Penulis: ksomm814

Penerjemah: Mini Marauder

Harry Potter series © JK Rowling

Informasi selengkapnya, kembali ke Bab 1.


Bab 10 Mantra Patronus

Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam langsung menjadi kelas favorit bagi mayoritas murid-murid. Profesor Lupin menyajikan pelajaran yang menyenangkan dan selalu mengajak para murid berpartisipasi. Jam pelajaran sering habis untuk para murid bertanya atau menyampaikan pendapat, yang mengundang acara debat di antara mereka dari berbagai sudut pandang. Profesor Lupin sering menjadi penengah, sesekali menyampaikan apa-apa yang perlu kalau perdebatan di luar kendali.

Profesor Snape, di lain sisi, menjadi lebih pemarah dari biasanya. Cerita tentang bentuk Boggart Neville menyebar luas. Meski tiga Asrama menganggapnya kocak, Snape dan Slytherin tidak sependapat. Seperti apa yang Profesor Lupin katakan, Profesor Snape sama sekali tidak punya selera humor dan melampiaskan rasa malunya, tentang Snape Boggart bergaun, kepada Gryffindor kapanpun dia bisa.

Well, kepada semua Gryffindor, kecuali Harry.

Semua orang dibuat kaget melihat Profesor Snape, yang biasanya melontarkan komentar-komentar menghina di sana-sini, mengabaikan Harry seutuhnya. Harry tidak protes, namun kesulitan setengah mati ketika harus menjelaskan kejadian ini ke teman-teman se-Asrama-nya. Dia hanya bisa menduga Profesor Snape mengasihaninya atas kehidupannya di rumah Keluarga Dursley, tapi itu berarti Profesor Snape punya hati.

Draco Malfoy terang-terangan mengeluh kepada siapapun, yang melihatnya diseret ke Kantor Profesor Snape, bahwa dia menerima peringatan. Padahal sebenarnya, Profesor Snape tidak menegurnya sama sekali. Yang bersangkutan hanya menasehati muridnya itu agar tidak berkomentar semacam itu di kelasnya.

Kelas Ramalan mungkin adalah kelas paling menyebalkan bagi Harry. Profesor Trelawney mengerahkan segala cara untuk membuktikan bahwa kematian akan datang kepada Harry Potter. Awalnya, Harry bisa mengabaikannya. Tapi sekarang, dia jengkel sekali. Dia benci menjadi perhatian kelas, apalagi menyangkut masalah hidup dan mati. Ron dan Hermione juga ikut-ikutan sebal sampai sulit sekali mereka agar tidak mengutuk wanita itu sampai hilang sadar. Siapa sih orang bodoh yang akan memberitahu seorang remaja kalau dia akan mati, ketika ada pembunuh massal di luar sana mengincar nyawanya?

Pemeliharaan Satwa Gaib adalah pelajaran menarik dan aman. Hagrid telah memberithunya kalau sebenarnya dia ingin murid-muridnya menaiki Hippogriff di hari pertama kelas dimulai, tetapi Profesor Dumbledore melarangnya. Harry heran mendengar semua kelas Hagrid harus mendapat persetujuan dari Dumbledore. Tidak seorangpun murid boleh meninggalkan halaman kastil selama kelas berlangsung, kecuali ditemani guru sementara kelas tidak boleh ditinggalkan tanpa pengawasan. Harry merasa agak bersalah karena sebagian besar larangan-larangan itu dibuat untuk melindunginya, tetapi percuma saja kalau dia mengatakan sesuatu.

Harry menamatkan bacaannya tentang Mantra Patronus dan telah menemui Profesor Lupin, yang memutuskan memulai pelajaran ini di akhir Oktober, saat mayoritas murid ada di Hogsmeade. Harry tidak suka harus menunggu lama, tapi tidak bilang apa-apa. Profesor Lupin benar. Pelajaran ini seharusnya memang dirahasiakan.

Sebagai tambahan, Quidditch dimulai di bulan Oktober dan, tentu saja, Oliver Wood, Kapten dan murid Kelas Tujuh, terobsesi memenangkan Piala Quidditch seperti biasa. Mereka berlatih lama dan keras di bawah pengawasan Madam Hooch. Anggota tim sangat menginginkan Piala Quidditch karena mereka seharusnya bisa memenangkannya dua tahu lalu, tetapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan.

