Minato tertawa lepas melihat ekspresi lucu dari putrannya. Dilain sisi Naruto senang pertama kali dia bisa bercengkrama dan bercanda gurau dengan ayahnya sepert ini. "Oh iya ayah lupa sesuatu. Naruto, satu lagi kau akan aku kirim ke Hollywood untuk belajar membuat animasi tiga dimensi disana selama tiga bulan sebagai perwakilan dari perusahaan ayah. Ayah berfikir kita ini perusahaan film terkaya di Jepang tapi kenapa tidak pernah sedikitpun memproduksi film animasi tiga dimensi yang sekarang lagi booming."

"Hollywood? Belajar animasi tiga dimensi?".

"Iya belajar animasi tiga dimensi. Apa kau keberatan?".

Naruto berfikir sejenak, dari dulu ia memang ingin pergi ke Hollywood tentunya untuk berlibur bukan belajar cara membuat animasi. Tapi tiga bulan tak bertemu Hinata entah bagaimana rasanya, pasti dia sangat merindukannya. Apa boleh buat tak ada alasan untuk menolak perintah ayahnya. Sebelum berangkat ia harus bisa mengatasi Agoraphobianya. Bukan masalah Hollywood atau apa yang membuat Naruto keberatan tapi ini maslah agorophobia. Tapi Naruto tak mau membuat orang tuanya terbebani.

"Tidak, aku tidak keberatan ayah."

JOURNEY OF SPRING/ CHAPTER 10

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : Naruhina

Rating : T

WARNING

DON'T LIKE DON'T READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL. KARAKTER HINATA DISINI SANGATLAH KUAT DAN SANGAT OOC.

.JIKA ADA YANG TAK MASUK AKAL, DI ANGGAP MASUK AKAL JUGA YA HEHE

.

.

.

Hinata lega bisa kembali l ke rumah kesayangannya. Walaupun rumah ini kecil dan sederhana namun tak ada tempat yang nyaman selain rumahnya. Udara didalam rumah pengap dan lembab. Sudah dua hari rumah sederhana ini di tinggalkan oleh ibunya karena harus merawatnya dirumah sakit. Hinata terpaksa pulang dan tak bisa menemani shooting terakhir Gaara diacara relaty show. Jujur dia kasihan kepada Gaara karena dia harus menyiapkan kebutuhannya sendiri.

Mau bagaimana lagi, jika saja tangannya tak terkilir seperti ini Hinata akan berusaha mungkin untuk tetap menyiapkan segala kebutuhan Gaara. Pria itu sudah berkorban banyak untuknya, baiaya rumah sakit Gaaralah yang menangani semuanya. Hinata tak tahu bagaimana caranya ia berbalas budi kepada Jung Gaara. Semua meja serta perabotan rumah tampak berdebu, tanaman bunga yang tertanam dipot kecil yang diletakan didekat jendela juga terlihat sedikit layu karena tak mendapat asupan air maupun pupuk.

Hinata tak punya tenaga untuk membereskan ini semua. Jika dia sehat, pasti dia tak akan membiarkan ibunya mengurus rumah sendirian. Haruka mangantarkan putrinya ke kamar. Hinata berbaring dengan hati-hati, ia takut jika tangannya tanpa sengaja menyenggol sesuatu. Udara dikamarnya juga tak kalah pengap dengan udara di ruang tamu.

"Hinata, jika Ibu mulai bekerja hari ini apa kau keberatan? Dua hari ini ibu sudah tidak mencari uang. Sehari saja tak bekerja badan jadi terasa sakit," canda ibu Hinata.

"Iya Ibu aku tidak keberatan, lagipula aku sudah jauh lebih baik hanya tangan saja yang masih sedikit terasa sakit."

"Baiklah, terima kasih kau sudah mengerti Ibu. Kalau begitu Ibu berangkat dulu ya."

Hinata berbaring menghadap langit seiring dengan kepergian ibunya. Sakit itu rasanya benar-benar tak enak. Dari sini kita belajar bagaimana cara menghargai kesehatan tubuh kita. Hinata mencoba meraih ponsel yang ada di meja dekat tempat tidurnya. Jari jemarinya menggeser-geser layar sentuh ponselnya. Ada sebuah nama yang menyita perhatian Hinata. Nomor itu bertuliskan "Naruto My Honey" Hinata menyinggungkan senyumnya.

