Disclamer: selalu jadi milik Masashi Kishimoto

Rated: T

Warning: TYPO, OOC, diksi jelek, CERITA JELEK, AU, BAHASA TIDAK JELAS DSB kekurangan yang lain

REPENT AND CHANGE : BY KURO MIE MI

Selamat membaca

Jangan lupa review yah.


Sraak sraak

Suara ranting bergesekan dengan jendela membuat pemuda yang sedaritadi berkutat dengan bukunya menoleh, kedua bolamata kelamnya menerawang langit hitam tanpa satupun bintang di luar sana.

Memori kejadian tadi sore masih hangat membekas dalam kepalanya.

'Jangan takut! Ada aku!'

Bayang-bayang kedua emerald itu tak henti-hentinya mengusik pikiran pemuda itu, ada sesuatu yang berbeda disana, sesuatu yang belum pernah pemuda itu lihat pada bola mata lainya.

Sesuatu yang menahan, mengikat siapapun yang menatapnya untuk jatuh lebih dalam dalam sebuah lubang hijau penuh dengan misteri. Membuat siapa saja tertarik untuk memecahkan misteri itu.

'Apa yang terjadi pa—pada Ibumu?'

Nada malu-malu dengan penuh kekhawatiran juga penasaran yang mengintimidasi, memaksa siapapun untuk menjawab mau atau tidak, membuat pemuda itu menaikan sudut bibirnya. Entah sudah keberapa kalinya ia melakukan hal yang bukan dirinya banget belakangan ini.

Mungkin sudah tak bisa dipungkiri pemuda itu memang menyukai si pemilik emerald dan sekalibus pemilik suara itu. Namun masih ada sesuatu, sesuatu yang menahannya, membuat dirinya berfikir duakali untuk perasaan itu.

'Aku akan membunuh semua yang kau cintai!' suara dingin menusuk itu seoah berbisik di telinganya, membuat Uchiha Sasuke –nama pemuda emo dengan iris kelam itu—menguatkan genggamannya pada pensil mekanik di tanganya. Rahangnya mengeras seketika, urat-urat lehernya keluar seolah ingin putus, nafasnya memburu membuat wajah putih pemuda itu menjadi kemerahan.

'Membuat hidupmu menderita!'

Krak

Bopoint itu terpotek menjadi dua, pemuda itu tersenyum sinis menatap patahan kedua boltpoint itu.

"Jangan bercanda! Aku yang akan memusnakanmu, damn!"


Xxx


"Bagaimana kuliahmu Sa—"

"Bukan urusanmu!"

Laki-laki tua itu menatap pemuda dengan rambut merah yang baru saja memotong ucapannya.

Haruno Sasori—pemuda dengan rambut merah—melipat kedua tangannya di depan dada, kedua iris caramel-nya memandang bosan, ingin rasanya cepat pergi dari tempat itu.

"Sasori! Jaga bicaramu!" wanita dewasa dengan rambut hitam sebahu angkat bicara, onyx-nya menatap tajam adik laki-lakinya.

"Tch!"

Kegiatan breakfast baru saja selesai, kini ketiganya hanya duduk diam dengan kegiatan usai makan mereka masing-masing.

"Sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini?" Shizune menatap lembut sang adik.

Sasori diam, tak berniat untuk menjawab pertanyaan kakaknya.

"Sasori!" bentak Shizune.

Wanita itu mulai kehilangan kesabaran, ia khawatir dengan sikap adiknya yang semakin sulit diatur.

Sasori memalingkan wajah, melirik tajam Danzo yang duduk manis menonton dia, dan Shizune.

"Cih," Sasori berdecih sebal, kemudian ia bangun dari posisinya dengan kasar, meninggalkan meja besar itu.

Shizune mendengus menatap punggung tegap adiknya, "anak itu!" gumamnya. Ia melirik danzo, "gomen Kek! Akan aku marahi dia!" wanita itu berdiri dari kursinya, mengikuti jejak adiknya.

Danzo menatap kepergian dua bersaudara itu dengan tatapan yang sulit diartkan, sudut bibirnya sedikit terangkat, menampilkan sebuah senyum aneh.


"Kau kenapa?" tanya Shizune tanpa mengalihkan pandangan dari pemuda baby face di hadapanya, gadis itu kembali mendengus menerima kelakuan adiknya yang masih mengacuhkannya.

Angin berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut hitam wanita itu, ia berdiri dari kursinya, kemudian menyandarkan dirinya pada pagar balkon, onyxnya kembali menatap sasori yang menyandar pada pilar berwarna silver.

