A/N: Sebelumnya, saya beharap semoga timeline cerita di fanfic ini sama fanfic saya yang satunya; Crescent's Diary, nggak bentrok, Amien Ya Allah. Yak, daripada basa-basi ayo kita lanjuuuuut~!


~The Upcoming Threat~

Crescent's Prelude © Roanolic

Final Fantasy and Kingdom Hearts series © SQUARE-ENIX

.

.

.

Satu tahun yang lalu...

Luire Guardian Aqua sedang berjalan pelan di halaman istana miliknya, Castle Oblivion, yang dibangun olehnya atas izin dari gurunya, Master Eraqus, yang sayangnya telah meninggal dalam perang La Faine enam tahun yang lalu.

Wanita yang memiliki rambut pendek bewarna biru itu sesekali melihat ke arah kebun bunga yang indah di samping kanan maupun kirinya. Dia tersenyum kepada para bunga yang dia lihat, layaknya seorang ratu yang tersenyum ramah pada rakyatnya yang makmur.

Kemudian, di ujung halaman, terdapat sebuah kursi taman yang terbuat dari batu marmer beserta meja kecil yang terbuat dari batu marmer juga. Kedua mata Aqua menatap sesosok pemuda berambut pirang sedang duduk di kursi taman itu. Aqua langsung berjalan cepat menghampiri pemuda itu.

"Ven! Kukira kau di dalam. Mengapa kau duduk-duduk diluar? Nanti bisa masuk angin, lho." tanya Aqua sambil mendekati pemuda itu.

"Oh... Maafkan aku, Aqua. Aku...tidak bisa tidur." Jawab Ventus, yang biasa dipanggil 'Ven', dengan pasrah.

Aqua hanya mendengus sambil tersenyum kecil, "Dasar kau ini..." komentarnya.

"Aku serius." Jawab Ventus secara langsung, "Semenjak aku mendapat pesan dari Luire yang lain, yaitu tentang bahaya yang-"

Ventus langsung menghentikan kalimatnya sendiri. Dia masih ingat betul, pada saat perang La Faine berlangsung, Luire dari kampung halamannya dibunuh oleh musuh. Karena pemuda itu tidak mau melihat sang musuh membunuh para sahabatnya dan adik kembarnya, dia rela menggantikan Luire yang dibunuh dan meninggalkan pekerjaannya sebagai Luire Guardian.

Ya, semenjak kejadian itulah, Ventus menjadi Luire.

"Bahaya? Bahaya apa, Ven?" Pertanyaan Aqua berhasil membuyarkan lamunan Ventus. Pemuda itu mendongak ke langit.

"Bahaya yang bisa mengancam kalian semua..." jawab Ventus sambil menunduk, "jadi, kurasa-"

"Aqua! Ven!"

Aqua dan Ventus langsung menoleh ke belakang mereka untuk melihat seorang pria muda berambut coklat yang mengenakan armor perunggu berlari ke arah mereka.

"Terra! Ada ap-"

"Ada yang harus kalian lihat. Ini darurat!"

Mereka bertiga berlari ke arah ruang utama kastil, meski Ventus sempat ketinggalan beberapa meter dari Terra dan Aqua. Ketika Ventus berhasil menyusul dan sudah mencapai ruang utama istana, dia melihat dua orang yang kelihatannya adalah sepasang kekasih. Sang pria yang mengenakan bandana bewarna hijau sedang menggendong seorang wanita muda berambut pendek bewarna coklat yang pingsan. Kemudian sang pria meletakan sang gadis diatas kursi marmer yang panjang secara perlahan. Aqua langsung bergerak untuk menolong gadis tersebut, sementara Terra dan Ventus menghampiri sang pria yang mengenakan bandana bewarna hijau di kepalanya.

"Tenang saja, Aqua pasti bisa menolongnya." Hibur Terra kepada pria itu, meski raut wajahnya terlihat serius.

"Yeah..." desah si pria.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ventus kebingungan.

"Gadis itu pingsan saat mereka berdua tengah melewati kastil ini. Semakin lama kondisinya semakin memburuk. Aku sudah mencoba untuk menolongnya semampuku, tapi kekuatan sihirku tidak cukup..." ujar Terra sambil menunduk.

"Sebenarnya..." sang pria berbandana mendesah, "Sejak kecil Elfé memiliki penyakit mematikan yang lamban laun akan membuatnya menjadi tidak berdaya, dan...aku tidak ingin Elfé...menderita."

"Jadi gadis itu namanya Elfé, kalau namamu?"

"Shears." Jawab pria itu singkat.

Sebenarnya, Ventus dan Terra terkejut setelah mendengar cerita dari Shears. Perlahan, Ventus melirik ke arah Aqua yang sedang berusaha untuk menolong sang gadis.

'Bahaya yang dimaksud oleh Luire-Luire yang lain...

