special thanks
Nanami Shionji, sonedinda, Rein Yuujiro, Onica278, Aethria1389, Asaichi23, Kie2Kei, azura-sama, taintedIris, Nekuro Yamikawa, Tasya Chan Hatsune, shiinonome, Yagami Ayumi, Shourai Kuroko, Zeita Hikari
sahabat baikku, ceteee, selamat ulang tahun yah! ;*
dan kamu yang tentunya udah buka halaman ini!

disclaimer
yang kemarin ngikut aja yaa~

warning
Len-Miku makin terlihat jelas.
kecepatan alur tak terkontrol. Kalimat fluff yang tersebar dan mengejutkan.


berry blue
(sendok kesepuluh)


Itu adalah Sabtu pagi, sehari sebelum pertandingan basket antar SMA berlangsung ketika Miku terbangun karena deringan bel berkali-kali yang bisa memecah kepalanya. Bahkan sebelum dia melakukan apapun di hari yang cerah itu, bel rumahnya telah dipaksa berbunyi berkali-kali.

Setelah menendang selimut dan mengeluarkan seribu makian, Miku berjalan sambil terhuyung-huyung ke pintu rumahnya, siap menyemprot siapapun yang sudah menghancurkan Sabtu paginya yang ceria.

Namun, sepertinya Tuhan memang tidak membiarkan dia melampiaskan emosinya karena ketika Miku membuka pintunya, dia segera mendapatkan sambutan hangat berupa pelukan erat.

Iris Miku melebar terkejut dan seketika dia langsung terbangun dari sisa mimpi tidurnya tadi.

Kaito berdiri tepat di hadapannya, memeluk Miku erat seperti yang selalu dia lakukan selama ini. Hangat dan nyaman, namun sekaligus memberikan efek rasa sesak yang menyakitkan.

"Kaito," bisik Miku pelan.

"Aah! Aku senang sekali bisa bertemu denganmu!" Senyuman lebar terpasang di wajah tampannya. Kaito melepaskan pelukannya dan menatap Miku erat-erat. Sepasang tangannya mencubit pipi Miku dengan gemas. "Aah! Betapa aku merindukanmu! Entah kenapa, kita jarang sekali bertemu ya sekarang!"

Miku tersenyum lemah. Betapa dia memang jarang melihat Kaito setelah malam pemberian mawar kuning itu. Dia sadar, rambut biru gelap Kaito sudah tumbuh panjang dan semakin menambah unsur ketampanan di dirinya.

Seandainya saja Miku bisa lupa kalau sekarang ada sosok merah muda itu, mungkin Miku sudah akan balas memeluk Kaito sekarang.

"Ya," sahut Miku sambil menarik lepas tangan Kaito dari pipinya. Dia mundur menjauhi Kaito. "Latihan basket, mau gimana lagi."

Ada unsur keterkejutan di pelupuk mata Kaito saat Miku menjauh darinya. Tidak pernah sebelumnya Miku melakukan hal itu. "Oh ya? Umm, kau pasti lelah sekali ya."

Miku mengangguk pelan. "Apa yang membawamu datang kesini di Sabtu pagi ini?"

"Memangnya aku nggak boleh mengunjungimu?"

"Aku nggak mau Megurine-san cemburu." Miku menatap Kaito. "Dia pacarmu sekarang, Kaito."

"Terus kenapa? Memangnya kalau aku pacaran sama dia, aku nggak bisa temenan lagi sama kamu?

Tapi kalau kau tetap seperti ini, aku akan berharap lebih tinggi...

"Miku," Kaito meraih tangan Miku dan menatap gadis itu dalam-dalam, "kau nggak sedang menjauhiku kan?"

Gadis itu menarik tangannya sambil tersenyum lemah. "Aku memang menjauhimu."

Dahi Kaito berkerut. "Hah?"

"Karena aku tidak ingin Megurine-san salah paham."

