Lee Donghae menikmati sejuknya angin yang berhembus pada sore hari di salah satu tempat objek wisata bernama sungai Bukhan. Meskipun disebut objek wisata, tidak ada satu pun seseorang yang menikmati indahnya sungai Bukhan saat ini. Membuat Donghae leluasa melakukan apapun di sini.

Duduk di sebuah kursi tepat di bawah sebuah pohon yang rindang, Donghae menatap hamparan sungai di depannya. Ada beberapa daun kering yang berjatuhan. Membuat sungai di depannya terlihat kotor daripada sebelumnya karena daun-daun berjatuhan.

Donghae menghirup udara di sekitarnya kemudian menghembuskannya perlahan. Matanya yang sedari tadi terpejam, kini terbuka. Ia tak memperdulikan angin dingin yang berhembus pada musim gugur ini. Karena ia adalah seprang makhluk yang tidak merasakan apa-apa.

Salah satu orang yang dikenalnya tercium oleh indra penciumannya. Membuat Donghae menarikkan sudut bibirnya sedikit ke atas. "Kau sudah datang, Kyuhyun."

Sedangkan Kyuhyun hanya berdiri diam tepat di belakang kursi yang sedang di duduki oleh Donghae saat ini.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

There is Always You

Story By: Haren Sshi

Super Junior, SNSD, F(X) © SM Entertainment

Inspired By:

Kuroshitsuji © Yana Toboso

Vampire Knight © Matsuri Hino

Don't Like Don't Read

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Sungmin menatap waspada ke arah Zhoumi yang tampak begitu kuat dan berbahaya dimatanya. Ia memegang pedang di tangannya erat-erat, seolah-olah bersiap kapan saja menebas kepala pemuda di depannya ini. Sungmin tidak yakin bisa membunuh vampire yang bernama Zhoumi ini, mengingat pemuda ini mudah sekali mengalahkan Hyukjae yang Sungmin yakini bahwa sepupunya itu sudah jauh lebih kuat. Tapi setidaknya ia harus bertahan dan tidak boleh menyerah.

"Ada apa, Tuan Muda Sungmin?" Zhoumi duduk di sebuah kursi sembari menyandarkan diri. Kaki kirinya terangkat dan menumpuk pada kaki kanan sebagai penopangnya. "Bukankah Tuan Muda ingin melakukan sesuatu padaku?" Ucap Zhoumi memanasi.

Sungmin menjaga jaraknya dari Zhoumi agar tetap aman. "Aku tidak tahu apa tujuanmu, dan yang pasti kau memiliki urusan denganku." Iris hitamnya mengelilingi sekitar. Tapi tetap saja ia tak merasakan hawa keberadaan Kyuhyun dimanapun di rumah ini. Setidaknya jika ia bersama salah satu pelayannya itu, kemungkinan menang bisa terjadi.

Zhoumi menjentikkan jarinya. "Tepat sekali." Zhoumi menegakkan tubuhnya dan meletakkan tangannya di atas lututnya. "Aku ingin berbicara padamu, sejujurnya. Tapi kelihatannya akan ada pertumpahan darah ini rumah ini nantinya."

Tubuh Sungmin menegang mendengar perkataan Zhoumi yang terlihat santai di depannya. Seketika memorinya mengenang atas kejadian sepuluh tahun silam dimana orang tuanya terbunuh dan hanya menyisakan dirinya sendiri yang masih hidup, walaupun hampir saja menjadi santapan seorang vampire. "Kau… Apa kau yang berada dibalik dalang kejadian sepuluh tahun yang lalu?"

Zhoumi mengernyit mendengar pertanyaan Sungmin. Lalu tak seberapa lama ia pun terkekeh. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."

"Jangan berbohong!" Sungmin mencabut sebilah pedang yang berukuran tujuh puluh sentimeter itu dari sarungnya dan mengarahkannya pada Zhoumi. Ia membuang sarung pedangnya ke sembarang arah dan memegang ganggang pedang dengan sangat kuat.

