Tittle: Lovesick (Sequel Sexy Fortune)

Author: Dyorit

Genre: Drama, Angst, Family

Rating: M (for sexual scene)

Length: Chaptered (Chapter 10)

Cast: Kai—Kyungsoo

Support Cast: Kim Minseok, Park Chanyeol

Disclaimer: Seluruh cast milik diri sendiri, orang tua, agensi, fans, dan semua yang sayang ama dia. Seluruh typo's, cerita, dan EYD yang ancur punya gue seorang

Warning: YAOI, BL, Boys Love, boy x boy, boys love boys, Official Pair!, EYD berantakan, alur ngebosenin, OOC (Out Of Character), typos beterbaran, cerita pasaran, alur ngebut.

Author's: tolong baca yang di bawah ^-^

~…~

Kyungsoo merogoh kantung celananya hingga ke bagian ujung-ujungnya, mencari recehan yang mungkin masih tersisa barang sedikit untuknya agar ia bisa menelfon ibunya di desa lewat salah satu tetangganya yang memiliki telefon kabel. Setelah menemukan beberapa recehan ia memasukan koin itu ke dalam lubang yang tersedia, tangannya yang masih bergetar meraih gagang telfon di depannya. Jeda yang cukup panjang hanya untuk mengangkat sebuah panggilan. Kyungsoo masih diam, bersabar menunggu hingga ada orang yang mau mengangkat telfonnya.

"Hallo, kediaman Hong"

"Bibi Min, ini aku Kyungsoo" jawabnya. Ada sedikit suara tersikap dari ujung telfon, sepertinya orang yang di telfonnya kaget. "Bibi bisakah—"

"Kyungsoo untunglah kau menelfon. Bibi sangat ingin mengabarimu suatu hal tetapi kau tidak kunjung menelfon" Kyungsoo diam, kata-katanya terpotong begitu saja. Ada suara serak menahan tangis di ujung telfon. Tangan Kyungsoo semakin bergetar, ini bukan hal yang baik. Ia sangat yakin itu.

"Ibumu masuk rumah sakit, dokter bilang kanker rahim"

Kyungsoo memegang erat gagang telfon. Matanya memerah lalu beberapa detik kemudian ia menangis tersedu di depan telfon, mengabaikan teriakan panik wanita di seberang telfon. Tubuhnya merosot dengan gagang telfon yang masih di cengkramnya erat, isakan tangisnya semakin kencang saat mendengar kembali ucapan wanita di seberang telfon.

"Ibumu harus segera di operasi sebelum semuanya terlambat"

.

.

.

Dunia seakan memunggunginya saat ini. Di malam yang dingin di pertengahan musim gugur Kyungsoo diam membeku di depan flat murahannya, ia tidak kehilangan kunci flat bobrok yang di gunakannya. Ia hanya merasa bahwa mungkin lebih baik berfikir di depan flatnya. Saat tubuhnya merosot dalam posisi berjongkok, tiba-tiba ada sepasang sepatu mahal berhenti di depan wajahnya. Tanpa mendongakpun ia tahu siapa orang di depannya.

"Pergilah, aku sedang tidak ingin di ganggu" lirihnya sembari merapatkan beanie usang yang benangnya sudah mulai berhamburan untuk menutup telinganya yang terasa beku.

"Aku tahu kau butuh sandaran saat ini" Kyungsoo mendecih sinis, kepalanya mendongak memandang laki-laki bertubuh jangkung yang berdiri di hadapannya dengan tatapan meremehkan.

"Aku tidak butuh sandaran apalagi kau. Aku tidak butuh kau dan teman-teman mu itu" sinisnya. Laki-laki di hadapannya masih terdiam tak bergerak sedikitpun, "Pergilah Kris, dan suruh Jongin yang dari tadi mengintip di balik lorong untuk pergi juga. Aku muak dengan kalian"

"Kyungsoo—"

"Pergi"

"Kyungsoo biarkan aku—"

"AKU BILANG PERGI. APA KAU TULI?!" Kris tersentak kaget. Ia mundur satu langkah ke belakang. Kyungsoo yang melihat raut kaget Kris dengan cepat berdiri, meraih kunci flatnya lalu membuka pintu reyot di depannya, ia memandang Kris untuk yang terahir kalinya sebelum membanting pintu tepat di depan wajah Kris.

.

.

.

Keberuntungan sejatinya memang tidak pernah memihak padanya. Kyungsoo masih terus berdiri di depan sebuah bar eksklusif dengan setelah kumalnya. Satu-satunya alasan ia berdiri di sini adalah karena menerima pekerjaan dari seseorang yang dengan 'baik hati' menawarinya pekerjaan saat tadi ia mengelingingi hampir seluruh toko untuk menanyakan apakah mereka masih membutuhkan pekerja tambahan, entah sebagai kasir ataupun pekerja kasar seperti tukang cuci piring dan tukang angkat barang. Berulang-ulang kali ia bertanya dan berulang ulang juga ia di tolak.

Saat ia meratapi betapa buruknya nasib yang di milikinya dan hampir saja menangis meraung. Tiba-tiba ada seroang pria mendatanginya. Perawakannya tinggi kurus dengan kulit pucat dan mata kuyu, tapi senyumnya sungguh cerah sekaligus menakutkan.

"Kulihat kau sedang kesulitan mencari pekerjaan" ujarnya. Kyungsoo mengabaikannya, ia tetap memandang ke bawah ke arah sepatunya yang mulai rusak solnya. Tak menyerah begitu saja pria itu kembali mengajaknya bicara.

"Tubuhmu bagus, matamu cerah, dan wajahmu lumayan. Kau bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih besar jika kau mau"

"Kalau kau menyuruhku menjadi pelacur, maaf saja aku sudah muak melacur sebelum kau mengajakku bicara" sahut Kyungsoo, ia semakin frustasi. Laki-laki ini benar-benar membuat kepalanya semakin pening, bukannya tersinggung pria yang seenaknya saja duduk di sebelahnya malah tertawa terbahak.

