Cuma mau bilang satu hal: Sorry telat update—lagi. Alasannya sudah terlalu banyak dan sering digunakan, jadi saya cuma bisa bilang sorry aja.. Dimaafkan nggak? Wajib dong! *ditendang semua readers terus diceburin ke empang*

Oke, sekarang kita berlanjut ke balesan ripyu! Ini dia~

"Black Rose" Cyne_ : Nggak apa kok! xD Hahaha, apa yaaa? Ditunggu sajalah!

Leaf Valkyrie : Hahaha, iya aku baru nyadar ini! xD Maaf yo. Ini updatenya~

Just reader 'Monta' : Hehehe.. Sabar atuh! Ini update..

SanSun-Fami' : Iya neh, kok kamu hiatus? Kenapa? Kenapa? *digampar* Sibuk ujian yo?

Gekkou Kitsu : Soal kata itu.. Hmm.. Lumayan banyak sih nemu di novel-novel, kayaknya bisa dipake gitu.. Hahaha. Terbuka lebar kan rada kaku gitu.. *plakk* Maklum, saya ini suka pake kata yang nggak biasa! :p

Ai_l0ver : Iyup! Betul atuh.. Hahaha. Ini update, moga doyan! :D

YoshiKitty29 : *ikutan tepar ngebayangin Hiruma mandi* Hehehe.. Oke deh, saya usahakan permintaannya~ Disesuaikan sama keinginan yang laen yang mau panjang.. Ok? :D

KuroShiro6yh : Dilarang mikir yang aneh-aneh! Hahaha. Jangan tamat-tamat? Wah. Aku bikin kehidupan mereka tersendiri nih? :p

Asuka Nakamura : Masa sih? Hho. Sama dong kayak aku? *ikutan pundung ke pojokan* Biasa banget aku dihina-hina soal aksenku yang ancur banget. ==" Mari kita sama-sama berjuang!! Hehehe, berhasil deh bikin orang deg-degan. :p

SooJin : Hahaha.. Maksudnya itu? Cepet update tapi jangan juga? Wkwkwk. Diusahakan! Soal adegan itu sih.. Saya juga deg-degan sendiri! xD

Ruki_ya : Ini updatenya! Moga suka~ :D

Machi13shield : Makasih pujiannya.. Oke, diusahakan.. Maklumlah, sama author satu ini! :p

Hyuga_clan : Kalo mau nyatuin chap, kamu masuk ke storymu itu trus edit, nanti ada pilihan chapter, klik. Masukin deh chap yang kamu mau. Soal ripyu itu aku nggak ngerti, ripyunya nggak keterima? Coba enable anonymous review saja, ok? Semoga berhasil. :D

Namie Amalia : Nggak apa-apa kok! Ini updatenya~

RoziEtAakuMaHana : Thanks atas pujiannya! xD Jadi malu.. :p

Devilish Cutie : Syukurlah cocok! xD Tergantung adegannya ya.. Kalo terlalu didramatisir jadinya lebay dong? *plakk* Umurku 17 pas 24 Februari ini. Kenapa emang? :D

HellQBprincess : Soal kosa kata Bahasa Inggris.. *diem* Saya nggak bisa bilang apa-apa! Emang geblek banget saya di Bahasa Inggris.. Oke, ke depannya saya perhatiin lagi! :D

2586462-Akari chan- : Nggak, aliran normal-normal saja! Hahaha. Lihat aja, diapain sama Hiruma.. Kekekeke. :p

HirumaYouriLoveJuumonji : Makasih pujiannya.. *kepala mulai gede* Tebakannya bener, kalo soal ripyu lama.. Tak masalah lah, orang sini juga telat banget *plakk* Ini updatenya! :D

Akuma cutez : Peaceee.. Saya emang doyan telat update! Suka angin-anginan sih.. *emang flu? Plakk* Ini updatenya, maaf lama.. =="

Makasih yah buat ripyunya! Gila, banyak banget! Seandainya saja ide saya sebanyak ripyu yang kalian post, updatenya pasti nggak ngaret begini.. :p

Sekarang kita balik lagi ke cerita~ Tararara.. *gila mode: on*

Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata

Ide cerita © RisaLoveHiru

-hahahaha-

Maid's Clothes

-Hiruma's Apartment (05)-

Keringat dingin menetes di dahi Mamori. Perlahan gadis itu menghapusnya dengan punggung tangan. Raut wajahnya seperti orang yang sudah divonis mati, tidak bergairah. Pasrah.