Kembali ke Ruang Rekreasi Gryffindor larut malam, Harry tidak ingin melakukan apapun selain langsung ke tempat tidur. Sekujur tubuhnya pegal-pegal, otaknya tidak bisa digunakan untuk berpikir lagi, tetapi baru saja akan masuk kamar, Harry menemukan situasi yang, dia tahu, tidak bakal membuatnya tidur dalam waktu singkat. Ron dan Hermione melotot ke satu sama lain, sementara anak-anak lain menonton dengan mata lebar.

Harry mengerang, seraya mencopot jubah Quidditch-nya. "Kalian bertengkar soal apa lagi sekarang?" dia bertanya.

Ron dan Hermione tidak bergeming. Mereka terlihat sedang kontes saling tatap, yang mana tidak Ron maupun Hermione bisa melakukannya dengan baik. "Monster sialan itu mencoba membunuh Scabbers LAGI!" Ron berteriak, frustrasi. "Aku sudah menyuruhmu untuk menyingkirkan… makhluk itu jauh-jauh!"

Hermione memutar mata. "Crookshanks tidak mengerti kalau Scabbers itu binatang peliharaan!" katanya. "Kucing memang alaminya mengejar tikus!"

Dari yang terlihat, pertengkaran ini sudah berlangsung cukup lama dan mungkin akan terus sampai ketika semua orang sudah tidur, kalau tidak ada yang menghentikannya. "Sekarang, mana Scabbers?" tanya Harry. Ron menunjuk sakunya. Ada benjolan gemetaran hebat di dalamnya. Harry mendekati temannya dan mengulurkan tangannya, meminta Ron menyerahkan binatang ketakutan itu kepadanya tanpa kata. Setelah Ron menurut, Harry berputar menghadapi Hermione. "Kau benar, Hermione," kata Harry, tenang. "Naluri kucing memang mengejar tikus, seperti naluri anjing mengejar kucing. Tapi anjing bisa dilatih untuk tidak mengejar kucing, lalu kenapa kucingmu tidak bisa dilatih juga?" Dia kembali menghadapi Ron. "Kamu tahu Crookshanks mengincar Scabbers. Jadi, mulai sekarang, sampai Crookshanks bisa dilatih mengatur instingnya, Scabbers harus tinggal di kamar kita. Pintu harus ditutup sepanjang waktu."

Sebelum ada yang bisa membantah, Harry berjalan menuju tangga. "Aku akan meletakkan Scabbers di tempat tidurmu, Ron," katanya, lelah. "Tolong selesaikan masalah di antara kalian berdua." Dengan Scabber di satu tangan dan jubah Quidditch di tangan yang lain, Harry menaiki tangga lalu ke kamar asrama. Dia memasuki ruang kosong, melemparkan jubahnya ke tempat tidurnya lalu berjalan ke tempat tidur Ron. Dia memutar Scabbers sehingga mereka saling pandang.

Memperhatikan tikus itu, Harry mendapat firasat ada sesuatu yang familiar tentang tikus itu, tetapi cepat-cepat mengabaikannya. Dia sudah mengenal Scabbers selama bertahun-tahun. "Ron sangat menyayangimu, kau tahu," kata Harry. "Aku harap kau mau menghargainya." Dia meletakkan tikus itu di kasur Ron dan baru akan mundur ketika dia menyadari kejanggalan di tangan kiri Scabbers. Ibu jarinya tidak ada. Aneh, pikir Harry. Aku tidak pernah menyadarinya.


Ron dan Hermione bersikeras masalah di antara mereka sudah selesai, tapi semua orang masih bisa merasakan ketegangan di antara mereka berdua. Tidak begitu ingin menjadi penengah lagi, Harry hanya membiarkan. Dia tidak tahu kenapa dua temannya itu sering sekali berteriak terhadap satu sama lain tahun ini. Seakan-akan pertengkaran mereka itu seperti pertarungan sungguhan.

Dengan mendekatnya akhir bulan, semua orang bersemangat menyambut kesempatan bertandang ke Hogsmeade yang bertepatan dengan Haloween. Bahkan Ron dan Hermione beristirahat dari pertengkaran mereka, berganti pembicaraan tentang toko-toko mana yang akan mereka kunjungi. Tidak ingin dikasihani siapapun, Harry diam saja. Satu-satunya sisi baik yang ada yaitu pelajarannya bersama Profesor Lupin. Tidak terdengar mengasyikkan, tetapi hanya itu agendanya hari itu.

