Devil :: Naruto Phenex

Disclaimer : Naruto & Highschool DxD bukan punya saya

Genre : Adventure & Others

Rate : M

Pairing : Naruto x ?

WARNING: Alur ngarang alias gak jelas alias rumit alias susah dipahami/ OC/ Death Chara/ Jurus buatan sendiri (banyak)/ DarkNaru.

A/N : mulai dari chapter ini, deskripsi fisik Juni saya ubah. menjadi seperti boruto dewasa, dengan rambut perak dan tanpa kumis kucing tentunya.

.

.

.

Chapter 10 : Kelompok Juni vs Kuro.

.

.

.

"Dengan senang hati."

Bwosh

Api mulaiberkobar menyelimuti seluruh tubuh Juni, membuat ketiga bidaknya agak menjauh agar tidak terkena Apinya.

Swosh Swosh

Sepasang sayap Api berukuran cukup besar terbentuk dipunggung sang Phenex muda.

"Akan kubuat kau bicara!"

Si Hitam hanya tersenyum licik dibalik topengnya.

"Majulah."

Wushh

Dia mengepakkan sayap Apinya, terbang dengan kecepatan tinggi.

Srushh

Dia melesat layaknya peluru Api raksasa.

Swushh

DUAGHHH!

Namun, dengan cukup mudah Kuro berhasil menahan serangan Juni. Meski ia agak terdorong sedikit kebelakang.

Pukulan mereka terlihat beradu.

Syatt

Kaki kanannya dia ayunkan menuju kepala Kuro. Dan dengan mudahnya kuro menghindarinya dengan menundukkan kepalanya.

Syatt

Memutar tubuhnya sedikit, kaki kirinya melanjutkan serangan.

Duagh

Kuro berhasil menahan tendangan itu dengan menyilangkan kedua tangannya.

Syatt

Belum berhenti, kaki kanan Juni kembali menyerang dari samping kiri Kuro.

Duagh

Tendangan kaki kanan itu sukses mengenai kepala Kuro, membuatnya terlempar beberapa meter.

Tap

Dan disaat kakinya kembali bersentuhan dengan tanah, saat itu juga Juni sudah berada dihadapannya dengan tinju yang siap menghantam dirinya.

Syatt

Namun, dia hanya meninju udara kosong. Kuro tidak lagi berada ditempatnya semula, dia berhasil menghindari pukulannya.

'Tch! kemana dia?' batinnya agak kesal. Sesaat kemudian, instingnya menjerit menandakan bahaya.

Grak!

Dan benar saja, sebuah Rantai tiba-tiba keluar dari dalam tanah hendak melilit tubuhnya. Namun dengan cukup mudah Juni berhasil menghindarinya dengan melompat kebelakang.

"Hn, hampir saja ya."

Juni menengokan kepalanya kearah sumber suara, dan dia bisa melihat Kuro sedang duduk bersila disebuah batang pohon besar yang tak jauh dari tempatnya.

Dia 'pun kesal.

"Tch! Sialan!"

Swush

Dia menembakkan bola Api berukuran sedang ke tempat Kuro berada.

Dumm

Serangan itu tepat mengenai sang target.

Krak

Brugg

Dan pohon yang terkena serangan bola Api itu tumbang secara perlahan.

Namun,

"Hn, emosimu benar-benar tidak terkontrol ya."

Dari arah tumbangnya pohon tadi, keluarlah Kuro dengan santainya.

"Kau tidak akan bisa mengalahkan Sirzechs jika seperti itu."

Mendengar nama mahluk yang paling dibencinya itu disebut, tak ayal membuat hati Juni bergemuruh akan luapan emosi.

"Kau.."

Shut shut shut

"..BERISIK!"

Secara bertubi-tubi Juni menembakkan bola Apinya kearah Kuro.

Shut shut shut

Namun,

Lagi-lagi.

Dengan mudahnya Kuro menghalau semua serangan bola Api kecil itu, dengan hanya satu tangannya saja.

Hingga pada akhirnya serangan itu 'pun berhenti.

"Hosh.. Hosh.."

Juni mulai kelelahan.

'Sepertinya, staminaku belum pulih sepenuhnya akibat latihan tadi.' batinnya.

Di sisi lain, Kuro hanya menatap datar kearah Juni. Kemudian, secara perlahan mulai melepaskan jubah hitamnya. Terlihat sekarang dia mengenakan baju hitam panjang dengan sarung tangan hitam, dan celana hitam panjang.

"Hn, sepertinya kini giliranku."

Bwosh

Kobaran Api kecil terlihat menyala di Kaki Kuro.

"Bersiaplah.."

Bwosh

Perlahan-lahan kobaran Api itu mulai menjalar kebagian atas tubuh Kuro.

"..Dengan rasa sakit yang akan kuberikan."

.

.

.

Awalnya dia enggan, bahkan tidak sudi untuk bertemu dengan dua mahluk yang paling dibencinya didunia ini. Tapi, dikarenakan ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin dibicarakan, maka dia 'pun harus rela membiarkan kebenciannya meraung-raung tanpa bisa terlampiaskan.

Ya, Lucy Phenex.

Dia dengan amat sangat terpaksa harus bertemu dengan mahluk yang menjadi penyebab kematian Anaknya, Sirzechs Gremory dan juga Grayfia Lucifuge.

Saat tengah malam, Sirzechs tiba-tiba menghubungi Suaminya. Dia mengatakan ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin dibicarakan, dan meminta izin untuk datang ke Istana Phenex bersama Grayfia. Tentu saja awalnya dia menolak, tapi saat mendengar kalau itu juga soal Naruto dan Juni, dia tidak punya pilihan.

