SEKAI NO FUIN
Naruto punya Masashi Kishimoto, tapi fic ini karya Ricchan
yang terinspirasi dari banyak sumber termasuk fic senpai yang lain
mohon maaf jika ada kesamaan dan kesalahan, fic ini hanya untuk kesenangan bersama

.

.

.

Chapter X

"Hal-Hal yang Menyebalkan"

.

.

.

Seperti yang Hinata duga, sesampainya ia di rumah sakit, Sakura langsung membombardirnya dengan begitu banyak pertanyaan. Catatan kecil yang ia tinggalkan nyatanya tidak mampu menjadi tiket ia bebas dari amukan dokter dan perawat, terutama Sakura dan Tsunade. Sasuke yang sedari tadi berdiri di samping Hinata sama sekali tidak membantu. Mungkin ia lebih setuju jika Sakura memarahi sulung Hyuuga yang nekat melarikan diri dari rumah sakit hanya untuk memasak kare.

"Katakan sesuatu, Hinata! Jangan hanya tertawa!" teriak Sakura frustasi. Hinata sama sekali tidak terlihat menyesal meski gadis pink itu telah menceramahinya lebih setengah jam.

"Dia teman yang baik" ujar Yami berdiri di samping Sakura. Hinata tersenyum dan mengangguk.

Setelah beberapa suntikan dan pil obat yang pahit Sakura akhirnya menyerah dan memutuskan membiarkan Hinata beristirahat. Sasuke masih di ruangan itu, duduk memandangi Hinata yang mulai terlihat mengantuk.

"Apa obatnya sudah mulai bereaksi?"

"Ya! Obat dari Tsunade-sama selalu bekerja dengan cepat. Dan selalu membuat mengantuk"

Sasuke menarik kursi di samping tempat tidur dan menyamankan dirinya disana. Tangannya mengelus surai indigo sang Hyuuga.

"Kau akan tambah gendut kalau tidur sehabis makan"

Hinata tertawa pelan. Dia menguap lagi. Memang ia baru saja menandaskan sepiring besar kare di rumah Sasuke. Ia sudah bosan dengan makanan rumah sakit dan kare buatan sendiri adalah penggugah selera makan yang amat manjur.

"Aku tak punya pilihan lain Sasuke-kun" balas Hinata. Mata gadis itu telah tertutup, hampir jatuh pada alam mimpi.

Sasuke menyengir. Sengiran yang pasti tidak bisa dilihat Hinata. Tangannya tak berhenti mengelus puncak kepala Hinata. Sesekali ia mengajak bicara, meski hanya gumaman tak jelas yang jadi respon. Setelah beberapa menit berlalu, saat Hinata sama sekali tak memberi respon apa pun pada yang Sasuke ucapkan, bungsu Uchiha itu menghela nafas panjang.

Rinnegan dan Sharingan telah aktif.

Matanya tajam, menatap pada sosok serba hitam yang selalu mengikuti Hinata akhir-akhir ini. Sosok itu balas menatap tajam. Jarang sekali ada yang bisa melihatnya.

"Siapa kau?" tanya Sasuke, rendah dan mengancam.

.

.

.

Lima kage duduk melingkar. Topi kebesaran mereka terletak di meja yang juga berbentuk bundar. Duduk kelimanya sudah tak nyaman. Sesekali Tsunade menghentakkan kuku-kukunya ke atas meja. Gaara sudah berkali-kali menukar posisi duduknya, begitu pula Tsuchikage yang sudah mulai sakit pinggang. Jika bisa, Mizukage cantik itu ingin bercermin dan menambah polesan bedaknya. Ia yakin rapat yang berputar-putar ini tak baik untuk kulit.

"Kita bisa melakukan votting" ujar Raikage tak sabaran.

"Kita harus membincangkannya lebih dahulu supaya tak mengambil keputusan yang salah" nasehat Tsuchikage.

"Bocah Hyuuga itu tidak akan sanggup menahan segel dunia itu lebih lama. Akatsuki juga pasti akan memanfaatkan situasi kalau informasi ini sampai bocor"

"Bicara tentang Akatsuki, apa sudah ada pergerakan lebih lanjut?"

"Dari sepuluh orang tim mata-mata paling handal yang kukirim, hanya satu yang berhasil selamat. Akatsuki sudah membuat markas dan membangun pasukan. Kemungkinan besar menggunakan jurus yang hampir sama dengan zetsu putih sewaktu perang kemarin"

"Apa ada cara lain mengaktifkan segel itu tanpa kunci?"

"Apa maksudmu?"

"Sudah berapa lama semenjak surat itu dikirim, namun Akatsuki sama sekali tidak menunjukkan indikasi untuk mencoba mengambil segel dunia. Bahkan perjalanan Hinata ke sunagakure waktu itu memiliki banyak celah untuk penculikan."

"Apa kau bilang ada yang sengaja membuat celah di misi itu?"

