Warning : OOC. Gaje. Rape. Violence. Jadi, jika anda tidak tahan adegan 17+, silahkan lewati saja.
Disclaimer : Yu-Gi-Oh isn't mine. I'm sure you've known it.
DECEMBER
00.45 AM.
Itulah apa yang terlihat saat Atem melirik sekilas ke arah jam digital di atas meja di kamar Yugi.
Dia duduk di kusen jendela menatap jalanan sepi di luar. Cahaya lampu jalan menyinari wujudnya dalam kegelapan kamar. Dia menoleh ke arah Yugi yang sedang tertidur lelap di ranjang, bibirnya tertekuk.
'Aku sudah tidak bisa mundur...' batin Atem sembari berjalan mendekati ranjang. Tatapannya masih mengarah ke arah wajah tidur partnernya. 'Apapun yang telah kulakukan, aku tetap tak bisa menjauh darinya...'
Dia menghela nafas, jemarinya dengan lembut mengelus pipi Yugi. 'Apa yang harus kulakukan agar aku bisa membuatmu bertahan saat waktuku untuk pergi telah tiba, aibou? Apa yang harus kulakukan agar aku bisa menyingkirkan diriku dari kehidupanmu tanpa melukaimu?'
Tanpa terasa lima bulan telah berlalu, dia hanya memiliki waktu tujuh bulan untuk hidup. Semakin waktu berlalu semakin besar rasa khawatir yang dimiliki. Dia larut dalam pikirannya saat rasa mual melandanya.
'Tidak lagi...'
Atem langsung berlari menuju kamar mandi dan terduduk di depan kloset, memuntahkan segala yang ada di dalam perutnya. Dia berusaha menarik nafas ditengah-tengah rasa mualnya sebelum muntah lagi.
Setelah beberapa saat, akhirnya dia bisa mengendalikan rasa mual di perutnya. Dia sama sekali tidak tahu ada apa dengan tubuhnya. Sudah hampir dua bulan dia merasakan mual yang tak tertahankan. Pikirannya terputus ketika rasa mual melandanya lagi dan dia kembali membungkuk di kloset untuk memuntahkan isi perutnya lagi.
Pintu kamar mandi berderak terbuka, Atem tidak menoleh untuk melihat pria yang berdiri di ambang pintu karena dia sibuk dengan masalahnya.
"Ah... aibou..." kata Atem masih terengah mengambil nafas. "Maaf, bisa kau keluar? Aku butuh privasi sebentar."
Sunyi, kecuali langkah kaki yang semakin keras dan semakin dekat. Tapi, Atem menyadari bahwa suara langkah kaki itu lebih keras dibanding langkah kaki Yugi yang biasanya.
"...Yugi, ada apa? Langkah kakimu lebih keras malam ini. Kalau kau ingin menanyakan keadaanku, aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
Langkah kaki tidak terdengar lagi dan sekarang Atem bisa merasakan suatu kehadiran di belakangnya, tapi gadis itu masih tidak menoleh. Atem duduk di lantai kamar mandi untuk menenangkan tubuhnya.
".........Yugi, apa ada sesu-"
Lelaki di belakangnya membungkuk, wajahnya di dekat telinga Atem. Atem bisa merasakannya, dan dia langsung tahu bahwa itu bukanlah Yugi.
"Atem, maaf... bukan Yugi." Suara bisikan gelap dari bahu kanan gadis mesir itu membuatnya terkesiap.
Suara itu...
Sebelum Atem bisa berbuat apapun, sehelai kain menutupi mulut dan hidungnya. Dia mulai mencium bau obat dan berusaha berontak dari cengkeraman lelaki itu.
"Jangan berontak, Atem... ini akan selesai segera." Lelaki itu berbisik pelan, dengan nada suara yang menakutkan di telinga Atem. Lelaki itu mencium rambut Atem dan menarik tubuh gadis itu mendekat sementara tangannya yang memegang kain masih membekap mulut Atem.
Atem bisa merasakan tubuhnya mulai lemas dan akhirnya berhenti bergerak, kepalanya jatuh lemas ke samping. Mata merahnya mulai menutup.
Lelaki itu tersenyum lebar, dan perlahan mencium dahi Atem.
"Rest, my soon-to-be bloody angel... we'll have fun when you wake up..."
Ciuman itu adalah hal terakhir yang Atem rasakan sebelum segalanya menjadi gelap...
Riing...
Riiiiing...
Riiiiiiing...
"Ya, ya! Sebentar!"
Riiii- pip!
"Halo?"
-"Anzu! Apa Atem ada di tempatmu?!"-
Anzu mengangkat sebelah alis. "Tidak. Memangnya kenapa?"
-"Atem hilang!"-
Mata Anzu melebar. "Whaaaat!!!? Kau serius?!!!!"
-"Saat aku bangun, dia sudah tidak ada! Kucari-cari di dalam rumah, dia tidak ada di mana pun!"-
"Mungkin dia pergi ke luar buat jalan-jalan. Atau mungkin dia pergi mengunjungi teman-teman."
-"Aku sudah mencarinya kemanapun. Aku juga sudah menelepon ke yang lainnya, tapi mereka juga tidak tahu."-
"Tung-! Tenang, Yugi! Kau ada di mana sekarang?!"
-"Aku ada di rumah."-
"Baiklah. Tetap di sana. Aku bakal ke tempatmu." Dengan itu, dia menutup telepon.
Anzu menatap telepon di tangannya dengan heran. Tumben sekali Yugi panik seperti itu, seakan lelaki itu kembali ke dirinya yang dulu. Tapi, dia segera menyingkirkan pikiran itu, ada hal lain yang harus lebih dikhawatirkan.
Oh, shit! Kenapa jadi begini!
-
"Apa maksudmu dia telah diculik?!" teriak Honda syok. "Atem?! Bagaimana?!"
"Honda, tenang!" sahut Anzu.
"Kalian, polisi, lebih baik jangan bercanda mengenai hal ini!" lanjut Honda. Ryuji mencengkeram tangan Honda agar lelaki itu tidak menerkam polisi di tempat itu dan saat itu juga.
"Maaf, tapi kami hanya memberi hasil dari penyelidikan kami." Seorang penyelidik maju. "Kami telah memeriksa seluruh rumah ini. Ada tanda-tanda slot kunci pintu dibuka paksa. Tetapi, tidak ada tanda-tanda pergumulan, jadi bisa dikatakan bahwa korban diculik pada saat dia tertidur atau dia dibius hingga tertidur."
"Tapi, hal itu tidak bisa membuktikan bahwa dia diculik, kan?!"
"Memang." Penyelidik itu mengangkat memberi tanda agar mereka bertiga mengikutinya. "Penyelidikan kami diperkuat oleh sebuah pesan yang ada di dinding ruang tengah."
Sesampainya di ruang tengah, mereka melihat Yugi berdiri diam memandang lurus pada sesuatu dengan tatapan keras dan dingin. Ryuji menepuk bahunya, Yugi melirik ketiga sahabatnya diam.
"Kau tahu, polisi sekarang suka mengada-ada. Masa' katanya Atem diculik, yang benar saja." kata Honda, tersenyum gugup. Yugi menoleh ke arahnya.
"Tidak," gumamnya pelan dan dingin, membuat tiga temannya merasa gelisah. "Dia benar. Atem diculik."
"Eh?"
"Untuk alasan apa lagi aku memanggil polisi." Yugi mengalihkan pandangannya sembari memasukkan tangannya ke saku celana. Anzu, Honda, dan Ryuji mengikuti pandangan Yugi dan terkesiap kaget.
Di dinding ruang tengah, dengan huruf alphabet berukuran besar laksana kain terbentang, sebuah kalimat ditulis berantakan bagaikan petir menyambar menggunakan cairan merah kental yang sebagian sudah mengering. Bau amis yang menyeruak menandakan tulisan tersebut ditulis menggunakan darah.
The Bloody Angel is Mine.
-
"Bagaimana, Mokuba. Apa ada petunjuk?" tanya Jounochi, ekspresi panik terlihat di wajahnya. Jemari Mokuba dengan cepat mengetik keyboard komputer, matanya membaca sesuatu yang muncul di monitornya dengan seksama.
"Tidak. Sama sekali tidak ada." Mokuba mengambil ponsel dari meja, pandangannya tidak meninggalkan monitor. "Isono, sudah ketemu?"
-"Maaf, tuan Mokuba. Di daerah ini juga tidak ada."-
"Begitu. Coba cari di koordinat 3173."
-"Baik, tuan Mokuba."-
Mokuba menutup ponselnya. Dia mengambil ponselnya yang lain dan menekan beberapa tombol. "Matsuyama, bagaimana?"
-"Tidak ada sama sekali. Saya sudah menelepon ke semua yang ada di dalam daftar ini, tetapi tidak ada yang pernah melihatnya."-
"Hm. Terima kasih. Tolong lanjutkan lagi."
Jounochi menatap peta digital dari Tracking Device dengan khawatir. 'Kau ada di mana, sih!! Dasar jamur! Kalau ketemu bakal kucabik-cabik dia!'
Lagu "Face Down" menggema di seluruh ruangan. Jounochi cepat-cepat merogoh sakunya dan menekan tombol. "Halo?"
-"Jou."-
"Yugi, ada apa?"
-"Atem diculik."-
Mata Jounochi melebar, ponselnya nyaris terlepas dari genggamannya. "Apa?!"
Mokuba yang mendengar teriakan Jounochi segera menoleh ke arah lelaki pirang itu. "Ada apa, Jou?"
Jounochi mengangkat tangannya menandakan agar Mokuba diam. Dia mendengarkan telepon dengan tatapan serius. Dan beberapa saat kemudian, dia menutup ponselnya.
"Ya?" tanya Mokuba ingin tahu. Jounochi menatapnya serius.
"Atem diculik."
Mokuba terkesiap kaget. "Apa?! Benarkah?!"
"Ya." Mata Jounochi menyipit. "Bagaimana menurutmu? Apa mungkin dia juga..."
Mokuba menatap lelaki yang lebih tua di hadapannya dengan keseriusan yang sama. "Mungkin." Dia mengambil ponsel dan menekan beberapa tombol.
-"Ya?"-
"Yugi, kudengar Atem diculik."
-"Ya. Lalu?"-
"Sebenarnya di sini juga...
