1004

(Sacrifice)

.

Aerolee

.

Warning!

(Typo everywhere, EYD Failed)

.

BoyxBoy | Yaoi | Angst, Tragedy, Hurt, Romance | PG-15

.

Baekhyun, Jungkook, Taehyung, Daehyun, Junhong, and other.

.

Don't Like?

.

Don't Read!

.

Don't Plagiarize

.

Semua cast milik agensi masing-masing, orang tua masing-masing, dan juga milik Tuhan.

Tapi Fanfic ini asli milik saya, jika ada kesamaan alur, kata-kata, cast atau sebagainya, itu hanya unsur ketidak sengajaan.

.

Happy Reading!

.

.

.

.

"Jika memang ini yang terbaik, aku rela mengorbankan nyawaku untuk menjagamu tetap hidup."

.

.

.

Prev chapter :

Taehyung membawa tangannya mengusap pipi Jungkook, "Aku merasa seperti orang paling bodoh di dunia ini. Jungkook, aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika sesuatu terjadi kepadamu dan aku sama sekali tidak tahu tentang itu semua."

"Jadi, katakan kepadaku." Taehyung menurunkan tangannya, ia masih menatap Jungkook.

"Aku tidak akan mengatakan apapun kepadamu. Ikut aku malam ini, dan kau akan tahu tanpa aku memberitahunya kepadamu."—

.

Chapter 9

.

Taehyung mengetuk-ngetukan jarinya pada kemudi, sesekali ia menguap merasakan kantuk luar biasa. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Jungkook menyuruhnya untuk menunggunya di mobil tepat pada jam setengah dua belas malam. Awalnya Taehyung ingin melontarkan pertanyaannya lagi namun segera ia urungkan mengingat Jungkook akan menunjukkannya sesuatu jika ia menuruti kemauan laki-laki bermarga Jeon itu, dan berakhir dengan Taehyung yang mengangguk setuju.

Taehyung mulai menyalakan mesin mobilnya ketika bayangan Jungkook muncul dari pintu keluar apartemen, dia masih menguap sesekali.

"Biar aku yang mengemudi," Kata Jungkook saat ia sudah berada di samping kiri badan mobil, membuka pintu penumpang lalu meletakkan barang-barangnya pada bagian tengah mobil. Setelah itu kembali berdiri di samping pintu kemudi, "Kau menguap beberapa kali, aku tidak mau mengambil resiko jika terjadi hal yang tidak diinginkan."

Taehyung menggeleng,"Tidak apa-apa, aku sempat tidur beberapa jam tadi di rumah sakit."

Tanpa ingin berpikir panjang Jungkook hanya mengangkat kedua bahunya dan berlalu menempati kursi penumpang di samping Taehyung. Memberikan sebuah ID card pada laki-laki pemilik mata hazel itu.

"Anggap saja sebagai kunci pintu sebuah rumah." Sahut Jungkook sebelum Taehyung melontarkan pertanyaannya.

"Kau tahu jalan menuju Strand kan?"

"Strand?"

Jungkook hanya mengangguk dan memberikan sebuah kertas kepada Taehyung. Sebuah alamat yang terletak diujung jalan Strand yang menjadi batas Covent Garden.

.

.

"Jonathan Christof."

Jungkook menarik lengan Taehyung setelah diperbolehkan masuk oleh seorang laki-laki berseragam lengkap yang berdiri di depan pintu masuk. Taehyung hanya bisa mengikuti langkah Jungkook melewati lorong gelap dengan pencahayaan yang minim itu, ia sedikit bergidik ngeri ketika orang-orang dengan postur yang luar biasa kekar berlalu lalang melewati mereka dengan tenang.

Taehyung tertegun. Jadi ini adalah dunia kedua dari seorang Jeon Jungkook? Di sebuah tempat yang entah apa namanya dengan orang-orang berbadan kekar di dalamnya, sangat bertolak belakang dengan Jungkook yang sedang berada di dunia luar dengan wajah kekanak-kanakan yang menciptakan citra polos dari adik laki-laki seorang Byun Baekhyun.