"Sebenarnya aku memang ingin menawarimu menjadi pelacur, tapi karena kau tidak mau menjadi pelacur mungkin kau bisa menjadi sesuatu yang lain. Tubuhmu itu sayang jika tidak di manfaatkan untuk mendapat uang" ujarnya. Kyungsoo mendengus kesal, ia bangkit dari duduk lantas bersiap untuk berjalan pergi.

"Hei.. hei kenapa buru-buru. Duduklah dulu kita bicarakan lagi. Baiklah jika kau tidak mau menjadi pelacur aku akan menawarimu yang lain, walaupun gajinya tidak akan sebesar jika kau jadi pelacur"

"Berhenti menawariku, keparat. Aku tidak tertarik. Sana pergi" amarahnya yang meluap ahirnya dapat tersampaikan. Pria itu sekali lagi bukannya tersinggung atau memukulnya ia justru tersenyum berbahaya.

"Per malam gajimu $30. Jika bisa lewat masa percobaan dan kau di anggap bagus gajimu naik jadi $32. Bagaimana? Tertarik? Tenang kau tidak akan jadi pelacur"

Kyungsoo diam sembari menimang-nimbang. Gajinya lumayan juga, lagipula ia sedang butuh uang untuk biaya operasi ibunya di desa. Bahunya melunak dengan nafas yang ia buang perlahan.

"Memangnya kerja jadi apa?"

"Stripper di gay bar eksklusif. Makanya kami berani membayarmu mahal karena klien kami adalah orang penting" Kyungsoo membulatkan matanya kaget, itu sama saja melacur tetapi dengan cara lain, "Tadi itu hanya gaji pokok, kadang ada beberapa orang yang melempar uang ke panggung. Uang itu juga akan jadi milikmu"

Kyungsoo masih diam di tempatnya, ia asih memikirkan segala konsekuensinya. Pria itu melihat dengan jelas menangkap raut kebingungan Kyungsoom, tanpa Kyungsoo sadari pria itu menyeringai tipis. Ia merogoh kantung celananya lalu menarik salah satu tangan Kyungsoo kemudian meletakkan kartu namanya dalam genggaman Kyungsoo.

"Jika kau tertarik, hubungi aku. Atau pergi langsung ke bar yang sudah kutuliskan alamatnya di belakang kartu nama ini. Karena ini bar eksklusif dan kau bukan anggota jaga baik-baik kartu namaku. Perlihatkan kartu namaku pada penjaga dan bilang kau ingin bertemu Mr. Josh dengan begitu kau bisa masuk"

Kyungsoo masih diam membatu, ia menatap kartu nama dalam genggamannya lekat-lekat. Saking terfokusnya pada kartu nama dalam genggamannya ia sampai tidak menyadari jika pria itu telah pergi bersama dengan seringai mengerikan.

"Got you, kitten" bisik pria itu sangat lirih sembari berjalan menjauh

Ia telah memutuskannya. Apapun pekerjaannya walaupun harus melacur ia akan kerjakan, ia sedang butuh uang, ibunya sangat butuh uang. Dengan langkah ringan ia berjalan menuju seorang pria dengan perawakan tinggi yang berdiri di depan pintu. Pria di depannya melirik kecil, wajahnya terlihat tanpa ekspresi tetapi Kyungsoo tahu jika sedari tadi pria itu tengah memelototi wajahnya dari balik kacamata hitam.

"Aku ingin bertemu Mr. Josh. Pria itu tertegun untuk beberapa saat lantas mempersilahkan Kyungsoo masuk terlebih dahulu sementara pria itu memberitahu salah satu temannya untuk bergantian jaga.

Pria itu menuntunnya ke sebuah pintu besar di balik barisan kamar yang cahayanya temaram. Tiba-tiba saja Kyungsoo merasa ragu, mungkin… mungkin ia dapat mendapat pekerjaan yang lain tanpa melibatkan pekerjaan basah seperti ini. Terlalu serius dengan pikiannya ia bahkan tidak menyadari jika ia telah berdiri di depan sebuah meja besar.

"Selamat datang sweety, sudah kuduga kau pasti tertarik. Duduklah dan kita bicarakan pekerjaanmu dan sistim gajinya"

Kyungsoo tersentak sedikit kaget. Ia duduk dengan penuh percaya diri, menyembunyikan ketakutannya di balik wajah dinginnya. Pria di hadapannya menyeringai, ia berdiri dan berjalan mendekati Kyungsoo. Matanya menajam seakan menilai apa saja yang bisa ia peras dari remaja di hadapannya.

"Buka bajumu, semuanya. Aku ingin melihat tubuhmu" Kyungsoo masih terduduk kaku belum mau bergerak. Pria di hadapannya tahu kebimbangan remaja di hadapannya. Tetapi bukannya menenangkan ia justru berkata, "Tubuhmu adalah asset yang akan di jual disini. Tentu saja aku harus melihatnya"

Kyungsoo menghela nafas panjang, ia menghembuskan nafasnya dengan berat lalu berdiri dengan tubuh tegak. Satu per satu pakaian ia lucuti, tangannya sedikit bergetar dan ia berharap pria di hadapannya tidak melihat hal ini. Setelah tubuhnya telanjang sepenuhnya ia berputar beberapa kali atas perintah pria di depannya.

"Aku sudah memperkirakannya. Tubuhmu adalah dosa terbesar di balik kain kumal itu" ujarnya sembari menunjuk tumbukan bajunya yang tergeletak pasrah di lantai. "Hargamu pasti akan sangat tinggi" gumamnya sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Selamat sexykau di terima dengan senang hati. Seperti kesepakatan kita, gajimu adalah $30 per malam selama masa percobaan" Mr Josh (mulai sekarang ia akan mencoba memanggilnya tuan Josh) mengulurkan tangannya, Kyungsoo terlihat ragu saat mengangkat tangannya. Lagi-lagi tuan Josh melihatnya, ia dengan sigap dan sedikit memaksa ia menarik tangan Kyungsoo lalu menjabatnya.

