To You
.
CHAPTER 10
Warning! YAOI, Undetected-relationship, Typo(s), ANGST!
Pair! Taeyong x Yuta for this chapter
Slight! Yusol, Dojae/Jaedo, Johnten/Tenny
NCT adalah punya Sment, Saya Cuma pinjem nama dan gejolak cinta yang mereka rasakan satu sama lain (?)
.
Happy Reading
.
Yuta meremat kartu dalam tangannya hingga membola dengan permukaan kasar yang tak beraturan. Dalam ruang sempit itu, sendiri, dia terduduk di sofa sambil menatap kartu queen yang kusut dalam genggamannya. Setelah permainan berakhir dan memastikan semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing, Yuta pergi ke tempat rahasianya. Membuang kekhawatiran akan ketidaksanggupannya untuk sekedar memejamkan mata.
Hal ini terlalu luar biasa untuk disebut dengan kebetulan. Kenapa harus dia yang menjadi queen? Kenapa harus perintah seperti itu yang dipikirkan Taeyong?
Kartu itu dibuangnya. Dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas lantai. Hendak menghubungi Hansol. Tapi gerakan jemarinya terhenti.
Ia mengurungkan niatnya.
Tanpa sadar, mega oranye muncul dari balik jendela. Yuta terperajat kala melihatnya. Tak sadar ia bahwa semalaman telah tertidur di sana.
Dengan cepat Yuta membuka pintu ruang atapnya namun suara yang sangat dia kenal membuatnya menghentikan apa yang seharusnya dia lakukan.
Yuta mengintip di sela pintu yang sedikit dia buka. Doyoung yang baru saja mencium pipi Jaehyun.
.
Yuta menahan dirinya untuk terlihat sangat jelas mengharapkan hari itu segera datang. Bagaimanapun juga, dia telah memutuskan untuk menyerah dan membiarkan cintanya hilang seiring dengan waktu yang bergulir menghapusnya. Ajakan Taeyong yang tak kunjung muncul kini, dia anggap sebagai sesuatu yang tidak pernah ada. Tidak pernah diharapkannya. Karena sampai sekarang namja itu masih tetap sibuk dengan kekasihnya dan melupakan eksistensi janji, buntut dari permainan game mereka beberapa malam yang lalu.
Ten sudah pergi sejak pagi bersama manager untuk menyusul Johnny ke Amerika. Dua member China, Kun dan Winwin, juga pergi siang tadi dengan raut wajah paling cerah yang Yuta lihat sekitaran tiga bulan kebelakang. Semua orang terlihat mengejar kebahagiaan mereka sementara Yuta, yang sedikit konslet memutuskan untuk membersihkan dorm dengan alasan kurang kerjaan.
Jaehyun dan Doyoung duduk di lantai ruang tengah sambil bermain game dilayar TV. Keduanya tampak hanyut dalam permainan sampai tak menyadari hyung mereka masuk ke dalam kamar Jaehyun dengan alat penghisap debu di tangannya.
Kebiasaan Yuta hidup jorok sekiranya di-pause hari ini. Tanpa mengeluh apalagi meminta bantuan dari orang lain, dia membersihkan seluruh sudut dorm. Saat alat penghisap debunya macet karena sesuatu menghambat pipanya, Yuta mengerang kesal. Sepucuk amplop putih yang tampaknya sengaja sang pemilik sembunyikan di kolong tempat tidur.
Matanya melirik keluar, Doyoung dan Jaehyun tak lagi disana. Entah dimana sekarang. Rasa penasaran membuat Yuta nekat membuka surat itu. Dia bahkan tak lagi takut jika seseorang akan marah karena hal ini.
Satu kalimat dia baca, senyuman geli segera muncul di wajahnya. Cheesy, Doyoung punya harga diri yang terlalu tinggi untuk mengungkapkan hal seperti ini. Tapi untuk Jaehyun dia menurunkan semua harga atas dirinya.
Perlahan pupil coklatnya bergerak turun, begitu pula sudut bibirnya yang semakin membuat garis lurus. Ia merasa diperlakukan tidak adil oleh dunia. Bukan salah siapapun apalagi Doyoung ataupun Jaehyun yang berhasil meraih kebahagiaan mereka bersama sekarang. Bukan pula salah Taeyong yang memilih untuk tidak mencoba mencintainya. Tapi, dia juga tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang dia rasakan. Bukan dia yang minta perasaan itu bersarang di hatinya.
