Hey, sorry banget lama update. Akhir-akhir ini RL sangat menyiksa, tapi sebentar lagi berakhir! Oh yeah! #lempar skripsi.


Pandangan emerald itu tak henti-hentinya menatap dengan binar cerah pada sosok di sampingnya. Iya, sosok pemuda tampan yang tengah berada di balik kemudi mobil mewah Sakura. Si pemuda tampan berambut merah. Si mahasiswa dengan iris coklat dari matanya yang sendu. Si calon dokter yang pintar, keren, tampan, keren, tampan, dan keren juga tampan. Intinya, Sakura tidak melihat satu cacatpun dari lelaki itu. Pengawal yang dibanggakannya. Sekaligus laki-laki yang menjadi raja di hati kecilnya.

Tak peduli sekalipun si pemuda itu tidak pernah memberikan respon berarti tiap Sakura menunjukkan tanda-tanda cinta dan tertarik kepadanya.

Seperti sekarang ini. Sakura ngotot duduk di samping kemudi—berbeda dengan biasanya ia dengan pengawalnya dahulu, di mana gadis itu duduk di belakang dan pengawalnya mengemudi di kursi depan. Sejak dua hari yang lalu, kebiasaan gadis itu berubah. Tentu saja kalian bisa menebak apa alasannya. Agar ia bisa puas-puas menatap dan mengagumi sang pengawal dari samping dan melupakan dunia sekitarnya.

"Apa ada yang salah dari wajahku, Haruno-san?" Sasori—si pemuda yang dimaksud—hanya bertanya datar tanpa sekalipun mengalihkan pandangan dari jalanan.

"Ah?" Sakura masih tersenyum dan berpandangan dreamy kepadanya, "S-Sama sekali tidak kok, Sasori-kun."

'Wajahmu salah. Semua dari dirimu salah karena tampak 'lebih' dari manusia biasa.' Ingin Sakura menjawab demikian, namun takut alih-alih Sasori tersanjung, bisa-bisa pemuda itu melirik tajam dan menyuruhnya diam karena berisik.

"Kalau begitu, tidak ada alasan bagimu untuk berlebihan memandangku, kan, Haruno-san?"

Nyali Sakura langsung ciut.

Ternyata, ngegombal ataupun tidak, pemuda itu sama saja memberi respon yang sama dinginnya.

"Tapi aku—lho?"

Kalimat Sakura terhenti dan terganti oleh ungkapan terkejut dan heran ketika ia merasakan tiba-tiba mobil mewah yang ditumpanginya berhenti mendadak dan mesinnya mati. Pun dengan Sasori, pemuda itu tengah memberikan pandangan heran ke arah kemudi mobil yang tengah dikendarainya. Sepertinya pemuda itu juga tak mengerti mengapa kendaraan mewah ini tiba-tiba berhenti demikian.

"Kenapa Sasori-kun?"

Sasori mencoba menyalakan ulang mesin mobil dengan kunci mobil, tetapi hasilnya nihil, "Aku juga tidak mengerti," pemuda itu menggeleng heran, lantas keluar dari mobil dan berjalan ke kap depan.

Ia membuka kap depan mobil, dan pandangan tersesatnya sama sekali tidak luntur. Wajar saja, jika ia tengah berhadapan dengan hal-hal biologis, ia bisa paham sekalipun sambil menutup mata. Tetapi keahlian dan pengetahuannya di bidang mesin tidaklah sehebat prestasinya di bidang kesehatan yang ditekuninya. Apalagi mobil mewah ini tidak sama dengan mobil yang sering ia lihat. Pastinya ada yang berbeda. Akibatnya, ia hanya terdiam heran sembari menatap mesin-mesin di kap mobil mewah itu.

"Apa yang salah, Sasori-kun?" tanya Sakura sembari keluar dari mobil dan berdiri di samping Sasori. Gadis itu melirik ke kap yang terbuka dan memberi pandangan heran pula.

"Sepertinya ada yang salah dengan mesinnya—aku tidak tahu," Sasori akhirnya memilih untuk mengatakan yang sebenarnya. Ia menghela napas, lantas melirik jam tangannya.

Sial, sepuluh menit lagi gadis ini masuk sekolah.

Sakura merengut kesal, "Dasar. Ayah membelikan mobil sembarangan sekali, baru juga sebulan dipakai sudah tidak beres begini," gadis itu menatap tajam ke mesin-mesin di kap mobil. Ia sudah berniat nanti sepulang sekolah akan mengadukan hal ini ke Ayahnya.

Sasori mengacak-acak rambutnya, menjadikan helai kemerahan itu tampak lebih berantakan dari biasanya, "Sepertinya kita harus mencari bengkel atau apa…,"

"Tidak perlu," Sakura mengibaskan tangannya, membuat Sasori menoleh dan langsung memberi gadis itu tatapan heran sekaligus terkejut. Apa yang dikatakan Sakura selanjutnya, membuat Sasori memandang Sakura seolah-olah gadis itu sudah tidak waras, "Mobil murahan seperti ini tidak perlu diperbaiki. Percuma saja. Dibuang saja."

"…. Tapi sekolahmu akan masuk sepuluh menit lagi," Sasori mencoba memberikan logika ke otak Sakura yang Sasori nilai sudah mulai bermasalah.

Alih-alih mendengarkan pengawalnya, Sakura justru menoleh ke sana kemari dan mengedarkan pandangannya, seolah-olah mencari-cari sesuatu. Begitu dapat, tanpa berucap apapun, gadis itu segera menggandeng tangan Sasori dan mengajaknya turut melangkah.

"Hei, Haruno -san—" Sasori melepaskan pegangan Sakura, lantas memberikan gadis itu pandangan tegas, "Kau harus sekolah dan aku tidak mau kau membolos lagi."

Sakura kembali menarik tangan Sasori, "Siapa bilang aku akan membolos, kita memang akan pergi ke sekolahku, kok."

"Tapi mobilmu—"

"Bukan dengan mobil itu."

Hanya beberapa langkah yang mereka butuhkan hingga gadis itu berhenti melangkah dan otomatis, Sasori juga. Pemuda itu menatap heran dan tak mengerti saat mengetahui bahwa gadis itu berhenti dan tengah memasuki sebuah gerai yang besar dan mewah yang terletak tepat di sebelah jalan raya yang besar. Berisikan penuh kendaraan mewah dari berbagai jenis, warna, merk, dan tentu saja, harga. Dengan langkah percaya diri, gadis bersurai merah muda melangkah dan menuju ke satu pegawai gerai yang kebetulan berada paling dekat dengannya.