"Aku tidak berbohong, Tuan Muda Sungmin." Zhoumi berdiri dari tempatnya, membuat Sungmin tambah waspada. "Tapi aku mengetahui kejadian itu. Bukankah dalang dibalik semua itu sudah mati dan Kyuhyun yang membunuhnya?"

Sungmin cukup terkejut mendengar pernyataan Zhoumi. "Kau… mengenal Cho?"

"Tentu saja aku mengenalnya. Tapi sayangnya Kyuhyun tak mengenalku."

"Sebenarnya—" Mata Sungmin menyipit, "—siapa kau sebenarnya?"

"Aku hanyalah seseorang—" Zhoumi melangkah perlahan-lahan. Tangannya menyentuh beberapa perabot yang terpajang. Ketika tangannya tepat pada vas bunga lily yang terlihat masih segar, ia menariknya setangkai dan mencium wanginya."—yang mengetahui sedikit identitas aslimu."

"Identitas—" Sungmin mengernyitkan dahinya, kewaspadaannya sedikit buyar, "—diriku?"

"Ya~" Nada suara Zhoumi terdengar main-main. "Tapi aku ragu memberitahukannya padamu. Mengingat keadaanmu yang cukup labil saat ini."

Sungmin menggigit bibirnya. Tangannya mencengkram ganggang pedang dengan erat. Pikirannya berkecamuk, antara mempercayai pemuda ini atau tidak. Tapi bisa jadi pemuda ini hanya mencoba mempermainkannya dengan cara mengetahui identitas sebenarnya yang ternyata palsu, hingga ia bisa mempermainkan emosinya sendiri.

"Terserah padamu ingin mempercayainya atau tidak." Lalu lirikan matanya tertuju tepat pada bola mata Sungmin. "Tapi yang pasti—" Zhoumi pun meremas bunga Lily yang berada di tangannya, "—kau bukanlah anak kandung dari pasangan suami istri Lee." Lalu bunga Lily itu pun terbakar di tangannya hingga menyisakan debu. Angin berhembus, hingga debu bunga itu menghilang dari telapak tangan Zhoumi.

Mata Sungmin terbelalak lebar saat mendengar penuturan Zhoumi. Konsentrasinya buyar dan nafasnya seolah-olah berhenti. Bahkan rasanya ia takkan bisa menghirup udara ini lagi. "A-apa—" Bibir Sungmin bergetar. "—maksudmu?"

Zhoumi melangkah dengan perlahan menuju Sungmin. Dilihatnya remaja itu sudah tak begitu fokus pada pedang di tangannya, dilihat dari arah pedangnya yang menurun dan tidak tertuju padanya lagi hingga akhirnya menggantung di sisi tubuh Sungmin. Ekspresinya juga menandakan bahwa ia sangat terkejut. "Kau mendengar semuanya, Tuan Muda Lee Sung Min." Kaki Zhoumi berhenti melangkah saat jarak mereka hanya tertinggal tiga puluh sentimeter. "Orang tuamu memilih untuk memberikan anaknya yang memiliki darah setengah vampire pada sepasang manusia." Zhoumi mengelus pipi seputih pualam Sungmin. "Karena orang tua palsumu tidak akan pernah bisa untuk mempunyai anak."

Lagi-lagi Sungmin merasa terkejut. Tubuhnya kini bergetar hebat mendengar kenyataan lain dari identitas dirinya. Kakinya melemah, hingga ia bisa merasa bahwa ia bisa jatuh kapan saja. Namun Zhoumi menahan pinggangnya dengan cepat agar Sungmin tidak terjatuh ke lantai yang dingin.

Memiliki darah seorang vampire? Tapi ia tak sedikitpun bernafsu pada darah. Ia tak pernah berpikir bahwa ia memiliki setengah darah dari kaum makhluk di depannya ini. "I-ini… tidak mungkin…"

Zhoumi tersenyum tipis. Ia memegang dagu Sungmin agar pandangannya tertuju padanya. "Itu adalah kenyataan yang selama ini disembunyikan darimu."

