Tittle:

Marriage not dating

Cast:

Park Chanyeol (23yo)

Byun Baekhyun (22yo)

Other

Genre:

Romance, Drama

Rating:

T - M

Summary:

Chanyeol yang menjadi CEO di suatu perusahaan dan terkenal akan ke-brengsek-annya, namun apa jadinya bila dia bertemu dengan yeoja mungil yang membawa dampak baik baginya?

Warning:

GS FOR UKE. NO BASH. NO COPY-PASTE (?). GASUKA LEBIH BAIK GAUSAH BACA.

.

~~ HAPPY READING ~~

.


Chanyeol tengah sibuk di depan laptopnya. Matanya terfokuskan pada sebuah draft dimana tertera sisa saham yang masih ada di perusahaannya ini. Jongin sendiri tengah sibuk menelfonkan beberapa kolega, tentu ini perintah Chanyeol, laki-laki ini ingin mengetahui alasan para kolega menarik sahamnya. Ya meski ia tahu ini ulah Irene. Namun, ia ingin mendengar alasan itu sendiri dari mulut petinggi saham. Chanyeol tersenyum remeh kala Jongin mengatakan bahwa mereka memberikan alasan yang tidak jelas. Sangat berbelit-belit, hingga Jongin memutuskan panggilan.

Baekhyun masih terduduk di sofa, pandangannya tidak terlepas pada laki-laki yang tengah sibuk ini. Ia melihatnya dengan jelas, bagaimana sikap Chanyeol yang sedikit panik mendengar berita ini. Ia tahu, Chanyeol sangat tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Dan ia cukup memakluminya untuk hal ini. Sedangkan Tn. Park, sudah kembali menuju ruang kerjanya. Ia 'terpaksa' harus membantu anaknya menangani perihal ini. Ia sebenarnya cukup kecewa ketika Chanyeol menceritakan tentang semua perjanjian itu.

" Sialan kau, Irene. " umpat Chanyeol. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Bisa di katakan ia sangat frustasi sekarang, dan biasanya ia akan melampiaskannya dengan pergi ke bar dan berakhir di ranjang.

Baekhyun mendengar umpatan Chanyeol, ia menarik nafasnya sejenak. Hingga ia memutuskan untuk berbicara, " Jika mendekati Irene adalah yang terbaik untuk perusahaanmu, lakukanlah. " ujarnya sukses membuat Chanyeol membelalak tidak percaya.

Chanyeol tidak habis pikir pada Baekhyun, bagaimana bisa ia dengan tenangnya berkata seperti itu. Yeah, meski ide itu ada benarnya juga. Namun, ia tetap berpegang teguh. Baekhyun adalah segalanya. " Kau berbicara apa barusan? " tanya Chanyeol seraya mendudukan dirinya di sebelah Baekhyun. Ia meninggalkan sejenak pekerjaannya.

Baekhyun menolehkan kepalanya, ia tersenyum setelahnya, " Apa aku perlu mengulangnya? Aku rasa kau mendengarnya dengan jelas. " ujarnya masih tersenyum.

Chanyeol sangat benci ini, Baekhyun tersenyum seolah-olah ia tidak mempunyai masalah. Padahal, Chanyeol sangat tahu bahwa Baekhyun menyimpan seribu perasaan. " Oh jadi kau rela, jika suamimu ini kembali pada slutnya? " tanya Chanyeol berniat menggoda.

Baekhyun terdiam sesaat, " Aku rasa, ya. Kau terlihat sangat frustasi menerima kenyataan bahwa perusahaanmu tengah anjlok. Aku tidak suka melihat ekspresimu yang seperti itu, maka lebih baik kau kembali padanya. " jelas Baekhyun benar-benar tidak memikirkan perasaannya.

Chanyeol semakin tidak mengerti, ia menghembuskan nafasnya sesaat. " Apa kau serius oleh ucapanmu tadi? " tanyanya mengulang.

Baekhyun terdiam, disatu sisi ia tidak ingin Chanyeol kembali pada Irene, namun di satu sisi lagi, ia tidak ingin Chanyeol terbebani akibat perihal ini.

" Aku tidak tahu. " ujarnya sambil menghela nafas sejenak.

Chanyeol menghembuskan nafas parsah nya, ia dengan segera memeluk erat tubuh Baekhyun. Ia tahu Baekhyun tengah menutupi segalanya, dan ia sangat tidak suka jika hal ini terjadi.

" Jangan berkata seperti itu. Kau miliku dan Aku milikmu. " patennya berbisik lembut pada telinga Baekhyun, menyesap keharuman yang ada pada tubuh istrinya ini.

