Disclaimer Eita Mizuno und Kyo Shirodaira
Warning OOC pake BGT, OC, Normal (phantomhive) POV, gaje, miss-typo dll
.
.
Meine Rache
.
.
Hampir dua tahun telah berlalu sejak saat itu. Kini semuanya telah terkendali, tak ada perburuan Blade Children oleh para hunter. Semuanya kembali seperti semula. Kiyotaka pun menjalani hidupnya seperti kebanyakan orang biasa. Kini ia sedang menyiapkan sarapan untuk istrinya, Madoka. Setelah Madoka terbangun dari tidurnya, mereka sarapan bersama. Canda tawa mereka menghidupkan apartemen tempat mereka tinggal. Tiba-tiba Kiyotaka mendapati handphone miliknya berbunyi. Ia pun segera mengangkat telepon yang ditujukan padanya.
.
.
Setahun telah berlalu, Hizumi sedikit terkejut mendengar berita yang sangat menyedihkan dari mulut Kiyotaka, yang datang menjenguknya. Matanya yang sedari tadi memandangi layar televisi kini beralih memandangi Kiyotaka. Kiyotaka memandangi Hizumi dengan sangat prihatin. Tak ada satu pun yang bicara, Hizumi masih berfikir mengenai berita yang dibawa Kiyotaka, setelah ia yakin bahwa itu adalah kebenaran, ia pun berbicara dengan terpatah-patah.
"Jadi… seperti itu ya?" kata Hizumi.
Kiyotaka mengangguk, "Nah.. Hizumi-kun, apa kau ingin pergi bersamaku ke acara pemakaman Iris-chan?" tanya Kiyotaka.
Hizumi terdiam. Ia pun segera mematikan televisi yang sedari tadi menyala. Kiyotaka masih diam menunggu jawaban dari pemuda yang kini bersedia menjadikan tubuhnya sebagai percobaan untuk meneliti obat bagi dirinya dan Ayumu. Sang pemuda bermanik emas itu memandangi telapak tangannya yang bergetar. Ingin rasanya ia menjawab 'ya'. Sayangnya, tubuhnya sudah tidak mendukung bila ia mengatakan hal itu. Dengan berat, ia pun menjawab ajakan Kiyotaka.
Hizumi pun menggeleng, "tidak… lagipula Iris-chan tak mungkin dimakamkan di Jepang, kan?" tanya Hizumi lagi.
"Sebelum meninggal, Iris-chan meminta agar ia dimakamkan di mansionya di Jepang, Hizumi." Jawab Kiyotaka yang tak membenarkan perkataan Hizumi.
"Tetapi… tetap saja aku tidak boleh keluar dari rumah sakit, kan?" sahut Hizumi, ia mengalihkan pandangannya ke arah langit melalui jendela ruangannya.
"Itu benar, tapi.."
"Tak apa, Kiyotaka~ pergilah~ aku akan baik-baik saja," ucap Hizumi memotong pembicaraan Kiyotaka.
Kiyotaka pun tak ingin mengusik Hizumi lagi, ia berniat meninggalkan Hizumi sendiri, "Hizumi-kun, kata Iris-chan, ia sangat ingin dimakamkan di sampingmu…"
"Kalau begitu makamkan aku nanti di sana sahut Hizumi dengan enteng, sembari tersenyum. Walaupun Kiyotaka tahu itu adalah senyum palsu untuk menutupi kesedihannya. Tak lama setelah itu, Hizumi sudah tak bisa menahan air matanya yang telah menumpuk di pelupuk matanya sedari tadi.
Kiyotaka tersenyum tipis ketika melihat air mata yang mengalir melalui pipi pemuda berambut mint itu. Pria yang berpakaian serba hitam itu pun beranjak dari kamar Hizumi. Kini Hizumi sendirian, ia memandangi langit pagi itu dengan memancarkan kesedihan yang ia luapkan dari tangisannya.
"Iris…chan…" panggilnya.
Hizumi pun mengingat kejadian kemarin hari saat ia bermain ke kamar Iris. Sudah satu bulan Iris sama sekali tidak beranjak dari tempat tidurnya. Kondisinya semakin melemah. Bahkan ia tidak diperkenankan untuk berjalan-jalan di rumah sakit menggunakan kursi roda miliknya.
.
.