Sungmin kembali teringat pada masa-masa kecilnya yang bahagia ketika bersama kedua orang tuanya. Meskipun sedikit samar karena kenangan itu sudah begitu lama. Tapi setidaknya kenangan tersebut masih teringat jelas di otaknya. Bagaimana kedua orang tuanya panik ketika ia terjatuh dari sepeda roda empat. Bagaimana kedua orang tuanya begitu bangga padanya saat ia mulai bisa mengeja sebuah huruf dan berhitung satuan kecil.

Semuanya begitu pecah. Kenang-kenangan yang tersimpan di otaknya kini pecah ketika mendengar penuturan Zhoumi. Iris matanya menatap pada iris mata Zhoumi yang berpendar merah, membuatnya tiba-tiba sadar bahwa Zhoumi adalah orang yang baru saja ia temui hari ini. Genggaman pedangnya yang tadi melemah kini ia cengkram kuat. "Tidak seharusnya aku mempercayaimu, Zhoumi-sshi."

Zhoumi melompat mundur saat Sungmin hampir saja memenggal kepalanya. Yah, walaupun kepalanya terpenggal, setidaknya ia takkan mati walaupun butuh waktu agar kepalanya bisa tersambung kembali pada tubuhnya. Karena yang bisa membuat seorang vampire mati adalah jantungnya yang dihancurkan.

"Aku hampir saja kehilangan kepalaku." Zhoumi menyeringai. "Tapi sayangnya aku berkata jujur."

Sungmin berlari ke depan dengan cepat agar ia bisa membunuh Zhoumi. Tapi tak semudah itu dilakukan, mengingat kemampuan Zhoumi yang sangat gesit dalam menghindari sabetan pedangnya. Terlebih lagi ia tak begitu mahir karena ia adalah seorang pemain anggar, bukan pedang.

"Kau harus berlatih dengan keras agar bisa melukaiku, Tuan Muda Sungmin." Sekali lagi Zhoumi menggeser badannya ke samping agar ia tidak terluka oleh sabetan pedang Sungmin. Pedang itu kini telah menghancurkan beberapa perabot yang terpajang di rumah ini.

"Diamlah!" Sungmin berseru. Memang benar perkataan Zhoumi. Ia butuh lebih banyak berlatih dalam bermain pedang.

Saat Sungmin mencoba menggerakan pedangnya dari atas. Dengan mudah Zhoumi menahan pedang itu dengan tangan kosong dan tak melepaskannya. "Kenapa kau tak menerima kenyataan bahwa kau adalah bagian dari kaum kami?"

Sungmin mencoba untuk menarik pedangnya, tapi tak bisa. Zhoumi terlalu kuat untuk ia hadapi. Perbedaan kekuatan mereka terlalu besar. Dan disaat seperti ini, dimana pelayannya itu?

"Kenapa, Tuan Muda?" Zhoumi sedikit terkekeh saat Sungmin berusaha keras mencabut pedang yang tertahan oleh cengkraman tangannya. "Sekeras apapun kau mencoba, kau tidaklah sebanding denganku." Setelah itu Zhoumi pun mendorong pedangnya yang mengakibatkan Sungmin terdorong beberapa langkah ke depan hingga terjatuh.

Sungmin mendecih kesal saat ia jatuh begitu saja oleh dorongan kecil yang dilakukan Zhoumi. Namun kelihatannya Zhoumi tidak melakukan perlawanan apa-apa terhadapnya.

Zhoumi berjalan ke arah jendela dimana tirai-tirai berwarna putih itu menari pelan tertiup angin. Zhoumi mengambil tirai yang terbuat dari kain itu, sementara Sungmin hanya memperhatikan dari jarak yang sedikit lebih jauh. Zhoumi melirik ke arah Sungmin dengan memberikan seringaian kecil, lalu selanjutnya tirai itu perlahan-lahan terbakar.

Sungmin terbelalak melihat apa yang telah dilakukan Zhoumi. "Apa yang kau lakukan?"

Zhoumi memandang tirai terbakar itu dengan tatapan santai. "Aku hanya ingin membuat kejadian ini lebih menarik."