...adalah munculnya Phantom yang akan memakan semua kekuatan Luire...dan perang besar akan terulang kembali.

Aku...aku tidak ingin perang itu terjadi lagi... Aku tidak ingin Roxas, Terra, Aqua maupun orang-orang lain menderita...'

Ventus menghampiri sang gadis berambut coklat yang saat ini sedang dirawat oleh Aqua dengan tatapan cemas. Aqua menghela napas panjang sambil memejamkan kedua matanya.

"...kondisinya meningkat sedikit." Ucap Aqua singkat, "Tapi jika dibiarkan begini terus..."

Ventus, Terra dan si pria berbandana terkejut setelah mendengar pernyataan dari Aqua. Si pemuda berambut pirang itu langsung menyentuh tangan Elfé dan langsung memejamkan kedua matanya.

'Ada Phantom berbahaya yang akan mengancam keselamatan kami semua...dan orang-orang yang kita cintai...

Jika Phantom itu dibiarkan begitu saja, dia akan memakan semua kekuatan kami dan mungkin...dia akan menghancurkan dunia.

Kau harus berusaha untuk membunuh Phantom itu, atau setidaknya, berusahalah agar sang Phantom tidak menimbulkan kerusakan yang fatal...

Mulai dari malam ini, kau adalah La Faine, Elfé...'

Cahaya kuning muncul di sekeliling tubuh Ventus yang kemudian bergerak ke pundak kiri Elfé. Cahaya itu langsung membentuk sebuah tanda di pundak gadis itu.

"Urrgh..." Elfé akhirnya bergerak sedikit meski kedua matanya masih terpejam. Dengan perlahan, Ventus menoleh ke arah Shears.

"Kumohon...jagalah dia."

Shears menanggapi ucapan Ventus barusan dengan anggukan mantap. Tanpa komando, Shears langsung berjalan menuju Elfé dan Aqua langsung merawat gadis itu lagi. Ventus bangkit dari posisi semula dan berjalan perlahan menuju ke kamarnya. Akan tetapi, langkahnya menjadi lunglai dan dia bakal terjatuh ke lantai jika Terra tidak mencegah hal itu.

"Hei, kau tidak apa-apa? Kau kelihatan...lelah." Tanya Terra dengan khawatir.

"Aku baik-baik saja, Terra." Jawab Ventus sambil berjalan lagi. Namun, dia hampir terjatuh lagi, dan Terra menolongnya lagi.

"Kondisimu masih lemah, jangan memaksakan diri." Ucap Terra yang memutuskan untuk membantu Ventus menuju pintu kamarnya.

Di masa kini...

"Jadi, kau diusir secara paksa oleh orang yang kau duga sebagai Luire?" tanya seorang pria berkacamata yang mengenakan seragam laboratorium. Noir mengangguk.

"Menarik..." Pria itu langsung bergerak ke arah meja kerjanya, kemudian mengambil sebuah arsip di tangannya.

"Arsip apa yang sedang kau pegang, Hojo?" tanya Noir penasaran. Hojo hanya mengeluarkan sebuah sengiran kepada Noir, yang membuat pemuda berambut silver acak-acakan itu makin penasaran (dan tidak suka atas sengiran tadi).

"Belum saatnya kau mengetahui ini, Noir. Belum, khukhukhu..." jawab Hojo dengan ciri khasnya.

'Tch. Mendengar tawamu saja sudah membuatku muak.' Ucap Noir dalam hati. Pemuda berambut perak itu langsung beranjak pergi dari ruangan Hojo.

Hojo sendiri langsung duduk di meja kerjanya dan menulis di jurnalnya.
===================================================

Experiment Log #6:

Sudah saatnya, untuk menggunakan Noir, dan wanita itu; Lucrecia.

Dengan rencana yang sudah dibuat secara matang-matang, aku yakin, aku akan membuktikan seberapa hebat kekuatan Sephiroth, dan juga mendapatkan kekuatan Luire itu sendiri. Aku tidak peduli akan banyaknya La Faine yang muncul di jalanan...

Argh! Aku lupa memberitahu Noir bahwa dia harus menghabisi para La Faine yang menghalangiku, tapi toh, cepat atau lambat, dia akan bertemu dengan sosok asli Sephiroth, bukan?

Untuk saat ini, aku akan memancing Sephiroth ke ketua organisasi mafia yang memiliki misi yang hampir mirip denganku, meski aku sendiri belum bertemu dengannya secara langsung dan mungkin saja dia tidak mengenaliku. Setelah itu, aku akan menyapa Lucrecia. Mungkin ini akan memakan beberapa waktu, tapi jika sudah terlaksana, maka tak akan sia-sia...

Jenius! Aku benar-benar jenius!


A/N: Kritik dan saran dibutuhkan, terima kasih :) *menunduk sopan*