The Impression

Author: Hoshi Yutaka

Part: 8/…

Rating: PG

Genre: romance, slight humor

Pairing: too lazy to tell

Warnings: none

Disclaimer: well, uh… you know, the usual…

Comments: my mind was wandering again, creating some wild imaginations and now I'm turning them into this

Teaser: "when I heard about Ruki that he formed a group called Gazette, I thought he wanted to form a journalist or newspaper club instead of a band"

Current music: The Corrs - Breathless

"hanya itu yang akan kau lakukan disana? berdiri di depan kandang hamster dan mengintip isi rumahnya seperti seorang pencuri biji bunga matahari?" Avaron menyindir Shou dari ujung lorong ketika dia melihat Shou tidak bosan-bosannya memperhatikan Akito dan Airi tidur di dalam rumah kandang hamster mereka.

"ssh… mereka sedang tidur." Shou menyuruh Avaron diam.

"kau seharusnya membersihkan toilet lagi hari ini, Shou." Avaron berjalan menuju kloset tempat ditaruhnya alat-alat untuk bersih-bersih. Avaron mengambil mop dan ember. Dia kembali ke tempat Shou berdiri dan memberikan 2 benda itu di depan wajahnya.

"kenapa aku lagi yang membersihkan kamar mandi?" Shou protes. "seharusnya aku saat ini sedang memegang gitarku atau microphone untuk membuat lagu baru di basecamp-ku, bukannya memegang mop."

"ingat, Shou… kesuksesan dimulai dari hal yang paling kecil. Contohnya membersihkan toilet…" Avaron tersenyum sarkastik.

"ya, dan aku bisa membayangkan kalau seandainya suatu hari nanti aku diinterview oleh sebuah majalah visual kei ternama dan mereka bertanya apa yang kulakukan sebelum aku menjadi bintang dan tidak mungkin bukan aku menjawab, 'oh ya, aku setiap hari membersihkan toilet dan kandang seekor kucing imut-imut dan sering mencakarku'." Sindir Shou.

"atau kau bisa menggantinya dengan, 'aku bekerja di sebuah petshop keren dan aku mempunyai bos yang luar biasa'." Avaron berkata seraya membenarkan kerah kemeja yang dia kenakan.

"yeah, you wish…" Shou menggerutu karena gaya Avaron yang narsistik itu.

"aku tidak peduli nanti kau akan menjawab apa saat kau diwawancarai oleh majalah yang tidak aku tahu namanya itu. Tapi nyatanya sekarang adalah, kau berdiri dan bekerja di petshopku, memegang mop dan ember, dan membersihkan toilet. Jadi aku sarankan untuk melakukan semua itu seakrang juga." Perintah Avaron sambil menunjuk ke arah toilet.

"atau kau bisa membantuku…" Shou mengejar Avaron yang sedang menuju meja kasir.

"membantu apa?" Avaron bingung dengan maksud Shou, terutama dengan senyum misterius yang dia perlihatkan padanya.

"ehm… tunanganmu kan bisa membantuku untuk mempromosikan lagu bandku ke produser musik… hehe…" Shou tertawa memelas.

Avaron hanya memasang ekspresi datar di wajahnya dan menunjuk kembali toilet. "bersihkan toilet sebelum aku panggil Koron untuk pup disana. you have no idea how gross she can be…"

"fine…" Shou menjawab dengan nada ketus. "putri babi…"

"oh, ngomong-ngomong, jangan sampai rambutmu tertukar dengan kotoran yang ada di toilet, ya! Kalau tidak salah, warnanya sama dengan warna rambutmu!" balas Avaron.

Sambil menjaga meja kasir, Avaron membuat daftar pesanan stock barang petshop untuk diberikan kepada supplier untuk bulan depan dengan laptopnya. Jauh di dalam hatinya, dia merasa bahagia bisa menemukan kesibukan untuk melupakan kesedihannya sendiri.

Avaron berusaha melupakan apapun yang berhubungan dengan Kai selama beberapa hari ini. Dia melakukannya dengan menjalani kesibukannya seperti sekarang, tidak masuk ke dalam kamar Kai, tidak menghubunginya lagi, dan satu cara yang bahkan dirinya sendiri masih sering bertanya-tanya kenapa cara ini cukup ampuh adalah bertengkar dengan seorang pemuda berambut kotoran bernama Shou Kohara.