"Aku bukan Jeon Jungkook. Di sini aku adalah Jonathan," Jungkook bersuara seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki bermanik hazel itu, "Kau bisa membedakan saat aku menjadi seorang Jeon Jungkook dan dimana saat aku menjadi seorang Jonathan. Kuharap kau bisa mengingat itu."

Pernyataan telak Jungkook membuat Taehyung membeku. Raut penuh kekecewaan nampak jelas dari wajah seorang Kim Taehyung, laki-laki itu hanya terdiam dan memandang punggung Jungkook yang hampir menjauh.

Bagaimana bisa ia tidak tahu soal masalah sebesar ini? Bukankah Baekhyun sendiri yang memberinya amanat untuk menjaga Jungkook dan mengawasi kegiatannya saat Baekhyun berada di Korea? Dan sekarang apa, ia sama sekali tidak tahu tentang identitas asli seorang Jonathan Christof. Apa Jungkook masih menganggapnya lemah, tidak berguna, dan hanya menyusahkan? Taehyung merasa ia seperti seorang laki-laki bodoh sekarang.

"Kau masih meragukanku?" Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Taehyung membuat Jungkook berbalik dan menatapnya.

"Sebaiknya kita cepat masuk—"

"Aku bertanya kepadamu Jeon Jungkook."

Jungkook tersenyum sebelum berbalik dan kembali berjalan masuk. "Kau bisa mendapatkan jawabannya setelah hal ini selesai."

Taehyung tersenyum miris setelah bayangan Jungkook menghilang dari lorong. Ia mengantuk dan otaknya benar-benar lumpuh sekarang, jadi ia memutuskan untuk mengikuti apa yang lelaki itu mau dan menempatkan posisinya pada sebuah ruangan yang sempat ditunjukkan oleh seorang perempuan yang sepertinya adalah salah satu petugas khusus untuk melayani tamu.

Ruangan itu tidak begitu besar namun terdapat kurang lebih dua puluh empat layar LCD yang melekat manis di sisi kiri dinding dan beberapa kursi yang sengaja disediakan. Taehyung dapat melihat beberapa wanita paruh baya dan beberapa pria dewasa juga ikut duduk menyamankan diri di masing-masing kursi, sepertinya mereka adalah tamu seperti dirinya mengingat ia sempat bertemu beberapa orang yang berpakaian seperti Jungkook yang berjalan beriringan dengan orang tuanya.

"Aku belum pernah melihatmu sebelum ini, anak muda."

Sebuah suara wanita tua membuat Taehyung menoleh dan memberikan salam kepada wanita paruh baya yang tengah duduk di sampingnya dengan membawa sebuah tas besar itu.

"Aku memang baru pertama kali kemari, ma'am." Jawab Taehyung seadanya.

Wanita tua itu tersenyum lalu memberikan sepotong kue lapis kepadanya, "Kau terlihat letih, makanlah. Setidaknya perutmu akan terisi, aku tahu kau sepertinya belum memakan apapun sejak sore, nak."

Taehyung tertegun sejenak, lalu terkekeh canggung dan mengibas-ngibaskan tangannya berniat menolak dengan halus perbuatan wanita tua itu. Namun wanita tua itu nampak keras kepala dan memaksa Taehyung untuk menerimanya, dan berakhir dengan Taehyung menerima kue lapis itu dan berucap terima kasih secara halus.

"Ada keluargamu yang mengikuti ujian?"

Taehyung mendongak, menatap wanita paruh baya yang sedang bertanya padanya dengan tatapan menerawang ke depan, membuatnya menaikkan satu alisnya, bertanya-tanya.

"Sepertinya begitu."

"Awalnya aku khawatir memasukkan anakku dalam akademi ini, tapi anak itu benar-benar keras kepala."— "Jadi, siapa orang itu?"

"Jonathan Christof."

Wanita paruh baya itu seketika menoleh ke arah Taehyung, memandang Taehyung dengan tatapan yang sulit diartikan membuat laki-laki bersurai dark-brown itu sedikit tidak nyaman. Memangnya ada apa dengan Jonathan?

"Aku seperti pernah mendengar nama itu, seorang siswa bermarga Christof. Bukankah dia adalah pemegang juara umum di setiap ujiannya? Ah... aku ingat dengan pemuda manis itu." Wanita itu berseru dengan sorot mata yang berkilat-kilat senang, dan sekali lagi membuat Taehyung semakin bingung.

"Oh benarkah?"

"Ya, Ferdinand selalu menceritakan tentang Jonathan kepadaku. Tentang bagaimana tangan dingin miliknya yang selalu mengarahkan senapannya ke arah target dengan tepat, dan selalu memiliki timming yang pas untuk menarik pelatuknya. Dia adalah anak emas dari regu Dementor. Benar-benar kebetulan yang menyenangkan saat Ferdinand tahu jika dia berada di regu yang sama dengannya."

Sehebat itukah?

Seluruh anggota dimohon untuk segera menuju basement sekarang, semua perlengkapan harap digunakan dengan sebaik-baiknya. Lima peluru sudah disiapkan oleh pihak academy dengan rincian setiap amunisi yang berbeda dalam satuannya.

Ujian kali ini menggunakan sistem real, dimana masing-masing kelompok yang sudah ditentukan berlomba-lomba menumbangkan kelompok lawan. Dengan rincian empat amunisi untuk sasaran bebas dan satu amunisi digunakan untuk keadaan terjepit, dimana seorang sniper harus rela bunuh diri ketika berada dalam keadaan terjepit.

Siapa yang lolos dengan menyisakan satu amunisi dalam waktu dua jam, akan dinyatakan lulus dengan telak. Mati atau hidup pastikan kalian berusaha sebaik-baiknya.

Suara operator yang menggema di ruangan itu membuat Taehyung kembali membeku seiring layar LCD yang mulai menampakkan keadaan di basement. Dapat Taehyung sadari keringat di peluhnya mulai bercucuran, ia dapat melihat wajah tenang Jungkook pada layar ke tujuh belas. Jungkook nampak sangat tenang dan mempersiapkan senjata laras panjangnya dengan teratur, tidak ada pancaran takut sedikitpun yang terlihat. Jungkook seolah-olah sudah siap dengan hasil apapun yang diterimanya—

Lain halnya dengan Taehyung yang merasa gelisah setelah mendengar sebuah pengumuman dari operator. Kata-kata 'rela bunuh diri' terus terngiang dalam otaknya, apa-apaan ini? Ujian macam apa yang menggunakan sistem saling membunuh sesama kawan seperti ini? Ini sama sekali tidak masuk akal.

Taehyung terus bergerak gelisah di tempat duduknya, semua kemungkinan buruk menyeruak ke dalam otaknya begitu saja. Oh, rasanya Taehyung ingin mati saja sekarang—

.

.

.

.

.

Baekhyun merenggangkan kedua tangannya, tubuhnya terasa kaku akibat terlalu lama duduk dan menghadap layar laptop. Setelah mengunjungi kejaksaan ia mendapat bertumpuk-tumpuk data narapidana yang disinyalir merupakan anggota dari zorus, kira-kira ada dua puluh tiga anggota zorus yang berhasil diringkus oleh anggota kepolisian namun tidak ada hasil yang berarti yang mereka dapatkan.

Baekhyun tertegun, memungut kertas-kertas itu dan kembali membacanya. Bagaimana bisa mereka tidak berhasil mengorek informasi sekecilpun dari dua puluh tiga tikus yang berhasil mereka tangkap ini? Bahkan dari data yang tertera pada kertas itu rata-rata mereka hanya diketahui nama dan sebuah foto pas berukuran tiga kali empat. Walaupun hanya itu, Baekhyun yakin nama yang tertera pada lembaran-lembaran itu bukanlah nama asli dari tikus-tikus itu.

Dari dua puluh tiga narapidana, lima dari mereka tertangkap saat sedang melakukan transaksi gelap di kawasan bawah tanah Seoul. Sepuluhnya tertangkap saat melakukan penyelundupan narkoba di daerah perbatasan, dan sisanya tertangkap di markas. Baekhyun memicingkan matanya, ia mengelompokkan kertas profil itu sesuai tempat dimana mereka ditangkap. Ia merasa ada yang ganjil disini. Pertama, dari lima orang yang berhasil diringkus di distrik Gwangjin masing-masing memiliki marga yang sama yaitu Kim sedangkan hanya ada satu orang yang bermarga Ahn. Hal tersebut juga berlaku dengan narapidana yang diringkus di perbatasan dan distrik Yongsan, masing-masing dari mereka memiliki marga yang sama kecuali satu.

Baekhyun beralih membuka amplop coklat yang berisi foto-foto yang sempat di potret oleh kepolisian di tempat kejadian perkara, semua nampak berantakan dan tidak sedikit korban yang tergeletak tak bernyawa disana. Namun ada sesuatu yang berhasil membuat kening Baekhyun berkerut. Mawar biru?

"Apa kau sudah siap?" Sebuah suara membuat Baekhyun hampir terperanjat dari kursinya, ia menoleh dan menemukan Daehyun yang sudah berdiri di belakangnya dengan wajah yang menurutnya sangat menyebalkan.

"Ketuk pintu dulu sebelum masuk, kau mengagetkanku bodoh," omel Baekhyun namun sama sekali tidak diindahkan oleh pemuda tan itu. Baekhyun kembali berdecak dan mengemasi dokumen-dokumennya tanpa memperdulikan Daehyun yang masih berdiri memperhatikannya.

"Pintumu tidak dikunci, lagipula aku sudah memberimu pesan singkat." Daehyun mengarahkan tangannya ke arah pintu lalu mendudukkan dirinya di balik meja persegi itu. Baekhyun berdesis menanggapi ucapan Daehyun, baginya sekarang tumpukan kertas di hadapannya lebih menarik untuk dipandang daripada harus melihat wajah menyebalkan seorang Jung Daehyun.

Daehyun hanya diam mengawasi kegiatan Baekhyun, pekerjaannya sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu dan ia berinisiatif untuk memastikan keadaan Baekhyun di ruangannya hanya untuk sekedar mengisi waktu luangnya sampai jam kerjanya habis. Baekhyun memang sudah memiliki ruangannya sendiri sekarang, dan hakim Kim lah yang memerintahkan pihak kejaksaan untuk menyediakan sebuah ruangan untuk Baekhyun di kantor kejasaan. Alasannya cukup sederhana, pria berumur tiga puluh empat tahun itu tidak mau memperumit proses penyelidikan.

Dengan Baekhyun berada dibawah pengawasan kejaksaan dan Daehyun yang berada disana juga bisa mengawasi alih-alih membantu dokter muda itu dengan mudah. Dia harus memperlakukan Baekhyun seperti aset mahalnya, karena Baekhyun adalah satu-satunya alat yang dapat memecahkan kasus zorus yang sudah berlarut-larut selama lima belas tahun lamanya.

Daehyun tidak begitu ingat kapan pertama kali ia mendapatkan kasus ini, yang pasti kasus komplotan bawah tanah bernama zorus itu sudah sangat lama diselidikinya dan hanya membuahkan hasil sebuah pisau tumpul yang tidak bisa diasah sama sekali. Seperti kau menggali sebuah lubang harta karun secara terus menerus, namun hanya batu hitam yang dapat kau temukan.

Banyak senior-seniornya yang pernah menceritakan komplotan gelap haus darah ini kepadanya, rata-rata mereka hanya menceritakan sebuah kronologi tanpa sebuah penjelasan. Karena menurut Daehyun kronologi hanya seberkas perumpamaan yang bahkan hanya bisa dilihat sekilas saja, sedangkan sebuah penjelasan mencakup kronologi dan detail-detail di dalamnya. Itu semua tidak menghasilkan apapun. Sebuah petunjuk bahkan semakin jauh, dan tak berbekas.

Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk penyelidikan besar seperti ini. Dan sudah sepuluh kali kasus ini dilimpahkan secara turun temurun dengan bukti dan dokumen-dokumen yang sama sekali tidak berkembang. Apa zorus sehebat itu?

Yang selama ini ia tahu zorus adalah sebuah kelompok mafia yang mulanya bergerak dalam perdagangan bawah tanah, namun beberapa tahun kemudian mereka mulai membuat onar dengan menyelundupkan barang-barang haram dengan cara terang-terangan dan tak segan-segan menghabisi siapapun yang menghalangi jalan mereka. Tidak heran akan ada banyak korban jiwa yang ditemukan oleh kepolisian di tempat kejadian. Dan ditambah ada beberapa unit dari zorus mengubah haluan mereka menjadi pembunuh bayaran.

Semua itu tidak berarti apa-apa bagi zorus, kasus yang terbesar adalah peluncuran bom di sebuah perusahaan tersohor di Korea dan menewaskan kurang lebih seratus lima puluh orang karyawan. Tidak perlu waktu banyak untuk mengetahui siapa pelaku dari pengeboman itu, setangkai mawar biru adalah tanda keberhasilan yang selalu zorus tinggalkan sebagai bukti, seolah-olah mereka sedang memberikan surat tantangan kepada pemerintah.

Daehyun mendengus berat, ia ingat saat dimana ia melepas kasus ini dan memberikannya kepada seniornya yang ia harap dapat mengembangkan bukti-bukti. Namun sampai ia mengambil kembali kasus ini tidak ada peningkatan yang berarti, hal ini benar-benar membuat kepalanya hampir pecah.

Baekhyun masih sibuk dengan laptop dan berkas-berkasnya, laki-laki berkulit putih porselen itu sama sekali tidak terlihat ingin membagi perhatiannya dari tulisan-tulisan pada layar. Apakah dia sudah menyadari tentang mawar biru itu?

"Kau nampak santai sekali tuan Jung. Sekarang masih pukul sepuluh pagi dan ini masih sangat pagi untuk mengakhiri pekerjaanmu." Baekhyun membawa kedua tangannya di atas meja, sorot matanya terlihat mengintimidasi.

Sedangkan Daehyun hanya tersenyum sembari berpangku dagu. "Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Tidak ada salahnya mengawasimu sekarang."

"Terserah saja."

"Apa kau sudah menyimpulkan sesuatu?"

Baekhyun berdeham, "Aku belum bisa mengasumsikan sesuatu sebelum aku bertemu tikus-tikus itu." Tangannya meraih tiga kertas profil yang sengaja ia sendirikan, "Aku hanya butuh menemui mereka."

"Hanya tiga?"

Baekhyun mengangguk. "Apa gunanya kau mencari sebatang emas yang entah ada atau tidak dari dua puluh tiga lubang lumpur, sedangkan kau bisa menemukan setumpuk berlian hanya dari tiga lubang saja?"

Daehyun memandang Baekhyun ragu. Entah sedetik kemudian laki-laki tan itu tersenyum lalu mengangguk, "Aku akan membawakannya untukmu. Ada yang lain?"

"Tidak, hari ini aku hanya butuh tiga tikus itu."

.

.

.

.

.

"Richard Clein lulus."

"Alfred Drake lulus."

"Ferdinand George lulus."

"Jonathan Christof lulus."

Taehyung mendesah lega setelah mendengar nama Jungkook disebutkan lulus oleh siapapun itu. Layar ke tujuh belas yang mulanya menampilkan keadaan Jungkook sudah lama mati, secepat kilat ia berlari menuju basement yang sudah dipenuhi tangis dari orang tua masing-masing.

Taehyung mengedarkan pandangannya dan menemukan Jungkook yang berdiri tidak jauh darinya. Tanpa berpikir lagi Taehyung menghampiri laki-laki bersurai kelam itu dan langsung membawa Jungkook dalam dekapannya. Rasa gelisah dan takut yang dirasakannya selama dua jam itu seolah runtuh begitu saja.

Jungkook hanya bergeming, ia dapat merasakan punggung Taehyung bergetar. "Hei, ada apa denganmu?" Jungkook menepuk punggung Taehyung.

