Fake Boyfriend, Real Love

Hampir nggak bisa move on dari Asian game. Banyak orang-orang keren jadi atlet, ngelihat mereka sampai lupa nulis chapter ini. Semoga yang ini nggak ada typo. Selamat membaca!

Kibum, Kyuhyun

Cerita romantisnya anak sekolahan, tapi punya rating di atas normal.

Cerita ini nggak nyata. Semua yang ada di dalamnya sengaja dibuat untuk kesenangan semata. Kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dll, mohon dimaklumi, karena kalau tidak ada kesamaan di dalamnya, namanya bukan fanfiction.

Part 10

Kibum menemukan Kyuhyun tengah memaksakan sebotol air mineral ke seorang anak. Anak itu terlihat ketakutan. Wajahnya pucat dengan peluh berucuran. Entah apa yang sudah diancamkan Kyuhyun padanya sampai keadaannya menjadi sangat mengenaskan. Kibum segera menarik Kyuhyun, membawanya menjauh dari tempat itu. Mencari tempat teraman, tempat di mana tidak ada orang lain selain mereka berdua.

Di parkiran, tempat tersepi dari semua tempat di sekolah saat jam pelajaran belum berakhir seperti sekarang ini. Seumpama Kibum adalah anak dengan temperamen kelas rendah, dia sudah membanting Kyuhyun. Mengamuk dan menjadikannya bulan-bulanan. Untungnya dia sadar diri. Dia anak baik, dia anak yang tidak ingin mencoreng nama baik orang tua, dia anak yang diakui Kyuhyun jadi kekasih, tidak mau membuat citranya buruk dengan julukan kekasih yang kasar. Dengan hanya melepaskan Kyuhyun di tempat sepi itu, kemudian mengancamnya.

"Sekali lagi kau berbuat seperti ini, aku tidak akan rugi mengambil keputusan untuk pura-pura tidak mengenalmu seumur hidup!"

Kyuhyun bingung. Bukan pura-pura, tapi asli tidak tahu. Dia tidak menemukan letak kesalahannya, tapi Kibum mengancamnya. Mereka sepasang kekasih, kalau Kibum tidak mau mengenalnya, lalu bagaimana cara mereka berhubungan?

"Aku berbuat apa?" Kyuhyun berusaha mencari tahu. Mukanya polos, tidak dibuat-buat.

"Kau tidak tahu apa yang sudah kau perbuat?"

Kyuhyun menggeleng. Benar-benar tidak tahu.

"Bagus!" Kibum memuji, memuji wajah ketidaktahuan Kyuhyun. "Bagus sekali!" Dia ingin marah, tapi lagi-lagi harus menekan kemarahannya. "Tetap di sini sampai kau tahu kesalahanmu. Jangan coba-coba pergi atau kita tidak usah jadi kekasih lagi!"

Kibum pergi begitu saja, tidak melihat Kyuhyun sekalipun.

Dia dipasrahi orang tua Kyuhyun untuk menjaga anaknya, otomatis mendisiplinkan anak itu juga jadi tanggung jawabnya. Sekarang ini seisi kelas sudah tahu kalau Kyuhyun adalah kekasihnya, kalau sampai ada selentingan yang mengatakan dia tidak becus mengurus Kyuhyun, mau ditaruh di mana mukanya? Mulai detik ini Kibum memutuskan akan melawan Kyuhyun, membuat anak nakal itu patuh padanya.

Kembali ke kelas, suasana yang tadinya ramai, mendadak hening ketika Kibum masuk. Was-was juga melihatnya. Takut ditanya-tanya. Tahu sendiri seperti apa teman sekelasnya, bertanya dan mengintrogasi tidak ada bedanya. Bisa-bisa Kibum jadi tersangka meski tak punya kasus.

"Heh, kau benar-benar memacari anak nakal itu?" Seseorang berteriak, mirip suara orang yang sedang histeris. "Sejak kapan?"

Donghae dan Eunhyuk sudah menceritakan sebatas yang mereka tahu. Meski begitu, itu belum cukup. Sebelum detail kisah cinta Kibum-Kyuhun terbongkar, mulut-mulut itu tak akan tinggal diam.

"Jadi kau dalang di balik kerusuhan yang dibuat Kyuhyun?" Seseorang lagi menyuarakan keingintahuannya, tapi itu tidak benar.

Sebelum Kibum mengklarifikasi, pertanyaan lainnya dilontarkan, "Atau kau berusaha menyadarkan Kyuhyun dari kenakalannya ?"

Sebenarnya pertanyaan itu juga kurang tepat, tapi Kibum lebih suka disebut sebagai orang yang berusaha menyadarkan Kyuhyun, daripada dianggap dalang di balik kenakalan anak itu. Sekarang ini menyangkal bahwa tidak ada hubungan antara dia dan Kyuhyun, sudah tidak mungkin. Bukti sudah tersebar di mana-mana. Jadi, yang bisa dia lakukan hanya jaga image agar tidak bertambah buruk meski dia punya pasangan seperti Kyuhyun.

