Siang yang cukup hangat bagi Surabaya untuk sekedar ngisis di teras rumahnya sambil mengelap senjata-senjatanya. Sepiring pisang goreng dan kopi panas ikut menemaninya. "Suraaaa!" panggilan itu membuat Surabaya memutar matanya. Sura Aryo Dirgantara, personifikasi Surabaya sekaligus Jawa Timur itu tidak menggubris panggilan saudara kembarnya dari dalam rumah dan terus sibuk mengelap senjata-senjatanya.

"SUUURRRR!" rengek saudara kembarnya sambil menyembulkan kepalanya dari dalam rumah. Membuat Surabaya menatap Aan Aria Dirgantara, personifikasi Bandung dengan malas. "Apaa?" respon Sura akhirnya. Aan duduk di depan kembarannya dan mencomot salah satu pisang goreng yang ada di piring. "Kamu –nyam nyam- tahu nggak –nyam nyam- dimana sena -nyam nyam nyam-panku -glek-?" kata Bandung dengan pisang goreng di mulutnya.

BLETAK!

"WADHAAWW!"

Satu timpukan keras itu membuat Aan harus tepar tak berdaya di lantai dengan benjolan besar di kepalanya. "Telanlah, baru bicara." Kata Sura dengan santainya. Ia kembali mengelap senjatanya sementara Bandung berusaha menghilangkan benjolan di kepalanya dengan segelas teh hangat milik Surabaya.

Nggggg!

Surabaya mendongak ke langit yang sebagian tertutup awan lalu tersenyum sadis.

"Bandung, beritahu semua province."

"Hah?"

"Wir haben viele Leute…"

.

.

.


A Rain of Love, For the Earth, For You

Story and Plot – Star-BeningluvIndonesia

Hetalia Axis Powers – Himaruya Hidekazu

Hati-hati! Chapter ini mengandung war scene, hint of WW3, dan semi-dark!Indonesia dan semi-dark!Germany, mungkin ada beberapa province yang harus menghilang, da?


.

.

.

DUAR! DUAR!

"PINDAHKAN KESANA! Ukh! SNIPPER CEPAT KE POS KALIAN! AKTIFKAN STEALTH MODE!"

DUAR! DUAR! DUAR!

"Uhuk! Uhuk!"

"ARISIN!"

"Siaal!"

Markas itu terlihat kacau. Berkali-kali tanah muncrat ke segala arah saat bom dijatuhkan. Tentara-tentara berlarian dengan senjata di tangannya. Tak lama, bangkai-bangkai pesawat berjatuhan. Indonesia masih sibuk menembaki pesawat-pesawat Canada dengan rocket launcher-nya. Arinda dan Araya membawa Arisin ke tempat yang aman.

"Tiana! Kau harus membantu saudara-saudaramu!" kata Indonesia. Tiana menatap kakaknya kaget, "Bagaimana mungkin kau berkata seperti itu, kak?! Kau juga kesakitan kan?!" protes Tiana. Sebagai yang tertua dari 5 Kalimantan bersaudara. Indonesia menatap Pontianak dengan tatapan lembut. "Jangan khawatirkan aku, ok?" kata Indonesia. Tiana menutup matanya erat saat setetes air mata perlahan menuruni pipinya. Ia mengangguk sebelum membuntuti saudara-saudaranya yang lain.

.

.

Kota berstatus istimewa itu terlihat kacau. Hampir sama dengan province di sebelahnya. Orang-orang berlarian menuju bunker-bunker di tengah kota. Ratusan, mungkin ribuan pesawat milik Principality of Canada sedang menjatuhkan bom-bomnya di atas dua provinsi di Jawa itu. Para personifikasinya, dengan menahan rasa sakit, menaiki pesawat tempur mereka dan ikut membantu pasukannya untuk bertarung melawan saudara kembar America.

Dengan cepat, Surakarta, Semarang, dan Jogja menembaki pesawat-pesawat itu. Bermanuver ke kiri, kanan, menukik tajam sebelum kembali menanjak ke arah birunya langit. Menghindari semua rudal dan peluru sebelum melepaskan miliknya untuk menjatuhkan semua pesawat itu. Pesan dari Surabaya yang diterima mereka beberapa menit yang lalu memang benar. Saudara-saudara di Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara telah berjuang. Kali ini adalah saatnya bagi mereka.

Satu pesawat Canada menukik tajam menuju arah kekeratonan. Jogja segera membuntutinya. Ia tahu jika ia tak cukup cepat, pesawat itu akan menghancurkan jantungnya. Ia bisa mati.

Jogja lalu tersenyum dan menaikkan kecepatannya.

"Karta…" kata Jogja dari ERP(1)-nya. Surakarta dan Semarang di pesawat tempur lain langsung melihat ke arah pesawat tempur Jogja. "Mas.., jangan." Kata Surakarta.