.

.

.

Kyungsoo adalah pecundang dalam hal menari, dan striptease tentu saja segalanya tentang 'menari hingga membuat yang melihatmu ereksi keras'. Ia adalah pecundang besar dalam segala hal yang berhubungan dengan seni, walaupun suaranya merdu. Dan kemampuan seninya memang hanya sampai seni tarik suara saja tidak kurang tidak lebih. Ada seorang striptease pemula sepetrinya, namanya Jun Keiichi. Keturunan Jepang yang terdampar di Korea dan berusaha menghidupi dirinya dari menjadi penari jalanan yang kemudian beralir profesi sebagai striptease karena uangnya lebih menjanjikan.

"Jika kau ingin melumpuhkan bajingan-bajingan tua di luar sana. Pertama-tama kau harus menjadi dirimu sendiri, lalu menari dengan banyak adegan mempertontonkan tubuhmu, itu adalah poin yang paling penting. Percayalah itu akan sangat bekerja di atas panggung sana, lagipula kau sudah lebih dari satu minggu disini. Seharusnya kau tahu apa-apa saja yang harus dilakukan. Hari ini adalah solo stagemu" cerocos laki-laki itu. Dia memang sangat cerewet dan banyak omong, tetapi sebagian besar dari cerocosannya biasanya adalah kenyataan yang benar adanya. Jadi Kyungsoo hanya dapat menurut.

"Aku tidak bisa. Dan tidak akan pernah bisa menari erotis, aku hampir gila. Benar-benar hampir gila" Jun mendengus, ia meloloskan salah satu lengannya melewati lubang lingerie jaring tembus pandangnya (sama seperti yang di gunakan Kyungsoo dan semua penari striptease di bar ini). "Ini mudah bagimu karena kau bisa menari dengan baik. Tapi aku tidak"

"Kau pernah mimpi basah?" tanyanya. Kyungsoo tentu saja mengangguk, "Kau pernah melakukan hal dewasa? Hal dewasa yang kau sukai, seperti menonton blue film, seks, atau oral?"

Kyungsoo kembali mengangguk. Oral seks, tentu saja ia pernah melakukannya. Sering malahan, sampai-sampai ia rasa mulutnya lebih ahli daripada lubangnya.

"Kalau begitu tutup matamu dan ingat-ingat hal itu dan lakukan gerakan yang ada dalam pikiranmu. Entah menyetubuhi tiang di sana atau meremas penismu atau bahkan menungging di depan para bajingan dengan penis berkarat di sana" Kyungsoo mengangguk menyetujui, ia akan mencoba sebisanya. Selama hampir seminggu ia telah tampil dengan beberapa orang dan mengikuti beberapa gerakan erotis milik Jun (dia sangat baik bahkan dia tidak memprotes tentang Kyungsoo yang mencuri tarian-tarian erotisnya). Ia seharusnya bisa, ini adalah solo stage pertamanya.

Di bar ini setiap ahir pekan akan selalu di adakah solo stage untuk setiap pekerja striptease yang masih dalam masa percobaan, dan hanya pada minggu ini saja para pengunjung di perbolehkan melempar uang pada para striptease, Tetapi terkadang ada beberpa pengunjung yang naik panggung dan menyelipkan uangnya ke celana dalam para striptis. Dan minggu ini adalah giliran Kyungsoo, Jun sudah mendapat gilirannya beberapa minggu yang lalu (dan dia melakukannya dengan baik hingga celana dalamnya tidak bisa menampung lebih banyak uang yang di selipkan pengunjung), durasinya hanya sepuluh menit, tapi karena Kyungsoo adalah pecundang, ia jadi merasa seperti akan menari berhari-hari.

"Ingat kata tuan Josh padamu?" Kyungsoo memandang Jun dengan wajah linglung, Jun mendesah lelah, " 'Tubuhmu adalah dosa terbesar di balik kain kumal itu'. Kau ingat?"

Kyungsoo mengangguk. Jun benar, tubuhnya adalah asetnya. Baru seminggu lebih sedikit ia sudah mendapat tawaran sana-sini untuk melakukan one night stand. Bahkan beberapa di antara mereka yang di tolaknya dengan nekat hendak memperkosanya, tapi. Tentu saja karena itu adalah Kyungsoo ia dengan berani menendang selangkangan mereka sekeras yang ia bisa menggunakna punggung kakinya (para striptease tidak di perbolehkan menggunakan alas kaki saat bekerja) lalu baru menarikan diri.

"Pokoknya ingat! Kau adalah daya tarik! Kau adalah bintang! Kau adalah stripper paling menjual!" ujar Jun untuk yang terahir kalinya dengan berapi-api sebelum Kyungsoo naik ke panggung. Kyungsoo akan berusaha sebaik mungkin, entah itu menari menyetubuhi tiang atau menungging ia tidak terlalu perduli. Pokoknya malam ini minimal ia harus membuat panggung berserakan uang receh.

.

.

.

Kyungsoo turun dari panggung dengan nafas terengah, ia telah menyelesaikan solo stagenya. Semuanya berjalan lancar. Setidaknya, celana dalamnya terlihat cukup menggembung. Jun menanti di bawah tangga dengan mata berbinar, senyumnya lebar dan tubuhnya terus bergerak antusias, meloncat-loncat kecil tak bisa diam.

"Jangan mengoceh sekarang. Biarkan aku ganti baju dulu" Jun mengangguk seperti anak anjing lucu, ilusi mata dengan eye liner dan lensa kontakbenar-benar membuat mata laki-laki keturunan asli Jepang itu terlihat puluhan kali lebih menggemaskan.

Dengan langkah tergesa ia melesat menuju kamar ganti sebelum ada orang yang menyadarinya, ia tidak mau mengambil resiko dengan melukai otot-ototnya hanya untuk menendang beberapa bajingan berkarat. Sesaat setelah berada di kamar ganti ia melepas celana dalamnya lalu memunguti beberapa uang yang jatuh kemudian memasukannya ke dalam tasnya dengan sembarangan.