Kibum belum diberi kesempatan menjelaskan. Dia duduk di bangkunya sambil menerima satu demi satu pertanyaan teman perihal hubungannya dengan Kyuhyun. Terakhir kali pertanyaan yang dia dapat adalah dari teman sebangkunya, yang menanyakan soal kedekatan keluarga mereka.

"Kudengar keluarga kalian sudah sangat dekat. Kau tidak berencana mengorbankan seluruh hidupmu untuk Kyuhyun, kan?"

Dengar dari mana? Bohong besar temannya ini. Tapi... soal keluarga itu memang benar adanya. Dan karena mereka duduk sebangku, Kibum menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan itu sesuai isi hatinya sekarang.

"Tidak!" jawabnya tegas. Dia masih marah dengan Kyuhyun, makanya menjawab seperti itu.

Temannya mendesis. "Kau jahat sekali!" rutuknya. "Aku memang sudah mendengar reputasi anak itu, tapi bukan berarti tega mendengarmu akan mencampakkannya. Dia nakal, sebagai kekasih, kau wajib membimbingnya. Tapi sebagai kekasih yang dapat kewajiban membimbingnya, kau tidak bisa membuangnya begitu saja!"

Kibum terkesan bersalah di sini. Padahal sudah jelas Kyuhyun yang punya reputasi buruk.

"Kau ingat berapa kali telah memanfaatkannya, Kibum?"

Kapan dia memanfaatkan Kyuhyun? Pura-pura menyentuhnya saja, Kyuhyun sudah ketakutan.

Kibum mengerutkan kening. Agaknya akan ada salah paham lagi.

"Setidaknya kau berikan manfaatmu yang sama besarnya seperti manfaat yang kau ambil dari Kyuhyun." Temannya menepuk lengannya pelan. "Aku paham kalau manusia kadang-kadang merasa bosan dengan pasangannya, tapi kau jangan bahas hal-hal seperti rencanamu meninggalkan Kyuhyun tepat di hadapannya. Nanti dia sakit hati. Bisa-bisa dia tambah nakal."

Karena jengkel, Kibum meralat omongannya. Mengatakan tidak akan meninggalkan Kyuhyun, dan siap hidup mati bersamanya.

"Nah, itu juga bagus!" Teman sebangkunya meringis lebar. "Asal kau bisa mengatur perselingkuhanmu agar tidak diketahui Kyuhyun di masa depan!"

Dia kira Kibum lelaki macam apa?

Kibum tipe lelaki setia. Kalau sudah punya satu, tidak akan cari yang lain. Seumur hidup bersama, asal bisa mengatur jalannya percintaan dengan pasangan, tidak akan ada yang namanya perselingkuhan. Kibum cukup yakin dengan pendapatnya itu.

Menyesal mengeluarkan suara yang pada akhirnya semua jawabannya salah di mata temannya, Kibum memutuskan diam.

.

.

.

"Sudah tahu apa kesalahanmu?"

"Aku belum menciummu hari ini?"

Kibum mendengus. Dia tidak mau bagian ciuman itu diingatkan. Ciuman sehari sekali, bagi Kibum terlalu memberatkan.

"Aku tidak meneleponmu pagi tadi?"

Kibum melipat kedua tangannya di dada. Jawaban Kyuhyun belum betul.

"Aku bersama orang lain selain kau?" Siapa tahu Kibum marah gara-gara melihatnya dekat dengan orang lain. Kibum menariknya setelah dia memberikan air minum pada teman, mungkin itu alasan Kibum menghukumnya. "Kau marah aku memberikan minum pada anak basket tadi? Kau cemburu?"

Seumpama benar, Kyuhyun akan sangat senang, tapi Kibum malah pasang tampang paling menyeramkan yang pernah Kyuhyun lihat. Bararti bukan itu alasannya.

"Cemburu?" Kibum mendegus. "Tetap di sini dan pikirkan sekali lagi!"

Kibum naik ke motornya setelah mengatakan itu. Kyuhyun mengejar, mencegahnya pergi.

"Aku tidak tahu apa yang membuatmu marah."

"Makanya, pikirkan!" sambil mendorong Kyuhyun menjauh dari motornya

Kibum menstarter motor, kemudian meninggalkan Kyuhyun di parkiran.

Kyuhyun jadi kekanakan supaya diperhatikan Kibum, malah Kibum lebih kekanakan lagi. Masak, Kyuhyun disuruh mengingat sesuatu yang tidak dilakukan. Tidak boleh pergi dari parkiran sekolah pula. Sekarang masih banyak anak di sekolah, tapi setelah semuanya pulang, mana bisa Kyuhyun tetap berada di sini. Satpam sekolah pasti akan mengusirnya.