Dia teringat kejadian dimana mereka berdua lagi menikmati pemandangan Tokyo dimalam hari dan tak lupa moment kembang api yang muncul secara tiba-tiba. Sikap Naruto memang menggambarkan umurnya dan terlihat seperti remaja pada umumnya, tapi entah kenapa Hinata masih selalu tertarik dan terus mencintainya. Hinata bertanya-tanya kenapa sampai detik ini Naruto tak menjenguknya ataupun menghubunginya. Apa dia lupa dengan ucapan-ucapan manis yang keluar dari mulutnya. Perasaannya berkecamuk, batin dan logikanya bertolak belakang. Didalam hatinya Hinata ingin sekali menghubungi Naruto namun logikanya tidak demikan. Hinata tampak frustasi, dia memutuskan untuk tidur daripada harus memikirkan hal yang membuat diri sendiri bingung.

ooOOoo

Dibawah langit yang gelap bertabur bintang, Gaara berdiri tegak didepan pagar rumahnya, dia menekan tombol berangka. Terdengar bunyi klik setelah semua Gaara memasukan kode . Pintu pagar terbuka secara otomatis, walaupun arsitektur pagar rumahnyabergaya tradisonal namun Gaara masih memasang sistem pagar modern demi keamanan rumahnya. Pria tampan ini berjalan kedalam rumah malas-malasan. Hari ini adalah hari yang melelahkan untuknya, sungguh menjalani profesi sebagai artis adalah hal yang sangat berat.

Gaara berjalan menuju dapur, dia mengambil sebotol air dingin berukuran kecil dari kulkas dan diteguknya air itu sampai habis. Gaara melanjutkan langkahnya menuju ruang santai, dia mengambil remote televisi. Sudah beberapa kali mengganti-ganti channel namun tak ada satu acara pun yang bisa menghiburnya. Sekelebat terlintas dipikiran Gaara tentang Hinata. Dia jadi ingin tahu bagaimana keadaanya dirumah. Gaara merogoh sakunya dan mengetik beberapa kata untuk dikirimkan ke Hinata.

Bagaimana keadaanmu hari ini? apa semuanya terasa jauh lebih baik?

Gaara memencet tombol send. Dalam hitungan detik, Gaara mendapat pesan balasan dari Hinata. Belum membuka isi pesan dari Hinata, Gaara sudah tersenyum senang.

Iya aku baik-baik saja, aku harap kau juga. Maaf aku tidak bisa membantumu.

Gaara segera membalas pesan itu cepat-cepat.

Tidak apa-apa aku mengerti kondisimu. Semangat!

Satu menit, dua menit berlalu, Hinata tak kunjung juga membalas pesannya. Mungkin Hinata tertidur, Gaara berusaha berpikir positf. Hari ini dia benar-benar merasa bosan dan ingin pergi keluar bersama seseorang. Gaara memperhatikan nomor orang-orang dekat dari ponselnya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengajak seseorang pergi bersamanya,

"Moshi-moshi, Naruto, apa kau sibuk hari ini? tidak, aku hanya ingin mengajakmu keluar makan malam apa kau keberatan?"

oOOoo

Gaara duduk santai sambil membaca buku disalah satu kafe unik yang ada di Tokyo. Ini adalah perpustakaan favorit Gaara, karena ddi perpustakaan ini dia bisa membaca buku secara gratis. Semua buku tertata rapi dibeberapa rak buku yang besar. Lokasi perpustakaan ini terletak di Tokyo. Gaara sengaja mengajak Naruto untuk berkunjung ke peprpustakaan karena tempat ini sepi. Tentunya, ia tahu bahwa sepupu kesayangannya ini pengidap Agoraphobia.

Gaara terus membaca buku biografi tentang raja Jimmu, karena dengan membaca biografinya Gaara bisa mempelajari karakter dan kehidupan beliau. Shooting proyek film kolosal kurang beberapa hari lagi, jadi Gaara harus ekstra membaca buku ini. Sepuluh menit sudah Gaara menunggu dan Naruto pun akhirnya datang. Senyum kelegaan tampak jelas digambarkan oleh raut wajahnya.

Tanpa ragu Naruto mengambil tempat duduk tepat dihadapan Gaara. Gaara menyodorkans sebuah minuman kaleng yang berisi teh hijau kepada Naruto. Kebetulan Naruto haus, jadi dia siap meneguk teh hijau tanpa kompromi. Gaara tersenyum lebar melihat tingkah Naruto yang terkesan sedikit rakus.

"Kau menyukainya?" Gaara bertanya kepada Naruto dengan rasa heran.

"Kebetulan aku haus Gaara-nii," jawab Naruto.

"Apa rasanya enak?"

"Iya enak -nii, darimana kau bisa menemukan tempat seasik ini?"

"Sebelum menjadi artis aku sering mampir kesini untuk membaca buku secara gratis. Kau tahu sendiri aku sangat suka sekali membaca."