Greb..

"HEI!" Kyungsoo berseru marah dan hendak mengumpat saat ada seseorang yang dengan lancangnya mencengkram pergelangan tangannya. Tetapi umpatannya terhenti begitu saja saat melihat pelakunya.

"Apa-apaan kau ini?!" Itu Jongin. Kyungsoo diam di tempatnya, "Apa yang kau lakukan tadi itu? Memalukan?!" lanjutnya masih sambil membentak. Wajahnya terlihat merah karena marah.

"Memangnya ini urusanmu?" Kyungsoo balik menantang. Mata Jongin berkilat marah, Kyungsoo tentu saja dapat melihatnya tetapi tatapannya justru jatuh pada Minseok yang berdiri di depan pintu, "Bisakah kita berbicara empat mata?" pintanya lirih.

Jongin menggeleng dengan tegas, cengkraman tangannya mengerat. Kyungsoo tentu saja meringis, ia terus meronta mencoba melepaskan cengkraman tangan Jongin pada pergelangan tangannya. Jongin tahu Kyungsoo tidak nyaman dengan keberadaan Minseok maka dari itu ia terus meronta. Tapi, ia telah kehilangan kewarasaanya sejak melihat Kyungsoo yang menyetubuhi tiang dan mendesah di atas panggung.

"Untuk apa kau melakukan itu?" desis Jongin. Kyungsoo diam, ia membuang wajahnya ke samping. Menghindari tatapan kasihan dari Minseok dan tatapan tidak terima dari Jongin, "Untuk uang? Iyakan?"

"Memangnya kalau iya kenapa?" Minseok masih berdiri diam di ambang pintu, samar-sama Kyungsoo dapat melihat Jun yang mentintip.

Tiba-tiba saja cengkraman tangan Jongin terlepas begitu saja. Remaja dengan kulit kecoklatan itu merogoh kantung celananya, mengambil dompetnya dengan tergesa lalu mengambil seluruh lembaran uang dan beberapa kartu ATMnya.

"Kau ingin uang?"

PLUK…

Jongin melempar berlembar-lembar uang dan kartu ATMnya ke wajah Kyungsoo begitu saja, Kyungsoo diam, wajahnya memerah dan matanya berkaca-kaca bahkan tanpa ia sadari. Minseok dan Jun terlihat terkejut sampai-sampai keduanya menutup mulutnya.

"Ambil kertas-kertas dan kartu itu. Dan berhenti dari tempat ini! Aku tidak suka milikku menjadi tontonan orang-orang"

Kyungsoo mengepalkan tangannya erat-erat, mencoba meredam amarahnya. Matanya menatap nyalang pada lembaran uang yang di lemparkan Jongin.

"Jongin sepertinya kau sudah keterlaluan" Minseok buka suara setelah bermenit-menit diam. Kyungsoo melirik Minseok dari ekor matanya, ia jadi semakin membenci Minseok setelah laki-laki itu angkat bicara.

"DIAM! Berhenti bersikap seakan kau adalah malaikat! YOU SON OF A BITCH!" Kyungsoo berteriak sekeras-kerasnya, membentak Minseok yang terlihat kaget.

PLAK..

Jongin tiba-tiba saja menampar Kyungsoo. Semua mata yang melihat itu hanya bisa diam, tak berani menyela bahkan berbisik sekalipun.

"Kau tak pantas membentak dan menghujatnya seperi itu"

"KAU LEBIH TAK PANTAS MENAMPARKU! KAU BUKAN SIAPA-SIAPAKU. KAU TIDAK TAHU APAPUN TENTANG AKU JADI DIAM SAJA DAN URUS URUSANMU SENDIRI. KAU KEPARAT!" Kyungsoo berteriak histeris di depan wajah Jongin. Setelah berteriak Kyungsoo langsung berlari meninggalkan Jongin setelah sebelumnya mendorong Minseok keras-keras dari ambang pintu. Jun yang melihat Kyungsoo berlari dengan segera mengikutinya setelah melempar tatapan benci kepada Jongin yang hanya diam di tempat.

Lagi-lagi perasaan bersalah menyerang Jongin, Kyungsoo benar. Ia bukanlah siapa-siapa bagi Kyungsoo tetapi mengapa rasanya menyakitkan. Minseok berjalan mendekati Jongin, ia mengelus pundak laki-laki yang lebih muda dua tahun darinya itu.

"Kurasa Kyungsoo benar. Kau keterlaluan"

.

.

.

Keesokkan harinya muncul berita di mading sekolah tentang Kyungsoo yang menari striptease dan pemuas nafsu. Selama beberapa hari Kyungsoo menjadi bahan bullying seluruh warga sekolah. Dan Jongin bukannya berada di pihak Kyungsoo dan membelanya karena ia yang paling mengetahui apa yang terjadi. Laki-laki itu justru memilih egonya untuk tidak mendekati Kyungsoo dan menganggap jika Kyungsoo hanyalah angin lalu. Walaupun ia sendiripun dapat merasakan jika ada sudut hatinya yang menangis pedih. Minseok selalu menjadi pahlawan bagi Kyungsoo. Tapi, Kyungsoo tidak pernah sekalipun menggubrisnya, ia sudah terlanjur sakit hati.

Lalu tiba-tiba saja Kyungsoo menghilang tanpa kabar. Orang-orang mulai menggunjingnya lagi dengan kata-kata yang lebih tidak masuk akal, mengatakan jika Kyungsoo mungkin saja bunuh diri karena depresi atau melanjutkan menjadi pemuas nafsu karena uang yang menjanjikan. Kris terlihat sedikit depresi, ia bolak-balik ruang administrasi setiap harinya meminta alamat Kyungsoo yang masih valid, tetapi sebanyak apapun ia meminta sebanyak itulah ia di tolak. Ada rasa tidak suka yang mengganjal di hatinya saat mengetahui kegigihan Kris mencari Kyungsoo. Tapi, seminggu kemudian Kris juga menghilang, ia mengambil izin yang cukup panjang untuk sebuah urusan. Jongin tentu saja tahu urusan itu pasti tentang Kyungsoo.