"Aku nggak ngerti! Memangnya apa yang salah kalau aku bersamamu?"

Aku tidak akan bisa berhenti memikirkanmu, bodoh! "Dia bisa saja berpikir kalau hubungan kita lebih dari persahabatan kan?"

"Itu nggak akan terjadi!" Kaito tertawa pelan. "Jangan ngaco ah! Konyol sekali kalau Luka-chan sampai berpikir hal itu. Biar bagaimana pun, kita tetap akan jadi sahabat untuk selamanya! Nggak akan ada yang bisa merubah itu! Aku jamin, Miku!" Kaito meraih tangan Miku dan mengenggamnya erat. "Jangan pernah menjauhiku. Kau sahabatku kan?"

Miku mengangguk lemah. Hanya sahabat. Sampai kapan pun, Kaito akan selalu menganggap Miku sebagai seorang sahabat.

"Karena itu, aku akan memastikan kalau Luka-chan tidak akan salah paham soal hubungan kita!"

"Begitukah?" Miku memaksakan senyuman. Pandangannya mulai mengabur.

"Ya! Tenang saja!" Senyum Kaito melebar. "Aah, begini saja, bagaimana kalau kita jalan-jalan bersama bertiga? Aku ingin kau dan Luka-chan saling mengenal. Asyik kan?"

Berjalan-jalan dengan rival cintamu untuk melihat seberapa dekatnya dia dengan orang kau sukai bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Bahkan itu sangat tidak menyenangkan.

"Nggak. Aku harus latihan basket, Kaito."

"Oh ya? Aah, kalau begitu bagaimana kalau aku dan Luka-chan menontonmu latihan saja?"

Supaya Megurine Luka bisa melihat seberapa kacaunya Miku?

"Nggak. Kalau ada kamu, aku nggak bisa konsentrasi main."

"Umm," wajah Kaito terlihat kecewa, "jadi kapan kita bisa ngobrol bersama kalau begitu?"

"Setelah pertandingan basket... mungkin." Bahkan Miku merasa dia tidak akan pernah ingin mengobrol berdua lagi dengan Kaito. Ada sesuatu yang terasa salah dengan hal itu dan jika dia membiarkannya terjadi, perasaan itu pasti akan semakin membesar.

"Bagus! Kita akan merayakan kemenanganmu seperti biasanya, oke?"

Miku tahu, perayaan kemenangannya hanya dirayakan oleh semangkuk es krim yang dihiasi oleh tawa Kaito. Sesuatu yang sederhana, tapi dia tahu bahwa hal sesimpel itu mampu membuatnya memekik kegirangan.

"Hanya kita berdua seperti biasanya?"

"Yap—dan tentu saja! Kalau kau merasa itu belum cukup, kita bisa nonton film sesudahnya... atau jalan-jalan ke pantai... atau atau kita bisa mengunjungi taman bermain dan naik bianglala berdua saja! Pasti seru sekali!"

"Berdua saja?"

Kaito mengangguk cepat. "Tentu saja." Tangannya mengacak-acak rambut Miku dengan senyuman lebar. "Berdua saja! Karena aku sangat-sangat merindukanmu!"

Apakah Kaito sedang berusaha menyiksanya sekarang ini? Kenapa pemuda blue berry itu terus saja mengatakan hal-hal yang membuat Miku terluka?!

"Kau tidak bertanggung jawab ya..." Miku mengigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang muncul dari pelupuk matanya.

"Aku kenapa?"

"Bodoh... tidak bertanggung jawab... egois... mengatakan segalanya sesuai keinginanmu... tidak pernah berpikir... dan aku benci karena setiap hal yang kau katakan selalu membuatku melambung begitu tinggi..."

"Miku?" Alis Kaito terangkat sebelah. "Kau marah padaku?"

Miku menggeleng cepat dengan senyum dipaksakan. "Aku benci kau."

"Hah?!"