"Jangan memicu kecurigaan diantara kita! Kita harus tetap percaya satu sama lain. Bukankah kita sudah berhasil menekan segala ego dan dendam masa lalu untuk memenangkan pertempuran dengan Marada!"

"Tenanglah! Ada hal lebih penting yang harus kita bahas sekarang! Akan kita apakan segel dunia itu?"

"Apa yang akan terjadi kalau kita membunuh wadahnya?"

Satu pertanyaan itu berhasil membuat meja pertemuan hancur. Kepalan tangan Tsunade gatal ingin menyapa wajah dari mulut lancing barusan. Pasir sang Kazekage bahkan sudah membentuk pisau yang siap menghunus leher.

Raikage menelan ludahnya.

"Aku hanya bertanya!" belanya.

"Pertanyaan yang tidak penting!" balas Tsunade.

"Opsi yang tak akan pernah kita lakukan!" lanjut Gaara.

"Hentikan tindakan kekanak-kanakan kalian!" lerai Tsuchikage.

Gaara dan Tsunade sama-sama menarik diri. Mereka kembali duduk, meskipun kini tanpa meja yang membatasi.

"Hinata bilang kalau ia bertemu dengan kakak dari legenda itu. Dia membuat Hinata meminum sesuatu. Sejak itu Hinata baru sadar bahwa ada yang berubah dari tubuhnya, bahwa segel itu perlahan mulai melemah. Hinata terpaksa menekan kekuatan segel itu dan melampiaskan kehancuran pada dirinya sendiri" ujar Tsunade.

"Tunggu! Bukankah segel itu hanya akan aktif jika ada kunci dunia?"

"Aku khawatir sang kakak dari legenda itu justru adalah senjata utama Akatsuki."

"Benar juga! Akatsuki terlalu santai jika memang mereka sudah tahu siapa yang membawa segel dunia. Mereka pasti akan mati-matian medapatkan Hinata di tangan mereka jika mereka tidak punya rencana lain!"

"Bisa juga kita anggap bahwa kunci itu yang datang mendekati segel, benar?"

"Jadi maksudmu, dari awal, segel dan kunci dunia itu sudah berdekatan! Bukankah itu berbahaya?"

"Itu hanya asumsi! Tapi kita juga harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."

"Bagaimana dengan informasi bahwa kunci itu ada di labirin bawah tanah Konoha?"

"Sama seperti segel dunia yang butuh wadah, kunci dunia pun begitu. Bisa jadi yang dilihat oleh Hinata saat misi ke Sunagakure adalah bentuk non fisis dari kunci dunia."

Kelima kage terdiam beberapa saat. Semuanya kembali mencermati informasi dan perdebatan panang mereka sedari tadi. Gaara telah memutuskan, apa pun yang terjadi, ia akan melindungi Hinata. Melindungi kewarasannya sendiri. Ia tidak yakin ia bisa tetap waras jika suatu hal yang buruk terjadi pada gadis itu.

"Bagaimana jika kita mengirim tim untuk mencari wadah dari kunci dunia?" saran Tsuchikage.

"Benar juga. Kita harus memastikan apakah yang ada di labirin bawah tanah Konoha adalah wadah dari kunci dunia atau bukan. Juga, kita harus mengorek lebih banyak lagi informasi dari gadis Hyuuga itu" tambah Mizukage.

"Kita akan mengiri tim terhandal, bahkan Uzumaki dan Uchiha jika perlu. Selagi tim itu mencari kunci dunia, segel dunia harus diamankan dari jangkauan akatsuki. Aku khawatir akatsuki memang sengaja mengulur waktu supaya kita menemukan segel dan kunci dunia, dan mereka hanya tinggal merebutnya dari kita tanpa perlu bersusah payah mencari." ujar Raikage.

"Aku ingin ada jaminan keselamatan untuk wadah segel dunia" ujar Gaara.

"Tentu saja kita tak bisa membiarkan wadah segel dunia mati. Jika hal itu terjadi, kita bisa lebih repot jika-jika segel itu diwariskan pada non-shinobi, atau pun pada orang lain yang berniat jahat" lanjut Tsunade.

Kelima kage saling tatap.

"Sepertinya kita telah mencapai kesepakatan".

Gaara menggeram kesal. Egonya berkata tidak setuju, meski akalnya bilang keputusan ini adalah yang paling logis. Kemudian waktu, Gaara memutuskan untuk memberitahu Hinata tentang keputusan yang menyebalkan ini.

.

.

.

Sasuke menggeram kesal saat Shikamaru memberitahunya tentang misi mencari kunci dunia. Dia tidak ingin pergi. Apalagi saat ia menjalankan misi itu, Hinata akan diasingkan di pulau bergerak milik aliansi shinobi. Gadis Hyuuga itu hanya akan pergi dengan segelintir shinobi yang tidak Uchiha itu percayai. Hanya Sakura dan Sai, dua orang dari sepuluh shinobi yang bakal pergi mengawal Hinata.

"Aku tidak ingin pergi" ujar Sasuke.

