sehun. Lelaki berkulit pucat itu menghilang entah kemana meninggalkan mereka berdua.

Zitao masih setia dengan kota Seoul malam hari sedangkan Yifan masih berpusat di depan sana sembari tangannya memegang kendali setir.

"Ge.."

"Tidak sekarang, Zitao. Ini sudah terlalu larut, aku akan memulangkanmu pada Mama."

"Setidaknya beri aku penjelasan singkat agar aku bisa tenang malam ini."

Yifan menepikan mobilnya. Beruntung mereka bukan ada di jalan tol, jadi Yifan masih bebas memakirkan mobilnya di tepi jalan.

"Setidaknya… beri tahu aku apa kau serius tentang pembatalan pertunangan."

Yifan jelas kaget. Bagaimana Zitao tahu sedetail itu?

"Maafkan aku, tapi… tidak sengaja aku menguping pembicaraanmu dengan Luhan tadi pagi." seolah tahu apa yang dipikirkan Yifan, Zitao mencoba menjelaskan.

Yifan mendesah berat. Lelaki ini harus segera mengkonfirmasi ini lebih lanjut.

"Kita dekat selama hampir delapan tahun semenjak pertemuan pertama kita. Sudah seharusnya kau tahu bagaimana aku, Zizi."

Zitao mencoba tersenyum meskipun terlihat sekali dipaksa. "Aku tidak tahu ini benar atau tidak; tapi melihat cara bicaramu dan keseriusanmu, kau terlihat akan melakukannya."

"Aku merenung beberapa jam setelah kejadian tamparan Luhan yang membuatku tahu. Aku hanya diliputi rasa bersalah pada Luhan. Dia harus menanggung banyak hal karena keegoisanku; bahkan nyawa putri kami sekalipun."

Putri kami, Zitao tersenyum kecut mendengarnya.

"Tapi percayalah Zizi; aku tidak akan melepasmu. Sungguh." tepat beberapa detik setelah itu, Yifan kembali mengemudikan mobilnya dan Zitao kembali melihat-lihat pemandangan diluar sana.

Entah itu terasa benar ataupun sebagai kalimat penenang saja, tapi hati Zitao sudah merasa nyaman untuk dipertahankan.


Luhan merasa ada yang tidak beres padanya beberapa waktu ini. Padahal, ia sempat tenang setelah menangis dan menceritakan semuanya pada Yixing dan Minseok.

Ada yang kacau, tapi Luhan tidak tahu apa itu.

"Astaga! Aku tidak yakin jika kau dalam masalah, Lu." decak Minseok mendapati ruang tengah apartemennya yang ditempati Luhan itu penuh sampah-sampah makanan.

Luhan punya kebiasaan aneh jika dia merasa sangat kacau. Makan adalah pelampiasan selain menangis.

Seperti ini; 3 mangkuk jajangmyeon, dua porsi pizza jumbo, lima kotak pocky dan tiga mangkok ramen ukuran sedang. Bahkan kali ini Luhan tengah menjejalkan biskuit ke mulutnya meski kelihatannya wajah Luhan sangat sembap sehabis menangis selama dua jam.

"Seokkie,"

"Hm?"

"Apa aku salah?"

Minseok tidak sepenuhnya mengerti apa yang diucapkan oleh Luhan. Perempuan itu hanya mengerutkan alisnya dan menunggu lebih jelas apa maksud perkataan Luhan.

"Sehun. Aku sudah membuatnya sakit hati. Aku sudah mengatakan apa yang tidak ingin dia dengar."

Miseok memeluk bahu ringkih Luhan sesekali mengusapnua lembut. "Kau tidak salah. Seharusnya memang dia tahu masalahmu. Sekarang lebih baik, daripada saat Zitao dan Jiaheng terikat."