Gadis itu mendorong tubuh sahabat kecilnya keluar tanpa mempedulikan pertanyaan dan wajah panik Kaito. Miku memegang kenop pintunya dengan tangan gemetar.

"Aku PMS. Kurasa aku sedang tidak stabil sekarang."

"Kau baik-baik saja?" Jemari Kaito menyentuh dahi Miku.

Mungkin, ini adalah salah satu faktor yang membuat Miku bisa jatuh cinta pada Kaito. Pemuda itu terlalu baik... terlalu baik hingga membuat Miku melambung begitu tinggi oleh satu harapan yang tidak mungkin terjadi.

Mereka hanya bersahabat bukan?

Tidak seharusnya Miku memiliki perasaan seperti ini!

Gadis berambut biru kehijauan itu meraih tangan Kaito dengan senyuman. "Aku baik-baik saja."

"Jangan bohong padaku, Miku! Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja! Apa yang terjadi? Kau tidak mau memberitahuku?"

Betapa hangat... betapa baik hati...

Betapa kau adalah orang yang kusuka...

"Aku cuma butuh tidur sekarang." Miku tersenyum lebar dan memaksakan kuapan di mulutnya. Dia meregangkan kedua tangannya, berusaha terlihat lelah. "Kau akan membiarkan aku tidur dan beristirahat kan?"

Kelihatannya Kaito tidak percaya pada alasan itu, tapi dia mengangguk juga. Dia berbalik untuk keluar dari rumah Miku, lalu kemudian dia berhenti dan berbalik lagi.

"Kau boleh tidur, tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Aku akan duduk di sebelahmu untuk menjagamu."

"Kaito... aku tidak apa-apa dan lagipula aku tidak akan bisa tidur kalau..."

"Aku tidak akan ribut!" potong Kaito cepat. "Lebih daripada itu, aku takut kalau sesuatu terjadi padamu! Aku tidak mau dimarahi oleh Mikuo-niisan."

"Tapi Megurine-san..."

Tanpa menunggu jawaban Miku, Kaito sudah menarik tangannya menuju kamar Miku. Dia menyuruh Miku duduk, mengambilkan beberapa selimut dan minuman untuk Miku.

"Tidurlah."

Mata biru kehijauan Miku hanya bisa terpaku melihat Kaito.

"Kaito... Megurine-san..."

"Tenanglah. Luka-chan tidak akan cemburu."

"Tapi..."

"Apa dia akan marah kalau aku merawat sahabat baikku? Kita tidak sedang berkencan kan? Aku tidak sedang selingkuh denganmu kan?" Pemua itu mengusap pelan kepala Miku. "Jadi, santai saja."

Miku mengigit bibir bawahnya.

"Kenapa? Kau tidak bisa tidur? Eh—tunggu... hari ini tidak akan ada latihan basket kan?"

"Nanti sore ada."

"Libur saja. Aku akan bicara pada Kagamine-san dan Kojima-san nanti. Kau hanya perlu istirahat saja hari ini."

"Tapi, Kaito..."

"Umm? Ada sesuatu yang kau butuhkan? Kau tinggal memintanya padaku." Tangannya mengusap pelan kepala Miku. "Jangan sungkan, oke? Khusus untuk hari ini, kau bisa perlakukan aku sebagai pembantumu."

"Memangnya kau tidak ada kencan dengan Megurine-san?"

Kaito menidurkan Miku dan menarik selimut hingga menutupi tubuh si gadis. Dia tersenyum manis sambil mengusap dahi Miku. "Urusan gampang."

"Tapi..."

"Ssh!" Si biru menundukkan kepalanya hingga Miku bisa melihat indahnya iris sebiru lautan itu. "Tidurlah!"

Miku mengigit bibir bawahnya dan menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Dia bisa merasakan jemari Kaito memainkan rambutnya dan perasaan sesak yang seketika datang menyerangnya.

Kalau begini terus, bagaimana mungkin aku tidak berubah semakin menyukaimu, bodoh?!