Naruto mengangguk kecil mendengar penjelasan Naruto. Ada perasaan bersalah yang bersarang di dalam diri Gaara. Dia marah besar kepada Naruto beberapa hariyang lalu. Sebelumnya tak pernah dia membentak Naruto, tapi hanya karena seorang wanita dia dengan mudah membentak sepupu yang sudah dia anggap adik sendiri. Tak heran jika banyak orang yang mengatakan, kalau wanita adalah salah satu ujian dalam kehidupan selain tahta dan harta. Selain mengajak Naruto keluar, Gaara juga ingin meminta maaf secara pribadi kepada Naruto.

"Naruto, maafkan aku kalau beberapa hari yang lalu aku marah kepadamu."

"Sebelum kau minta maaf, aku sudah memaafkanmu."

"Arigatou, kau memang adikku yang paling baik. Ngomong-ngomong, Hinata sekarang sudah pulang dari rumah sakit. Apa kau tak berniat untuk menjenguknya?"

Lagi-lagi perkataan Gaara tentang Hinata membuat Naruto menghentikan aktivitasnya. Hubungan cintanya dengan Hinata sebenarnya mudah cuma perasaan Gaara yang membuat semuanya sulit. Naruto ingat, betapa terpuruknya Gaara ketika dia mengetahui Hotaru selingkuh. Dia tak mau makan, minum bahkan mandi sekalipun. Gaara seperti orang linglung kala itu. Butuh waktu yang lama untuk move on dari Hotaru. Move on itu pun datang sekarang setelah sekian lama bersembunyi dibalik cupid kecil. Jika Gaara tersakiti lagi, apa dia akan sama terpuruknya saat menjalin kisah dengan Hotaru. Tentunya Naruto juga tidak mau melihat Gaara seperti itu.

"Jika ada waktu aku akan menjenguknya," jawab Naruto singkat.

"Naruto, apa kau tahu banyak tentang Hinata? apa kau juga tahu dimana rumahnya?" Gaara mendadak menjadi ahli interogasi. Dengan sabar Gaara menunggu jawaban Naruto. Perasaan lega menguap dari dalam hatinya ketika Naruto mengangguk. "Kalau begitu maukah kau memberitahuku dimana rumahnya?"

Naruto mendengus pelan, tak ada alasan bagi Naruto untuk tidak jujur kepada Gaara. Dia bukan tipe orang yang licik. Biarlah cinta yang memilih, siapa yang lebih baik untuk Hinata dirinya atau Gaara. Cinta segitiga itu memang rumit. Mereka berdua keluar perpustakaan menuju tempat parkir mobil Naruto.

ooOOoo

Di sebuah gang yang tak begitu luas dan beraspal. Terjejer barisan mobil memanjang yang terparkir rapi. Gaara dan Naruto berhenti di pertigaan yang letaknya berdekatan dengan rumah Hinata. Mereka terdiam sejenak di dalam mobil dan melihat sebuah rumah sederhana secara seksama. Gang ini tampak lengang, tak ada satupun orang yang lewat, padahal jam masih menunjukan pukul delapan malam. Gaara sedikit mencodongkan wajahnya, dia mencoba menebak rumah Hinata tapi sepertinya dia tak berhasil.

"Dimana rumah Hinata?" Gaara memicingkan matanya dan memperhatikan setiap rumah yang ada disekitar gang tersebut.

"Rumah yang berpagar tradisonal dan didepannya terdapat lampu-lampu kecil adalah rumahnya. Apa kau bisa melihatnya dengan jelas?" Naruto menggunakan jari telunjuknya untuk menunjukan dimana tepatnya rumah Hinata.

"Aku tahu sekarang, kalau begitu ayo kita berkunjung kerumahnya."

"Apa? berkunjung kerumahnya?"

"Iya berkunjung, kenapa?"

Mana bisa dia berkunjung bersamaan dengan Gaara. Tentunya disana dia hanya diam saja, dan pertemuan mereka bertiga khususnya untuk dirinya dan Hinata pasti akan terasa canggung. Mungkin Hinata akan merasa aneh jika sikap Naruto berubah drastis kepadanya demi memberikan kesempatan kepada Gaara.

"Aku tidak bisa aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor. Lebih baik kausaja yang berkunjung kerumahnya."

"Baiklah kalau begitu, terima kasih Naruto," Gaara membuka pintu mobil Naruto lalu kemudian menutupnya kembali. Dia melambaikan tangan kepada Naruto dan pergi menuju rumah Hinata. Naruto membalas lambaian tangan Gaara dengan senyuman kecil.