Mamori menghela nafas. Dia sedang duduk di sofa ruang tamu Hiruma, menunggu kedatangan si pemilik rumah yang tengah pergi untuk mempersiapkan hukuman untuknya. Mamori kembali merutuk dalam hati. Hari ini sungguh hari paling sial yang pernah dia alami. Berkali-kali keinginan sesatnya menang, dan berkali-kali pula pembelaan warasnya kalah. Syukurlah Hiruma belum menyadari satu dari tiga tindakan gila yang Mamori lakukan—mencuri foto Hiruma.

Dua lainnya sudah tertangkap basah saat tengah melakukan pelanggaran. Tinggal satu lagi yang belum diketahui.. Begitu Hiruma melirik lemarinya dan menyadari salah satu figura yang ada kosong, pasti otak jeniusnya dengan cepat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan. Siapa lagi tersangkanya kalau bukan Mamori yang sehari ini berkeliling di rumahnya, mengintip segala hal dengan rasa ingin tau yang besar?

Keringat dingin kembali menetes dan semakin banyak. Mamori bergerak-gerak gelisah dalam duduknya.

Hiruma lama sekali..

***

Greeek.

Suara laci lemari yang dibuka terdengar pelan. Sepasang tangan yang berjari ramping dan panjang meraih ke dalam laci, mencari sesuatu. Tak lama kemudian jari-jari itu sudah mencengkram sesuatu dan menariknya keluar.

Hiruma tersenyum lebar ketika melihat barang yang dia pegang. Otaknya membayangkan berbagai macam hal. Hiruma menahan tawanya agar tidak mencelat keluar dari mulutnya—susah sekali berlagak sok kejam sekarang.

Barang itu diapitnya di ketiak, lalu Hiruma bersiap-siap ke ruang tamu untuk menemui Mamori yang pasti sedang gugup-gugupnya sekarang. Kakinya sudah melangkah ke pintu ketika matanya menangkap kamera yang diletakkan di atas meja. Hiruma nyengir.

Nyaris saja kelupaan, pikir Hiruma dalam hati. Diraihnya kamera itu dan dikantonginya ke dalam saku.

Sekarang aku benar-benar siap, lega Hiruma. Sebelum keluar, tangannya sempat terhenti sesaat di gagang pintu. Matanya menatap lurus ke depan. Hiruma menarik nafas panjang. Oksigen yang sudah dia hirup itu kemudian dia hembuskan dalam bentuk Karbon dioksida.

"Kekekeke.."

Akhirnya jari-jari Hiruma bergerak. Tangannya mendorong gagang pintu hingga terbuka. Hiruma melangkah keluar dengan sesuatu di ketiaknya dan kamera di saku celananya. Beberapa detik kemudian, Hiruma sudah berdiri di dekat pintu ruang tamu.

Pintu ruang tamu dibiarkan terbuka oleh Mamori. Kelihatannya gadis itu pasrah menerima apapun hukuman yang Hiruma berikan. Mau dibunuh, diancam, dikurung, terserah! Kepasrahan itu terbukti dari kepala Mamori yang terus menunduk ke bawah. Sudut bibir Hiruma terangkat.

Hiruma tidak membuang-buang waktu lagi. Setan itu masuk ke dalam ruang tamu, dengan sengaja tidak membuat suara sekecil apapun. Mamori yang tidak menyadari kedatangan Hiruma, tentu saja tetap diam dan merenung. Dalam sekejap Hiruma sudah berdiri di samping Mamori. Kemudian setan itu meraih barang yang diapit di ketiaknya dan dengan sangat mendadak melemparnya ke Mamori.