Luhan hanya mengangguk pelan. Tapi pikirannya berkecamuk kemana-mana. Saat Luhan ingin bercerita lebih banyak lagi kepada Minseok, mereka dikejutkan suara bel pintu apartemen Minseok.

"Mungkin itu Jongdae. Aku memintanya mampir sebentar, hitung-hitung biar kau tidak bosan berdu denganku." Luhan membiarkan Minseok di depan dan menunggu disini; melanjutkan acara memakan biskuit yang tadi tertunda.

"Astaga!"

Luhan dapat mendengar pekikan Minseok dari depan sana. Tanpa pikir panjang, Luhan segera melesat menuju pintu depan. Bukan sosok Jongdae yang Minseok katakan. Tetapi Sehun dengan luka lebam dipipi dan juga ujung bibirnya yang sobek.

"Luhan…"

.

(Back Song: Gabriel Urbain Fauré – Sicilienne)

Luhan mmilih untuk membawa Sehun ke tanah kosong yang dijadikan taman publik oleh pihak apartemen. Setidaknya disini lebih baik daripada di apartemen Minseok. Ini sudah larut dan Luhan tidak ingin Minseok mendapat complain pihak tetangganya.

Perempuan ini merapatkan jaket wol-nya. Udara musim gugur semakin dingin saja.

"Aku ini bukan mainan yang kau cari. Sudah kukatakan, jika kau mencari pelarian, sayangnya bukan aku." Luhan memilih membelakangi Sehun. Lelaki itu hanya menatap nanar punggung Luhan. Detik berikutnya Luhan menahan nafas; Sehun menuburuk punggungnya dengan pelukan.

"Lepas, Oh!"

"Tidak sebelum aku mengatakan hal yang harus kau tahu." Sehun mengunci lengan Luhan, meskipun perempuan itu berontak, tetapi masih kalah dengan kekuatan Sehun.

"Dengar, Noona. Aku tahu, jarak umur kita sangat berbeda. Tujuh tahun bukanlah angka yang sedikit untuk jarak umur; terlebih lagi jika aku yang termuda."

Luhan mendengus meremehkan, "Sana pergi! Carilah mahasiswi yang lebih muda beberapa tahun darimu!" tutur Luhan.

"Bagaimana jika perhatianku tertuju padamu?"

Luhan mengehentikan aksi berontaknya.

"Bagaimana jika aku terlanjur mencintaimu? Apa kau bisa menjamin aku mencintai seseorang sama seperti aku mencintaimu?"

Luhan masih membisu di tempatnya.

"Kau diam. Tandanya kau tidak bisa menjamin, Xi."

"Kau masih bocah."

"Dan di pikiran bocah sepertiku adalah aku mencintaimu tanpa syarat apapun. Meksipun itu masa lalu ataupun jarak umur kita; yang dipikirkan bocah sepertiku itu masa bodoh. Aku mencintaimu, itu lebih penting dan utama."

"Kau mungkin merasakan sesaat ini untukku." Luhan mencoba menyangkal. Dia tidak ingin terjerumus lagi seperti pengalaman pahitnya dulu.

"Luhan," Sehun melepaskan pelukannya. Membalikkan tubuh Luhan agar berhadapan dengannya. Iris Luhan bertemu irisnya yang membuat Luhan. Mata cantik itu terlihat sedikit bengkak dan sembap.

"Tidakkah kau bisa menerima kenyataan bahwa aku mencintaimu? Sepenuhnya, aku tidak main-main." Sehun berbisik lirih dan mendekatkan wajahnya agar sejajar dengan wajah Luhan.

Sedangkan perempuan itu membulatkan matanya. Tidak menyangka jika Sehun seserius ini.

Semakin dekat… bahkan Luhan ikut memejamkan kelopak matanya saat bibir Sehun sudah mendarat pada bibirnya. Dingin. Ciuman itu terasa hangat dan terasa pas sekali bagi mereka.

Lembut. Tanpa paksaan.