"Apa salahnya mengalah demi saudara sendiri untuk sementara," gumam Naruto.

Setelah Naruto merasa yakin jika Gaara sudah masuk kedalam, dia mulai menstater mobilnya. Naruto mengambil jalan lurus melewati depan rumah Hinata daripada harus memutar mobilnya dijalan yang sempit. Mobil Naruto melaju kencang, dia tak menyadari jika Haruka tanpa sengaja melihatnya sekembalinya dia dari pasar ikan. Haruka bertanya-tanya, kenapa Naruto tak mampir kerumahnya dan menjenguk Hinata, padahal dia sudah mendekati rumahnya. Semua jadi terasa aneh dan ganjal bagi Haruka.

Didalam rumah yang sederhana nan kecil ini, Gaara dan Hinata sedang asyik mengobrol. Mereka sesekali menyeruput teh buatan Hinata, walaupun masih menggunakan satu tangan tapi Hinata bisa menangani semuanya. Perasaan Gaara hari ni berbeda, biasanya dia rileks saat berbicara dengan Hinata tapi kali ini dia sangat gugup. Seolah dia baru pertama kali bertemu dengan gadis cantik seperti Hinata.

"Gaara-kun, bagaimana kau bisa tahu alamat rumahku?" Hinata penasaran dengan muncilnya Gaara tiba-tiba dirumahnya.

"Tadi Naruto mengantarku kemari."

"Naruto?" tanya Hinata bingung.

Jika Naruto mengantarkan Gaara berkunjung kemari, kenapa dia tidak ikut berkunjung kerumahnya juga. Apa yang salah dari Naruto? Atau mungkin Naruto merasa bersalah pada dirinya, sehingga dia tak berani datang kerumah. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan bermunculan dalam benak Hinata tentang Naruto. Apa pria itu tak sadar kalau Hinata begitu merindukannya. Terdengar suara pintu bergeser pelan, dari cahaya lampu yang remang-remang muncul sosok Haruka yang baru saja pulang berjualan.

"Aku pulang," seru Haruka. Dia sedikit terkejut melihat Gaara sudah duduk manis didalam rumahnya. "Gaara-kun, ternyata kau disini?" Gaara bergegas berdiri dari duduknya dan memberi hormat kepada Haruka.

"Iya bibi, maaf jika kehadiranku menganggu anda dan Hinata."

"Kau ini bicara apa. Kau sama sekali tidak menganggu kami," Haruka tersenyum pada Gaara. Ia menyuruh Gaara kembali ke tempat duduknya. "Hinata, tadi aku melihat Naruto didepan rumah. Apa dia mampir kesini sebelum Gaara?".

"Tidak Ibu, Naruto hanya mengantarkan Gaara berkunjung kemari."

"Aaa begitu rupanya. Kalau begitu, kalian berdua aku tinggal mandi dulu."

Suasana diruang tamu kembali canggung saat ibu Hinata meninggalkan mereka berdua sendirian. Lagi-lagi Gaara tak seperti biasanya, mengawali pembicaraan dengan Hinata terasa sangat sulit dan menyusahkan dirinya sendiri. Padahal sebelumnya dia tak pernah seperti ini.

"Ehmm, kalau boleh tahu kapan kau akan mulai syuting film kolosal tentang raja Jimmu?"

"Syuting akan dilaksanakan sekitar dua hari lagi jadi waktu senggang ini aku gunakan untuk memperdalam naskah dan karakter raja Jimmu."

"Aku harap filmmu sukses, tapi maaf sepertinya dua hari yang akan datang aku masih tak bisa membantumu menyiapkan kebutuhan syutingmu," Hinata mengatakan demikian dengan wajah cemberut dan ekspresi sedikit menyesal.

"Tidak apa-apa, aku sudah mencari asisten sementera untuk menggantikanmu."

"Gaara-kun, terima kasih kau sudah datang menjengukku."

"Kedatanganku kesini selain menjengukmu. Aku juga merindukanmu hehe," Gaara cengengesan, pipinya merona merah seperti lobster rebus. Hinata mendelik, tak percaya dengan ucapan Gaara tadi.

"Apa yang kau katakan, merindukanku?" tanya Hinata tak percaya. Gaara hanya tersenyum didepannya dengan ekspresi malu.

Merindukannya? Apa dia tak salah dengar?.

ooOOoo

Malam berganti pagi. Interior rumah sederhana ini berkilat karenaa cahaya matahari pagi yang menembus kaca transparan jendela. Aroma harum nan enak menyengat hidung Hinata. Gadis itu sangat hafal dengan aroma masakan daging panggang khas ibunya. Nafsunya tergugah untuk segera bangun dan menyantap daging-daging itu.