.

.


.

.

"Miku mana?"

Gumi mengangkat bahunya ketika mendengar ucapan Kapten basket putra sekolahnya. Sejujurnya dia memang tidak tahu mengenai keberadaan teman sebangkunya itu. Lagipula, Len yang terlihat begitu menghawatirkan Miku justru lebih menarik perhatian gadis jenius itu.

"Hei, Len, kau suka pada Miku?" Jelas, Kojima Gumi tidak pernah mengenal kata basa-basi.

Iris biru langit itu melebar terkejut. "Ap—apa yang kau bicarakan?"

"Kau ini bodoh ya memangnya?"

"Hah?!"

Ini pukul empat sore dan anggota tim basket yang baru datang hanyalah kembar Kagamine dan Kojima Gumi. Pelatih mereka, Leon, akan datang untuk melihat perkembangan mereka hari ini sementara anggota tim yang lain masih berada dalam perjalanan menuju sekolah.

Momen yang tepat untuk menyudutkan Len adalah saat kakak kembarnya ganti baju dan hanya tinggal mereka berdua di lapangan yang sepi.

"Aku benar bukan, Kagamine Len-kun?"

Si pirang mengangkat tangannya untuk menguncir rambut sebahunya. Dia melirik gadis berkacamata itu sekilas. "Bukan urusanmu, Kojima Gumi-chan."

"Oh ya? Apa kau tidak penasaran dengan info yang kumiliki mengenai Hatsune Miku? Aku teman sebangkunya bukan? Sudah jelas aku mendapatkan informasi yang tidak didapatkan Rin."

"Buat apa aku bertanya kalau aku tidak mendapatkan jawabannya. Kau naif, Gumi. Memangnya kau pikir aku akan memohon begitu?"

Gumi memutar bola matanya. "Kalau gitu, artinya perasaanmu nggak sekuat yang kau bayangkan dong ya?"

"Seolah kau tahu rasanya menyukai orang lain saja."

Rasanya Gumi ingin mengambil salah satu bola basket dan melemparkannya ke muka Len sekarang. Dia memang tahu Len menyebalkan, tapi dia tidak pernah cukup tertarik untuk mengobrol dengan pemuda pirang itu. Biasanya dia hanya melihat pertengkarannya dengan Miku atau saat Len memerintah dengan gaya sok kaptennya.

Sekarang, dia setidaknya bisa mengerti darimana perasaan benci Miku itu muncul.

"Tapi kau aneh, Len, kalau kau suka Miku, kenapa kau bersikap menyebalkan terhadapnya?"

"Aku tahu kau jenius, Gumi, tapi memangnya sejak kapan aku bilang aku menyukai Miku?"

"Asumsi dariku."

"Asumsi bisa membunuhmu, ingat hal itu baik-baik."

Gumi tampaknya tidak mendengar ucapan Len sesudahnya karena perhatiannya sudah dicuri oleh ponsel hijau miliknya. Iris hijau daun itu memperhatikan layar, membaca teks email yang dikirimkan seseorang padanya. Beberapa saat kemudian, dia menengadahkan kepalanya dan menatap Len. "Mau kuberitahu sesuatu?"

"Sudah kubilang aku tidak tertarik dengan asumsi bodohmu!"

"Kau tadi tanya Miku ada dimana kan?"

Len diam. Menatap Gumi dengan ekspresi datar. Jebakankah ataukah memang si jenius itu ingin memberikan informasi padanya?

"Nggak gratis tapi."

"Seharusnya aku tahu!" Len memutar bola matanya.

"Aku serius, soalnya aku yakin kalau kamu nggak jemput Miku sekarang, kamu bakalan kalah."

"Berhentilah memprovokasi aku, Nona Jenius!"

Gumi mengangkat bahunya. "Terserah juga sih. Bukan urusanku kalau kau berakhir di sudut ruangan dengan jemari tergulung layaknya orang bodoh."