Lalu datang satu cara lagi untuk melupakan kesedihan itu, yaitu bertemu dengan hewan-hewan lucu setiap harinya. Seperti saat ini, sore itu, seorang pelanggan yang cukup sering datang ke petshopnya untuk membeli makanan, aksesoris, atau peralatan apapun untuk anjing doberman peliharaannya datang membawa serta anjingnya itu.

Tamunya adalah seorang wanita yang usianya sama seperti Kai, penampilannya cukup feminin dan benar-benar tahu etiket. Dia menggendong anjingnya sendiri yang ia beri nama Hiro tersebut.

"konbanwa…" sapa Avaron saat wanita itu masuk ke dalam tokonya.

"hai, Avaron…" balas Hikari Yamada pada Avaron. Dia menaruh Hiro di atas meja kasir.

''hai, Hiro…'' Avaron mengelus kepala Hiro yang langsung duduk dengan posisi seperti patung sphinx.

''dia kekenyangan karena aku memberinya banyak makanan hari ini.'' Hikari menjelaskan perilaku Hiro yang agak malas.

"oh, kau makan apa, Hiro-chan?" tanya Avaron pada Hiro.

"aku membawanya kemari karena aku ingin Dokter Inoue memeriksanya." Kata Hikari.

"dia ada di tempat praktiknya. Masuk saja." Avaron mempersilahkan Hikari.

"terima kasih." Sebelum Hikari menggedong Hiro lagi, tahu-tahu Shou datang dan melihat Hiro bersama majikannya yang cukup cantik itu.

"ah, aku belum pernah melihatmu…" Shou berkata ke mereka berdua.

"tentu saja kau pernah bertemu Hiro, Shou. kau tahu, yang dulu kau marahi karena dia menjilati tanganmu dan membuat tanganmu penuh dengan liur." Avaron yang menjawab untuk menyindir Shou.

"maksudku bukan Hiro. Tapi kau…" Shou melihat ke Hikari.

"ngg… kurasa begitu…" Hikari agak bingung dengan situasinya sekarang.

"mungkin karena kau menitipkan Hiro pagi-pagi disini dan waktu itu Aya yang sedang bertugas." Shou mengambil kesimpulan kenapa Hikari dan dia belum pernah bertemu.

"ngg… bisa jadi…" Hikari menjawab ragu.

"tapi, kau cukup cantik, kenapa kau memelihara doberman?" tanya Shou pada Hikari.

"karena Hiro bisa mengeluarkan jurus liur mautnya pada seseorang yang terlalu banyak bertanya pada majikannya." Avaron yang menjawab. Hikari menahan tawanya karena mendengar jawaban Avaron. Hikari pun permisi untuk meninggalkan mereka berdua.

"bagus, kau merusak semuanya…" Shou jengkel pada Avaron.

"aku hanya tidak ingin kau menakuti pelangganku dengan cara merayumu yang kuno itu, Shou…" jawab Avaron sambil tertawa.

"tapi biarlah, dia sama sekali tidak menangkap 'sinyal' dariku…" Shou berusaha untuk tidak peduli.

"itu mungkin karena dia sudah punya tunangan dan akan menikah beberapa minggu lagi…" tawa Avaron semakin meledak. "Shou, Shou… apa kau tadi tidak memperhatikan cincin pertunangan yang ada di jari manis tangan kirinya?"

Shou tidak menanggapi pertanyaan Avaron karena dia memang tidak menyadarinya. Tapi gantinya, dia malah mendekati Avaron dan mengambil tangan kirinya dan melihat jari manisnya dengan seksama.

"hei, sedang apa kau? Lepaskan!" Avaron menarik kembali tangannya.

''kau sendiri juga sudah tunangan tapi kenapa kau tidak memakai cincin dari Kai ?'' pertanyaan Shou membuat Avaron kembali merasa tertusuk.

''bukan urusanmu.'' Elak Avaron. ''terserah aku kalau aku ingin mengenakannya atau tidak.''

''padahal kupikir kau mencintainya…'' pancing Shou.

"aku memang mencintainya, tapi…" Avaron tidak ingin meneruskan kata-katanya.

"tapi karena dia sudah menyakitimu, kan? Karena soal telepon 3 hari yang lalu? Ya kan, ya kan?" tebak Shou. "sudah kuduga begitu."