Satu hari, dua hari, tiga hari hingga seminggu Jongin masih tetap diam. Egonya lebih besar daripada rasa ingin tahunya. Baru setelah genap tiga minggu Kyungsoo menghilang dan Kris yang belum kembali masuk sekolah, ia memberanikan diri menuju ruang administrasi dan meminta (memaksa tepatnya) agar staff mau memberikannya alamat Kyungsoo.

"Kau seharusnya tidak memaksa seperti itu" Minseok mengingatkan. Jongin diam, ia memandang secarik kertas dengan tinta yang mulai luntur karena di genggamnya saat tangannya basah oleh keringat.

"Hyung harus ikut aku ke Gyonggi-do"

"Mana bisa, aku sudah kelas tiga" tolak Minseok.

"Kalau begitu aku akan pergi kesana dengan bus saja"

"Kau kan punya mobil" Minseok menyahut bingung.

Jongin hanya diam, ia tahu daerah dimana rumah Kyungsoo berada. Ia pernah sekali kesana saat tersesat. Dan yang membuatnya memilih menggunakan bus daripada mobilnya adalah, daerah itu adalah daerah yang sangat terpencil. Akses untuk kendaraan semacam mobil sangatlah sulit, beberapa jalan hanya berupa gang seadanya.

"Hyung?" panggil Jongin lirih.

"Apa?" Minseok menyahut dengan malas.

"Kau tahu kan aku mencintaimu? Bahkan lebih daripada aku mencintai uang ayahku?"

"Bicara apa kau itu hah? Jangan bercanda!" Minseok menyentak dengan sedikit keras. Jongin diam. Minseok memang kadang-kadang kasar padanya.

"Jadi kumohon percayalah kalau aku mencintaimu dan apapun yang kulakukan untuk mengembalikan Kyungsoo nanti adalah untuk kebaikan bersama"

Minseok menyerngitkan dahinya bingung. Anak ini memang kadang berkata-kata dengan kosakata yang aneh, tapi untuk kali ini ia benar-benar bingung dengan apa yang di katakan Jongin barusan. Mungkin ia harus menjadi psikolog dahulu untuk mengetahui apa makna sebenarnya yang ingin di katakan Jongin padanya. Tetapi, sebagai kakak yang baik ia hanya dapat mendukung Jongin selama itu hal yang baik.

.

.

.

Setelah turun dari bus. Jongin memilih berjalan, menyusuri perumahan-perumahan padat. Sangat padat hingga setiap rumah jarang ada yang memiliki taman di depan rumah, ada beberapa gang kecil di antara rumah-rumah itu. Ia sedikit bingung, jadi saat ia bertemu seorang wanita paruh yang tengah menjemur pakaian ia dengan sedikit berlari menghampiri wanita paruh baya itu.

"Permisi. Apakah Anda tahu alamat ini?" tanyanya sembari menyodorkan secarik kertas yang telah terlipat-lipat tak berbentuk.

"Oh, ini rumah milik nyonya Do 'kan?" Jongin mengangguk. Wanita paruh baya itu menunjuk salah satu gang yang tadi di lewatinya, "Kau masuk gang yang itu lalu belok ke kiri, rumahnya akan langsung kelihatan saat kau berbelok. Catnya warna kuning pudar"

Jongin mengangguk, ia sudah akan pergi tapi kemudian ia urungkan saat melihat wajah wanita paruh baya itu yang terlihat bingung.

"Ada apa nyonya?"

"Kyungsoo setelah pulang dari kota jadi punya banyak teman" gumamnya, Jongin diam menunggu kelanjutan ucapan, "Kemarin juga ada beberapa orang yang mencarinya"

"Benarkah? Apa nyonya ingat seperti apa yang mencarinya?" wanita itu terlihat berfikir. Dahinya yang memang sudah keriput jadi semakin berkerut.

"Ada banyak sekitar tiga sampai empat orang. Salah satunya sangat tampan dan beramput pirang" Jongin mengangguk. Itu pasti Kris.

"Kalau begitu. Terima kasih nyonya" ujarnya sembari sedikit membungkukkan tubuhnya. Wanita paruh baya itu tersenyum maklum.

Jongin berjalan mengikuti arahan yang di tunjukan. Benar kata wanita itu, saat ia berbelok ia langsung bisa melihat sebuah rumah dengan cat warna kuning pudar. Rumahnya terlihat sederhana. Catnya memang memudar, terlihat tidak pernah di pugar lagi setelah bertahun-tahun. Ada beberapa pot tanaman yang kosong dan beberapa lainnya hanya berisi kaktus.

Saat ia hendak mendekat ia melihat Kyungsoo dan Kris keluar dari dalam rumah. Bukannya langsung berhadapan dengan seseorang yang sedari tadi ia cari. Jongin justru memilih bersembunyi di balik tembok tetangga.

"Kau harus pulang" itu suara Kyungsoo. Suaranya menjadi lebih rendah dan kecil mencicit sejak terahir kali ia dengar. Dengan mengumpulkan sedikit keberanian Jongin menyembulkan kepalanya, hanya sampai ia bisa melihat Kyungsoo dan Kris yang berhadap-hadapan.

"Aku mana bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini" balas Kris. Kyungsoo menghela nafas dengan berat, seakan seluruh beban di dunia ia yang memikul.

"Kris kumohon, kau masih punya kehidupan di luar sana. Kau tidak seharusnya disini menghabiskan waktumu untukku" suara Kyungsoo terdengar memohon, Jongin semakin menajamkan telinga. Karena sungguh suara Kyungsoo terdengar lirih.