Sakit...
Itulah yang Atem rasakan saat dia membuka kelopak matanya, tubuh dan pikirannya mencoba untuk menyesuaikan dengan cahaya menyilaukan dari suatu tempat.
Gadis itu tidak ingat banyak. Dia berpikir semua yang terjadi semalam hanyalah mimpi. Mimpi buruk yang sangat mengerikan.
Hanya... di saat mata Atem sudah bisa menyesuaikan, ketakutannya menjadi nyata. Itu semua bukan mimpi.
Mantan pharaoh itu menemukan dirinya sendiri berada di dalam sebuah ruangan luas yang terbuat dari metal, palang, dan paku. Atem memiringkan kepalanya dan melihat sebuah pintu di dinding utara dan selatan, yang tembus entah ke mana. Sisanya kosong, hanya beberapa potongan metal dan paku yang tercecer. Dia melihat ke atas, potongan metal menggantung seakan siap jatuh ke arahnya kapanpun.
Dia mencoba untuk duduk agar bisa melihat ke sudut lainnya, tapi...
Ketika dia mencoba menggerakkan kakinya, dia tidak bisa.
Terkejut dengan hal itu, dia memeriksa kakinya dan menemukan kakinya terikat rantai yang terhubung ke papan ranjang. Tidak hanya itu, sepertinya kakinya memang tidak bisa bergerak walau dia tidak dirantai.
Lalu, gadis mesir itu menoleh ke arah lengannya dan terkesiap melihat pergelangan tangannya juga dirantai.
Atem menggeram marah dan menjerit sekeras mungkin.
"KAIBA!!!"
Darahnya mendidih, gadis itu terengah-engah, menunggu lelaki yang dipanggil untuk muncul. Apa-apaan lelaki itu? Seenaknya membuatnya pingsan dan menyekapnya di sini.
Tidak lama kemudian sebuah suara terdengar, menggema di dinding ruangan, dan seluruh gedung... entah gedung apa ini.
"Tak kusangka kau meneriakkan namaku... how sweet." Pintu sisi selatan berderit terbuka. Atem menoleh dan melihat Kaiba bersandar di kusen pintu. "Kau merindukanku, kan, Atem?" Senyum menakutkan terlihat di wajah Kaiba, mengirim aura dingin ke arah gadis itu.
Ada yang berbeda dari Kaiba. Lelaki itu memakai pakaian dan jubah yang sama seperti ketika duel memperebutkan kartu dewa, hanya saja kali ini warnanya hitam, dari atas sampai bawah.
Kaiba berjalan mendekat. Atem bisa melihat mata Kaiba semakin menggelap seiring langkah yang diambil.
"Katakan di mana aku." perintah Atem, darahnya mendidih karena marah.
"Kau sama sekali tidak berubah, tetap memerintah seperti biasanya."
"Bukannya itu kau." balas Atem dingin. Dia mengernyit ketika Kaiba duduk di ranjang dekat Atem, tetapi cukup jauh untuk tidak menyentuh gadis itu.
"Apa kau benar-benar berpikir begitu, Atem?"
Atem menghiraukan pertanyaan Kaiba. "Apa ini balas dendam karena aku selalu mengalahkanmu? Kekanak-kanakan sekali."
Kaiba melipat tangannya di depan dada. "Hm... itu juga... tapi, ada alasan lain."
"Bisa kau katakan apa alasan lain yang membuatku disandera, Kaiba?"
Kaiba menghela nafas dan menggeleng. "Tidak, tidak saat ini. Mungkin nanti. Kau akan berada di sini untuk beberapa lama, jadi masih ada banyak waktu."
'Banyak waktu, gundulmu!' batin Atem kesal.
"Yugi dan yang lainnya pasti akan menemukanku."
Kaiba mengangkat kepala angkuh. "Menemukanmu? Kurasa tidak. Teman-temanmu memang mencarimu, tapi aku ragu mereka akan menemukanmu. Aku memilih menara ini untuk alasan itu. Kita berada sangat jauh dari Jepang... dan daerah ini sudah dibuang."
"Menara? Jadi itu tempat kau menyekapku..."
"Menyekap? Oh, tidak, bukan menyekap. Lebih tepatnya... menyembunyikan. Seperti menyembunyikan piaraan supaya tidak ada yang tahu, Atem." Senyum Kaiba terlihat aneh di mata Atem.
"Aku bukan piaraan siapapun, Kaiba." geram Atem, berharap rantai yang mengikatnya menghilang supaya dia bisa mencekik lelaki di hadapannya.
"Tapi, kau lihat, Atem, kau piaraanku sekarang... milikku. Malaikatku yang berharga... yang harus dihukum karena ketidakpatuhannya."
'Apa barusan aku mendengar dia bicara gombal?' batin Atem terkejut. 'Ini orang... apa sekrup di kepalanya lepas, ya?'
Kaiba berdiri dan mengayunkan tangannya ke arah wajah Atem. Suara tamparan menggema ketika tangan itu mengenai wajah gadis itu, membuat Atem terlempar mundur di ranjang dengan jeritan.
Kaiba menepuk-nepukkan tangannya dan tersenyum. "Karena itu, jangan membangkang."
Atem meludahkan darah yang ada di mulutnya ke pipi Kaiba, membuat lelaki itu kembali dingin dan menampar gadis itu lagi.
Dengan susah payah, Atem mengambil nafas. Dadanya terasa berat. Dia menyeringai menantang. "Jika kau berencana mengancamku, kusarankan untuk menggunakan cara yang lebih baik lagi selain merantaiku dan menamparku."
"Oh, jangan khawatir. Menara ini punya banyak ruangan, kau akan terus dirantai di ranjang itu, tapi aku akan membiarkanmu bergerak ke ruangan lain dengan izinku dan – tentu saja – dengan pengawasanku. Dan jangan khawatir... aku akan cukup membuatmu terancam." Kaiba terkekeh dingin dan gelap. "Segera kau akan takut padaku, Atem, sangat segera. Dan bagian terbaiknya adalah, tak seorang pun akan menemukanmu di sini... tak seorang pun akan menemukanmu. Kau di sini, dalam daerah terbuang di pulau kecil. Kau akan menjadi milikku di sini selamanya, Atem... selamanya di sini untuk menderita."
Atem menyeringai. "Menderita? Kau bisa melakukan hal yang paling buruk padaku, Kaiba, dan aku tidak akan menderita. Aku telah melalui sesuatu yang lebih keras dari ini dalam hidupku."
"......Kau bodoh, Atem. Kau bilang kau pernah menderita, tapi benarkah itu? kau tidak tahu penderitaan, tak seorang pun yang mengajarimu hal itu." direktur perusahaan itu menyeringai. "Jadi aku akan menjadi gurumu."
Dengan keliaran, Kaiba menerkam Atem, kedua tangannya di kedua sisi kepala Atem, kaki lelaki itu ada di kedua sisi kaki Atem, hampir bersentuhan. Dengan kata lain, dia hampir menindih gadis yang ada di bawahnya. Atem menatap mata gelap Kaiba.
'Apa-apaan matanya itu? Matanya terlihat sama seperti saat Seth dikendalikan Akhnadin.'
"Sekarang, Atem, aku tidak sabar lagi... ayo kita nikmati ini. Dan jangan khawatir jika kita membuat semuanya berantakan. Aku membeli banyak baju, makanan, dan barang-barang lainnya sebelum kemari. Aku akan menjagamu dengan baik, Atem-chan."
Akhirnya, Atem merasa takut, tapi dia tidak memperlihatkan emosi apapun selain kemarahan.
"Menyingkir dariku, Kaiba." perintahnya tenang, menatap mata gelap yang perlahan terselimuti sesuatu.
"Tak pernah." bisik lelaki itu licik, dia mengarahkan wajahnya ke leher Atem dan mulai...
Menciumnya?
Atem terkesiap atas hal itu, ciuman kasar di lehernya menjadi semakin kasar dan liar seiring waktu.
"Mi-minggir! Sial, kenapa kakiku tidak mau bergerak!? Kaiba, apa maksudnya i-"
Reinkarnasi Seth itu membekap mulut Atem dengan tangannya, membuat gadis itu bungkam.
"Atem harus belajar untuk menutup mulutnya. Kedua kakimu tak bisa digerakkan karena aku menyuntikkan obat ke dalam sistem tubuhmu. Aku memberikan kadar yang tepat, jadi ini tidak akan lama. Karena itu, kita harus cepat."
Akhirnya, setelah belasan kali berontak, Atem memperlihatkan ketakutannya. Tubuh dan pikirannya tidak bisa menahannya lagi. Matanya lebar, tubuhnya tegang, dan Kaiba menyeringai saat merasakannya.
"Apa kau baru pertama kali diperlakukan begini, Atem? Betapa imutnya... dan aku merasa tersanjung karena membuatmu mengalaminya untuk pertama kalinya. Aku tahu kau telah kehilangan keperawananmu pada aibou-mu..." senyum licik terlihat karena cahaya mentari pagi yang entah dari mana. "Jadi, aku akan merebut keperawanan lain yang kau miliki."
Atem terkesiap – dan dengan tangan Kaiba yang masih menggerayanginya – dia mencoba menjerit dan menggerakkan tubuhnya, tapi tak berhasil. Rantai itu benar-benar hampir membekukan seluruh gerakannya, dan tidak hanya itu, tubuh Kaiba tidak ringan.
"Shh... jangan berontak... atau lebih baik jangan dulu. Aku ingin membuatmu menderita, Atem. Tapi... kau menjerit... walau aku ingin sekali mendengarnya, mungkin aku harus menutup mulutmu... tidak, dan itu tidak masalah, tak seorang pun akan mendengarnya. Aku ingin mendengarmu menjerit. Baik itu karena sakit, putus asa, takut, aku ingin mendengar semuanya, Atem. Selain itu aku bisa mengikat mulutmu lain kali... kita akan berada di sini untuk waktu yang lama, seperti yang kukatakan sebelumnya."
Kaiba menyerang leher Atem lagi, tapi kali ini, dia menggigitnya dengan keras di satu tempat. Begitu keras, hingga gadis yang ada di bawahnya mengeluarkan jeritan yang seakan bisa menghancurkan jendela dan membuat tuli dirinya. Kaiba masih terus menggigit leher Atem hingga menembus kulit gadis itu, dan lelaki itu mengangkat kepalanya bangga.
