Phobia : Yuri

.

.

.

.

[Sasuke Uchiha, Sakura Haruno] Ino Yamanaka

.

.

.

.

Masashi Kishimoto

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

DLDR! (Jika tidak suka dengan adegan di dalamnya atau cerita yang dibuat Author, silahkan klik tombol back! Dilarang COPAS atau PLAGIAT dalam bentuk apapun! M for Save!)

Selamat Membaca!

oOo Phobia : Yuri oOo

Ino mematut dirinya di cermin dan tersenyum. Di tubuhnya terbalut sebuah gaun yang begitu indah, gaun pernikahannya bersama Sai. Aquamarinenya kemudian memandang Sakura yang duduk di salah satu kursi sembari memandanginya.

"Sakura, apa aku bagus mengenakan gaun ini?" tanya Ino.

"Hmm.. kamu cantik sekali, Ino." Sakura tersenyum.

"Baiklah, aku akan mengenakan gaun ini untuk pernikahanku."

Sakura tersenyum dan mengelus perutnya dengan lembut sebelum ponselnya bergetar. Mengambil ponselnya di tasnya, satu alisnya terangkat ketika melihat caller ID penelpon.

"Moshi-moshi, Sasuke-kun," ucap Sakura.

"Hn. Aku sudah ada di depan gedung butik."

Sakura menarik nafas panjang dan memandang jam yang ada di dinding. Tadinya dia meminta Sasuke untuk menjemputnya jam lima sore dan sekarang masih jam dua siang. Tadinya setelah mengantarkan Ino untuk memilih gaun pernikahan mereka akan makan siang bersama, tetapi sepertinya semuanya gagal hanya karena telepon dari Sasuke. Menyebalkan.

"Baiklah, aku akan segera keluar." Sakura mematikan sambungan telepon dan memandang Ino yang baru saja berganti pakaian.

"Siapa yang menelpon, Sakura?" tanya Ino.

"Sasuke." Sakura memutar bola matanya. "Dasar posesif."

"Hei, biar begitu dia begitu menyayangimu."

"Baiklah, aku harus segera keluar sebelum dia merengut manja. Dasar bocah, tingkahnya seperti bocah padahal aku sedang mengandung anaknya."

"Hahaha.. ya sudah, sana temui pangeranmu. Aku akan meminta jemput Sai, nanti."

"Baiklah." Sakura memeluk Ino sekilas. "Aku pergi dulu, mungkin kita bisa mengganti rencana kita besok."

"Tenang saja, aku punya banyak waktu sampai pernikahanku hari Sabtu besok."

Sakura tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. Ino menarik nafas panjang dan mengambil ponselnya, dia harus segera menghubungi Sai sebelum mati kebosanan.

.

Sakura melangkahkan kakinya keluar dari butik dan memandang mobil Jaguar hitam milik Sasuke yang terparkir di depan butik. Tanpa disuruh, dia segera masuk ke dalamnya.

"Merah?" Sasuke memandang dress selutut yang digunakan Sakura saat wanitanya masuk ke dalam mobilnya. "Dan High heels apa itu?"

"Sasuke-kun, jangan bertingkah menyebalkan lagi." Sakura merengut ketika Sasuke membawanya menuju apartemen pria itu. "Aku berniat hang out bersama Ino ke beberapa mall hari ini. Dan kamu sukses menggagalkan semuanya."

"Dengan dress merah dan high heels itu?" Sasuke mendenguskan wajahnya. "Jangan bercanda, Sakura. Kita akan mengganti pakaianmu dan ke kediaman Uchiha untuk makan malam."

Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Kediaman Uchiha?"

.

Sakura memandang Uchiha Mansion yang begitu megah dan besar. Dia didandani sedemikian rupa oleh seorang desainer dan masih tidak mengerti mengapa sekarang dia harus datang ke Uchiha Mansion untuk makan malam.