Ketika Haloween pagi akhirnya tiba, Harry sarapan bersama Ron dan Hermione lalu melepas kepergian mereka setelah berpesan agar dia dibawakan katalog-katalog toko kalau menyediakan. Ron dan Hermione memandang Harry keheranan, namun tidak berkomentar lebih lanjut. Harry tidak berencana memberitahu mereka bahwa inilah cara yang dia pakai untuk membeli hadiah Natal.

Duduk sendirian di meja Gryffindor, Harry hanya bisa membayangkan Hogsmeade itu seperti apa. Dari yang dia dengar, Toko Mainan Zonko dan Honeydukes adalah dua toko paling digemari. Memejamkan mata, Harry mencoba tidak terlalu memikirkan. Keputusan Profesor Dumbledore sudah bulat dan tidak mungkin diganggu-gugat. Lagipula, para guru sudah memberikan banyak hal demi Harry, dia tidak ingin melanggar kepercayaan mereka dengan menyelinap keluar kastil, langsung ke tangan Dementor.

Masih banyaknya waktu sebelum bertemu Profesor Lupin, Harry menyelesaikan PR-PR yang belum sempat dia sentuh. Dia kembali ke Ruang Rekreasi Gryffindor, menyambar PR-PR-nya lalu memilih kursi kosong di sudut Ruang Rekreasi. Ramuan adalah yang pertama. Dia mengabaikan kebisingan yang dibuat oleh anak-anak Kelas Satu dan Dua. Tidak ada yang melihatnya, sesuatu yang memang Harry harapkan. Setelah Ramuan, ada Transfigurasi, lalu Herbologi.

Butuh istirahat, Harry meninggalkan Ruang Rekreasi dan berjalan-jalan di koridor. Sebelum dia sendiri tahu, dia sudah berdiri di depan ruang kelas Pertahanan. Berharap Profesor Lupin tidak akan keberatan, Harry masuk dan pelan-pelan menuju bilik guru. Dia menggigit bibir bawahnya dengan gugup, ketika dia mengetuk pintu. Apa Profesor Lupin akan mengusirnya karena dia mengganggu? Apakah dia mengganggu?

Terlalu takut untuk tahu, Harry baru akan pergi ketika pintu perlahan terbuka. Dia terlonjak mundur, kaget, lalu menegang ketika Profesor Lupin keluar. Profesor Lupin juga tampak sama-sama kaget, tetapi berhasil menyembunyikannya dengan baik. "Harry," katanya dengan senyuman. "Ini sebuah kejutan. Mengapa kau tidak masuk saja? Aku yakin kastil agak membosankan hari ini."

"Sedikit," Harry mengaku. "Er—kalau Anda sibuk, saya bisa kembali lagi nanti."

"Omong kosong," kata Lupin, seraya mengajak Harry mengikutinya. "Katakan kepadaku apa yang ada dalam pikiranmu?"

Memasuki ruangan, Harry mengangkat bahu seraya memandang sekitaran. Harry memperhatikan ada sebuah kuali berasap, benda aneh yang bisa kautemukan di kantor Pertahanan. Memandang Profesor Lupin, Harry akhirnya menyadari betapa pucatnya laki-laki itu. Rasa cemas dan takut memenangkan apapun yang tadi ada di pikirannya. "Profesor, apa ada masalah?" Harry bertanya, gugup.

Profesor Lupin juga menyadari kuali itu, lalu menghela napas. "Aku merasa tidak enak badan belakangan ini, Harry," katanya, seraya berjalan mengitari meja, "tapi ini bukan sesuatu yang harus kaucemaskan. Aku janji."

Harry masih tidak yakin. "Mungkin kau harus menemui Madam Pomfrey, untuk lebih pastinya," katanya cepat. "Lebih baik mencegah daripada mengobati."

Lupin mengangkat alis atas kekeraskepalaan Harry. Jarang sekali Harry bereaksi begitu. "Ada apa, Harry?" tanyanya, sabar. "Apa yang mengganggumu?"

Memalingkan pandangan, Harry hanya mengangkat bahu. "Hanya… aku tidak mau ada sesuatu terjadi padamu," katanya, lirih. "Mungkin sebaiknya kita batalkan pelajaran hari ini, sehingga kau bisa istirahat. Aku tidak keberatan, yakin."

Profesor Lupin duduk di balik meja, tanpa melepas mata dari remaja gugup di hadapan. "Harry, aku meyakinkanmu, aku tidak akan pergi kemana-mana," katanya, percaya diri. "Aku berjanji padamu musim panas ini kalau aku akan ada bersamamu kapan saja kamu membutuhkanku dan aku berencana menepati janji itu. Aku juga berencana akan membuatmu jengkel dan malu kapanpun aku sempat dalam beberapa tahun ke depan. Itulah yang ayahmu inginkan."