"Apa?!"

"Jemput Miku sekarang di rumahnya atau kau akan menyesal," sahut Gumi akhirnya. Dia membalikkan badan dan mengambil salah satu bola basket. "Dan nggak perlu repot-repot bertanya, karena aku juga nggak bakalan menjawabnya. Pokoknya jangan—"

Tapi ucapan dari gadis jenius itu sama sekali tidak perlu dilanjutkan karena Kapten basket tim putranya sudah berlari ke area parkiran untuk secepatnya melaksanakan titahnya.

Gumi menghela napas panjang dan mendribbel bolanya menuju ring. Bolanya meluncur masuk seperti apa yang sudah dia perkirakan sebelumnya. Namun, di sudut hatinya, ada sesuatu perasaan tidak enak.

Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membaca ulang email dari Kaito.

Kojima-san, kurasa Miku tidak bisa ikut latihan sore ini.
Dia mungkin kelelahan dan butuh istirahat.
Aku akan menjaga dan merawatnya, jadi jangan khawatir, dia akan membaik tepat di hari pertandingan. Bisa beritahu yang lain soal ini?

"Email seperti ini hanya akan kau kirim ketika kau menjaga kekasihmu, Shion-san. Cepat sadari hal itu supaya semuanya bisa berjalan dengan baik, bodoh!"

"Gumi!" panggilan Rin yang baru saja selesai ganti baju segera menyadarkannya dari lamunan. "Len mana?"

"Menjemput cintanya."

"Hah?!"

"Mau sparring denganku, Rin?" Gumi melemparkan bolanya dan tersenyum lebar. Setidaknya, dengan mengirimkan Len, bukankah Gumi sudah membantu Kaito untuk menyadari perasaan itu? "Setidaknya, memang bukan urusanku kalau kau cuma jadi penganggu di hubungan mereka, Len."

"Kau mengatakan sesuatu, Gumi?"

Gadis itu menggeleng cepat. "Ayo lempar bolanya!"

.

.


.

.

Miku membuka kedua kelopak matanya dan menemukan warna biru yang sangat khas di sebelahnya. Dia menoleh untuk mendapati Kaito yang sedang tertidur di posisi duduknya. Tanpa sadar, gadis itu tersenyum manis.

Tangannya terulur untuk menyentuh wajah tampan Kaito yang terlihat sangat polos jika tertidur.

"Seandainya saja waktu bisa berhenti untuk sejenak saja..." bisiknya tertahan. Dia kembali menutup matanya dan memindahkan fokusnya ke langit-langit kamarnya yang sebiru langit cerah. Hatinya terasa hangat sekaligus terasa sesak. Bagaimana mungkin dia bisa menghentikan perasaan yang baru di sadarinya beberapa hari yang lalu kalau sikap Kaito begini?

Terlalu manis untuk seorang sahabat.

Gadis itu menghela napas panjang dan kembali menoleh ke cinta pertamanya. "Siapa yang butuh tidur sebenarnya, Kaito? Kau atau aku?" Miku duduk di atas tempat tidurnya menghadap ke arah Kaito. "Kamu tuh selalu seenaknya. Mengatakan dan melakukan segalanya tanpa pernah memikirkan akibatnya. Kamu pernah mikir nggak kalau kamu kayak gini terus, aku bisa... aku bisa..."

Miku meletakkan dagunya di kedua telapak tangannya dan terus menatap Kaito untuk selanjutnya. Kadang Gumi memang benar, dia terlalu banyak menyia-nyiakan waktu, padahal perasaan itu memang sudah lama ada... perasaan nyaman dan bahagia ketika dia hanya bersama Kaito...

Apakah ikatan persahabatan itu dengan sukses mengaburkan itu semua?

"Aku ingin mengembalikan segalanya ke awal, Kaito." Di saat semuanya masih berada di balik lapisan gelembung tipis itu.