Sasuke memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya sebelum membukakan pintu untuknya. Sakura sendiri tidak bisa bernafas ketika melihat penampilan Sasuke yang begitu mempesona. Dan ketika Sasuke membawanya menuju ruang makan keluarga Uchiha, Sakura baru tahu mengapa dia harus datang kemari.

"Kaa-san?!"

Sakura terkejut ketika melihat ibunya sudah duduk manis di kursi makan bersama anggota keluarga Uchiha yang lain. Bahkan kakaknya juga ada disana sedang mengobrol bersama Itachi. Sebenarnya, apa yang terjadi?

"Kenapa kamu lama sekali, Sakura." Mebuki memandang putrinya. "Kami sudah membicarakan tentang pernikahan kalian, tinggal menentukan hari baik saja."

"Tidak usah menentukan hari baik." Sasuke duduk di salah satu kursi. "Menikah besok pun tidak masalah."

Mikoto selaku ibu Sasuke terkikik geli sedangkan Sakura melotot tidak suka.

"Mikoto, lihatlah putramu itu. Dia sudah tidak sabar untuk menikah," ucap Mebuki.

"Itu benar, Mebuki. Aku sudah tidak sabar ingin menggendong cucu."

Sasuke tersenyum penuh kemenangan dan memandang Sakura yang sedang merengut kesal.

Belum jadi suami saja sudah menyebalkan seperti itu.

"Ibu, jangan lupakan Hana disini." Itachi memeluk pinggang Hana yang kini sedang mengandung tujuh bulan itu.

"Kaa-san tidak akan melupakan menantu-menantu kaa-san." Mikoto tersenyum dan memandang Fugaku yang sedang meneguk ochanya. "Tetapi Mansion ini begitu besar dan Kaa-san kesepian disini. Kaa-san ingin banyak cucu dan akan meramaikan mansion ini."

Sakura menggigit bibirnya. Mood sialan! Bisa-bisanya dia hampir menangis hanya karena mendengar perkataan Mikoto.

"Sudah, ayo kita mulai makan malamnya." Fugaku memecah suasana.

.

"Apa-apaan itu tadi?!" Sakura memandang Sasuke dengan pandangan tidak suka.

Mereka berada di kamar milik Sasuke di apartemen milik pria itu. Ibunya memutuskan untuk menginap di kediaman Uchiha, itu juga karena paksaan dari Mikoto. Sasori langsung pulang kerumah mereka karena jarak Haruno corp dari rumah mereka begitu dekat.

Sasuke memeluk pinggang calon istrinya dan menghirup aroma rambut Sakura dengan lembut.

"Aku mencintaimu, Sakura."

"Kamu selalu mengatakannya akhir-akhir ini." Sakura membalikan badannya dan mengelus rambut Sasuke dengan lembut.

"Hn, benarkah?"

Sakura terkejut ketika Sasuke membalikan keadaan dengan pria itu yang ada di atasnya. Sasuke tersenyum tipis ketika melihat Sakura yang ada di bawahnya. Entah mengapa, rasanya dia begitu bergairah setelah berbulan-bulan melakukannya secara solo dengan membayangkan Sakura. Dia tidak bisa ereksi setelah malam panasnya dengan Sakura.

"Aku tidak akan melawan, Sasuke-kun." Sakura berbisik dan mengelus wajah Sasuke dengan lembut. "Tapi lakukan dengan pelan, Sasuke-kun."

"Sepertinya aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi." Sasuke melumat bibir Sakura dengan lembut dan malam panas mereka akan segera dimulai.

oOo Phobia : Yuri oOo

Ino tersenyum ketika memandang dirinya di cermin. Wajahnya tampak cantik dengan polesan make up tipis. Gaun pengantinnya begitu pas ditubuhnya dan embentuk tubuhnya dengan indah.

"Ino, kamu cantik sekali." Sakura masuk ke ruang ganti pengantin dan memandang sahabatnya dengan lembut.

"Sakura." Ino memandang Sakura dari cermin. Tatapan matanya meredup. "Apa yang aku lakukan ini benar?"

