Disclaimer: I Don't Own The Characters
Warning : AU, OOC, Mainstream, Typo dll
.
.
.
Piece 10
Tenten melenggang dengan santai, dia sudah tidak terlalu peduli dengan sikap Neji yang dingin, baginya dia adalah orang yang baik dan senior yang hebat dalam bidang musik. Dia membuka pintu tanpa menimbulkan suara. Namun dia mematung begitu mendengar alunan suara piano yang sukses membuatnya merinding, sehingga dia hanya tetap berdiri didepan pintu ruangan musik.
Alunan ini sangat familiar. Lagu ini selalu terdengar saat bel pulang sekolah berdering dan suara dengan 3 bahasa yang selalu memberitahu untuk apa bel itu berbunyi. Walau sudah sering mendengarnya tetap saja Neji membawakanya terasa lain.
Lagu ini entah kenapa terasa berbeda, lebih romantis namun juga terasa mengerikan sekaligus, suasana gothic dan kesan cinta yang tenang namun suram benar-benar terasa. Atmosfirnya juga lebih berat, pikiranku terasa kosong dan hanya terpaku pada musik ini. Dia benar-benar hebat. Tenten hanya bisa terkagum dan berbisik didalam hati, mengakui untuk keberapa kalinya kehebatan seniornya yang satu ini.
Tiba-tiba permainannya berhenti, membuat Tenten tersentak bingung. Neji menghela nafasnya lesu, "ternyata memang tidak bisa". Tenten bengong, heran apa maksud perkataan pemuda itu. Kalau itu maksudnya ia tidak bisa memainkan lagu itu, rasanya tidak mungkin, yang tadi malah bisa disebut permainan sempurna. Tiba-tiba kepala Neji menoleh, "oh, kau datang ya". Tenten mengangguk dan berjalan kearahnya. "ng, apa maksudnya tidak bisa kak?" tanya Tenten memberanikan diri. Neji kembali memutar tubuh menghadap piano, lalu memainkan nada acak namun enak didengar.
"oh itu, aku harus memainkan lagu romantis rabu depan" jawabnya. Tenten mengangguk paham, rabu depan memang giliran kelas 12 A. "lalu?" tetap saja dia belum mengerti, apa maksudnya dia tidak bisa tampil atau tidak bisa memainkan lagu romantis?, kalau tidak bisa tampil rasanya mustahil, diakan beken karena sering memperlihatkan kehebatannya, kalau soal lagu romantis mungkin saja, tapi dia kan tinggal memainkan piano yang sudah jelas adalah keahliannya.
"aku tidak tahu mau main lagu apa, aku coba memainkan fur elise tapi ternyata masih ada kesan suramnya" jawab Neji masih bermain tanpa melepaskan pandangan pada piano. "well, yang seperti itu hanya akan membuat penonton lari ketakutankan?" Neji menoleh namun tetap tidak berhenti.
Tenten mengangguk, yah kalau kau memasukkan aura mistis sekuat itu sih memang. "lalu kenapa tidak coba lagu pop saja" usulnya. "aku juga maunya seperti itu, hanya saja tidak ada lagu yang berkesan bagiku, dan lagi lagu-lagu lainya sudah sering dimainkan" ucap Neji yang sudah membalikkan kepalanya.
So picky!, batin Tenten gemas karena sifat perfeksionis cowok bermata abu-abu itu. "oh" Tenten mengeluarkan hp dari sakunya, Neji berpaling dan mengangkat sebelah alisnya saat cewek itu seperti mencari sesuatu. Tangannya sibuk memencet layar touchscreen. "ah, bagaimana dengan lagu ini" usul Tenten seketika sebuah lagu terdengar dari hpnya, menurut Tenten, Neji tidak tahu begitu banyak lagu pop, dan tampaknya dia bukan tipe pria romantis.
"perfect, one direction" seru Tenten menyebutkan judul dan band yang sedang ia dengarkan itu. Neji menelengkan kepalanya, lalu setelah semenit dia mengangguk dan memutar tangan keatas piano, pose bersiap menekan tuts. "kalau tak salah untuk dicoba..." gumamnya lalu menekan tuts sesuai lagu itu. Tenten melongo, bagaimana dia bisa memainkan sebuah lagu yang baru didengarnya sebentar dengan baik?. Semakin kenal dengan cowok ini hanya membuatnya semakin tidak mengerti dengan kejeniusannya.
"well tidak buruk, ku rasa ini akan kumainkan" Neji berpaling lalu mengangguk. Tenten tersenyum, "senang bisa membantu" ujarnya ringan. Neji mengangguk lalu tersenyum samar, "yah, aku rasa hanya perlu mencari liriknya dan lagu lengkapnya diinternet untuk dipelajari". Untuk seorang sepertimu sepertinya tidak perlu mencari notasinya lagikan?. Batin Tenten, sekali lagi hanya bisa melengos karena seniornya.
Naruto celingak celinguk dilorong disekitaran kelas Hinata, gak ada. Perpustakaan, gak ada. Kantin, gak ada. Ruang musik, gak ada. Lapangan, gak ada. Naruto mengacak rambutnya bingung. Mau dicari kemana lagi cewek itu. Dan emangnya dia setan apa, gak bisa ditemukan?. Ah. Naruto teringat sesuatu. Cewek dingin yang jarang bersuara itu pasti lebih memilih tempat yang sepi. Dan tempat yang cukup sepi disekolah, (selain gudang lama yang terlihat angker tentunya), adalah taman belakang sekolah.
Langsung saja cowok itu ngebut kebalik gedung sekolah. Sekarang dia melemparkan pandangannya keseluruh penjuru taman. Safirnya menangkap sosok yang sudah membuatnya hampir mengelilingi seluruh sekolah sedang duduk dibangku dibawah pohon rindang dengan earphone yang menututupi telinganya.
Naruto menghampirinya. Hinata mendongakkan kepalanya saat merasakan ada yang berdiri didepanya. Dia menatap Naruto datar. Tapi matanya menanyakan kenapa Naruto disini dan kerutan bibirnya menyatakan agar Naruto pergi. Naruto lebih memilih menjawab hal yang pertama saja.
"yo, sedang apa kau disini?, ini bukan tempat yang banyak dikunjungi cewek lain " Naruto berbasa-basi, seolah dia tidak sengaja ketemu disini, menyembunyikan fakta dia sudah mencari cewek itu kemana-mana. Hinata menaikkan sebelah alisnya, seolah bertanya, kau sendiri?. "oh well, gue pegel nih berdiri boleh gue duduk?" tanya Naruto. Hinata tidak menjawab dan memasang wajah tidak peduli. "kalo lo diem gue anggap iya" Naruto langsung duduk disebelah Hinata, gadis itu menatapnya tidak senang.
"oh ya" ucap Naruto seolah baru ingat sesuatu. "tadi kelas sebelah alias kelas lo heboh deh, gue denger cowok-cowoknya ngomongin tentang lagu apa yang bakalan mereka tampilin pas ambil nilai nanti" Naruto jelas berbohong, dia tidak ingin menyeret Karin dan Konan, kalau gadis ini tahu nanti dia bisa marah, padahal mereka baru berteman.
"jadi lo mau nyanyiin lagu apa?" lanjut Naruto yang sekali lagi berbohong karena dia tahu Hinata tidak mau ikut tampil. Tapi cowok pirang itu hanya pasang muka penasaran yang polos. Sepertinya dia pantas dapat piala citra untuk kategori aktor terbaik.
Hinata menatapnya tajam, lalu menatap kedepan dan menggeleng. Ck, repot deh kalau kambuh sikap bisunya.Naruto dibuat sebal dengan respon gadis indigo ini, dan lagi dia tidak megeluarkan sepatah katapun, hal itu adalah yang paling tidak dia suka. "maksudnya kau tidak tahu mau nyanyi apa?" pancing Naruto agar dia mau bersuara walau sebenarnya dia sangat mengerti arti gelengan tadi.
Hinata menoleh menypitkan matanya dan menggeleng. "oh, c'mon, who can understand if you just turn your head" keluh Naruto. Hinata merapatkan bibirnya, tanda dia bersikeras diam. Membuat Naruto geram.
"oke, kau tidak mau tampil itu maksudmu?" Naruto menyerah juga. Hinata mengangguk. "well, kenapa?, gimana dengan nilai lo?" tanya Naruto penasaran. Hinata kembali menatap kedepan, terlihat menimbang apa sebaiknya bicara atau tidak pada Naruto. "oh, ayolah, aku hanya ingin tahu." Bujuk Naruto.
Hinata menoleh sepertinya dia merasa tidak apa bicara dengan Naruto. Kau pikir aku sejenis apaan sih?. Gerutu Naruto yang paham dengan berbagai ekspresi Hinata. "aku akan minta izin saat hari tampil dan menggantinya dengan tugas lain" jawab Hinata pada akhirnya.
Naruto mengerutkan kening, "boleh begitu?". Hinata mengangguk lalu memiringkan kepalanya sejenak, gerakan yang Naruto terjemahkan jadi kata-kata, kalau aku yang minta boleh. "guru-guru nggak ngerasa aneh?" Naruto masih belum puas, karena masih nggak ngerti. Hinata hanya menggeleng. "tapi itukan tidak adil buat yang lain" Naruto mengutarakan pendapatnya.
Hinata menoleh bingung. "yang lain harus tampil, mereka yang pemalu harus jadi berani, mereka yang nggak terlalu bagus suaranya tetap memaksakan diri, walau punya resiko ditertawakan, tapi kau hanya perlu menyerahkan tugas tertulis" jelas Naruto.
Hinata mengangkat bahu. Itu bukan urusanku, Naruto mengangkat sebelah alis saat menerjemaahkan gerakan barusan. Sepertinya dia jadi ahli dengan setiap kata-kata non verbal Hinata. "memangnya kau tidak punya hati nurani? Kau memang putri es ya?" ucap Naruto sinis. Hinata menoleh cepat, tersentak dengan perkataan Naruto. Yang benar saja masa dia dikatai tidak punya hati.
"ah, atau kau hanya cewek penakut yang bakalan pingsan saat demam panggung" Naruto menyeringai. Keluar deh sifat provokatornya. Hinata menatapnya tajam. "aku bukan pengecut" desis Hinata hampir tak terdengar. "lalu kenapa kau tidak mau?" tuntut Naruto. "kan sudah kubilang aku tidak mau". "mengaku sajalah Hinata" dorong Naruto makin gencar. "aku bukan penakut" suara mulai meninggi.
Naruto tersenyum puas didalam hati. Kena kau. "so, prove it" Naruto meletakkan tangan kedagu. "aku akan menuruti permintaan mu selama 3 hari kalau kau berani tampil" sambung nya. Hinata sudah lupa pada kebenciannya pada tampil didepan umum, yang ada saat ini hanya rasa kesal pada Naruto. "oke". "dan kalau kau tidak juga tampil apapun alasanya, kau harus juga menuruti permintaan ku selama 3 hari, deal?" Naruto mengulurkan tanganya. Hinata menerimanya dengan mata masih emosi. "deal". Naruto tersenyum puas. Sangat puas.
Neji memasuki kelasnya. Ternyata semua sudah sibuk merancang konsep acara untuk hari Rabu. "Neji, ini barang yang kau minta" panggil Shion sambil menyodorkan kardus berisi barang yang kemarin ia daftar untuk pertunjukkanya. "thanks" ucap Neji sambil menerimanya.
"oh ya, untuk memasangnya, kau bisa minta bantuan Lee dan Kankuro, langsung ke auditorium saja" jelas Shion dengan tangan yang masih sibuk memilah dekorasi panggung. Neji menganguk, "mereka juga disana?" tanyanya. Shion mengagguk. "yang lain ada juga kok". Neji mengangguk sekali lagi. "kalau begitu aku kesana dulu".
Neji memasuki audotorium sambil mengangkut kardusnya. Disana sudah banyak yang melakukan tugas dekorasi. Mereka menempel hiasan. Banyak bentuk hati berwarna maroon atau pink. Instruksi terdengar dimana-mana. Suara teriakan yang menanyakan letak hiasan atau yang protes menjadi sound background.
Para cowok mengambil alih tugas yang berhubungan dengan menaiki tangga. Ada juga yang sedang berlatih bersama untuk tampilan mereka besok. Suasana yang sibuk dan hiruk pikuk ini entah kenapa terasa menyenangkan. Mungkin karena semua bekerja dengan serius dan senang hati.
"oi, Neji" sebuah suara teriakan cempreng memecah background instruksi-instruksi, membuat Neji menoleh. Sumber suara tadi sedang melambaikan tangan padanya sambil mendorong keyboard bersama Kankuro. Tentu saja itu Lee. Setengah berlari Neji menghampiri mereka. "nih Keyboard lo" Kankuro mendorong benda itu agar lebih dekat dengan Neji. "trims" Neji membungkuk meletakkan kardus kelantai. Lee segera bergabung dan mengacak-ngacak.
"untuk konsep yang lo ajuiin kemaren udah gue pikirin, ada cara mudahnya kok" Kankuro mendekat. Neji mengangkat wajahnya. "ah, kupikir kau akan bilang itu ide yang terlalu muluk-muluk" komentar Neji. "oh, well, awalnya iya, tapi setelah dipelajari bisa kok, lagi pula cara kerja trik-trik sederhana adalah keahlianku" Kankuro mengangkat bahu. Lee mengeluarkan satu-persatu isi kardus. "gue ikutan boleh?" tanyanya. "lo emang harus ngebantuin" omel Kankuro menjitak Lee. "oww, sakit" Lee memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"omong-omong, valentine, ada rencana ngasih bunga, coklat, ngedate atau nembak cewek?" tanya Lee lalu memandangi dua pemuda lainnya bergantian. Neji dan Kankuro mengangkat bahu acuh. Lee mendecak. "buat kalian pasti yang diotaknya itu Cuma musik dan cara kerja benda"."yoi" kor Neji dan Kankuro.
Terdengar kasak kusuk pembicaraan dari belakang mereka. Sekumpulan murid sedang berbincang dengan seru, membuat mereka reflek menoleh. "hei kalian tahu Ars Ladies, band baru itu lho". "ah ya, band cewek itukan, kalian lihat tidak pertunjukkan mereka beberapa hari lalu?". "tentu , mereka lumayan keren". "apalagi mereka cewek-cewek cantik".
Dan begitu seterusnya. "ah mereka sedang ngobrolin band cewek itu ya" Kankuro memilih melakukan pekerjaannya. "menurut kalian mereka gimana?" tanya Lee sambil melakukan arahan Kankuro. "hn?" Neji yang sedang terfokus didekat kaki penyangga keyboard tidak berminat menaikkan mata abunya menatap Lee. "musiknya lumayan".
Lee menyeringai. "aku nggak gitu ngerti musik, yang aku tahu mereka semua cantik". Kankuro mendengus sedangkan tangan dan matanya berkutat pada tali-temali. "tapi serius, apa benar tidak ada gadis yang kalian pikirkan akhir-akhir ini?" tanya Lee mengembalikantopik. Kankuro mengangkat bahu acuh sedangkan Neji terdiam. Gadis yang akhir-akhir ini kupikirkan ya?.
TBC
.
.
A/N : cydonia25 - san, pasti suka piece ini karena isinya nejiten dan naruhina ya?.
well, saya menunggu tanggapan semuanya
review pliss?...