.

"Selamat tinggal…"

.

BOOOOOOMMM!

.

.

Surabaya dan Bandung menembaki setiap rudal yang jatuh. Ia telah menelpon Gubernurnya untuk segera mengaktifkan pelindung dengan tinggi 2 km dari gedung tertinggi di Jawa Timur. Ia hanya perlu membereskan pesawat-pesawat itu.

"Ndung, cepet balik gih." Kata Surabaya lewat ERP-nya. Bandung melesat melewatinya. "Aku mengerti. Semoga berhasil." Jawab Bandung sebelum pesawatnya hilang dari pandangan Surabaya. Surabaya tersenyum, lalu kembali menembaki setiap pesawat yang ada disana. 'Demi semua.' Katanya.

Ia menembaki lagi untuk memancing pesawat-pesawat itu. Sekitar 7-8 pesawat mengikutinya sambil menembakinya. Sayang, mereka tak tahu kalau mereka terjebak. 'Bandung, maafkan aku.' Pikir Surabaya dalam hati. Ia menatap cahaya berwarna ungu di atas rumahnya, kotanya, tubuhnya, lalu tersenyum. 'Kepada penggantiku, aku harap kau mencintainya sama seperti aku mencintainya. Kuharap kau juga dicintainya. Sama seperti ia mencintaiku…' pikir Surabaya. Ia menambah laju pesawat tempurnya.

.

.

"Selamat tinggal.., semua…"

.

.

BOOM! BOOOM! DUAR! DUAR! BLAAR!

.

.

"UKH!" Indonesia memegang dadanya. Rasa sakit yang mendera tubuhnya seakan membuatnya terbakar. 'Jogja..,. Sura…' batinnya.

BOOOMM!

Suara ledakan itu membuatnya tersadar. Ia kembali mengambil rocket launcher-nya lalu membidik sebuah pesawat.

Syuuuuuuuu– DUAR!

Pesawat itu pecah menjadi kepingan-kepingan kecil. Indonesia berdiri dengan susah payah, sebelum akhirnya jatuh tersungkur saat seseorang menerjangnya diiringi oleh dentuman suara ledakan yang cukup dekat. 'Siapa?!' pikirnya. Ia membuka mata dan mendapati seseorang menatapnya. "Anda tidak apa-apa, Jenderal?" katanya. Ia seorang Prawa(2). "Aku tidak apa-apa." Jawab Indonesia.

Ia berusaha duduk dan menatap Prawa yang menolongnya. Wajahnya, rambutnya, semua mirip. "Siapa namamu?" Tanya Indonesia. "Namaku Ratitya Sasangka Bagaskara, Jenderal!" jawabnya. Indonesia terbelalak. 'Dia…' pikirnya. '…, kembaran manusiaku(3)?' Indonesia segera berdiri. "Terima kasih Ratitya." Kata Indonesia Lalu kembali mengambil rocket launcher-nya dan membaur dengan tentara-tentara yang lain.

'Akan kumenangkan perang ini demi dirimu dan dirinya…'

.

.

Pasukan Canada masih terus menyerang hingga beberapa bulan kemudian. Seluruh pasukan Indonesia dari Eropa sampai harus ditarik mundur. Pasukan dari Singapore dan Timor Timur segera datang, namun masih belum cukup untuk membendung pasukan Canada. Hal ini membuat Germany dan Japan khawatir.

Germany, yang berada di front Eropa, dan Japan, yang berada di front Asia memutuskan untuk bertemu di salah satu markas di Kolumbia. Tentu sja, si empunya Negara juga ikut hadir. Dia kan juga anggota grup Poros.

"Selamat datang, Japan." Kata Kolumbia saat melihat Japan turun dari pesawatnya. Japan tersenyum dalam balutan seragam hitam-hitamnya. "Terima kasih, Kolumbia-kun. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Japan sekedar berbasa-basi sambil mengikuti Kolumbia menuju mobilnya. "Tentu baik. Tidak ada serangan yang berarti dari para sekutu." Jawab Kolumbia.

Dan mobil pun berangkat.

.

.

Di salah satu Gedung…,

"Selamat datang, Japan. Aku sudah menunggu." Kata Germany. Japan tersenyum. "Maafkan aku Germany-san. Kau tahu kan kalau penerbangan dari Asia lebih lama dri yang kau pikirkan?" kata Japan. Germany mendengus. "Aku tahu. Lebih baik kau duduk, Japan." Kata Germany mempersilahkan.

Setelah Japan duduk, ia langsung memulai pembicaraan. "Germany-san, keadaan Indonesia-san sangat mengkhawatirkan." Kata Japan. Germany mengangguk. "Aku merasakannya tiap hari." Kata Germany. Mendengar hal itu, rasa iri muncul di hati Japan. 'Tidak! Indonesia-san adalah istri Germany-san sekarang. Aku tidak boleh merasa iri.' Pikir Japan.

