A/N : Sepertinya dichapter ini terlihat topeng asli Manma hohohoho. Yah, maafkan saia membuat Marie jadi seperti ini, tidak tega juga sih... Nanti sekali-kali gantian si Joker yang ada diposisi Marie *disambitkartu*. Yah disini juga ada beberapa penjelasan, semoga bisa memuaskan pertanyaan yang membaca.
Warning : T rate, ada OC, tokoh minor Naruto (semoga berkenan, hate this? Click back).
Genres : Action/Adventure/Friendship/Humor/Romance/Mystery/Tragedy.
Pair : SasoriXSakura (in Sasori's memories)/KaoruXMarie (dan ada hint lain).
Disclaimer : I do not own Naruto, they're belong to Masashi Kishimoto.
Dedicated to all readers and silent readers and for adventures lover.
Please enjoy this chapter!
.
Neverland Side Story
Chapter 8
(Another Secret!)
.
.
Kaoru yang melihat Marie tiba-tiba menjadi seperti itu langsung merasa tidak enak. Akhirnya dia memutuskan untuk mengejar gadis itu, tapi ketika dia membuka pintu tanpa terduga muncul Manma yang masuk ke dalam.
"Kakak!" tiba-tiba saja anak laki-laki itu masuk dan langsung memeluk Kaoru dan sedikit mendorongnya masuk ke dalam lagi.
"Manma? Kenapa kau bisa ada disini?" tanya pemuda itu dengan kaget karena melihat adiknya ternyata datang menemuinya, dia pikir saat ini Manma sedang sekolah.
"Aku kemari karena ingin melihat game Neverland yang akan diluncurkan di Sunagakure." Jawab Manma menjelaskan alasannya kenapa dia bisa berada di kampus kakaknya.
-ooo-
Disisi lain Marie sudah berlari dan sekarang gadis itu sedang berhenti tepat beberapa meter jauh dari kampus. Napasnya benar-benar terasa sesak, dia merasa hancur berkeping-keping saat mengetahui orang yang dia cintai malah mengingat gadis lain.
"Kenapa kau harus mengingat Sakura… ?" bisiknya lirih pada dirinya sendiri.
"Queen Marie… " tiba-tiba saja muncul Kagero di sampingnya. Gadis berambut hijau pendek itu melayang dan mendekati Marie secara perlahan.
"Aku tidak bisa membuatnya ingat… Sepertinya ingatannya pada Sakura terpatri terlalu dalam di pikirannya… Aku tidak tau apa yang terjadi, kenapa bisa begini… Kalau begini terus, dia akan… " balas Marie yang sepertinya sudah tidak bisa menyembunyikan lagi kecemasannya itu.
"Aku mengerti maksudmu… " Kagero juga tampaknya seperti menyesali sesuatu. Dia sedikit memalingkan wajahnya ke samping.
"Kenapa kau kemari, Kagero?" tanya Marie yang sekarang langsung berusaha berdiri tegap dan menatap Kagero.
"Ada yang harus dibicarakan dengan Enma dan Killer Bee… Ini mengenai Joker, dan kau harus mengetahuinya," balas Kagero yang langsung balas menatap Marie tak kalah seriusnya. Marie tak menjawab apa-apa. Dia mengangguk dengan cepat, sesaat kemudian keduanya menghilang dari tempat itu.
Kelas Hukum-A...
.
.
"Yo, Sasori!" Hery menghampiri Sasori yang sedang duduk melamun di tempatnya.
"Ah… Apa?" tanya pemuda berambut merah itu sedikit kaget sambil mengedipkan matanya sesaat.
"Ada tiga orang anak dari sekolah Sunagakure untuk bertemu denganmu di depan." Hery menunjuk ketiga orang anak yang dimaksud itu sedang berdiri di depan pintu kelasnya. Ketiga orang anak itu adalah Gaara, Rei dan Nathan.
"Hah… Thanks ngasih tau." Sasori dengan cepat langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri ketiga orang itu.
.
.
"Ada urusan apa kalian menemuiku?" tanya Sasori tanpa basa-basi lagi begitu sampai di depan pintu kelas.
"Bisa bicara di tempat lain?" Gaara meminta Sasori untuk ikut dengannya berbicara di tempat lainnya.