"Serius sekali."
Buru-buru Yuta mengembalikan surat itu ketempatnya. Dia berbalik, takut ketahuan oleh Doyoung atau Jaehyun. Tapi, Hansol yang berdiri di sana. Nampak raut wajah ingin tahu tapi tak Yuta ijinkan dia untuk menerka-nerka sesuai imajinasinya.
"Aku sudah selesai bersih-bersih. Kita ke atap yuk."
Keduanya pergi bersama ke tempat rahasia mereka. Sukses tanpa disadari oleh siapapun di dorm.
.
"Benarkah? Apa dia semenakutkan itu?"
"Iya, oppa. Dia benar-benar menakutkan."
Taeyong tak mampu menyembunyikan giginya kala tersenyum lebar. Menanggapi curhatan gadis di hadapannya tentang seorang pelatih baru yang datang dari Amerika. Sudah satu jam mereka berdiam di salah satu lorong sepi gedung SM. Tak banyak orang berlalu lalang disana dan yang pasti tidak ada dispatch. Hubungan mereka tidak akan terendus media. Semua orang dalam juga hanya tahu mereka berteman baik.
Perempuan di hadapannya begitu menawan. Semua laki-laki akan bertekuk lutut padanya dalam sekali lihat. Taeyong tak meragukan fakta itu sama sekali. Karena dia merasakan hal yang sama. Meski usianya belum dewasa, Koeun bisa memancarkan pesonanya sendiri sebagai seorang ketua dari adik-adiknya. Meski krisis sempat menghampiri kala Herin mulai ragu untuk bertahan, gadis itu bisa membuatnya kembali percaya untuk tetap ada dalam satu naungan yang sama dalam manajemen.
Ini bukan hanya masalah gadis itu punya wajah yang cantik serta suara yang indah. Namun jiwa dalam diri Koeun ingin Taeyong miliki. Seorang yang bisa dipercaya oleh orang lain.
Ia benar-benar mulai dekat dengan Koeun saat Mark dan mini rookies lainnya terlibat dalam acara micky mouse club setahun lalu. Kala itu, mini rookies tak henti-hentinya membicarakan sang ketua dari grup para girls rookies. Mereka bergosip seperti tak ada hari esok dengan suara penuh semangat yang membuat Taeyong akhirnya tertarik untuk berkenalan dengan Koeun secara langsung.
Saat pertama kali, ia sadar bahwa Koeun tidak memiliki interest padanya. Melainkan seseorang dari mini rookies yang sampai sekarang Taeyong tidak tahu. Ia juga tidak ingin tahu karena sadar, bibit-bibit keabnormalan tumbuh dalam diri adik-adiknya. Mereka berbeda karena terlalu sering bersama dengan sesama laki-laki. Seperti kakak-kakaknya yang lain, mereka mulai menampakkan gelagat perasaan selain pertemanan satu sama lain.
Taeyong merasa ia adalah satu-satunya yang paling normal di grup. Padahal sebenarnya tidak sama sekali. Dia hanya membentengi diri dari perasaan dalam hatinya. Sesuatu yang dia anggap salah –semua orang anggap salah-. He made a lot of mistakes in the past. Not again for now.
Di waktu yang sama, sebenarnya dia punya alasan lain mendekati Koeun.
Untuk mencegahnya melakukan sesuatu yang buruk untuk kesekian kalinya.
"Oppa, apa kau tidak ada kegiatan apapun di dorm? Sepertinya kita terlalu sering bersama jadi aku khawatir hubunganmu dengan member lain jadi renggang."
"Kenapa kau berpikir begitu? Tidak, kami semua baik-baik saja kok."
"Tapi, kemarin aku lihat Yuta oppa sendirian di ruang latihan. Dia kelihatan sedih sekali. Jadi, kupikir kalian punya masalah di dorm." Taeyong tak menjawab. Justru dia mengalihkan pandangan matanya ke tembok putih yang ada di seberangnya sembari menerawang kebeberapa waktu belakangan. "Oppa, coba kau tanyai dia. Mungkin saja kau bisa membantunya 'kan?"
'how can I help him if I am the one who make him suffer?'
.