Kihyun

Sudah tiga jam, Kyuhyun belum meneleponnya. Itu yang membuat Kibum berkali-kali melihat ke jam tangannya. Dia sudah makan roti, tapi perutnya masih melilit, lalu bagaimana dengan Kyuhyun yang belum makan apa pun sampai saat ini?

Kibum memarkir motornya di bawah pohon. Dia berdiri di tepi jalan, melongok ke jalanan untuk mengintai keberadaan Kyuhyun, tapi... nihil. Kelihatannya anak nakal itu memang sama sekali belum menyadari kesalahannya. Walau begitu, tetap berada di sekolah seperti apa yang diperintahkan Kibum. Anak itu polosnya kebangetan atau sengaja melakukan itu untuk menarik simpati darinya?

Kalau ditunggu sepuluh menit lagi Kyuhyun tidak mengirim pesan, menelepon, atau kelihatan di jalan, Kibum tidak tahu lagi harus bagaimana? Mungkin perlu ditinggalkan di sekolah.

Kibum kembali ke motornya, duduk di sandaran sambil memainkan handphone.

"Oe, Kibum!" Seorang teman dari tingkat yang sama tapi beda kelas, muncul dengan motor besar di hadapan Kibum. "Sedang apa di sini? Memata-matai kekasihmu yang sedang selingkuh?"

Kibum tidak peduli dengan omongan ngawur itu.

Hanya memperhatikan, tapi tidak menanggapinya.

"Tidak usah ditutup-tutupi, seluruh sekolah sudah tahu kau memacari Kyuhyun."

Berita itu menyebar di sekolah dengan cepat pagi ini. Bahkan gosip-gosip kecil ditambahkan dalam cerita percintaan mereka. Ada gosip bagus, tapi kebanyakan gosip yang jelek. Kibum juga mendengarnya, tapi dia diam saja. Karena mengelak sudah tidak mungkin, sedangkan membenarkan jelas lebih tidak mungkin lagi. Yang penting dia tidak harus mengakui hubungannya dengan Kyuhyun lewat mulutnya sendiri.

Yang didengar teman itu, Kibum harap berita yang bagus, meski kemungkinannya kecil.

"Kalau kau benar-benar ingin mengubahnya jadi anak baik, jangan biarkan dia selingkuh!"

Berita bagusnya, anak itu memang mendengar dari sisi baiknya. Mengira Kibum memacari Kyuhyun karena tergerak ingin mengubah Kyuhyun menjadi anak baik. Berita buruknya, sekali lagi anak itu mengatakan kalau kekasihnya selingkuh? Kyuhyun selingkuh? Memangnya siapa yang mau dengannya?

"Dia sedang berduaan dengan seseorang di depan gerbang sekolah. Kalau tak percaya, kau lihat saja sendiri!"

"Dengan siapa?" Meski merasa tidak cemas, Kibum harus memerankan diri jadi kekasih yang perhatian.

"Adik kelas. Mungkin satu tingkatan dengan Kyuhyun."

Kibum hanya mengangguk. Dia segera mengantongi handphone, naik ke motor, dan menyalakan mesin. Menurunkan motornya ke jalan, dan bersiap mendatangi Kyuhyun.

"Jangan kasar, mereka cuma berduaan di depan gerbang sekolah, tidak melakukan apa-apa!" tutur temannya itu. "Aku cuma melebih-lebihkan tadi!" akunya.

Muka Kibum kaku, bukan berarti perangainya kaku juga. Dan meski jelas-jelas Kyuhyun yang punya reputasi buruk, tetap Kibum yang diwanti-wanti untuk tidak melukai anak itu. Kalau sudah begini, dunia terasa tidak adil bagi Kibum.

Kibum membuat gumaman persetujuan.

Tidak berterima kasih atau mengucapkan selamat tinggal, Kibum langsung memacu motornya ke arah sekolahan. Di depan gerbang sekolah, dia memang mendapati Kyuhyun, tapi tidak ada anak lainnya. Kibum menghentikan motornya tepat di depan Kyuhyun yang langsung tersenyum senang melihatnya.

"Pak Satpam mengusirku dari dalam sekolah. Jadi, aku berdiri di sini," Kyuhyun mulai tidak santai. "Aku benar-benar tidak tahu telah melakukan apa. Kau beritahu saja mana salahku, aku pasti tidak akan mengulanginya!"

Kibum melirik ke semua arah, mencari seseorang tapi tidak menemukan yang dia cari.

Sial! Kibum mengumpat dalam hati. Kenapa dia harus mencari orang yang katanya selingkuh dengan Kyuhyun? Padahal barusan dia sudah percaya kalau tidak mungkin ada orang yang mau dengan anak nakal itu. Kibum menemukan alasan yang tepat untuk menyangkal prasangkanya. Dia hanya jaga image. Pacaran baik-baik dengan Kyuhyun, nanti kalau putus juga harus baik-baik. Tidak ada istilah putus karena diselingkuhi. Tapi...

Naluri kekasih mengharuskannya waspada.

"Kibum..."