"Aku tahu bagaimana perasaanmu Sasori!" ia mengalihkan pandanganya pada lagit biru dengan awan berarak pelan, "aku juga merasakan hal yang sama!" lanjutnya.

Sasori masih enggan menatap kakaknya, entah kenapa ia merasa semua hal salah, semua hal itu menyebalkan, emosinya tak terkontrol seperti sebelumnya, ia tak bisa merasakan hal lain selain sebuah kesalahan, itu membuat dirinya kesal setengah mati.

"Aku juga merasa bersalah pada dia."

Sasori menatap Shizune, alisnya terangkat, 'dia?' ulangnya dalam hati.

"Aku sadar aku sudah tak becus menjadi kakaknya," lanjut Shizune, kedua onyx-nya berkaca-kaca, ia benar-benar ingin gadis merah muda itu kembali berada ditengah-tengah mereka, ia ingin mendengar suaranya, ingin melihat kedua emerald itu lagi.

Shizune menatap Sasori nanar, "aku menyesal membentaknya!" air matanya mengalir, kedua onyx itu benar-benar terlihat kacau.

Sasori diam, nafasnya mulai memburu tak teratur, ia merasa sakit, perasaan yang sama waktu melihat jenazah ibunya, perasaan yang sama saat dirinya terpukul di kematian ayahnya, perasaan yang sama saat melihat kuburan neneknya.

"Aku juga tidak ingin—" Shizune menutup wajahnya cepat, "kehilangan orang yang aku sayangi lagi, hisk!"

Dada Sasori semakin terasa sesak, pemuda itu ingin sekali menolak, ia ingin memaki kakaknya yang sembarangan mengambil kesimpulan, ia ingin mengilah semua itu. Tapi lidahnya sudah terlanjur kelu, tak bisa berkata apapun lagi, semuanya terlihat samar di matanya, semua yang ia pikirkan dan ia rasakan sangat bertolak belakang.

Pemuda itu memutuskan untuk tetap diam, tak merespon apapun yang kakaknya katakan tadi, tepatnya tak tau harus merespon bagaimana. Dirinya benar-benar merasa bodoh karena tak bisa melakukan apapun, dikuatkannya kepalan tangan, membuat buku-buku jarinya menjadi keputihan. "Damn!"


Xxx


Semilir angin membelai kulit mereka, membuat rasa kantuk yang kian membayang-bayangi semakin menggila, bahkan ada beberapa diantara mereka yang telah berada di alam bawah sadar.

Ya bagaimana tidak, jika pelajaran yang sedang berlangsung adalah pelajaran sejarah, membuat siapapun yang mendengarnya merasa terkantuk-kantuk. Ditambah lagi dengan guru pengajar sejarah yaitu Hiruzen Sarutobi merupakan guru paling tua di KHS membuat mereka berfikir yah if you know what I mean.

Termasuk gadis dengan iris cemerlang menyejukan sebut saja Sakura. Gadis itu bertopang dagu memandang dengan penuh rasa ketidak tertarikan pada Hiruzen. Bibirnya maju beberapa sentimeter menahan sebuah bolpoint yang ia taruh dibawah hidungnya.

Tapi, meskipun dengan penuh rasa kebosanan, Sakura tetap memaksakan diri untuk menyimak pelajaran yang diberikan oleh Hiruzen, hal itu dapat diperhatikan dari bagaimana ia sesekali mencoretkan beberapa kata pada buku tulis miliknya.

Emeraldnya mencuri-curi pandang pada jam dinding yang mengantung tepat diatas whiteboard di depan kelas, mencaritahu berapa lama lagi sampai pelajaran itu selesai. Gadis itu menghela nafas panjang saat mengetahui masih ada satu jam lagi sampai pelajaran itu berakhir.

Membayangkan ia harus melawati satu jam lagi dengan pelajaran paling membosankan menurutnya membaut gadis itu tiba-tiba ingin ketoilet, memuntahkan sarapan paginya tadi.

"Yeks!" celetuknya tiba-tiba.

membuat seisi kelas memandangnya jengkel, Sakura tersenyum canggung kemudian bergumam maaf pelan.

detik berikutnya mereka semua kembali melanjutkan kegiatanya, tak memusingkan gangguan kecil tadi lagi.

Sakura tak sengaja bertemu pandang dengan kedua sahabatnya, emerald miliknya menyipit kala memandang lavender yang menatap dengan senyum jenaka ke arahnya. dan saat bertemu tatap dengan kedua manik aquamarine, senyum di wajah gadis emerald itu memudar, berganti dengan tatapan penuh tanya.