"Akhirnya... aku menandaimu sebagai milikku, Atem." bisik Kaiba. Atem bisa melihat bercak kemerahan di lehernya yang pastinya akan menjadi lebam kebiruan gelap. Dua tetes darah keluar dari luka di lehernya. Kaiba menyeringai, menunduk untuk menjilati tetes darah itu.
"Me-menyingkir... dariku!" teriak Atem, mencoba menggerakkan tangannya untuk mendorong Kaiba, tetapi gagal.
Kaiba cemberut (N/N: o.O Kaiba cemberut?!). "Aw... Atem-chan... jangan seperti itu..."
"K-kau gila! Minggir!" Dan Atem langsung menyesali ucapannya itu.
"Gi-gila? Kau berpikir aku juga gila?! Kau akan membayarnya, Atem!" jerit Kaiba, dia langsung merobek pakaian Atem dan melemparnya ke lantai.
"Ka-Kaiba, aku-"
PLAK!
Suara menggema saat telapak tangan Kaiba mengenai pipi Atem.
"Diam." Kaiba menyerang payudara Atem, berulang kali menggigit dan mengisap kulit kecokelatannya. Atem terus-menerus menjerit, mengernyit, dan mengerang seiring gigitan yang dilancarkan Kaiba, yang menjadi musik di telinga Kaiba.
"He-hentikan ini... Kaiba... kita bisa... me-membi-"
"Jika kau mau bilang kita bisa membicarakannya, kau salah, Atem." Gigitan menjadi semakin buruk, darah mulai muncul lagi, Kaiba menjilatinya seperti anjing kehausan.
"Mmm... enak... manis, seperti kau." bisiknya sementara menatap mata merah Atem.
"Kaiba, kumohon, tak bisa kita-mmmph!" ucapan Atem terputus saat bibir kelaparan Kaiba melumat bibirnya, memerintah, bukan, memaksa masuk ke dalam mulut Atem dengan lidahnya. Lelaki itu mulai menggigiti bibir Atem, membuat darah mengalir dari luka gigitannya.
"He-hentikan..." sahut Atem pelan. "Ta-tak bisakah kita... bi-bicara..." Dia berusaha untuk tidak memperlihatkan ketakutannya dari suara dan tatapannya, tapi hal itu sangat sulit.
"Waktu untuk hal itu sudah lama berlalu, Atem. Sekarang... waktunya untuk berbuat."
Kaiba mundur, dan membuka celananya, menurunkannya perlahan seakan dia menggoda gadis yang telah lemas di hadapannya.
Dinding tak terlihat yang melingkupi Atem akhirnya hancur. Wajahnya memucat, matanya melebar seperti anak-anak yang ketakutan. Dia tahu apa yang akan datang berikutnya.
"Kaiba, jangan."
"Hm... aku tidak berpikir begitu. Dan kau tak bisa melakukan apapun, Atem." Senyum iblis, penuh kebencian, tersungging di bibir Kaiba, dan dia menyerang Atem, membuka celana gadis itu dan menariknya hingga ke ujung kaki Atem. Celana dalam yang berikutnya, wajah gadis itu sekarang dipenuhi ketakutan dan air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Aww... Atem bakal nangis?" ejek Kaiba. "...Luar biasa."
-
Atem tidak tahu apa yang datang terlebih dahulu, rasa sakit atau darah. Tapi di saat Kaiba memasukinya dengan kasar, dia mengeluarkan jeritan kesakitan, dan air mata mengalir deras seperti hujan yang menetes di kaca jendela.
"Kaiba! Hentikan! Keluar!" jeritnya, mencoba untuk berontak dan mendorong Kaiba. "Keluar!!"
Kaiba mengangkat wajahnya dan menatap Atem dengan senyum licik di wajahnya.
"Apa Atem-chan kesakitan? Dia berdarah... dan menangis... imutnya."
Atem gemetar, perasaan di mana dia merasa terbelah dua menjalar di seluruh nadinya. Dan Kaiba belum sepenuhnya memasukinya, darah semakin banyak mengalir.
Kaiba tidak menyia-nyiakan waktunya lagi. Dalam sekejap dia mendorong paksa masuk ke dalam Atem, sepenuhnya.
Atem mengeluarkan jeritan yang menulikan telinga, kuku-kuku jarinya menusuk telapak tangannya, melukai kulitnya.
"KAIBA!!!"
"BWAHAHAHA! Aku tahu kau akan menjeritkan namaku segera! Aku tak pernah salah!!"
Mantan pharaoh itu merasa tak berdaya, terantai. Air mata mengalir ibarat air terjun. Jadi ini bagaimana rasanya diperkosa... hancur bagaikan mainan tua...
Rasa sakitnya tidak berhenti, dan tak akan berhenti, selama Kaiba terus-menerus menyentaknya berulang-kali, dengan kasar, tanpa ampun.
Tapi ini bukanlah bercinta... ini tidak seperti saat Yugi yang melakukannya... walau mabuk, Yugi memperlihatkan kelembutan dan cinta saat melakukannya...
Tidak ada cinta dibalik perbuatan Kaiba, hanya kebencian, kemarahan dan keputusasaan...
Setiap sentakan membuat Atem menjerit kesakitan, semakin banyak air mata yang keluar.
"Apa Atem-chan... tidak menikmati ini? Dia... juga tidak terangsang... sedihnya..."
"K-kau memperkosaku... dan kau... berharap aku... terang...sang?!" jerit Atem.
Sentakan semakin cepat, dan keras. Jeritan Atem mulai bungkam karena suaranya semakin serak dan sakit. Tubuhnya masih diselimuti rasa sakit. Matanya yang lebar menjadi hampa, menatap kosong ke atas.
Entah telah berapa lama waktu berlalu... sepuluh menit, dua puluh? Apapun itu, tubuh Atem benar-benar telah kaku, tidak merasakan apapun kecuali rasa sakit. Hatinya yang hancur menggema di seluruh tubuh dan jiwanya, seperti phantom yang menangis. Dan itu sama sekali tidak berhenti, Kaiba tidak memperlihatkan ampun, setiap sentakan dari Kaiba mengirim getaran menyakitkan melalui tubuh Atem, tepat ke dalam hatinya.
Setelah beberapa lama, akhirnya Kaiba keluar dari tubuhnya. Atem menatap dinding barat, air mata masih mengalir di pipinya.
Memunggungi Atem, Kaiba mulai berpakaian dalam diam. Di saat dia akan keluar dari ruangan itu, gadis yang terantai di ranjang mengeluarkan tangisan, isakan dan berbisik.
"Aku membencimu sekarang..." Isakan lain terdengar, Atem memeluk lututnya bagaikan bayi yang masih ada di dalam kandungan.
Kaiba berjalan menuju pintu utara dalam diam, dan mendorongnya terbuka dengan suara keras. Dia keluar, tapi kembali sesaat kemudian dengan pakaian wanita yang dibelinya. Dia memandang sekilas tubuh Atem yang meringkuk di atas ranjang dan kembali berjalan ke arah pintu setelah menaruh pakaian tersebut di atas ranjang.
Sebelum keluar, dia berdiri diam di ambang pintu dengan tangan memegang kenop pintu. "Aku tahu..." Dan dia menutup pintu dengan keras, meninggalkan Atem terjebak, sendiri di atas ranjang, terantai...
Hancur. Atem, Sang Pharaoh dalam legenda, dan Atem, setengah jiwa dari Yugi Mutou, telah hancur ke dalam ketiadaan.
DEG!
Mata Yugi melebar saat dia merasakan sakit di dadanya. Dia jatuh berlutut, tangan kanannya mencengkeram dada kirinya yang tertutup pakaian.
"Yugi!" teriak teman-temannya khawatir. Mereka bergegas berlari ke arah Yugi yang merintih kesakitan. "Kau tidak apa-apa, Yugi?" tanya Malik yang baru tiba.
Yugi melirik teman-temannya dengan mata yang setengah terbuka, nafasnya berat. "A-aku baik-baik sa-" Dan dia pun jatuh pingsan di tangan Malik.
"Yugi! YUGI!!"
-
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jounochi khawatir. Dia dan Mokuba segera mengunjungi rumah Yugi setelah mendapat telepon yang memberitahu bahwa Yugi pingsan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Ryuji menghela nafas. "Kami semua sedang mendiskusikan penculikan Atem dan Kaiba sebelum tiba-tiba Yugi ambruk dan pingsan di tangan Malik." Dia menelengkan kepalanya ke arah Malik yang sedang sibuk menelepon.
Semuanya sibuk terhadap kegiatannya masing-masing. Anzu yang sibuk berdebat untuk meminta cuti di teleponnya, Malik yang sibuk menelepon entah siapa, Mokuba yang sibuk dengan laptop dan perlengkapan lainnya untuk melacak keberadaan kakaknya. Dan Honda yang sibuk berdiskusi dengan para penyelidik di bawah. Hanya Jounochi dan Ryuji yang cukup menganggur untuk merawat Yugi yang tertidur di atas ranjang.
Keadaan terasa sangat tenang di dalam ruangan sampai sebuah teriakan menggelegar di dalam rumah, membuat Jounochi dan Ryuji terlompat kaget.
"YOU BASTARD!! PIECE OF SHIT!! I DON'T CARE ABOUT IT! MY FRIENDS ARE IN DEATH OR ALIVE SITUATION AND YOU'RE DEMANDED ME TO BACK AND NOT LET ME TO TAKE DAYS OFF!! YOU'RE F*CKING DEVIL!!"
Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing......
"A-apa barusan itu?" tanya Jounochi dan Ryuji bersamaan. Mata mereka lebar karena kaget.
"IF I HEAR YOU BLABBER OR WHATEVER YOU WANT TO DO, I SWEAR TO THE GOD THAT I'LL F*CKING CASTRATE YOU BEFORE I F*CKING DISMEMBER YOUR BODY AND F*CKING SCATTER THE PIECES TO THE F*CKING PIRANHA'S RIVER!!! YOU F*CKING HEAR THAT!!? I'M F*CKING SERIOUS!!!"
Wow... banyak letter "F" dalam satu ucapan...