Kibum mengalihkan padangan langsung pada Kyuhyun. Tidak mau kelakuannya diketahui, dia mengalihkan pembicaraan. "Kau sudah makan?"

Kyuhyun mengangguk. "Changmin membelikanku makanan. Dia juga menemaniku sebentar di sini, sekarang dia sudah pulang."

Kibum mengumpat sekali lagi dalam hatinya. Tahu begitu, dia makan dalu tadi, tidak usah menunggu Kyuhyun, memikirkan anak itu sudah makan atau belum, sampai berencana mentraktirnya makan. Sekarang perutnya keroncongan sedangkan Kyuhyun sudah , mendengar nama Changmin, Kibum merasa lega. Agaknya kedekatan Kyuhyun dengan Changmin tidak lebih daripada teman. Teman yang bahkan tidak dekat-dekat amat.

"Ayo pulang!"

"Aku boleh ikut pulang?"

"Lalu kau mau apa di sini?"Kibum mendengus. "Tidak mau, juga tidak apa-apa."

Kalau sudah bilang begitu, jelas Kibum telah berbaik hati. Kyuhyun tak akan melewatkan kesempatan apa pun. Dia segera meloncat ke boncengan Kibum. Memeluk Kibum erat-erat dan membiarkan Kibum memacu motornya dengan kencang.

Kihyun

Ibunya Kibum sudah berangkat, sebelum itu meninggalkan makan malam untuk Kibum dan Kyuhyun. Setelah makan malam, Kyuhyun mengajukan diri untuk mencuci piring mereka. Butuh lebih dari 30 menit untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Kibum sendiri tidak berniat membantu dengan langsung pergi ke kamarnya untuk mandi dan bersiap melakukan kegiatan yang lain. Selesai dengan cuci piring dan membersihkan meja makan. Kyuhyun menyusul Kibum ke kamar. Mendapati Kibum sibuk dengan buku-bukunya, Kyuhyun memutuskan mandi.

Kyuhyun keluar dari kamar mandi, memakai piyamanya yang sengaja ditinggalkan di rumah ini. Menggosok rambut basahnya dengan handuk Kibum, kemudian menghampiri Kibum di meja belajarnya.

"Sudah selesai?" Kibum bertanya. Nadanya baik-baik saja, seperti tidak ada masalah di antara mereka. Kyuhyun pun menggangguk pelan. "Ambil jaketmu!"

"Untuk apa?"

"Kuantar kau pulang."

Kyuhyun menggeleng. "Aku mau menginap di sini."

"Aku tidak mau kau menginap di sini!"

Kyuhyun cemberut. Ada apa lagi? Tadinya dia pikir Kibum sudah melupakan masalah di sekolah yang sebenarnya Kyuhyun sendiri tidak tahu apa permasalahannya. Tiba-tiba akan mengantarkannya pulang. Kalau tidak ada masalah lain, jelas itu buntut dari masalah yang di sekolah tadi.

Sebenarnya bagaimana perasaan Kibum terhadapnya? Kalau masalah tidak suka, Kyuhyun tahu Kibum tadinya tidak suka padanya. Hanya saja akhir-akhir ini Kibum tidak menampakkan ketidaksukaannya lagi. Bahkan sudah cukup perhatian. Kyuhyun mengira itu tanda bahwa Kibum sudah mulai suka padanya.

Agaknya kebiasaan Kibum mengusir-ngusir Kyuhyun kumat lagi.

Kibum beranjak dari duduknya. Ke lemarinya, mengambil jaketnya sendiri serta satu jaket ekstra untuk Kyuhyun. Dia mengambil alih handuk, lalu menyampirkan satu jaket di pundak Kyuhyun.

"Kenapa kau ingin aku pulang?"

Kibum mengenakan jaketnya. "Aku tidak ingin kau meginap di sini." Kemudian melemparkan handuk ke keranjang baju kotor.

"Iya, kenapa?"

Setidaknya Kyuhyun tahu alasannya agar dia bisa cari solusi.

Kibum tidak menjawab. Bergerak cepat mengambil kunci motor, kemudian berjalan keluar kamar. Dikiranya Kyuhyun akan mengikutinya, tapi tidak. Anak nakal itu berdiri di tempatnya. Bahkan jaket yang diberikan Kibum padanya, dia lempar ke ranjang. Kibum kembali, dengan gestur tenang mengambil jaket Kyuhyun. Mengenakannya pada Kyuhyun, lalu menggandengnya ke luar kamar.

"Aku tidak mau pulang!" Kyuhyun protes. "Kenapa kau tidak memperbolehkan aku menginap di sini? Kenapa denganmu hari ini? Aku salah apa?" Kyuhyun harus tahu.

"Aku hanya tidak ingin kau menginap di sini."

"Iya, kenapa?" tanya Kyuhyun sekali lagi.

Kibum tidak menjawab lagi. Langsung menarik lengan Kyuhyun keluar kamar, dan tidak melepaskannya meski Kyuhyun meronta.