"Hmm… " Sasori terdiam sejenak, sepertinya dilihat dari mimik wajah Gaara, pemuda itu sedang serius. "Baiklah," jawab Sasori mengangguk cepat. Dia merasa kalau ada hal penting yang ingin dibicarakan, lagipula dosen pelajaran belum masuk kelas.
Gaara tidak mengatakan apa-apa. Pemuda itu segera berbalik dan berjalan menjauhi kelas. Rei dan Nathan juga berjalan mengikuti langkah Gaara dalam diam. Sasori hanya sedikit menghela napas dan mengikuti langkah ketiga orang di depannya.
Di ruangan kesehatan…
.
.
"Manma kau harus cepat pulang, tidak usah menungguku." Kaoru meminta Manma untuk segera pulang dan tak perlu menunggunya karena hari ini dia akan pulang lebih sore dari biasanya.
"Tidak mau! Aku mau disini menunggumu!" balas Manma yang tetap bersikeras untuk menunggu Kaoru sampai pulang. Ada yang aneh dari sikapnya, dia seperti ketakutan. Entah hal apa yang dia takuti, dia memaksa untuk tetap bersama Kaoru.
"Baiklah, baiklah… Tapi kau disini saja ya, jangan kemana-mana." Kaoru akhirnya mengalah dan membiarkan Manma untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan dengan satu catatan kalau anak itu tidak boleh kemana-mana dari ruang kesehatan.
"Terima kasih, nii-chan!" mata Manma membulat seketika, dia tersenyum dengan senang karena di ijinkan untuk tetap menunggu disana.
"Kalau begitu kau disini saja dulu. Aku mau mencari temanku." Kaoru menepuk pelan kepala Manma, lalu pemuda itu pergi keluar meninggalkan ruangan tersebut.
-ooo-
Di tempat lain…
.
.
"Apa yang mau dibicarakan? Kelihatannya penting sekali," kata Sasori yang setengah penasaran. Sekarang mereka berada di depan halaman kampus atau lebih tepatnya di depan gerbang kampus.
"Ini masalah Neverland, lebih tepatnya kepingan CD Neverland yang asli. Apa ada padamu?" tanya Gaara tanpa bertele-tele dan langsung berbicara ke akar permasalahannya.
"Aku… Tidak mengerti… " jawab Sasori setengah ragu.
"Saat keluar dari kampus ada tiga orang yang menyerang kami, dan ketiga orang itu mengambil kepingan kaset yang ada di dalam tas Gaara." Nathan menjelaskan kejadian yang baru saja mereka alami.
"Dan sepertinya ketiga orang itu mengincar kaset Neverland, tapi mereka salah ambil karena kaset Neverland ada padamu." Gaara melanjutkan perkataan Nathan. "Sasori, apa selama ini ada yang kau sembunyikan mengenai game Neverland?" tanya pemuda itu sambil menatap serius pada Sasori. Nathan dan Rei langsung saling pandang ikutan bingung, karena jujur mereka berdua juga tidak tau alasan Gaara yang tadi ingin menemui Sasori. Dan apa maksud Gaara? Apa masih ada misteri lagi di dalam game itu yang belum diketahui? Sekarang mereka menatap Sasori menunggu jawaban dari pemuda itu.
" … " pemuda itu tak menjawab, dia hanya diam membisu dengan tangan yang terkepal.
"Kenapa kau tidak mengatakannya pada mereka?" mendadak muncul seorang pemuda yang waktu itu mendengarkan pembicaraan Gaara bersama Rei dan Nathan di kantin. Ternyata dia juga datang melihat acara ini.
"Sebenarnya ada apa sih, ini? Kenapa kalian sembunyi-sembunyi seperti ini?" tanya Rei yang semakin bingung saja. dia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan saat ini.
"Aku adalah Jun Yoshida, anak dari orang yang membuat game Neverland offline yang sebenarnya," ucap pemuda itu memperkenalkan dirinya yang mengaku sebagai anak dari pencipta game Neverland yang sebenarnya.
"Lho? Bukannya game itu berasal dari Orochimaru dan ayah Sasori?" giliran Nathan yang sekarang bertanya dengan heran.