Apa yang dikatakan Sakura selanjutnya, membuat Sasori kini justru menganggap dirinya sendirilah yang sudah gila dan tak waras karena membayangkan mendengar hal yang tidak mungkin benar-benar didengarnya.

"Kau pegawai toko ini, bukan? Aku membeli satu mobil yang paling bagus yang dimiliki toko ini. Sekarang juga. Uang muka dua puluh lima persen dari kartu kreditku, ya. Sisa tagihannya silahkan kirim ke mansion Haruno—temui Ayahku, Haruno Kizashi."

Dan pegawai toko ini terbengong, menatap Sakura seolah-olah gadis itu sudah mengatakan hal yang tidak wajar dan sulit diterima akal sehatnya.

Sedangkan sang Putri Haruno hanya menatap heran, awalnya, untuk kemudian tatapannya berubah menjadi judes karena tak sabar bercampur kesal, "Apa yang kau tunggu?! Beri aku kuncinya sekarang juga! Kau mau kau dipecat oleh bosmu gara-gara kau membuatku telat sekolah, hah?!"

.

.

Beberapa menit kemudian, Sakura sudah menoleh dan melambai-lambai riang ke arah Sasori yang masih terpukau di tempat, "Sasori-kuuunnn! Kita berangkat dengan mobil yang baru kubeli ini saja, yaaa!" sembari mengacung-acungkan kunci mobil yang baru saja diberikan pihak toko kepadanya.

Dialah Putri Haruno—Sakura Haruno. Apapun yang ia mau, bisa ia dapatkan dengan semudah ia mengerjapkan mata. Apapun bisa ia raih, dan siapapun bisa tunduk dan segan pada dia dan perintahnya. Sang putri kecil yang sejak lahir begitu familiar dengan harta, tahta, dan kuasa.

Sang putri kecil yang nyaris sempurna—almost perfect.

Namun entah mengapa, apapun tentang gadis itu dan apapun yang dilakukan gadis itu, selalu membuat Sasori mengerutkan dahi dan mengedutkan sebelah matanya.

Manja.

Menyebalkan.

Tidak sopan.

Sasori bisa menghabiskan berhari-hari jika harus menyebut sifat dan sikap gadis itu menurut pandangannya.

-oOo-

Naruto (c) Masashi Kishimoto

I don't own the picture

Pairing: SasoSaku, other slight pairings included

Warning: AU, OoC, drama, nyinet, dan super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura Haruno.

Happy reading~

-oOo-

Sepatu pantoefel hitam itu mengetuk-ketuk di lantai marmer berkilap. Dari nada ketukannya saja, jelas menunjukkan bahwa pemiliknya tengah dilanda rasa tidak sabar. Siapa? Tentu saja, siapapun bisa menebak bahwa ialah sang keturunan Uchiha yang terkenal itu. Pamornya di dunia bisnis, seolah mengalahkan pamor artis idola yang sering majang di layar kaca. Yap, Sasuke Uchiha.

Wajar saja sih, jika Sasuke merasa tidak sabar. Ia sudah menunggu di restauran ini selama sepuluh menit, namun orang yang ditunggunya belum datang juga. Itu saja sudah membuatnya kesal setengah mati, belum lagi dengan fakta bahwa orang sepertinya, Sasuke Uchiha, harus menunggu orang yang lain yang di matanya berada di strata sosial lebih bawah.

Pada akhirnya, apa yang diharapkannya muncul ketika ia mendengar bunyi bel di pintu restauran tanda ada pengunjung baru yang masuk. Ia lantas seketika memberikan pandangan tajamnya pada pengunjung baru tersebut, yang sudah pasti merupakan subjek yang membuatnya memberikan ekspresi dongkol demikian.

"Uchiha-san, maaf saya terlambat," perempuan itu membungkuk 90 derajat sembari bernapas dengan tersengal-sengal. Dari wajahnya saja, sudah kelihatan bahwa perempuan itu merasa khawatir sekaligus takut mengantisipasi apa akibat dari keterlambatannya dan membuat si Direktur muda Uchiha Corp. menunggu.

"Kau tahu, sekalipun aku bukan majikanmu, aku bisa memecatmu dan membuat hidupmu sangat menyedihkan?" lirih Sasuke berucap, namun memberi janji bahwa ancamannya bisa terwujud jika ia menghendakinya, "Tentu saja, keluargamu tidak akan luput jadi korban."

Perempuan berambut merah itu menelan ludah, lantas mengangguk, "M-maafkan saya—"

"Sudah, duduklah Tayuya," masih bagus tadi Sasuke mendengar satu kabar baik mengenai perusahaannya dari sekretarisnya—setidaknya moodnya bisa lebih terkontrol sekarang.

Tayuya, perempuan berambut merah itu mengangguk. Menggeser kursi di depan Sasuke, perempuan itu kembali duduk, "Saya tadi masih ada pekerjaan di mansion Haruno dan harus menunggu saat tepat untuk bisa menyelinap pergi—"

"Itu bukan urusanku," Sasuke menatap Tayuya datar, "Aku menggajimu cukup mahal bukan untuk melatihmu membuat alasan, apapun itu."

Mendapat hardikan sekali lagi, Tayuya kembali menurunkan pandangannya dari onyx hitam yang tajam di depannya. Ia menggumamkan sekali lagi permintaan maaf, sekalipun ia tak yakin Sasuke mendengarnya.

Melirik jam tangan di pergelangan tangannya, Sasuke menghela napas. Ia teringat beberapa saat lagi ia harus kembali ke kantor dan menghadiri rapat direksi. Namun ia juga tak bisa meninggalkan perempuan ini sekarang. Bukannya apa, hanya saja Tayuya, meski secara tak langsung, berperan dalam rencananya dan bisnis keluarganya.

"Sudahlah, langsung saja. Bagaimana dengan tugas yang kuberikan padamu kemarin?"

Memberanikan diri menatap Sasuke, Tayuya berujar, "Setelah kemarin saya sempat bertanya pada Nona Sakura, ternyata Akasuna-san adalah mahasiswa Universitas Tokyo yang kuliah di bidang kedokteran, Uchiha-san."

Nah, sekarang kalian tahu, mengapa sang Direktur muda Uchiha Corp. sudi menunggu barang seorang pelayan biasa mansion Haruno. Mendapatkan informasi mengenai si pengawal baru Haruno Sakura, sama terasa pentingnya dengan mendapatkan informasi mengenai kondisi bisnis perusahaan lawan.

Universitas Tokyo?