Dan disinilah mereka berada, ruangan pribadi milik Minato Phenex.

Tentu pada awalnya dia bertanya-tanya dalam pikirannya sendiri, hal penting seperti apa yang menyangkut Naruto dan juga Juni yang ingin dibicarakan Sirzechs. Mengingat dia sudah mengetahui semua hal tentang mereka.

Tapi,

Meski begitu..

Itu tidak menjadi jaminan bahwa kabar baik yang akan ia terima.

Seakan hujan dan badai tiba-tiba datang disaat musim kemarau.

Tubuhnya mendadak kaku seakan baru tersengat listrik.

Mulut yang seakan lupa bagaimana caranya berbicara.

Matanya membulat.

Dia.. Terkejut.

"A-apa.. Kau.. Bilang?"

Sirzechs Gremory.

Dia sudah memperkirakan reaksi seperti ini yang muncul dari Ibu sahabat lamanya itu. Dia sebenarnya tidak ingin memberitahukan hal ini dulu untuk sementara waktu sampai masalahnya selesai. Namun karena sesuatu tak terduga muncul saat Pertemuan Tiga Fraksi tadi malam, dia terpaksa melakukannya.

"Maafkan aku, itu sudah terjadi. Juni sudah mengetahuinya." ucap Sirzechs pelan, penuh dengan penyesalan.

Dalam hatinya, dia benar-benar sudah lelah dengan semua masalah yang terjadi. Akibat dari kesalahannya dahulu, masalah-masalah yang seharusnya tidak terjadi kini menjadi kenyataan yang harus dia hadapi.

"Kenapa itu bisa terjadi, Sirzechs?" ucap seseorang yang berdiri disamping Lucy, Minato Phenex.

Akhirnya dia buka suara, setelah sebelumnya hanya diam mendengarkan dan juga terkejut atas informasi yang disampaikan Sirzechs barusan.

"Ada perdebatan kecil yang terjadi antara aku dengan Grayfia soal Naruto, dan Juni tiba-tiba datang waktu itu. Dia mendengar pembicaraan kami, dan akhirnya mengetahuinya." Wanita yang disebutkan Sirzechs barusan hanya menunduk sedari tadi, tak berani melihat kearah sepasang Suami-Istri itu.

Masalah yang semakin rumit membuat Grayfia bingung harus bagaimana untuk menyelesaikannya.

Tapi, satu hal yang pasti.

Dia akan kembali disalahkan.

Atau mungkin,

Memang dialah kesalahan itu.

Dan untuk saat ini, dia memilih diam dan tak akan berbicara sepatah kata 'pun.

Hahh~

Terdengar helaan nafas kecil yang keluar dari mulu sang Tuan Phenex.

Dia tau, hal ini pasti akan terjadi. Meski jika belum terjadi sekalipun, suatu saat pasti akan terjadi juga. Entah itu disengaja ataupun tidak disengaja, semuanya sama saja. Dan kenyataannya, kini hal itu terjadi tanpa disengaja.

Dan sekarang, Juni sudah tau kalau yang membunuh Ayahnya adalah salah satu Iblis yang paling dia hormati di Dunia Bawah.

Sirzechs 'Lucifer' Gremory.

Dan pastinya, dia..

"Bagaimana reaksinya?" tanya Minato penasaran, meski sebenarnya dia sudah tau jawabannya.

"Tentu saja, dia sangat marah. Dia juga sempat menyerangku. Aku juga sudah menjelaskan soal petarunganku dengan Naruto padanya, dan alasan kenapa penyebab kematian Naruto dipalsukan. Tapi, itu tidak berpengaruh apapun. Dia membenciku, juga Grayfia." Sirzechs menjelaskan secara singkat.

"Lalu, bagaimana dengan 'itu'?" Sirzechs tau apa yang dimaksud 'itu' oleh Minato.

"Aku tidak mengatakannya, dan kurasa dia juga belum mengetahuinya." Ya, 'itu' yang dimaksudkan adalah..

..Pengkhianatan yang dilakukannya bersama Grayfia, terhadap Naruto.

"Begitu ya." ucap Minato. Dia memperkirakan kalau Juni juga membencinya dan seluruh keluarga Phenex lainnya, karena walau bagaimana 'pun mereka juga ikut andil dalam kebohongan yang dibuat Sirzechs untuk menutupi kebenaran dari kematian Naruto.

"Ini sungguh bukan masalah kecil, kau tau 'kan bagaimana dendamnya pada Golongan Maou Lama?" Minato terlihat serius ketika mengatakan itu. Dia tau bagaimana sifat Juni, sangat tau.

Apalagi jika menyangkut soal kematian Naruto.

Juni tidak main-main.

Terlebih, dendamnya pada sang pembunuh Ayahnya.

Dia berlatih keras untuk memenuhi ambisinya itu, masa kecilnya benar-benar dihabiskan untuk mengasah kekuatannya.

Dan ketika dirasa kekuatannya sudah cukup, dia akhirnya pergi mengembara ke Dunia manusia untuk membalaskan dendamnya pada Golongan Maou Lama.

Meski dia adalah Kakeknya, jika soal balas dendam Juni tidak pernah mendengar nasehatnya. Justru, hasratnya semakin menggebu dari waktu ke waktu.

Dan sekarang, Juni sudah mengetahui kebenarannya. Kenyataan dimana Ayahnya ternyata mati ditangan Sahabat Ayahnya sendiri.

Jika pada awalnya Juni pergi untuk membalas dendam ketika mengetahui pelakunya adalah Golongan Maou Lama, maka kini..

..Dia akan kembali untuk tujuan yang sama.