Miku tersenyum dan berjalan keluar kamar setelah itu.

Tepat saat itulah, Kaito membuka kedua matanya dan segera menoleh ke arah Miku. Dia tidak bisa mengerti kenapa tiba-tiba dia merasakan rasa sesak yang membuatnya tidak nyaman. Ada sesuatu yang salah, dia tahu itu dan dia harus menanyakannya pada Miku sekarang juga.

Pemuda biru itu berdiri dari tempatnya dan mencari Miku. Dia mendengar suara dari luar dan memutuskan untuk mengeceknya lewat beranda kamar Miku. Gadis itu memang berada disana, dengan rambut panjangnya yang terurai dan sedikit berantakan bersama sosok pirang dikuncir yang mengenakan pakaian basketnya.

Apa yang dilakukan Kagamine Len disini?

Kaito memajukan langkahnya hingga dia bisa mendengar pembicaraan mereka lebih cermat lagi. Dia bisa melihat Len masih duduk di atas motor sport putih miliknya tanpa membawa ranselnya. Kelihatannya Kaptennya itu sedikit terburu-buru datang kesini.

"Apa yang terjadi padamu?" Kaito bisa mendengar Len bertanya dengan ada penuh rasa khawatir.

"Apa maksudmu?"

"Gumi bilang kalau aku tidak datang kesini secepatnya, aku bakalan..."

Mendadak suara Len menghilang. Kaito semakin menjulurkan kepalanya supaya dia bisa melihat rona merah di wajah si pirang.

Ucapan Ketua kelasnya benar soal Len yang menyukai Miku.

"Hah? Gumi bilang apa? Aah... si jenius itu pasti mempermainkanmu, Len. Ucapannya kadang di luar logika kita, kau mengerti maksudku kan?" Miku tertawa sesudahnya. "Yah, karena sudah terlanjur kau disini, aku ikut latihan basket saja."

"Eh? Kau benar-benar tidak apa-apa memangnya?"

"Berhenti menganggapku lemah, Len. Aku kuat kok."

"Ya, walaupun terkadang terlalu memaksakan diri."

"Hei, aku nggak gitu kok!"

"Ya, kau juga bilang begitu sampai akhirnya kau pingsan waktu itu."

Alis Kaito terangkat sebelah. Kapan Miku pernah pingsan?

"Lupakan kejadian itu, oke? Aku cuma lagi nggak fit waktu itu."

"Oh ya?"

"Ya!" Miku menegaskan. "Aku ambil pakaian basketku dulu ya." Terdengar langkah kaki menuju dalam rumah lalu berhenti ketika Len memanggil namanya lagi.

"Miku..."

"Umm?"

"Kau..."

"Apa?"

"Kalau kau merasa tidak fit, jangan pernah ragu untuk mengatakannya padaku."

"Yeah, supaya kau bisa mengejekku atau mempermainkanku? Nggak akan deh!"

"Bukan, bodoh!" Jeda sejenak. "Supaya aku bisa melindungimu."

Dan kalimat itu sukses membuat Kaito membeku.

.

.

.bersambung


a.n.
menyongsong wisuda oktober dengan kenangan wisuda april lalu...
seandainya bisa, balik lagi ke bulan april lagi dong! (random)

senang deh bisa menulis cerita ini kembali. hehee
saya sedang berusaha menyelesaikan draftnya dan kalau memang sudah selesai, bakalan di update lebih cepat karena sejujurnya saya udah pengen buat sekuel dari cerita ini ;)
masalah pair... duuh, lihat ntar aja deh yaa~ hehee
masih banyak tokoh yang belum mendapatkan perannya dan pensuasanaan mereka akan menjadi tambah kompleks nantinya. dan saya suka sifat Gumi di cerita ini ;*

ngomong-ngomong masalah update, jadwal yang sekarang udah pas atau terlalu lama ya?

dan... silahkan berkomentar tentang cerita ini! ;)

:2005-2011: