Summary:

"Call my name whenever you're drowned, I'll bring you back to the surface. "

.

.

A Fanfiction Inspired by:

Western Series(es): Lucifer | Constantine | Grimm

Disclaimer: I own nothing except the story line

Genre: Supernatural, Romance, Mystery, Humor gagal, a lil bit Crime, Myth, Fantasy, Gore (seriously, I'm no good at this)

Starring :

Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Discover the supporting casts

Rated: M

WARNING!

Boy x boy, typo, ambigu, banyak istilah asing, swearing, harsh words, umpatan kasar, gore

Hashaaa!

.

.

"Good Devil, Lucifer Fall!"

Part X: to Pay the Price

Sososk tegap dengan kulit eksotis yang tengah terbaring di ranjangnya kini tersenyum tipis. Seorang pemuda berwajah menggemaskan menggunakan lengan Sang Pangeran sebagai bantal. Wajah berkulit putuh susu itu terlihat begitu polos dengan mata yang terpejam. Bulu matanya lentik, hidung menggemaskan, pipi chubby, dan bibir mungil yang setengah terbuka menunjukkan sepasang gigi kelinci yang mengintip lucu, semuanya gagal membawa Lucifer untuk percaya bahwa sosok bak malaikat yang tengah tertidur itu adalah sosok yang sama dengan yang sering sekali mengumpatinya.

Jeon Jungkook memang penuh dengan kejutan.

Terlalu sayang untuk ia lewatkan.

Dan Lucifer memang tidak akan melewatkannya.

Pemuda bersurai tembaga menggeliat di dalam tidurnya saat merasakan belaian hangat di pipinya. Ia semakin menenggelamkan tubuhnya ke dalam aroma musim dingin yang memeluknya. Wangi mawar yang menguar membuatnya merasa tenang. Ditambah kesegaran mint yang nyaman, Jeon Jungkook benar-benar merasa dirinya berada di rumah. Puncak kepalanya terasa hangat, sementara pinggangnya dipeluk erat. Saat itulah ia mulai mengerang lirih, merasa terusik.

Dan kekehan bernada rendah yang begitu dekat dengan telinganya membuat sang detektif mulai membuka mata.

"Bangun, sayang… kau tidur hampir dua belas jam."

Jungkook mengeryit heran, ia sedikit mendongak hanya untuk mendapati senyum yang terlukis di bibir Kim Taehyung.

Kim Taehyung.

Jeon muda mengerjabkan matanya beberapa kali, mencoba memfokuskan pandangannya yang masih kabur. Sejujurnya, sekalian ingin memastikan apakah senyum yang dilihatnya sungguhan.

Ia mendengus kecewa saat tatapan matanya mulai fokus.

Senyum itu menghilang dari sana, dan ia sungguh kecewa.

"Jangan memasang wajah begitu, kadar menggemaskanmu turun sepuluh persen."

Dan Jungkook memukul dada polos pria yang mendekapnya kuat-kuat. "Pangeran sinting!"

Memang sinting.

Lucifer tertawa renyah saat pemuda Jeon memukulnya sekuat tenaga, dan itu sama sekali tidak wajar. Yeah, walau tentu tenaga Jungkook yang baru bangun tidur akan pernah sebanding dengan penguasa Neraka yang gila. Apalagi, kini Jeon Jungkook tengah kelaparan.

"Uhh…" pemuda bermata onyx memegangi perutnya yang terasa perih. Ia benar-benar lupa kalau sejak kemarin malam, dan sekarang mungkin sudah malam lagi, dirinya tidak sempat makan. Minum saja ia lupa. Pertaruhan antara hidup dan mati benar-benar membuatnya lupa akan kebutuhannya sendiri.

"Lapar?" seolah bisa membaca pikiran calon pendampingnya, Lucifer ikut mengusap, lebih tepatnya, membelai perut Jungkook.

Lembut, kelewat lembut sampai-sampai membuat Jeon muda bergidik, apalagi saat tangan kurang ajar itu mulai meremat pinggangnya.

"Jangan pegang-pegang! Mesum!" lagi-lagi berubah galak. Walau begitu, kepala Jungkook mengangguk tanpa aba-aba.

"Katakan itu pada kelinciyang menggumam dalam tidurnya, mengatakan betapa nyamannya berada di pelukanku. Ohh, jangan lupakan tubuh montoknya yang digesek-gesekkan ke tubuhku. Padahal kami berdua sama-sama topless…" Sang Pangeran menghela nafasnya dramatis, menyeringai sambil menaik-turunkan alisnya jahil. "Mungkin si menggemaskan ini sengaja menggodaku. Untung saja aku bisa menahan diri. Kalau tidak, pasti ia sudah hamil sekarang."

Wajah Jeon Jungkook sudah memerah sempurna. Telinganya terasa panas saat mendengar lawakan menyebalkan dari si sinting Lucy. Diam-diam ia melirik tubuh pria bersurai jelaga yang tengah memeluknya. Benar saja, tidak ada sehelai benangpun yang menutup bagian atas tubuhnya. Onyx kembarnya kembali bisa melihat perut berotot, tulang selangka sempurna, dan kulit kecoklatan yang menyebalkan.

"Aku tahu kau lapar, tapi jangan melihatku seperti itu." Lucifer tertawa ringan. Ia menyingkap sutera merah yang menyelimuti tubuhnya dan Jungkook, lalu duduk di pingiran tempat tidur.

Jungkook masih saja terkesiap saat melihat luka di punggung Sang Pangeran. Ingin ia bertanya telah berapa lama kekurangan itu ada di sana, juga kenapa lukanya tak kunjung membaik. Bahkan sedikit saja, Jeon muda tidak melihat tanda-tanda bahwa bagian itu akan mengering. Herannya, darah tidak pernah menetes dari sela kulit dan daging yang koyak itu.

"Kau ingin makan apa?" masih memunggungi Jungkook yang kini terduduk di kasurnya, pemilik helaian sekelam malam mencoba untuk memakai sepatunya. "Tenang saja, akan kusediakan makanan manusia yang layak."