"Cukup diam dan biarkan seperti ini, hanya beberapa menit saja. Aku janji." Mendengar itu Jungkook kembali diam, membiarkan Taehyung mendekapnya. Mendapatkan perlakuan seperti ini membuat Jungkook merasa nyaman, dan entah sejak kapan pipinya sudah merona.

Merasa cukup Taehyung melepaskan dekapannya, menangkup pipi gembil Jungkook dengan kedua tangannya dan menatap iris tajam Jungkook dengan lembut.

"Aku hampir mati di atas sana kau tahu? Tapi kuakui kau memang hebat Jeon Jungkook." Taehyung tersenyum lalu menggusak rambut Jungkook dan dihadiahi tatapan nyalang dari pemilik rambut. "Selamat untuk kelulusanmu, kau menang mutlak."

"Maaf."

"Apa?"

"Dasar tuli, ternyata hanya hidungmu saja yang besar." Sungut Jungkook.

Tawa Taehyung meledak saat itu juga, membuat Jungkook semakin bersungut-sungut. Sudah baik dia mau mengatakan kata terlaknat bagi Jungkook untuk seorang Kim Taehyung, namun laki-laki itu seolah tidak mendengarnya dan sekarang sedang menertawainya. Dasar laki-laki tidak tahu diuntung, gerutunya dalam hati.

Melihat Jungkook yang semakin menekuk wajahnya, Taehyung kembali membawa Jungkook dalam dekapannya. Kali ini hanya mendekatkan tubuh mereka berdua dan sebelah tagan Taehyung yang merangkul pundak Jungkook, berniat meredakan acara ngambek dadakan seorang Jeon Jungkook. "Iya, iya.. aku mendengarnya. Jadi, kau ingin minta maaf soal apa?"

"Maaf karena menyembunyikan hal ini darimu. Tapi jujur Kim Taehyung, jika kau mengetahui ini pun kau pasti akan tetap meringkuk ketakutan di atas sana. Kau akan tetap menganggapku sebagai anak kecil yang membutuhkan pengawasan. Dan see, kau bisa lihat aku adalah seorang Jonatha Christof yang hebat."

Taehyung terkekeh, kekhawatirannya seolah lenyap begitu saja. Ia yakin semuanya akan baik-baik saja setelah melihat aksi mengagumkan Jungkook beberapa waktu yang lalu. Saat laki-laki bergigi kelinci itu nampak tenang pada tempatnya dan langsung menarik pelatuknya saat seorang musuh memasuki daerah incarannya, berlari mencari tempat strategis untuk menyusun sebuah strategi. Dan berhasil menumbangkan empat sniper lain, menyisakan satu amunisi untuk pembuktian.

"Tapi sehebat apapun aku, firasatku mengatakan semuanya akan sia-sia. Ya.. sia-sia saat keadaan itu datang."—

"Lakukan saja, selama kau belum mencoba kau tidak akan pernah tahu hasilnya. Kau hanya perlu percaya pada kakakmu dan pada senapanmu itu, membiarkan Tuhan menorehkan takdir yang harus kalian hadapi. Apapun hasilnya, percayalah aku akan tetap berada di belakangmu, Jungkook-ah. Kau bisa memegang kata-kata dari seorang Kim Taehyung."

.

.

.

.

.

"Nama, Ahn Hak Woo. Umur 38 tahun. Pekerja buruh tani. Apa ini benar-benar identitasmu?"

Ruangan dua kali dua meter persegi itu nampak remang, hanya sebuah lampu temaram yang menjadi pencahayaan disana. Kosong, hanya ada dua kursi dan satu meja kecil yang memisahkannya. Suara Baekhyun terus menggema dalam ruangan remang itu,mendominasi kegiatan yang sejak tadi hanya terisi sebuah dialog yang dilakukan Baekhyun seorang diri.