Kyuhyun berusaha melepaskan diri, tapi Kibum selalu lebih kuat. Dia sendiri tahu kalau adu otot, dia tidak akan menang. Satu-satunya cara mengalahkan Kibum adalah dengan mengakalinya.

"Kalau kau mengatakan alasannya, aku akan pulang tanpa kau paksa-paksa sepetti ini!" Kibum melepaskannya. Tangan Kyuhyun sakit, memerah. Kyuhyun harus menggosoknya untuk mengurangi rasa sakit. "Bahkan aku akan pulang sendiri," katanya mantap.

Kibum meneliti kebenaran omongan itu dengan memeriksa raut muka Kyuhyun. Kyuhyun memang suka berbohong, tapi kali ini dia terlihat bersungguh-sungguh. Sejujurnya Kibum tidak punya alasan khusus menyuruh Kyuhyun pulang. Dia hanya tidak ingin melihat Kyuhyun di sekitarnya untuk saat ini. Haruskah dia mengatakan itu pada Kyuhyun?

Anak yang sudah tidak begitu nakal itu menunggu jawabannya dengan muka masam. Marah, tapi tidak punya daya melawannya.

"Bosan denganmu. Aku tidak ingin melihatmu hari ini!" jawab Kibum sesantai mungkin.

"Hanya hari ini?" Kyuhyun memastikan. Kalau cuma hari ini dia bisa mengabulkan permintaan Kibum, tapi kalau terus-terusan, dia tidak bisa. Dia tidak mau berpisah dengan Kibum, dia harus bersama Kibum, bagaimanapun caranya. "Hanya untuk hari ini, kan?" ulangnya.

Kibum mengiyakan dengan tidak mengeluarkan jawaban.

"Ok, aku pulang. Tapi, besok aku harus boleh menginap di sini!"

Kyuhyun membuka pintu depan. Udara luar benar-benar dingin malam ini. Kyuhyun mengeratkan jaketnya sebelum melangkah ke luar rumah. Tapi setelah dia berjalan beberapa langkah, dia berbalik, kembali pada Kibum yang masih berdiri di depan pintu. Kyuhyun mengulurkan tangan.

"Minta uang, untuk ongkos taksi!"

Kibum mengambil uang dalam dompetnya, memberikan uang untuk Kyuhyun. Kyuhyun menerimanya dengan kasar. Wajahnya masih ditekuk, gabungan marah dan jengkel. Tidak mau pulang, tapi terpaksa pulang.

"Cium dulu!" Meski memintanya dengan nada marah, Kyuhyun masih sempat menyodorkan mukanya pada Kibum. Menunjuk pipi kanannya sambil sekali lagi mengulang permintaannya. "Cium di sini!"

Untuk yang itu, Kibum tidak bisa mengabulkannya. Mencium Kyuhyun bertentangan dengan pikiran dan hatinya. Dia tidak menyukai Kyuhyun, tidak ingin melihat Kyuhyun, jadi tentu saja tidak boleh ada kontak fisik sekecil apa pun, apalagi ciuman. Namun, dengan pura-pura tidak mendengar pikiran dan hatinya, Kibum mengulurkan tangannya, mencekali pipi kanan dan kiri Kyuhyun dengan kasar, kemudian menjatuhkan ciuman... bukan ciuman, sekedar bibir yang tidak sengaja jatuh ke dahi Kyuhyun.

Secepat kilat mendorong Kyuhyun.

"Pulang sana!"

Kyuhyun enggan menjawab. Melengos, kemudian pergi tanpa pamit.

.

.

Menyingkirkan Kyuhyun, sudah. Kibum merasa nyaman sendirian di rumah. Merasa lapang. Lega sekali tidak melihat, mendengar, dan mencium apa pun yang berbau Kyuhyun. Namun, ketika dia kembali ke kamar, hendak meneruskan pekerjaan rumahnya, dia melihat handphone Kyuhyun, tas Kyuhyun, dasi, sepatu.

Sialan!

Sisa-sisa Kyuhyun memang tidak berbekas di ruangan lain, tapi Kyuhyun meninggalkan barang-barangnya di kamar Kibum. Otomatis, Kibum merasakan keberadaan Kyuhyun lagi di kamarnya.

Ngomong-ngomong, Kyuhyun pulang betulan atau belok jalan?

Hendak mengabaikan pertanyaan konyolnya sendiri, pesan masuk di handphone Kyuhyun meginterupsi Kibum. Dia tidak ingin tahu, tapi nama Changmin dalam layar lebar handphone itu mengganggu penglihatan Kibum. Kibum mengambilnya, membukanya, sekedar ingin lihat.

Pesannya pendek, mengatakan kalau Changmin mau datang, membawa banyak makanan kesukaan Kyuhyun untuk dimakan bersama. Karena mereka berteman, tapi Changmin tidak pernah datang ke rumah Kyuhyun, ini saatnya Changmin akan menginap.