Detektif Jeon mengabaikan pertanyaan Lucifer karena ia mengingat sesuatu. Pemilik sepasang kristal segelap obsidian langsung merangkak ke samping pangeran, menilik dengan matanya sendiri apakah si sinting benar-benar tidak waras sampai nekat memakaikan sepatu pada kakinya yang terluka parah.

Mata Jungkook membola begitu mendapati punggung kaki yang kemarin hampir terkuliti sempurna, kini telah kembali baik-baik saja, seolah luka paling kecil pun tak pernah ada di sana. Jungkook menoleh cepat, melayangkan tatapan menuntut kepada pria di sebelahnya. Bahkan celana yang ia gunakan kini utuh setelah jelas-jelas Jungkook menyobek bagian lututnya.

Lucifer balas menatap manik indah calon pendampingnya, menenggelamkannya ke dalam samudera di mata miliknya sendiri. "Kubilang akan sembuh kan? Jangan terlalu mengkhawatirkanku."

Jeon Jungkook mematung kala dirasakannya sentuhan lembut di pelipis kanannya, lalu berpindah ke pipi. Setelah itu, bibir hangat Sang Penguasa Neraka menyentuh sudut bibir mungil sang detektif.

Kurang dari satu detik.

Hanya sebentar, namun hangatnya seolah tak mau pergi.

Si brengsek memang pernah meraba tubuh Jungkook, mencium wajah, leher, juga beberapa bagian lainnya, tapi Sang Pangeran sungguh tidak pernah menyentuh bibir Jeon Jungkook dengan bibirnya.

Apakah ini ciuman pertama mereka?

Wajah berpipi tembam itu kembali memerah, Jungkook bahkan menunduk karena rasa malu yang luar biasa. Dalam hati ia bersumpah serampah, mengumpati dirinya sendiri yang malah bereaksi seperti sekarang. Sementara Lucifer mengulum seringaiannya. Ia berdiri, lalu mengambil jubahnya yang tergeletak asal di nakas.

Suara besi yang bergesekan dengan kayu menarik perhatian Jeon muda.

"Kau… tidak akan menyiksa luka di punggungmu dengan itu kan?" tanya Jungkook tanpa mengharapkan jawaban. Sebelum ini, ia pernah melihat Lucifer dengan tanpa perasaan memasang jubahnya tanpa melapisi punggungnya yang terluka dengan sesuatu yang lembut. "Kenapa luka itu tidak sembuh seperti luka di kakimu?"

Satu detik.

Hanya satu detik pria berkulit eksotis dengan tubuh sempurna itu menghentikan kegiatannya, dan selama itu pula rahangnya sempat mengeras. Namun setelahnya, ia berikap seolah tak mendengar apa-apa, bahkan langsung memasang begitu saja pakaian berbahan kulit itu di tubuhnya.

Jungkok yang melihatnya meringis ngeri. Ia mengingat luka-luka yang didapatkan pangerannya kemarin, dan itu sungguh membuatnya merasa tidak nyaman.

Sentuhan di bahunya membuyarkan lamunan pemuda Jeon. Dalam diam, pangeran menutup tubuh bagian atas calon permaisurinya menggunakan kain sutera yang ia berikan. Setelahnya, ia memakaikan sepatu kepada pemuda manisnya. Setelahnya, tubuh yang kini berbalut kain sutera merah yang sekarang berbentuk menyerupai kemeja oversize itu ditarik lembut agar berdiri.

"Ayo keluar. Setelah kau makan, kita akan menjatuhkan hukuman untuk jalang yang dengan kurang ajar melukaimu, juga temanmu." gumam Lucifer usai mengamati Jeon Jungkook dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia mengangguk puas, lalu memeluk pinggang si manusia dengan sebelah tangan, menuntunnya keluar dari kamar.

Detektif Jeon memilih diam.

Sebenarnya ia ingin protes, tapi mengingat makhluk keparat yang telah membuat teman baiknya sekarat sukses melumpuhkan kemampuan berpikirnya. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti. Kalau boleh, ia ingin menghajarnya dengan tangan kosong, tapi pangeran pasti tidak akan mengizinkan.

Masih berjalan di sebuah lorong, Jungkook mendongakkan wajahnya ke samping, menatap sekilas wajah datar Sang Penguasa Neraka. Pria di sampingnya bilang ia akan mengabulkan hukuman apapun yang diminta sang detektif.

Apa Jeon Jungkook harus meminta agar makhluk sialan itu dimusnahkan?

Atau menjadikannya bahan bakar di Neraka?

Atau menyuruhnya melintasi Padang Duri dengan merangkak?

Ia masih belum bisa memutuskan karena apapun itu, tidak akan bisa membangunkan Kim Yugyeom begitu saja.

Hanya satu yang bisa menyadarkan sahabat menyebalkannya itu. Dan Jeon Jungkook adalah pemegang kunci-nya.

.

.

.

.

.

"Aku harus segera menemukannya. Apapun yang terjadi, pedang itu harus menjadi milikku." gumam sosok berjubah coklat kepada dirinya sendiri. Ia tengah berjalan mondar-mandir di depan pintu sebuah kamar.

Beberapa waktu yang lalu, ia melihat pangeran bersama manusia miliknya keluar dari kamar tersebut. Dan berdasarkan perkiraannya, tuannya tidak akan kembali, paling tidak untuk beberapa jam ke depan karena sosok bersurai kelam itu sendiri yang telah meminta kaki tangannya untuk tidak ikut campur.

Jungkook pasti membutuhkan waktu untuk memilih hukuman apa yang dimintanya kepada Lucifer. Selama itu, Azazel harus sudah menemukan apa yang diinginkannya. Kalau tidak, ia tidak tahu lagi harus mencarinya dimana.

Sepasang iris sewarna batu batanya menatap pintu besi di hadapannya. Ia menelan ludahnya susah payah karena seharusnya, ia tidak boleh masuk ke dalam sana. Tidak ada yang boleh masuk kecuali Lucifer.

Dan sejak kemarin, Sang Pangeran dengan suka rela membuka pintunya lebar-lebar untuk seorang manusia bernama Jeon Jungkook.

Azazel terlalu resah untuk mempedulikan hukuman yang akan diterimanya jika ketahuan. Pangerannya berubah, dan ia sungguh tidak bisa membiarkan dirinya sendiri bersantai seperti hari-hari sebelumnya. Menurutnya, ia harus segera mengklaim pedang itu sebagai miliknya, atau Sang Pangeran bisa saja memberikannya kepada seseorang.