Sungmin memandang horor bagaimana perlahan-lahan api tersebut melahap tirai-tirai jendela rumahnya hingga melahap perabot yang terbuat dari kayu. Otak sungmin berpikir cepat bagaimana ia bisa membereskan semua kekacauan ini. Ia harus cepat-cepat membunuh Zhoumi agar api itu tidak membesar dan membakar rumahnya.

Sungmin bangkit berdiri dan mengambil pedangnya yang sempat terabaikan di lantai. Ia mulai menyerang Zhoumi secara asal-asalan dan membabi , tak ada satu pun dari serangannya yang mengenai Zhoumi sedikit pun. Selain karena ia harus menyingkirkan Zhoumi, api-api itu juga terlihat semakin membesar dan mulai melahap ke arah lain.

"Uhuk!" Sungmin terbatuk saat asap dari kebakaran tersebut mulai memenuhi seluruh ruangan. Mengingat ia mempunyai riwayat asma, kenyataannya yang tak tahan pada asap membuatnya sedikit terganggu.

"Ada apa, Tuan Muda?" Zhoumi bertanya santai. Tapi Sungmin tak menggubrisnya. "Apakah kau sudah menyerah? Apakah asmamu itu mengganggumu?"

Sungmin mendelik. Asap semakin terlihat mengepul. Kini api-api itu juga menjalar pada atap rumah. Sungmin menatap nanar pada kondisi rumahnya yang kini terlihat mengenaskan.

Lagi-lagi Sungmin batuk hebat. Ditambah lagi dadanya kini terasa sakit akibat asap yang tak sengaja dihirupnya. Paru-paru terasa tersumbat, dan ia kesulitan bernafas.

Zhoumi hanya terdiam bagaimana Sungmin begitu kepayahan atas penyakitnya. Ekspresi wajahnya datar, tak terbaca apa-apa.

Sungmin tak sanggup lagi menahan keseimbangan tubuhnya. Ia ambruk dengan nafas yang putus-putus. Pedang yang dipegangnya teronggok begitu saja di lantai. Zhoumi yang melihatnya mendekati Sungmin. Ia mengambil pedang yang tergeletak itu dan mengacungkannya pada Sungmin yang tak berdaya.

Dada Sungmin terasa begitu sakit dan batuk pun tak kunjung reda. Sungmin mencengkram baju pada bagian dada dan berharap agar rasa sakitnya mereda. Namun itu semua percuma karena rasa sakitnya tak kunjung reda. Hingga akhirnya sebercak darah memenuhi mulut dan telapak tangan Sungmin, membuat Sungmin tergeletak begitu saja di lantai rumahnya sendiri dengan nafas yang putus-putus. Bahkan kini api yang membakar sebagian rumahnya pun terus berkobar.

.

.

.

.

.

"Langsung saja apa yang ingin kau bicarakan, Hyung." Kyuhyun tanpa basa-basi langsung bertanya pada Donghae ketika ia baru saja datang.

Mendengar ucapan Kyuhyun membuat Donghae tersenyum kecil. Ia meresapi indra penciumannya dengan udara yang begitu sejuk ini.

"Hyung!"

"Kenapa begitu terburu-buru?" Donghae menoleh ke belakang. Ia bisa melihat raut wajah kesal Kyuhyun karena ia sempat mendiamkannya selama beberapa menit tadi.

"Aku tak punya waktu."

Donghae mengangkat tangan kirinya demi melihat waktu saat ini. "Masih ada waktu tiga jam lagi agar kau bisa menjemput Tuan Muda Sungmin pulang." Donghae merilekskan dirinya dengan cara menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

Kyuhyun mendecak kesal. Ia tetap berdiri di belakang kursi panjang yang diduduki oleh Donghae tanpa perlu repot-repot untuk menduduki tempat kosong disebelahnya.

"Well." Donghae memulai setelah keterdiaman mereka selama beberapa menit, "Apa yang dilakukan Vict di rumah itu?" Donghae bertanya pada adiknya itu.

Kyuhyun memandang kilauan sungai Bukhan di depannya yang memantulkan cahaya matahari. "Dia ingin membunuh Sungmin." Tangan Kyuhyun terkepal erat saat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. "Ia ingin membunuh Sungmin karena tidak ingin menyerahkan Sungmin pada appa."