"Tidak… Dia benar. Game itu berasal dari keluarga Yoshida," jawab Sasori sambil menunduk. Dilihat dari sikapnya pemuda itu seperti sedang merasa bersalah atas sesuatu entah apa itu.
"Tapi bagaimana bisa? Kupikir game itu dibuat oleh Orochimaru dan ayah Sasori!" Nathan benar-benar jadi tidak mengerti, soalnya dia juga mendengar cerita itu dari Kabuto kalau game tersebut dari Orochimaru, apa jangan-jangan Kabuto tidak menceritakan semuanya.
"Tentu saja bisa karena mereka membunuh kedua orang tuaku!" sambar Jun setengah berteriak dengan sedikit amarah yang tergambar jelas di wajahnya.
"A-apa itu benar?" tanya Rei yang sekarang kembali menatap Sasori yang masih terdiam tak bergeming di tempatnya. Pemuda itu tetap menundukkan wajahnya, tubuhnya bergetar seperti menahan suatu beban yang berat.
"Aku minta maaf... " hanya kata-kata itu saja yang dapat keluar dari mulut Sasori. Kepalanya semakin tertunduk dalam.
-ooo-
Di kelas Hukum-B…
.
.
"Aoba! Apa kau melihat Marie?" Kaoru berdiri di depan pintu kelasnya sambil melongok ke dalam mencari-cari sosok Marie, tapi ketika dilihatnya gadis itu tak ada disana dia memutuskan untuk bertanya pada Aoba dengan setengah berteriak.
"Tidak lihat! Aku pikir dia masih bersamamu!" Aoba balas berteriak sambil menggeleng cepat.
'Kemana perginya dia… ' batin Kaoru mulai merasa cemas, apalagi gadis itu masih terluka dan belum diobati. "Baiklah, terima kasih!" Kaoru melambaikan tangannya sedikit lalu bergegas pergi dari sana.
'Aku harus mencari Marie dan minta maaf padanya,' kata pemuda itu dalam hati sambil menuruni tangga. Meski dia tidak tau kesalahan apa yang dia perbuat tapi dia merasa kalau dia perlu meminta maaf dan hatinya merasa tidak tenang kalau belum minta maaf pada gadis itu.
Kaoru berjalan di luar gedung kampus dan sekarang dia berjalan menuju gerbang. Dia melihat ada sekumpulan orang disana dan salah satunya adalah Sasori. Kaoru memutuskan menghampiri Sasori, mungkin pemuda itu melihat kemana perginya Marie.
"Sasori!" Kaoru setengah berteriak sambil berlari menghampiri Sasori yang sedang berdiri di depan pintu gerbang kampus. Gaara, Nathan, Rei beserta Jun yang ada disana langsung menoleh ke arah sang pemanggil, yaitu Kaoru.
"Dia… " betapa terkejutnya Gaara setelah melihat pemuda yang berlari menghampiri mereka. 'Kenapa dia mirip sekali dengan Joker? Ini tidak mungkin… Apa hanya kebetulan mirip saja?' batin Gaara sekarang bertanya-tanya dengan bingung melihat pemuda di depannya ini, kenapa dia bisa begitu mirip dengan Joker. Meskipun fisiknya sedikit berbeda tapi wajah itu benar-benar mirip dengan joker.
"Jo-" baru saja Gaara mau memanggil nama Joker tapi terhenti karena tiba-tiba saja muncul para ninja yang sudah mengepung mereka entah sejak kapan. "Se-sejak kapan mereka disini?" tanya Gaara sedikit kaget dengan kehadiran ninja-ninja itu.
"Sejak dari tadi baka! Makanya jangan bengong aja!" samber Rei cuek yang lagi di iket sama dua orang ninja, dianya sih cuma jongkok pasrah malah sempet-sempetnya buka komik. Gaara lalu melirik Nathan yang di sebelah Rei. Pemuda itu juga gak jauh beda dari Rei. Dia malah asik jongkok sambil ngemut permen karet dan pasrah aja di iket sama ninja-ninja tak bermoral itu.
'Mereka berdua tidak bisa diharapkan… ' kata Gaara sambil sweatdrop melihat kedua teman hacker-nya itu, sambil berpikir apa semua hacker sikapnya sama seperti mereka berdua (kurasa tidak?).
DUAGH! BAGH! BUAKH!