Hening. Yuta tak berniat angkat bicara kala Hansol masih menyamankan diri, tidur dengan menggunakan pahanya segabai bantalnya. Kebosanan mendorongnya untuk bermain-main dengan rambut Hansol yang jatuh ke dahi. Melingkarkan helai-helai surai coklat madu itu ke telunjuknya. Tanpa sadar telah membuat kenyamanan Hansol terusik.
"Kau bangun."
"Aku tidak tidur."
Anggukan tak berarti menjadi tanggapannya. Tangan yang nakal masih tak berhenti melakukan tugasnya.
"Hyung,"
"Hmm?"
"Aku homoseksual."
Hansol tak bergerak dengan heboh. Dia hanya menatap Yuta yang ada di atasnya. Keterkejutan atau rasa jijik sama sekali tak terlintas di otaknya. Yang ada dia malah meraih pipi sang adik lalu membelainya dengan lembut.
"Lalu?"
"Itu salah. Itu… berbeda."
Hansol bangkit. Mendudukkan dirinya di samping Yuta.
Dia tahu kekalutan yang dirasakan adiknya selama ini. Bagaimanapun juga pertemanan mereka sudah cukup lama untuk keduanya bisa mengerti satu sama lain. Tapi dari semua masalah yang pernah terjadi, baru kali ini Hansol merasa Yuta mulai berubah. Sesuatu yang buruk. Karena Taeyong.
Bukan dia membenci Taeyong karena membuat Yuta seperti sekarang. Tapi, bukan juga dia membenarkan tindakan Taeyong yang mendiamkan Yuta sampai sekarang. Dia tidak tahu dengan jelas masalah diantara keduanya karena Yuta tidak pernah mau untuk bicara mengenai masalah itu. Yang pasti kemurungan dan kesedihan Yuta berasal dari sana.
"Kau tahu sendiri."
"Tapi kenapa hanya aku yang seperti ini hyung? Kenapa hanya aku yang menderita karena ini? Kau lihat yang lain? Mereka sama sepertiku tapi mereka mendapat apa yang mereka inginkan. Mereka mendapatkan cinta dari orang yang juga mereka cintai."
"Kau membicarakan Jaehyun dan Doyoung? "
Tak ada yang terkejut jika pertanyaan itu muncul. Semua orang tahu bahwa mereka berdua adalah pasangan yang terlalu terlihat jelas.
"Ya."
"Mereka juga tidak memulainya dengan mudah, Yuta. Kita berdua tahu. Kita berdua yang membantu mereka juga. Kalah kau membandingkan hubungan mereka dengan hubunganmu dan Taeyong-"
"Mereka saling mencintai!"
"Jangan salahkan Taeyong jika dia tidak mencintaimu! Buka matamu, Yuta. Kau tidak bisa menyalahkan perasaan orang lain demi perasaanmu sendiri!" Hansol nyaris berteriak.
Yuta merasa sesuatu dalam dirinya telah ditampar oleh perkataan Hansol. Inginnya, dia mengelak tapi pernyataan itu tidak salah. Malah sangat tepat. Meski begitu, dia tidak bisa tidak sakit hati. Maka saat ia merasa matanya terlalu panas untuk menahan air matanya, Yuta beranjak dari sofa.
Yuta berdiri bahkan sebelum Hansol sempat menyadari apa yang baru saja diucapkannya. Tapi, tangannya bahkan bergerak lebih cepat dari otaknya. Hansol menarik tangan Yuta untuk tetap disana lalu merengkuhnya. Yuta menolak pelukan itu. Dia berusaha keluar.
"Maaf. Maafkan aku." Bisiknya. Meski disana hanya ada mereka berdua, Hansol ingin pastikan Yuta adalah satu-satunya orang yang mendengar penyesalannya.
Hangat napas Hansol di telinganya membuat Yuta bergetar. Dengan impuls itu dia merasa begitu nyaman. Sampai-sampai dia menangis tanpa peduli pada apapun lagi.
.
Aku tahu kau di balik sana. Melakukan ini dan itu yang tak ingin aku tebak-tebak.
Aku tahu kau di balik sana. Menangis, memikirkan betapa cinta begitu sulit untuk diraih.
Aku tahu kau di balik sana. Menikmati sentuhan jemari laki-laki lain yang bahkan tidak bisa kupersembahkan seujung jaripun untukmu.