Donghae menyeringai lalu terkekeh kecil. "Aku tak menyangka Vict bisa begitu berani melawan appa." Donghae menghembuskan nafasnya pelan. "Padahal kita tahu bahwa kakak kita yang satu itu begitu pengecut pada appa."

Kyuhyun terdiam mendengar penuturan dari kakaknya itu. Memang benar kalau Victoria adalah kakak tertua mereka, tapi kekuatan Victoria lebih lemah dari Donghae dan dirinya.

"Biar kutebak." Donghae kembali memulai pembicaraan, "Kau pasti belum mengetahui mengapa appa begitu menginginkan Sungmin?"

Kyuhyun terdiam. Memang benar bahwa dia tidak mengetahui tujuan appanya menginginkan Sungmin.

"Dan kau juga tidak mengetahui identitas asli Sungmin."

Kyuhyun terkejut mendengar penuturan kakaknya ini. "Identitas asli—" tenggorokan Kyuhyun tercekat, "—Sungmin?"

Donghae tertawa mendengar nada bicara Kyuhyun yang terdengar kebingungan. "Ya. Dan kau selama ini tidak mengetahuinya sama sekali? Bukankah kau sudah bertahun-tahun menemaninya?"

Ucapan Donghae begitu menohok dirinya. Selama sepuluh tahun, yang ia lakukan hanya berada di sisi Sungmin dan melindungi remaja itu dari bahaya, tapi ia tidak mengetahui sedikitpun identitas Sungmin yang sebenarnya. "Beberapa hari yang lalu.." Kyuhyun teringat akan kejadian di suatu malam, "Mata sebelah kanan Sungmin… Sungmin memiliki mata yang sama dengan kita…"

Donghae terkekeh, seolah-olah kejadian itu tak membuatnya terkejut sama sekali. Sedangkan Kyuhyun mengernyitkan dahinya dan menatap Donghae tajam dari belakang. Ia pun memutar langkahnya menuju ke hadapan Donghae.

"Jelaskan semua yang kau ketahui, Hyung."

Donghae menatap Kyuhyun samtai. "Apa yang ingin kau ketahui? Bukankah dengan kejadian sebelumnya kau bisa mengetahui siapa Sungmin sebenarnya?"

Kyuhyun mengepalkan tangannya. ia memutuskan pandangannya pada Donghae dan menatap ke bawah. "Aku tidak mengerti. Sungmin adalah bagian dari kita?"

Donghae mengangguk sekali. "Kau menganalisanya dengan baik."

"Tapi," Lagi-lagi Kyuhyun menatap kakaknya, "Sungmin selama ini tidak begitu tertarik pada darah. Dan aku juga tidak merasakan hawa vampire dari dirinya."

Hembusan angin mulai bertiup kembali. Menerbangkan beberapa baby breath yang ditangkap Donghae dengan mudah. "Lebih tepatnya Sungmin memiliki darah setengah vampire dari ayahnya." Donghae meniup baby breath di tangannya dan bunga itu pun kembali terbang. "Pasangan suami istri Lee mengadopsi seorang bayi yang ditemukan tepat di depan pintu rumah mereka. Dan bayi itu adalah Sungmin. Namun semua itu dirahasiakan dan tak ada yang mengetahuinya kecuali pasangan suami istri itu."

Kyuhyun terdiam selama beberapa menit karena mengetahui fakta yang begitu mengejutkan ini. Sungmin bukanlah anak dari pasangan suami istri Lee, dan ia tak mengetahuinya. Memang selama ini yang ia lakukan adalah menjaga bocah itu hingga menginjak remaja. Tak sedikitpun ia curiga akan identitas Sungmin.

"Tapi… darimana kau mengetahui semua ini, Hyung?"

"Menurutmu?"

Dan tiba-tiba sekelebat aroma darah hingga di indera penciuman Kyuhyun. Kyuhyun mengenal aroma darah ini. Aroma darah yang ia selalu menghilangkan dahaganya.

"Kau mau kemana, Kyuhyun?" Donghae bertanya ketika Kyuhyun mulai beranjak dari tempatnya.