"Kenapa?"

Gadis aquamarine itu tersenyum memaksa seraya menggeleng lemah.

Hal itu membuat Sakura merasa semakan khawatir, dan alhasil Ino—gadis aquamarine—menjadi pusat perhatiannya selama beberapa waktu berikutnya.

Brak

Semua pasang mata menengok ke arah sumber suara itu.

"Ino!" pekik Sakura dan Hinata bersamaan, mereka berdua segera berlari menghampiri gadis pirang dengan iris aquamarine yang tergeletak lemah di lantai.

Sepasang tangan kekar mengangkat tubuh Ino sebelum Sakura dan Hinata tiba di tempat Ino.

Tanpa ba, bi, bu pemuda dengan rambut nanas itu melesat dari ruangan itu, wajah datarnya kini berubah menjadi tak seperti biasanya.

"Mau kemana kalian?" tanya Hiruzen dengan tampang garang pada kedua gadis yang baru saja ingin mengikuti Ino dan Shikamaru keluar.

Sakura dan Hinata bertukar pendangan, memilah-milih jawaban untuk pertanyaan Hiruzen.

"Ka—"

"Cepat duduk! Atau kalian tak akan dapat nilai dalam mata pelajaran ini!" potong Hiruzen.

Hinata menghenghela nafas pasrah, ia mengkuti perintah guru sejarahnya dan duduk di kursinya.

Sementara Sakura masih diam pada posisinya, membuat Hiruzen menaikan sebelah alisnya.

"Koroi-san, apa kau lupa cara untuk kembali ke kursimu? Atau kau ingin tetap berdiri disana sampai pelajaran ku selesai?" tanyanya tajam

"Tch!"

Gadis itu menatap kesal Hiruzen, meskipun pada akhirnya ia tetap mengikuti perintah guru sejarahnya, ia berjalan kasar menuju kursinya, menimbulkan suara gaduh karena cukup kasar saat menarik kursi. Dan saat sudah menaruh bokongnya pada kursi yang sama sekali tadak empuk itu, ia bertemu tatap dengan onyx Sasuke yang nenatapnya juga.

"Apa?" sinis gadis itu.

Sasuke menaikan sebelah alisnya, "Tidak!" ujarnya datar sedatar datarnya, membuat kekesalan Sakura semakin menjadi-jadi.


Xxx


Shikamu berlari menyusuri koridor lebar itu, keringat mengalir di pelipisnya, ia mengutuk arsitektur yang merancang bangunan sekolahnya setengah mati, kenapa jarak kelasnya menuju ruang kesehatan dibuat sangat jauh?

Ia sudah bisa sedikit bernafas lega saat menatap papan kayu bertuliskan ruang keseatan di ujung koridor itu.

Setelah sampai tepat di depan pintu berwarna putih, tanpa mengetuk pintu putih itu ia segera melenggang masuk.

Dibaringkanya Ino pada ranjang putih disana, pemuda berambut nanas itu menatap penuh penyesalan pada sosok pucat yang telah tergolek lemas di atas tempat tidur.

Tangannya perlahan-laham hendak menyentuh rambut blonde gadis itu, namun baru beberapa senti sebuah suara berat menghentikan pemuda itu.

Shikamaru menoleh menatap seorang pemuda berkulit pucat dengan kedua iris onyx.

Sai mendekati kedua muridnya, ia menaruh punggung tanganya di dahi Ino, "panas" gumamya pelan. Kemudian berjalan ke sebuah lemari,meraba isi lemari tersebut mencari sesuatu.

"Tidak ada" gumam Sai seraya menoleh menatap Shikamaru.

Shikamaru mengeryitkan alis, 'aneh' pikirnya pada Sai.

Kemudian pemuda berkulit pucat itu mengeluarkan sebuah buku kecil dan sebuah boloint dari saku celannya, tanganya dengan cekatan mencoretkan sesuatu pada buku itu.

srek Sai merobek lembar kertas yang ia tulisi tadi.

"Kau! Tolong belikan ini—" Sai menyerahkan selembar kertas itu pada Shikamaru, "secepatnya, disini sudah kehabisan stok obat itu" perintahnya.

Shikamaru ingin menolak perintah dari pemuda itu, namun mengingat sang pemuda adalah gurunya dan juga demi keselamatan Ino, ia menurut dan segera berlari keluar dari ruangan itu.

Namun beum sempat ia melewati pintu, pemuda berambut nanas itu berbalik, ia menatap selidik Sai, "bagaimana bisa aku percayakan Ino padamu?" tanyanya.