Satu fakta tersebut membuat Sasuke otomatis berpikir. Ia seperti bisa mengaitkan hal ini dengan fakta lain yang pernah diketahuinya.

Universitas Tokyo…

Ah!

"…Bukankah itu tempat sahabat Kizashi Ojii-san mengajar sebagai dosen?" ingatan Sasuke otomatis terlempar pada kejadian beberapa waktu yang lalu saat ia bertemu dengan seorang laki-laki berambut perak di kediaman Sakura waktu itu. Dan Sasuke ingat betul bahwa laki-laki itu memperkenalkan diri sebagai dosen yang mengajar di universitas ternama tersebut.

Dugaannya terkonfirmasi ketika Tayuya mengangguk, "Yang Anda maksud pasti Hatake-san," Tayuya memberitahu, "Ia memang seorang dosen di sana, tepatnya dosen di Fakultas Kedokteran. Hatake-san adalah dosen wali Akasuna-san dan Hatake-san juga yang mengajukan Akasuna-san sebagai pengawal pribadi Nona Sakura."

Sasuke terdiam mendapatkan informasi yang baru diketahuinya ini. Jadi, pemuda itu melamar menjadi pengawal Sakura melalui kedekatan dosennya dengan Kizashi?

Tetapi…

"Dia tidak mau melamar, tetapi aku yakin, suatu saat nanti dia akan datang padaku."

"Bukannya awalnya pemuda itu tidak mau melamar menjadi pengawal Sakura?" tanya Sasuke setelah teringat pada pembicaraannya dengan Sakura di restauran pada waktu itu.

Tayuya terdiam, tampak berpikir. Namun pada akhirnya perempuan berambut merah terang itu menggeleng lirih dan berucap ragu, "Saya tidak mengetahui perkara hal itu, Uchiha-san…," jujur Tayuya, "Tetapi, sebagai pelayan di mansion, saya tahu betul bahwa sebelum Akasuna-san datang, Nona sering kali merengek kepada Tuan Kizashi perkara Akasuna-san. Dan tidak tahu bagaimana, pada suatu hari tahu-tahu Akasuna-san sudah mulai bekerja."

Jika Tayuya berbicara yang sebenarnya, maka Sasuke yakin, pasti ada hal yang membuat pemuda berambut merah itu berubah pikiran mengenai keputusannya untuk menerima kerja di Haruno. Sasuke yakin, Tayuya tidak berbohong kepadanya. Menyangga peran sebagai double-player antara Haruno dan Uchiha, Tayuya selama lima tahun ini berhasil membuktikan kepada Sasuke bahwa informasi yang diberikannya adalah akurat dan sebenarnya. Wanita itu tak pernah sekalipun gagal dalam tugasnya yang diberikan Sasuke padanya.

Sasuke menghela napas lirih, lantas memandang Tayuya tajam. Diberi ekspresi demikian, Tayuya segera paham bahwa akan ada tugas baru yang akan diembankan Uchiha kepadanya.

"Kau cari tahu mengapa dia sampai menerima tawaran kerja di Haruno," ujar Sasuke tegas dan serius, "Cari tahu siapa dia sebenarnya. Aku tidak peduli bagaimana kau mendapatkannya. Kau paham?"

Dan Tayuya mengangguk mantap dan mencetuskan kalimat yang menerangkan bahwa ia paham dan siap.

Sasuke melempar pandangan ke arah lain. Namun apapun yang dilihatnya, jelas tidak menjadi fokus dari pikirannya.

Ya.

Jika ia bisa menemukan alasan mengapa orang rendah itu merubah pemikirannya, mungkin hal itu bisa ia gunakan untuk menyingkirkannya—setidaknya, membuat hidupnya lebih menderita ketimbang sebelum ia nekat memasuki area yang menjadi target dan incaran Uchiha.

-oOo-

Ada yang aneh dengan Haruno High School di pagi ini. Ada sesuatu yang tidak biasa yang terjadi. Lebih jelas dan singkatnya, ketidakbiasaan itu bisa kita lihat melalui tiga hal. Pertama, sebagian besar para siswi yang wajahnya merona hangat seolah tersentuh sinar mentari musim semi. Senyum yang tersungging bersama dengan tatapan dan lirikan malu-malu berserta pekikan dan bisikan lirih antara mereka. Kedua, para siswa yang sebagian besar hanya bisa berdiri terdiam, seolah kalah dan merasa sebagai pecundang. Hanya bisa menatap antara iri dan kagum pada objek tertentu di depan sana. Dan ketiga, adalah Akasuna Sasori yang berdiri tegak dan diam di depan pintu kelas suatu ruangan. Impasif, raut datar, namun tetap siaga, tak peduli berapa kali ia mendapatkan kekaguman dari para siswi bahkan guru wanita yang melihatnya, bahkan ketika ia baru pertama kali menginjakkan kaki di Haruno High.

Ya, Sasori memutuskan untuk mengawal Sakura. Perjanjiannya dengan Kizashi menyatakan bahwa pemuda itu wajib menjalankan tugasnya jika ia tidak ada kegiatan atau urusan kuliah yang begitu mendadak dan penting. Oleh karenanya, Sasori berada di sini ketika ia berpikir bahwa hari ini ia tidak ada kuliah. Rapat klub Karate-nya pun masih nanti malam.

"Dengar, jidat. Kau berhutang BANYAAAKKK sekali penjelasan padaku sehabis ini!" desis Ino lirih, berupaya agar guru yang tengah menulis di papan sana, tidak memergokinya dan menghukumnya.

Sedangkan Sakura hanya menatap Ino kesal. Bukannya apa, hanya saja ia sudah cukup badmood mendapati fakta bahwa hanya beberapa menit saja Sasori berdiri di luar kelasnya untuk mengawalnya, Sakura sudah bisa melihat berkali-kali para siswi atau guru yang berseliweran di dekat pemuda itu. Memandang malu-malu. Melirik kagum. Memekik gemas.

Sudah Sakura duga dari awal bahwa beginilah akibatnya. Huh. Mereka tidak tahu saja bahwa Sasori adalah miliknya—pengawalnya.

"Apa sih!" Sakura hanya mendengus kesal kepada Ino, tidak dalam mood untuk meladeni Ino. Lagipula Sakura yakin, Ino tidak lebih baik dari para teman wanitanya yang lain. Ujung-ujungnya pasti melirik Sasori-kun juga.

"Apa maksudmu 'apa sih?'?" desak Ino lagi dengan nada menuntut, "Kau, tiba-tiba datang ke sekolah ini dengan pengawal barumu!"