"Tapi Kyung—"

"Aku tidak mencintaimu" Jongin tersentak kaget. Kris terdiam, ucapannya berhenti di tengah tenggorokan, "Itukan yang ingin kau cari selama ini? Jawaban atas pernyataan cintamu? Aku sudah menjawabnya. Sekarang berkemaslah dan segera pulang, ayahmu sangat menghawatirkanmu"

"Aku tahu kau mengatakan itu karena ingin aku pulang kan? Itu tidak akan berhasil!" lagi-lagi Kyungsoo menghela nafas.

"Kris kumohon…" nada suara Kyungsoo merendah di ahir kalimat. Kris terdiam, tapi samar-samar Jongin dapat melihat lelehan air mata yang jatuh lurus dari mata laki-laki berambut pirang itu menuju ke tanah.

"Tak adakah kesempatan untukku? Aku—aku benar-benar mencintaimu" suara Kris terdengar tersendat terhalangi tangisnya, mungkin Kris memang terlihat seperti mengemis, tapi Jongin tahu laki-laki itu bukan mengemis tapi meminta kepastian.

"Maaf"

"Kalau begitu kembalilah ke sekolah, hanya melihatmu tanpa harus memilikipun aku akan sangat senang" Jongin melihat mata Kyungsoo yang juga memerah menahan tangis, hubungan mereka memang sedikit rumit dan Jongin jadi merasa seribu kali lebih bersalah dari sebelumnya melihat keduanya terlihat sama-sama tersiksa.

"Itu juga tidak bisa" bisik Kyungsoo. Jongin hanya dapat mendengar isakan kecil yang berasal dari Kyungsoo, "Sejak awal aku memang tidak pantas disana"

"Kalau itu masalah biaya aku bisa menanggungnya" Kris menyentak. Kyungsoo terdiam, "Berapapun.. berapapun yang kau butuhkan"

Kyungsoo masih diam. Tapi beberapa detik kemudian pemuda dengan tubuh kecil itu berjalan menjauhi Kris yang masih terdiam di tempatnya dengan air mata yang semakin deras. Jongin diam, ia memandang Kris untuk terahir kali sebelum memutuskan untuk mengikuti Kyungsoo saja.

Pemuda itu berjalan dengan langkah terseret yang terdengar berat, sepatunya terlihat kusam dan solnya terlihat menipis. Tak berapa lama terdengar isakan kecil dari Kyungsoo, lengan bajunya yang berwarna kelabu terus terusan mampir ke wajahnya, mengusap lelehan air mata yang masih terus jatuh lalu beberapa detik kemudian ia berhenti, Jongin ikut berhenti. Kyungsoo menggosok wajahnya semakin keras hingga bahkan dari jarak yang cukup jauh Jongin dapat melihat wajahnya yang memerah.

Setelah beberapa menit terdiam dengan tangis tersedu Kyungsoo kembali memacu kakinya untuk berjalan. Tangisnya sudah tidak terdengar dan ia masuk ke sebuah binatu yang terlihat tua dan bobrok, tadinya Jongin kira Kyungsoo ingin mengambil bajunya. Tapi ternyata Kyungsoo bekerja disana.

Berjam-jam Jongin hanya memandang Kyungsoo yang tengah memilah-milah baju dan memasukannya ke mesin cuci. Tapi anehnya tidak ada rasa bosan melihat pemuda itu melakukan pekerjaanya.

"Aku baru tahu hidupmu lebih berat daripada yang bisa kubayangkan" gumam Jongin entah pada siapa. Ia meraih sepasang sarung tangan berwarna biru donker dari saku tasnya. Dengan langkah yakin ia memutuskan untuk menemui Kyungsoo yang kini tengah mengambil baju-baju yang telah kering dari keranjang dan hendak menyetrika.

Creakk…

Bahkan pintunya terdengar sangat alot dan tua. Kyungsoo mendongak memasang wajah paling bahagianya saat mendengar pintu di buka. Tapi, seketika itu juga senyumnya sirna di gantikan dengan wajah tanpa ekspresi dan kembali menunduk melanjutkan pekerjaannya.

"Jadi disini kau bekerja" ujar Jongin membuka pembicaraan. Kyungsoo diam, ia terus menyetrika baju-baju yang telah kering tanpa memperdulikan Jongin yang kini tengah berkeliling binatu, "Jadi begitu caramu bekerja, menjual senyummu?"

"Pulanglah anak ayam. Kau tidak seharusnya disini" sindir laki-laki yang lebih mungil. Jongin berhenti berkeliling, tatapannya jatuh pada wajah Kyungsoo yang terlihat lelah dengan kantung mata menggantung tebal.

"Apa bekerja di binatu begitu melelahkan?" tanyanya. Tak ada jawaban dari Kyungsoo, Jongin masih belum menyerah ia kembali bertanya, "Kembalilah, kami semua mengharapkanmu kembali"

Kyungsoo mendongak, matanya langsung tertuju pada Jongin kemudian beberapa detik kemudian ia menyunggingkan senyum meremehkan, Kyungsoo meletakkan setrikanya. Matanya terus memandang laki-laki di depannya.

"Coba katakan lagi"

"Kembalilah, kami semua mengharapkanmu" ulang Jongin. Kyungsoo tiba-tiba saja tertawa terbahak menampakkan gusinya. Itu bukan tawa bahagia dan semua orang yang mendengarnya pasti tahu itu.

"Bullshit" bisik Kyungsoo dengan nada suara yang tajam setelah menyelesaikan tawanya. Jongin diam, ia tahu masih ada yang ingin Kyungsoo katakan, "Kami semua? Jangan bercanda"

"Itu kenyataan. Kris sangat menantikanmu, ia terlihat depresi saat di sekolah" ujar Jongin lirih. Seakan-akan ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Kyungsoo dan Kris tadi.