Jeon Jungkook.

Manusia itu yang telah mengubah pangerannya yang semula tidak berperasaan dan keras, menjadi sosok yang peduli dan lembut, walau hanya kepada Jeon sialan seorang Kejadian di Padang Duri adalah bukti nyata yang tidak bisa diabaikan.

Iblis bertanduk melingkar itu tidak peduli jika Sang Pangeran memiliki seorang permaisuri, istri, pendamping, atau apapun itu namanya. Tapi Jungkook benar-benar membuat ketidakpeduliannya berubah menjadi keresahan yang menggila.

Di hadapan bocah labil itu, Lucifer tampak seperti sosok yang rela memberikan apapun untuk seseorang yang diinginkannya. Bahkan jika Jungkook meminta Neraka dan seisinya sebagai bayaran yang harus diberikan Sang Penguasa agar si manusia mau menjadi miliknya, pasti Lucifer akan dengan suka rela memberikannya.

Dan jika si bocah mengetahui tentang betapa kuatnya pedang milik Michael, bisa jadi dia akan memintanya juga.

Lucifer memperbolehkannya masuk ke kamar pribadi yang bahkan Azazel saja belum pernah masuk ke dalamnya, satu-satunya tempat di istana yang belum ia periksa. Azazel bersumpah, Jeon Jungkook, atau siapapun itu, tidak boleh mengetahui keberadaan senjata terkuat sebelum Azazel memilikinya terlebih dahulu. Dan sekarang, iblis bersurai sepekat kopi itu akan masuk ke kamar pribadi Sang Pangeran untuk memastikannya.

Tangan kirinya memegang gagang besi dari pintu berwarna gelap itu. Ia memejamkan mata, menghirup nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya kasar.

Dan Azazel memasuki tempat yang seharusnya tak pernah dikunjunginya.

.

.

.

.

.

"Pangeran…" ucap sosok wanita dengan suara lembutnya. Ia yang tadinya terduduk di sudut ruangan, kini berdiri, berjalan mendekati jeruji yang mengurungnya, menatap sosok berjubah panjang dengan tatapan penuh puja. "Pangeran, kau datang untuk mengeluarkanku dari sini."

Mata bulat wanita itu berbinar penuh harap, bibir penuhnya tersenyum lebar. Namun senyum itu luntur seketika begitu ia melihat sosok yang berjalan di belakang pangeran-nya.

"Kau…" desisnya hampir tanpa suara. Kesepuluh jemarinya meremat gaun berwarna putih yang ia kenakan. Sorot ramah yang semula terpancar dari sepasang matanya berubah menjadi amarah.

"Kau ingin berkenalan dengannya?"

Bukan.

Lucifer bukan bertanya kepada sosok wanita yang kini berjarak kurang dari satu meter di hadapannya, terhalang jeruji tinggi yang tak berani disentuh oleh si wanita. Sang Pangeran tengah menanyai pemuda yang berdiri di sampingnya, pemuda yang menatap penuh kebencian jalang yang hampir membunuh sahabatnya.

"Tidak perlu." ucap Jungkook tegas. Ia bahkan menepis kasar lengan pria bersurai jelaga yang akan memeluknya. Dengan langkah penuh amarah ia berjalan mendekati jalang yang juga menatapnya penuh kebencian.

Baru saja ingin meremat jeruji besi yang mengurung si jalang, sepasang lengan menggenggam erat masing-masing pergelangan tangan kanan dan kiri Jungkook, menariknya cepat agar sang detektif tidak menyentuh benda silinder itu.

"Hati-hati. Tanganmu akan meleleh kalau menyentuhnya."

Jeon muda bergidik ngeri. Ia lupa dirinya sedang berada di Neraka. Ia melirik Lucifer, sebelum memicingkan matanya untuk mengamati besi itu. Samar-samar ia melihat asap yang menguar dari sana.

Jungkook tidak ingin memastikan, tapi ia percaya benda itu benar-benar panas.

"Pangeran, apa yang manusia brengsek sialan ini lakukan di sini?" suara wanita itu bergetar. Ia sadar dengan apa yang dihadapinya, namun berusaha menyangkal sekuat tenaga. "Kau akan membebaskan diriku, lalu mengurung jalang itu sebagai gantinya. Benar, Pangeran?"

Pemuda bersurai tembaga mendengus meremehkan. Ia menarik nafas dalam untuk mengendalikan emosi yang meluap-luap di dalam dirinya. Kalau boleh jujur, saat ini kepalanya seolah mendidih saking inginnya ia menghajar jalang yang mengatai dirinya jalang.

"Brengsek!" umpat Jungkook pada akhirnya.

Sang Pangeran tertawa renyah. Dipeluknya pinggang si manusia dengan sebelah tangannya.

"Midday, aku yakin Azazel sudah mengatakan banyak hal saat ia menyeretmu ke sini, hm?"

Bibir penuh berwarna kemerahan milik sosok yang dipanggil Midday itu bergerak ragu. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun memilih untuk mengurungkannya.

Iblis kepercayaan Sang Pangeran memang telah mengatakan banyak hal kepadanya. Mengenai kesalahan terbesar yang dilakukannya dengan membahayakan pemuda kesayangan Lucifer, semua masih terngiang jelas di dalam kepalanya. Bahkan aura yang menguar dari tubuh pangeran saat menemuinya beberapa waktu lalu sudah cukup untuk membuatnya paham tentang posisinya saat ini.

Tapi Midday memilih untuk mengabaikannya. Ia masih benar-benar mengharapkan pengampunan dari sosok yang begitu dipujanya.

"Aku yakin kau punya alasan yang kuat sampai-sampai sosok anggun yang biasanya keluar di siang musim panas rela berkeliaran saat malam demi menemui kekasihku." pemilik iris sedalam samudera menjeda untuk beberapa saat. Bibirnya menyeringai tipis. "Aku ingat kau adalah sosok yang penuh dengan keceriaan, perwujudan sempurna dari rasa bahagia yang meluap saat musim panas yang indah. Sangat indah seperti namamu, Lady Midday. Aku tidak pernah menyangka kau akan menyerang seseorang yang tidak mendatangimu. Kau tahu, kau lebih cantik kalau tersenyum dengan wajah bahagia seperti biasanya, bukannya malah mengamuk dan membuat masalah dengan calon permaisuriku."