Baekhyun tetap memasang ekspresi setenang aliran air andalannya, menatap seorang pria di hadapannya yang sejak tiga puluh menit yang lalu hanya diam tak berkutik. Bahkan Baekhyun sempat mengira jika pria ini benar-benar sudah mati dan hanya menyisakan raga yang kaku— diluar dugaannya, sistem cuci otak yang merangsang dalam tubuh pria itu benar-benar tertanam dengan baik. Akan menjadi sangat sulit memperoleh data-data yang akurat.

Sepersekian menit kemudian Baekhyun mengeluarkan sekantong pelastik steril yang berisi setangkai mawar biru yang didapatkannya dari Kim Seok Jin. Mengarahkan kantong itu ke hadapannya, "Kau pasti tahu tentang bunga ini kan?"

Namun hanya sebuah angin kosong yang ia dapatkan, jangan panggil dia seorang Ronald Christof jika tidak bisa menjinakkan singa liar sedingin es dan sekuat baja ini. Ia masih memiliki umpan yang banyak di balik topeng setenang hamparan rerumputan miliknya. Baekhyun kembali mengeluarkan sebuah liontin perak dari dalam sakunya, kali ini pria itu nampak mengubah ekspresinya. Sebuah lampu hijau bagi Baekhyun untuk terus mendobrak pertahanan sekuat baja itu.

"Oh, astaga. Nampaknya kau sedikit kaget ketika melihat liontin ini, apa kau memiliki ikatan tersendiri dengan benda ini?"

Baekhyun semakin mengembangkan seringaiannya ketika pria itu membuat sebuah respon tak terduga. Pria itu mulai membuka mulutnya, berniat mengatakan sesuatu namun tak mengeluarkan suara apapun, dan itu semakin membuat Baekhyun terjatuh dalam permainannya sendiri. Dokter muda itu mengangkat liontin perak berpahat itu tepat di depan sang narapidana, menunggu respon apa yang akan diberikan kepadanya.

"J—Jangan lak..ukan i..tu. j..a..ng..a..n ..tuh kelua...rgaku."

"Keluarga?"

"Kemb..al..ikan i..tu."

"Tidak sebelum kau mengatakan sesuatu tentang bunga ini."

"Tuan be...sar me—nyukai..nya."

Tuan besar?

"Ada lagi?"

"Bom d..an pla—tina."

Baekhyun terdiam sejenak, instingnya mengatakan ada sesuatu yang berhubungan antara mawar biru, bomb, dan platina. Apa maksudnya?

Dengan sekejap Baekhyun membunyikan bel tanda tugasnya sudah selesai. Beberapa pihak kepolisian memasuki ruangan remang itu dan segera membawa narapidana tadi kembali ke jeruji besi. Daehyun juga ikut masuk saat itu, berdiri tidak jauh dari pintu yang terbuka, menatap ke arah Baekhyun yang masih diam di tempatnya.

"Dia ketua dari komplotan distrik Yongsan, ada hasil yang kau peroleh?"

"Belum, bawakan yang ke dua untukku."

Sebelum beranjak pergi Daehyun sempat termangu di tempatnya, menatap lamat-lamat Baekhyun yang tengah memasang wajah tegang dan memikirkan sesuatu. Namun dapat Daehyun simpulkan bahwa Baekhyun sudah menemukan pemacu yang tepat untuk mendobrak teka-teki lain.

"Baiklah, sesuai keinginanmu. Park Hyung Joo ketua distrik Gwangjin."

Setelah Daehyun meninggalkan ruangan temaram itu, sepuluh menit kemudian seorang pria bersurai kelam dengan rambut sedikit ikal masuk dengan kedua tangannya yang terborgol manis. Kali ini perawakan tubuh dan wajahnya terlihat sangat berbeda jika dibandingkan dengan yang sebelumnya berbadan berisi dan nampak bugar. Pria ini lebih kurus, keriput diwajahnya nampak kontras, dan tubuh yang terlihat sangat ringkih.