Aku tahu kau di balik sana. Akan lebih bahagia ketimbang harus keluar, dan melihatku berdiri di depan pintu ini sebagai laki-laki pengecut yang selalu ingin lari.
Aku tahu kau di balik sana.
.
Sudah gelap. Hampir jam makan malam saat Yuta dan Hansol kembali ke dorm. Setelah mandi dan berganti pakaian, keduanya langsung pergi ke ruang makan.
"Kalian dari mana saja sih? Sering sekali menghilang berdua." Terocos sang tetua yang heran karena sering mendapati kedua orang itu menghilang dari dorm.
"Kencan…" jawab Hansol acuh sembari mengambil lauknya.
Yuta hanya diam saat jawaban itu muncul dari mulut Hansol. Pandangannya lalu tertuju pada seseorang yang duduk berseberangan dengannya. Tajam. Seakan mengulitinya hidup-hidup. Tolong sadarkan Yuta bahwa tatapan itu sangat jauh berbeda dari tatapan seorang kekasih yang sedang cemburu.
"Hansol hyung pasti membuat Yuta menangis." Celetuk Taeyong lalu membuang pandangan dari Yuta.
Suasana tiba-tiba berubah dingin. Mark menatap dengan serius wajah Yuta.
"Eoh! Mata Yuta hyung kenapa bengkak begitu? Yah! Hansol hyung, kau apakan dia?"
"Wah benar. Hansol hyung tanggung jawab dong." Timpal Jisung.
"Don't worry kids. Hansol hyung mungkin hanya main terlalu kasar makanya Yuta hyung sampai menangis."
Donghyuck berkata dengan enaknya sambil mengunyah makanan yang baru dia lahap.
"Heish! Pikiran bocah ini."
Makan malam hari itu lalu mencair. Berterimakasihlah pada Donghyuck dengan sejuta candaannya yang sedikit mesum.
Berbeda dengan semuanya, Taeyong menjadi satu-satunya yang merasa terganggu dengan candaan Donghyuck. Jadi, dia memakan makan malamnya dengan cepat.
"Yuta, kau ada acara besok?" tanya Taeyong tiba-tiba. Berhasil mencuri semua perhatian.
"Aku, ya. Aku akan pergi dengan Hansol hyung."
Taeyong menyembunyikan gemeletuk gigi dan kepalan tangannya. Emosi.
"Lalu kapan kita bisa pergi? Kuharap kau tidak lupa dengan janjimu untuk jalan-jalan bersamaku."
Akhirnya. Perasaan senang langsung muncul di hatinya. Menghancurkan semua mood buruk Yuta.
"Em… Aku tidak tahu… ada banyak hal yang ingin kulakukan beberapa hari ini."
Tapi, keraguan menghalangi segalanya. Dia belum siap. Beri selamat pada Hansol yang berteriak padanya tadi, dia akhirnya berjalan selangkah mundur.
Taeyong melirik Hansol yang juga menatapnya. Tanpa ada arti khusus dalam tatapan itu, membuat Taeyong malah curiga.
"Terserah kau saja."
Taeyong meletakkan sumpitnya di meja dengan keras. Seakan memberikan pengumuman pada semuanya bahwa dia tidak dalam mood yang baik. Mengabaikan keheranan dari adik-adiknya, Taeyong pergi.
.
Yuta Pov.
Sikap Taeyong yang semalam masih mengganggu pikiranku. Bagaimana tidak, dia jelas-jelas menunjukkan kekesalannya pada semua orang malam itu. Membuat hubungan kami yang buruk terekspose sejelas-jelasnya pada member lain. Namun, aku bersyukur tak ada seorangpun yang meminta penjelasan saat itu juga. Aku tahu mereka penasaran dan khawatir dengan hubungan kami, tetapi mereka tetap bungkam untuk menghargai privasi kami sampai waktu yang tepat datang. Lagipula, tidak mungkin juga aku menutupi perasaanku selamanya pada Taeyong dari member lain.
Yang masih menjadi pertanyaan adalah mengapa dia harus marah?
"Hei, kenapa melamun?"
"Ah, tidak. Aku cuma penasaran saja kenapa semalam Taeyong jadi marah."