Harry menyembunyikan senyum. Dia membenci Keluarga Dursley ketika mereka mempermalukannya, tetapi ini berbeda. Profesor Lupin tidak memandang Harry sebagai orang aneh dan mengumumkan keanehan Harry kepada dunia. Bagi Profesor Lupin, Harry adalah Harry, yang mana selalu menjadi harapan Harry.

"Aku senang kau memperhatikanku, Harry," kata Profesor Lupin, tersenyum. "Aku benar-benar senang, tetapi ini memang bukan hal yang patut dikhawatirkan. Aku akan baik-baik saja." Melihat keragu-raguan Harry belum lenyap, dia mengganti topik. "Jadi, bagaimana kalau kita mulai saja pelajaran kita? Nah, setelah kau membaca, Mantra Patronus berfungsi sebagai pelindung, atau perisai. Mantra ini memberi energi positif yang memaksa energi negatif dari Dementor tidak bisa mempengaruhimu. Mantra ini adalah proyeksi semua emosi positif yang menjadi makanan Dementor, tetapi karena asalnya bukan dari manusia itu sendiri, Dementor tidak bisa melakukan apa-apa kepadanya."

Harry mengangguk. "Bentuknya berbeda-beda tergantung siapa yang mengeluarkannya," dia mengulang kembali apa yang dia baca, "dan hanya berhasil kalau orang yang mengeluarkannya memikirkan kenangan bahagia."

Profesor Lupin tersenyum. "Bagus sekali, Harry," katanya, seraya mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengisyaratkan agar Harry menirunya. "Ingat, kau harus fokus terhadap kenangan bahagiamu, sambil mengucapkan mantranya: Expecto patronum. Pejamkan matamu, Harry, dan cari kenangan bahagia itu."

Harry menurut. Berpikir keras, dia harus memikirkan sebuah memori, memori apapun yang bahagia. Dia langsung mengabaikan apapun yang berhubungan dengan Keluarga Dursley dan menyeleksi kenangan-kenangan tentang hari-harinya di Hogwarts. Dia tidak harus berpikir lama. Dia tahu apa yang bisa dia gunakan. Dia ingat bagaimana senangnya, bebasnya dan aliran adrenalin yang mengisi tubuhnya dari sejak dia melesat ke angkasa.

Lupin memperhatikan ekspresi damai di wajah Harry dan tersenyum. "Seperti itu, Harry," katanya, lirih. "Sekarang, pertahankan memori itu, angkat tongkatmu dan baca Mantra-nya."

Mengangkat tongkatnya, Harry membayangkan pelajaran Terbang pertama. "Expecto patronum," katanya, tegas. Dia terlalu larut dalam memori sehingga tidak memperbaiki keadaan sekitar. "Expecto patronum," Harry mengulang. Dia ingat Malfoy mengejeknya dan bagaimana wajah Malfoy ketika dia berhasil menangkap Remembrall. "Expecto patronum!"

Entah darimana, Harry merasakan sesuatu menghantamnya dan melemparkannya ke belakang sampai menabrak dinding. Dia mendengar Lupin memanggil namanya ketika dia ambruk ke lantai dalam keadaan linglung. Memaksa matanya terbuka, Harry mendapati kabut perak aneh memenuhi ruangan seperti kabut tebal. Dia mengejap beberapa kali dan melihat di sisi kanannya, ada Profesor Lupin yang buru-buru berlutut dan memandanginya, cemas.

Lupin mengulurkan tangan dan menyentuh dahi Harry, lalu mencondongkan tubuh Harry ke depan agar dia bisa memeriksa punggungnya. Mengangkat kemeja Harry, guru muda itu meringis, menemukan memar sudah terbentuk. "Apa kau merasa sangat kesakitan, Harry?" tanyanya, cepat.

Butuh beberapa waktu bagi Harry memproses kata-kata yang keluar dari mulut Profesor Lupin. Kepalanya agak berkabut. Setelah dia mengerti apa yang kira-kira diucapkan, Harry pelan-pelan menggeleng. Dia agak tidak bisa bicara. Sekujur tubuhnya mati rasa. "Ap—apa yang terjadi?" dia bertanya, bingung.