Yah terlihat Sasori, Jun dan Kaoru sedang memukul ninja-ninja yang mengelilingi mereka itu.
"Jangan diam sama Gaara!" kata Sasori menyuruh Gaara yang dari tadi diam saja untuk membantu mereka. Jumlah ninja yang mengepung mereka lebih dari sepuluh orang dan mereka sedikit kewalahan. Apalagi disekitar mereka suasana sedang sepi karena para mahasiswa sedang melakukan proses pembelajaran. Gaara tentunya tidak tinggal diam saja, pemuda berambut merah itu segera bergerak untuk bertindak. Mereka berempat berusaha melawan ninja-ninja tersebut.
"Shun, lihat disana!" Reiki yang baru saja pergi ke tempat foto copy-an (yang jaraknya bisa ditempuh 10 menit dari kampus) langsung menunjuk Sasori dan kawan-kawan yang sedang berkelahi dengan para ninja yang waktu itu pernah menculiknya.
"Ayo kita tolong mereka!" sambar Shun yang langsung saja bergegas menuju kesana dengan Reiki.
.
.
Reiki dan Shun segera bergabung dengan yang lainnya untuk melawan ninja-ninja itu. Akan tetapi, jumlah ninja-ninja itu malah semakin bertambah dan membuatnya jadi lebih banyak dari sebelumnya.
"Kurang ajar, mereka terus bertambah!" desis Shun yang menyadari kalau jumlah ninja-ninja itu terus bertambah. Dia segera mundur, begitu juga yang lainnya.
"Kalau begini tak akan ada habisnya!" timpal Reiki yang merasa kewalahan juga.
"Mereka mengincarku… " kata Kaoru yang merasa kalau ninja-ninja itu pasti datang untuk menculiknya lagi.
"Tapi, kenapa mereka mengincarmu?" tanya Shun sambil melirik ke arah Kaoru. Dia mulai merasa aneh kenapa mereka mengincar Kaoru berkali-kali, pasti ada sesuatu yang membuatnya di incar seperti ini.
"Aku juga tidak tau… " balasnya dengan pelan. Dia sendiri juga tidak tau apa-apa.
"Pasti ada sesuatu yang mereka inginkan darimu… " sambar Gaara yang dugaannya semakin menguat kalau Kaoru itu memang Joker dan para ninja di depannya itu datang untuk membawa pergi Joker. Dan satu yang jadi pertanyaannya, kenapa Joker bisa ada di dunia nyata dan hidup seperti manusia normal.
"Kalian lepaskan teman-temanku, maka aku akan ikut dengan kalian." Kaoru maju ke depan dan memutuskan untuk ikut dengan para ninja tersebut asal mereka tidak melukai teman-temannya.
"Kaoru, apa-apaan kau! Kita masih bisa melawan mereka!" Reiki langsung protes dengan keputusan yang diambil Kaoru begitu saja. Dia merasa masih sanggup untuk melawan ninja-ninja itu.
"Jumlah mereka semakin banyak dan kita tak mungkin bertahan lama menghadapi mereka!" sambar Kaoru dengan cepat dan setengah membentak Reiki tanpa disadarinya. "Ah, sudahlah… Lagipula ini urusanku, bukan urusan kalian. Sudah kuputuskan untuk pergi dengan mereka, jangan halangi aku." Pemuda itu sepertinya memang sudah bertekad bulat untuk tetap ikut dengan ninja-ninja itu. Dia berpikir mungkin dengan ikut dengan ninja-ninja itu, dia bisa mengetahui apa maksud dan tujuan dari mereka yang sebenarnya.
"Baiklah, kami akan melepaskan teman-temanmu. Ayo cepat ikut kami!" salah seorang ninja langsung memberi komando pada ninja lainnya untuk membebaskan yang lain. Lalu dia membawa Kaoru pergi dari sana, dalam kepulan asap semuanya menghilang dalam sekejap.
"Mereka… Menghilang semuanya… Siapa mereka sebenarnya?" tanya Jun yang terheran-heran dengan kejadian yang barusan saja dia alami.
"Tch… Kita harus segera cari bantuan!" Reiki dengan cepat bergegas masuk ke dalam kampus, begitu juga dengan Shun yang menyusul di belakangnya.