Baekhyun semakin tidak ingin kehilangan, ia tahu ia egois namun inilah perasaannya. " Jangan tinggalkan aku, apapun yang terjadi. " ujarnya mengeratkan pelukannya.

Chanyeol mengangguk, mengiyakan. ' Aku tidak bisa berjanji, Baekhyun ah '

BRAK!

Sebuah dentuman pintu ruangan terbuka dengan sangat keras. Chanyeol serta Baekhyun sontak melepaskan pelukan keduanya. Chanyeol memutar bola matanya malas kala melihat pelaku ini semua. Disana, Jongin, tengah berdiri dengan sebuah kertas di tangannya, ekspresi wajahnya tidak berubah, sangat panik dan juga terkejut dalam bersamaan.

" Apa!? " ketus Chanyeol.

Jongin berlari kecil menghampiri Chanyeol. Tangannya menggeret sebuah bangku untuk ia duduki. Ia menarik nafasnya sejenak, " Gawat! Ini sangat sangat gawat! " ujarnya kembali panik. Keringatnya berjatuhan menggambarkan bertapa lelahnya ia.

Chanyeol mendelik tidak suka, " Gawat apanya? Bicara itu harus lengkap serta jelas. " ujarnya. Baekhyun sendiri sudah mengambil ancang-ancang untuk menguping percakapan ini.

" Proyek kita gagal total! Dana sudah habis, keuangan kita juga sudah tidak ada. Dan lagi perusahaan yang bekerja sama dalam proyek ini membatalkan kontrak. Ini gila. " jela Jongin.

Chanyeol mengusap wajahnya kasar, wanita itu memang benar dalam ucapaannya. " Lalu saham yang tersisa? " tanya Chanyeol menggantung.

" Tidak ada. Seluruh kolega menariknya secara bersamaan dan serempak. Sebenarnya ada, namun sangat sangat kecil nilainya. " jelas Jongin kembali seraya menyerahkan sebuah kertas yang sejak tadi ia bawa.

Chanyeol mengambilnya cepat, tanggannya membalikan halaman secara bergantian. Dan sebuah gelengan tidak percaya keluar begitu saja. " Sungguh gila. " ujarnya menyenderkan punggungnya pada sofa dan memejamkan mata setelahnya.

Baekhyun mengelus bahu Chanyeol berusaha menenangkan, ia sangat yakin, Chanyeol sangat-sangat frustasi saat ini. " Aku yakin, ada cara lain untuk mengatasi hal ini. " ujar Baekhyun menyakinkan.

Chanyeol membuka kedua matanya, " Bagaimana nasib para pegawai? " tanyanya pada Jongin seakan melupakan perkataan Baekhyun tadi.

" Ya seperti itu. Banyak dari mereka yang menanyakan perihal ini padaku. " ujar Jongin pasrah.

Tn. Park tiba - tiba saja masuk dengan tergesa. Kedua tangannya juga tengah memegang sebuah kertas dan laptop miliknya. " Yeol! Coba kau lihat ini! " ujarnya semangat, membuat Chanyeol serta Jongin mengalihkan perhatiannya pada laptop Tn. Park. Baekhyun memilih bungkam, jika pada akhirnya ia berkata tidak di tanggapi sedikit pun.

" Woah! Apa aku bilang! Mereka tidak akan mau menarik sahamnya! " ujar Chanyeol penuh kemenangan. Terlihat jelas, bahwa para kolega yang baru saja menarik sahamnya, kembali menaruh saham pada perusahaan Chanyeol, termasuk Appa Irene.

Chanyeol serta Jongin tersenyum lega, bagaimana pun juga perusahaan Chanyeol memang tengah menjadi perbincangan hangat. Jadi jika mereka menarik sahamnya kembali, pihak mereka akan rugi. " Aku tidak menyangka, padahal mereka baru menarik kembali sahamnya beberapa jam yang lalu. Dan sekarang kembali pada kita. " ujar Jongin dan di susul anggukan setuju dari Chanyeol.

" Sepertinya aku harus mengurus kontrak mereka, dan juga menanyakan alasan mereka kembali. " ujar Jongin seraya merapikan rambutnya asal.

Chanyeol mengangguk, ia menoleh kearah sampingnya, dan sontak matanya membulat penuh. Sial! Masalah ini membuatnya melupakan keberadaan Baekhyun! Ia menelan salivanya dengan kasar, ia takut Baekhyun akan marah ataupun mendiamkannya.

