The Winter Cogitation

Chapter 10 - The Behind of Solidarity

Note : Cerita ini dibuat oleh saya sendiri. Namun karakter, tempat kejadian dan komponen cerita yang berhubungan dengan cerita asli Penguin of Madagascar bukan milik saya. Melainkan Dreamworks and Nickelodeon. Karakter asli, tempat kejadian asli, dan hal-hal yang bersifat asli dan nyata disamarkan walau tidak semua karena ini hanyalah fiksi. Saya mohon maaf jika cerita ini kurang jelas dan ada kesalahan dalam penulisan, baik kosa kata maupun tata bahasa dalam cerita ini. Peringatan! Banyak sekali bahasa campuran, liar, dan gaul disini. Dan beberapa unsur kehidupan remaja. Hanya untuk umur remaja keatas! Dan unsur religi masuk dalam cerita ini!

WARNING: Cerita ini TIDAK direkomendasikan untuk pembaca yang tidak menyukai cerita panjang dan pembaca yang dibawah umur 16 tahun.


Bah... huft... huft.. ternyata hal itu cuma mimpi saja. Suasana masih bersalju meskipun kabut tidak terlalu tebal. Masih sama persis saat aku pergi ke Warung Alaska. Aku bangun dari tidurku dan berdiri.

"Dwi! Dwi!" suara Private memanggilku dari kejauhan. Dia belarian dan menghampiriku dengan cepat. Dia melompati pagar tralis sekolahanku.

"Private... ada apa? Kok kamu tidak ikut membantu teman-temanmu?"

"Tidak, aku malas membantu mereka. Soalnya mereka mencari benda itu di hutan bambu. Jadinya aku kabur karena banyak mata-mata disana." ucapnya dengan rasa takut.

"Hahaha.. jangan takut Private. Aku tau kok, hutan bambu yang ada disana memang angker semua tapi jangan kamu takuti. Hal yang menakutkan gak akan terjadi kok selagi kamu mau bersama dengan mereka."

"Tapi Dwi, aku benar-benar takut.. ada sesuatu yang menyeramkan disana yang selalu mengikutiku."

"Apa itu Private?"

"Seperti manusia yang ingin mencoba untuk mencincangku. Makanya itu aku ingin bersama dengan kamu Dwi.." kata Private dengan rasa takut yang luar biasa.

"Tenang Private.. tenang. Lebih baik kamu bersamaku saja. Aku harap mereka tidak kenapa-napa juga."

Manusia yang ingin mencincang Private? Hanya orang gila yang ingin mencincang mahluk sepertinya. Tapi.. apa mungkin? Ah.. lupakan. Aku harap hal itu memang tidak benar-benar terjadi.

Suasana masih ramai seperti sebelumnya. Di tempat aku berada ini, aku bisa melihat pertandingan Class Meeting mengenai pertandingan Sepak Bola, dan Voli. Dua permainan itu merupakan permainan yang sudah melegenda didunia ini dan sudah tidak asing lagi bagi seluruh dunia. Ya.. banyak sekali murid yang menonton dua pertandingan itu termasuk aku. Aku melihat kelasanku sedang bertanding melawan kelas 12 IPS 3. Kelasan tersebut merupakan kelas yang memiliki kekuatan yang cukup tangguh dalam bermain sepak bola sehingga banyak sekali kelas yang kalah dengan kelas 12 IPS 3 ini. Namun kelasanku baru pertama kali mengalahkan kelas itu pada saat perlombaan antar kelas dalam event tournament Solar Cup. Yang menjadi keunggulan adalah kelasanku mendapatkan juara 1. Aku merasa senang dengan kelasanku ini karena semua murid dikelasanku memiliki kelebihan yang dapat dihandalkan. Namun, ketika aku menyaksikan sampai pertandingan ini selesai pada pertandingan yang ada di Class Meeting ini. Kelasanku kalah. Hanya beda 1 score dari kelas 12 IPS 3. Tapi tak apalah, menang dan kalah itu sama saja. Private yang menonton acara ini saja terlihat gembira dan senang karena dia baru pertama kali melihat pertandingan sepak bola di musim dingin ini. Begitupun dengan pertandingan bola voli di musim dingin ini. Mereka semua terlihat energik. tidak memperdulikan akan hawa dingin di musim dingin ini. Kalau mereka sakit, mungkin itu sudah jadi bencana sendiri bagi mereka. Anggaplah jika salju ini merupakan hujan air. Mungkin bisa disamakan dengan hal itu. Bagi yang fisiknya lemah, setelah bermain pasti akan mengalami demam yang berkepanjangan.

Kelasanku kalah, keringat dingin bercucuran dari kulit mereka. Mereka beristirahat di sebuah bangku keramik yang ada dilapangan itu. Kelihatannya mereka cukup lelah melawan tim yang tangguh yaitu kelas 12 IPS 3. Sepertinya mereka hanya bisa pasrah tapi aku masih bisa melihat mereka tersenyum dan bercanda. Kekalahan yang biasanya diliputi dengan kesedihan dan kedukaan mereka tutupi dengan kesenangan dan keceriaan. Yeah.. hal itu sangatlah aku sukai. Tapi sayangnya aku memang tidak bisa menjadi seperti mereka. Inilah aku, aku apa adanya.


Bagaimanakah kelanjutan cerita selanjutnya? Tunggulah pada chapter yang akan mendatang. Jangan lupa untuk Review Chapter ini.