Otot-otot kaki dan tangannya yang kaku Hinata rentangkan, walaupun tangan kanannya masih belum bisa digunakan, rasanya nikmat sekali melakukan hal ini dipagi hari. Hinata beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju dapur dengan malas. Dari dapur samar-samar Hinata melihat ibunya sibuk membolak-balikan daging di panggangan. Aromanya benar-benar menggugah selera, Hinata beberapa kali menelan ludah karena menahan nafsu makannya.

"Ehmmm, aromanya wangi sekali. Daging panggangbuatan ibuku memang paling enak," puji Hinata.

"Hahaha, kau ini pagi-pagi sudah memuji orang lain."

"Tapi memang itu kenyataannya ibu. Apa perlu aku bantu?"

"Tidak usah, tanganmu belum pulih. Lebih baik kau duduk saja, tunggu semuanya matang."

Kalau ibunya tak mengizinkan membantu mau bagaimana lagi. Hinata dengan sabar menunggu nasi matang. Memang tak lazim sarapan memakan daging panggang bagi orang Jepang tapi ini memang menu kesukaan Hinata dipagi hari. Setelah menunggu beberapa menit, Haruka mulai menyiapkan daging panggang, nasi didepan putrinya. Aromanya menggugah selera.

"Hinata makanlah, maaf Ibu tak bisa menemanimu soalnya Ibu harus pagi-pagi sekali ke pasar untuk memilih ikan-ikan segar. Kemarin aku tak menjual ikan segar satu pun jadi Ibu hanya menjual ikan kering yang sudah diasinkan. Selain itu, tadi pagi pamanmu menelfon ibu, istrinya melahirkan jadi aku akan berkunjung kesana mungkin besok aku baru pulang,"

"Serius istri paman sudah melahirkan? Bayinya laki-laki atau perempuan ibu?"

"Laki-laki, katanya tampan seperti pamanmu. Ahh, ibu juga ingin segera menimang cucu dari Naruto-kun."

Mendengar ucapan Ibunya, Hinata tersedak karena kaget dengan kata-kata yang keluar dari Haruka. Hinata sama sekali tak menyangka kalau ibunya berharap sejauh itu kepada Naruto. Semburat merah terlihat jelas dipipi Hinata yang putih karena malu. Tapi dalam lubuk hati Hinata yang paling dalam, itulah yang diharapkan dan diimpikan bersama Naruto kelak. Mempunyai suami yang sangat tampan pasti anaknya kelak nanti akan cantik maupun tampan. Hinata yakin itu. Kedua mata lavendernya melihat gerak-gerik sang ibu, Haruka meraih ponselnya yang ada di atas meja lalu kemudian menghubungi seseorang.

"Hallo Naruto-kun, apa kau ada dirumah sekarang? Aku ingin kau menemani Hinata dirumah-aku ada urusan dirumah saudaraku—iya, besok aku pulang. Arigatou Naruto-kun."

Hinata menautkan kedua alisnya, ia tak percaya kalau ibunya meminta Naruto untuk menemaninya. Sang ibu memberi sebuah cengiran jahil kepada putri semata wayangnya. Haruka melepaskan apron, dia buru-buru mengambil jaket dan tasnya.

"Untuk apa ibu menelfon Naruto-kun? Ibu aku bisa jaga diri sendiri jadi tidak perlu ada orang yang menemaniku."

"Lihatlah tanganmu itu, kau masih terlihat kesulitan melakukan aktivitasmu. Mungkin kehadiran Naruto akan meringankan bebanmu. Bukankah kau merindukannya? Lagipula dia adalah calon suamimu jadi tak usah malu."

Mendengar jawaban ibunya, Hinata jadi tak berkutik. Ternyata selama ini ibunya sangat mengerti bagaimana perasaannya. Udah beberapa hari ini Naruto sama sekali tak menghubunginya padahal Hinata sangat merindukan pria berambut kuning itu. Jika Naruto bersamanya nanti, Hinata berniat balas dendam dengan apa yang sudah diperbuat kekasihnya itu. Hinata yang sibuk dengan pikirannya sendiri tak menyadari bahwa ibunya sudah bersiap untuk pergi.

"Apa Ibu tidak sarapan dulu?" Hinata berusaha menawarkan sarapan ibunya yang terlihat panik dan buru-buru ke pasar lalu kemudian ke rumah pamannya.

"Tidak, kau makanlah sendiri. Ibu berangkat dulu."

