- Quarter 10 : "Before Final" -

.

.

Tim CRACK tampak terkejut atas seluruh point yang dimasukkan tim HERO secara terus-terusan. Himuro melakukan Mirage Shoot. Namun, Ryuuki dapat dengan mudah memblocknya. Kiyoshi berkali kali kalah bersaing rebound dengan Satoshi, yang ternyata lompatannya lebih tinggi dari lompatan orang biasa. Haizaki tidak mampu mengcopas tehnik pemain HERO, sementara gerakannya sudah di baca oleh Shouta, yang saat itu dalam posisi Eagle Eye. Hotarou dapat dengan mudah mencetak angka di luar garis tengah, membuat Hyuuga stress sendiri. Mayuzumi sendiri, geram saat menyadari bocah tengil yang di jaganya, hilang-dan-muncul secara tiba tiba.

"Mereka... lebih hebat dari yang kita duga" ucap Hyuuga sambil mengusap keringatnya. Kiyoshi menepuk punggung Hyuuga keras keras, membuat pemiliknya kesakitan.

"Sudahlah, Hyuuga. Let's Have Fun~"

"Have Fun gundulmu!"

.

.

Aoki mengemasi barang barang yang ia keluarkan dari tasnya. ia melirik ke arah belakangnya, dimana papan skor terlihat dengan jelas. Ia tersenyum kecil dan mengangkat tasnya itu. "Sekarang... tinggal Final, ya?" bisiknya sambil tersenyum. Ryuuki menepuk nepuk rambut Aoki beberapa kali, "Sudahlah. Ayo pulang" ucap Ryuuki yang diangguki Aoki.

Pada papan skor, tertulis 308-49

.

.

- Maji Burger -

.

.

"Lawan Semifinal ini lumayan susah~ssu! buktinya saja mataku sampai mau keluar~ssu!" ucap Shouta sambil mengompres matanya dengan es batu. Saika terkekeh geli dan tersenyum super manis pada Kanata. "Kurasa harusnya mata Kanata yang keluar~ agar ia tidak melirik wanita lain" ucap Saika dengan nada psikopat.

Satoshi menjatuhkan lolipop yang sibuk di makannya. Ryuuki berwajah datar seolah tidak peduli, Shouta menjerit kaget, Hotarou menaikkan kacamatanya, Taku memuncratkan minumannya. Konomi tertawa kecil melihat reaksi berlebihan kelima pemain yang tidak sempat melihat penyataan cinta seorang Aomine Kanata. Kanata menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tanda ia malu. "... Yah... begitulah..." ucapnya sambil memegang bahu Saika dan mengajungkan tangannya, membuat simbol peace.

"Mulai hari ini Aomine Kanata sudah pacaran dengan Kagami Saika"

Ryuuki tampak tersenyum singkat. Ia kemudian berdiri dan mengangkat kerah pakaian Kanata, membuat semuanya kaget sekaligus was-was, takut terjadi pertumpahan darah di tempat makan itu. "Aku tidak melarang kalian untuk pacaran. Hanya saja ada beberapa peraturan yang kubuat untuk calon adik iparku yang dekil ini"

"Kalian masih SMP dan SD. Kalian kularang dengan keras menikah setelah lulus SMP. Minimal pendidikan calon adik iparku itu sarjana." ucap Ryuuki dingin, sedingin es batu yang menjadi kompresan mata Shouta. Kanata cepat cepat mengangguk. Entah mengapa ia merasakan hawa buruk bila menggeleng pada sosok calon kakak-iparnya saat ini.

"Kedua, Aku tidak mau adikku hamil muda gara gara bocah bejat ini" sekali lagi Kanata mengangguk. Ryuuki menurunkan tarikannya pada kerah baju Kanata. Semuanya bernafas lega, tidak terjadi pertumpahan darah di restoran langganan mereka. Ryuuki kemudian menatap ke arah Taku dan menunduk dalam dalam.

"Mohon bantuannya, kakak ipar"

Shouta pingsan, kacamata Hotarou retak, Satoshi menjatuhkan kentang yang tengah dimakannya, Reiichi memecahkan cangkir kopi yang diminumnya, Konomi dan Saika dengan tatapan blink-blink, Kanata bersiul riang, Taku freeze di tempat, Aoki membuang muka ke arah lain

"Sejak kapan kalian pacaran?!"

"... Sejak Ryu lulus SD"

"Kenapa tidak bilang bilang?!"

"Nanti kalian semua pasti syok ataupun teriak alay"

"SUDAH PASTI LAH!"

.

.


.

.

- Di Lapangan Streetball -

Peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi. Phantom merasakan tubuhnya sedikit bergidik, entah mengapa. Ia segera mengambil ponselnya dan melihat e-mail baru yang masuk.

.

From: Kuroko Takuya

Subject: Berita

Tou-san, Aoki berpacaran dengan Ryu.

.

Phantom menutup ponselnya dan menepuk punggung Light, membuat sang empunya menoleh. "? Ada apa Phantom?" tanya Light heran. Phantom kemudian tersenyum singkat. "Kita akan jadi besan. Ryuuki-kun dan Aoki berpacaran" dan Light melongo dan kemudian kaget dengan wajah tidak elitnya

"Sudahlah. Yang penting tim ini masuk ke final~ssu!" seru Xanthous riang. Verdant menaikkan kacamatanya. "Itu sudah pasti. Lagipula lihat saja papan skor" ucap Verdant. Xanthous bersiul dan menatap ke arah papan skor.