Mereka terdiam selama beberapa saat. Lucifer dengan keangkuhannya, Jeon Jungkook dengan usahanya menahan diri agar tidak menghajar wanita yang telah membuat Yugyeom sekarat. Ia merasa marah, sangat marah. Entah karena rasa dendamnya, atau karena ucapan Sang Pangeran yang penuh dengan pujian untuk si jalang sialan.

"Bahkan aku menyembahmu selama ini. Apa itu semua belum cukup untuk menjadikanku satu-satunya, Yang Mulia?" katakanlah Midday sudah gila karena dengan berani, ia menatap manik sedalam samudera milik Sang Penguasa dengan sorot menuntut dan tidak terima. "Kenapa… kenapa Yang Mulia malah memilih manusia bodoh dan lemah itu?"

Sepasang onyx Jungkook berkilat.

Dikatai bodoh, lemah, menyebalkan, atau apapun itu oleh sahabatnya adalah hal yang biasa. Tapi mendengar kalimat itu terlontar dari mulut jalang sialan yang telah mencelakainya, Jeon Jungkook jelas tidak bisa membiarkannya begitu saja.

Ia melangkah mendekati jeruji yang memisahkan mereka, menjulurkan tangan kirinya di sela-sela besi-besi panas itu. Dengan gerakan cepat, ia mencengkeram rambut coklat bergelombang Midday, menariknya sekuat tenaga hingga membuat kening dan pipi kiri si wanita membentur jeruji yang menghitam.

"Jaga mulutmu, jalang!"

Midday menjerit pilu. Bukan karena mendengarkan ancaman Jeon Jungkook kepadanya, namun karena besi panas yang menempel padanya membuat kulitnya melepuh. Ia bahkan menahan dirinya kuat-kuat agar tidak menyentuh jeruji. Maniknya yang kini berwarna keruh, bergetar saat menatap wajah angkuh si manusia. Tangan kirinya terulur di sela besi, mencengkeram leher Jungkook, sekuat tenaga menancapkan kuku-kuku tajamnya di sana, menyeretnya mendekat.

Namun sang detektif lebih pintar. Ia menarik tubuhnya menjauh, menggunakan kaki kirinya untuk menumpu beban tubuhnya, membuat tarikannya di rambut si jalang lebih kuat.

"Jalang sialan!" nafas Jungkook terengah, ia benar-benar marah saat mengingat keadaan Yugyeom malam itu. Ditambah pujian dari si sinting Lucy yang terlontar begitu saja untuk si wanita, pemilik surai tembaga benar-benar tidak bisa menahan dirinya. "Ini untuk Yugyeom!"

Kulit di pipi tembam Midday bahkan mulai mengelupas saking panasnya besi yang menempel padanya, tapi Jungkook benar-benar tidak peduli. Ia menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk menarik leher si jalang, membuat tubuh berbalut gaun putih yang indah itu semakin menempel pada jeruji.

Persetan dengan lehernya sendiri yang banyak mengeluarkan darah. Kedua tangan Midday yang kini mencekiknya kuat tak akan membuatnya berhenti.

Jungkook menyeringai kala melihat bibir penuh si jalang menyentuh jeruji besi. Hanya sekilas, namun itu cukup membuat bibir kemerahan itu melepuh dan mengeluarkan darah.

Pemuda Jeon semakin brutal menarik leher dan rambut wanita bersurai kecoklatan berulang-ulang. Ia seolah kehilangan akal sehatnya dan melakukan segalanya seperti binatang.

"Cantik?" Jungkook tertawa hambar, seringai puas tercetak di bibirnya saat ia mendapati wajah sempura milik Lady Midday yang kini cacat dan penuh luka. "Kuakui kau benar-benar cantik."

Lucifer menyeringai di belakang sang detektif. Sejak tadi ia sengaja membiarkan calon permaisurinya meluapkan apa yang ia rasakan. Pujian yang ia lontarkan untuk salah satu jalangnya pun hanya sebagai umpan untuk mengetahui sejauh apa Jeon Jungkook terjatuh untuknya. Dan kalimat yang barusan terlontar di sela kemarahan sang calon pendamping membuat pangeran yakin, sangat yakin, bahwa Jeon Jungkook benar-benar sudah berada di genggamannya.

Perlahan ia memeluk pinggang pemilik surai copper dari samping. Tangan kirinya mencengkeram kedua pergelangan wanita yang dengan sangat kurang ajar menyentuh miliknya. Ia menggenggamnya kuat hingga suara sesuatu yang patah memicu lolongan kesakitan untuk lolos dari bibir penuh yang kini sudah tak berbentuk itu.

Kedua tangan itu melepaskan cekikannya di leher Jungkook, membuat si manusia lebih leluasa membenturkan kepala si jalang ke besi-besi panas di hadapannya.

"Sayang… hentikan." bisik Sang Pangeran lembut. Sangat lembut. Bibir tebalnya menyapu perlahan leher sang kekasih yang terluka, membuat Jungkook terlonjak kaget dan langsung melepaskan kedua tangannya dari si wanita.

"Ahh!" pekikan itu lolos begitu saja dari bibirnya. Kedua tangan Jungkook kini meremat sepasang lengan yang memeluk pinggangnya.

"Aku tidak mau kau melukai dirimu hanya karena iblis tak berguna sepertinya." ucap Lucifer, kini dengan nada datarnya. Tangan kanannya menarik lengan kiri Jungkook. Diberikannya kecupan-kecupan lembut ke punggung tangan berkulit susu itu, menghapus luka bakar yang samar terlihat.

Detektif Jeon bahkan tidak sadar dirinya ikut terluka karena panas yang menguar dari jeruji. Sebelah tangannya yang bebas naik untuk menyentuh lehernya sendiri, ia langsung menoleh ke samping, hampir membuat bibirnya bersentuhan dengan rahang tegas Sang Pangeran.