Sasuke dan Hinata kini duduk berdua di teras depan kediaman sang Uchiha. Gadis itu sengaja datang –kali ini dengan izin rumah sakit, membawa sekantong pelastik besar bahan makanan dan mulai memasak. Kali ini sup tahu tanpa tomat. Sasuke sedikit merajuk saat makanan favoritnya tidak ada dalam panci. Sebagai gantinya, Hinata memasak puding vanilla, makanan penutup yang kini mereka nikmati sambil melihati langit yang mendung.

"Kau terdengar seperti ninja yang manja, Sasuke-kun" balas Hinata tertawa kecil.

Sasuke masih memberengut. Dia ingin bilang alasannya tak ingin pergi. Dia ingin bilang ia khawatir. Tapi. Tapi egonya sebagai Uchiha menahan mulutnya mengatakan hal-hal memalukan seperti itu.

"Aku sebenarnya juga tidak ingin pergi" lirih gadis itu, nyaris tak terdengar.

Tangan Sasuke sontak memgangi bahu sang gadis. Matanya menyala.

"Kau tidak harus pergi kalau kau tak ingin!"

Hinata tak sadar ia mulai menangis. Air matanya luruh begitu saja, bersamaan dengan tetes hujan pertama yang mengenai puncak hidungnya. Keduanya tak bergerak untuk berteduh. Bahkan dalam pemikiran keduanya, hujan tidak mendapat porsi sedikit pun. Otak mereka sudah terlalu disibukkan oleh misi yang sangat tidak menyenangkan. Hinata paham bahwa kekuatan penghancur di dirinya adalah ancaman. Ia pun tidak ingin menyakiti siapa pun. Lebih baik ia diasingkan, dibuang ke ujung dunia, supaya saat ia tak sanggup lagi menekan kekuatan ini, tidak ada seorang pun yang bakal ia lukai.

Supaya ia tak perlu merasakan lagi kehilangan.

Sasuke justru berfikir sebaliknya. Kekuatan macam apa pun yang ada pada gadis itu, ia yakin ia bisa mengatasinya. Ia Uchiha terakhir! Pemilik Rinnegan dan Sharingan di kedua belah matanya. Bersama Naruto ia sudah berhasil mengalahkan Madara, mengalahkan Kaguya. Ia salah satu pemuda paling kuat di dunia. Ia bisa mengatasinya. Ia ingin mengurung gadis itu di rumahnya, menjaganya dari seluruh yang bakal menyakitinya.

Supaya ia tak perlu merasakan lagi kesepian.

"Sakit!" rintih Hinata memegangi dadanya.

Sasuke tersentak. Gadis itu terlihat kesulitan bernafas. Tubuhnya basah kuyup, dari helai rambut panjangnya air menetes. Sasuke melihat gradasi merah dari hidung gadis Hyuuga. Dia mimisan. Sasuke cukup sadar bahwa mimisan adalah pertanda bahaya bagi gadis itu.

Rinnegannya aktif. Tangannya telah menyelip di sela lutut dan tengkuk gadis itu. Hinata masih merintih, namun ia terlihat tak sadar dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Sasuke bahkan yakin gadis itu tak sadar bahwa ia telah berada di depan portal yang dibuka si Uchiha.

"Waktunya sudah dekat" ujar sosok hitam yang dari tadi mengintip dari sela jendela rumah. Yami. Dia tersenyum melihat Hinata yang tiap detik kian memucat.

"Singkirkan tanganmu, Bedebah!" geram Sasuke.

"Kau tak akan bisa mencegahku, Bocah! Dia adikku!"

Sasuke menghentak, membuat sosok hitam itu terpaksa mundur dua langkah. Sasuke bergegas masuk ke portal, membawa Hinata dalam pelukannya. Sosok itu telah mengganggunya sejak kemarin-kemarin. Bahkan saat di rumah sakit ia bertanya siapa, sosok itu hanya menjawab ia adalah kakak Hinata. Jawaban paling menggelikan yang pernah Sasuke dengar. Namun ajaibnya, mereka sama sekali tak bisa melakukan kontak fisik. Waktu itu Sasuke mencoba mengayunkan pedangnya ke leher bedebah itu. Namun pedang itu malah hanya mengiris udara. Sosok itu berdiri tanpa satu pun goresan.

Satu-satunya hal yang membuat Sasuke tidak kesetanan mencari cara menyingkirkan sosok itu, hanya karena dia sepertinya tidak memiliki niat melukai gadis Hyuuga. Justru sebaliknya, sosok hitam itu justru terkesan menjaga.

Sakura tampak terkejut dengan kedatangan yang mendadak itu. Tapi pengalaman sebelum-sebelumnya membuat Sakura tahu apa yang harus segera ia lakukan. Iryo nin itu menyiapkan kantong-kantong darah. Seorang perawat bergegas memanggil Shizune. Kondisi Hinata tidak seburuk saat ia tumbang sehabis pemakaman Neji. Tsunade belum perlu turun tangan.

.

.

.

To Be Continued