"Kalian pulang saja dulu, kita bicarakan urusan kita nanti saja." Sasori juga tanpa menunda waktu lagi menyuruh Gaara dan yang lain untuk pulang dan membahas masalah mereka belakangan, karena sekarang dia juga ingin menolong Kaoru. Tanpa menunggu respon dari Gaara dan yang lain, pemuda itu bergegas masuk ke dalam menyusul Reiki dan Shun.
"Ya sudah, ayo kita pulang, dan ada yang ingin kubicarakan pada kalian," ucap Gaara sambil berbalik. Lalu dia menatap kedua temannya dengan serius, mengatakan kalau ada sesuatu yang ingin dia katakan. "Aku juga ingin bicara padamu, Jun," sambungnya lagi sambil melirik Jun.
Lalu mereka berempat bergegas meninggalkan tempat itu. Rei, Nathan dan juga Jun akhirnya mengikuti Gaara dengan rasa penasaran sambil menebak-nebak, kira-kira apa yang mau dibicarakan Gaara pada mereka apalagi Gaara terlihat begitu serius.
Kelas Hukum-B…
.
.
"Aoba! Yoshi! Kami butuh bantuan kalian!" begitu sampai ke atas, Reiki langsung saja menuju kelas Aoba dan Yoshi lalu memanggil keduanya dari depan pintu. Aoba dan Yoshi yang dipanggil sempat sedikit kaget, apalagi melihat wajah Reiki yang terlihat panik. Keduanya bergegas meninggalkan tempat duduk masing-masing dan menghampiri Reiki di depan pintu kelas.
"Ada apa? Kenapa kalian semua terlihat panik?" tanya Aoba sambil menatap ke arah Shun, Reiki dan Sasori yang memang tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"Kaoru kembali dibawa pergi oleh ninja-ninja itu, kami butuh bantuan kalian untuk melacak kemana perginya mereka!" sambar Reiki dengan cepat dan langsung menarik Aoba untuk ikut bersamanya ke depan. Yoshi, Shun dan Sasori langsung mengikuti mereka berdua.
"Ada apa ya?" tanya Fei sedikit bingung dan merasa ada hal yang tidak beres sedang terjadi. Diam-diam pemuda ini meninggalkan kelas dan mengikuti mereka semua.
-ooo-
Mereka berjalan menuju gerbang di depan kampus sampai pada akhirnya mereka berpapasan dengan Manma di jalan dari ujung lorong kelas lain dan dia terlihat sedikit bingung.
"Kau… Bukannya kau Manma adiknya Kaoru Shiin?" tanya Shun yang langsung bisa mengenali anak laki-laki pirang tersebut.
"Ah, iya benar. Aku adiknya Kaoru Shiin." Manma langsung membungkuk sedikit pada Shun dan yang lainnya.
"Sedang apa kau disini? Bukankah kau harusnya sekolah?" tanya Shun yang sedikit heran kenapa Manma bisa berada di kampus bukannya di sekolah.
"Ah, sebenarnya diam-diam aku melihat acara yang diadakan Kazahana. Corp. Oh, ya kalian semua teman kakakku, kan? Aku sedang mencarinya, apa kalian tau dia dimana? Tadi dia pamit mau mencari temannya tapi dia pergi terlalu lama." Balas Manma menjelaskan alasan mengapa dia bisa berada di kampus, selain itu dia juga menanyakan keberadaan kakakknya yang pergi terlalu lama dan mulai mencemaskannya.
Shun dan yang lainnya langsung diam seketika mendengar pertanyaan Manma yang terakhir. Mereka saling pandang dan merasa tidak enak, tapi pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Kaoru, karena biar bagaimanapun juga Manma berhak untuk mengetahuinya.
"Sebenarnya Kaoru… Ada orang-orang tak dikenal yang membawanya pergi lagi… " Shun akhirnya mau tak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya juga pada Manma.
"Apa? Lalu bagaimana keadaan kakakku?" tentunya Manma langsung panik setelah mengetahui kalau kakakknya kembali dibawa pergi.
"Tenang saja, kami sedang berusaha melacaknya. Kami butuh nomor telponmu, jadi kalau ada apa-apa kami bisa menghubungimu." Aoba berusaha menenangkan Manma, lalu dia meminta nomor anak itu agar bisa dihubungi nanti.