Sehun menyalurkan segala perasaannya pada Luhan melalui ciumannya.

Meskipun beberapa menit ciuman itu terlihat menuntut, tetapi keduanya terlihat tidak ada paksaan sama sekali. Luhan tahu, Sehun mencintainya. Yang perlu Luhan tata adalah bagaimana caranya agar ia juga sepenuhnya mencintai Oh Sehun.

Ciuman mereka terlepas. Telapak tangan Sehun yang sedari tadi menangkup pipi Luhan, kini berganti membelai wajah perempuan yang lebih tua tujuh tahun darinya.

"Kau cantik. Dan aku mencintaimu." bibir Sehun kembali menyerang bibir Luhan. Terlihat kasar, tetapi Luhan menikmatinya walaupun ia merasakan darah Sehun di sela-sela ciuman mereka.

Sehun bersorak dalam hati. Dengan begini, Luhan menerima kenyataan bahwa seorang Oh Sehun mencintai Xi Luhan setulusnya.

.

"Apa tidak apa-apa Noona?"

Yang dipanggil Noona oleh Jongdae malah terkikik pelan sembari memegang handycam tersebut. Merekam moment dua anak manusia yang saling berbagi rasa dalam ciuman panjang.

"Hihihi… biar saja. Kalau mereka menikah nanti, aku akan mengirim video ini sebagai hadiah." celutuk Minseok. Meksipun ini sudah malam, posisi dua pelaku utama yang tepat di bawah sorot lampu taman itu yang membuat kualitas video ini semakin baik dan jelas.

"Noona, aku juga ingin mencium Noona seperti managermu. Apa boleh?"

Minseok menoleh ke belakang dan mendapati wajah Jongdae sudah penuh kenistaan oleh berbagai macam fantasi.

Perempuan berpipi bulat ini menendang tulang kering Jongdae tanpa mengubah posisinya merekam adegan HunHan.

"Jangan macam-macam."

"Ughh… sakit!" desis Jongdae, tetapi wajahnya kembali normal. "Aku berdoa semoga Sehun cepat membawa Luhan Noona pergi dari apartemenmu, Noona."

Minsoek mengangguk pelan. "Semoga saja. Dengan itu hubungan mereka semakin ada peningkatan."

"Bukan itu."

Minseok mengerutkan keningnya heran. "Lantas?"

"Supaya aku bisa cepat-cepat memakanmu." dan smirk mesum itu terlukis di wajah Kim Jongdae

"DASAR MESUM!"

.

.

|| Bersambung ||

.

.

A/N: Hola putas~~! Apa ini bisa dikatgeorikan fast update? Aku ngebut bikinnya, tiga hari langusng jadi.. Aku nulis karena jadwal bimbel nggak sepadat awal tahun jadinya dua jam seharinya aku sempatkan mengetik fanfic dan spazzing (yah, meskipun akhirnya menghabiskan 5jm karena berhubung abang EKSOH lagi kambek).

Well, THANK YOU GUYS review chapter kemaren nyampe 30 lebih. Aku kira, mungkin banyak yg lupa sama nih fanfic. Setiap kali nggak ada semangat, aku selalu baca review kalian. Itu penyemangat buat aku. (Dan setelah aku baca ulang chapter kemaren, jadi malu banyak typo, lol). 15 page dgn 6k+words; itu untuk kalian, guys.

Soal ending chapter ini, muahahaha, sesekali selipin ChenMin gak papa kan? Aku shipper mereka selaen nge-ship HunHan.