Siapapun akan bilang, itu adalah tindakan yang biasa. Melempar barang kepada seseorang? Tidak terhitung berapa kali kita pernah melakukannya. Sadar tidak sadar. Biasanya yang menerima lemparan juga refleks menjulurkan tangan, siap menangkap apa yang dilemparkan ke dirinya. Kalau dibiarkan melayang begitu saja jelas bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya saja kena kepala, terus benjol. Lumayan kan tuh?

Cuma di kasus yang satu ini beda banget. Hiruma melempar barang kepada Mamori yang tengah menunduk, pasrah menerima nasib—dilengkapi tidak menyadari gerakan-gerakan kecil di sekitarnya—jelas saja tindakan kecil begitu sukses membuat jantung nyaris copot saking kagetnya. Mana Hiruma adalah Quarterback handal, dimana sasaran yang dituju pasti akan dilemparnya tepat ke sana. Dalam hal ini tentu sasarannya kepala Mamori.

Mamori sontak menjerit ketika benda itu menghantam kepalanya.

"Kyaaaaaaa!??" jerit gadis itu histeris.

"Diam, Pelayan sialan! Hentikan teriakan gilamu itu!" bentak Hiruma seraya menutup kuping. Mamori mendongak, menatap Hiruma galak. Matanya sedikit merah.

"Apa kau tidak bisa menyerahkannya baik-baik!?" omel Mamori, gemetar. Rupanya gadis itu masih merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya alias deg-degan. "Selain itu, apa ini!?"

"Kurasa kau masih punya mata sialan, Pelayan sialan? Apa aku perlu menjelaskannya padamu?" kata Hiruma cuek, melempar dirinya ke sofa yang lain. Tangannya dibentangkan lebar-lebar, seakan meraup seluruh area sofa. Mamori mendengus.

"Jelas aku masih punya mata! Kalau tidak, aku tidak mungkin melihat wajah setanmu itu menghantuiku terus seharian ini!" ucap Mamori sebal. Hiruma terkekeh ala setannya. Ditatapnya Mamori tajam.

"Apapun istilahmu, Pelayan sialan." kata Hiruma ditengah-tengah kekeh setannya.

"Huh!" Mamori membuang muka.

Masih cemberut, Mamori perlahan memfokuskan pandangannya ke benda yang baru saja dilempar Hiruma ke kepalanya. Warnanya putih hitam. Dari kain. Apa ini? Lap jenis baru? Hiruma menyuruhnya mengelap sesuatu, ya? Senapan-senapan? Bazooka?

Tapi lap untuk bersih-bersih sejak kapan memiliki renda? Lagipula lap ini terlalu besar, dan ada lubangnya juga.. Apa ini sebenarnya!?

………………….

DEG.

Mamori mematung seketika.

Akhirnya dia mengenali benda yang diberikan Hiruma padanya. Dan itu sangat tidak bagus. Ini..

"Kau suka, Pelayan sialan?" tanya Hiruma, berusaha keras menahan geli melihat wajah Mamori yang mematung. "Oi!"

Tiba-tiba saja Mamori kembali ke alam nyata. Segera saja gadis itu mendelik kepada Hiruma. Dilemparnya benda itu jauh-jauh dari jangkauan dirinya. Lalu Mamori membuka mulut, siap memprotes Hiruma.

"Apa maksudmu memberikanku baju itu!??" bentak Mamori dengan wajah memerah. Hiruma pura-pura bodoh.

"Memangnya ada apa dengan baju itu? Bukannya bagus?"

"Tidak lucu, Hiruma! Aku menolak! Mimpi saja aku mau pakai baju seperti itu! Demi Tuhan, apa kau tidak bisa mencari hukuman yang lain saja!??" teriak Mamori kencang. Wajahnya semakin merah. Dirinya membayangkan dia dalam balutan baju itu.. Argh.. Tidak!!

"Wah, wah, wah. Pelayan sialan, kuharap kau tidak lupa ancamanku tadi?" desis Hiruma menyeramkan. Aura setan kembali menguar di punggungnya. Mamori buru-buru mengkeret sambil memeluk sapu. Entah kenapa, sapu itu memberinya dukungan secara mental dari tekanan Hiruma.