Sirzechs mengangguk menjawab pertanyaan Minato. "Ya, aku tau. Aku sudah siap menanggung resikonya." ucapnya penuh dengan keyakinan.

"Kenapa.."

Sebuah gumaman menginterupsi pembicaraan Minato dengan Sirzechs.

"Kenapa.."

Ekspresinya tak terbaca, Lucy hanya menunduk.

"Kenapa, kalian.."

Aura yang tidak mengenakkan mulai menguar dari tubuh Lucy.

"..BISA SECEROBOH ITU?!"

Sringg

"Lucy!" Minato terkejut.

Flash!

Sebuah tembakan bola Energi kuning transparan keluar dari lingkaran sihir yang dibuat Lucy. Tepat mengarah pada Sirzechs dan Grayfia.

'Gawat!'

Sringg

Duarr

Sebuah ledakan terjadi.

Sebelum bola energi itu berhasil mengenai mereka, Sirzechs dengan cepat membuat lingkaran sihir sebagai pertahanan.

Tampak lingkaran sihir milik Sirzechs mengeluarkan asap akibat serangan tadi.

'Hampir saja.' ucap Sirzechs dalam hati. 'Huh, sama seperti sebelumnya.' lingkaran sihirnya kemudian menghilang.

Puk

Sett

"Lucy! Tenangkan dirimu!" Minato reflek membalik badan Lucy untuk menghadapnya, kedua tangannya berada dibahu Lucy seakan mencoba menenangkan.

Namun, Lucy malah menatap Minato tajam. "Bagaimana mungkin aku bisa tenang, Minato?! Juni sudah mengetahui rahasia itu, Dia.. Dia.."

Tes

Lucy menangis.

"..Dia.. Hiks.. Pasti membenci kita juga."

Minato menatap Istrinya sendu. Ya, ucapan Lucy ada benarnya. Walau bagaimana 'pun mereka juga ikut andil dalam kebohongan itu selama ini.

Dan pastinya, Juni..

"A-aku tidak mau kehilangannya.. Hiks.. Sudah cukup bagiku kehilangan Naruto.. Hiks.. A-aku.. A-aku.."

Grep

Tak tahan melihat Istrinya itu menangis, Minato membawa Lucy kedalam pelukannya. Mencoba menenangkan.

"Aku tau, sayang.. Aku tau. Tapi, semua sudah terjadi. Kau harus mengerti situasinya saat ini, emosi takan menyelesaikan apapun." ucap Minato lembut.

Walaupun dia berkata begitu, tapi hati kecilnya juga merasakan ketakukan yang sama seperti Lucy. Dia hanya mencoba tegar, dan bersikap tenang menghadapi masalah ini.

Sirzechs hanya menatap sendu pasangan Suami-Istri itu, dia mengerti bagaimana perasaan mereka saat ini. Tapi kemudian tatapannya menjadi sangat serius. "Ada satu informasi lain lagi yang ingin aku sampaikan, dan ini lebih penting dari yang tadi." ucapnya.

"..Ini tentang Naruto." lanjutnya.

Mendengar nama Naruto disebut membuat Minato langsung menatap Sirzechs tajam, bahkan tangisan Lucy 'pun mulai mereda.

"Maksudmu?" tanya Minato.

"Naruto.."

Sebenarnya dia tidak ingin memberitahukan ini pada mereka berdua, namun sekali lagi keadaan sungguh memaksa dirinya. Sebelumnya juga dia sudah membuka 'aib' nya pada pertemuan Tiga Fraksi tadi malam.

Ya. Dia sudah memberitahukan masalah 'itu' pada Azazel dan Michael. Juga Rias dan Sona yang kebetulan berada bersama mereka.

-Flashback-

"Apa?!"

Cerita Sirzechs telah berakhir, dimana kisahnya dia tutup disaat pertarungannya melawan Naruto 50 tahun yang lalu. Dan seperti yang dia perkirakan, mereka sangat terkejut.

Terlebih untuk Rias dan Sona.

Rias sendiri tidak tau harus bagaimana, pikirannya benar-benar terpenuhi oleh cerita Kakaknya barusan. Dia ingin tidak mempercayainya, tapi melihat kondisi Grayfia dan Serafall yang seolah tertekan membuatnya harus menelan kenyataan pahit ini.

Kenapa Kakaknya melakukan hal sehina itu pada Sahabatnya sendiri?

Apa yang dia pikirkan hingga tega melakukan hal itu?

Dan kenapa juga Grayfia yang sampai saat ini sangat mencintai Naruto, nekat berselingkuh dengan Kakaknya?

Yang bahkan perselingkuhan itu mereka lakukan..

..Disaat Grayfia sedang mengandung Anak Naruto, Juni.

"Kenapa, Onii-sama? K-kenapa kau melakukan itu?" bahkan tubuh Rias sampai bergetar saat mengucapkannya.

Sirzechs melirik Grayfia dibelakangnya. "Karena cinta.." Dia mengalihkan pandangannya. "..Ya, dulu cinta membuatku buta akan segala hal." ucapnya sendu.

Ucapan itu sedikit menyentil perasaan Grayfia, namun dia tidak seperti Sirzechs. Dia berselingkuh dengan Sirzechs bukan karena memiliki perasaan pada lelaki itu, tidak sedikit 'pun.

Tapi karena 'sesuatu', yang membuatnya hanyut oleh keadaan.

Rias seketika emosi. "Tapi, tetap saja.. Kau.. Kau.." Tangannya mengepal kuat.

"..Telah mengkhianati sahabatmu sendiri!" ucap Rias tajam.