Gosokan Hansol hyung pada punggungku seketika berhenti. Betapa bodohnya, sekarang aku mengungkit Taeyong lagi. Aku menoleh sedikit ke Hansol hyung. Dia menatapku seperti biasa ketika aku sudah mulai membicarakan Taeyong. Lelah. Tapi, aku tidak pernah mau berhenti untuk membicarakan laki-laki itu. Karena aku tidak bisa menghilangkan namanya barang sebentar saja dari otakku.
"Ada yang membuatku penasaran juga. Kenapa kau bilang ada janji denganku hari ini? Lihat apa yang kita lakukan berkat kebohonganmu itu."
Kulihat orang-orang sekitar kami yang tengah mandi. Banyak yang sedang saling menggosok punggung atau sekedar berdiam di bawah guyuran shower. Lucu juga melihat mereka dan menjadi bagian dari mereka. Dengan sadar aku tertawa.
"Sudah lama aku tidak ke sauna. Memang itu salah? Hahaha…"
Hansol hyung berdecak malas lalu mendorong punggungku agar aku kembali membelakanginya. Dia menggosok punggungku lagi. Kali ini dengan keras sampai aku nyaris berteriak.
"Paling tidak pergi ke tempat yang lebih berkelas dong."
"Iya, lain kali hyung…"
Selesai dengan membersihkan diri, kami duduk di aula sambil mengecek ponsel dimana notifikasi sudah memenuhi benda persegi itu. Tentu saja berita terbaru di kirim langsung dari belahan bumi yang lain sana, Amerika. Kemesraan antara Johnny dan Ten tergambar jelas lewat video yang baru saja mereka Johnny post di grup. Benar-benar membuat iri.
Hansol hyung meletakkan ponselnya duluan di lantai. Nampaknya tak terlalu tertarik. Padahal saat masalah Jaehyun dan Doyoung dulu, dia begitu antusias.
Merasa ditatap olehku, Hansol hyung melirik. "Kenapa?"
"Tidak tertarik dengan masalah mereka?" tanyaku. Bagaimanapun juga Johnny adalah teman kami yang berharga. Kami bertiga begitu dekat.
"Tidak. Johnny sudah besar. Lagi pula kalau mereka tidak ingin meresmikan hubungan mereka yang sudah kelewat intim itu, yah… itu pilihan mereka."
Anganku terbang bersama dengan kalimat Hansol hyung. Hubungan membingungkan Johnny dan Ten memang sudah bukan rahasia lagi. Seluruh orang juga tahu mereka sering saling mencuri pandang, atau bahkan berciuman. Aku pernah sekali memergoki mereka berduaan di beranda, tapi tak cukup berani untuk mengusiknya.
"Bagaimana mereka bisa tahan dengan hubungan seperti itu ya? Aku heran." Ucapku sambil menyedot shikhye untuk menghilangkan rasa kering membakar kerongkongan.
"Sudah kubilang kalau itu pilihan 'kan? Memang kau tidak tahu kalau cinta bisa saja berubah kalau status juga berubah? Mereka ada di zona nyaman sebagai teman. Jadi sepasang kekasih itu bukan satu-satunya tujuan tahu."
"Ya, ya. Terserah kau saja pak tua."
Kuberikan shikhye milikku yang tinggal setengah padanya lalu menatap ponsel lagi. Sebuah pesan masuk. Kali ini bukan dari grup. Dari Taeyong.
Aku melirik kesamping. Hansol hyung sibuk mengupas telur rebusnya yang berarti dia tidak memperhatikanku untuk beberapa saat. Aku bergerak menjauh untuk membaca pesan dari Taeyong.
From : Taeyong
Sauna sebelah mana?
Kenapa dia bertanya begitu?
Aku tak langsung menjawab pesannya. Masih bingung harus menjawab bagaimana dari pertanyaan yang tidak pernah kuduga akan datang itu.
Sekian lama berpikir, aku menyadari Hansol hyung menatapku dalam diam. Tatapannya penuh selidik. Kuletakkan ponselku kembali ke lantai lalu memusatkan atensi pada Hansol hyung lagi. Tak ingin dia curiga.
"Siapa?"
"Bukan siapa-"
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku terperajat dibuatnya. Saat aku akan meraih ponselku, Hansol hyung bergerak lebih cepat mengambilnya. Dari kerutan yang tercipta di dahinya aku bisa menebak nama siapa tlah tertulis di layar datar itu.
"Dari Taeyong…"
.