0-431

"Perhatian kepada seluruh pengunjung, minggu depan akan ada pertandingan Final antara tim MIRACLE dengan tim HERO. Diharapkan kedua tim siap bertanding minggu depan. Sekian pengumuman, terima kasih"

Ketujuh pria itu tersenyum mendengar isi pengumuman yang di tujukan pada tim mereka itu. Red melipat kedua lengannya di depan dada sementara Ross membagikan 7 buah kertas berisi seluruh data tim HERO secara lengkap.

"Dari postur tubuh mereka, mereka tidak mungkin mampu menang melawan kita." ucap Ross dan kemudian menyambungnya, "Tapi, saat ini, mereka baru mengeluarkan 50% dari kekuatan asli mereka. Entah bagaimana bila mereka mengeluarkan seluruh kekuatannya. Saranku saat ini hanya berhati hatilah. mereka mungkin memang masih anak kecil. Tapi jangan meremehkan mereka"

.

.


.

.

Taku merebahkan tubuhnya di atas kasur kamarnya. Tubuhnya terasa remuk sehabis di lindas truk. Sepulang dari Maji Burger tadi, mereka mengadakan latihan hingga lewat tengah malam. Untung saja kaa-sannya baik, menungguinya hingga pulang. Taku kemudian memejamkan matanya, mencoba untuk tidur

1 detik

2 detik

3 detik

"ARGH! AKU NGGAK BISA TIDUR!" rutuknya kesal sambil melempar bantal ke lantai kamarnya. Membuat bantal tak berdosa itu tergeletak pasrah di lantai. Taku menggerutu kesal. besok adalah pertandingan final dan ia mampu merasakan kalau seluruh tubuhnya gemetaran atas intimidasi permainan ketujuh pemain tim lawannya itu. Ia sendiri tidak ragu untuk menyatakan bahwa dirinya cukup takut dengan tim Internasional itu.

Setelah rasa kesalnya hilang, Taku kemudian membuka ponselnya. Entah apa yang merasukinya, Taku menekan nomor ponsel Konomi.

Tuuut... tuuut...

'Pasti Konomi sudah tidur, ya? Lagipula ngapain aku meneleponnya? Dia pasti capek gara gara menemani kami latihan...' batin Taku dalam hati. Ia sendiri bingung mengapa dirinya memutuskan untuk menelepon Konomi.

"Halo?"

Pipi Taku memerah. Ia tadi yakin 100% kalau Konomi sudah tidur... tapi kenapa Konomi menjawab teleponnya?

"Kamu Taku, kan? Ada apa meneleponku?"

"A-ah! Maaf menganggu waktu tidurmu..."

"Tidak apa apa. Aku sendiri tidak sedang tidur, kok. Aku sedang meneliti data data mengenai tim yang akan menjadi lawan kita di final nanti"

"Souka... pasti mereka kuat-kuat, ya?"

"Kalau menurutku, tim MIRACLE bukanlah lawan yang mudah... karena pada dasarnya mereka pemain dari tim Internasional"

Taku melongo sejenak. Ia memang kagum atas permainan tim lawannya itu... tapi ia sama sekali tidak sadar kalau lawan mereka yang berikutnya merupakan pemain dari tim Internasional.

"Tunggu, tunggu! Apa maksudnya tim Internasional tadi?! Mereka beneran seorang pemain basket pro?! Kita baru 1 SMP, woi!" cetus Taku tidak terima sekaligus kesal. Jelas saja... ada kemungkinan mereka dibantai seperti lawan semifinal tim MIRACLE tadi... dibantai habis bis bis...

"Hahaha... kau takut, ya? Tidak seperti biasanya seorang Kuroko Takuya ketakutan... padahal kamu sangat berani dan percaya diri ketika melawan tim tim lain."

"Yah, yah... tertawalah sesukamu sekarang!" ucap Taku setengah kesal. Jelas saja ia bisa takut. Taku kan manusia juga... (Bukannya dia monyet? #di ignite pass Taku)

"... Lalu, apa yang kamu takutkan?"

Suara Konomi melembut. Taku menggeratkan genggaman tangannya pada ponsel miliknya.

"... Jangan katakan ini pada siapapun... aku hanya akan berkata padamu saja"

"Baiklah... aku mengerti.. ceritakan saja."

"Melalui pengamatanku atas game mereka tadi, aku yakin kalau Paman Phantom adalah penemu Misdirection..."

"ya... dia sangat ahli dalam Misdirection... tapi kenapa?"

Taku menunduk. Rambut gelapnya menutupi bagian matanya.

.

"Misdirectionku... tidak bisa di gunakan untuk melawan tim MIRACLE"

.

"Eh?"

.

.

TBC


.

Gomennasai atas keterlambatan apdettt! Lagi lagi author telat update... Gomennasai, Reader-samaaaaaaa! *bows berkali kali*

Yaaaah... chapter kali ini kesannya kayak free time mereka... chapter depan udah final kok! Gomennasai kalau di chapter ini banyak lope-lopenya... entah kenapa Author suka banget sama romance...

Yoshaaa! Arrigatou bagi sudah membaca chapter ini~~ seperti yang selalu saya minta, tolong Reviewnyaaaa~~~!

.

- PriscallDaiya -