Sona Sitri akhirnya mulai bisa menguasai dirinya kembali, setelah dilanda keterkejutan yang teramat sangat. Ucapan terakhir dari Rias berhasil menyadarkannya. Pandangannya kemudian beralih pada Kakaknya yang sedang duduk membelakanginya, membuatnya tidak bisa melihat bagaimana ekspresi dari Maou Leviathan itu.

'Jadi, selama ini kau mengetahuinya Onee-sama? Dan menutupinya dari kami, bahkan Ayah dan Ibu 'pun sepertinya tidak mengetahui hal ini.' batin Sona.

Hahh~

Terdengar helaan nafas dari seseorang.

"Sepertinya, ini memang benar-benar masalah pribadi ya." perkataan itu terlontar ringan dari mulut Sang Gubernur Malaikat Jatuh, Azazel.

"Aku tidak menyangka Cinta yang terkhianati bisa membuat Mekai dalam bahaya. Sungguh perasaan yang mengerikan." meski berkata demikian, Azazel masih sempat tersenyum konyol. Ada yang lucu mungkin?

Sementara itu Michael hanya menyimak saja sedari tadi. Dia terlalu bingung dengan keadaan mereka saat ini. Niatnya datang ke pertemuan Tiga Fraksi ini untuk membuat sebuah 'jalan' perdamaian dan juga menyetujui terbentuknya Aliansi Tiga Fraksi.

Tapi nyatanya, justru keadaan makin bertambah buruk. Dimulai dari penyerangan sekelompok mahluk yang teridentifikasi sebagai organisasi Khaos Brigade. Dan sekarang, Mekai tempat tinggal para Iblis dalam bahaya. Seorang Iblis dengan kekuatan 'misterius' yang bahkan mampu membuatnya bersama Azazel dan Sirzechs tak berdaya, berniat menghancurkan Mekai.

Namun, raut wajahnya tetap tenang seperti biasa. 'Naruto Phenex 'kah? Ya, aku yakin pernah bertemu dengannya beberapa tahun lalu.' batin Michael.

Kembali ke Rias, dia masih setia dengan emosinya. Kini tatapan tajamnya dia tunjukkan pada Grayfia disampingnya. "Dan kau, Grayfia-san! Kenapa juga kau-"

"Sudah cukup, Rias Gremory."

Tak terima ucapannya dipotong begitu saja, Rias mendelik tajam pada sang pelaku.

"Aku sedikit mengerti bagaimana perasaanmu, tapi itu tidak penting lagi sekarang. Karena kita memiliki masalah yang lebih serius saat ini, maka dari itu kendalikan dulu emosimu." hilang sudah wajah dengan senyum khasnya itu, Azazel mulai serius sekarang.

'Tch!'

Dan Rias hanya bisa mendecih dalam hatinya.

'Maafkan Kakak, Rias.. Sudah membuatmu kecewa.' batin Sirzechs sendu.

-Flashback End-

Kini, Sirzechs kembali dihadapkan pada situasi yang sama. Dimana dia harus menyampaikan informasi yang sebetulnya sulit untuk dikatakan.

Tapi, tetap harus dia lakukan.

"Naruto, dia masih hidup."

Jder!

Bagai petir yang menyambar langsung ke indera pendengar mereka, membuat keduanya terkejut dengan kabar yang baru saja diucapkan.

"A-apa.. Maksudmu.. Sirzechs?" bahkan Minato sendiri harus terbata-bata karena terlalu kaget mendengarnya.

Sirzechs sedikit menarik nafas, dia harus tenang menjelaskannya agar Minato dan Lucy 'memahaminya'. "Saat berlangsungnya pertemuan Tiga Fraksi tadi malam, Naruto datang secara mengejutkan." jelasnya.

Sett

Lucy melepaskan pelukan Minato darinya.

Dia menatap Sirzechs tajam. "Apa maksudmu, Sirzechs?! Kau dan aku sama-sama tau kalau Naruto sudah mati 50 tahun yang lalu, karena kau!" bentaknya.

Seakan sudah kebal dengan itu, Sirzechs masih tetap tenang. "Baiklah, akan ku tunjukkan." ujarnya.

Kemudian munculah sebuah layar proyeksi dari lingkaran sihir yang dibuat Sirzechs yang memperlihatkan kedatangan Naruto dan apa saja yang dia perbuat sampai kepergiannya dari Academy Kuoh.

Minato dan Lucy hanya ternganga tak percaya.

"Ini.. Bohong 'kan?"

"Aku tau ini sulit dipercaya, tapi inilah kenyataannya." ucap Sirzechs.

"Tapi, bagaimana bisa? Bukankah waktu itu.."

Meski Lucy sedikit bahagia saat mengetahui Naruto masih hidup, namun dia tidak langsung melahap mentah-mentah informasi barusan.

Bisa dibilang, hatinya masih ragu.

Tapi, tetap saja..

Tes

'Syukurlah, Naruto.. Syukurlah.'

Dia bahagia.

"Ada yang aneh."

Gumaman Minato yang ambigu itu membuatnya ditatap heran.

"Kenapa Naruto seakan ingin membunuh kalian? Maksudku, kenapa Fraksi Malaikat dan Malaikat Jatuh juga para Iblis muda dia serang?" bukan tanpa alasan dia bertanya seperti itu, karena pada kenyataannya hanya Sirzechs dan Grayfia saja yang memilki masalah dengan Naruto. Lagi pula, layar proyeksi tadi tidak disertai suara. Jadi, dia tidak tau apa saja yang dikatakan Naruto.

'Benar juga.' batin Lucy.

"Untuk soal itu, aku juga tidak tau. Tapi-"

"Tunggu dulu!"

Kali ini giliran Lucy yang ditatap heran.