"bukan begitu!" reaksi Avaron membuat Shou terkejut. Tapi Avaron semakin melunak dan berkata, "eh tapi… memang benar, sih…"

"tapi dia pasti akan mengangkat telepon darimu di hari ulang tahunnya. Bukannya hari ulang tahunnya beberapa hari lagi?" Shou memberi saran.

"tahu darimana kau tanggal ulang tahun Kai?" Avaron heran.

''ck…'' Shou berdecak. ''karena aku fansnya !''

"oh… sejauh itukah mereka memberikan informasi tentang Kai?" Avaron menggelengkan kepalanya. "sungguh tidak bisa dipercaya."

"dan bagi mereka yang anggota heresy, pasti mereka lebih tahu banyak. Apa kau anggota heresy juga?" tanya Shou penasaran.

"heresy? Penolakan dengan cara formal terhadap suatu ajaran agama? Atau yang lebih mudahnya disebut aliran sesat? Kau pikir aku ini orang macam apa, Shou?" jawaban Avaron membuat Shou ingin sekali membenturkan kepalanya ke meja kasir.

"bukan, Avaron! Heresy itu adalah nama fan club Gazette! Kau yang tunangan Kai masa tidak tahu, sih!" seru Shou tidak percaya.

''oh ya ? aku tidak peduli…'' Avaron kembali mengeluarkan ekspresi datarnya. "lagipula, kenapa sih mereka menamakan fan club itu dengan nama aneh seperti itu?"

"iya juga, ya… aku jadi ingin tahu kenapa mereka menamakannya seperti itu…" Shou jadi ikut penasaran.

"pertanyaan itu sama dengan pertanyaan kenapa mereka menamakan band mereka Gazette. Kau tahu, ketika Ruki dulu berkata padaku kalau dia membentuk grup bernama Gazette, aku pikir dia membentuk klub jurnalis atau klub koran, bukannya sebuah band…" cerita Avaron membuat Shou yang tadinya ingin membenturkan kepalanya ke meja, sekarang ingin beralih ke dinding.

"oke, kau memang tidak peduli dengan mereka yang sebagai artis. Tapi apa kau kenal mereka yang sebagai orang biasa?" Shou mengalihkan topiknya.

"maksudnya?" Avaron bingung.

"apa kau tahu betul mereka yang seperti orang biasa? Maksudku, sifatnya, kebiasaan mereka, atau semacamnya…" Shou berusaha membuat Avaron mengerti.

"apakah aku harus menjawabnya?" jawaban Avaron membuat Shou mengerti kalau sebenarnya Avaron tidak ingin menjawabnya.

"kau tidak akan memberitahuku, ya?" Shou memastikan. Avaron mengangguk mantap.

"kenapa? Apa kau tidak percaya padaku?"

"tidak. Aku percaya padamu. Tapi kau fans mereka. Kau mencintai musik dan gaya mereka, dan aku yakin musik dan gaya bandmu juga terinspirasi dari mereka. Dan kalau aku menceritakan tentang mereka yang sebenarnya, aku tidak yakin kau akan melihat mereka dengan cara yang sama lagi. aku tidak ingin menodainya demi kecintaanmu pada musik dan gayamu."

"maksudmu, sifat mereka yang ada di depan kamera bertolak belakang dengan yang di belakang kamera?" Shou tidak mengerti.

"let me put this way…" Avaron menjelaskan, "kau mengagumi Kai. Dan setelah itu kau bekerja disini dan tahu kalau aku tunangannya. Apa yang kau rasakan ?''

''aku… aku nyaris tidak percaya…'' jawab Shou. "awalnya aku tidak percaya karena di depan kamera dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang mempunyai pacar, dia terlihat seperti seseorang yang bekerja keras demi bandnya. Dan sekarang aku tahu kalau itu adalah benar. Tapi disaat yang sama, aku kehilangan rasa hormatku padanya. Bukan karena dia bertunangan atau kaulah pasangannya, tapi karena dia menelantarkanmu."

Avaron diam sejenak sebelum menjawab, "nah, kau mengerti kan maksudku?"

"eh, jangan salah paham ya soal menelantarkanmu itu. Aku cowok, aku pasti merasa tidak suka kalau melihat ada makhluk sejenisku menelantarkan wanita. Terutama wanita yang menangis dan menanti telepon darinya sepertimu." Shou berusaha menjelaskan.

"ah, manis sekali… kau ingin stiker anak baik?"