"A.. ancaman yang mana?" Mamori masih nekat ngeles, padahal sudah terpojok. Sudah salah, pakai acara pura-pura bego lagi! Mending kalau bener.

"Kekekeke.. Tidak usah pura-pura bego! Aku tau kau sudah bego, Pelayan sialan!" ejek Hiruma, membuat Mamori kembali mendelik padanya. "Kalau kau pintar, kau akan menuruti kata-kataku. Tapi hari ini kulihat kau sudah melanggarnya dua kali.."

"Tiga!" teriak Mamori, spontan membenarkan. Begitu tersadar, Mamori segera menutup mulut hebohnya. Tetap sambil merutuk dalam hati. Mamori.. bodoh, bodoh, bodohhhh!

Hiruma mengangkat alis. Tiga? Maksudnya?

"Apa maksudmu?" tanya Hiruma curiga. Mamori buru-buru mengarang alasan.

"Ti.. Ti.. tidak salah maksudku!" ucap Mamori buru-buru. Hiruma masih tetap curiga. Hanya saja Mamori kelihatannya tidak akan buka mulut lagi, jadi Hiruma berencana mencari tau nanti saja. Urus yang ini dulu.

"Terserah kau mau bilang apa. Intinya, kau tidak bisa menolak. Kau harus memakai baju itu!" kata Hiruma dengan nada final.

"Kenapa kau bisa punya baju ini!?" kata Mamori, mencoba membawa pembicaraan itu ke arah yang lain. Hiruma mendengus.

"Kau tidak perlu tau. Yang perlu kau tau, cara pakainya saja. Mulai sekarang, itu pakaian selama kau bekerja di sini!" putus Hiruma. Mamori menganga.

"APA?? Kau gila?" desis Mamori tak percaya. Hiruma mengangkat bahu.

"Itu hukumanmu. Tak usah protes, atau aku akan memecatmu." kata Hiruma cuek. Mamori membelalak. Seakan-akan gampang mencari kerja! Mamori jadi curiga campur yakin, kalau Hiruma tau soal keluarganya yang terpaksa mengungsi dari kota karena tidak mempunyai pekerjaan. Mamori sendiri masih ingin berada di Deimon, jadinya tidak ikut pergi. Apalagi dia sudah dapat pekerjaan.. pekerjaan yang mungkin saja akan hilang dalam sekejap karena ketidaksudiannya memakai baju menggenaskan itu!?

"Baik, baik, akan kupakai!" Mamori mengangkat tangan, menyerah. Kapan sih bisa menang dari Hiruma? "Puas kau sekarang!?"

"Yah, itu akan menjadi peringatan bagimu untuk tidak melakukan pelanggaran lainnya ke depan." senyum Hiruma. Mamori mencibir.

"Tidak usah tersenyum kalau itu berarti orang lain menderita!" kata Mamori. Gadis itu meraih baju yang tergeletak di lantai dan melangkahkan kaki ke kamar mandi dengan raut wajah sangat kesal. Dibantingnya pintu lumayan keras sebagai pelampiasan.

Hiruma tertawa. Sukses sudah rencananya. Sekarang saatnya mencari tau hal apapun yang Mamori sembunyikan darinya.

Tak ada yang bisa disembunyikan dari Hiruma. Dia selalu tau.

Insting setannya mengatakan, Mamori membuat pelanggaran yang lain. Apa itu? Kita tidak tau. Bagaimana bisa tau? Itulah gunanya membeli dan memasang kamera pengintai berukuran sangat kecil di tempat tersembunyi.

Hiruma membuka laptop, memasuki berbagai macam aplikasi yang tidak bisa author jelaskan karena author tidak bisa menangkap kecepatan tangan Hiruma yang mengaplikasikan data yang begitu cepat—bisa dibilang author tidak mengeri sama sekali. Blank! Hiruma cepat sekali memainkan tangannya di mouse, cursor juga bergerak sama cepatnya untuk merespon gerakan-gerakan pada mouse.