"Jika Naruto masih hidup, itu berarti.."

Senyumnya seketika mengembang, dia melihat kearah Minato. "..Kita tidak perlu lagi mengkhawatirkan Juni!" Lucy terlihat girang mengatakannya.

Dia tidak peduli bagaimana Naruto masih hidup, yang terpenting sekarang Anaknya masih hidup.

Mendengar itu, Minato ikut tersenyum. "Ya, kau benar sayang! Jika Naruto masih hidup, itu berarti Juni-"

"Tunggu, jangan senang dulu." dan sekarang giliran Sirzechs yang ditatap heran.

"Aku tau dengan kembalinya Naruto, mungkin dapat mengubah semua masalah yang sedang terjadi sekarang ini menjadi lebah baik. Termasuk juga soal Juni. Akan tetapi.. Itu hanya akan menjadi kemungkinan saja."

Kabar tentang Naruto yang masih hidup mungkin adalah kabar bagus.

Dan mungkin juga akan berpengaruh pada Juni.

Namun,

Tidak dengan niatnya.

"Karena kenyataannya, kita akan menghadapi masalah yang lebih serius lagi. Masa depan Mekai akan dipertaruhkan."

Mendengar itu, perasaan Minato mendadak tidak enak.

Lucy terlihat bingung dengan ucapan Sirzechs. "Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan? Jangan berbelit-belit, aku tidak mengerti." ucapnya sedikit jengkel.

"Mekai dalam bahaya."

Dan, ucapan terakhir dari Sirzechs benar-benar memberi Minato firasat buruk.

"Naruto.. Dia berniat menghancurkan Mekai."

.

.

Kobaran Api berwarna keemasan mulai menyelimuti sekujur tubuh Kuro. Membuat tumbuhan-tumbuhan disekelilingnya terbakar akibat aura panas yang dipancarkan Api berwarna keemasan itu.

Melihat itu, tentu saja membuat Juni juga ketiga bidak Iblisnya terkejut.

Tentu saja.

Siapa yang tidak tau tentang kekuatan Api Emas itu? terlebih lagi Juni.

Di Klan Phenex, bahkan Mekai, hanya satu-satunya Iblis saja yang memiliki kekuatan itu.

Ya, Naruto Phenex. Ayahnya. Tapi itu 'pun, dia sudah mati.

Lantas, kenapa sosok bertopeng itu memilikinya?

Apa sebenarnya memang ada mahluk lain yang memiliki kekuatan yang sama dengan Ayahnya? Tapi, dia tidak pernah mendengar tentang hal itu.

Siapa dia sebenarnya?

"A-api itu.." Juni benar-benar terkejut. Tapi sesaat kemudian, tatapannya menajam.

"Siapa kau sebenarnya? Apa kau.."

Mungkinkah mahluk bertopeng hitam itu, adalah..

"Tidak, kau salah. Jangan berpikir berlebihan." ucap Kuro datar, seolah tau apa yang ada dipikiran Juni saat ini.

Tatapan Juni semakin tajam. "Lalu, kenapa kau memiliki kekuatan yang sama dengan Ayahku? Siapa kau?" dia benar-benar ingin tau seperti apa wajah dibalik topeng hitam polos itu.

"Jika kau ingin mengetahuinya.."

Bwoshhhh

Api yang menyelimuti Kuro semakin membesar, aura panasnya 'pun semakin gila di area itu.

"..Kalahkan aku dulu."

Wushh

Dengan kecepatan yang sulit dilihat oleh mata, Kuro mulai menyerang Juni.

Dia 'pun terkejut, Kuro sudah berada didepannya. 'Cepat sekali!' batinnya. Dia belum siap, dan kepalan tangan itu sebentar lagi akan mengenainya.

Duaghh

"Ohok!"

Dengan telak, pukulan itu mendarat diperut sang Phenex muda. Darah tampak menyembur dari mulutnya akibat pukulan itu.

Wungg

Bruak Bruak

Juni terlempar kearah hutan, dan menabrak beberapa pohon besar yang dilaluinya.

Bruggg Bruggg

Tampak pohon-pohon itu mulai tumbang satu persatu.

"King!" teriak ketiga bidak Juni khawatir melihat kejadian tersebut.

"Hn."

Suigetsu marah, dia tidak bisa tinggal diam melihat Rajanya dihajar seperti itu. "Keparat! Akan ku balas kau!" ucapnya setengah berteriak pada Kuro, dia kemudian hendak menyiapkan sebuah jurus.

"Tunggu, Suigetsu." namun, Juugo menghentikan aksinya. Dan semakin membuat Suigetsu kesal.

"Jangan halangi aku, Juu-"

Swushhh

Sebuah bola Api berukuran besar keluar dari arah terlemparnya Juni, meluncur dengan deras kearah Kuro.

Menyadari dirinya dalam bahaya, Kuro mulai bersiap.

Set

"Hoippu.."

Tangan kanannya mulai menciptakan Api yang memanjang.

Syatt

Dia mengayunkan tangan kanannya, Api yang terbentuk seperti cambuk itu 'pun mengikutinya.

"..Kasai!"

Woshh

Bola Api besar itu 'pun terbelah menjadi dua, setelah terkena cambuk Api milik Kuro. Dan membuatnya melewatinya begitu saja kearah samping kiri dan kanannya.

"Hm?"

Melihat kearah langit, Kuro bisa melihat Juni sedang terbang diatas sana dengan sayap Apinya. Api yang menyelimuti tubuh Juni tampak menghilang.

"Sepertinya dia baik-baik saja." ucap Juugo yang juga mengikuti arah pandang Kuro. Dan disetujui dengan anggukan oleh Sakura dan Suigetsu.