"Pergilah" usir laki-laki yang lebih mungil. Nada suaranya terdengar lelah, "Banyak jalang-jalang selain aku di luar sana yang dengan rela menghisap penismu"

"Aku tidak bicara tentang menjadikanmu pelacur, dari awal aku tidak pernah berfikir untuk menjadikanmu pelacur. Aku hanya ingin dekat dengamu karena kau terlihat seperti aku di masa lalu"

"Caramu itu salah" sahut suara lain. Kyungsoo dan Jongin dengan segera menghadap pada ujung ruang binatu. Disana berdiri seorang laki-laki yang tengah bersedekap, Kyungsoo mendengus.

"Sebaiknya kau pergi sekarang" ujar laki-laki itu sembari berjalan mendekati Kyungsoo. Jongin diam, ia dengan berat hati memilih mengalah untuk kali ini.

.

.

.

Hari keduanya untuk membujuk Kyungsoo berahir dengan berantakan. jongin telah berlari secepat yang ia bias dari apartemenb yang sengaja ia sewa untuk satu minggu, tapi saat sampai rumah Kyungsoo laki-laki itu telah pergi, lagi-lagi ia harus berlari menuju binatu. Tapi, saat sampai sanapun ternyata binatu itu tutup. Saat ia bertanya pada warga sekitar ia baru tahu jika binatu memang tutup pada hari minggu.

Ahirnya dengan langkah gontai ia kembali ke rumah Kyungsoo, duduk dengan pasrah seperti orang dungu di depan rumah Kyungsoo. Mungkin ia akan menunggu Kyungsoo pulang. Ya, mungkin jika ia cukup sabar.

"Eoh?" Jongin mendongak saat mendengar suara seorang wanita di depannya. Keduanya terdiam, Jongin menggeser duduknya dengan kikuk, "Temannya Kyungsoo?"

"Begitulah" jawab Jongin, terdengar kikuk dan tak siap di beri pertanyaan.

"Kenapa disini? Tidak masuk saja?"

Jongin menghirup nafas panjang, saatnya berbohong pikirnya.

"Sebenarnya aku baru saja datang, aku sudah mengetuk pintunya tapi tidak ada yang membukanya. Jadi kupikir aku bisa menunggunya"

"Kau tidak bisa menunggunya"

"Memangnya kenapa?"

"Pada hari minggu Kyungsoo akan pergi pagi-pagi sekali lalu pulang larut malam" Jongin menyerngitkan dahinya bingung. Apa Kyungsoo bekerja?

"Memangnya Kyungsoo kemana? Jika dekat mungkin aku akan menyusulnya" bahkan jika Kyungsoo ada di luar kotapun akan ia ikuti.

Wanita di depan Jongin terlihat berpikir dengan pandangan mengarah ke atas. Mungkin sedang mengingat-ingat dimaan Kyungsoo berada.

"Biasanya pada pagi hari ia pergi ke rumah sakit, lalu setelahnya pergi ke taman dekat daerah padat pertokoan" jawabnya.

"Ke rumah sakit? Memangnya ada apa? Kenapa dia harus ke rumah sakit dahulu?"

"Memangnya kau tidak tahu?" wanita itu balik bertanya, "Ibunya kan di rawat di rumah sakit karena kanker rahim. Kemarin baru saja di operasi"

"Ah, benar. Kyungsoo juga baru menceritakannya kemarin, aku jadi lupa" Jongin mengangguk-angguk seakan-akan dia baru saja mengingat sestuatu yang penting. "Terima kasih nyonya, aku akan menyusulnya sekarang"

"Ah, baiklah"

.

.

.

Setelah bertanya kesana kemari bus nomor berapakah yang dapat langsung menuju taman kota Jongin kembali memulai perjalannnya. Kata orang yang sempat ia tanya di halte tadi perjalannanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam menggunakan bus.

Setelah melalu perjalanan yang hampir saja membuatnya tertidur, ia ahirnya sampai juga. Hari ini minggu dan Jongin tidak heran mengapa banyak orang disini. Saat ia hendak membeli sebotol minuman samar-samar ia mendengar suara, sebenarnya ia tidak akan peduli, tapi ia seperti mengenal suara ini.

Setelah membayar sejumlah uang untuk dua botol cola dan empat bungkus roti, Jongin berlari menuju sumber suara saat tinggal sedikit lagi sampai ia justru menghentikan pergerakannya. Ada Kyungsoo di depan saja, berdiri dengan kalungan sebuah gitar akustik tua yang warnanya sedikit memudar di beberapa bagian. Bernyayi dengan suara yang lantang seakan memprotes hidupnya yang sulit, di depannya terdapat sarung gitar yang terbuka, menampakan beberapa keping uang recehan dan beberapa lembar uang dalam pecahan kecil

Jongin masih saja diam saat Kyungsoo selesai bernyanyi, bahkan dari jarak sejauh ini ia dapat melihat gurat lelah dan dengusan kecil laki-laki di depannya. Setelah memunguti beberapa recehan dalam sarung gitar di bawahnya Kyungsoo kembali berdiri, mengetest gitar tuanya sebelum kemudian kembali bernyanyi.

I wanna be a billionaire so freakin' bad
Buy all of the things I never had
I wanna be on the cover of Forbes magazine
Smiling next to Oprah and the Queen

Jongin masih diam, mata Kyungsoo terlihat kosong memandang ke depan sementara tangannya masih terus memetik senar gitar dalam kalungannya. Jongin memandang miris mata Kyungsoo, matanya terlihat tak bernyawa. Kosong dan kelam

Oh, every time I close my eyes
I see my name in shining lights
Yeah, a different city every night
Oh, I swear the world better prepare
For when I'm a billionaire

Yeah, I would have a show like Oprah I would be the host of
Everyday Christmas, give Travie your wish list
I'd probably pull an Angelina and Brad Pitt
And adopt a bunch of babies that ain't never had it

Give away a few Mercedes, like here lady have this
And last but not least grant somebody their last wish
It's been a couple months that I've been single so
You can call me Travie Claus minus the ho ho!