Ia langsung membuang mukanya. Niat awalnya untuk menanyakan perihal luka yang lenyap dari lehernya menguap begitu saja karena wajahnya yang mendadak terasa panas.

"Tidak…" gumam Midday dengan suara rendahnya. Ia menggeram marah melihat pangeran-nya memeluk, bahkan memberikan kecupan kepada seseorang. "Kau bahkan tidak menciumku, dan kau mencium manusia sialan itu?"

Sosok yang terduduk lemas itu tak mampu berdiri. Tenaganya terkuras untuk menahan rasa sakit di wajah, juga kedua tangannya. Air mata yang sejak tadi mengalir akibat panasnya besi yang menerpa wajahnya, kini semakin deras karena sosok yang ia klaim sebagai kekasihnya, malah bermesraan dengan orang lain.

"Aku tidak menciummu, atau jalang-jalangku yang lain karena bibir ini…" Lucifer menghentikan kalimatnya. Sepasang iris sebiru samudera dalam menatap lekat sosok yang beberapa kali tidur bersamanya, bibirnya menyunggingkan seringai yang jelas terlihat. "… hanya untuk permaisuriku."

Ucapan bernada rendah itu sukses membuat Jungkook mematung seketika. Apalagi setelahnya, Sang Pangeran mencium lembut sudut bibirnya. Hanya sekilas, sebelum bergeser ke pipi dan dagunya.

Mata bulat Midday bergetar seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lucifer, Sang Penguasa Neraka, setahunya tidak pernah mencium siapapun, termasuk dirinya. Ia juga takkan pernah membiarkan siapapun menyentuh bibirnya, bahkan saat Sang Pangeran berhubungan badan.

Dan sekarang, sosok itu memberikan kecupan lembut kepada manusia lemah itu, seolah mereka adalah sepasang kekasih?

"Hukuman apa yang kau inginkan untuknya, permaisuriku?"

Jungkook terdiam, setengahnya karena kecupan lembut di tengkuk yang diberikan oleh pria yang memeluknya dari belakang, setengahnya lagi karena panggilan yang mengganggunya. Kepalanya bahkan terasa kosong, tak mampu memikirkan apa yang ia inginkan sekarang.

"Ohh… sepatumu."

Sang Pangeran melepaskan lengannya dari tubuh pemuda bersurai tembaga. Ia berjongkok di hadapan Jeon muda. Bertumpu pada lutut kirinya, Lucifer mengangkat sebelah kaki Jungkook, melepas sepatu pemberiannya yang meleleh di beberapa bagian karena terkena panasnya jeruji besi.

"Tidak… Yang Mulia tidak mungkin melakukannya!" Midday menjerit. Suaranya terdengar parau dan putus asa. Pangeran yang begitu ia puja benar-benar berlutut di hadapan si manusia hina. Pikirnya, Jeon Jungkook hanya mengucapkan kebohongan ketika mengatakannya. Namun sekarang, hal itu benar terjadi di depan matanya.

Ia merasa marah, sangat marah. Ingin rasanya ia berubah menjadi kepulan asap dan keluar dari penjara sialan yang mengekangnya, lalu mencekik Jungkook dengan tangannya sendiri hingga si manusia tewas. Tapi Azazel mengambil sabit miliknya, dan itu membuat separuh kekuatannya lenyap. Ditambah jeruji besi yang mengekangnya, juga luka di sekujur tubuhnya… Midday hanya bisa menatap pangeran-nya dengan sorot nanar dari kejauhan.

Detektif Jeon yang tadinya fokus pada Sang Pangeran, menoleh ke arah sosok bergaun putih. Tanpa sadar ia menyeringai saat mendapati tatapan menderita, juga tubuh yang bergetar karena menahan tangis dan rasa marah itu.

Dan ia tahu apa yang diinginkannya sebagai hukuman bagi iblis yang membuat sahabatnya diambang kematian.

"Cium aku."

Penguasa Neraka menghentikan kegiatannya. Ia menyeringai dalam diam, lalu mengusap lembut kaki Jungkook-nya yang memerah. Perlahan warna itu memudar, dan Lucifer kembali memakaikan sepatu yang kini telah kembali seperti baru.

Sejujurnya, ia sengaja membiarkan permintaan Jungkook tanpa menolak ataupun menyanggupi.

"Lucifer!" suara sang detektif meninggi. Ia benar-benar muak dengan sosok yang lambat memberinya respon. Padahal tadi si sinting bilang akan mengabulkan apapun yang diinginkannya sebagai hukuman si jalang.

Yang dipanggil hanya berdiri, lalu memberikan kecupan ringan di pelipis Jungkook. "Sudah."

"Bukan ciuman yang seperti itu!"

Jeon Jungkook terlihat seperti balita yang merengek minta dibelikan permen kapas. Bibir mengerucutnya, juga pipi meronanya yang menggembung terlihat sangat sangat menggemaskan bagi Lucifer.

Dan tangan kiri pria bersurai jelaga terulur untuk mencubit pipinya gemas. "Lalu yang seperti apa, hm? Katakan yang jelas."

Jungkook menyentuh bibirnya sendiri. Ia sadar betul bahwa saat ini, dirinya tak ubahnya seperti seorang jalang yang minta disentuh oleh tuannya. Namun Jeon muda terlalu marah untuk peduli, terlalu dendam untuk mengingat bahwa ia tidak seharusnya melakukan ini.

Biarlah. Toh nanti Jeon Jungkook akan menjadi milik Lucifer seutuhnya.

"Di sini…" cicitnya dengan suara bergetar. Bahkan telunjuk yang berada di bibirnya ikut bergetar.

Tersenyum lembut, lebih tepatnya, menyeringai lebar, Lucifer menarik tubuh Jungkook ke dalam dekapannya. Sepasang samudera di matanya menenggelamkan obsidian kembar milik pemuda Jeon. "Yakin dengan permintaanmu, hm?"

Jungkook memejamkan matanya saat bibir tebal Sang Pangeran mulai menyentuh cuping telinganya. Hembusan nafas hangat begitu terasa saat menerpa kulitnya, dan itu sukses membuat bulu kuduk si manusia meremang tanpa bisa ia kendalikan.