"Iris-chaaan~ aku datang berkunjuuung!" seru Hizumi yang segera masuk ke dalam ruangan Iris. Hizumi diantar oleh seorang perawat yang mendorong kursi roda yang Hizumi duduki. Setelah Hizumi memasuki ruangan rawat Iris, perawat itu pun segera pergi.
"Kau datang lagi hari ini.. Hizumi.." sahut Iris dengan lemah. Ia sedang bersandar di tempat tidur yang bagian atasnya ditinggikan. Kini Iris 'terlihat' sedang duduk.
"Iya.. aku pasti menepati janjiku, Iris-chan!" ucap Hizumi.
Mereka tertawa kecil. Hizumi menghabiskan waktu luangnya bercerita mengenai game dan komik yang ia baca di kamarnya. Sementara Iris hanya bisa tersenyum dan tertawa sesekali. Walau sepertinya membosankan berada di ruangan cukup sempit itu, namun mereka sangat menikmati waktu yang mereka lewati berdua.
"Hizumi, sudah siang…" kata Iris dengan suaranya yang kecil, "kau sudah harus kembali ke ruanganmu.." lanjutnya.
"Nggak maaaau!" sahut Hizumi, kemudian ia menggenggam tangan Iris, "Aku mau di sini!"
Iris tersenyum kecil, "Hizumi…"
Hizumi mencoba berdiri dari kursi rodanya. Hal itu membuat Iris terkejut, karena Hizumi berjalan perlahan, tubuhnya ditopang oleh tiang infuse yang beroda yang ada di sebelah kursi roda Hizumi. Lalu ia duduk di tempat tidur Iris. Manik emas Hizumi memandangi wajah Iris yang terlihat sangat pucat itu. Firasat Hizumi mengatakan bahwa tak lama lagi, ia akan berpisah dengan Iris. Tangan Hizumi menyibak rambut Iris yang menghalangi wajah manis gadis bermanik merah muda itu.
"Nee~ Iris-chan… apa impianmu?" tanya Hizumi tiba-tiba.
Iris tersenyum kecil, "aku ingin Hizumi ada di sampingku seperti ini…" jawab Iris dengan sebuah tawa kecil yang membuat Hizumi heran.
"Yang lainnya?" tanya Hizumi lagi.
"…Hmm.. apa ya?" sahut Iris, "Aku… ingin bisa menikah dengan Hizumi, tapi…. Aku tahu... itu hanya impian yang sangat mustahil.." lanjut Iris, kini matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam.
Hizumi terdiam mendengar impian dari Iris. Ia memandangi tubuh gadis yang sangat ia cintai itu, begitu pucat dan terlihat lebih kurus dari pada sebelumnya. Hizumi mencoba menggeser tubuhnya lebih dekat lagi dengan Iris.
"Iris-chan…" panggil Hizumi pada Iris, "…Aku juga ingin menikah denganmu" lanjutnya, "namun…"
"Daijoubu yo, Hizumi… aku mengerti, seperti ini saja sudah membuatku sangat senang." Jawab Iris yang tersenyum tipis.
Hizumi tersenyum dan pemuda itu mencium kening Iris dengan lembut. Iris sangat senang, ia ingin bersama dengan Hizumi yang sangat ia cintai selamanya. Namun sepertinya tidak bisa seperti itu. Di dunia ini tidak ada yang abadi. Pemuda itu pun kembali ke posisinya semula, duduk di kursi rodanya. Hizumi menggenggam tangan Iris erat dan ia terus memandangi Iris dengan senyumannya.
"Hizumi…" panggil Iris lagi, "Kini aku sadar… selama masih ada harapan di hati, manusia dapat keluar dari kegelapan dirinya. Sepertinya, itu yang aku rasakan saat aku bertemu Hizumi. Harapanku adalah Hizumi, Iya, Hizumi adalah matahari yang selalu memberi cahaya padaku sehingga aku bisa mengubah hidupku…" ucap Iris yang membuat hati Hizumi terenyuh.
Hizumi hanya tersenyum dan menyandarkan keningnya di kedua tangannya yang terus memegangi tangan kanan Iris. Ia dan Iris sama saja, menganggap masing-masing dari mereka mentari hidupnya. Seakan mereka tak akan bisa hidup tanpa satu sama lain.