Sudah menjadi tradisi dari Haruka, sebelum berangkat kerja dia mencium kedua pipi putrinya terlebih dahulu. Hinata menghela nafas panjang, ibunya setiap hari selalu seperti ini. Berangkat pagi dan pulang malam. Seperti karyawan kantor yang kerjanya full time. Suasana rumah mendadak sepi, padahal baru tadi rumah penuh dengan suara panci, pemanggang ataupun pisau. Ditambah lagi hari ini ibunya pergi kerumah pamannya. Benar-benar terasa sepi.

Usai makan Hinata menyiram bunga dipot yang ia letakkan didekat jendela. Daun-daun bunga mawar ini tampak layu dan kering karena sudah beberapa hari tidak mendapat asupan air. Hinata dengan telaten dan sabar menyiram bunga-bunga itu. Dia menyiram dengan tangan kirinya sambil bersenandung menyanyikan lagu dari Cristina Pery "A thousand years" yang merupakan lagu favorit Hinata.

Tok…tok…tok…pintu pagar Hinata diketuk oleh seseorang. Hinata berpikir orang itu pasti Namikaze Naruto. Gadis cantik ini tersenyum bahagia karena beberapa detik lagi dia akan bertemu dengan pujaan hatinya. Hinata berlari kecil menuju pintu pagar rumahnya. Hinata susah payah membuka pagarnya dengan satu tangan tapi tak perlu waktu lama Hinata berhasil membukanya.

"Naruto-san," ucap Hinata tanpa senyum walaupun hati gadis itu bahagia. Hinata ingin sekali memarahi Naruto.

"Kenapa kau memanggilku dengan panggilan resmi seperti itu?" protes Naruto. "Apa karena kita tak bertemu beberapa hari ini lalu kau menganggapku sebagai orang asing?

Belum apa-apa Naruto sudah protes dan membeo kepada Hinata. Namun setelah itu Naruto tersenyum manis pada gadis cantik yang berdiri tepat didepannya. Beban rindu di hati Naruto yang beratnya mencapai ratusan ton hilang dalam sekejap. Namun, wajah Hinata tak tampak ceria. Mulutnya mengerucut dan alisnya ditekuk, Naruto sadar ini bukan ekspresi yang baik.

Dugaannya benar, Hinata membiarkan dirinya masuk tanpa sepatah katapun. Sesampainya diruang tamu Hinata lebih memilih melanjutkan menyiram tanamannya daripada harus menemani Naruto. Ketidakikutan Naruto dengan Gaara yang berkunjung kerumahnya mambuat Hinata sedikit murka. Selain itu, Naruto juga tak menjenguknya saat dia masih terbaring dirumah sakit selama dua hari. Dasar kekasih tak perhatian.

Saat memasuki rumah sederhana Hinata, mata Naruto terpaku oleh sesuatu. Daging panggang dan nasi ini adalah menu favoritnya. Masih tersisa satu mangkok yang penuh dengan nasi. Gara-gara melihat hidangan ini, perut Naruto tiba-tiba lapar kembali padahal dia sudah sarapan. Tanpa ragu Naruto duduk didepan meja pendek berbentuk segiempat tanpa menggunakan kursi. Rumah Hinata memang berinterior rumah tradisonal Jepang juga demikian. Hinata juga ikut duduk berhadapan dengan Naruto dan memandang Naruto garang.

"Apa aku boleh memakan ini semua?" Naruto bertanya dengan wajah santai dan cerah.

Hinata tak menjawab, dia hanya terdiam melihat tingkah laku Naruto yang asik memakan makanan yang sudah tersedia dimeja. Naruto makan semua daging panggang, serta nasi tanpa punya rasa malu. Dia melahap semua yang ada. Mata Naruto sesekali curi pandang kepada Hinata. Jujur Naruto agak takut melihat ekspresi Hinata yang cemberut seperti itu.

"Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Hinata menahan emosinya.

Naruto mendengus pelan, ia meletakan sumpit di meja makan, Naruto berbalik menatap Hinata penuh rasa cinta. Hinata sedikit kelabakan dan malu melihat tatapan Naruto seperti itu. Hinata sangat suka dengan mata Naruto, apalagi cara memandang Naruto yang lurus mengena dimata serta hatinya.

"Memangnya kenapa? apa jantungmu bergemuruh? Hehehe" Naruto berusaha membujuk Hinata agar tak marah lagi kepadanya.

"Kenapa tadi malam kau tidak ikut berkunjung kemari bersama Gaara? Kenapa saat aku masih terbaring lemah dirumah sakit selama dua hari, kau sama sekali tak menjengukku?"