Tangan kuat itu meremat pinggang Jeon muda, membuatnya membuka mulut dan meloloskan desahan tertahan. "A -aku juga ingin yang lain sebagai hukuman untuknya…"

Lucifer terkekeh mendengar rengekan manja calon permaisurinya. Ia menjauhkan wajahnya dari telinga manusia paling sempurna yang pernah ia temui. Setelahnya, ia mengangguk sambil menatap lekat sepasang obsidian indah Jungkook-nya.

"Jadi…" menggantung kalimatnya dengan sengaja, Lucifer mulai menyentuhkan bibirnya ke bibir Jeon muda. "Menciummu?"

Dan saat pemuda bersurai tembaga mengangguk ragu, Sang Pangeran menekan bibir mungil itu semakin kuat. Jungkook terkesiap, namun memilih untuk mencoba tenang karena bagaimanapun, ini adalah ciuman pertamanya.

Ia memejamkan matanya saat bibir bawahnya dikulum lembut. Lidah sosok bersurai sekelam malam dengan lincah menyapu bibir bagian atas Jungkook sebelum menggigitnya penuh perasaan.

Hal yang selanjutnya Jungkook ingat adalah kedua belah bibirnya yang dihisap rakus secara bergantian. Ia bahkan lupa bagaimana cara bernafas dan hanya mampu mengikuti permainan Sang Pangeran yang semakin menuntut.

"Ahh.. Lu-uwmhh…" sepasang lengannya tanpa aba-aba mengalung di leher pemilik Neraka dan seisinya. Ia balas menghisap lembut bibir Lucifer di sela nafasnya yang terengah, juga rintihan lirih yang tak henti-hentinya lolos dari bibirnya sendiri.

Sepasang iris sewarna samudera itu masih mengamati wajah manusia miliknya dari jarak yang sangat dekat. Ia tersenyum miring, menggigit lembut bibir bawah Jungkook, menariknya perlahan.

Dan ketika pemuda bersurai tembaga membuka mulutnya untuk menarik nafas, Lucifer menelusupkan lidahnya masuk ke dalam mulut Jeon muda. Ia begitu tak sabaran mengabsen gigi rapi milik pemuda kesayangannya. Tangan kanannya menekan tengkuk Jungkook, membuat ciuman mereka semakin dalam, sementara yang kiri meremat pinggang sintal yang begitu menggoda.

Nafas Jungkook tersengal, namun Sang Pangeran terlalu menikmati cumbuan mereka untuk peduli. Ia memagut rakus bibir pemuda Jeon yang membengkak sebelum menghisap kuat lidah si pemuda yang melemas di dalam dekapannya.

Jungkook berusaha menarik tubuhnya, menjauhkan kepalanya dari binatang kelaparan yang memeluknya. Kedua tangannya mencoba untuk memukul dada Lucifer sekuat tenaga.

"Mwmn nahhh… ahh… bodoh!" pemuda Jeon terengah begitu pagutan mereka terlepas, dan ia masih sempat-sempatnya mengumpat.

Mendengar itu, pangeran malah terkekeh lirih. Diusapnya lembut surai sewarna tembaga milik calon permaisurinya, ia lalu memeluknya gemas setelah memeberikan beberapa kecupan di bibir bengkaknya.

Mereka terdiam selama beberapa saat, mengabaikan sosok yang terkurung dalam penjaranya, sosok yang kehilangan kata-katanya setelah sepasang netranya menyaksikan sendiri bagaimana Sang Pangeran terlihat begitu menginginkan pemuda yang kini berada dalam dekapannya, sekaligus betapa lembut pangeran-nya memperlakukan si lemah Jeon.

Jungkook menatap jalang yang telah melukai sahabatnya, menyeringai lebar saat dirinya berhasil mempermalukan jalang itu. Ia terkekeh lirih, mengeratkan sepasang lengannya yang balas memeluk Lucifer, seolah mengatakan bahwa Sang Pangeran adalah miliknya. Hanya miliknya. Membuktikan bahwa perkataan iblis bersurai coklat panjang yang mengklaim penguasa Neraka sebagai miliknya hanyalah sebuah bualan tanpa bukti.

Dan Jeon Jungkook… hanya Jeon Jungkook lah yang pantas untuk memiliki Lucifer untuk dirinya sendiri.

"Aku ingin ia diikat di gerbang istana. Selamanya. Agar ia merasa dipermalukan terus-menerus sampai-sampai ia berpikir bahwa musnah ditelan api Neraka adalah hukuman yang jauh lebih baik. Tapi ia akan terus berada di sana… sampai Neraka dan seisinya hancur, ia akan tetap terikat di gerbang istana."

"Akan kukabulkan untukmu, permaisuriku." Sang Pangeran menyeringai lebar. Ia tidak salah memilih Jeon Jungkook sebagai miliknya. Pemuda yang tampak begitu polos, namun sangat keras kepala, dan menyimpan hati seorang iblis jauh di dalam dirinya…

Jeon Jungkook, sosok yang begitu sempurna.

Seharusnya penguasa Neraka berterima kasih kepada iblis wanita yang hampir membunuh teman Jungkook. Berkatnya, pemilik bola mata paling indah sejagad raya harus berurusan dengannya lagi. Berkatnya pula, Jeon Jungkook akan segera menjadi miliknya.

Tapi pangeran tentu tidak melakukannya.

Tidak akan pernah.

Sementara Jungkook menangis dalam diam. Ia telah memilih, namun ada bagian dalam dirinya yang sungguh tak rela. Kelak, mungkin ia akan menyesal dengan pilihannya. Namun baginya, menyesali apa yang telah ia lakukan jauh lebih baik daripada menyesali kesempatan yang ia lewatkan.

Demi sahabat yang rela mati untuknya, Jeon Jungkook akan menjual jiwanya kepada Sang Pangeran.

.

.

.

.

.

"Kau bisa memberiku waktu sedikit lagi? Aku ingin bertemu Jimin."

Sang Pangeran tersenyum tipis. Ia membetulkan pakaian rumah sakit yang barusan dipasangkannya ke tubuh Jungkook. "Kau bisa memanggilku kapanpun kau siap. Aku akan menunggu."

Jungkook merasakan sentuhan hangat di keningnya.