Baekhyun tertegun, dari profil yang digenggamnya pria bernama Park Hyung Joo ini hanya berbeda jarak tiga tahun darinya, bahkan jika dilihat dari umur pria ini belum tergolong seorang pria paruh baya. Pengaruh obat-obatan sangat berdampak pada orang ini—

"Park Hyung Joo, seorang pria yang awalnya hanyalah seorang pekerja kantor yang biasa-biasa saja." Baekhyun memulai introgasinya tepat setelah pria itu mendudukkan diri di hadapannya. Seperti sebelumnya, tiada respon yang berarti—

Baekhyun kembali melontarkan beberapa penjelasan dan pertanyaan, namun tetap saja— tidak ada hasil yang berarti yang ia dapat jika hanya dengan mengajukan sebuah atau dua buah pertanyaan. Cara yang paling ampuh untuk membuat orang-orang yang sudah terkena sistem pencucian otak adalah dengan mengingatkan mereka dengan hal-hal yang sebelumnya sangat di lindunginya atau bahkan di cintainya. Seperti keluarga, barang kesayangan, dan lain sebagainya.

Tanpa ingin mengulur waktu lebih lama, Baekhyun mengambil sekantong pelastik steril dari balik jubah putihnya. Membuka kantong berisi sebuah boneka kayu yang hanya tersisa kepala, tangan kanan, dan kaki kirinya saja. Tentu barang ini ia dapatkan dari Seok Jin— yang sempat beberapa hari lalu mengadakan penyelidikan di tempat kejadian perkara, dan berhasil menemukan benda-benda yang cukup berguna untuk bahan introgasi.

Baekhyun sedikit melirik ke arah pria di hadapannya. Wajahnya masih sedatar es, apa benda ini bukan miliknya? Tapi sesuai penjelasan Seok Jin boneka kayu ini dia temukan di sebuah box kayu yang diatasnya bertuliskan tulisan Daegu, dan Daegu adalah daerah asal pria ini.

"Kau teringat sesuatu dengan benda menyedihkan ini?" Baekhyun meletakkan boneka kayu itu di atas meja, lalu kembali menatap lamat-lamat pria bernama Hyung Joo itu.

Hingga detik ke lima belas Baekhyun menarik alisnya, melihat pria itu mulai ingin membuka mulutnya.

"Mesin pengisi memori—"

Baekhyun semakin mengerutkan keningnya kala ucapan pria itu terputus dan mulai terdengar samar-samar akibat berbenturan dengan suara alaram yang berbunyi nyaring secara tiba-tiba. Beberapa polisi juga memasuki ruangannya dengan terburu-buru, ruangan yang mulanya sepi senyap kini berubah gaduh dengan para polisi yang tergopoh-gopoh berlarian kesana kemari. Ada apa?

Daehyun juga ikut masuk, memberi isyarat untuk segera membawa narapidana tadi ketempat yang aman. Sedangkan Baekhyun masih termangu di tempatnya, mencerna apa yang sedang terjadi. Karena sungguh, ia sedikit trauma dengan orang yang berlarian kesana kemari dengan ekspresi yang luar biasa tegang.

Baekhyun menatap penuh arti ke arah Daehyun, "Ada apa?"

"Zorus berhasil menghancurkan pengadilan pusat dengan sebuah bomb, kita harus segera kesana."

Seketika tubuh Baekhyun melemas, kenapa harus bomb? Kenapa kejadian itu terulang lagi.

.

Mawar biru, platina, bom, dan mesin pengisi memori...

.

.


To be Continued


Kayaknya semakin rumit -_- yang nulis juga ikutan rumit kok.-.v

Thanks to :

wataeshiwa: aku terharuㅠㅠ tapi jujur, ini pun aku asal nulisnya wkwk, daehyun emang patut dicurigai sih:(; Nisrina Nazihah: ini udah di lanjut ya dear~ :); ririn ayu: ciyeom aja si baek ciyeom wkwk; SHINeexo: nah loh si chanyeol sm kris ngapain ya wkwk, di tunggu aja xD; Nadoorim: masih di lanjut kok, aku masih sayang ff ini. sedih juga lihat ff ini kebengkalai lama bgt xD.

Thanks yang udah fav, follow, dan review~ yang siders juga, i love you so mucchhh~ ditunggu cuap-cuap kalian di kotaak review;;

Yosh,

Mind to Review?