"Baiklah, ini kartu nama milik keluarga Shiin." Manma menyerahkan sebuah kartu nama pada Aoba, dan tanpa sengaja tangan keduanya saling bersentuhan dan membuat Aoba dengan kebetulan melihat kejadian yang dialami Manma sebelumnya.
Di dalam bayangannya itu, dia melihat Manma yang tengah berada di hutan sedang mencari-cari seseorang. Lalu terlihat Manma yang sedang menemukan Kaoru dalam keadaan yang terluka cukup parah. Dia juga melihat sekelebat sosok Manma yang berada di dalam ruangan sedang memegang sebuah kalung berbentuk salib yang bersinar di bagian tengah kalung itu. Kemudian dilihatnya sosok Manma yang sedang memainkan sebuah ocarina. Setelah itu muncul bayangan dimana Manma tengah didatangi oleh seseorang berjubah dan keduanya melakukan pembicaraan yang serius.
"Aoba!" Shun menepuk pundak pemuda itu dan membuat Aoba segera tersadar. Dia tersentak kaget dan menoleh ke belakang.
"Kita harus cepat pergi!" sabar Sasori yang sudah tidak sabar untuk cepat-cepat pergi dan mencari kemana perginya Kaoru.
"A-ah, iya baiklah. Ayo pergi!" jawab Aoba dengan sedikit tergugup. Setelah itu mereka semua bergegas menuju luar.
'Aneh… Bayangan yang tadi kulihat sedikit aneh, dan Manma tampak mencurigakan… Aku harus tau kebenarannya nanti.' Kata Aoba dalam hati yang merasa ada yang tidak beres dengan adiknya Kaoru itu, dan berencana untuk melakukan penyelidikan sendiri nanti.
.
.
Manma hanya menatap mereka semua dari kejauhan, lalu setelah mereka benar-benar sudah tak terlihat, Manma langsung menghubungi seseorang.
"Atsui. Cepat kau ikuti Shun dan kawan-kawannya. Mereka saat ini sedang pergi menuju keluar gerbang kampus, kau pasti akan segera menemukannya. Ikuti mereka, dan kalau mereka berhasil menemukan Kaoru cepat ambil Kaoru dari mereka, tapi ingat jangan sampai mereka tau kalau itu adalah kau. Kaoru tidak boleh tau kalau dia adalah Joker." Manma menghubungi Atsui dan memberi perintah padanya untuk mengikuti Shun secara diam-diam serta untuk membawa pergi Kaoru dari mereka.
Saat itu Manma tidak menyadari kalau ada orang yang mendengar pembicaraannya tadi di telpon.
'Apa maksud dari semua ini? Kenapa Manma menyuruh orang untuk menculik kakaknya sendiri? Dan apa maksudnya kalau Kaoru adalah Joker?' tanya Fei yang berdiri di balik tembok atas setelah mendengar pembicaraan Manma barusan. Sekarang dia meyakini kalau ada sesuatu yang disembunyikan Manma (jadi posisinya Manma lagi di tangga berdiri dan Fei posisinya di tangga atas yang mau menuju ke bawah dan ada tembok kayak model tangga-tangga sekolah lah).
Dibawa kemanakah sebenarnya Kaoru? Hal apa yang ingin dibicarakan oleh Gaara? Siapa sebenarnya Manma? Dan siapa sosok berjubah yang dilihat Aoba pada masa lalu Manma? Apa semuanya ada kaitannya dengan Manma?
TBC…
Yuki : Wah alasan kenapa Marie takut, itu kan karena si Joker dalam masa hilang ingatan, dan otomatis dia sendiri gak nyadar sama kekuatannya sendiri... Jadi dia takut Killer Bee macem-macem begitu. Killer Bee sama kayak Enma, Kagero. Tapi emang dia yang paling berkuasa diantaranya. Hehehe emang rencananya mau bikin battle Kaoru VS Sasori (dan udah ada plot untuk bagian ini huehehehe). Dan Neverland online itu dicerita sebelumnya sudah diceritakan kalau awalnya adalah permainan offline (permainan biasa bukan multi-player dan tidak perlu konek ke internet).
.
.
"Thanks for reading".