Lucifer lalu merebahkan tubuh pemuda bersurai copper di ranjang pasien yang sejak beberapa hari lalu ditempatinya. Setelahnya, jemarinya yang panjang mengacak gemas rambut Jungkook. "Panggil namaku setiap kali kau tersesat, aku akan menuntunmu menuju cahaya."

Pemuda Jeon memejamkan matanya.

Ia masih sadar bahwa cahaya yang dimaksud si sinting Lucy adalah kobaran panas api Neraka. Sayangnya, walau ia tahu apa yang ada di depan mata, Jeon Jungkook akan menceburkan dirinya ke sana.

Suara ketukan di pintu ruang rawatnya membuat Jungkook membuka mata. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari-cari keberadaan sosok berjubah hitam yang telah mengambil kembali sutera merah yang sempat dikenakannya.

Tidak ada.

Sang Pangeran telah kembali ke Neraka.

"Jungkook? Kau mengunci pintunya?"

Suara familiar yang berasal dari luar ruangan memaksa detektif Jeon untuk turun dari ranjangnya. Ia berjalan perlahan menuju pintu.

"Kook? Kau baik-baik saja?" gedoran keras didengarnya dari pintu. Suara seseorang terdengar sangat panik. "Brengsek! Katakan sesuatu atau aku akan mendobrak pintunya!"

Jungkook dengan segera membuka kunci pintunya yang semula terkunci.

"Kau -" sosok bersurai hitam dengan mata sipit yang melebar, langsung menghentikan ucapannya begitu pintu di hadapannya terbuka. Ia bernafas lega saat melihat temannya baik-baik saja. "Astaga… kau membuatku khawatir."

"Jim…"

Baru saja Jimin akan merengkuh rekan yang rasanya sudah lama sekali tidak ia temui, pemuda bersurai tembaga itu sudah terlebih dahulu menubruknya, memeluknya erat-erat. Detektif Park bahkan hampir terjengkang, untung ia bisa menyeimbangkan tubuhnya sebelum hal itu terjadi.

"Hei.. Kook? Kau baik-baik saja?" Jimin berusaha menenangkan. Jungkook memeluknya seolah mereka akan berpisah selamanya, dan itu membuatnya takut.

Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, tersenyum canggung saat dua orang perawat jaga memperhatikan mereka dengan tatapan aneh.

"Hei. Ayo masuk, lalu katakan padaku apa yang terjadi. Jangan begini, oke?"

Jungkook menggeleng, tapi Jimin tidak peduli. Perlahan ia menyeret tubuh yang notabene lebih tinggi, juga lebih berat darinya untuk kembali masuk ke ruang rawatnya. Setelah menutup pintu dengan ujung kakinya, pria bermata sipit yang hanya mengenakan kaos lengan pendek berwarna abu-abu dan celana selutut itu langsung menuntun Jeon muda ke arah sofa yang ada di sebelah kanan pintu masuk.

Detektif Park mendudukkan Jeon muda ke sofa, dengan sangat perlahan ia berusaha melepaskan pelukan Jungkook yang begitu erat, lalu mendudukkan dirinya sendiri di sebelahnya. Ia sedikit menyamping, memegang kedua pundak Jungkook erat, menatap sepasang obsidiannya lekat. "Kook. Kau baik-baik saja?"

Yang ditanya hanya menggeleng ringan. Bibirnya tersenyum hambar. "Rasanya ingin mati saja."

"Hei… kau baru saja sembuh. Jangan bicara yang macam-macam."

Jungkook melihatnya, ketulusan di mata seorang Park Jimin.

Bagaimana mungkin sosok yang begitu baik seperti Jimin memanggil iblis dan berurusan dengan makhluk terkutuk itu?

Sampai kapanpun, Jungkook tidak akan bisa mempercayai fakta itu.

"Apa akhir-akhir ini kau baik?"

"Aku?" yang lebih tua membeo. Ia merasa janggal ketika pemuda Jeon membelokkan obrolan mereka dengan tiba-tiba. Namun Jimin lebih memilih untuk menjawabnya tanpa bertanya. Bagaimanapun, wajah Jeon Jungkook terlihat kacau dan ia tidak mau memperburuk keadaannya. "Semalam aku sempat merasa sesak nafas, tapi aku baik-baik saja. Mungkin karena aku terlalu banyak menghirup asap di lokasi kebakaran kemarin siang. Jangan khawatir, oke?"

Jungkook mengangguk singkat, menunjukkan cengirannya sekilas, lalu kembali memeluk tubuh Jimin.

"Aku senang kau baik-baik saja, sahabat bantetku sayang."

Jeon muda jujur mengatakannya. Ia menyayangi Jimin seperti ia menyayangi saudaranya sendiri. Mungkin, saat Park bantet sesak nafas semalam adalah saat dimana ia seharusnya meregang nyawa. Apapun itu, ia senang si bantet baik-baik saja sekarang.

Sangat senang sampai-sampai air mata merembes di pipinya.

"Hei. Aku tahu kau senang karena besok pagi kau sudah boleh keluar dari rumah sakit, tapi jangan mengelap ingusmu menggunakan bajuku."

Jungkook tertawa renyah. Ia melepas pelukannya, lalu memukul Jimin main-main. Mereka tertawa bersama, menceritakan banyolan mengenai banyak hal sampai sebuah nama terlintas di kepala Jeon muda.

Kim Yugyeom.

Ya, seseorang yang sebentar lagi akan sembuh.

"Jim, boleh aku menjenguk Yugyeom sekarang?"

Detektif Park mengeryitkan dahinya. Baru kali ini Jungkook ingin melihat keadaan officer Kim. Biasanya, Jungkook akan selalu murung setiap kali Jimin membawa nama Kim Yugyeom di dalam percakapan mereka, entah disengaja atau tidak.

Ia mau saja membawa Jungkook ke depan ruang ICU, tapi Jimin sepertinya tidak bisa melakukannya.

"Kau tahu ini sudah lewat tengah malam? Aku saja hampir main kucing-kucingan dengan security agar bisa masuk. Untung aku ingat kalau aku memiliki lencana dari kepolisian yang bisa digunakan pada saat-saat seperti ini." Jimin menarik nafas dalam, mempertanyakan satu hal kepada dirinya sendiri. "Kenapa juga aku ingin menjengukmu tiba-tiba?"