Pertanyaan beruntun Hinata berikan kepada Naruto. Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum menjawab dia harus mencerna pertanyaan dari Hinata. Naruto menyadari kalau yang dilakukan dirinya semalam dan dua hari yang lalu memang kelewatan. Dia kekasih Hinata, sudah seharusnya dia memperhatikan, menjenguk bahkan berkunjung kerumahnya. Namun karena Gaara, Naruto selalu mengurungkan niatnya. Tidak mungkin juga Naruto menjelaskan alasan sebenarnya dibalik itu semua.

"Maafkan aku Hinata, aku harus mengerjakan tugas kantor. Akhir-akhir ini perhitungan keuangan agak rumit karena harus mengeluarkan banyak uang demi film kolosal yang akan diproduksi besok. Lagipula sudah ada Gaara-nii, jadi aku rasa sama saja."

Hinata tak menyangka Naruto mengatakan hal seperti itu. Jelaslah itu tidak sama, Gaara itu bukan Naruto dan Gaara bukan orang yang ia cintai ataupun yang mencintainya. Hinata merasa sikap Naruto berubah padanya. Dia jadi berfikir, apa dia pernah melakukan kesalahan.

"Apa kau bilang, sama saja? tidak bisa, kau dan Gaara pribadi yang berbeda dan juga memiliki hati dan perasaan yang berbeda pula."

"Memang perasaan aku dan perasaan Gaara apa bedanya?".

"Jelas itu berbeda, kau mencintaiku tapi Gaara tak mencintaiku."

"Kata siapa dia tidak mencintaimu. Gaara mencintaimu."

"Apa kau bilang?"

Hinata melihat Naruto penuh arti, tak ada yang raut wajah bercanda dari Naruto. Bahkan Naruto menatap mata Hinata dengan serius. Hinata mencium ke tidak beresan dalam diri Naruto. Kenapa saat Naruto mengatakan "Gaara mencintaimu" raut wajahnya sangat serius. Bahkan semakin tajam melihat dirinya. Sebenarnya ada apa ini?.

"Gaara mencintaimu, apa kata-kataku kurang jelas," Naruto berusaha menunjukan keseriusannya kepada Hinata.

"Kau ini salah minum obat?" Hinata tak percaya dengan ucapan Naruto.

"Tidak, aku tidak salah minum obat. Gaara memang mencintaimu. Dia sendiri yang mengatakan hal itu kepadaku saat kau di rumah sakit."

Apa benar yang dikatakan oleh Naruto, kalau Gaara mencintainya?. Seorang artis terkenal, tampan dan digilai semua wanita Jepang jatuh cinta dengan gadis biasa sepertinya? Apa itu masuk akal? Tak mungkin, Naruto hanya membual agar dia tak marah lagi padanya. Hinata tahu tipu muslihat Naruto.

Tapi kalau memang Naruto hanya bergurau kenapa wajah Naruto terkesan sangat serius dan pandangan matanya sama sekali tak tersirat kebohongan. Entah itu benar atau tidak, lalu apa yang harus Hinata perbuat?belajar mencintai Gaara juga. Itu mustahil karena cinta tak bisa dibagi. Hati itu satu jadi cinta pun juga harus satu.

"Lalu kalau memang Gaara mencintaiku, kenapa? apa aku harus mencintainya juga?" Hinata mencoba menantang Naruto, dia ingin tahu jawaban Naruto seperti apa.

"Kalau memang bisa kenapa tidak," Naruto mengatakan hal itu dengan enteng dan melanjutkan makan. Mata Hinata mendelik, alisnya berkerut, dia tak habis pikir kenapa Naruto bisa mengatakan hal konyol seperti itu.

"Jadi kau ingin aku mencintainya juga?" ada rasa sakit dihati Hinata saat dia harus melontarkan pertanyaan seperti itu. Mana mungkin ada seorang pria yang mengizinkan kekasihnya mendua. Naruto menjawab pertanyaan Hinata hanya dengan mengangkat kedua bahunya. "Naruto-kun kau benar-benar gila."

"Mungkin, aku tak mau melihat Gaara depresi lagi karena cinta. Setelah bertemu denganmu dia baru bisa bangkit dari patah hatinya. Apa aku harus merebut kebahagiaan sepupuku sendiri? Lagipula umurnya lebih tua dariku dan darimu!" ucap Naruto dengan wajah serius.

Perkataan Naruto benar-benar konyol. Kesannya dia ingin segera mengakhiri hubungan yang baru terjalin beberapa hari ini. Kalau dari awal niat Naruto adalah melukai hatinya kenapa dia melakukan semuanya seolah-olah Naruto sangat mencintainya. Hinata menggigit bibir bawahnya, dia berusaha menahan amarah sebisa mungkin. Sebodoh-bodohnya orang adalah menginginkan kekasihnya untuk mencintai orang lain. Naruto memang kelewatan, Hinata ingin sekali meninju hidung Naruto sampai berdarah. Braaak,! Hinata menggebrak meja dengan tangan kirinya, dia berdiri dan dipenuhi rasa marah teramat besar.