"Bukan urusanmu, Hyung."

"Apakah ini mengenai Sungmin? Apa dia dalam masalah?" Donghae bertanya dengan santai.

Tangan Kyuhyun terkepal erat. Matanya kini berpendar merah dan sepasang taring mencuat dari belahan bibirnya. Ia tiba-tiba merasakan amarah menguasai tubuhnya. Dengan cepat Kyuhyun berbalik dan mencengkram kerah Donghae dan membenturkannya ke batang pohon. Hingga mengakibatkan batang pohon yang cukup besar itu tumbang seketika.

"Kau… apa yang kau lakukan pada Sungmin?" Kyuhyun memandang marah.

Donghae tak sedikitpun merasa menciut melihat kemarahan Kyuhyun. Donghae hanya terdiam saja, membuat Kyuhyun menjadi tak sabaran dalam menghadapi kakaknya ini.

"HYUNG!"

"Bukankah Sungmin saat ini lebih penting?"

Kyuhyun menggertakkan giginya. Tatapannya yang tertuju pada Donghae begitu tajam. Ia pun melemparkan Donghae ke sembarang arah. "Kalau terjadi sesuatu pada Sungmin, aku akan menghabisimu, Hyung." Dan dalam sekejap mata, Kyuhyun telah menghilang dari pandangannya.

Donghae menyeka darah yang mengalih dari sudut bibirnya. Hentakkan yang dilakukan Kyuhyun pada tubuhnya cukup kuat, hingga membuatnya memuntahkan darah. Tapi semua itu tak berarti apa-apa bagi dirinya.

.

.

.

.

.

Kyuhyun terbelalak saat ia tiba di halaman luas rumah milik Tuan Mudanya. Sebagian rumah bercat yang didominasi berwarna putih itu kini telah dilalap api. Kyuhyun yakin Sungmin masih ada di dalam sana, mengingat bau darahnya begitu kuat di rumah ini. Ia pun menerobos pintu rumah yangterbuka itu. Ia tak khawatir mengenai dirinya yang bisa saja terkena api itu. Namun yang dikhawatirkannya saat ini adalah kondisi Sungmin.

Begitu ia telah sampai di ruang tengah, tampaknya ruangan ini lebih parah keadaannya. Ia juga bisa melihat keadaan Sungmin yang begitu menyedihkan. Tubuh mulusnya tidak terdapat luka sedikitpun, tapi Tuan Mudanya itu tampak kepayahan dalam bernafas dilihat dari caranya bernafas. Kyuhyun menduga bahwa asma Tuan Mudanya kambuh mengingat ruangan ini telah dilalap api dan menyebabkan asap begitu mengepul. Belum lagi ada darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Nampaknya asma yang diderita Tuan Mudanya cukup parah.

Sungmin memandang kedatangan Kyuhyun dengan tatapan sayu. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk bangkit. "C-Cho—"

"Sungmin!"

"Tetap di tempatmu."

Kyuhyun tak bisa bergerak mendekat, mengingat ujung pedang yang begitu tajam mengarah tepat di leher Sungmin.

"Bergerak seinci saja, pedang ini akan merobek lehernya."

Kyuhyun mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan diri agar ia tidak bertindak gegabah kali ini. Bisa saja jika ia bergerak sedikit saja maka nyawa Sungmin akan terancam. Ia harus berpikir cepat bagaimana mengatasi semua ini. Namun di lain tempat, kondisi Sungmin harus diselamatkan sesegera mungkin. "Lepaskan Sungmin, dan kau bisa menyanderaku."

Zhoumi menyeringai tipis. "Menyanderamu? Untuk apa?" Ia tampak memain-mainkan pedangnya di sekitar dada Sungmin, namun tidak sampai membuatnya luka. "Yang kami butuhkan adalah Sungmin, bukan kau, Kyuhyun."

Kyuhyun sedikit terkejut mengetahui bahwa orang di depannya ini mengetahui namanya, sementara mereka tak pernah saling mengenal sebelumnya. Namun ia tak menampakkan ekspresi terkejutnya di hadapan Zhoumi. Tapi… Bukankah tadi Zhoumi menyebutkan kami?