"Lantas apa urusanmu? Toh dia bekerja untukku dan dibayar oleh keluargaku, bukan keluargamu," judes Sakura.

"Tapi Sakura, dia sangat tampan dan seksi!" Nah, kan? "Tega sekali kau tidak memberitahu sahabatmu ini bahwa kau bersama dengan cowok sekeren itu 24/7…." Ino menghela napas dengan pandangan dreamy, membuat Sakura menyinyirkan bibir ke arah sahabatnya. Lagi, Ino memberikan tatapan tegas dan menuntut ke arah sahabatnya, "Pokoknya kau harus cerita, ya!"

Dasar ganjen. Ingin Sakura berkata demikian, namun ia tahan karena bagaimanapun, Ino adalah sahabatnya dan ia tidak sedang berada dalam mood untuk memperpanjang debatnya dengan sahabatnya tersebut.

Gadis itu menghela napas, lantas kembali menoleh ke arah jendela kelas di sampingnya. Ia bisa melihat jelas Sasori berdiri tegak dan siaga di sana. Banyak para siswi dan guru wanita yang sengaja menarik perhatiannya, namun pandangan pemuda itu tetap datar seolah-olah ia tak pernah melihat mereka.

Sakura melembutkan pandangan dan menghela napas.

Sasori-kun kenapa bisa tampak demikian tampan sih, walau di lihat dari belakang seperti ini?

-oOo-

Hinata menghela napas lega ketika ia selesai merapikan alat musik yang baru saja dipakainya dan kini ia simpan kembali di tempatnya dengan hati-hati. Wajar saja jika gadis itu merasa lega, karena sejak periode pelajaran pertama, ia sudah berada di ruang klub musik tradisional ini dan berlatih untuk pementasan kelompok beberapa minggu lagi. Demi mempersiapkan penampilannya dan kelompoknya, gadis itu dan semua anggota kelompoknya, rela untuk meminta ijin agar tidak mengikuti dua periode awal pelajaran hari ini untuk berlatih. Dan Hinata merasa puas bahwa latihan kelompok hari ini terbilang lancar dan ada peningkatan. Ia juga bisa memainkan Koto dengan lebih baik.

Selesai meletakkan alat musik petik itu kembali di tempatnya, gadis itu menatap jam dinding di ruang latihan. Tak terasa sudah mulai periode istirahat. Lebih baik ia mengistirahatkan diri di perpustakaan atau cukup membaca di dalam kelas. Ia belum lapar, sehingga ia memilih memakan bekalnya pada istirahat kedua nanti siang saja.

"T-terimakasih atas kerja keras kalian, minna-san," Hinata bersuara dan membungkukkan badannya ke arah teman-teman satu kelompoknya yang lain, "A-aku harus segera pergi dan s-sampai jumpa," sekali lagi ia membungkuk dalam.

Beberapa temannya hanya tertawa kecil melihat tingkah teman mereka. Satu siswi yang berdiri paling dekat dengan Hinata menyeletuk, "Hei, Hinata-chan. Kenapa kau formal sekali dengan temanmu sendiri? Tak usah membungkuk dalam begitu."

Hinata hanya tersenyum kecil. Ia sudah sering mendengar kalimat yang sama seperti tadi. Tapi mau bagaimana lagi… Ini sudah menjadi kebiasaannya, hasil dari ajaran keluarganya yang mengutamakan sopan santun di atas segalanya.

Sekali lagi mengucapkan sampai jumpa, Hinata pada akhirnya keluar dari ruangan. Teman-temannya yang lain membalas salamnya, dan beberapa melambaikan tangan.

"Hhhh," salah satu gadis menghela napas sembari menatap kepergian Hinata, "Tak ayal dia menjadi kebanggaan guru dan sekolah ini. Baik dan sopan banget sih."

"Jangan lupa juga prestasinya," celetuk seorang siswa, "Cewek perfect gitu jarang ditemui di era ini. Iya, ga?" ia menyikut teman laki-lakinya di sebelahnya, yang langsung mengiyakan pertanyaannya.

"Dan aku ga tahu kenapa Haruno Sakura bisa begitu membencinya," ujar salah seorang siswi, menyebut si pewaris tunggal sekolah swasta mereka ini, "Ia bahkan tak segan-segan menunjukkan kebenciannya di depan umum."

"Anak direktur sih, kenapa harus sungkan? Lagipula aku yakin, Haruno-san hanya iri saja dengan Hinata-san."

"Coba saja jika dia bukan anak tunggal direktur sekolah ini, mana ada yang mau berteman dengan dia?" si siswi berambut hitam memutar bola mata, "Cewek angkuh, egois, jahat, sombong, manja, menyebalkan seperti itu siapa yang sudi berurusan dengannya."

-oOo-

"Oh.. margamu unik sekali. Akasuna, ya? Apakah karena sebagian besar keluargamu memiliki rambut semerah dirimu? Tapi omong-omong, kau tahu Yamanaka, 'kan? Itu margaku, yang juga menjadi nama toko bunga kami yang terkenal di kota ini. Yamanaka. Kau pernah kesana tidak? Jika kau kesana, aku akan memberimu diskon khusus untukmu, deh…"

Ino masih saja terus mengoceh sembari ia berjalan di samping Sakura yang berjalan di antara Ino dan Sasori. Ino tampak antusias—berbicara panjang lebar sembari berjalan dan menoleh ke arah Sasori. Seandainya ada tiang atau orang di depan gadis itu, niscaya akan Ino tabrak akibat pandangan matanya yang tidak mengarah kemana ia melangkah. Sedangkan Sakura hanya melipat kedua tangannya di dada sembari menekuk mukanya. Sebal dan jengkel, tentu saja. Bagaimanapun, ia seolah berada di antara dilema. Di satu sisi ia merasa kesal karena Ino yang seolah-olah terus flirting ke Sasori bahkan semenjak Sakura memperkenalkan mereka beberapa menit yang lalu, tetapi di sisi lain Ino adalah sahabat Sakura, yang artinya, Sakura tidak bisa menghardiknya dan mendepaknya sesuka hatinya seperti yang ia lakukan pada beberapa teman wanitanya yang tadi kepergok mencuri-curi pandang ke arah pengawalnya.

Sedangkan Sasori? Ah, pemuda itu hanya berjalan dengan raut wajahnya yang biasa, seolah-olah telinganya sama sekali tidak mendengar ocehan Ino.

"…kau juga harus tahu bahwa aku—"

"Ino pig! Bisakah kau diam?! Berisik nih!" Sakura pada akhirnya meledak juga. Gadis itu menutup telinganya dan menyipitkan kedua matanya dengan sorot terganggu ke arah sahabatnya tersebut, "Kau bahkan tidak memberiku kesempatan berbicara pada pengawalku sendiri!"