"Apa maksudnya dengan apa yang kamu lakukan itu benar?" tanya Sakura tidak mengerti.

"Melepasmu. Maksudku, kita bisa kembali."

"Ino." Sakura memegang pundak Sahabatnya dengan lembut. "Sudah berapa kali aku katakan jika Sai dan Sasuke mencintai kita. Kita masih bisa menjadi sahabat, tetapi kini akan ada Sai yang selalu di sampingmu. Dia yang akan merawatmu saat sakit, menemani kala kamu kesepian, mendekapmu ketika kamu sedih."

"Sakura-" Ino tidak bisa menahan air matanya dan memeluk Sakura dengan erat. Wanita yang sedang mengandung itu memeluk Ino dan mengelus punggung Ino dengan lembut.

"Jangan menangis, Ino." Sakura menghapus air mata di pipi Ino. "Make upmu luntur."

"Sakura, terimakasih."

"Sudah Ino, ayo kamu tidak boleh sedih di hari istimewamu ini."

Ino tersenyum. Betapa beruntungnya dia memiliki sahabat seperti Sakura.

"Terimakasih, Sakura."

.

"Dari mana?" Sasuke melirik Sakura yang duduk di salah satu kursi.

"Aku baru saja berbicara dengan Ino." Sakura membenahi gaunnya.

"Hn."

Ino muncul dan memandang Sai yang sudah menunggunya di Altar. Sakura tidak bisa menahan senyum bahagianya ketika sahabatnya mulai melangkah ke altar. Ketika pendeta membacakan janji suci, Sakura tak henti-hentinya memanjatkan doa dalam hati. Dia berharap bahwa kebahagiaan juga akan menyertainya.

oOo Phobia : Yuri oOo

Sasuke menarik nafas panjang dan mulai meneliti dokumen yang dibacanya. Dia masih memiliki waktu hingga sore sebelum akhirnya menemani Sakura untuk mengurus tetek bengek pernikahan mereka. Setelah Sai dan Ino menikah, mereka akan menyusulnya minggu depan. Sebenarnya ini usulan ibunya dan calon mertuanya, tetapi tentu saja dia menyetujuinya.

"Teme! Kau bajingan!"

Sasuke mengangkat kepalanya dan memandang Naruto yang masuk ke ruangannya dengan pandangan tidak suka. Pria berambut pirang itu datang bersama dengan Sai.

"Hn. Apa yang kau lakukan disini, Sai? Bukankah kamu seharusnya bulan madu bersama Ino?" tanya Sasuke tidak mengerti.

"Aku sebenarnya ingin dirumah dan melanjutkan pertarunganku bersama Ino. Tetapi dia tidak bisa berjalan setelah aku menyodok vaginanya semalaman, dia kelelahan dan sekarang sedang tidur. Lalu Naruto mengajakku kemari."

"Kau terlalu frontal, Sai." Naruto memandang Sai.

"Apa yang kalian inginkan?" Sasuke menyandarkan punggungnya.

"Kenapa kau tidak mengatakan jika kau akan menikah, hah?!" Naruto menunjuk Sasuke.

"Seharusnya kau lebih peka, bodoh. Sakura hamil, aku tentu saja akan menikahinya."

"Baiklah. Kau harus mentraktirku minum sebelum kau menikah, Teme."

.

Sakura merengut sebal dan mengambil ponselnya. Berkali-kali dirinya menelpon Sasuke tetapi pria itu tidak mengangkatnya. Ini sudah dua jam sejak jam lima sore, mereka seharusnya sudah ada di butik ini untuk fitting baju pernikahan.

Mengelus perutnya dengan lembut, Sakura menghempaskan ponselnya di sofa butik. Dia berniat mengajak Sasuke makan malam di salah satu restoran. Tetapi sampai sekarang, Sasuke bahkan tidak muncul.

Sialan! Sebenarnya Sasuke menganggapnya apa? Dia yang paling menginginkan pernikahan ini tetapi untuk fitting baju saja Sasuke tidak datang. Jika memang pria itu ada meetting mendadak, setidaknya pria itu bisa menghubunginya.