Yang lebih muda mendengus kesal. "Ayolah, kita hanya perlu menyusup ke dalam ruang rawatnya. Lagipula kita sudah ada di dalam rumah sakit. Boleh ya?"

Park Jimin menghela nafas berat. Jarang-jarang Jeon menyebalkan mau menunjukkan wajah menggemaskannya kepada dirinya. Maka ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

"Baiklah… tapi hanya sebentar."

Dan Jungkook mengangguk sambil menunjukkan senyum gigi kelincinya yang lucu. Mau tidak mau, pria bersurai hitam menarik kedua pipi pemuda di hadapannya.

Pemilik mata sekelam malam bahkan tidak protes. Ia malah tersenyum semakin lebar.

Mereka berdua lalu berjalan menuju ruangan tempat Yugyeom dirawat. Seharusnya, ruangan ICU tempat sang polisi dirawat harus tetap steril. Tidak ada yang boleh masuk selain dengan dampingan perawat atau petugas medis. Jimin saja baru sekali masuk ke dalam, selebihnya, ia hanya memperhatikan dari kaca lebar yang ada di sisi kanan ranjang pasien.

"Aku bisa dipecat kalau ketahuan membawamu masuk ke sini." gumam pria bermata sipit. Perlahan ia masuk ke ruang ICU mengikuti Jungkook, lalu dengan sangat hati-hati menutup pintunya.

Ia ingin meneriaki yang lebih muda karena si surai copper dengan seenaknya menuju ke ranjang yang ditempati Yugyeom tanpa terlebih dahulu membersihkan tangannya, atau mengenakan pakaian steril. Tapi semua itu sudah terlambat karena Jungkook sudah sampai di samping Yugyeom.

"Bajingan kecil." umpat penyandang marga Park hampir tanpa suara. Ia memukul pelan kepala Jungkook karena bertindak seenaknya.

Pria berkaos abu-abu langsung bungkam begitu ia mendapati wajah Jungkook yang berubah sendu.

Malam ini, ia melihat banyak ekspresi dari seorang Jeon Jungkook. Mulai dari wajah kacaunya, seolah bocah itu memiliki beban yang luar biasa dalam hidupnya, juga senyum menggemaskannya saat meminta Jimin mengabulkan permintaan kekanakannya, dan sekarang raut sendu yang begitu menyayat hatinya.

"Hai, Gyeomie mesum." gumam Jungkook lirih. Jemarinya bergetar saat menyentuh punggung tangan Kim Yugyeom yang tengah tertidur. "Lama tidak bertemu. Aku merindukanmu."

Alat bantu pernafasan terpasang di wajahnya. Alat rekam jantung memantau kehidupannya. Selang infus, juga beberapa selang-selang berbagai ukuran yang Jeon muda tidak tahu apa fungsinya, menyokong kehidupan sang sahabat. Dan itu terlihat sangat menyedihkan.

"Kau akan bangun, kan?" tanyanya perlahan. Bahkan suaranya mulai bergetar. Dan entah bagaimana, matanya terasa begitu panas. "Setelah ini. Kau akan bangun, Gyeom. Tapi kau tidak boleh melontarkan guyonan mesum kepada yang lain. Pokoknya, sahabat yang boleh menjadi korban kemesumanmu hanya aku. Dengan begitu, aku akan mengambil sedikit tempat di hatimu walau kelak kita tidak akan bisa bertemu."

"Kook…"

Jungkook merasakan rematan di pundak kirinya.

Jimin berusaha menguatkannya. Walau bingung dengan apa yang si surai tembaga ucapkan, Jimin tetap berusaha menguatkan pemuda yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri.

"Jangan begitu… Yugyeom akan sembuh dan kalian bisa bertengkar lagi setelahnya." kekehan lirih lolos dari bibir detektif Park. Perlahan ia menarik tubuh Jungkook ke dalam sebuah pelukan protektif. "Jangan bicara yang aneh-aneh seolah Yugyeom akan melupakanmu."

Kali ini Jungkook yang tertawa, tak kalah hambarnya dari kekehan Jimin barusan.

"Yugyeom akan melupakanku, Jim. Kau juga akan lupa. Kalian semua akan melupakanku karena aku akan menghilang dari dunia ini."

Jimin menggeleng kuat. Ia benci ketika Jungkook-nya yang rewel dan cerewet menjadi melankolis seperti ini.

Baru saja ingin mengatakan sesuatu dengan nada yang meninggi karena kesal, sesuatu yang putih dan menyilaukan menghentikan gerakannya.

Dan sayap yang terbentang begitu lebar itu membekukan waktu tanpa satu orang pun menyadarinya.

"Jadi ini… Jeon Jungkook yang akan mendampingi Luciel di Neraka?"

.

.

TBC

.

.

Tiger's Demonology:

Lady Midday: demon yang satu ini muncul di siang bolong, lebih tepatnya di tengah hari-hari terpanas di musim panas. Ia muncul dalam wujud debu atau asap yang berputar-putar, kemudian akan berubah menjadi sosok wanita cantik dengan gaun berwarna putih. Midday membawa sabit alias celurit besar yang ia gunakan untuk memenggal kepala korbannya.

Jadi, di tengah siang yang super panas, Midday akan memperdaya orang-orang agar tersesat (biasanya para petani di ladang jagung, atau orang-orang yang berada di daerah asing), setelahnya ia akan muncul dalam sosok wanita cantik, tapi kadang-kadang memakai wujud wanita tua atau bocah umur 12 tahun. Setelahnya, ia akan memenggal kepala korbannya, atau memberikan penyakit yang sangat-sangat parah kepada korbannya tersebut.

Tiger tidak menulis nama untuk iblis yang satu ini. Tapi yakin deh… penggambaran Midday, terutama ocehan syaiton si Lucy pasti bisa membawa para readers ke sebuah nama yang sosoknya menjadi referensi bagi perwujudan Lady Midday versi Tiger. Muehehehe….

.

.

A/N:

I'm in the mood of writing this story. So.. yeah… I'm writing Good Devil, Lucifer Fall! instead of the others.

.

.

Akhir kata, review please

Sayang, Tiger

Line: kimtaemvan

Ig: kim_taemvan