Cuma Changmin.

Kibum meletakkan handphone itu kembali.

Tapi Changmin mau menginap.

Dia mengambil handphone itu kembali, membuka pesan dari Changmin, kemudian membalasnya. Mengatasnamakan dirinya sendiri sebagai Kyuhyun. Mengatakan pada Changmin bahwa dia tidak boleh datang.

'Jangan datang, aku menginap di rumah Kibum!'

Kibum mengirimkannya. Sayangnya balasan dari Changmin mengejutkan. Dia membahas soal pertengkaran Kyuhyun dan Kibum hari ini di sekolah. Changmin mengaku tidak percaya kalau Kyuhyun diizinkan menginap di rumah Kibum. Lagipula, dia sudah ada di jalan. Hanya sedang mengantri makanan, setelah makanannya jadi, langsung ke rumah Kyuhyun.

Changmin mengirim pesan susulan

'Kau boleh menyukai Kibum, tapi tidak boleh terus-terusan sedih karena tidak dianggap olehnya. Aku dan seluruh makanan kesukaanmu ini datang untuk menghibur!'

Dengan membaca pesan itu, sudah cukup alasan bagi Kibum untuk mengambil kunci motornya lagi. Segera keluar rumah, mengeluarkan motor, dan menyusul Kyuhyun.

Sampai di rumah Kyuhyun, Kibum tak menemukan mobil, motor, atau apa pun yang mengindikasikan keberadaan Changmin. Tapi dia masih curiga kalau Changmin diantar sopir, dan sekarang ini sedang duduk manis di dalam rumah bersama Kyuhyun.

Kata penjaga rumah, Kyuhyun tidak ada di rumah. Bahkan mereka tahunya setiap Kyuhyun tidak ada di rumah, selalu menginap di rumah Kibum. Kalau sekarang Kibum mencarinya ke rumah ini, jelas orang rumah juga tidak tahu. Tidak mau membuat cemas seluruh pembantu di rumah Kyuhyun, Kibum mengatakan kalau Kyuhyun baru pulang dari rumahnya, jadi mungkin masih di jalan. Dia akan mencari Kyuhyun, sementara penjaga rumah disuruhnya menunggu. Kalau Kyuhyun pulang, dia harus memberitahukannya pada Kibum.

Kibum kembali ke jalanan. Mengendarai motornya, kali ini tidak begitu kencang. Harapannya bisa menemukan Kyuhyun di jalan, tapi sampai hampir kembali ke rumah, Kyuhyun tidak ditemukannya. Kibum kemudian ingat terakhir kali dia menemukan Kyuhyun di minimarket dekat rumahnya, siapa tahu bisa menemukan anak itu di sana lagi, Kibum memutuskan ke sana.

Motornya berbelok, masuk pelataran mini market. Kyuhyun yang di carinya, benar-benar ada di s seduh dari dalam mini market.

"Aku akan pulang setelah mengabiskan makanan dan minuman ini!" Itu kata Kyuhyun ketika melihat Kibum menghampirinya dengan gestur akan marah. "Kau teruskan belanja saja. Pura-pura tidak melihatku!" lalu membalikkan badan.

Konyol sekali. Namun, Kibum lega. Dia malah segera duduk di bangku berseberangan dengan Kyuhyun. Meski akhirnya Kyuhyun kembali memperhatikannya, dia diam saja.

"Kenapa malah duduk di sini?"

Kibum melambaikan tangannya, meminta Kyuhyun tidak usah bertanya. "Habiskan makanan dan minumanmu secepatnya!"

"Masih panas, harus menunggu sedikit lebih dingin."

Kibum janji mau menunggu. Itu membuat Kyuhyun heran sekaligus lega.

"Jadi, tidak apa-apa kau melihatku hari ini?" Kibum menggeleng, tapi kemudan mengangguk. "Besok kau tak akan bosan lagi, kan?" Tidak janji, tapi Kibum menggeleng. Lagipula mereka sepasang kekasih, meski belum sah secara hati, Kibum tetap sah jadi kekasih Kyuhyun. Bosan atau tidak, mereka tetap harus bertatap muka setiap hari. Kibum saja yang harus membiasakan diri. "Ok. Kalau begitu setelah ini kau antar aku pulang. Uangnya sudah kubelikan makanan, tidak cukup untuk bayar taksi."

"Kau menginap di rumahku malam ini!"

Kyuhyun menaikkan alisnya, terkejut.

"Buku pelajaranmu ada di rumahku." Alasan mudahnya, Kyuhyun tidak akan bisa pergi ke sekolah tanpa buku-bukunya, meski alasan sebenarnya tidak dapat dijelaskan oleh Kibum sendiri. "Oemma juga sudah berjanji akan membuatkan sarapan untukmu, besok!"

"O iya. Aku lupa!" Kyuhyun kembali ke mode ceria. Meraih coklat panas dan meminumnya perlahan. "Kau mau!" Kibum tidak mau, Kyuhyun meminumnya sendiri.