Jongin berjalan mendekati tempat Kyungsoo berdiri. Setelah merasa cukup dekat Jongin menghentikan langkahnya, bahkan dari jarak sedekat ini Kyungsoo terlihat tidak menyadari bahwa Jongin ada disana. Tangannya menggengam botol cola kuat-kuat kemudian dengan sengaja melemparnya ke dalam sarung gitar yang berada di depan Kyungsoo. Kyungsoo yang melihat hal itu menghentikan nyanyiannya. Kepalanya mendongak, memandang wajah Jongin yang terlihat arogan.

"Sudah kubilang pulanglah, tak ada gunanya kau disini"

"Memang kau kira kau ada gunanya menyanyi disini?" sergah Jongin dengan nada yang sedikit meninggi, beberapa orang terlihat berhenti sejenak untuk melihat keributan yang di buat keduanya. Tetapi, Jongin dan bahkan Kyungsoo tidak memperdulikannya, keduanya masih tenggelam dalam pikiran masing-masing, "Suaramu mungkin memang terdengar indah, tapi penghayatanmu terhadap lagu benar-benar seperti sampah"

"Jika kau hanya ingin menghinaku sebaiknya pergilah"

"Aku tidak menghinamu!" lagi-lagi Jongin berteriak, ada sedikit urat yang terlihat di lehernya saat ia berteriak, "Aku menasehatimu, memberimu masukan. Itu semua karena aku perduli padamu"

Kyungsoo diam, ia memandang Jongin cukup lama. Tak dapat ia pungkiri hatinya terenyuh mendengar ucapan Jongin. Tapi, tak lama kemudian ia merubah pandangannya. Dia mungkin memang miskin dan dianggap sebagai orang rendahan bagi sebagian orang dengan perhasilan tinggi seperti Jongin. Ia mulai merubah pemikirannya. Jongin bukan perduli padanya, Jongin hanya kasihan.

"I don't need your pity" sahut Kyungsoo tiba-tiba dengan mata memincing tajam, "I don't need someone like you" lanjutnya.

"Aku baru tahu intuisimu sebegini tumpulnya" balas Jongin, "Aku heran bagaimana Kris bisa jatuh cinta pada orang bodoh sepertimu, its such a pity. Jika kau tidak ingin menyanyi jangan menyanyi, kalau kau hanya menyanyi karena uang itu sama saja kau menjual dirimu sendiri. Kenapa kau tidak sekalian jual tubuhmu pada pria hidung belang di tempat karaoke?"

"Tahu apa kau tentangku? Kau hanya orang kaya yang setiap hari menghamburkan uang untuk hal tak berguna" Kyungsoo memekik kesal, ia melepas kalungan gitarnya, "Orang sepertimu yang mendapatkan apapun tepat setelah kau mengatakannya, memangnya tahu bagaimana penderitaanku? Memangnya kau tahu bagaimana rasanya kehilangan orang hanya karena tak punya uang? Memangnya kau tahu?"

Jongin diam. Sorot mata Kyungsoo terlihat sangat terluka, keduanya kembali diam dan mengabaikan orang-orang yang terlihat terganggu dengan pertengkaran keduanya.

"Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang" bisik Jongin, "Dan rasanya jadi beratus-ratus kali lebih menyakitkan saat kau tahu kaulah penyebab dari hal itu"

"Kita mungkin memang terlahir dari kasta hidup yang berbeda. Tapi, sebenarnya kita tahu satu sama lain bagaimana rasanya hidup dalam rasa bersalah seumur hidup" Jongin kembali berbisik kecil, sudut mata laki-laki berkulit coklat itu terlihat berair dengan hidung yang memerah, "Karena itulah, kumohon kembalilah bersamaku dan aku akan membiyayai seluruh biaya pengobatan ibumu"

"Apa maksudmu?" Kyungsoo bertanya dengan suara lirih dan parau. Keduanya sama-sama menahan tangis.

"Tapi sebagai gantinya kau harus melayani apapun yang aku inginkan" lanjut Jongin, tak memperdulikan pertanyaan yang baru saja terlontar dari Kyungsoo.

"Kenapa kau melakukan ini?" Kyungsoo kembali bertanya.

"Aku melakukan ini karena aku perduli padamu" jawab Jongin.

Sejak hari itu, tanpa mereka sadari perjanjian tak tertulis telah mengikat keduanya dalam ikatan kuat, yang lagi-lagi tanpa mereka sadari telah menumbuhkan perasaan di hati keduanya. Tapi tentu saja hubungan keduanya tak akan semudah kata demi kata umpatan yang mereka lontarkan setiap harinya hanya untuk menutupi perasaan kduanya.

TBC

Sorry gue baru bisa publish sekarang, udah berapa bulan sejak terahir kali gue update ini ff. Gue sekarang kerja, dan setiap dapet libur rasanya gue lebih pengen pacaran sama kasur, bantal dan guling daripada buka lepi. Bahkan kemaren waktu gue baru bangun tidur terus maen ke grup Line tiba-tiba gue udah di tagih drabble yang udah gue janjiin ke si Winder. Makasih… makasih… elu ngingetin gue kalo gue masih punya utang buat bikin drabble HunHan rate M -_-

Dan gue juga minta maap sekalinya publish wordnya langsung 5k+, pasti yang baca pada bosen :v. bahkan sebenernya gue punya projek bikin ff baru. Tema Fantasy Egypt/?, tapi gue masih cari-cari waktu buat ngetiknya. Mungkin projek ff yang ini bakal pendek. Karena gue mikirnya ini adalah selingannya Lovesick, jadi kalo gue kena WB di Lovesick gue selingin pake ini ff. dan tentu saja projek ff gue KAISOO. Jangan harap OTP laen kalo sama gue walopun kadang gue baca OTP laen tapi kalo gue yang bikin ff pasti bakalnya KAISOO. Ndak peduli Kyungsoo skrg punya bisep keker ato Jongin yang ampe skrg nggak putus-putus sama mbaknya(dilarang sebut nama takut menimbulkan perang dunia :v)gue tetep bakal bikin KAISOO. HIDUP KAISOOHOT! :v

Terahir, Review please? (pOoOq)