"berhenti menjadi sarkastik, Avaron…" Shou memasang ekspresi datar seperti Avaron.

"tapi satu hal yang harus kau tahu, Shou… aku mengerti kau kehilangan rasa hormatmu padanya karena aku. Tapi itulah kekurangan darinya. Dia hanya manusia."

"aku jadi tahu kenapa kau tidak pernah peduli atau terjun ke dalam dunianya. Karena kau tidak suka kepalsuan, kan? Sudah ketahuan dari cara bicaramu."

"kau bisa bilang begitu. Aku benci pada orang-orang yang terlalu menganggap mereka sempurna. Tapi aku tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada mereka, karena idola mereka sendiri yang memilih jalan seperti itu."

"dan aku berharap disaat dia menyadari kalau dia hanya manusia dan mempunyai kekurangan, dia akan datang padamu dan meminta maaf. Kalau tidak…" Shou tidak meneruskan.

"tidak apa?" Avaron menantikan terusannya.

"tidak, tidak apa-apa. Hanya imajinasiku yang liar saja…" Shou tersenyum misterius.

"nah, kalau kau tidak tertarik untuk berbagi cerita tentang imajinasimu itu, lebih baik kau bekerja kembali, Shou. Toran-chan sudah menunggu untuk diberi makan…" perintah Avaron dengan nada jahil dan penuh kemenangan karena dia ingin melihat Shou memakai cara gerilyanya untuk membuka kandang Toran-chan dan mengambil tempat makannya tanpa dicakar oleh kucing imut itu.

"entah kenapa, setiap aku dari meja kasir ini, aku selalu pergi dengan menggerutu. Dasar putri babi…" gerutu Shou.

"sudah selesai, Hikari-san?" tanya Avaron ketika ia melihat Hikari keluar dari ruang praktek Dokter Inoue.

"ya, sudah… syukurlah Hiro-chan baik-baik saja…" Hikari mengelus kepala Hiro-chan yang ada di gendongannya.

"ah, bagus kalau begitu…" Avaron ikut senang.

''lho, Hiro-chan sudah keluar, ya ?" Shou muncul dari belakang Hikari untuk mengelus Hiro-chan. Tapi sebelum Shou bisa menyentuh Hiro, Hiro langsung loncat dari Hikari dan tiba-tiba menjadi galak, menggonggong ke arah Shou berkali-kali.

"hei! Kenapa sih semua hewan disini benci padaku?" Shou kaget dengan reaksi Hiro.

"aduh, Hiro…" Hikari berusaha menenangkan Hiro. "maaf, ya… tidak biasanya dia seperti ini…"

Avaron keluar dari meja kasir untuk membantu Hikari menenangkan Hiro. Dia mengelus-elus Hiro dan dengan ajaib Hiro langsung tenang begitu saja setelah Avaron menenangkannya. "lebih baik kau bawa Hiro keluar saja, Hikari-san…"

"ya, sebelum dia menghancurkan sesuatu disini…" Hikari tersenyum. "terima kasih banyak, Avaron-san…" dia mengeluarkan tali kekang dari tas tangannya dan melingkarkannya ke leher Hiro sebelum menuntun anjing itu untuk keluar dari toko.

"mungkin Hiro tidak suka orang asing…" Shou menduga kenapa Hiro bisa tiba-tiba menjadi galak seperti itu. "dan yang lebih anehnya lagi, kenapa dia bisa langsung tenang saat kau menyentuhnya, Avaron?"

"oh, mungkin karena tanganku adalah tangan malaikat tanpa dosa?" Avaron menjawab dengan penuh percaya diri. dia menggerakkan tangan kirinya dengan lemah gemulai.

"aku tidak percaya…"

"kau mau penjelasan logisnya? Baiklah. tadi sebelum kau menyentuh Hiro, kau menyentuh apa?"

"ngg… aku menyentuh Toran-chan sebentar…" Shou berusaha untuk mengingat.

"nah, dia mencium bau kucing seperti Toran-chan pasti dia langsung berubah menjadi galak karena dia mencium bau musuh abadinya." Avaron menjitak Shou pelan.

"sial, kucing itu selalu merepotkan…" Shou berkata dengan kesal.

"makanya, sebelum menyentuh hewan lain, cuci tangan terlebih dahulu." Avaron menasihatinya.

"baiklah, ibu…" jawab Shou sarkastik.