Kihyun

Kibum mengajak berangkat sekolah agak siangan. Biasanya pagi-pagi Kyuhyun diharuskan bersiap. Kyuhyun tahu kalau Kibum tidak ingin ketahuan pulang pergi sekolah bersamanya. Tapi untuk yang kali ini, Kyuhyun tidak berani berharap kalau Kibum mulai terbuka soal hubungan mereka. Meski sebenarnya seluruh sekolah juga sudah tahu hubungan mereka, Kyuhyun tidak jamin kalau Kibum mau mengakuinya. Dia ikut saja apa yang diinginkan Kibum. Kalau pada akhirnya yang dilakukan Kibum mengancam hubungannya, Kyuhyun tinggal cari cara menggagalkan rencana Kibum.

Kyuhyun menepuk-nepuk pundak Kibum ketika melihat Cangmin mau memasuki gerbang sekolah.

"Ada Changmin, aku mau turun di sini saja."

Kibum bukan memelankan motornya, malah mengegasnya. Beberapa anak berteriak, memakinya karena hampir terserempet. Setelah di parkiran, baru dia berhenti. Kyuhyun turun, buru-buru melepas helm-nya, dan menyerahkannya pada Kibum.

"Changmin mengirim sms semalam, dia bilang pergi ke rumahku, tapi aku tidak ada."

Kibum sudah menghapus pesan dari Changmin, tapi tidak tahu kalau anak itu mengirim pesan lagi yang kemudian diterima Kyuhyun sendiri.

"Kau tak bilang menginap di rumahku?"

Kyuhyun mengangguk. "Makanya aku harus minta maaf padanya. Nanti malam biar dia datang lagi." Karena helm yang dia serahkan tidak segera diambil Kibum, dia meletakkannya di jog motor. "Biar dia menginap di rumahku sesekali."

Kibum menaikkan sebelah alisnya, sedikit sekali sampai Kyuhyun tidak tahu dia sedang memasang kecurigaan terhadap Changmin.

"Aku berencana menginap di rumahmu malam ini. Karena sudah ada temanmu, ya sudah, aku tak akan menginap."

"Mau menginap di rumahku? Yang benar?" Kyuhyun tertawa senang. Berkah yang datang tiba-tiba, Kyuhyun tidak mungkin menolaknya. "Ok, Changmin tidak usah menginap. Dia tidak boleh menginap. Nanti malam kita sewa film, kita nonton sama-sama, ya?"

Kibum mengangguk dengan enggan. Kyuhyun girang bukan main. Melihat itu, Kibum menyesali pekataannya. Kenapa dia harus membuat Kyuhyun girang begitu? Bukankah dia ingin berpisah dengan Kyuhyun?

Sekarang ini diri sendiri pun bisa menipu. Meski tahu dia benci anak nakal itu, tapi dirinya yang lain malah menyukainya. Makanya, mulai sekarang Kibum tidak percaya pada dirinya sendiri. Apalagi setelah tindakannya sekarang, menarik Kyuhyun dan menciumnya di parkiran. Bibirnya cuma menempel di bibir Kyuhyun sepersekian detik, kemungkinan tidak ada yang lihat, tapi efeknya mengejutkan. Dia dapat ciuman balasan dari Kyuhyun, di pipinya. Kibum harus merutuki pengendalian dirinya yang bobrok kali ini.

Kyuhyun berpamitan dan menghilang dengan cepat. Dan diri Kibum yang lain memaksa sudut-sudut bibirnya untuk terangkat.

"Manis sekali!" pujian itu mirip ejekan.

Senyum transparan Kibum lenyap. Dia kembali ke dunia Kibum yang biasanya, sebelum menoleh dan mendapati Yesung tengah merangkul kekasihnya di belakangnya. Teman sekelasnya itu menampilkan senyum paling lebar yang pernah Kibum lihat.

"Jadi itu yang namanya Kyuhyun? Tidak seseram julukannya." Yesung masih tersenyum. "Yang aku tidak duga, ternyata kau bisa seromantis itu. Kupikir kau akan tetap jadi Kibum yang tidak punya ekspresi."

"Tapi yang itu tadi benar-benar romantis," kekasih Yesung menimpali. "Kuharap kau juga bisa seperti itu."

"Apa aku tidak romantis?"

Si kekasih menggeleng. "Bukan tidak romantis, tapi terlalu romantis sampai-sampai aku mau muntah melihatnya setiap hari."

Yesung tertawa kecil. "Kalau begitu aku akan belajar dari Kibum. Boleh kan, Kibum?" dia mengerling pada Kibum.

Kibum mendengus, meninggalkan keduanya tanpa menjawab. Yesung dan kekasihnya, mengikutinya di belakang.

.

.

"Kyuhyun menantangku melakukan 3 kali tembakan 3 poin setelah melakukan lari 50 kali putaran lapangan basket. Aku menerimanya dan menang." Dia tertawa-tawa senang, berbading terbalik dengan keadaanya kemarin setelah melakukan tantangan yang Kyuhyun berikan.