Juni tampak membersihkan darah yang keluar dari mulutnya, akibat pukulan dari Kuro sebelumnya. Raut wajahnya terlihat tidak senang akan hal itu.

Dia mendapatkan satu fakta.

'Aku rasa.. Sepertinya dia lebih kuat dari Katarea.'

Dia harus waspada.

"Tapi, meski begitu.."

bwoshh

Api kembali menyelimuti sekujur tubuhnya.

"..Aku tidak akan kalah!"

Wush

Wush

Juni dan Kuro melesat terbang menuju satu sama lain, saling serang untuk menjadi sang pemenang. Serangan demi serangan 'pun terjadi diatas sana.

Api dibalas Api.

Duagh

Serangan jarak dekat, pipi sebelah kiri Juni terhantam keras oleh pukulan Kuro.

Duagh

Juni balas memukul, namun dengan mudah di blok oleh Kuro.

Duagh

Kini pipi sebelah kanan yang terkena telak.

Darah kembali mengalir dari mulutnya.

Meski beberapa kali Juni membalas serangan Kuro, namun tetap saja Kuro masih mendominasi pertarungan. Itu 'pun, dengan mudahnya Kuro mementahkan serangan Juni.

Duagkh

"Ugh!"

Juni lengah, sebuah pukulan super kembali mendarat diperutnya. Darah 'pun meluncur deras dari mulutnya.

Syatt

Berinisiatif membalas, namun dia hanya mengenai udara kosong.

'Sial! Dia terlalu cepat, aku tidak bisa mengimbanginya.' Juni hanya bisa membatin kesal.

"Jangan lengah saat bertarung!"

Dia membalik badan melihat keasal suara.

"!"

Dia terkejut.

Kuro berada sedikit lebih tinggi darinya, dengan kaki kanannya yang sedang terangkat keatas.

"Terima ini."

'Gawat!'

DUAGGHH

Wunnngggg

"KING!"

DUARRR

Juni menghantam tanah dengan sangat keras, menghancurkannya hingga menimbulkan debu yang menutupi area sekitar. Para bidak Juni menatap khawatir kearah tempat dimana Juni mendarat.

Setelah debu mulai menghilang, terlihat sebuah kawah berdiameter lima meter hasil dari hantaman Juni. Nampak sang Phenex muda tergeletak tak berdaya ditengah kawah tersebut tanpa jubah Apinya, dengan darah yang mengalir banyak dari mulutnya.

"Uhuk-uhuk.."

'S-sial..' dia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun tak bisa. 'Tidak hanya staminaku yang berkurang, bahkan pemulihan luka ku kini memakan waktu yang cukup lama. Latihan tadi benar-benar mempengaruhi kondisi tubuhku.' batinnya lemah.

Sementara itu, Kuro hanya melihat dalam diam kearah dimana Juni mendarat. "Akan ku akhiri ini." gumamnya dingin.

Sreshh

Perlahan-lahan Api yang menyelimuti tubuhnya mulai menghilang, dimulai dari kakinya hingga perlahan naik keatas.

Namun.

Menghilang bukan berarti Apinya akan padam, akan tetapi Api keemasan itu justru terlihat 'naik' keatas secara perlahan dari bawah. Hingga pada akhirnya Api itu berkumpul disatu titik yaitu tangan kanan Kuro (sayap Apinya masih ada).

Set

Dia memposisikan tangan kanannya itu bersiap akan 'meninju'.

'Kau memiliki anak yang lemah, Naruto.'

"Hiken!"

Syatt

SWOSSSHHH

Sebuah tinju Api raksasa dengan gelombang panas yang luar biasa melesat cepat dari atas menuju sang target yang terbaring lemah, Juni.

DUAAARRRR

Benturan dari tinju Api raksasa itu dengan tanah menimbulkan ledakan yang besar. Tanah yang hancur terlihat berhamburan kemana-mana. Dan pastinya..

..Juni tidak akan baik-baik saja.

Kepulan asap 'pun menutupi area yang terkena serangan, banyaknya asap yang mengepul menandakan jika serangan tadi merupakan serangan dengan intensitas tinggi.

"Hm?" Kuro menatap tajam kearah dimana Juni berada, dimana sebuah siluet hitam mulai terlihat saat kepulan asap itu perlahan menghilang karena tertiup angin.

Juni mulai membuka matanya, untuk beberapa saat yang lalu dia merasa ajal akan menjemputnya tatkala melihat tinju Api raksasa yang melesat turun dengan cepat menuju kearahnya.

Namun kenyataannya, dia masih hidup dan tidak merasakan apapun.

"!"

Juni terkejut dalam diamnya.

"Juu-go.. Kau.." ucapnya lemah.

Orang yang disebut namanya itu hanya tersenyum kecil kearah Juni. Wajahnya terlihat mengeluarkan banyak keringat.

"Apa kau.. Hosh.. Baik-baik saja?" ucap Juugo agak ngos-ngosan.

Ya, Juugo berhasil melindungi Juni dari tinju Api raksasa yang dilancarkan Kuro. Dengan membentuk tangan kirinya menjadi sebuah tameng besar menggunakan kekuatannya. Terlihat tubuh bagian kirinya agak gelap dengan beberapa bercak abu-abu gelap dibagian kiri wajahnya, matanya 'pun tampak menghitam dengan iris kuning redup.

"Ugh!"

Juugo tampak merintih kesakitan. Dia memang berhasil menahan serangan tadi, namun bukan berarti itu tidak berakibat apapun padanya.