Germany berpikir keras. Ia tidak bisa meninggalkan front Eropa karena lebih dekat dengan Amerika Selatan yang selalu kena gempur America. Disatu sisi, istrinya di front Asia sangat membutuhkannya. Hanya Japan satu-satunya cara untuk menolong Indonesia. Japan kembali tidak sabaran melihat temannya hanya diam.

"Germany-sa–"

"Japan."

"H-hai?"

"Bisakah kau melakukan blitzkrieg?"

.

Tokyo, Februari 2181

Untuk Ibu dan Ayah,

Ibu, ayah, bagaimana kabar kalian? Hampir 4 tahun kita tidak bertemu. Saat ini aku telah menjadi salah satu pilot AU Negara kita, Jepang. Sangat menegangkan mengingat Negara ini kembali masuk dlam perang dunia. Mungkin ibu dan ayah telah melihat berita bahwa salah satu sekutu Negara ini, Indonesia, di serang oleh musuh. Inilah saatnya aku untuk maju.

Aku akan berangkat malam ini. Jika beruntung, mungkin aku akan kembali besok, atau beberapa hari lagi. Aku hanya ingin ibu dan ayah tahu. Aku sangat mencintai kalian berdua yang telah membawaku ke dunia ini. Tanpa doa dan restu kalian, juga perlindungan dewa, mungkin aku tidak akan bisa menjadi sesukses ini. Jika aku tidak selamat, aku mohon. Aku mohon ibu dan ayah rela. Karena mati demi Negara ini adalah sebuah kebanggaan untukku, dan juga tentara yang lain.

Ibu, ayah, mungkin hanya ini yang bisa kukatakan. Jadi, mohon doa dan restu ibu dan ayah agar aku bisa kembali. Terima kasih.

Dengan penuh hormat dan cinta,

Jun Takada

.

.

Jun Takada menatap suratnya dengan puas. Ia lalu memasukkan surat itu di kantong surat di ujung ruangan sebelum membereskan semua barangnya dan pergi menuju lapangan terbang dimana ratusan pesawat milik AU Jepang menunggu. 'Penerbangan pertamaku…' pikirnya sambil menatap matahari yang semakin menghilang di ujung barat.

Ia menatap teman-temannya yang lain. 'Untuk negaraku.' Katanya dalam hati dengan puas. Tanpa ia sadari, dari jauh Japan menatap gerak-geriknya. 'Kembaran manusiaku, eh?' katanya dalam hati. Japan tersenyum kecil. 'Ironis. Aku bahkan tak pernah bertemu dengannya secara langsung…' pikir Japan.

"Semua sudah siap, Jenderal." Kata seorang Letnan Kolonel-nya. Japan mengangguk pelan. "Berangkatkan semuanya." Perintah Japan. Letnan Kolonel-nya segera pergi menuju barisan pesawat yang telah siap dan memberangkatkan mereka. Tak lama, ribuan pesawat milik Jepang sudah mengudara.

'Blitzkrieg? Kita lihat saja, Germany-san… Kita lihat saja…'

.

.

.

Continued?

.

.

.

A/N: WATDEPAAAAKKK? CUMA 1500 WORDS? Mein Gott…, ini pasti chappie terpendek di sejarah ARoLFEFY. OK, Ini adalah part 2 dari Perang 3 Benua. Udah selesai? BELOM! Masih ada Part 3 dan 4 yang nunggu! Penasaran? Baca Chappie selanjutnya. Saya kasih Diplomation War: America vs Indonesia. Gimana? Mau? Mau? Makasih buat teman-temin yang udah menyempatkan diri baca dan repiuw.

Jadi, saya usahakan cepet update. Tapi mungkin nggak sampe 2 minggu kedepan. Saya banyak tugas, aaaaa.. HAHA. OK. Sekian, saya banyak curcol ternyata…

1: ERP: Ear-Radio Pilot. Tau kan alat komunikasi di pesawat-pesawat itu? Nah.., bayangin aja kayak gitu, dengan teknologi yang lebih canggih dimana bisa buka radar dan ngontrol rudal. Jadi di dashboard-nya pesawat tu cuma ada setir, gas, kopling, #eh?

2. Prawa: Prajurit Wanita. Jajajaran prajurit cewek yang siap memberi bogem mentah ahahahahahaha~

3. Jadi, setiap personifikasi punya kembaran manusia. Yaitu orang yang benar-benar mirip dengannya bagaikan kembaran, tapi dia manusia biasa yang nggak terkenal seperti nation-nation-tan kita.. #plak!digamparRatitya

Kolumbia, itu male! OHOHOHOHOHOHO~

Sekian sekian. Sampe ketemu di chapter 11: Perang 3 Benua part 3: Diplomation War: America vs. Indonesia.

DADAH DAN REVIEW~~