Maaf aku nggak punya waktu lebih buat bales review kalian satu-satu. Tapi untuk pertanyaan kalian, aku ringkas dan aku jawab di bagian terakhir, oke? Kayaknya aku juga bakal lama update karena ini April, dan shit! Awal Mei aku udah mau ujian dan masih belum paham beberapa rumus MTK T-T

Thanks to: lutfiatul96 | chenma | Guest | ryeowookunyu07 | meimei | Guest2 | bubble-peach | Fangirl lu han | Meilisa oh | listya | valensia1630 | MinGyuTae00 | minbyuliee | luhannieka | khalidasalsa | HunHanCherry1220 | HUNsayHAN | MeriskaLu | jdcchan | ramyoon | Shin jemun21 (sukses ujian parkteknya, Lo? Semangat yah!) | BQ18290 | hanhyewon357 | Kim YeHyun | KissKris | niasw3ty | younlaycious88 | Oh SeRa Land | Baby Kim | KiranMelodi | Re-Panda68 | kimyori95 | BeibiEXOl | rikha-chan | Oh Juna93 | Kiela Yue | ((apa ada yg nggak disebutin? Kaish tau ya semisal nama acc kalian belum aku sebutin))

((Ayo dong yg udah fav/foll, tunjukin diri kalian dengan review. Kesel juga sih kalo ada yg fav/foll tp nggak pernah review sama sekali!))

Q: Si Cadel bimbang nih. Last kemaren si Cadel ngajakin Rusa pacaran kan?
A: Iya bimbang; sebimbang hati author pengen ke pelukan Chen ato namplok si Lay ;-; Emang di chap 7 kemaren Cadel ngajakin Rusa, tapi kayaknya gegara sifat tetutup Rusa itu yang bikin Cadel ragu. Aslinya kalo pengen hubungan kan harus sama-sama saling terbuka dan jujur? (jan nethink ya pas bagian 'terbuka', wkwkwkw...)

Q: Bapaknya Naga tau nggak Rusa kerja di perusahaannya bareng si Cadel?
A: Nggak tahu; maksudnya author-nya juga nggak tahu sih, Allahualam deh ya.

Q: Rusa tahu nggak kalo Bapaknya Naga itu jaat :( ?
A: Nggak tahu. Rusa taunya dia banyak ngalamin hal aneh. Trus tiba-tiba si Naga bilang dia pen ke Bapaknya supaya Rusa aman dari pemburu suruhan. Dan itu Rusa nyimpulin Bapaknya Naga yg licik dan egois *sama aja kayak jaat ya?*

Q: Wah, kalo Cadel sama Naga rebutan Rusa, kasian si Panda dong ya?
A: Ihiks, aslinya saya nggak pen Panda dibikin mewek, jelek tahu kalo dia ngenes. Udah yg aslinya ditinggal, di epep juga ditinggal #ngawurOOT
Iya, oke. Kali ini dingenes-ngenesin dulu. Kita kan nggak tahu kalo ntar di akhir sapa tahu beranak pinak buat nerusin EXO generasi 2 dgn 12 member, #eh?

Q: Sebenernya ini Naga masih cinta alias sarang nggak ke Rusa?
A: In this chapter, you'll find the ANSWER!.

Q: Cadel masih cinta sama si Panda?
A: Panda kiyut gitu sih #OOT, maaf ngawur. Kalo baca chapter ini udah kejawab gak?

Q: Rusanya gimana ke Cadel?
A: balik lagi ke keraguannya Cadel-rusa, ya intinya dari penglihatan Rusa si Cadel masih cinta ke Panda padahal aslinya enggak. Rusanya takut dimainin

Q: Author gak suka dipanggil 'Unnie', 'Thor' ato 'Saengie', lha mau manggil apa? Kudu manggil Monyet gitu?
A: Panggil aja bebebh, bisa panggil sayang. Yang umurnya lebih muda biasanya manggil ane Hyung/Oppa. Yang umurnya lebih tua biasanya manggil ane 'Curut' ._. (eh, tapi ane cewek lho ya)

P.S: Si Canyul boleh dikarungin gak? Di MV Korean vers dia itu… asdfghjkl! #$%

P.S.S: Si Chen dance-nya makin oke. Jadi makin cinta deh (kecualikan rambutnya yg kayak mi goreng).