Terlihat jelas tameng penghalang yang merupakan perubahan bentuk dari tangan kirinya itu mendapatkan luka bakar yang sangat parah. Bahkan dibeberapa bagian bisa dibilang..

Tangannya meleleh seperti lilin.

Sresshh

Sesaat kemudian tangan kirinya itu 'pun kembali kebentuk semula.

Brukk

Juugo terjatuh berlutut.

"Hosh.. Hosh.."

Juni menatap sendu kearah Juugo yang tampak sangat kesakitan. Namun, Juugo membalasnya dengan senyuman menenangkan.

"Kami..Tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu. Kau tidak sendirian, kami akan selalu ada untukmu. Maka dari itu.."

Juugo mengulurkan tangan kanannya kearah Juni.

"..Ayo kita kalahkan dia bersama-sama."

Juni tersenyum mendengarnya, kemudian menyambut uluran tangan itu.

"Ya, ayo."

.

Dari atas, Kuro hanya menatap bosan dengan serangannya yang gagal mengenai Juni. "Hn, gagal ya-"

"Jangan lupakan kami!"

Reflek dia langsung melihat kebelakang, dimana seorang wanita berambut merah muda sudah bersiap dengan tinjunya.

"Ini balasan untuk yang tadi!"

Tak berniat menghindar, Kuro hanya menyilangkan kedua tangannya bersiap menerima tinju dari wanita tersebut.

Syatt

DUAGGGHHH

Swunnnggg

'Pukulannya.. Kuat sekali.'

Masih belum selesai, Suigetsu sudah menunggu Kuro dibawah dimana Kuro akan mendarat disana. Sebuah pedang berukuran besar tergenggam ditangannya.

Dia menyeringai kegirangan.

"Rasakan ini, keparat!"

Jrash

Dengan telaknya, sabetan Suigetsu mengenai Kuro. Dan..

Membelah tubuh Kuro menjadi dua bagian.

Bruk

Bruk

Bagian atas dan bawah tubuh Kuro jatuh terpisah, berguling-guling menjauhi satu sama lain.

Dengan pedang yang terpanggul dipundaknya, Suigetsu tersenyum dengan angkuhnya melihat hasil serangannya.

Tak lama kemudian, Sakura turun didekatnya. "Bagaimana?" tanyanya, sayap Iblisnya kemudian menghilang.

"Keh! Tentu saja berhasil. Aku sudah membunuhnya." Dia berkata dengan percaya dirinya, tanpa menyadari berubahan emosi yang terjadi pada Sakura.

Bletak!

"DASAR BODOH! KENAPA MALAH KAU BUNUH?! SEHARUSNYA KAU HANYA PERLU MEMBUATNYA TERLUKA SAJA! JIKA DIA MATI, BAGAIMANA KITA BISA MENDAPATKAN INFORMASI DARINYA!" Sakura benar-benar marah pada Suigetsu. Sungguh, apa otak kecilnya itu tidak pernah dia gunakan untuk berfikir? Atau mungkin, dia memang mahluk tidak berotak? Apapun itu, Sakura sungguh kesal dengan kebodohan temannya itu.

Suigetsu mulai sadar. "Eh? Begitu ya. Jadi, aku salah ya?" dengan wajah polos tak berdosanya dia mengatakan itu disaat Sakura sedang emosi-emosinya.

"Kau-"

"Sakura, bagaimana?" dia baru saja akan kembali melampiaskan kekesalannya saat seseorang memanggilnya.

Dia menengok kebelakang, matanya langsung terfokus pada Juni. "Ah, King! Apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir. Juni hanya mengangguk sebagai jawaban.

Juugo hanya menghela nafas saat pertanyaannya diacuhkan Sakura. "Sakura, bagaimana?" tanyanya lagi. Terlihat tangan kirinya yang sebelumnya terluka parah kini sudah sembuh total, berkat Air Mata Phoenix yang diberikan Juni.

Sakura mulai tersadar. "Ah ya, itu.. Dia mengacaukannya!" spontan Sakura menunjuk Suigetsu, sang pelaku hanya cengengesan. "Temanmu ini malah membunuh orang itu, sekarang kita tidak bisa mendapat informasi apapun darinya!" mode galaknya kembali aktif.

Mendengar itu, Juugo langsung melihat kearah potongan tubuh yang terpisah berjauhan. Dia hanya menghela nafas pasrah. "Begitu ya. Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi." ujarnya.

Menghiraukan pembicaraan para bidaknya, Juni hanya sibuk dengan fikirannya sendiri. Beberapa pertanyaan 'pun mencuat ketika dirinya melihat tubuh Kuro yang terbelah menjadi dua bagian. Alisnya sedikit terangkat.

'Dia.. Tidak berdarah?'

Ya, meski sudah terbelah menjadi dua, tidak ada satu tetespun darah yang keluar dari tubuh Kuro.

Seolah tubuhnya tidak memiliki sel tersebut.

'Tidak mungkin dia mati secepat ini, dia terlalu kuat. Dan lagipula, meskipun dia memang mati..'

Juni kembali menemukan kejanggalan.

'..Untuk mahluk supernatural, seharusnya tubuhnya sudah musnah.' batinnya

"Hn, kalian jangan senang dulu."

DEG

Srak Srak

Dari bekas potongan tubuh bagian atas Kuro, keluarlah sebuah Rantai dari sana. Dan bergerak menuju mereka berempat.

"Menghindar!"

Mereka 'pun melompat, menghindari terjangan Rantai dengan ujungnya yang tajam itu.

Sleb

Namun ternyata, bukan mereka incaran Rantai itu. Terlihat rantai itu justru menancapkan ujungnya pada potongan tubuh Kuro yang lain.