Ino menatap tak mengerti, "Kenapa? Aku baru berkenalan dengannya. Kau bisa berbicara dengan Sasori-kun kapan saja karena dia pengawalmu."

Sialan. Beraninya Ino memanggil Sasori dengan embel-embel 'kun'!

"Tapi Sasori-kun tidak ingin berbicara denganmu. Ya, kan, Sasori-kun?" Sakura menoleh dan menatap Sasori dengan pandangan antara berharap dan menuntut.

Sasori diam-diam, secara mental, mengacak-acak rambutnya sendiri.

Sudah cukup ia merasa tidak tahu harus bagaimana menghadapi seorang Haruno Sakura. Tetapi apa? Kini ia harus bertemu dengan sahabat Haruno Sakura yang sifatnya seolah bagaikan Haruno Sakura Kedua?

Sedangkan Ino hanya terdiam dan memutuskan untuk mengalah saja. Percuma. Ia tahu benar siapa sahabatnya. Apapun yang dilakukan dan diusahakan oleh Ino, pasti dia akan menjadi tak lebih dari nomor dua. Di belakang Sakura. Bayangan Sakura.

Selalu.

Kenapa sahabatnya bisa memiliki hidup yang amat sempurna? Bahkan kini ia bisa bersama dengan laki-laki setampan Akasuna Sasori. Ah, jangan lupakan Uchiha Sasuke yang seolah juga siap menemani Sakura kemanapun gadis itu mau.

Hah.

"Bukankah kalian tadi bilang ingin ke toilet?" tanya Sasori mengalihkan pembicaraan agar ia tak perlu menjawab pertanyaan tak penting dari Sakura barusan. Plus, meski sejenak, ia bisa menyamankan kedua telinganya dari ocehan kedua gadis di sampingnya ini, "Kita sudah sampai," ia menunjuk ke suatu arah.

Sakura dan Ino menoleh. Benar saja, mereka sudah berada di dekat toilet perempuan.

Ino kembali tersenyum, "Ah ya, kami hampir lupa, Sasori-kun," lantas gadis itu menarik Sakura untuk ikut melangkah, "Ayo, jidat!"

"Sasori-kun tunggu di sini, ya!" ujar Sakura riang sembari melambaikan tangan, "Ingat, jangan kemana-mana dan jangan hiraukan semua cewek yang coba-coba mendekatimu, ya, Sasori-kun!"

Sasori tak repot-repot merespon, baik dengan ucapan ataupun gelengan atau anggukan. Ia hanya menatap datar dengan pandangan bosannya seperti biasa. Namun ketika dua gadis itu sudah menghilang di balik pintu toilet, barulah pemuda itu menghela napas sembari memejamkan mata.

Ia berbalik dan menuju ke arah tembok di dekatnya, lantas menyandarkan dirinya.

Ah, entah kenapa akhir-akhir kepalanya sering pusing tiap bersama dengan majikannya yang berambut langka tersebut.

-oOo-

Hinata melangkahkan kakinya di sepanjang lorong dengan pelan. Maklum saja, ia melangkah sembari tatapannya mengarah pada layar ponselnya. Jemarinya tampak sibuk menekan-nekan beberapa tombol di smartphone miliknya. Baru saja ia menerima pesan dari orang terdekatnya dan ia hanya ingin segera membalasnya.

From: Naruto U.

Hei, Hinata-chan. Apa kabarmu? Kami sekeluarga merindukanmu datang ke rumah kami. Kalau Sasori pulang, kau ikut saja, ok?

Itu adalah Naruto Uzumaki. Adik dari Sasori, kekasih Hinata. Jalinan antara dirinya dan Sasori yang berlangsung nyaris tiga tahun ini, membuat Hinata mengenal baik orang-orang terdekat kekasihnya. Meski sekarang jarang, namun dulu Sasori sering mengajak Hinata bertandang di rumahnya dan mengakrabkan diri dengan keluarga Sasori. Mereka ramah, hangat, dan sangat baik kepada Hinata, seolah-olah Hinata adalah anggota keluarga itu sendiri. Bahkan Karin, adik pertama Sasori, sering memanggil Hinata dengan sebutan Kakak Ipar.

Membayangkannya, Hinata tersenyum kecil dan pipi bersemu merah. Ah, ia merindukan mereka. Sudah berapa lama, ya, tidak bertemu?

To: Naruto U.

Naruto-kun. Kabarku baik sekali. Bagaimana dengan kau, Ibu, dan Karin-chan? Aku juga sangat merindukan kalian. Dan aku janji aku akan segera mengunjungi kalian. Semoga Sasori-kun ada waktu luang agar kami bisa kesana bersama-sama.

Selesai mendapati bahwa pesannya sudah terkirim, Hinata kembali memasukkan ponselnya ke saku blazer biru tuanya. Ia kembali melangkah.

Ngomong-ngomong soal Sasori, beberapa saat yang lalu mereka bertemu, meski hanya sangat sebentar. Jujur saja, Hinata sangat merindukannya. Namun apa yang bisa ia perbuat? Ia yakin Sasori-kun pasti sibuk dengan kuliahnya, sehingga Hinata dengan kesadaran diri, mengurangi frekuensinya berkirim pesan atau menelpon kekasihnya tersebut.

Ah, jika dipikir-pikir…

Rasanya semua sudah tidak seperti dahulu lagi ketika mereka baru berkenalan dan menjadi sepasang kekasih.

Langkah dan pikiran Hinata terhenti ketika kedua matanya tanpa sengaja memandang ke satu arah. Awalnya ia berpikir kosong, karena menganggap bahwa ia tengah melamun atau apa. Namun ia yakin bahwa ia tengah sadar ketika apa yang dilihatnya tetap tampak dan tidak menghilang layaknya imajinasi yang terangkai di otak manusia. Hinata menyipitkan matanya, berusaha melihat lebih jelas.

Apakah ia begitu merindukan Sasori hingga kini membayangkan dirinya melihat kekasihnya itu di sana? Di sekolah ini? Di pagi ini? Bersandar di tembok di depannya sana?

Napas Hinata tercekat. Bibirnya seolah secara insting, tertarik dan membentuk sebuah senyum yang sehangat pandangan kedua matanya. Wajahnya bersemu, dadanya berdebar.

Semua perasaan yang ia rasakan dan tunjukkan, hanya ketika ia melihat pemuda berambut merah itu.

Tanpa Hinata sadari, kakinya sudah melangkah. Seolah-olah kedua kakinya memiliki pemikiran sendiri dan kini tengah mengarah pada apa yang dirindukannya dan ingin dicapainya.

Suaranya jelas mengandung kegembiraan, ketika ia bersuara sedikit keras, "Sasori-kun!"

-oOo-

"Sasori-kun!"

Sasori otomatis menoleh ketika mendengar suara yang memanggil namanya. Arahnya dari samping kanannya. Dan begitu ia menoleh, ia tidak mampu untuk menahan kedua matanya untuk sedikit membelalak dan mulutnya yang menjadi sedikit terbuka.

Ia meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang salah lihat.

Bahwa ia memang melihat seorang gadis yang kini tengah berjalan setengah berlari ke arahnya. Bukan sembarang gadis—gadis itu berambut ungu gelap sepunggung dan berkulit putih. Sepasang bola mata yang sangat familiar sekaligus sangat dikagumi olehnya lebih dari bola mata siapapun juga. Dan senyum itu, senyum yang terpasang dan ditujukan untuk Sasori…

Gadis itu kekasihnya.

"Hinata."

Memang, seharusnya Sasori tidak terkejut jika cepat atau lambat, Hinata akan melihatnya berada di sini. Kekasihnya itu memang menjadi salah satu murid Haruno High, dan wajar saja jika Sasori menemuinya di sini. Namun yang membuat Sasori sekarang merasa sedikit bingung sekaligus tak nyaman adalah: apa yang harus ia katakan pada Hinata mengenai alasan dia berada di sini? Sejak Sasori menerima tawaran bekerja di keluarga Haruno, pertanyaan ini sudah ia pikirkan, namun ia tetap tidak menemukan jawabannya.

Haruskah ia berterus terang? Bahwa ia menjadi pengawal karena kondisi ekonomi keluarganya mendesaknya untuk menerima pekerjaan itu? Jika Sasori berkata demikian, pastinya Hinata akan merasa cemas dan khawatir—Sasori paham dan tahu betul bagaimana karakteristik dan sifat gadisnya. Sasori hanya tak mau Hinata cemas, itulah sebabnya sampai sekarang pemuda itu masih bungkam atas semuanya. Hingga pada tahap sekarang di mana gadis itu menemuinya berada di sekolah ini…

"Sasori-kun!" Hinata kembali berujar ketika ia telah sampai di dekat kekasihnya. Ia berdiri di depan Sasori dan menatap Sasori dengan senyuman yang tersemat di bibirnya.

Tampak bahagia sekali.

Mau tak mau Sasori turut tersenyum juga—sebentuk lengkungan langka yang hanya akan ia tunjukkan pada orang-orang tertentu saja di dunia ini. Beberapa gadis yang sempat melihatnya, seketika merona wajahnya dengan tatapan termenung seolah-olah nyawa mereka hilang entah kemana.

"A-aku tidak menyangka mendapatimu di sini, Sasori-kun," ujar Hinata sembari menatap wajah kekasihnya dengan pandangan antara senang dan heran, "Kenapa kau tidak memberitahuku jika mau kesini? Aku 'kan bisa menemanimu."

Nah. Pertanyaan yang Sasori takutkan akhirnya terlontarkan.

Sekali lagi, Sasori tersenyum dan melembutkan pandangannya, "Kau terkejut? Baguslah, itu tujuanku."

Sedikit menyipitkan kedua matanya dengan heran, Hinata tertawa lirih, "K-kau ini… setidaknya kabari aku jika kau berada di sini…"

Perlahan, senyuman Sasori berubah menjadi seringai, "Kenapa? Kau merindukanku, ya?"

Ah. Sasori begitu menyukai saat wajah itu merona hangat seperti itu.

Bisa Sasori duga apa kelanjutannya. Wajah itu akan tersipu. Kepala itu akan menunduk. Pandangan matanya akan teralihkan dari kedua mata Sasori yang lurus menatapnya. Dan jemari itu akan sibuk memainkan apapun yang bisa dijangkaunya—yang kali ini adalah ujung blazer yang dipakainya.

Tipikal Hinata yang tengah malu dan tersipu.

Tipikal Hinata yang sangat disukainya.

"I-itu ti-tidak menjawab pertanyaanku, Sasori-kun!" mungkin saking malunya, Hinata tanpa sengaja mengeraskan ucapannya, "Ke-kenapa kau berada di sini sekarang—apa karena tugas kuliah? Kenapa ti-tidak memberitahuku?"

Sasori menghela napas. Pandangan kedua matanya bergulir mengamati sekitarnya. Tanpa ia sadari, entah sejak kapan, sudah banyak sekali orang yang mengamati mereka. Mungkin mereka penasaran akan siapa Sasori dan bagaimana Hinata mengenalnya sehingga tampak dekat demikian. Berbagai macam ekspresi mereka pasang. Penasaran. Tidak mengerti. Namun yang paling jelas adalah perasaan tidak suka dan iri.

Sasori pikir sekarang tidaklah waktu yang tepat untuk menjelaskan. Lagipula, ia yakin sebentar lagi Sakura akan keluar dari toilet dan ia harus kembali bekerja. Mengawal gadis itu kemanapun ia pergi.

"Aku akan ceritakan padamu nanti malam lewat telepon saja, oke?" ujar Sasori pada akhirnya. Pandangan matanya menunjukkan perasaan menyesal yang juga kentara pada nada suaranya. Sama sekali ia tidak bermaksud untuk menyembunyikan satu hal pada kekasihnya. Hanya saja, ia tak ingin Hinata khawatir dan sekarang bukanlah waktu yang tepat bagi gadis itu untuk mengetahui semuanya.

Terang saja Hinata tak mengerti. Itu ia tunjukkan pada pandangan matanya yang menatap Sasori, "Kenapa?"

"Aku tidak bisa menceritakan padamu sekarang. Percayalah, aku akan mengatakannya padamu. Nanti."

Hinata jelas memiliki perasaan heran dan ragu. Wajar saja. Pertama, tiba-tiba ia mendapati kekasihnya itu berada di sekolahnya, tanpa memberitahunya. Kedua, sekarang Sasori tidak mau memberitahunya langsung—seolah-olah pemuda itu memang benar-benar menyimpan rahasia. Karena, jika hanya sekedar kepentingan kuliah, kenapa pemuda itu harus menunda-nunda dan menutupi semuanya?

Namun Hinata bukanlah tipe gadis yang pemaksa. Ia juga bukan tipe gadis yang mau berargumen panjang lebar. Kebiasaannya adalah mengalah dan ikut arus saja. Maka, jika Sasori mengatakan nanti ia akan menerangkan semuanya, gadis itu percaya dan berusaha menelan dan menahan rasa penasarannya.

Ia harus percaya.

"…B-baiklah," Hinata tersenyum dan mengangguk, yang dibalas oleh senyuman Sasori, "Nah, sekarang kau mau apa? Apa yang bisa kubantu untukmu? Apa Sasori-kun sudah makan?"

Sasori tertawa kecil, "Hei, hei. Pertanyaanmu banyak sekali…," pemuda itu menggeleng, "Tetapi tidak. Aku bisa mengerjakan urusanku sendiri. Sekarang, kau belajarlah dengan serius dan anggap saja aku tidak sedang berada di sini," pemuda itu kembali menyeringai, "Ingat, konsentrasi dan jangan bayangkan diriku terus."

Kembali, Hinata terlihat kikuk dan berusaha menyembunyikan hal itu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran, "Sa-Sasori-kun selalu saja becanda… Aku serius, apa yang bisa kulakukan? Kau mau kemana? B-Biar aku mengantarmu—"

"Hime, tidak," jika Sasori sudah menyebutkan panggilan khusus tersebut, maka Hinata tahu bahwa kekasihnya tengah serius, "Kau kembalilah ke kelas atau kemanapun seperti biasanya. Bukannya aku tak mau bantuanmu atau apa, hanya saja aku memang harus mengerjakan urusanku sendiri."

Semakin penasaran Hinata akan 'urusan' apa hingga tumben, Sasori menolak keberadaannya.

Pada akhirnya, Hinata hanya mengangguk pelan meskipun keraguan itu belum luntur dari pandangan matanya. Gadis itu tersenyum sekali lagi, "K-kalau begitu… a-aku pergi dahulu, Sasori-kun. Jangan lupa, apapun urusanmu, kau harus makan d-dan nanti jika kau sudah pulang, tolong kabari aku…"

Sasori mengangguk-angguk paham dan menatap kekasihnya geli. Selalu saja khawatir padahal Sasori yang berumur lebih tua darinya.

"Oke-oke. Siap."

Pada akhirnya, Hinata kembali melangkah. Pergi, tidak sebelum ia sekali lagi menoleh dan memberikan sebentuk senyum kecil ke arah Sasori—yang dibalas dengan lengkungan yang sama dari bibir pemuda itu. Sasori menatap punggung Hinata lama-lama, mengamati kepergian gadisnya, hingga Hinata tak mampu lagi dilihatnya selepas gadis itu berbelok di lorong sana.

Sasori menghela napas.

Semoga Hinata mengerti keputusannya ini.

"Sasori-kun!"

Nyaris terjungkal Sasori ketika ia dengan tiba-tiba dan tak mampu sama sekali ia duga, tubuhnya tertabrak keras dari belakang. Ia tidak tahu bagaimana, yang jelas ketika ia sudah berhasil meredakan kekagetannya dan ancaman terkena serangan jantung dadakan di usia muda, tahu-tahu ia mendapati ada sepasang tangan yang melingkari perutnya. Dan ia merasakan punggungnya terbebani oleh sesuatu yang menempel erat dari arah belakangnya.

Ia memejamkan kedua matanya dan mengatupkan kedua rahangnya dengan keras ketika menyadari bahwa Haruno Sakura, dengan tiba-tiba, sudah keluar dari toilet dan langsung memeluknya erat dari arah belakang.

Ya Tuhan…

Kontan saja, suara berisik bagai dengung sejuta tawon terdengar dari para manusia yang kebetulan melihat mereka.

"Hayooo! Kenapa kau tampak melamun? Kau melamunkan apa? Apakah diriku?" Sakura tersenyum lebar sembari semakin merapatkan pelukannya ke arah Sasori, tak peduli jika tubuh yang dipeluknya alih-alih membalas, namun justru terasa tegang dan kaku ia rasakan.

Sedangkan Ino hanya menghela napas dan memutar bola matanya. Gadis itu merasa tak heran jika sehabis ini Sasori berbalik dan memaki sahabatnya akibat perbuatan Sakura seperti demikian.

Menghela napas untuk mencoba membangun kesabaran yang rasanya kian hari kian menipis, Sasori melepaskan pelan pelukan Sakura dari tubuhnya. Gadis ini benar-benar tidak bisa belajar dari pengalaman, ya? Tidakkah ia ingat bahwa Sasori tidak suka dipermalukan di depan umum demikian? Tidakkah ia ingat apa yang membuat Sasori amat marah padanya dahulu?

Ya Tuhan! Bagaimana jika tadi Hinata tahu dan salah paham?!

"Haruno-san," Sasori berkata dengan gigi gemeratak, seolah-olah menahan mulutnya untuk tidak lepas kontrol dan mengeluarkan bentakan, "Tolong, jangan berbuat seperti itu lagi. Saya pengawal Anda dan itu tidak pantas."

Ada berapa banyak orang yang melihat semua ini tadi?

Sedangkan Sakura hanya menghela napas keras dan otomatis melempar tatapan tajam ke beberapa orang yang ada di dekat mereka dan mengamati mereka. Secara langsung menyalahkan mereka bahwa mereka terlalu tidak ada kerjaan sehingga mengamati dirinya dan pengawalnya seperti ini.

Sakura kembali menatap Sasori dan otomatis, senyuman lebar dan manis terlukis di wajah ayu itu, "M-Maaf, Sasori-kun, aku hanya becanda dan ingin mengagetkanmu k-karena kau tampak melamun…"

Sakura meringis garing dan sedikit takut. Ya, bagaimanapun, wajah marah Sasori adalah hal yang tidak ingin ia lihat karena selain menyeramkan, itu juga membuat Sakura merasa amat sangat bersalah hingga ia perlu meminta maaf.

Dan Ino memutar bola mata, "Jidat," gumamnya.

Sasori tidak merespon permintaan maaf Sakura dan hanya menatap datar pada majikannya tersebut. Sampai sekarang ia masih heran, kenapa putri Kizashi Haruno harus gadis ini yang harus dilindunginya?

"Oh ya! Sasori-kun sudah makan belum? Kita makan sama-sama, yuk?" ajak Sakura yang tanpa persetujuan Sasori, langsung memasukkan lengannya ke lekukan lengan Sasori dan mulai melangkah.

"Kau bahkan lupa mengajakku, Sakura!" protes Ino dari arah belakang.

"Berjalan saja jika ikut, pig! Repot sekali!"