"ya sudah. Lebih baik kau membereskan toko ini, sebentar lagi kita akan tutup." Kata Avaron.

"kau ada rencana setelah toko tutup?" tanya Shou.

"ng… tidak. Aku akan langsung pulang. Memangnya kenapa?"

"ah, ayolah… kau tidak pernah mendengar istilah barat 'night still young'? maksudku, kau tidak ingin melakukan apapun selain pulang dan tidur?"

"memangnya kau ingin aku melakukan apa?" Avaron tahu kalau Shou mempunyai maksud.

"Nao teman bandku tidak bisa diajak untuk bermain karena dia sibuk bekerja part time di bar. Begitu juga yang lain. Jadi, kau mau ikut aku ke game center di dekat sini?" ajak Shou.

''tunggu… game center ? apa aku terlihat seperti seorang gamer ?''

''nah, disitulah poinnya. Aku akan mengalahkanmu dengan skor yang sangat besar !'' Shou ternyata juga mempunyai niat jahil.

"kalau itu maksudmu, aku tidak akan menghabiskan uangku untuk bertarung denganmu…" Avaron menolak.

"ayolah… main selama 1 jam tidak ada ruginya… daripada kau di rumah dan meratapi nasibmu, lebih baik kau keluar dan bertemu dengan orang-orang baru. Avaron, kau berhak untuk mempunyai kehidupan seperti itu." Bujuk Shou.

"tidak… tidak bisa…" Avaron masih terus menolak.

"begini saja, selama 1 jam pertama, kau akan kubayari ongkos bermain. kalau kau merasa bosan, kau boleh pulang. Bagaimana?" Shou memberi tawaran.

"hmm… boleh juga…" Avaron pun luluh.

''great !'' seru Shou senang.

Jam 9 malam, mereka keluar dari petshop setelah menutup toko. Avaron dan Shou pergi ke game center dengan berjalan kaki.

"seharusnya kau sadar kalau daerah petshopmu terletak di lokasi yang cukup strategis, Avaron…" Shou berusaha membawanya kembali ke bumi.

"aku sadar. Tapi aku tidak terlalu peduli. Karena aku tidak tertarik menghabiskan waktuku untuk bersenang-senang di tempat seperti itu." Jawab Avaron.

"kenapa?"

"karena aku bukan orang yang cocok untuk bergaul dengan orang banyak…"

"kau tidak seperti itu. Kau hanya belum pernah mencoba untuk bertemu dengan orang-orang baru. Tidak ada salahnya, Avaron. Kalau kau memang ingin melupakan Kai untuk sejenak, kusarankan untuk bertemu dengan orang-orang baru."

"tahu tidak, saat Kai dan teman-teman bandnya mengajakku untuk minum di rumah Uruha, aku sama sekali tidak melakukan apapun disana. aku hanya minum… orange juice. Aku tahu itu memalukan, tapi aku tidak minum. Dan Kai menghormatiku untuk tidak minum di depanku. Lalu setelah itu mereka mengejek Kai karena dia tidak ikut minum bersama mereka, disaat itu juga aku merasa seperti… perusak suasana…"

"kenapa kau tidak minum?" Shou baru pertama kali menemukan orang yang seumur hidupnya belum pernah meminum alkohol.

"karena, alkohol bisa mengurangi kadar zat untuk menawar racun yang ada di hati. Intinya, alkohol bisa merusak organ hatimu dan aku merasa alkohol adalah salah satu racun paling berbahaya di dunia."

"setidaknya kau punya prinsip, Avaron…"

''hey, Shou…'' Avaron menyelanya. ''lebih baik panggil aku Ava saja, oke ?''

"kupikir nama panggilan itu hanya untuk Kai saja…" Shou mengingatkan.

"setelah dipikir lagi, tidak ada salahnya kau memanggilku dengan nama panggilan itu." Avaron sama sekali tidak keberatan sekarang.

"baiklah, Ava…" Shou mengatakannya dengan sangat hati-hati. "kau ingin adu balap mobil bersamaku di game center nanti?"

"oke. Aku sudah lama tidak bermain game seperti itu. Dan jangan melihat orang dari penampilan luarnya saja, Shou. bisa saja nanti skorku lebih tinggi daripada skormu…" Avaron memanas-manasi Shou.

"oh ya? Kau pikir kau bisa?" tantang Shou.

''selalu ada jalan, Shou…'' Avaron mengedipkan mata kirinya.