Srak Srak

Rantai itu kembali bergerak, menarik tubuh bagian bawah Kuro itu dan mendekatkannya kembali.

Blep

Dan akhirnya, dua bagian yang terpotong kembali disatukan. Tubuh Kuro sudah menyatu dengan sempurna.

"Jadi, empat lawan satu ya?"

Terlihat dia mulai bangun secara perlahan, hingga kemudian berdiri dengan tegak menghadap mereka berempat.

"Baiklah, tidak masalah."

Mereka lantas terkejut, melihat musuh yang sebelumnya sudah tumbang kini berdiri dengan tegaknya dan berbicara seolah hal tadi bukan masalah baginya.

Sakura melotot tak percaya. 'D-dia.. Tidak mungkin!' batinnya.

Suigetsu juga demikian. 'B-bagaimana bisa!' batinnya.

Juugo tak kalah terkejutnya. 'T-tubuhnya.. Kembali menyatu?!' batinnya.

Namun, berbeda dengan Juni. Dia justru menampilkan ekspresi yang serius. 'Sudah kuduga, dia tidak mungkin mati secepat itu.' meski begitu, ada satu hal yang tidak dia mengerti.

'Tapi, tubuhnya..'

Kuro hanya diam tak peduli melihat wajah-wajah terkejut mereka, baginya itu sudah biasa. Ekspresi wajahnya tak terlihat karena tertupi topeng hitam polosnya, namun jika melihat sorot Onyx kelamnya dapat dipastikan kalau dia sedang bereksprei datar.

"Kalau begitu, akan ku ubah penawaran sebelumnya. Dengan kalian berempat melawan ku yang seorang diri, sepertinya penawaran yang aku berikan terlalu tinggi. Jadi, untukku, jika aku yang menang..

Sepasang Onyx kelam itu mulai memudar, tergantikan oleh warna merah menyala.

"..Maka kalian harus tunduk pada perintahku."

Dan tiga tanda bermotif koma muncul menghiasi iris semerah darah itu.

.

.

.

Putih.

Semuanya serba putih, sejauh mata memandang hanya ada warna tersebut.

Kosong.

Tak ada apapun.

Clip

Kelopak mata seseorang mulai terbuka, memperlihatkan sepasang Saphire yang mulai menunjukkan cahayanya.

'Dimana.. Aku?'

Matanya mulai menelusuri kesegala arah. Mencari tau tempat apa yang sedang ia singgahi sekarang.

Namun nihil, dia tidak menemukan apapun.

Dia mencoba bergerak, bangun dari posisi berbaringnya untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa dia temukan.

Puk

"Ne, kau mau kemana?"

Namun, usapan lembut dari tangan seseorang dikepalanya dan terdengarnya sebuah suara yang sepertinya milik seorang wanita harus menghilangkan niatnya.

"Ng?"

Yang dilihat oleh sepasang Saphire itu untuk pertama kali adalah sepasang Violet yang indah.

'Sangat.. Indah.'

Saphire itu mulai menangkap seraut wajah cantik dari seorang wanita yang sedang tersenyum manis kearahnya.

"Kau mau kemana, hm? Apa kau tidak nyaman berada dipangkuanku?"

Wanita cantik berambut merah itu berbicara dengan nada sedih yang sepertinya dibuat-buat.

"!"

Mata beriris Saphire itu membulat, terkejut. Dia menyadari sesuatu.

Tep

Sebuah jari lentik menempel tepat ditengah bibirnya, memberi isyarat untuk dirinya tidak berbicara.

"Sstt.. Jangan mengatakan apapun."

Dan dia hanya mengangguk patuh.

Wanita itu kembali menunjukkan senyuman manisnya. "Ne, apa kau merasa nyaman?" tanyanya, nadanya sungguh lembut dan halus.

Nyaman?

Dia tidak akan menampik.

Ya, dia merasa nyaman.

Senyum wanita itu..

Suaranya..

Juga usapan tangannya dikepalanya..

Semua itu,

Sungguh membuatnya nyaman.

Bahkan perasaan negatif yang berpuluh-puluh tahun ini mengisi ruang hatinya, hilang entah kemana.

Mungkinkah dia sudah.. Mati?

Terdengar suara tawa halus dari wanita itu.

"Kau belum mati kok." ucap wanita itu, seolah bisa membaca fikirannya.

Tapi, untuk semua kenyamanan ini..

Dia..

Jika memang sudah mati sekalipun, dia rela.

"Jika kau merasa nyaman, kau boleh berada disini selama kau mau. Mengerti?" senyum manisnya tak pernah lepas dari wajah cantiknya itu.

Membuatnya tak tahan untuk membalas senyumnya.

Meninggalkan wajah dingin tak berhatinya.

Senyum, yang dengan tulus dia berikan pada wanita itu.

"Ya, aku mengerti."

.

.

.

.

.

.

To Be Continued..

Untuk chapter 10 ini segini adanya, jika ada yang kurang puas.. Maaf.

Balasan review Non-Login :

Alvin j

Tiga sosok misterius ya? ditunggu saja, chapter depan juga akan ketauan siapa mereka.

Agung645

Naru ngambil boost gear milik issei? hm, di chapter yang akan datang emang bakal ada kejadian 'mirip' kaya gitu. tapi bukan mau ngambil sacred gearnya.

Apaan nih

Tim utama sih kayanya bakal berempat doang. Tapi, untuk pasukan tambahan bakal ada juga.

Oke, saya ucapkan terima kasih untuk reader-san sekalian yang masih setia menunggu dan membaca fic ini dan memberikan reviewnya, itu sangat berarti bagi saya. akan saya usahakan update secepat yang saya bisa.. Jaa ne.