"Kami?" Kyuhyun memicingkan matanya, mencernah ucapan Zhoumi. Sementara itu hawa di ruangan ini bertambah panas dan cukup berbahaya bagi kondisi Sungmin. "Apakah kau bawahan appa?"

"Tentu saja bukan, Kyuhyun." Sebuah suara terdengar dari belakang. Kyuhyun cukup mengenali suara kakaknya itu. "Kami tidak sedikitpun berpihak pada appa, sama sepertimu." Donghae berjalan dengan santai menuju Kyuhyun. Ia menepuk-nepuk pundak Kyuhyun lalu tersenyum manis. Ia juga merangkul pundak Kyuhyun. "Kita berada di kubu yang sama. Hanya saja kita memiliki tujuan yang berbeda." Pandangan Donghae kini menatap Zhoumi. "Kerja bagus, Zhoumi-hyung."

"Hyung," Kyuhyun berkata, "Kuperingatkan kau untuk tak main-main di sini. Sungmin dalam bahaya. Ia kritis."

"Memang itu tujuan kami." Donghae melepaskan rangkulannya dan berjalan menuju dimana Sungmin berada. Ia menatap Sungmin yang terus saja berusaha untuk bernafas dibalik asmanya yang kambuh. Donghae pun merendahkan tubuhnya dan mengelus pipi Sungmin. Lalu ia pun mengangkat Sungmin dan merebahkannya di dadanya."Kami sengaja memisahkan kalian agar rencana kami berhasil."

Kyuhyun menatap was was apa yang dilakukan Donghae pada Sungmin. Apalagi situasi sekarang yang cukup rumit, membuat Kyuhyun harus bertindak hati-hati.

"Pikirkan Hyukjae, Hyung. Ia pasti sedih kalau kau berbuat macam-macam dengan Sungmin." Kyuhyun sedikit meninggikan suaranya.

Pandangan Donghae teralihkan menuju Kyuhyun. "Hyukjae ikut berpartisipasi dalam rencana ini. Kau tentu tahu bagaimana Sungmin begitu peka terhadap Hyukjae? Hyukjae memanfaatkan semua itu dan mengorbankan dirinya."

Sungmin mendengar semua penjelasan Donghae di tengah-tengah rasa sakitnya. Sungmin tak menyangka bahwa Hyukjae juga terlibat. Tapi membuat Hyukjae terluka separah itu juga membuat Sungmin tak bisa memaafkan Donghae.

Donghae mengeluarkan sesuatu dari balik jaket yang dipakainya. Sebuah botol kaca bening berukuran kecil yang berisikan cairan berwarna merah pekat. Kyuhyun melotot tak percaya apa yang dipegang kakaknya.

"HYUNG!"

Sebelum Kyuhyun sempat beranjak di tempatnya dan mengganggu kegiatan Donghae, Zhoumi dengan cepat berlari kea rah belakang Kyuhyun dan menahan lengannya, membuat Kyuhyun memberontak.

"Brengsek! Lepaskan aku, Sialan!"

Seolah-olah tak terpengaruh dengan panggilan Kyuhyun, Donghae menggigit botol kaca itu hingga bagian ujungnya pecah. Donghae mencengkram dagu Sungmin agar bisa terbuka lebar. Sungmin sedikit memberontak namun Donghae bisa mengatasinya.

"Hyung, jebal." Kyuhyun terdengar frustasi saat Donghae tak menggubris perkataannya.

Botol kaca itu diarahkan menuju mulut Sungmin hingga cairan berwarna merah pekat itu sedikit demi sedikit masuk ke mulut Sungmin. Sedangkan Sungmin yang menerima cairan asing di mulutnya berusaha untuk memberontak. Namun apa daya dirinya terlalu lemah menghadapi Donghae.

Cairan merah pekat itu membuat kerongkongan Sungmin terasa panas. Ia ingin memuntahkan semua cairan-cairan itu, tapi Donghae menutup mulutnya, mencegah cairan pekat itu keluar dari mulutnya.