"SO? DISCHARGE ME!! I DON'T CARE! YOU SELFISH BASTARD! GOODBYE! NOT-TO-SEE YOU SOON!!"
BRAK!!
Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing.......
BANG!!
Pintu kamar terbuka keras membuat Jounochi dan Ryuji melompat kaget dan saling berpelukan karena takut. Anzu masuk dengan tatapan liar dan geraman bak singa yang baru saja kehilangan mangsanya. Dia menutup pintu sama kerasnya ketika dia membukanya.
Kasihan... sang ratu marah, pintu yang tak bersalah pun menjadi korban keganasannya...
"SHUT THE HELL UP, NARATOR! OR I'LL CHOKE YOU WITH YOUR SHIT D*CK!!"
Se-sereeeeem.....
"A-Anzu..." panggil Jounochi, siap mempertaruhkan nyawanya yang – sama sekali tidak – berharga untuk menghentikan sang ratu yang – sama sekali tidak – cantik. (Narator dibacok dan dibantai ramai-ramai oleh orang yang disebut)
"WHAT!!" bentak Anzu furious. (Gara-gara narator ngomong hal tak berguna yang membuat orang marah)
Jounochi menelan ludah takut, dia lalu menarik Ryuji dan mendorongnya ke hadapan Anzu yang sudah menatapnya dengan tatapan singa kelaparan.
"Apa-apaan, sih, Jou?! Kamu aja yang bilang!" kata Ryuji sambil mendorong Jounochi ke depan.
"Kalian mau bilang apa, heh?" tanya Anzu, aura gelap menyebar dari tubuhnya ke seluruh ruangan.
Suit... salut. Dia bisa jadi Zork ke tiga.
Melawan diri dari ketakutan, dan berusaha agar tidak menggertakkan gigi, Jounochi mengutarakan apa yang akan diucapkan. "Anzu... bisa pelankan suaramu?"
"Memangnya kenapa, hm?"
"!" kata Jounochi dalam satu tarikan nafas.
(translete : "Soalnya ada Yugi sedang tidur tolong jangan berisik!")
Anzu menyadari apa yang telah dia lakukan, dan langsung bungkam. Dia pelan-pelan melirik ke arah Yugi dan menghela nafas lega melihat Yugi masih tidak sadarkan diri. Saat dia baru akan mengomeli dua kawannya lagi, suara erangan terdengar membuat mereka bertiga tersentak kaget dan berkeringat dingin.
Mereka memeriksa Yugi yang masih terbaring di atas ranjang. Yugi bergerak-gerak dalam tidurnya seperti berontak untuk melepaskan diri dari sesuatu. Mereka terkesiap kaget tatkala melihat sebuah garis yang perlahan berubah menjadi sebuah luka menganga muncul di pipi kanan Yugi, diikuti yang lainnya di leher, tangan, kaki, seluruh tubuhnya. Darah mengalir dari luka-luka tersebut.
"Ambil handuk, perban dan air, cepat!" perintah Anzu. Jounochi dan Ryuji segera keluar untuk mengambil barang yang diperlukan. Malik masuk ke dalam kamar dengan alis terangkat melihat Jou dan Ryu berlari panik.
"Ada apa?" tanyanya heran. "Aku barusan menelepon Kak Isis. Dia akan datang be-" Ucapannya terputus ketika melihat keadaan Yugi yang penuh luka. Dia segera berlari ke arah Anzu yang berusaha membersihkan darah di tubuh Yugi. "Apa yang terjadi?!" serunya terkejut.
"Aku tidak tahu..." gumam Anzu, masih sibuk berkutat membersihkan tangan Yugi. "Tiba-tiba luka-luka ini muncul di sekujur tubuhnya dan terus mengalirkan darah tanpa henti."
Pintu terbanting terbuka. Jounochi, diikuti Ryuji, Honda, dan Mokuba, masuk sambil membawa barang-barang yang diperlukan. Honda dan Mokuba terkesiap kaget melihat Yugi.
"Daripada kalian bengong kayak ikan kelaparan gitu, mending bersihkan bagian bawah Yugi." omel Anzu.
Semuanya langsung cepat-cepat mengambil handuk dan membantu Anzu membersihkan tubuh Yugi.
-
"Begitu..." gumam Isis, tangannya yang memegang waslap berulangkali menghapus keringat dari dahi Yugi.
Anzu dan yang lainnya mengangguk.
Ryo Bakura, yang baru datang dengan Isis dari Mesir, mengalihkan pandangannya ke arah Yugi. "Tapi, kenapa dia ditempatkan di sini? Tidakkah ini sedikit... apa, ya... ini, 'kan, kamar almarhum kakeknya."
"Apa boleh buat." Anzu menimpali. "Kami terpaksa memindahkannya kemari karena ranjang di kamarnya penuh darah."
"Eh?"
Jounochi menatap dua orang yang baru datang itu dengan serius. "Kalian tidak tahu betapa mengerikannya semalam. Luka-luka di tubuh Yugi tidak berhenti mengeluarkan darah sampai pagi ini. Walau kami berusaha menghentikan pendarahan dengan cara apapun, tetap tidak bisa."
Mata Isis dan Ryo melebar terkejut karena mendengar hal itu.
"Apa kau tahu ada apa dengan Yugi, kak?" tanya Malik. Isis menatap adiknya sesaat sebelum menghela nafas.
"Sepertinya..." mulai Isis. "Pharaoh terluka parah sekarang."
Ucapan Isis mendapatkan enam pasang tatapan blank.
"Apa maksudmu?"
"Aku membaca sesuatu mengenai hal ini di kediaman para penjaga makam." lanjut Isis, dia menoleh ke arah Ryo dan mengangguk. "Di dalam buku itu tertulis bahwa "bila jiwa seorang pharaoh bangkit kembali dari alam barzah dan melakukan ritual dengan jiwanya yang lain, maka kedua jiwa tersebut akan menyatu dan saling berhubungan." Mungkin yang dimaksud adalah jiwa pharaoh dan jiwa orang yang menjadi vesselnya bisa saling merasakan satu sama lain."
Ryo melanjutkan penjelasan Isis. "Yang berarti setelah suatu ritual dilakukan, orang yang menjadi vessel bisa merasakan apa yang terjadi pada jiwa pharaoh, dan begitu pun sebaliknya."
Malik menautkan alis. "Hm..."
"Lalu, ritual yang dimaksud?" tanya Ryuji. Isis dan Ryo menghela nafas.
"Itulah... kami tidak tahu ritual apa yang dimaksud dalam buku itu."
Entah telah berapa lama waktu berlalu, berjam-jam? Berhari-hari? Berminggu-minggu? Dia tidak tahu. Dia sudah sangat lelah. Pikirannya terhenti, begitupun sistem dalam tubuhnya. Dia tidak bisa melakukan apapun lagi.
Sampai saat ini, Kaiba telah berulang kali menyiksa dan memperkosanya. Dia benar-benar hancur. Baik itu secara fisik maupun mental. Tetapi yang paling dirasa hancur adalah hatinya. Dia tidak bisa menangis lagi, air matanya telah kering. Tenggorokannya sakit dan lelah karena telah digunakan untuk menjerit gara-gara kekejaman reinkarnasi pendetanya itu.
Dia hanya bisa pasrah menunggu Kaiba kembali dengan siksaan lain.
Seperti keajaiban, pintu berderit terbuka, dan terlihat Kaiba berjalan masuk sambil membawa sesuatu.
"Ohayo, Atem... apa kau tidur nyenyak semalam?" tanya Kaiba tersenyum.
Tidak ada jawaban dari Atem. Dia masih tetap menatap dinding, tubuhnya terduduk lemas di sandaran ranjang dengan tangan terikat di atas kepalanya dengan rantai yang menggantung.
Kaiba yang tidak puas karena tidak mendengar jawaban dari Atem, mencengkeram rambut Atem dan menariknya mendekat ke arah wajahnya.
"Kau harus menjawab semua pertanyaanku, Atem. Sekarang..." Lelaki itu menarik lebih keras, memaksa Atem duduk tegak. "Ini waktunya bersenang-senang, Atem-chan..."
Dalam sekejap, rantai yang mengikat tubuh gadis itu terlepas. Kaiba menjatuhkan sesuatu di pangkuan Atem.
"Lepas bajumu. SEKARANG. Tepat di sini." perintah Kaiba sementara Atem ternganga melihat pakaian di pangkuannya.
Baju pelayan... kostum terusan rok yang panjangnya bahkan nyaris tidak sampai pertengahan pahanya.
"...Kaiba-"
"DIAM... kau tahu apa yang harus kau katakan sekarang, kan...?" geram Kaiba, tatapannya menusuk membuat gadis itu menjadi tegang, pegangannya di kostum itu mengetat.
"...Katakan... "Ya, Master"?"
Kaiba terkekeh dingin. "Kau hancur, kan? Manisnya. Aku tak pernah berpikir akan semudah itu. Tapi ya, itu benar, Atem. Sekarang lepas bajumu."
Atem perlahan mengangguk, dan mengernyit sementara melakukan hal itu. dia bangkit berdiri dari ranjang, melepas pakaiannya yang kotor karena tanah dan darah, dan menggantinya dengan kostum maid itu.
"Jauh lebih baik." kata Kaiba tersenyum bak Lucifer. Dia dengan lembut memegang dagu Atem. "Sekarang kau siap melayaniku, pelayan kecilku." bisik Kaiba panas, membuat Atem terkesiap.
"Ah, Atem. Apa kau... merasakan gairah saat kau mendengar itu? Ketika mendengar bahwa kau harus melayaniku? Apa itu keinginanmu di dasar hati?" bisiknya lagi, kali ini dia meniup telinga Atem.
"Ti-tidak...?" Atem tidak tahu harus menjawab apa tanpa harus dilukai atau bahkan... disiksa lagi.
"Tsk tsk... jangan takut, Atem, aku tak akan melukaimu karena jawabanmu." Kaiba mendekatkan wajahnya sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Kau akan melayaniku atas keinginanmu sendiri. Aku akan buat yakin hal itu."
Lelaki itu duduk di kursi dan merentangkan kakinya ke arah Atem. "Sekarang bersihkan kakiku."
Atem terdiam sesaat sebelum melepas sepatu yang dikenakan Kaiba, mengambil lap yang telah dibasahi, dan mengelap kaki Kaiba.