Bangkit dari duduknya, dirinya menginginkan ketenangan sekarang.

.

Sasuke memandang Naruto yang sedang berdansa bersama beberapa wanita dengan pakaian kurang bahan. Mereka sudah berjam-jam berada di sebuah bar dan Naruto masih saja kurang puas untuk meniduri wanita yang dipilihnya.

"Sasuke, aku harus pulang. Ini sudah lewat jam makan malam, aku bisa dimarahi Ino."

Sasuke seperti bangun dari tidurnya. Dia segera mengambil ponselnya dan melihat banyak sekali panggilan masuk dan pesan dari Sakura. Tidak. Wanitanya pasti sedang marah sekarang.

"Dobe, aku harus kembali sekarang."

.

"Tadaima."

"Okaerinasai, Sai-kun!" Ino muncul dengan gaun tidurnya yang berwarna kuning. Satu ciuman di daratkan Ino pada bibir suaminya. Merajuk manja, Ino merengut kesal dan bagi Sai istrinya begitu menggemaskan. "Kenapa lama sekali! aku menunggumu dari makan malam!"

"Si bodoh Naruto yang memaksaku." Sai memeluk Ino. "Maafkan aku, cantik."

"Maaf diterima."

"Hn."

Ino melepaskan pelukannya pada Sai dan memandang siapa yang berdiri di belakang suaminya. Ino memandang Sasuke dengan pandangan tidak suka.

"Mau apa dia kemari, Sai-kun?" tanya Ino.

"Dimana Sakura?" Sasuke langsung bertanya tanpa basa-basi.

"Dimana Sakura? Kau pikir aku tahu dimana dia?" Ino bertanya dengan nada sarkatis.

"Aku tahu dia ada di dalam, Yamanaka. Biarkan aku bertemu dengannya."

"Maaf, sekarang aku bukan lagi Yamanaka." Ino menunjukan cincin di jari manisnya. "Sekarang aku Shimura."

"Cih, aku tidak peduli apapun itu. Sekarang biarkan aku bertemu dengan Sakura."

.

Sasuke memandang Sakura yang sedang membaca novel diatas ranjang. Wanita itu belum menyadari kehadirannya dan masih asyik dengan novel yang dibacanya. Sasuke tidak bisa menahan senyumnya ketika memandang wajah calon istrinya itu.

"Ino, sudah aku katakan aku tidak ingin diganggu." Ketika dirinya mengangkat kepalanya, betapa terkejutnya ia melihat siapa yang berdiri di depan pintu kamar yang sekarang ditempatinya. "Mau apa kamu kemari?"

Sasuke menghiraukan perkataan sarkatis Sakura dan duduk di sebelah wanitanya itu. Tangannya terulur untuk mengelus surai merah muda Sakura yang kini sedang memalingkan wajahnya yang merengut kesal. Rasanya, Sasuke ingin mencium pipi gembil yang terlihat menggemaskan itu.

"Hn, kamu marah?" tanya Sasuke.

"Menurutmu?"

Sasuke mendenguskan wajahnya dan mencium puncak kepala Sakura dengan lembut.

"Maafkan aku. Aku benar-benar lupa jika kita harus fitting baju hari ini."

"Dan bersenang-senang dengan wanita lain?"

Sasuke mendengus lucu. Bisa-bisanya Sakura mengiranya melakukan hal seperti itu.

"Apa kamu sedang cemburu sekarang?"

Sakura terdiam. Dan Sasuke menganggapnya sebagai jawaban iya.

"Aku kan sudah minta maaf, besok aku janji kita akan fitting baju bersama. Aku tidak pergi bersama wanita lain, aku pergi bersama Sai dan Naruto. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakannya pada mereka."

"Tapi setidaknya kamu bisa memberikanku kabar!"

"Aku minta maaf untuk itu."

"Kau menyebalkan!"

"Aku tau."

"Kau kini membuatku hamil!"

"Tapi kau suka saat kita membuatnya."

"Sasuke-kun!"

Sakura mengerucutkan bibirnya dan Sasuke memeluknya.

"Sudah, jangan ngambek begitu. Aku kan sudah mengatakan yang sesungguhnya. Aku tidak pergi dengan wanita lain dan aku lupa mengabarimu. Aku juga sudah minta maaf untuk itu."

Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk mencium bibir Sakura dengan lembut. Dia kemudian menyatukan dahinya hingga benang saliva terbentuk diantara mereka berdua.

"Kau mau pulang bersamaku?" tanya Sasuke.

Sakura menganggukan kepalanya dengan malu-malu.

oOo Phobia : Yuri oOo

Sasuke tidak akan melupakan hari ini. Ketika Sakura memasuki kuil Nakano lengkap dengan pakaian pernikahannya. Dia bahkan tidak berkedip melihat penampilan Sakura yang begitu cantik dan menawan. Meski hanya dengan dandanan sederhana, namun matanya tak bisa berkedip melihatnya.

"Sakura, kamu cantik sekali." Sasuke tidak berkedip ketika melihat Sakura berdiri di sampingnya.

"Terimakasih, Sasuke-kun."

Dan Sakura hanya bisa tersenyum malu-malu selama pemberkatan berlangsung.

.

"Sui, aku tidak bisa."

Sasuke keluar dari kamarnya sembari memakai arlojinya. Di antara lehernya dijepitkan ponselnya agar bisa terus mendengar lawan bicaranya berkata.

"Aku baru saja menikah. Baiklah, aku akan kesana."

Sakura memakaikan dasi suaminya yang sedang terburu-buru.

"Sasuke-kun, kita kan baru menikah. Masa kamu tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu?" tanya Sakura.

"Aku ingin, Sakura. Tapi mengertilah, banyak proyek yang harus aku kerjakan."

"Baiklah, tapi kamu harus janji untuk makan malam dirumah."

"Hn." Sasuke tersenyum tipis dan mencium bibir istrinya dengan lembut. "Aku berangkat."

"Hati-hati di jalan, Sasuke-kun."

.

Pada akhirnya, janji hanyalah janji semata. Sasuke tidak muncul untuk makan malam dan itu membuat wanita berambut merah muda itu merengut kesal. Dia sudah memasakan banyak makanan untuk suaminya tetapi suaminya tidak kunjung pulang. Mencoba mengerti dengan pekerjaan suaminya, Sakura memilih untuk mengistirahatkan dirinya di ranjangnya yang empuk.

Sasuke mengusap wajahnya dan masuk ke dalam rumahnya. Ini semua karena proyek yang semakin menumpuk dan juga masalah yang menghinggapi berbagai proyeknya.

Ketika membuka pintu kamarnya, Sasuke merasakan rasa lelahnya berkurang. Mengganti pakaiannya, Sasuke mulai merebahkan dirinya di sebelah Sakura.

"Sasuke-kun.." Sakura membuka matanya.

"Hmm.." Sasuke memeluk Sakura dan mulai memejamkan matanya.

"Umm.. Sasuke-kun, aku ingin sesuatu."

Sasuke sedikit membuka matanya dan memandang Sakura.

"Ingin apa? Aku buatkan bubur?"

Sakura menggelengkan kepalanya.

"Aku ingin martabak tomat."

"Martabak tomat?" tanya Sasuke memastikan.

Sakura menganggukan kepalanya. Sasuke menarik nafas panjang dan bangkit dari posisinya. Biar dia sedang sangat lelah sekarang, dia tetap ingin membelikan makanan yang Sakura inginkan. Sakura pasti sedang ngidam sekarang.

"Jika Sasuke-kun tidak mau, juga tidak apa-apa. Sasuke-kun terlihat begitu lelah."

Sasuke menggelengkan kepalanya dan beranjak menuju garasi rumahnya. Biar dia lelah sekalipun, dia tidak ingin anaknya menjadi ngileran.

.

Dengan nyawanya yang tersisa, Sasuke melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. Sakura yang sedang membaca novel tersenyum menyambut suaminya.

"Ini, martabaknya."

Sakura menerima martabak dari tangan Sasuke dan mengelus rambut suaminya yang kemudian tertidur lelap. Dia tahu beban yang ditanggung Sasuke untuk memajukan perusahaan terbaik itu sangat sulit.

"Sasuke-kun, terimakasih."

oOo Phobia : Yuri oOo

Sakura harus menahan dalam-dalam ngidamnya. Dia menginginkan Sasuke selalu ada di sampingnya, tapi kenyataan tidak bisa dia wujudkan. Suaminya selalu pulang larut malam dan pergi saat matahari belum tinggi. Dia ingin suaminya memiliki satu hari waktu untuk bersamanya, namun pekerjaan suaminya membuatnya jarang berada di rumah.

"Sasuke-kun.." Sakura memanggil suaminya yang sedang sarapan.

"Hn."

"Tidak jadi." Sakura mengigit bibirnya.

Sasuke melahap sup tahunya dan memandang Sakura yang terus menerus menggigit bibirnya. Perangai Sakura yang biasanya galak kini menjadi pendiam dan manja. Mengangkat bahunya, Sasuke berfikir jika perubahaan yang dialami Sakura karena kehamilannya.

"Apa kamu sibuk hari ini?" tanya Sakura.

"Hn. Memang ada apa?" Sasuke memandang Sakura.

"Tidak, hanya aku ingin mengecek kehamilanku saja. Bukankah ini pertama kali kita mengecek calon bayi kita? Maksudku-"

"Aku akan menjemputmu pukul satu." Sasuke mencium puncak kepala Sakura dengan lembut.

Sakura tidak bisa menahan senyumnya dan mengelus perutnya yang sedikit membuncit.

"Kamu dengar itu, sayang? Papa akan menemani kita ke dokter."

.

Tapi pada kenyataannya, Sasuke tidak menjemputnya hingga pukul dua siang. Dan ketika dirinya mencoba menelpon Sasuke, ponsel suaminya tidak aktif. Dan menurut apa kata sekretarisnya, Sasuke sedang menghadiri rapat penting dan tidak bisa di ganggu sama sekali.

Dan ketika Sakura terbangun esok dan esok harinya. Sasuke tetap tidak ada di sampingnya. Dan entah mengapa, dia begitu merindukan suaminya. Menarik nafas panjang, Sakura menyeka air mata di sudut matanya. Dia tidak boleh terlalu stres dan membahayakan bayinya.

Saat membuat susu dan sereal untuknya, bel pintu rumahnya dibunyikan. Dan Sakura keheranan melihat tukang pos yang ada di depan pintu rumahnya.

"Surat untuk nyonya Uchiha."

Sakura menerima surat untuknya dan memandang keheranan. Ketika membuka amplopnya, betapa terkejutnya ketika membaca kata perkata.

"Sasuke-kun, kenapa kamu lakukan ini?" Sakura jatuh terduduk.

Dia tidak mengerti mengapa Sasuke melakukan hal ini padanya. Memang apa salahnya? Dia hanya ingin meminta waktunya. Tetapi mengapa Sasuke mengirimkan surat ini padanya.

Bangkit dari posisi duduknya. Sakura menyambar telepon rumahnya.

"Moshi-moshi, Sakura. Ada apa?"

"Kaa-san, aku butuh kaa-san." Sakura tidak bisa menahan air matanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Special Thank's to :

Dianarndraha, Zarachan, Bang Kise Ganteng, Frizca A, Cherry480, Amaya Katsumi, Asiyah Firdausi, Chanshin08, Hanazono Yuri, Ernykim, Khalerie Hikari,Hima-chan, Mustika447, Uchiha Pioo, Yosh-Akimoto, Smilecherry, Volumekubus13, Rossadilla17, CherryHyuga1, Kawaiihanabi, Youngky Anggara, Genie Luciana.