"Pergi kau dari sini!. Jika kau datang kerumahku hanya untuk mengutarakan hal-hal yang konyol lebih baik kau pergi. Aku pikir kau datang kesini memang untuk menemaniku dan membahagiakanku tapi ternyata kau menyakitiku dengan ucapanmu. Cepat pergi sana!".

Hinata mendorong-dorong tubuh Naruto, dia sudah tak tahan lagi melihat tingkah Naruto yag terkesan aneh dan konyol. Hinata merasa sakit hati mendengar ucapan Naruto. Apa pembicaraan seorang remaja selalu tak terkontrol. Bagaimana bisa dia berbicara hal menyangkut perasaan seperti berbicara tentang harga diskon disupermarket yang bisa dibagi-bagikan. Naruto berusaha keras menahan dorongan Hinata, namun usahanya sia-sia. Dia tak menyangka jika Hinata mempunyai tenaga yang luar biasa.

"Hei, Hinata aku hanya bercanda. Kenapa kau mengusirku seperti ini!"

"Kau pikir leluconmu itu lucu. Mungkin bagimu lucu tapi buatku itu sangat menyakitkan," ucap Hinata sambil menangis.

Naruto tersenymum bahagia, ia kemudian merentangkan kedua tangannya dan mendekap Hinata kedalam dada bidangnya. Pelukan Naruto semakin lama semakin kanannya mengelus-elus rambut Hinata dengan penuh kasih sayang. Naruto tadi hanya sekedar berbicara dan tentunya dia tak akan pernah menyuruh Hinata untuk belajar mencintai orang lain. Hanya orang gila yang melakukan hal seperti itu.

"Jangan menangis lagi, aku hanya bercanda. Aku ingin kau mencintaiku Hinata-chan maafkan aku jika kata-kata itu melukaimu."

"Kau bodoh," ucap Hinata singkat sambil memukul kecil dada Naruto dengan tangan kirinya.

"Aku tahu aku bodoh," balas Naruto sambil tersenyum.

Setelah mendengar jawaban Naruto, entah kenapa Hinata tersenyum kecil namun terlihat sangat bahagia didalam pelukan kekasihnya. Hinata berusaha membalas pelukan Hinata dengan satu tangannya. Keduanya terhanyut dalam lautan asamara mereka. Bagi Naruto hanya Hinata gadis sempurna didunia ini, begitu pula dengan Hinata yang menganggap bahwa hanya ada satu laki-laki didunia ini yaitu Naruto. Tet…tet… , tiba-tiba suara bel pagar rumah Hinata terdengar. Mereka berdua saling berpandangan.

"Siapa itu, apa dia ibu?" tanya Naruto.

"Mungkin, ahh ia selalu lupa membawa sesuatu yang penting saat bepergian."

Hinata dan Naruto berjalan menuju pagar. Sabagai seorang kekasih yang pengertian dan sehat walafiat Naruto memutuskan untuk membukakan pagar. Alis keduanya bertaut, di depannya terlihat sosok wanita berumur sekitar tiga puluh tahun dan menggandeng seorang anak laki-laki kecil berumur sekitar empat tahun. Anak kecil itu bernama Iruka, dia sangatlah nakal bahkan ada beberapa baby sitter yang dulu keluar karena sudah tak tahan dengan kebandelan Iruka.

"Ada perlu apa bibi Yuri?" tanya Hinata ramah.

"Hinata bisakah aku titip Iruka sebentar, hari ini aku sangat sibuk, biasanya baby sitterku masuk tapi untuk hari ini dia tidak masuk karena sakit. Apa kau mau membantuku?"

"Jadi maksud bibi kita menjaga dan merawat Iruka satu hari ini?" tanya Naruto tiba-tiba yang sedikit shock.

"Iya jadi tolong ya jaga Iruka baik-baik Hinata."

Hinata tersenyum dan mengangguk ragu, ia kemudian menggandeng Iruka. Bayangan bibi Yuri semakin lama semakin kecil kemudian menghilang diantara pertigaan jalan. Iruka melepaskan genggaman tangannya dari Hinata dan berlari menuju ayunan yang ada didepan rumahnya.

"Sepertinya hari ini adalah hari yang rumit," ucap Naruto.

"Aku pikir juga begitu."

TO BE CONTINUE

MAAF KALAU PART INI SEDIKIT MENGECEWKAN EHEHHE.