Sasori melepas paksa pegangan Sakura, "Saya harus berjalan di belakang Anda, Haruno-san," ujar Sasori, "Saya harus melindungi Anda."

Sakura mengibaskan tangannya, "Kau tak perlu formal begitu Sasori-kun. Di sekolahku sendiri ini, apa yang bisa mengancamku?"

"Keadaan bahaya bisa datang bahkan jika kau mengunci dirimu di sebuah peti."

"Sudahlah, Sakura. Kenapa kau pemaksa sekali dengan Sasori-kun?" lerai Ino sembari menggandeng tangan sahabatnya dan memaksa gadis berambut merah muda itu berjalan, "Kau bisa membuat Sasori-kun tidak nyaman denganmu, lho."

Sakura hanya terdiam dan menurut langkahnya yang separuh terseret oleh Ino. Gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati Sasori yang mengikuti langkah mereka dengan tenang. Gadis itu kembali menatap depan.

Ia menghela napas.

Kenapa Sasori-kun seperti menjaga jarak dengannya? Kenapa ia seperti masih tidak bisa menerima Sakura? Kenapa tak ada satupun hal yang bisa Sakura lakukan tanpa membuat pemuda itu marah padanya? Bahkan untuk memanggil Sakura saja pemuda itu harus menyebut marganya dengan amat formal demikian.

Entah mengapa, Sakura rasakan di dalam sini sakit.

Sakit yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

-oOo-

Pada pukul delapan petang lewat, Sasori baru menginjakkan kaki di ruang Klub Karate-nya di kampus. Memang sudah gelap, namun ia nekat tetap pergi karena memang ada hal yang harus ia urus dan bicarakan dengan anggota klub yang lain. Seharusnya, ia datang pada rapat klub pukul tujuh malam tadi. Tetapi apa daya, seharian ini ia sama sekali tidak bisa berada di kampus dan harus menemani Sakura Haruno kemanapun gadis itu pergi. Sekolah. Mall. Restauran. Mall. Butik. Salon. Mall.

Dan barulah ia mengantarkan gadis itu pulang ke rumah pada pukul tujuh empat puluh lima menit!

Sasori, sungguh, merasa bersyukur bahwa ia masih bisa berjalan tegak dan tidak jatuh pingsan di jalan. Lelah!

"Hei, Sasori!" salah satu anggota klub yang masih ada di ruangan selesai rapat, menyapa pemuda berambut merah yang baru saja membuka pintu klub. Teman Sasori hanya menatap geli bercampur heran ke arah anggota klub Karate yang mereka banggakan tersebut.

Datang dengan wajah kusut, pandangan mata yang lebih sayu, dan yang jelas, raut lelah di wajah kekanakan tersebut.

"Maaf aku baru datang," ujar Sasori sembari terduduk di kursi terdekatnya. Ia menghela napas dan otomatis tangannya bergerak untuk mengacak-acak pelan rambutnya.

"Tak apa, teman," ujar teman Sasori yang lain, yang sibuk melakukan gerakan-gerakan kecil karate di ujung ruangan sana, "Kami bisa lihat dari wajahmu sekarang, bahwa seharian ini harimu sepertinya terasa seperti di neraka."

"Intinya, kami tahu kau lelah dan banyak urusan," ujar satu-satunya gadis yang berada di ruangan tersebut.

Sasori menghela napas dan terdiam tanpa merespon ucapan teman-temannya. Ia memejamkan mata dan mencoba mengatur napasnya. Ia hanya ingin mengistirahatkan sejenak pikirannya. Namun, keinginannya tersebut tidak bisa terwujud dalam jangka waktu yang lama. Baru beberapa detik ia memejamkan mata, ponselnya terasa bergetar di saku celananya. Pemuda itu dengan malas-malasan, mengambil ponsel tersebut dan tanpa melihat layar, langsung menekan tombol terima dan menempelkan benda itu di telinganya.

"Halo."

"Halo, Sasori-kun."

Ah, Hinata.

Tanpa sadar, Sasori mengangguk, seolah Hinata bisa melihat tindakannya demikian, "Hinata."

"Apa kau sudah pulang, Sasori-kun?"

"Hm, baru sampai. Bagaimana denganmu? Kau sekarang dimana?"

"Aku berada di rumah, baru selesai mengerjakan PR."

Sasori tersenyum kecil, "Baguslah. Kalau nanti kau terima rapor, aku ingin melihat angka-angka yang bagus ya."

Hinata terdengar tertawa lirih.

"Ngomong-ngomong, Sasori-kun… Apa yang ingin kau jelaskan padaku tentang kau yang datang ke sekolahku—m-m-m-maksudku—maaf, aku t-tidak bermaksud menganggumu—ma-maksudku, aku hanya ingin t-tahu—"

"Sudah, Hinata. Tak apa," jawab Sasori tenang dan pelan. Pemuda itu memejamkan mata, mempersiapkan diri untuk berbicara yang sebenarnya. Ia bangkit berdiri dari kursinya, lantas melangkah keluar ruangan. Tidak mungkin ia berbicara di tempat di mana yang lain bisa mendengarnya, 'kan?

"T-tapi Sasori-kun, jika kau tidak ingin bicara sekarang, aku tidak memaksamu—"

"Aku akan bicara sekarang, Hinata," ujar Sasori sembari menyandarkan diri di tembok beberapa jauh dari ruang klub Karate berada, "…Kau memang harus tahu."

Hinata tidak merespon, seolah gadis itu menyilahkan Sasori meneruskan ucapannya. Sedangkan Sasori terdiam sejenak, entah apa yang dipikirkan pemuda itu. Iris hazelnya menatap ke atas, ke arah langit lepas. Cerah. Bersih. Penuh bintang dan bulan yang bersinar cerah.

Ingin Sasori menerbangkan pikirannya dan tak berpikir apa-apa lagi selain mengagumi bentuk indah kreasi alam di atas sana itu.

Andaikan hidupnya memang tak perlu memikirkan apa-apa lagi…

"…. Aku telah bekerja, Hinata," pada akhirnya Sasori bersuara, tanpa sekalipun pandangannya terlepas dari objek tatapannya di atas sana itu, "…Aku menjadi pengawal pribadi dari Sakura Haruno."

-oOo-

Hayoo, akhirnya Hinata tahu pacarnya kerja dengan orang yang selama ini mem-bully-nya di sekolah. Hahaha T.T

Boleh minta sesuatu ga? Berhubung bulan Mei ini saya akan menghadapi sidang skripsi, jadi mohon doanya ya :') #berlinang air mata

Comments and criticism are whole-heartedly appreciated

Thank you