Sekarang persetan dengan guru atau apa, bagaimana pun juga sai adalah orang baru dalam sekolah itu, ditambah lagi pemuda itu terlihat mencurigakan dimatanya, bagaimana jika ia melakukan hal yang tidak-tidak pada ino?

Sai menautkan alisnya, "oke! Lalu mau bagaimana? Aku yang membelikannya obat? Sedangkan kau menjaganya disini?" tanya Sai.

"Iy—"

"Jadi kalau ada seorang guru yang tiba-tiba kesini, dan memergoki kalian sedang berduaan itu tidak apa? Kalau aku yang dipergoki pasti tidak akan masalah, Karena aku memang sedang ditugasi untuk ini! tapi kalau kau? Bukan hanya kau nanti yang akan mendapat masalah! Tapi aku dan juga gadis ini!" potong Sai seraya menerangkan panjang lebar.

Shikamaru berdecih pelan kemudian melengos pergi dengan malas-malasan, tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Xxx


Sai menyilankan kedua tanganya di depan dada, menyandar pada bingkai jendela besar yang berada pada ruangan yang didominasi putih itu.

Onyx-nya masih terus memperhatikan gadis yang sedari tadi masih pada posisinya, belum menunjukan tanda-tanda kesadaran. Sudut bibir pemuda itu terangkat, membentuk seulas senyum tipis. Ada sesuatu yang mengocok perutnya saat memandang gadis blonde itu, sesuatu yang membuatnya ingin terus merasakan hal itu.

"Emmm," terdengar gumaman pelan dari sang gadis blonde. Perlahan kelopak mata dengan rambut lentik yang menghiasi bagian ujungnya terbuka, menapakan aquamarine indah disana.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya Sai.

Ino menajamkan penglihatannya, ia melirik pemuda pucat yang menyandar pada jendela besar di samping tempat tidur yang ia tiduri. Ia mengenali pemuda itu, pemuda yang telah resmi menjadi gurunya kemarin

"Pusing!" ujarnya seraya memencet bagian pelipisnya, merasakan pusing yang amat sangat di kepalanya.

Sai kembali menyentuh dahi Ino, punggung tangannya kembali merasakan panas ari dahi ino, panas yang terasa melebihi yang tadi. "Sebaiknya kau beristirahat dulu, tak usah mengikuti pelajaran, aku akan meminta seseorang untuk mengantarmu ke kamar mu!"

Ino menggeleng pelan, gadis itu benar benar merasa sangat lemas, ia bahkan tak mampu untuk menggerakan tubuhnya untuk bangun dari posisinya, namun bukan ino namanya kalau menyerah hanya pada rasa pusing bukan main, gadis itu berusaha bangun dari posisinya, berusaha untuk merdiri dari tempat tidur itu.

Sai menghembuskan nafas, 'keras kepala' pikirnya. Kemudian pada akhirnya Ia membantu gadis itu untuk berdiri. "Aku akan mengantarmu ke kamar asramamu!" ucapnya cepat.

Ino menengok, gadis itu menggeleng cepat, "aku bisa sendiri," tolaknya halus.

Sai menatap aquamarine yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya, sepasang manic yang membuatnya terjerat saat pertama kali melihat itu, "tidak! Aku tak bisa membiarkan terjadi sesuatu yang buruk padamu"

"Heh?" heran Ino.

Ingin rasanya Sai menggetok kepalanya saat itu juga, merutuki kebodohanya, pemuda itu menggeleng pelan, "maksutku, kau itu kan muridku, jadi jika terjadi sesuatu padamu aku pasti akan dapat masalah!" ujarnya.

Ino menautkan kedua alisnya, mau tidak mau ia harus menuruti gurunya, bagaimana bisa ia menolak niat baik orang lain? Walau dengan setengah hati ia akhirnya mau menerima hal itu.

Sai tersenyum senang, ia memapah tangan gadis itu dipundaknya, menuntun gadis itu pelan melewati pintu itu, tanpa sadar ada seseorang yang tengah bersandar didindingnya.

Shikamaru memandang kedua punggung itu hingga kedua sosok itu menghilang di belokan.


Xxx


"Shikamaru, dimana Ino?"

Setelah mendengar bel istirahat berbunyi beberapa detik yang lalu, segera saja kedua gadis cantik itu menghampiri seorang pemuda yang kini sedang membereskan buku-bukunya, mereka telah menyiapkan banyak pertanyaan untuk pemuda berambut nanas itu.