"Hizumi… kurasa hidupku benar-benar berubah… walau pun aku seperti ini, aku rasa… hidupku lebih indah dari dulu… arigatou, Hizumi…"
.
.
Hizumi kembali terlarut dalam kesedihan ketika ia mengingat hal itu. Ia menidurkan tubuhnya dan membiarkan tangisnya semakin menjadi-jadi. Andai saja suatu saat mereka terlahir kembali, Hizumi berjanji akan mewujudkan impian Iris yang saat ini sangat mustahil itu. Kini Hizumi benar-benar merasa sendirian. Tetapi ia berfikir, untuk apa dipusingkan toh sebentar lagi ia akan menyusul Iris.
Setelah pemuda itu tenang, ia pun mengambil harmonika kesayangannya yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia pun memainkan sebuah lagu 'fields of hope' yang menggambarkan harapan dan keyakinan. Belum-belum lagu itu sampai pada puncaknya, Hizumi tak kuasa melanjutkan lagu itu. Ia kembali menangis dan menangis.
.
.
Beberapa bulan kemudian, kondisi Hizumi sudah semakin buruk. Obat-obatan yang merupakan 'penyambung hidupnya' sudah tak mampu untuk menolongnya. Kini Hizumi hanya bergantung pada takdir. Mati sekarang pun tidak apa, mungkin Hizumi berfikir seperti itu. Ia sama sekali tak bisa melakukan apa-apa sekarang. Hanya tidur di atas tempat tidur dan tidak bisa berjalan-jalan lagi seperti yang ia lakukan dulu.
Terdengar suara pintu kamarnya dibuka. Ia mendapati Kiyotaka yang masuk ke ruangannya itu. Nampaknya Kiyotaka membawakan buah-buahan yang dapat memberikan energi untuk tubuh. Hizumi masih bungkam dan malas menyapa pria itu.
"Yo! Hizumi-kun! Mau aku kupaskan apel?" tanya Kiyotaka sambil tersenyum.
"Tak usah pak tua… kau kira aku akan memaafkanmu dengan kau seperti itu?" jawab Hizumi dengan pedas. "Lebih baik kau jenguk saja adikmu itu, si Ayumu~"
"Ahaha~ iyaya.. aku tahu, karena aku tak pantas untuk dimaafkan.." sahut Kiyotaka yang segera mengupaskan apel untuk Hizumi.
"aku… bercanda, Kiyotaka-san" kata Hizumi, "aku sudah memaafkanmu"
Kiyotaka terkejut, pria itu menjatuhkan apel yang akan ia kupas. Ia dikejutkan lagi dengan Hizumi yang tersenyum ke arahnya dengan sangat lepas dan tanpa beban. Hal yang sama yang pernah ia lihat saat ia menjenguk Iris beberapa bulan yang lalu, sebelum gadis itu meninggalkan dunia ini selamanya.
"Aku heran dengan kalian berdua.." kata Kiyotaka, "Kau dan Iris bisa semudah itu memaafkan diriku.. hebat" lanjut Kiyotaka yang memuji Hizumi dan Iris.
"Itulah kami hahaha" sahut Hizumi yang kemudian tertawa.
Kiyotaka tersenyum, ia beranjak untuk mengambil apel yang telah menggelinding jauh dan berhenti di bawah westafel. Pria itu pun mencuci apel tersebut. Sementara Hizumi hanya memandangi langit-langit ruangan dan kembali terdiam. Ya, Hizumi kini berubah. Ia tak banyak bicara seperti dulu. Lebih banyak melamun akibat kematian Iris.
"nee… Kiyotaka-san.." panggil Hizumi, "bisakah aku meminta sesuatu padamu?"
Kiyotaka yang sedang mengelap apel pun berjalan mendekati Hizumi, "apa itu, Hizumi?" tanya pria itu.
"Bisakah aku dimakamkan di samping makam Iris?" jawab Hizumi yang berhasil membuat Kiyotaka tertegun padanya.
.
.
Madoka yang melihat Kiyotaka terdiam dan berwajah pucat pun heran. Wanita itu pun penasaran dengan kabar yang Kiyotaka terima dari telepon itu. Dengan ragu sang wanita berambut hitam sepundak itu menepuk pundak Kiyotaka. Membuat sang suaminya yang telah kembali tersadar dari lamunannya. Madoka memandangi suaminya itu dengan rasa khawatir dan ia pun mulai bertanya.