"Kau benar-benar tidak diapa-apakan oleh Kyuhyun?" Si teman bertanya lagi? "Tidak dikerjai Kyuhyun?" masih belum percaya kalau pada kenyataannya Kyuhyun tidak melakukan apa pun pada temannya ini.

Kemarin beritanya seperti itu. Dia sudah terlanjur berlari ke kelas Kibum dan melaporkan tindakan Kyuhyun pada Kibum. Kalau pada kenyataannya tidak ada pem-bully-an, lalu apa yang terjadi dengan Kibum dan Kyuhyun? Apakah Kibum menghajar Kyuhyun? Si adik kelas sampai linglung memikirkannya.

"Eh, makanan yang barusan kau habiskan, itu Kyuhyun yang bayar."

"Hah?" Dia teriak, merasa makin bersalah. Tapi tidak boleh berkecil hati. Reputasi Kyuhyun buruk, tidak apa-apa sekali-kali bersalah pada Kyuhyun. "Kau yakin Kyuhyun tidak berniat buruk padamu?"

"Buruk apanya? Kyuhyun sudah 2 kali menantangku sebelum ini, dan dia selalu kalah. Dia tidak pernah ingkar mentraktirku seminggu penuh. Yang kali ini, kuajukan kau juga. Jadi, kita berdua akan makan siang gratis selama seminggu penuh. Dan karena ini sudah ketiga kalinya, dia menyerah. Dia sudah mengakuiku hebat dalam bermain basket. Dia juga berniat berlatih basket denganku!" Dia menepuk dadanya keras. Bangga dengan kekuatannya yang belum ada seorang pun mengalahkannya. "Kenapa kau pasang tampang seperti itu? Tidak senang dapat makan siang gratis?"

Si teman mengangguk. "Kyuhyun, bagaimana keadaanya sekarang?"

"Tentu saja baik. Memangnya kenapa kau menanyakannya? Mau minta tantangan darinya juga? Memangnya kau bisa apa?"

Bukan mau minta tantangan, hanya mau memastikan Kyuhyun benar-benar baik setelah kemarin dengan muka marah Kibum berlari mencarinya. Takutnya berita salah yang dia sampikan pada Kibum, membuat Kyuhyun diapa-apakan Kibum. Meski Kyuhyun itu terkenal dengan reputasi buruk, jadi anak ternakal seantero sekolah, tidak berarti dia pantas dapat pembalsan dari sesuatu hal yang tidak dia lakukan.

"Sudahlah, lupakan Kyuhyun. Makan saja yang banyak. Gratis!"

Dia mengangguk. "Tapi kau serius kan, Kyuhyun dalam keadaan baik?"

Temannya itu langsung pasang tampang curiga.

Kibum yang sejak tadi berdiri dalam antrean pesan makanan, merasa kenyang seketika setelah mendengar pembicaraan itu. Meski gilirannya tiba, dia menolak untuk menyebutkan pesanan, dan langsung pergi dari kantin.

Kihyun

"Aku harus menggunakan jasamu lagi..."

Kyuhyun tidak pernah berencana pulang, dan Changmin tidak pernah datang. Semalam hanya akal-akalan Kyuhyun dengan bantuan Changmin. Meski begitu Kibum masuk perangkapnya. Yang penting bukan dengan cara apa, tapi bagaimana hasilnya. Toh, sekarang Kibum jadi lebih manis padanya. Berbohong pun kalau demi kebaikan itu sah-sah saja.

"Jangan khawatir, suatu saat aku akan meminta bantuanmu balik!" Changmin memainkan PSP-nya tanpa jeda. "Berapa lama kau menunggu di mini market itu?"

"Tidak lama. Tidak ada satu jam. Kibum cepat datang, bahkan coklatku masih panas ketika dia datang."

Changmin mengangguk kecil.

"Tadi aku diciumnya," Kyuhyun menunjukkan bibirnya yang dimonyongkan.

"Pantas kau terlihat senang." Changmin mem-pause permainannya. "Jadi, dia sudah suka padamu?"

Kyuhyun mengendikkan bahu. "Belum agaknya, tapi kupastikan secepatnya akan segera suka padaku. Setelah ini selesai, nanti giliranmu cari kekasih."

Changmin tidak setuju, dia suka sendirian. Single tapi happy, dia tetap bisa. Kenapa harus punya kekasih? Dia bukan Kyuhyun yang membutuhkan orang lain untuk membahagiakannya. Dia bisa bahagia sendiri.

"Kibum kirim pesan padaku..." Kyuhyun membuka pesan itu.

'Mau nonton di luar nanti malam?'

Kyuhyun tersenyum. "Dia mengajakku kencan malam ini. Itu pertanda baik, kan?" Dia segera mengirim balasan. Iya, dengan tambahan emotikon love tiga kali.