Tak lama kemudian layar memunculkan berbagai gambar bergerak. Hiruma sudah berhasil menghubungkan laptopnya dengan kamera pengintai. Hiruma berfokus ke kamera pengintai di ruang tamu, dapur, dan kamar tidurnya. Waktunya diset agar menampilkan rekaman saat Hiruma tidak berada di rumah atau saat Mamori tinggal sendirian di satu ruangan. Hiruma mengamati rekaman itu dengan seksama.

Mata Hiruma menangkap gerakan mencurigakan di rekaman kamera di ruang tamu. Rekaman itu menampakkan Mamori yang berdiri tak jauh dari lemari tempat dia memajang berbagai macam foto-foto. Sesaat Mamori diam tak bergerak dan sedikit ragu-ragu. Perlahan tangannya terjulur ke depan, lalu berhenti. Tiba-tiba saja tangan itu kembali bergerak, menyambar salah satu figura dan mengeluarkan isinya dan memasukkannya ke.. dompet!

Hiruma terpana. Salah satu tindakan gila yang lain!

Tidak disangka gadis itu benar-benar melakukan tindakan gila. Tiga, lagi. Di rumah Hiruma pula! Ini sungguh pantas mendapat pujian atau bahkan award.

Hiruma berdecak kagum.

Kini tinggal menunggu gadis itu kembali dan memberinya hukuman yang lain.

***

Sementara itu, Mamori..

Mamori berdiri diam, menatap baju itu lekat-lekat. Baju itu sungguh.. menggelikan. Penuh dengan renda dan pita, bagaimana selayaknya baju maid dibuat.

Mamori bukan penganut aliran celana saja atau rok saja. Dia bisa memakai baju model apa saja. Dari yang kecowok-cowokkan hingga yang kecewek-cewekkan. Boleh saja, asal bisa masuk. Kali ini pun sebenarnya dia menganggap baju maid di hadapannya manis.. Oh, oke. Bukan hanya manis. Tapi sangat manis!

Bahannya halus, nyaman dipakai. Modelnya lucu. Kalau dipuji, nggak bakal ada habisnya. Mamori bertaruh baju itu pasti mahal dan sudah disiapkan Hiruma sebelumnya. Kalau tidak, mana mungkin muncul tiba-tiba begini?

Tak masalah memakai baju itu sebenarnya. Tapi Mamori takut. Dia tau, hukumannya bukan hanya ini. Hiruma tidak mungkin begitu baik memberinya hukuman memakai baju ini saja. Pasti ada hal lain..

Ancaman yang lain.

Apa itu? Mamori tak sanggup memikirkan apa yang ada di kepala Hiruma. Pemikiran Hiruma selalu lain dari yang lain, misterius, dan menghebohkan. Tak ada yang mampu mengikuti dan menebak..

Tak ada cara melarikan diri yang lain.

Mamori harus memakai baju itu.

***

Gyaaaaa! Selesai! Pendek? Panjang? Yang mana saja, saya tidak tau! Tapi saya bikinnya malem-malem sih, udah ngantuk banget jadi terpaksa berhenti. Sekali lagi maaf telat update, mohon dimaklumi.. Warning saya dari dulu atuh. :p

Ngomong-ngomong, di chap ini Mamori pakai baju maid kan? Memang sih baru dibahas lebih lanjut di chap berikutnya, hanya saja saya mau infokan.. Atas request dari sodara saya dan , saya bikinkan bonus gambar lagi!

Readers : Gambar apa?

Author : Gambar Mamori pakai baju maid donggg.. *jingkrak-jingkrak nggak jelas*

Sayang saja saya belum upload gambarnya ke FB saya, baru gambar doang. Jadi kalau sudah diupload, saya infokan di chap berikut.. Maklum, musti cari warnet dulu buat upload! Sabar saja yaa..

Bagi yang udah friend sama saya di FB, kasih tau ya kalau mau ditag.. Plus nama kalian di FB.. Karena saya tidak ingat, hanya ingat beberapa saja! *plak, plak, plakkk!* Akhir kata, saya bilang mohon klik kotak ijo di bawah! Ripyu sangat dinantikan~ :D