Profesor Lupin memanggil bantal-bantal dan merapikan posisi bantal-bantal itu. "Berbaringlah tengkurap, Harry," perintahnya, sambil membantu Harry mengambil posisi itu di atas bantal-bantal sampai anak itu nyaman. "Entah bagaimana, kamu terlalu membebani Mantra. Kamu mengirim terlalu banyak kekuatan ke tongkatmu. Tetaplah berbaring. Aku akan mengambilkan sesuatu untuk punggungmu."

Secepat mungkin, Lupin bergerak ke perapian dan melempar segenggam bubuk berkilauan dari guci ke api. "Dumbledore!" kata Lupin, urgensi terkandung pekat di nada bicaranya. "Aku membutuhkanmu!" Setelah sebuah bentuk besar sekali muncul di lidah api, Profesor Lupin bergegas ke mejanya, membuka laci sebelah kiri dan mengambil sebuah guci berisi krim. Dia berputar kembali menghadapi perapian dan melihat Dumbledore keluar, seraya mengibaskan abu dari jubahnya.

Profesor Dumbledore meluruskan diri, memandang berkeliling dan ke Lupin dengan mata berkilauan. "Hasil kenakalan yang gagal?" dia bertanya, riang.

"Sama sekali bukan," kata Profesor Lupin, lalu bergegas ke sisi Harry. "Kami mengalami kecelakaan kecil. Aku membutuhkanmu mengecek sekilas kesehatannya selagi aku menyembuhkan memarnya."

Harry tampak setengah tertidur, tongkat sihir masih tergenggam erat di tangannya. Sementara Lupin mengangkat kemeja Harry, Profesor Dumbledore berlutut, mengulurkan tangan ke tongkat sihir Harry. Tetapi begitu jarinya menyentuh batangan kayu itu, Dumbledore langsung menarik kembali tangannya seraya memandang Profesor Lupin. "Apa yang baru saja terjadi di sini, Remus?" dia bertanya, penasaran.

Profesor Lupin melirik Profesor Dumbledore, lalu melanjutkan mengoles salep ke punggung Harry. "Kami belajar Mantra Patronus hari ini," katanya. "Sesuatu terjadi, jelas. Aku menyuruhnya mencari memori bahagia, tetapi ketika dia mulai mengucap Mantra, ada sesuatu yang salah. Dia seolah-olah berada di tempat yang sangat jauh di dalam pikirannya. Aku bilang padanya agar berhenti, tetapi dia seperti tidak mendengarku."

"Kekuatannya tumbuh," kata Dumbledore, serius. "Kita seharusnya mengharapkan hal ini terjadi dengan latihan-latihan yang kita susun untuknya." Kepala Sekolah melambaikan tongkat sihirnya menyusuri tubuh Harry, lalu mendesah. "Selain memar di punggungnya, dia hanya kelelahan. Ini mungkin hanya permulaan, Remus. Aku setuju dengan Harry belajar mempertahankan diri dari Dementor, tetapi aku minta untuk selalu hadir dalam pertemuan-pertemuan berikutnya. Aku juga harus menginformasikan hal ini kepada staf-staf yang lain."

Lupin terdiam. "Kau tidak berpikir ini terlalu dini?" dia bertanya hati-hati, sambil menurunkan kembali kemeja Harry. Memarnya sudah mulai memudar. "Dari yang kita tahu, hal ini bisa saja terjadi hanya sesekali."

"Mungkin," kata Profesor Dumbledore, seraya berdiri. "Dia tanggung jawabmu, Remus, jadi aku akan menyerahkan keputusan itu kepadamu. Tidak ada yang bilang kau harus melakukan semuanya sendirian. Kalau sihir Harry mulai matang, para staf harus tahu bagaimana mereka bisa membantu Harry mengontrolnya, terutama dalam pelajaran Mantra dan Transfigurasi. Aku wajib memikirkan keselamatan murid-muridku, bukan cuma Harry. Dia bisa dalam bahaya kalau dia tidak bisa mengontrol sihirnya sendiri."

Remus menunduk, dan mengangguk. "Aku tahu," katanya lirih. "Aku hanya takut memikirkan bagaimana Harry akan bereaksi soal ini. Dia sangat ingin menjadi normal, tetapi hal ini justru semakin menyisihkannya dari anak-anak lain."

Mata Dumbledore berbinar. "Siapa yang bilang semua orang harus tahu soal ini?" katanya, riang, lalu pergi dengan cara yang sama dengan kedatangannya tadi.


Beberapa jam kemudian, Harry sadar. Profesor Lupin menjelaskan apa yang terjadi… tetapi terbatas. Mereka membicarakan Mantra yang terbebani dan konsekuensinya yang membuat Harry ketakutan untuk mencoba Mantra Patronus lagi. Yah, dia memang ingin belajar mempertahankan diri dari Dementor, tapi apa untungnya kalau dia berakhir pingsan?

Harry mengaku dia terlalu larut dalam memori sampai tidak sadar terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Alasan ini sepertinya melegakan Profesor Lupin, kemudian dia bersikeras bahwa dengan waktu dan latihan yang cukup, Harry bisa menemukan memori bahagia yang tepat baginya. Harry lega mendengar penjelasan ini. Masih ada harapan.

Setelah Lupin puas dengan kesembuhan Harry, dia membiarkan Harry pergi tetapi tidak sebelum mengatur jadwal pelajaran berikutnya. Yaitu dua minggu ke depan, karena akhir minggu ini ada pertandingan Quidditch melawan Slytherin. Selain itu, Profesor Dumbledore akan bisa datang membantu. Hal terakhir yang disebut lumayan mengejutkan Harry, tetapi dia tidak berkata apa-apa. Dia tidak tahu kalau Dumbledore tahu soal pelajaran ini.

Sepeninggalnya dia dari kantor Profesor Lupin, Harry mau tidak mau menyadari betapa pucatnya Profesor Lupin. Rasanya jauh lebih pucat dari beberapa jam lalu. Dia tidak mau menyakiti perasaan laki-laki itu, jadi, Harry cuma bisa menggigit lidah dan kembali ke Menara Gryffindor. Dia hampir sampai di sana ketika dua remaja khawatir menabraknya. Ron dan Hermione hampir jatuh ke belakang, sedangkan Harry benar-benar terpental dan mendarat keras di lantai.

"Harry!" Hermione menjerit, seraya membantu Harry berdiri. "Kau tidak apa-apa? Kami mencari-carimu dari tadi. Kau darimana saja? Ginny memberitahu kami, dia belum melihatmu seharian."

Harry memandang Hermione dengan satu alis terangkat."Er—hai," katanya, agak tertohok dengan semangat Hermione. "Aku baik-baik saja dan aku tadi bersama Profesor Lupin. Kapan kalian kembali?"

Ron angkat bahu. "Belum lama," katanya, lalu melangkah mendekati Harry. "Dengar, kami lumayan penasaran ada apa denganmu dan Profesor Lupin."

"Maksudmu?" tanya Harry, tidak suka arah pembicaraan.

Hermione sepertinya menangkap arti nada bicara Harry. "Kalian berdua kelihatan akrab, Harry," katanya. "Caranya dia bertingkah denganmu… hampir seperti yang dilakukan seorang orangtua… bukannya itu sesuatu yang buruk, tetapi aneh saja untuk guru baru yang baru saja bertemu dengan muridnya."

"Oh," kata Harry, memalingkan pandangan dengan gugup. Tidak melihat siapa-siapa di sekitar mereka, Harry mengisyaratkan Ron dan Hermione agar mendekat. "Begini, Profesor Lupin mengenalku ketika aku masih bayi."

Mata Hermione melebar. "Jadi, dia kenal orangtuamu?" dia bertanya dengan bisikan.

Harry mengangguk. "Mereka kenal dekat dari sejak mereka bersekolah di sini," katanya, tersenyum. "Dia sangat membantuku dengan masalah Sirius Black ini. Dia bahkan bercerita kepadaku tentang orangtuaku. Sekarang aku benar-benar tahu mereka seperti apa. Mereka benar-benar pernah hidup, dengan kelebihan dan kekurangan mereka. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya—"

"—kami mengerti," Hermione mengembalikan senyum. "Aku ikut bahagia untukmu, Harry. Tapi kenapa kau tidak memberitahu kami?"

"Iya, kami pikir kamu mengabaikan kami selama ini, padahal kamu baru mencari tahu tentang ibu dan ayahmu," timpal Ron, terlihat lega. "Jadi, mereka itu seperti apa?"

Senyum Harry melebar. "Kurasa, ibuku seperti kamu, Hermione, dan ayahku seperti si Kembar," katanya. "Kurasa, dia seperti pembuat onar terkenal atau apa. Sejauh ini, Profesor Lupin belum bercerita kenakalan-kenakalan seperti apa yang dibuat ayahku."

Ron dan Hermione menatap Harry, syok. "No way!" kata Hermione. "Mereka terlalu berkebalikan! Bagaimana mungkin mereka bersatu?"

"Ayahmu seperti mereka?" tanya Ron, lalu nyengir. "Brilian!"

Lega Ron dan Hermione puas, Harry mengganti topik. "Jadi, bagaimana Hogsmeade?" dia bertanya, penasaran. Dia lalu menghabiskan sedikit waktu yang ada sebelum jam makan malam dengan mendengarkan Ron dan Hermione bercerita tentang perjalanan mereka ke Hogsmeade. Mereka membawakan katalog toko pesanan Harry. Meski begitu, Harry menangkap ekspresi kasihan mereka ketika memandang Harry.

Makan malam hari itu sama seperti Haloween-Haloween sebelumnya di Hogwarts. Dekorasinya luar biasa, hidangannya enak-enak. Semua orang sangat menikmati. Ron dan Hermione berdebat tentang mana toko yang lebih menarik: Zonko atau Honeydukes. Dan setiap orang seperti ditelan konversasi dengan yang lain.

Melirik ke meja guru, Harry terkejut melihat Profesor Lupin dan Profesor Dumbledore tengah mengamatinya. Dia buru-buru mengembalikan perhatiannya ke piring. Mengapa mereka mengamatinya? Apa ada hubungannya dengan pelajaran mereka? Apa dia membuat kesalahan yang dia tidak tahu?

Diperhatikan banyak orang membuat Harry kehilangan nafsu makan. Pesta itu tiba-tiba berubah menjadi tempat terakhir yang Harry ingin datangi. Beralasan sakit kepala, Harry memberitahu Ron dan Hermione kalau dia akan ada di Ruang Rekreasi. Mereka terlihat skeptis, tetapi tetap membiarkannya pergi.

Menyusuri koridor-koridor kosong menuju Menara Gryffindor, Harry mau tidak mau penasaran mengapa dua profesornya tadi mengamatinya. Apa sesuatu terjadi tentang pencarian Sirius Black? Apa ada yang terjadi tanpa dia ketahui? Apa ada seseorang yang tahu musim panasnya sebelum kejadian penculikan?

Pemikiran terakhir membuatnya tegang. Dia sudah berusaha keras menutupi semua kejadian itu. Dia tidak ingin masalah ini kembali muncul. Paman Vernon sudah dipenjara, Harry mengingatkan dirinya sendiri. Dia tidak bisa menyakitiku lagi. Profesor Lupin dan Profesor Dumbledore tidak akan membiarkan itu terjadi.

Sampai di depan lukisan Nyonya Gemuk, Harry mendongak untuk mengucapkan kata kunci, tepat bersamaan ketika dia menyadari ada yang aneh dengan Nyonya Gemuk. Wanita itu tampak ketakutan, ngeri. Harry baru akan bertanya ada apa, ketika seseorang mencengkeram tengkuk dan mendesaknya ke dinding. Tidak terlalu keras, tetapi tetap saja aksi itu tidak diundang.

"Aku tidak ingin melukaimu, Harry," suara serak seorang laki-laki berkata lirih. "Aku harus masuk ke Menara. Dia di sini, di Hogwarts. Aku tidak bisa membiarkannya melukaimu. Kau harus membiarkanku masuk."

Harry tidak mendengarkan. Dia mencoba membebaskan diri, tetapi tidak berhasil. Meski dia tidak bisa melihat wajah laki-laki itu, Harry tahu dia siapa: Sirius Black. Panik menguasai. Dia seharusnya aman di sini! Dementor ada di sini untuk alasan itu! Bagaimana Black melewati mereka? "Lepaskan aku!" dia berteriak. "Nyonya! Cari bantuan! Cepat!"

Dia mendengar Nyonya Gemuk meninggalkan lukisan, sambil terus berusaha membebaskan diri dari cengkeraman Black. Mengapa dia harus meninggalkan pesta lebih awal? Mengapa dia tidak tetap tinggal saja bersama yang lain?

Sebuah suara lirih menembus pikirannya. "Harry, tenanglah," katanya. "Aku berjanji aku tidak akan melukaimu. Kau harus percaya padaku. Dia di sini, di Hogwarts." Suaranya mendadak berubah tegang. "Jangan pernah lengah, dan jangan pergi kemana-mana tanpa tongkatmu. Berhati-hatilah, Harry."

Sebelum Harry bisa melakukan atau bicara apa-apa kepadanya, sesuatu membentur bagian belakang kepalanya. Semua berubah hitam.


Profesor Dumbledore baru akan mengirim anak-anak ke tempat tidur ketika Hantu-Hantu Asrama memasuki Aula Besar dan bergegas mendekati meja guru. Semua celotehan berhenti memandangi pemandangan itu. Apapun yang akan mereka katakan, semua tahu hal itu penting sekali.

"Kepala Sekolah!" Nick si Kepala-Nyaris-Putus berkata. "Sirius Black ada di kastil! Nyonya Gemuk memberitahu kami kalau dia berhasil menangkap Harry Potter!"

Semua staf serentak berdiri. "Murid-murid, harap tetap di sini," kata Dumbledore tenang, tetapi tegas. "Kalian harus patuh pada Ketua Murid sampai kami kembali." Tanpa berkata-kata lagi, para staf pergi mengikuti Hantu-Hantu keluar Aula, mengunci pintu di belakang mereka agar para murid tetap di dalam Aula Besar.

Selurut staf mengejar para Hantu. Profesor Dumbledore, Profesor McGonagall dan Profesor Lupin memimpin. Mereka mengikuti entitas melayang itu, mendaki tangga-tangga, menuju koridor yang mengarah ke Menara Gryffindor. Pada momen lukisan Nyonya Gemuk terlihat, semua orang berhenti di hadapan pemandangan itu.

Nyonya Gemuk sudah kembali di lukisannya, berlutut dan menangis dengan wajah terbenam di tangannya. Terbaring tengkurap di lantai di depannya, adalah Harry Potter. Memar tipis mewarnai tengkuknya dalam bentuk sebuah tangan. Dia tidak bergerak.

Profesor Lupin adalah yang pertama bergerak, langsung bergegas ke remaja itu, tanggung jawabnya, putra sahabatnya. Cepat tetapi berhati-hati, dia membalikkan tubuh anak itu, lalu mencari-cari denyut nadi dengan tangan gemetaran. Dia mengembuskan napas lega dan merengkuh Harry ke dalam pelukannya, memutuskan untuk tidak akan melepaskannya lagi. "Dia masih hidup," katanya kepada rekan-rekan kerjanya.

Profesor Dumbledore berputar menghadapi para staf dan Hantu-Hantu Asrama. "Cari ke seluruh kastil," dia berkata tegas, lalu menoleh ke McGonagall. "Minerva, kembali ke Aula Besar dan yakinkan pada yang lain agar tidak ada yang panik. Kau boleh memberitahu teman-teman Harry bahwa dia telah diselamatkan." Lalu ke Madam Pomfrey, "Harry akan dipindahkan ke kamar tamu di kuarterku, sampai kita semua yakin situasi aman baginya. Siapkan obat-obatan dan temui kami di sana."

Tidak perlu mendengar lebih lanjut, para staf dan Hantu beranjak pergi. Mendesah lega, Dumbledore berputar menghadapi guru muda yang tengah memeluk bocah yang terluka itu, wajahnya terbenam di rambut hitam berantakan si bocah. Kepala Sekolah berjongkok dan meletakkan tangan di bahu Lupin. "Remus, Madam Pomfrey harus mengecek Harry agar kita tahu luka-luka apa yang didapatnya," katanya, pelan. "Aku tahu kau sangat menyayangi Harry, tetapi kamu harus kuat saat ini."

Profesor Lupin mengangguk dan memposisikan Harry di dekapannya, sebelum berdiri, masih mempertahankan anak itu erat-erat. Matanya bertemu mata Dumbledore dengan pandangan yang jelas berarti 'ambil dia dariku, kau mati'. Profesor Dumbledore mendesah lagi, lalu berjalan bersama Lupin ke kamarnya.

Mereka menaiki tangga berputar dalam diam. Begitu mereka masuk, Dumbledore menonton Lupin dan Pomfrey membawa Harry ke kamar tamunya. Jelas baginya bahwa Profesor Remus J. Lupin begitu dekat dengan anak yang menjadi tanggung jawabnya. Profesor Dumbledore tidak bisa mengabaikan rasa cemas yang memuncak di dalam dirinya. Kalau sesuatu terjadi pada Harry Potter, Remus akan hancur.

Dia harus melakukan sesuatu agar itu tidak terjadi.


Halo, khusus hari ini, saya belum bisa membalas review, ya. Lagi sibuk di dapur hahaha. Bab ini saya pos karena sudah saya cicil dari beberapa waktu lalu, jadi nggak enak kalo nggak dipos sekalian. Review saya balas rangkap sama review yang datang untuk Bab ini, ya.

Selamat Hari Raya Idul Adha.

Mini Marauder