Sebuah meja bulat. Sepiring macaron berbagai warna. Tiga cup americano. Tiga orang pria dewasa yang duduk melingkar dalam keheningan tak berujung. Betapa menyulitkannya melewati momen ini.
Tiba-tiba udara terasa lebih panas ketimbang sebelumnya, padahal tengah hari sudah lewat 3 jam lalu. Di dalam café yang bahkan bersuhu 16 derajat celcius itu aku tak henti-hentinya menyedot ice americano milikku untuk meredam rasa panas membakar tubuh. Sementara itu, Hansol hyung dan Taeyong duduk dalam diam.
"Taeyong… macaron?" aku menawarkan namja bersurai putih itu sepiring macaron yang rencananya ingin kumakan sendiri.
Taeyong menggeleng lalu malah mengambil minumannya.
Aku melirik ke Hansol hyung. Dia, tidak sedikitpun melihatku sejak Taeyong datang. Selalu melihat keluar seakan-akan ada objek paling menarik di sana.
"Hansol hyung… macaron?" tak ingin ditolak lagi, aku menyodorkan sekeping makaron ke mulutnya.
"Makanlah sendiri Yuta." Hansol hyung menampik tanganku.
Keadaan ini membuatku frustasi. Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk bersikap biasa saat Taeyong tiba-tiba datang. Juga saat Hansol hyung tiba-tiba berubah menjadi pendiam. Bukan salahku kenapa atmosfer di sekitar berubah tidak mengenakkan. Kadang panas kadang dingin. Aku berusaha semampuku, tetapi mereka berdua tidak mengerti usahaku. Bahkan apa yang sekarang ini aku pikirkan pun aku jadi bingung.
Aku memakan semua macaron di piring secepat yang bisa kulakukan. Mengundang tatapan heran kedua temanku yang sejak tadi memenjarakanku dalam keadaan paling memuakan yang pernah ada. Begitu kudapan itu habis, aku langsung bangkit dari kursiku.
"Kalau kalian mau tetap diam-diaman seperti ini, ya sudah. Lakukan saja. Aku mau pulang."
Mereka tak bergeming bahkan ketika aku keluar dari café dengan wajah kesal. Sepertinya mereka memang tidak peduli dengan apa yang kurasakan.
Yuta Pov End.
.
Author Pov.
"Dia pergi," ucap Taeyong dengan mata yang tak lepas dari sosok Yuta yang pergi menyebrang jalan lalu menghilang dari pandangan. "Kenapa dia marah?"
"Mungkin karena macaronnya." Hansol menerka dengan asal. Apapun jawaban yang muncul diotaknya, dia suarakan. Sebenarnya dia punya niat untuk mencairkan suasana yang dingin diantara mereka lewat tanggapannya itu. Tetapi, yang terjadi malah sebaliknya. Pembicaraan mereka semakin mendekati jalan buntu yang tak bisa disambung lagi.
Hubungannya dengan Taeyong sangat baik-baik saja. Sejak awal bertemu, mereka tidak pernah bertengkar. Bagi Hansol, Taeyong adalah adik yang manis dan pekerja keras. Berteman dengannya sangat menyenangkan walau untuk beberapa waktu tertentu terasa membosankan. Jujur saja, Taeyong terlampau lurus buatnya dijadikan teman dekat. Terlalu menuruti aturan, terlalu cerewet untuk hal-hal sepele dan selalu bersikap seakan yang dilakukannya masih kurang.
Masa lalu Taeyong dia tahu dengan baik. Berterima kasihlah ia pada Yuta yang selama ini terbuka soal Taeyong padanya. Jadi meski ia tidak bisa berteman baik dengan Taeyong karena sifat-sifatnya, Hansol tidak bisa membencinya juga.
"Hansol hyung… Sering sekali ya pergi dengan Yuta. Aku baru menyadarinya."
Suara ragu Taeyong menyadarkan Hansol dari lamunannya. Namja itu bahkan tak sempat sadar bahwa kopi di gelas sang adik telah menghilang. Pernyataan itu pula tak ia sangka akan diucapkannya.
"Kami sudah lama bersama tahu…" ucap Hansol diikuti kikikan ringan. Namun segera menghilang kala melihat tatapan Taeyong yang seakan ingin mencabiknya sampai halus. Dia menyadari kesalahan dari ucapannya. "Maksudku… pergi bersama. Bukan yang yah, bukan seperti yang kau pikirkan."