Kyuhyun terduduk lemas. Kini sudah terlambat menyelamatkan Sungmin. Donghae sudah meminumkan cairan itu pada Sungmin. Dan apabila cairan itu sudah terminum, maka tak ada harapan lagi.

Sungmin terbatuk hebat. Kerongkongannya terasa panas sekali. Rasanya seperti ada api yang perlahan-lahan dipaksa masuk ke dalam tubuhnya melalui mulutnya.

Donghae meletakkan tubuh Sungmin di lantai. Ia bangkit dan menatap Zhoumi yang masih berdiri di belakang Kyuhyun. "Kita pergi, Zhoumi-hyung." Setelah mengatakan itu, dalam sekejap mereka berdua telah menghilang dari pandangan.

Sungmin menggelepar bagai cacing kepanasan. Jantungnya berdetak cukup hebat, seolah-olah dipaksa bekerja berkali lipat dari biasanya. Rasanya ia ingin mati saja daripada harus menahan siksaan yang begitu berat seperti ini. Ia tak sanggup menahannya.

"C-Cho—ugh—" Sungmin mencoba untuk meminta pertolongan pada pengabdinya itu, namun suaranya tercekat. Ia tak sanggup berbicara apapun. Satu kata yang terucap, rasa panas yang begitu hebat membakar tenggorokannya.

Sedangkan Kyuhyun hanya terdiam di tempatnya. Menatap nanar pada kondisi Sungmin. Ini semua salahnya Sungmin mengalami kejadian yang mengerikan seperti ini. Ia sudah terlambat untuk menolong Sungmin. Seharusnya… seharusnya saat itu ia tak mengikuti Donghae. Jika saja…

Kyuhyun menundukkan kepalanya. Waktu tak bisa berputar kembali. Semua telah terjadi, dan kini ia hanya berharap Sungmin bisa menerima semuanya.

Hingga detakan jantung Sungmin yang terdengar oleh Kyuhyun kini berhenti… Tangan Sungmin kini terkulai lemas… Diiringi dengan nafasnya yang berhenti berhembus.

"Maafkan aku, Sungmin…"

Api yang melahap rumah besar itu kini semakin membesar dan membara… Hingga keduanya tenggelam dalam lautan api.

.

.

.

FIN

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

/ditabok

TBC

Maafkan Haren update agak lama ya. Dan yeay! There is Always You udah 4 tahun /plokplok/

Dan maaf juga kalau cerita ini bikin kalian nga dapet feelsnya. Jujur Haren ngetiknya ngeblank, nga ada feels sama sekali. Kaya timbul tenggelem gitu. Dan Haren berharap kalian bisa menikmatinya. Apalagi kini Haren bikin agak panjangan dari chapter sebelumnya.

Udah terjawab ya siapa Sungmin. Tapi masih ada rahasia lagi~ :D

Buat note kemaren, Haren nga minta maaf karena apa yang Haren ungkapin itu adalah kebenaran menurut Haren, setidaknya itu yang dikatakan teman Haren sewaktu Haren curhat (Jangan meminta maaf pada apa yang menurutmu benar, karena pro dan kontra itu wajar). Haren tau kenapa kalian memilih meninggalkan Haren, itu semua karena pemikiran Haren dan kalian sudah berbeda. Jika kalau itu semua karena ucapan Haren, harusnya yang kalian nga terima itu cuma ucapan, bukan Harennya. Tapi karena kalian memilih meninggalkan Haren, TOLONG jangan baca karya Haren lagi. Kalian meninggalkan Haren berarti kalian juga meninggalkan semua karya Haren. Masih tetap baca? Silakeun nilai sendiri.

Haren membuat semua karya dengan cast siapapun itu untuk para shipper itu juga. Bikin YunJae buat pembaca YunJaeship, bikin KyuMin buat pembaca KyuMinship dan lainnya. Haren hanya berharap bisa mempunyai banyak teman dari shipper manapun tanpa menyinggung apakah Haren menerima ship ini itu atau tidak. Haren menerima semua OTPshipper yang ingin berteman dengan Haren tanpa terkecuali.

Oke last, review!