Shikamaru melirik malas kedua gadis itu, "dia sudah di kamarnya!" ujarnya datar.

Sakura dan Hinata bertukar pandangan, jawaban yang diucapkan Shikamaru memperburuk perasaan mereka.

"Bagaimana keadaan Ino-chan?" tanya Hinata khawatir.

"Dia baik-baik saja, sepertinya!" ujarnya datar, "kalau ingin tahu lebih jelas, sebaiknya kalian lihat saja sendiri !"lanjutnya seraya melewati kedua gadis itu.

Sakura menatap geram pundak Shikamaru, entah mengapa ia merasa apa yang menimpa Ino adalah kesalah dari pemuda itu. Gadis itu benar benar ingin memukul wajah sok tidak perduli Shikamaru itu.

"Bagaimana bisa—" Sakura menggantungkan kalimatnya, menunggu respon dari Shikamaru, namun pemuda itu tak merespon apapun.

Hal itu membuat Sakura semakin kesal, "ka—"

"Kau masih bisa setenang itu Shikamaru-kun!" potongHinata, gadis itu tak terima bahwa pemuda yang paling dekat dengan Ino bahkan terihat sama sekali tak perduli padanya.

Sakura melirik Hinata, menatap lavender berkaca-kaca penuh luka itu, ia hanya kesal, tapi Hinata? Gadis lavender itu terlihat sangat marah, sebenarnya ada apa? Ada sesuatu yang tidak ia ketahui disini.

Shikamaru memilih tetap mengabaikan kedua gadis itu, ia terus melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Tak banyak orang yang melihat kejadian itu pasalnya keadaan kelas sangat sepi, hanya ada sekitar enam orang termasuk Hinata, Sakura, dan Shikamaru yang masih disana.

Sakura menatap Hinata, gadis berambut hitam itu menepuk pelan pundak sahabatnya, sudut bibirnya naik sedikit membentuk seuas senyum lembut, "ayo kita ke ino!" ajaknya.

Hinata membalas senyuman sakura, gadis itu mengelap air matanya yang sempat turun tadi.

Drtt

Gadis indigo itu memsukan tanganya ke dalam saku rok rampelnya, mengambil benda berwarna biru sapphire yang bergetar ria disana. Setelah itu ia menekan tombol hijaunya, membuat benda itu tak bergetar seperti tadi lagi.

"Hallo Naruto-kun?"

Terdengar suara berat dari benda itu, "Hinata! Kau kenapa? tadi kata Kiba kau menangis? Ada apa? Tunggu aku akan segera kesana? Oh iya kau masih dikelas kan? Tunggu aku yah!"

Sakura mengeryitkan alis, suara Naruto bisa terdengar olehnya, bisa langsung ditebak kalau pemuda itu sedang berteriak-teriak di seberang sana.

Sementara Hinata hanya bersemu merah mengetahui betapa perhatianya Naruto—si kekasih baru— padanya.

"Ak—"

"jangan beralasan! Aku akan segera kesana! Tunggu oke!"

Pip pip pip

Hinata kembali memasukan ponselnya ke dalam saku, ia melirik Sakura, wajahnya benar-benar sangat merah sekarang.

"Apa dia selalu seperti itu?" tanya sakura.

Hinata hanya tersenyum malu-malu, gadis itu mengguk pelan.

Sakura hanya mendengus, bagaimana bisa hinata yang anggun, lembut, penuh pesona bisa tertarik pada naruto yang, urakan, lebay, konyol, dan lain sebagainya?

yah cinta memang tak pandang siapa itu, atau bagaimana itu, atau seperti apa itu? Cinta tak butuh banyak pertanyaan, karena cinta tak pilih pada siapa akan berlabu, bukan begitu?

Tbc…


Hai minna chap 10 udah di update

Maaf yah kalau fic ini terkesan lama update dan membosankan u.u.. semoga masih ada yang dengan setia menunggu datangnya fic ini (oke ngarep banget –")

Hihi gimana dengan chap ini? typonya? Diksinya? Deskripsinya? Haha, semoga sudah agak membaik.

Makasih yang udah baca chapter sebelumnya dan sempat ngereview..

Oh iya revewnya semuanya log in yah? Jadi saya balesnya lewat pm yah.. cek pm (?)

Em dan

Thanks for: nadialovely, AnnisaHM, hanazono yuri, iSakuraHaruno1, Azakayana Yume, karikazuka, makasih buat silent reader yang udah baca

Em akhir kata teruslah mereview

Love

Kuro mie mi