"Ada apa?" tanya Madoka dengan lembut.
Kiyotaka menghela napas panjang, "Mizushiro Hizumi… telah menghembuskan nafas terakhirnya…" jawab Kiyotaka yang entah mengapa merasa bersalah.
"…Sebaiknya Ayumu mengetahui hal ini.." kata Madoka, wanita itu pun mengelus lembut bahu Kiyotaka.
Kiyotaka mengangguk, "Ya… tetapi sebelum itu, aku harus mengurus pemakaman Hizumi-kun…" ujar Kiyotaka.
Pria berambut coklat itu pun segera beranjak pergi ke rumah sakit. Sementara Madoka hanya memandangi Kiyotaka saat pria itu keluar dari apartemen mereka. Madoka tertegun, sedikit tidak percaya kalau teman seperjuangan Ayumu kini sudah tidak ada. Namun, berkat Hizumi yang rela menjadi 'kelinci percobaan' para dokter, Ayumu bisa hidup lebih lama lagi.
.
.
Why am I standing alone in the twilight,
Let me go, no more lonely nights,
I take a deep breath under the hazy sky,
Feel like losing, but it's gonna be alright.
Break through the night, go and try to fight,
Don't be afraid, now is the time.
Be alive, take it,
I surely feel my heartbeat,
There's no limit to my reach.
I say good-bye to my tears that I don't need,
So believe in my dream.
.
Iris suatu saat nanti, kita pasti bertemu lagi. Dan saat itu, dunia tak seperti yang kita jalankan sekarang. Aku yakin, dunia akan lebih indah dari pada saat ini. Lalu, bila saat itu tiba, aku akan mengabulkan impian terbesarmu itu… bersama-sama, selamanya.
.
Don't look back to the sorrow I left behind,
Here's my real intention I hide,
I wish you were here, and so just right by my side,
Need to be strong enough to swallow my pride.
I have been looking for my own style,
Don't give it up, here comes the life.
Be alive, take it,
I have learned a great deal,
Brighten our sweet memories.
Hope there will be a future for you and me,
So believe in your dream.
Be alive, take it,
Promise to find, yes I will,
Shining wings filled with wishes.
Fly high, make it,
Get to the new world that I seek,
Someday, so I believe.
.
.
Meine Rache Ende
.
.
Moooo~ akhirnya meine rache selesai jugaaaa~ tiga tokoh utama mati! BANZAAAAAAI! BANZAAAAI! Adilkan? XD kyahahaha pertama Kanon yang dibunuh Hizumi, kedua Iris dan ketiga Hizuminya sendiri~ kyahahaha XD akhirnya mereka nggak bisa bahagia~ dan apa itu? Impian Iris… huh! Membuatku iri =3=)… ah abaikan~
Ah iya! Saatnya buka kartu mengenai judul~ judulnya itu aku ambil dari bahasa jerman yang berarti My Revenge Dendamku~ begitu~ kenapa dendam? Soalnya di sini menggambarkan dua dendam~ yaitu dendam Iris pada Kanon dan Hizumi pada Kiyotaka dan kakaknya. Rada nggak jelas sih iya =w=)a aku juga heran kenapa setiap bikin fic di fandom ini sendirian… pasti nggak jelas XD
Terus di tengah-tengah make nyisipin lagu 'fields of hope' dan di akhir 'euphoric field' lagi! Itu lagu sama sekali nggak ada kaitannya sama Spiral~ yaaah~ tapi nggak apalaaah~ yang penting gaje #plak tapi artinya nyambunglaaah menginginkan harapan=w~
Akhir kata…. Terima kasih sudah baca fic-ku sampai tamat! Jangan lupa reviewnya~ XD *bows*
Bonus#plak
Beneath the veil of starry sky
As cold as winter's darkest night
It's there you're sleep, silent and deep
You're all alone
A single prayer's soft melody
Across the lonely silent fields
A little light begins to shine, it shines on and on
I watched you as you so peacefully dreamed
You laughed like a child, happy and care free
It's so familiar and yet so far
That's the future is promised for you and me
One day on a green and shining morn
One day we will finally make through
Cause in this sky, so dark with winter
We still have to believe that it's true
Fields of hope