"...Jawab perintah, Atem. SEKARANG. Budak selalu menjawab masternya." kata lelaki itu sambi memberi tatapan penuh kebencian.
"...Ya, Master Seto."
Kaiba mengulurkan tangan, mengelus rambut hitam milik gadis itu seperti mengelus peliharaan.
"Sekarang kaki yang lain, Atem." perintah Kaiba. Atem melepas sepatu dan mulai mengelap kakinya.
"...Ya, Master."
'Master... kenapa kau ingin aku memanggilmu itu...? Kenapa kau jadi begini, Kaiba? Kau sudah kuanggap sahabatku, kenapa kau melakukan semua ini padaku? Kenapa?'
"Hm... kau semakin pintar memanggilku master, Atem."
'Ya, Atem... kau semakin pintar... dan kau cepat tanggap. Jadi, bisakah kau lihat apa yang kulakukan padamu? Merendahkanmu? Kau harus sadar, kau tidak bodoh, kan? Hanya, kau tidak tahu takdirmu, dan aku bertaruh itu membuatmu takut... Bagus. Kau harus takut.'
'Apa-apaan kau!! Kenapa kau melakukan ini!! Atem!! Aku tahu kau lebih kuat dari ini, kenapa kau menuruti semua perintahnya!!? Dan kau! Keluar dari tubuhku, brengsek!!'
'Hm? Ooh... kepribadian utama telah sadar rupanya. Percuma saja, dia tak akan mendengarmu. Kau melewatkan banyak keasyikan kami selama beberapa hari ini.'
'Apa maksudmu dengan 'keasyikan'?! Dan siapa kau! Seenaknya mengambil alih tubuhku!'
'Kau ingin tahu? Baiklah. Tapi asal kau tahu, kau tak akan bisa menghentikanku.'
'Apa yang-!!'
'Selamat menikmati tontonannya, Seto Kaiba.'
Tubuh Kaiba mulai bergerak. Atem mengadah, menghentikan kegiatannya, mengerjap kaget.
"Kaiba? Apa kau baik-baik sa-"
BUK!
Kaki Kaiba menendang perut Atem, membuat gadis itu terpental ke belakang.
'Apa yang kau lakukan!!'
'Kau ingin tahu, kan, pribadi utama? Jadi kuperlihatkan padamu.'
"Atem-chan terlihat bermasalah... apa ada yang mengganggu pelayan kecilku?"
Tidak ada jawaban dari Atem.
Kaiba menautkan alisnya, dia berjalan mendekati Atem dan menarik tangan Atem kemudian menjilat jemarinya. Mata gelap bertumbukan dengan mata merah.
"Kau tidak mau mengatakannya, ya, Atem? Baiklah." Kaiba membuka mulutnya dan menggigit tangan Atem, menembus kulitnya, membuat gadis itu menjerit kesakitan.
"H-Hentikan! Sakit! Lepaskan!" Gadis Mesir itu mulai gemetar, dan mencoba menarik tangannya perlahan, tetapi itu hanya membuat taring Kaiba semakin menusuk kulitnya lebih dalam.
"Tak pernah..." gumam Kaiba, masih mengigit tangan Atem. "Aku tak akan pernah melepaskan Atemku..." Dan gigitan semakin keras, Atem semakin menjerit.
"Hentikan! Kumohon!!" Air mata mulai mengalir di pipi Atem, dan gadis itu akhirnya lemas. Dia jatuh berlutut dan mengernyit karena serpihan kaca yang tercecer di lantai menancap di kakinya.
'CUKUP!! Hentikan!! Kau gila!! Kau tahu yang ada di hadapanmu ini perempuan, kan!!'
'Wah, wah... sepertinya kepribadian utama menjadi semakin lembut. Pasti ini karena sesuatu... hm... atau tepatnya seseorang, ya...'
'Ap-!'
'Hm... sepertinya lelaki pirang itu menarik. Apa kuculik saja, ya?'
'Jangan libatkan dia!!'
'Ups! Waktu ngobrol telah habis, sekarang saatnya berbuat!'
'Ka-!'
Kaiba mengangkat wajahnya angkuh dengan senyum dingin di bibirnya. Dia mencengkeram rambut Atem dan menarik gadis itu hingga menatapnya.
"Nah... sepertinya kau suka sekali menjerit, ya? Kalau begitu, kau boleh menjerit sesukamu kali ini. He he..."
Mata merah melebar. Sebelum gadis itu bisa melakukan sesuatu, Kaiba mengangkatnya dan memanggulnya di bahu entah ke mana.
"Kau akan menikmatinya, Atem-chan. Aku mempersiapkan ruangan ini hanya untuk kita."
Tempat tujuan mereka agak jauh dari kamar sebelumnya, tapi akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu baja dengan banyak cap telapak tangan yang tergambar dengan darah menghiasi pintunya.
"Kita sampai!" seru Kaiba dan menendang pintu agar terbuka. Atem memiringkan kepalanya dan melihat...
Ruangan yang dipenuhi dengan bondage toys dan semacamnya, membuatnya terkesiap dan mulutnya menganga syok.
Berbagai macam borgol. Metal, plastik, bahkan ada yang berbulu, menggantung di dinding. Dua meja di ruangan itu; yang satu terbuat dari kayu, dan yang satunya lagi terbuat dari metal yang ditempeli sesuatu-entah-apa-itu yang terbuat dari besi. Cambuk, tali, dan semacamnya menggantung di paku dekat pintu. Ada salib kayu besar di dinding sebelah kanan. Di dekatnya ada lemari yang sudah dihiasi jaring laba-laba, dipenuhi oleh banyak botol berisi cairan berbagai macam warna, kemungkinan itu obat dan racun. Bahkan ada sepasang borgol dengan rantai panjang yang menggantung dari atap.
"Lihat, Atem-chan? Ini jauh lebih asyik, dan aku masih punya banyak yang lainnya di dalam kardus." Kaiba berjalan menuju tempat di mana borgol metal berada. "Jangan khawatir, semuanya lengkap. Kita mulai saja, ok?"
"To-tolong, tidak."
"Maksudmu, tolong, YA!" Kaiba mendorong Atem ke dinding dan memborgol kedua tangan Atem. Bagaikan binatang kelaparan, dia merobek-robek pakaian Atem.
"Oh... kita harus menyingkirkan pecahan kaca di kakimu ini, ya? Kita tidak mau kau mati karena infeksi sekarang, kan?" kata Kaiba sembari tangannya menyusuri kaki Atem yang tertancap serpihan kaca.
Mata Atem melebar. "K-kau tidak bermaksud untuk- AH!! HENTIKAN!!" Ucapan Atem terputus karena Kaiba mencabut paksa kaca-kaca dari kedua kaki Atem.
"Nah! selesai!" Kaiba tersenyum ketika dia mencabut serpihan kaca terakhir dari lutut Atem, dan sekarang darah mengalir deras dari kedua kaki Atem. Air mata mulai jatuh dari gadis itu.
"Aww... apa aku membuat Atem-chan menangis? Buruknya. SEMANGAT!!"
'Yugi... aibou... kau di mana? Kumohon aibou... tolong aku... aibou... mou hitori no ore...
...YUGI!!!!'
"ATEM!!" teriak Yugi, tubuhnya terbangun duduk. Matanya lebar, nafasnya berat, tubuhnya gemetar. Dia berusaha menenangkan tubuhnya yang basah karena keringat dan darah.
"Yugi!" sahut Anzu yang terlompat terkejut saat membersihkan tubuh Yugi yang berdarah lagi.
Yugi melihat sekeliling. Teman-temannya memenuhi pandangannya. Kemudian dia tersentak menyadari sesuatu.
"ATEM!! DIA-!"
Jounochi menahan tubuh Yugi yang mau bangkit berdiri. "Yugi, tenang! Kau tidak boleh berdiri dulu! Kau terluka!"
"TAPI, MOU HITORI NO BOKU-!! Tunggu. Apa maksudmu terluka?"
Yugi menunduk dan menyadari bahwa tubuhnya penuh balutan perban yang perlahan ternodai darah. Dia mengangkat wajahnya dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa tubuhku penuh perban?"
"Kami juga tidak tahu, Yugi." Ryuji menjawab. "Tiba-tiba saja luka-luka muncul dari tubuhmu dan terus mengeluarkan darah saat kau pingsan."
Yugi menatap teman-temannya. "Sudah berapa lama aku pingsan?"
"Dua minggu empat hari."
Mata Yugi melebar. "Dua minggu?!" sahutnya terkejut. Teman-temannya mengangguk.
"Yugi..." panggil Isis. "Menurut perkiraan kami, luka-lukamu ini mungkin karena sesuatu terjadi pada pharaoh."
Yugi terdiam sesaat sebelum dia tersentak dan mencengkeram bahu Isis. "ISIS! TOLONG! ATEM BISA MATI!!"
Isis mengernyit karena cengkeraman kuat Yugi. "Apa maksudmu?"
Jounochi dan Ryo mencekal lengan Yugi dan menariknya hingga duduk di ranjang. "Yugi! Tenangkan dirimu dan katakan apa maksudmu!" kata Ryo.
Yugi menarik nafas dan menutup matanya. Setelah beberapa menit, dia berhasil menenangkan diri.
"Aku tidak yakin," mulainya. "Aku mendengarnya menjerit, berteriak meminta pertolonganku. Aku melihatnya disiksa, dipukuli, dan..." Yugi menelan ludah. "...diperkosa."
Hal ini membuat yang lainnya terkesiap kaget.
"Aku melihat semua itu dan tidak bisa melakukan apapun. Aku ingin menolongnya, tetapi tanganku tembus. Aku tak bisa menyentuh apapun."
"Apa kau melihat wajah pelakunya?" tanya Malik.
Yugi terdiam. "...Tidak."
"A-apa kakak ada di sana?" tanya Mokuba khawatir. Yugi terdiam menatapnya sebelum menggeleng.
"Entahlah..." jawabnya.
Isis dengan lembut memegang tangannya. "Apa kau tahu di mana tempatnya?"
Yugi menunduk menatap tangannya yang dipegang Isis, alisnya menaut serius. "Aku tidak tahu di mana itu, tapi yang kutahu itu... sebuah menara dari besi dan baja... di atas pulau kecil dikelilingi tebing dan laut."
"Apa ada petunjuk yang lebih spesifik lagi?"
"Hm..." Yugi memejamkan mata mencoba mengingat. "Menara itu berbentuk segilima. Tanah disekelilingnya tertutupi potongan dan lempengan besi, metal, dan yang lainnya. Dan... agak jauh dari tempat itu... ada pulau kecil dengan sebuah bangunan yang sepertinya adalah sebuah penjara..."
Mokuba terbelalak mendengarnya. "AVARICE!!" sahutnya terkejut.
Semuanya menatap Mokuba terkejut.
"Avarice?"
"Apa ada patung besi yang berbentuk seperti sabit besar di luar?" tanya Mokuba. Yugi terdiam sejenak sebelum mengangguk. Mata Mokuba semakin lebar sebelum mengambil ponselnya.
"Isono! Cepat ke tempat Yugi Mutou!"
Dia mematikan ponselnya dan membuka laptopnya sebelum mulai mengetikkan sesuatu di keyboard.
"Kau tahu di mana itu?" tanya Anzu. Mokuba tersenyum, matanya menjadi cerah sebelum kembali serius.
"Ya. Menara itu salah satu dari menara yang dibangun oleh Genzaburo Kaiba. Kami berencana menghancurkannya bulan depan. Tak kusangka pelakunya akan menggunakan gedung milik kami."
Suara gemuruh helikopter menggema. Honda dan Ryuji melongok ke luar jendela dan ternganga.
"Sepertinya mereka telah datang." Mokuba menyeringai, menutup laptopnya dan berjalan menuju beranda kamar. Dia meraih tangga tali dan berbalik. "Maaf, Yugi. Tapi di sini tidak ada landasan untuk heli, apa kau sanggup memanjat tangga?"
Yugi, yang tengah memakai kemeja, tersenyum tertantang. "Tentu saja."
Mokuba membalas senyumannya. "Bagus." Dan dia menaiki tangga tersebut. Yugi memanjat berikutnya.
Honda melongo melihat itu. "Jadi, kita harus memanjat?"
"Tentu saja!" seru Jounochi sambil melompat ke arah tangga dan berdiri di tangga sambil berpengangan pada anak tangga yang terbuat dari tali tersebut. Angin kencang membuat tangga itu bergoyang. Dia menoleh ke arah Honda dan menyeringai. "Kenapa, Honda? Takut?"
Honda yang merasa tertantang langsung memegang ujung tangga dan memanjatnya. "Enak saja! Siapa yang takut!!"
Ryuji bersiul kagum sebelum meraih tangga dan memanjatnya. Anzu di bawahnya.
"Syukur aku pakai celana sekarang." gumam gadis itu.
Isis tersenyum melihat tingkah kekanakan mereka. Walau mereka telah terhitung dewasa, mereka masih terlihat seperti masih SMA.
"Lady's first." kata Ryo dengan gaya bak gentleman London, Malik menutup jendela rumah Yugi dan menguncinya. Isis tertawa kecil sebelum memanjat tangga.
Malik dan Ryo menunggu hingga Isis masuk ke dalam helikopter. Mereka saling bertatapan sebelum cengiran terlihat di wajah mereka dan melompat ke arah tangga bersamaan.
"Yang sampai ke helikopter duluan yang menang!" seru Malik. Ryo mendengus.
"Gimana bisa balapan kalau tangganya cuma muat buat satu orang."
"Boleh pakai kekerasan!"
"Emang kau mau mati?"
Mereka bersitatap dan menyeringai.
"YOU'RE ON!!"
-
"Apa-apaan, sih, kalian berdua ini?" tanya Isis, kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya yang tajam mengarah ke arah Malik dan Ryo yang terduduk lemas sambil terengah-engah di lantai helikopter. "Kalian gila atau apa! Bisa-bisanya saling pukul di tangga waktu helikopternya jalan. Kalian mau mati?! Ini bukan film, bodoh!"
Anjrit... Isis makin hari makin kayak ibu-ibu...
"Itu salah dia!" sahut Malik dan Ryo bersamaan sambil saling tunjuk. Isis memejamkan matanya kesal.
"Ah! Sudahlah! Kalau kalian lakukan ini lagi, akan kupastikan aku yang mendorong kalian jatuh! Mengerti?!"
"......."
"Jawab! Mengerti?!" bentak Isis, membuat Malik dan Ryo terlompat kaget sekaligus takut. Mereka berdua langsung berdiri dan hormat.
"Siap, ma'am!!"
Mokuba bersembunyi di belakang Jounochi. "Isis sereem..."
Isis berbalik sambil mendengus. Tanpa sepengetahuannya, Malik dan Ryo menjulurkan lidah dibelakangnya.
Dia tahu sekarang sudah pagi karena kehangatan cahaya matahari menyapu kulitnya yang terlumuri darah sementara tubuhnya menggantung di salib kayu besar. Kedua tangannya yang terentang terikat di salib kayu bagaikan Yesus yang tersalib oleh orang-orang Roma.
Atem tidak berani bergerak, takut dia akan merasakan sakit yang luar biasa sekali lagi. Jadi, dia hanya diam bergelatung di sana, menerawang ke arah dinding. Tatapannya mati... tidak ada apapun di dalam mata itu kecuali kematian. Benar-benar pemandangan yang mengenaskan.
Dia mengangkat kepalanya, mengadah, menatap rantai yang menggantung di atap.
Dia mengetahuinya...
Walau Dewa Ra mengatakan bahwa dia diberi waktu setahun...
Dia yakin bahwa tidak akan sampai 'syarat waktu' yang diberikan, karena...
Gadis itu telah merasakannya...
Kematiannya telah dekat...
Pintu terbuka keras tak lama kemudian, menyadarkan Atem itu dari lamunannya. Dia menoleh perlahan dan melihat Kaiba masuk dengan senyum mengerikan di wajahnya. Tangannya membawa cambuk dan kotak kecil yang entah apa isinya.
Dan dia tahu apa yang akan terjadi padanya kemudian...
"Pagi, Atem-chan... maaf tiba-tiba menghilang. Aku punya urusan yang harus ditangani, tapi tidak ada yang harus dikhawatirkan. Kau pasti tidak sabar menungguku, kan?"
Tidak ada jawaban dari Atem.
'Kau... apa yang akan kau lakukan padanya?!'
'Kenapa kau tidak diam saja dan menonton, pribadi utama?'
'Jangan panggil aku 'pribadi utama'!! Kau si bangsat yang merasukiku bukan kepribadian lainku!!'
'Sudah... menyingkir! Jangan menggangguku lagi! Lihat dengan tenang di dalam sana!!'
CTASS!!
"Kenapa diam saja, Atem! Bicara! Lawan aku!!"
Atem tidak menjawab, membuat Kaiba semakin murka. Cambukan demi cambukan menyerang tubuh gadis itu. Atem hanya diam menatap kegilaan orang yang seharusnya adalah sahabatnya.
Tubuhnya telah kaku... dia tidak bisa merasakan apapun. Dia sama sekali tidak bereaksi atas siksaan-siksaan dari Kaiba, dan akhirnya Kaiba melakukan sesuatu yang drastis.
"Begitu... kau masih tidak mau bicara. Baiklah." Kaiba membuka kotak kecil di tangannya dan mengambil sesuatu. Dia menatap Atem dengan tatapan dingin dan psiko. "Kau yang memintanya..."
Kaiba menusukkan paku ke wajah Atem sementara lelaki itu menggigit kasar leher gadis di hadapannya. Dia menusukkan paku demi paku ke tubuh yang tak berdaya itu bagaikan boneka santet. Mulut lelaki itu menggigiti tubuh Atem sementara dia memasuki gadis itu dengan kasar dan brutal.
Masih tidak ada reaksi dari gadis itu. Atem hanya menatap kosong ke arah dinding walau Kaiba menyiksa dan memperkosanya lagi, dan itu membuat Kaiba tidak puas. Dia mengambil pisau yang tergeletak di atas meja di sampingnya dan menusukkannya ke dada kiri Atem.
Atem merasakan rasa sakit yang luar biasa. Dia mengernyit dan melihat pisau yang ditusukkan ke dada kirinya. Kaiba yang menyadari hal ini menyeringai, lalu dia menarik pisau itu turun di tubuh Atem, membuat sebuah luka besar menganga dari dada kiri ke sisi perut gadis itu. Atem menjerit kesakitan karenanya.
Dia menusukkan pisau itu berkali-kali ke tubuh Atem tanpa ampun, dan di saat dia memutuskan untuk menyelesaikannya, dia menusukkan pisau tersebut ke dada kirinya lagi dekat jantungnya.
Tiba-tiba suara helikopter menggema di dalam ruangan. Kaiba terbelalak kaget dan merasakan angin berhembus lebih kencang dari biasanya.
Dia mengeluarkan dirinya sendiri dari tubuh Atem, dan merapikan dirinya sendiri ketika suara tembakan terdengar di telinganya. Dia menggeram dan sebelum dia bisa melakukan sesuatu, pintu didobrak.
Ekspresi terkejut dan ngeri menyambut pandangannya, dan dia menikmati hal itu.
Anzu melihat sekeliling ruangan dengan mata lebar. Dan matanya semakin lebar tatkala dia melihat sesosok tubuh telanjang berlumuran darah menggantung di salib kayu besar.
"ATEM!!" jeritnya terkejut. Tanpa pikir panjang, dia langsung berlari ke arah Atem, tetapi sebuah pisau melesat ke arahnya. Beruntungnya, Yugi menarik tubuhnya dan pisau tersebut menancap di peti kayu.
Mereka menoleh ke arah Kaiba yang menyeringai. Mokuba dan Jounochi menatapnya dengan pandangan tak percaya dan terkhianati. Yugi menatap tajam ke arah Kaiba, geraman amarah terdengar dari tenggorokannya.
Anzu, Isis, Malik, dan Ryo bergegas berlari ke arah Atem. Mereka melepaskan ikatan yang mengikat pergelangan tangan gadis itu dan menurunkan tubuhnya perlahan. Mereka terkesiap kaget dan ngeri melihat sebuah luka besar menganga di sisi tubuh gadis itu, pisau masih menancap di perut, ditambah paku-paku dan benda tajam lainnya menancap bagaikan boneka.
"Ke-kenapa..." Mokuba tak bisa meneruskan ucapannya. Dia terlalu syok. Kaiba menyeringai, menikmati ekspresi terkhianati dari teman-temannya, terutama dari adiknya.
Jounochi akhirnya tak bisa menahannya lagi. Dia berlari ke arah kekasihnya itu dan menonjoknya sekeras mungkin, membuat Kaiba terpelanting ke belakang. Lelaki pirang itu lalu menjegalnya dan menonjoknya berkali-kali sampai Kaiba menangkap tangannya dan melemparnya sampai menghantam dinding.
Honda dan Ryuji menyerang Kaiba, disusul Malik dan Ryo yang penuh amarah. Kaiba perlahan berdiri dan sebelum empat pria itu bisa menyentuhnya, sesuatu membuat mereka terpental dari direktur perusahaan itu.
Kekehan gelap terdengar dari mulut Kaiba sampai kekehan tersebut menjadi tawa yang membuat semua orang di sana merinding. Aura kegelapan menyeruak dari tubuhnya. Yugi terbelalak terkejut melihat mata Kaiba yang gelap perlahan memiliki garis seperti mata kucing dan berwarna merah darah.
Aura kegelapan yang mengelilingi tubuh Kaiba perlahan membentuk beberapa bentuk seperti serigala dan menyerang Honda, Ryuji, Malik, dan Ryo. Yugi berlari ke arah Kaiba untuk menyerangnya, tetapi sesuatu membuat tubuhnya terpental ke dinding.
Mokuba, yang melihat semua teman-temannya diserang, tanpa pikir panjang mengangkat pistol dan menembaknya ke arah kakaknya. Dia tidak peduli lagi, ini... bukanlah kakaknya.
Isis dan Anzu hanya terpaku melihat aura gelap yang menyerang teman-teman mereka. Sebuah erangan menyadarkan mereka dari keterpakuan. Mereka segera menoleh ke arah suara dan melihat Atem mengernyit sebelum membuka matanya perlahan.
"Pharaoh, kau bisa mendengarku?" tanya Isis khawatir. Atem menatap mereka sesaat dengan mata berat sebelum melebar karena terkejut.
"Isis... Anzu..." gumam Atem. Isis dan Anzu mengangguk, dan mereka kembali panik ketika Atem mengerang sakit. "Ka-kali... an... da... tang...?"
"Ya, Atem. Kami telah datang." Anzu menjawab. Atem tersenyum.
"Syu... kur... ugh!" Atem mengerang sakit. Dia melirik ke arah kanannya dan matanya melebar saat melihat teman-temannya diserang oleh aura berwujud serigala. "Ka... iba... dia..."
"Kami sendiri tidak tahu bagaimana dia melakukan hal itu." Anzu mengerut serius, tangannya menggenggam tangan Atem sementara kedua matanya menyaksikan pertarungan teman-temannya. Isis berusaha semampunya untuk mengobati Atem dengan peralatan yang dia bawa dan ilmu sihirnya, karena mustahil membawa Atem keluar menuju helikopter dengan aura kegelapan menyegel pintunya.
"Be... gitu..." Atem merasakan paru-parunya sulit untuk menampung udara. "Jadi... itu a-ala... san... diba-balik... tatapan... mata... nya..."
Tangan Isis terhenti, Anzu menoleh ke arah Atem, mata mereka lebar. "Apa maksud- KYAAAA!!!"
Isis dan Anzu terlempar ke belakang oleh aura kegelapan Kaiba. Atem terbelalak melihat kedua teman perempuannya menghantam dinding dan pingsan.
"ISIS!! ANZU!!" teriak para lelaki. Honda, Malik, dan Ryo berlari ke arah Isis dan Anzu, tetapi terhempas oleh aura kegelapan.
Kaiba berjalan ke arah Atem, aura kegelapan semakin pekat mengelilingi tubuhnya, matanya semakin merah menatap gadis yang bahkan sulit untuk membuka matanya. Yugi yang mengetahui ke mana Kaiba berjalan, langsung berlari ke arah Atem dan berdiri di depan gadis itu untuk melindunginya. Tetapi, itu tidak menghentikan lelaki berambut cokelat itu untuk mendekati Atem. Kaiba menyeringai, dia mengangkat sebelah tangannya, aura kegelapan mengelilingi tangan Kaiba, mengalir dan berputar di atas telapak tangan lelaki itu sampai menjadi bola yang dikelilingi petir hitam.
Mata Atem melebar melihat bola hitam di tangan Kaiba, dia membuka mulutnya untuk memperingati Yugi. Tetapi, terlambat. Kaiba melempar bola itu ke arah Yugi. Bola itu masuk ke tubuh Yugi dan menyebar ke seluruh tubuhnya, luka-luka di balik perban yang membalut tubuhnya terbuka, darah merembes deras dari luka-luka yang diderita raja game itu.
"Yu... gi...!!" Atem mengernyit melihat Yugi ambruk di hadapannya. Kaiba menendang tubuh lelaki yang berlumuran darah itu dan berdiri di hadapan Atem. Wajahnya angkuh, lingkaran hitam muncul mengelilingi pupil merah Kaiba, seringai mengerikan terlihat di bibirnya.
Lelaki itu mengulurkan tangannya dan menarik rambut Atem sampai tatapan gadis itu sejajar dengan tatapannya. Atem menjerit saat Kaiba mendorongnya ke dinding dengan kasar, matanya yang terpejam perlahan terbuka walau hanya setengah dan melihat wajah Kaiba hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Tak kusangka setelah aku melakukan semua itu kau masih tidak mengeluarkannya, Atem-chan."
Mata Atem dan nafasnya semakin berat. '...mengeluarkan... apa...?'
"A...pa mak... sud... mu...?"
Kaiba mencengkeram tangan kiri Atem dan memelintirnya. Atem menjerit kesakitan sementara lelaki itu tertawa keras. "Jangan bercanda, Atemku sayang! Kau tahu pasti apa maksudku!!"
"ATEM!!!" teriak Yugi dan yang lainnya, mereka berusaha untuk bangkit.
"Lepaskan dia, Kaiba!!" teriak Malik yang kemudian diserang oleh serigala kegelapan.
Kaiba menoleh ke arah mereka, bibirnya menyunggingkan seringai gelap dan menakutkan. Dia menarik tubuh Atem yang lemas ke arah tubuhnya.
"Ke-kenapa kau lakukan ini?!" teriak Jounochi, hatinya terasa sakit. Kaiba hanya tertawa.
"Kenapa?!" teriak Kaiba. "Hahaha!! Kenapa, kau bilang?! Sudah pasti, kan?!" Dia mengangkat tangannya seakan menggenggam sesuatu. "Kekuatan!! Itulah yang kuinginkan!!"
Tawa jahat Kaiba menggema di seluruh ruangan. Semuanya menggeram penuh amarah.
"Apa katamu?! Hanya karena kekuatan kau sampai membuat Atem seperti itu!!?" bentak Anzu marah, dia bisa merasakan darahnya mendidih.
Kaiba menyeringai, dia mengangkat tangannya dan mengelus sebelah pipi Atem sementara bibirnya mencium yang sebelahnya lagi, tatapannya yang dingin masih mengarah ke teman-temannya.
"Ya." Bibir Kaiba perlahan menyusuri pipi Atem. "Rasanya sangat nikmat melihat ekspresinya yang penuh ketakutan dan keputusasaan sementara aku memukulinya, menendangnya, menusuknya, merobek-robeknya!! Mendengar jeritannya sementara aku memperkosanya lagi dan lagi, menghancurkannya lagi dan lagi!!"
Semuanya mengernyit mendengar tawa puas Kaiba. Sebelum mereka bisa melakukan sesuatu, aura kegelapan mengelilingi tubuh mereka seperti ular. Mereka berusaha melepaskan diri, tetapi tak bisa.
Kaiba tersenyum licik, "Selesai sudah." Dia mengangkat tangannya yang bebas tinggi-tinggi. "Selamat tinggal."
Di saat dia menurunkan tangannya, aura kegelapan yang mengelilingi mereka semakin mengetat dan menyebar ke seluruh tubuh mereka. Mereka menjerit, luka-luka mulai bermunculan di tubuh mereka. Atem menatap horor ke arah teman-temannya yang satu persatu mulai ambruk.
Tetapi, hanya satu orang yang sama sekali tidak menjerit. Yugi perlahan bangkit, mengesampingkan luka-luka yang menghiasi tubuhnya, bahkan dia sama sekali tidak merasakan sakit. Sejak Kaiba mengatakan apa yang diperbuatnya pada Atem, waktu seakan berhenti baginya. Dia sama sekali tidak merasakan apapun kecuali amarah dan amukan yang luar biasa memenuhi nadinya.
"Beraninya..." gumam Yugi, poni menutupi matanya. Mata Kaiba melebar terkejut melihat Yugi yang perlahan berdiri tegak mengesampingkan luka ditubuhnya, dan menyeringai.
"Begitu... tak kusangka kau masih bisa berdiri." Kaiba menatap dingin ke arah Yugi yang diam. Senyum gelap muncul. "Kenapa diam saja, Yugi! Tidak seru kalau kau diam. Iya, kan..." Dia menjilat wajah Atem. "...Atemku."
Akhirnya Yugi tak bisa menahannya lagi. "JANGAN MEMANGGILNYA SEAKAN DIA MILIKMU!!!"
Bersamaan dengan teriakannya, cahaya putih menyilaukan muncul dari tubuh Yugi. Kaiba mengangkat tangannya untuk melindungi matanya dari cahaya itu. Dan ketika cahaya itu menghilang, dia terbelalak ketika tidak ada Yugi di hadapannya.
"Kau mencariku?" Sebuah suara yang dingin terdengar dari belakang. Dia berbalik dan refleks bertahan saat sebuah serangan menghantam tubuhnya, membuatnya terseret mundur.
Kaiba mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya sementara matanya menatap Yugi yang berdiri beberapa meter di hadapannya. Tangan kiri Yugi menopang Atem, sedang tangan kanannya memegang pedang panjang berbentuk salib berwarna emas dengan ukiran aneh seperti poneglyph menghiasinya.
Yugi membopong Atem dan membaringkannya di samping Isis yang terduduk diam, menghiraukan tatapan terkejut dari Kaiba.
"Yugi, apa yang-" Ucapan Isis terputus dan terkesiap melihat mata Yugi yang dingin dan berwarna kuning keemasan. "Yu-Yugi... matamu..."
Yugi berbalik, dan menatap Kaiba yang masih terpaku. Kaiba perlahan terkekeh dan akhirnya tertawa.
"Hahahahaha!!! Tak kusangka!!" Dia mengulurkan tangan kanannya, aura kegelapan mengelilingi tangannya dan membentuk sebuah pedang yang sangat mirip dengan pedang Yugi, hanya berwarna hitam. "Menarik... sangat menarik..." Tiba-tiba dia menghilang dan muncul tepat di depan Yugi dengan tangan mengayunkan pedangnya. Yugi melompat menghindari serangan, membuat serangan itu menghantam dan meledakkan lantai. Isis memejamkan matanya sementara angin menerbangkan serpihan-serpihan beton lantai karena serangan Kaiba.
Kaiba mengejar Yugi sambil tangannya terus mengayunkan pedang, senyum psycho di wajahnya. "Kenapa, Yugi!! Tidakkah kau ingin melawanku!! Ayo hibur aku!!" Dia menebas ke arah leher Yugi yang langsung menangkisnya dengan pedangnya.
Dua pedang beradu, angin kencang berhembus melingkar, hampir menghempaskan lainnya yang terpaku melihat pertarungan mereka berdua.
Dentingan pedang menggema. Serangan demi serangan dilancarkan. Darah mewarnai tubuh mereka berdua yang bertarung memperebutkan seorang raja yang berkedudukan di bawah dewa. Sampai akhirnya suara tubuh yang menghantam tembok menghentikan suara dentingan pedang.
"YUGI!!" teriak Anzu saat melihat tubuh Yugi merosot duduk di lantai setelah menghantam tembok. Sebuah pedang teracung di depan wajah lelaki itu seakan siap menusuknya.
"A...ibou..."
Kaiba menyeringai. Dia mengangkat pedangnya dan menurunkannya dengan cepat ke arah dada kiri Yugi. Tetapi, gerakannya tiba-tiba terhenti. Mata Yugi melebar melihat tubuh Kaiba yang gemetar dan tidak jadi menyerangnya.
Kaiba melempar pedangnya, dia perlahan mundur dengan sebelah tangan menutupi wajahnya. Yugi terpaku melihat warna mata Kaiba yang berubah-ubah dari merah ke biru dan kembali ke merah, dan terus begitu.
"Yu...gi..." ucap Kaiba. Dia menurunkan tangannya, memperlihatkan matanya yang berbeda warna. "Cepat... serang..."
"Kai...ba..." gumam Yugi, berusaha menghilangkan keterkejutannya. "Kau..."
"Cepat, Yugi!! Sera-!" Tubuh Kaiba tersentak, matanya yang biru berubah menjadi merah lagi. "Sialan kau, Seto Kaiba!!"
"Cepat, Yugi!! Aku tidak bisa menahannya lagi!!" teriak Kaiba, berusaha melawan sisi gelap yang bersemayam di dalam tubuhnya.
"Tapi, Kaiba..."
"Tidak ada tapi-tapian!! Kau ingin menolong pacarmu, kan- UKH!!" Kaiba semakin membungkuk. cengkeramannya di wajahnya sendiri semakin keras. "Serang aku!!"
Yugi meraih pedangnya. Dia berjalan ke arah Kaiba yang jatuh berlutut. Dia mengangkat pedangnya dan...
...pedang itu hanya menusuk lantai...
Yugi membuat serangannya meleset.
"Apa-apaan kau, Yugi!!" bentak Kaiba. Yugi menatap serius ke arah lelaki di hadapannya, tangannya yang masih memegang pedang terkulai lemas di sisi tubuhnya.
"Aku... tidak bisa." Jawaban Yugi membuat mata Kaiba melebar.
"Apa maksudmu tidak bisa!!"
"Aku... tidak ingin membunuhmu."
Kaiba menggeram. "Bodoh!! Cepat bunuh aku!! Aku tak bisa menahannya lebih lama lagi!! Dia akan- UKH!! AAAARRRGHH!!!!"
"KAIBA!!" teriak Yugi. Dia baru akan menjangkau Kaiba ketika tangan Kaiba mencengkeram lehernya dan mengangkatnya. Mata Kaiba telah berubah menjadi merah seutuhnya, seringai licik tersungging di bibirnya.
"Bodoh... bodoh..." ejek Kaiba. "Jika kau mendengarkannya tadi, aku pasti sudah mati." Dia mengambil pedangnya dan mengarahkannya ke Yugi.
Atem melihat semuanya. Dia tidak bisa melakukan apapun. Dia sangat ingin menolong partnernya, tetapi dengan tubuhnya yang seperti itu, dia tidak berdaya. Tubuhnya telah kaku, pandangannya buram, dia tak bisa berteriak. Dan ditengah teriakan takut teman-temannya, pandangan dan pikirannya menjadi gelap.
TBC...
A/N : ......
Iblis Kira : (Nyolek-nyolek author yang tepar di kasur pakai gagang sapu) Halo... masih hidup...?
Malaikat Light : (merebut sapu dari Iblis Kira) Jangan ganggu dia!! Kasihan dia!! Dia harus nulis fic ini sekaligus mengerjakan tugas!"
Iblis Kira : Kasihan apanya. Yang dia lakuin cuma mikirin adegan rape doang. Masa minta saran adegan rape lewat fb, yang bener aja.
Malaikat Light : Itu karena pikirannya masih polos! Membuat adegan rape di chapter ini saja sudah menguras pikirannya! Lagipula dia juga harus memikirkan bagaimana kata-kata yang sesuai untuk menjelaskan adegan rape di chapter ini dengan batas kemesuman orang Indonesia.
Iblis Kira : (mendengus) Polos? Orang ini? Asal lu tahu ya, dia ini pikirannya sejajar sama si L-pervert!"
Malaikat Light : Jangan sebut Ryuzaki pervert! Dia itu orang yang lebih baik dibanding setan-God-complex kayak kau!
Iblis Kira : WHY YOU!!
Scarlet : (Ngelempar botol obat nyamuk ke kepala Iblis Kira) Berisik. Ada orang lagi tidur juga. (Tepar lagi)
Iblis Kira : (Menatap author dengan tatapan psycho. Tangan kiri memegang kepalanya, tangan kanan siap-siap Death Note(chibi-style))
Malaikat Light : (tersenyum ke arah kamera) Baiklah. Kami akan menjawab review anda mewakili author yang saat ini sedang beristirahat.
-
To Messiah Hikari : Terima kasih atas review dan dukungannya.
Iblis Kira : (membaca review) Nih anak mintanya puzzleshipping mulu. Kayaknya wajahnya dia udah kayak puzzle, deh.
Malaikat Light : Hush! Jangan menghina pembaca!
-
To Dika the WINGed Kuriboh : Thanx a lot for your review and support.
Iblis Kira : (Membaca dialog Yugi, Dika, dan Yami. Sarkastik) Udah deh... jangan sok polos gitu. Gerah ngeliatnya.
Malaikat Light : (mukul Iblis Kira pakai gagang sapu) Sudah dibilang jangan kasih komen ke pembaca! Lagipula, kalau dia di bawah umur, wajar nggak baca fic ini! Kau tak bisa mendesaknya!!
Iblis Kira : (Megang kepala yang benjol. Cemberut) Author-nya juga masih termasuk di bawah umur...
-
To ArchXora : Thank you for your review and support.
DevilXora : Akhirnya chapter yang kutunggu... GWAHAHAHAHA...!!!
Iblis Kira : Akhirnya dunia jatuh ke tanganku... BWAHAHAHAHA...!!!!
AngelXora : Ya Ra... ampunilah anak dombamu yang tersesat ini...
Malaikat Light : (Ponsel di telinga, wajah serius) Halo RSJ! Ada dua setan gila nyasar di tempat saya! Mohon diangkut dan dikekang segera!
Para setan yang dimaksud : HEY!!
-
To Death Angel : Thanx for review.
Iblis Kira : (frown) Si anak gila juga review...
Malaikat Light : Jangan menghina!
Death Angel : (tersenyum) Kira... katakan satu hal lagi dan akan kubuat kau hamil bayinya Ryuk.
Iblis Kira : (bungkam)
-
To Shigeru-chan : Thanx.
Iblis Kira : (Siap death note) Orang malas, bunuh!
Malaikat Light : Jangan! (merebut death note dari Iblis Kira) Dia sudah mereview fic ini! Itu saja sudah membuktikan bahwa dia tidak malas!
-
To Yamino Kamichama 666 : Thanx a lot.
Iblis Kira : (membaca review. Mata gelap, vein popped + dark aura) Boleh gw ngebunuh si bajingan ini?
Malaikat Light : Aku berpihak padamu.
Iblis Kira : (menyeringai) Bagus. (Menulis nama asli Hikari_07 di death note)
Malaikat Light : Keterangan kematiannya apa?
Iblis Kira : Mati kehabisan darah gara-gara mimisan ngeliat dua anak anjing lagi –sensor-.
Malaikat Light : (~_o)? Kenapa?
Iblis Kira : Soalnya dia minta puppyshipping.
Malaikat Light : ?(~.o)?
-
Malaikat Light : (bows) Terima kasih pada anda semua telah meluangkan waktu untuk membaca fic author-
Iblis Kira : Yang amburadul, jelek, ga jelas, pokoknya yg jelek-jelek ada.
Malaikat Light : (jitak Iblis Kira sekeras mungkin. Tersenyum lagi ke arah kamera) Dan tolong review chapter ini bila anda berkenan.
Iblis Kira : Dua Death Note gratis untuk dua orang pereview pertama. Ditambah Ryuk dan Ryuzaki sebagai piaraan!
Malaikat Light : (Bacok Iblis Kira berkali-kali) Jangan sebut Ryuzaki piaraan dan jangan kasih Ryuzaki ke siapapun, you bastard!! Dia itu piaraanku!!
Iblis Kira : (tepar berlumuran darah) Lu juga nyebut dia piaraan...
SEE YOU IN THE NEXT CHAPTER!!
....
......
.........
With Death Note on top,
-
Kira and Light and the unconcious Scarlet.