"Memangnya aku memikirkan apa? Kau ada-ada saja, hyung."
Taeyong meraih gelas kopinya lagi lalu tersentak saat sadar sudah tak ada apapun di dalam benda itu. Ia salah tingkah lalu tiba-tiba meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Mengecek benda persegi itu seakan dia adalah orang yang sangat sibuk.
Kepanikan yang dengan jelas terlihat itu mengundang senyuman mengejek Hansol.
"Kenapa?" tanya Taeyong heran.
"Tidak…"
Hansol melirik jam tangannya. Tak terasa, sudah waktunya pulang.
"Kita pulang. Ayo…"
Keduanya berjalan menuju halte bus terdekat. Bukan tanpa risiko mereka berjalan seperti orang biasa ke tempat umum itu. Tentu akan banyak yang menyadari keberadaan mereka jika masker tak sempurna menutupi wajah mereka.
"Hyung, lebih sering menggunakan kendaraan umum saat pergi dengan Yuta?"
"Begitulah. Yuta lebih suka tantangan. Kau tahu itu, sang namja."
Tanpa sadar pembicaraan mereka mulai menghangat.
"Pasti menyenangkan. Bersama kemanapun."
Taeyong sengaja tak menyembunyikan warna iri –kecemburuan- dari ucapannya. Entah darimana motivasi untuk menunjukkan ketidak sukaannya itu muncul. Mungkin, dorongan dari ketidaksanggupannya untuk memikirkan betapa bahagianya Yuta saat pergi bersama Hansol. Menghabiskan waktu berdua di waktu-waktu yang Taeyong tak yakin seberapa sering. Mungkin lebih sering ketimbang dia yang setiap hari rela berdiam diri lebih lama di gedung SM untuk bicara dengan Koeun. Kalau dipikir lagi, memang gadis itulah alasan Taeyong tak tahu seberapa jauh kedekatan Yuta dengan Hansol.
"Seperti kau dan Koeun. Kalian juga pasti melewati waktu yang menyenangkan berdua." Biasanya Hansol tidak menyindir seseorang untuk mengatakan 'hal tidak pas' yang telah dilakukan orang tersebut. Dia orang yang lurus mengatakan sesuatu. Kali ini sebuah pengecualian langka.
"Apa yang biasa kalian bicarakan berdua?" tanya Hansol.
"Banyak… seperti yang lazimnya laki-laki dan perempuan bicarakan saat berdua. Kabar, jadwal, cuaca, apapun…"
"Hmmm… sesuatu yang bisa juga kau bicarakan dengan laki-laki juga 'kan?"
"Yah kecuali untuk bagian dimana mereka merengek saat datang bulan."
Tawa keduanya pecah. Dipikiran Taeyong masih hangat ingatan seminggu lalu saat Koeun sedang PMS dan marah padanya tanpa alasan yang jelas.
"Kadang Yuta juga sensitif seperti perempuan. Kau tahu saat dia marah tadi 'kan? Akhir-akhir ini dia sering sekali seperti itu. Heran…"
"Iya-iya. Dulu kalau dia badmood, selalu marahnya padaku. Kenapa dia itu?"
Ini adalah pembicaraan dari dua orang terdekat Yuta. Orang dulu dan orang sekarang. Yang pernah lewat tapi selalu kembali, serta seseorang yang lewat tapi tak dianggap.
Bis mereka datang. Penuh sesak sampai mereka harus berdiri terpisah dalam kendaraan itu. Baru saat sampai di halte dekat dorm, mereka kembali bersama.
Dorm sangat ramai mengingat member-member termuda telah pulang dari sekolah. Seandainya Ten dan Johnny ada disana, pasti hasilnya akan lebih hancur lagi.
Yuta duduk di sofa ruang tengah sembari mengamati Jisung yang baru saja menunjukkan gerakan poppin barunya. Sebagai kakak yang baik, dia bertepuk tangan riuh bersama magnae line lainnya saat sang real magnae selesai menunjukkan aksinya.
"Lho, Hansol hyung kok malah sama Taeyong hyung? Tadi, Yuta hyung pulang duluan tuh."
Jaehyun, memergoki kedua hyungnya baru pulang. Pertanyaannya yang bervolume keras itu membuat Yuta menatap mereka. Lalu, dia segera beranjak dari sofa menuju kamarnya setelah sebelumnya menepuk kepala Jisung dengan bangga.
Kepergian namja Jepang itu menimbulkan pertanyaan di benak Hansol dan Taeyong. Tapi, Hansol tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Ia hendak menyusul Yuta, tapi tiba-tiba Taeyong menahannya.
"Hyung, lusa aku ingin pergi dengan Yuta. Boleh?"
"Kenapa kau meminta izin padaku? Kenapa tidak langsung ajak saja dia?"
Taeyong tak langsung menjawab. Pupil hitam matanya bergerak risau saat mencari jawaban dari pertanyaan itu. Terlihat keraguan yang jelas dari bagaimana cara kedua belah bibirnya bergetar.
"Karena… karena dia tidak akan mau. Yuta akan membuat alasan lain, seperti sebelumnya, pergi denganmu, mungkin kali ini dia akan menjawab akan latihan denganmu atau apapun bersamamu. Kalau aku meminta izin darimu sekarang dan kau mengiyakannya, Yuta tidak akan punya alasan lagi."
Hansol di persimpangan yang membingungkan. Haruskah dia mengiyakan permohonan Taeyong tapi membuat Yuta tidak nyaman. Atau dia harus bilang bahwa lusa sebenarnya dia benar-benar punya rencana dengan Yuta yang itu artinya dia berbohong.
"Kalau aku tidak mengizinkannya?"
"Aku tahu kau tidak akan seegois itu, menyimpan Yuta untukmu sendiri, hyung."
.
Hansol Pov.
Kata-kata Taeyong masih terngiang di otakku. Bahkan setelah semalaman aku berusaha untuk menyangkalnya. Aku berusaha mencari alasan kenapa Taeyong bisa berpikir demikian dan semuanya berlabuh pada satu hal, yang Taeyong bilang itu memang benar.
Ruangan ini menjadi saksi bagaimana aku menyimpan Yuta untukku sendiri. Tanpa alasan yang spesifik, saat ruangan yang awalnya gudang itu dikosongkan oleh pemilik gedung apartemen, aku tanpa pikir panjang langsung menyewanya dan membawa Yuta kesana sebagai tamu pertama –kuharap sebagai tamu terakhir pula-. Saat itu, hubungan Yuta dan Taeyong telah renggang dan wajah Yuta tidak pernah secerah sebelumnya. Meski masih banyak tersenyum, disaat-saat tertentu dia memilih untuk memojokkan dirinya. Menjauh dari keramaian –yang biasa mengelilingi Taeyong.
Melihat adikku yang jadi pemurung, aku mencoba untuk menghiburnya. Kurasa tempat ini adalah bukti dari usahaku untuknya. Kami menghabiskan banyak waktu berdua disini tanpa ada orang yang tahu. Kami banyak bertukar cerita. Aku bercerita tentang hidup yang datar sementara Yuta bercerita tentang cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Tempat ini seakan-akan jadi rumah kedua. Setiap kami merasa tidak nyaman, tempat ini akan jadi pelabuhannya.
Tapi aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Bahwa orang-orang mulai melihatku sebagai seseorang yang menguasai Yuta. Sama sekali aku tidak menyadari bahwa perlakuanku padanya sampai sejauh itu.
Yuta orang yang menyenangkan. Mungkin itu yang membuatku betah ada di sekitarnya. Kurasa dia juga merasakan hal yang sama padaku. Kami nyaman dengan keadaan kami sekarang.
Namun setelah lama berpikir tentang pernyataan Taeyong, pikiranku jadi bercabang kemana-mana.
Salah satunya sebuah pertanyaan,
"Kenapa aku bertindak sejauh ini untuk Yuta?"
.
.
TBC
.
A/N: jjeng! Kok jadi Yusol? Wkwkwkwk… Karena belum saatnya Yutae bikin moment *eaa
Nantikan chapter selanjutnya dan disanalah Yutae… Semoga ya…
Semoga kalian gak terganggu sama eksistensi Yusol di FF ini. Cuz, Yusol itu couple yang ugh… gimana ya… real *plak. Liat Hansol sendiri terus tuh pikiranku selalu ke Yuta yang sibuk debut encete 127. Kangen moment mereka elah…
Hope You Like It ^^