" Baek.. " panggilnya saat Tn. Park baru saja keluar ruangan karena harus mengurusi beberapa hal.

Baekhyun yang tengah menunduk, sedikit tersentak, pasalnya ia baru saja melamun. " Kenapa? " tanyanya dengan senyuman.

Chanyeol lagi-lagi menarik nafas dalam, " Mianhae. " ujarnya mendekap kembali tubuh Baekhyun.

Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan dalam dekapan, " Kau tidak mempunyai salah apapun padaku. " ujarnya.

" Mianhae. Gomawo. Saranghaeyo. " ujar Chanyeol terputus-putus.

Baekhyun melepaskan pelukannya, " Hng? " tanyanya dengan kebingungan.

" Mianhae karena aku selalu saja menyakitimu. Gomawo karena kau selalu ada di sampingku padahal aku sangat jahat padamu. Dan saranghaeyo, aku mencintaimu sangat, kacamata! " ujar Chanyeol menatap dalam kedua mata puppy Baekhyun.

Baekhyun tidak bisa berbohong, ia sangat bahagia mendengar penuturan Chanyeol baru saja. Ia dengan cepat mengecup bibir ranum Chanyeol sebanyak mungkin.

" Aku juga mencintaimu, pria brengsek. " ujar Baekhyun dengan imut. Chanyeol yang tidak tahan segera melumat bibir Baekhyun sangat lembut. Hingga keduanya larut pada ciuman panas.


" Kau sudah tahu kan ciri - ciri nya? "

" Tentu saja noona. Dia adalah cinta pertamaku. "

" Baiklah, aku tidak perduli itu. Tugasmu hanya perlu membawa nya kehadapanku. Aku ingin memberinya pelajaran. "

" Lalu setelah itu? "

" Kau boleh memakainya sesuka hatimu. "

" Aigo, kau memang noona terbaiku, sangat mengerti apa yang aku mau. "

" Tentu saja, kau juga dongsaeng terbaiku. "

" Jadi kapan aku harus membawanya kehadapanmu? "

" Bukankah, lebih cepat lebih baik? "

" Baiklah, malam ini juga aku akan melakukannya. "

Pria serta wanita ini tersenyum licik secara bersamaan. Rencananya akan berhasil, ya semoga.

.


.

Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Baekhyun baru saja menyelesaikan ritual berendamnya. Ia terlalu lelah akibat seharian ini, ia harus ' melayani ' suaminya secara terus-menerus. Ia juga sangat kesal dengan otak Chanyeol yang begitu mesum. Selalu saja, laki - laki ini mempunyai cara agar membuatnya kembali bergairah. Oke, lupakan hal ini.

" Baek " panggil Chanyeol dengan manjanya. Matanya menatap Baekhyun yang kini sudah rapih unuk pergi dengan penuh arti. Baekhyun berdecak kesal, tidak bisakah Chanyeol tidak bersikap seperti anak kecil sehari saja.

" Apa!? " jawabnya dengan amat ketus. Lihat saja sekarang, Chanyeol tengah berguling tidak menentu di atas kasur dengan keadaan tidak memakai baju. Hell, bukankah sangat menyebalkan.

Chanyeol menghentikan aksi kekanakannya ini. Ia terduduk dengan bibirnya yang ia poutkan. " Aku lapar, Baek ah " rengeknya membuat Baekhyun mual.

Baekhyun mengehentak kakinya ke lantai, " Seluruh persediaan makanan di kulkas sudah habis! " ujarnya.

" Kenapa kau tidak membelinya? " tanya Chanyeol polos. Baekhyun sebenarnya merasa sedikit gemas dengan tingkah Chanyeol saat ini, namun rasa kesalnya masih menyatu.

Baekhyun memutar bola matanya kesal. " Bagaimana bisa aku membelinya? Kau seharian ini menahanku! Dan lagi sekarang, kau merengek lapar. Kau pikir aku tidak? " kesal Baekhyun lalu ikut mempoutkan bibirnya.

" Hahaha, mianhae mianhae, aku hanya ingin melihat wajah kesalmu. " ujar Chanyeol disertai gelak tawa menggema memenuhi ruang kamar.

" Yak sialan! Sudahlah, aku ingin pergi! " kesal Baekhyun dan berlalu pergi .

" Yak aku ikut! " pekik Chanyeol segera menyambar sweater di lemari dan berlari mengejar Baekhyun.

.


.

Baekhyun bersenandung kecil seirama dengan langkah kakinya. Menurutnya, dengan bernyanyi dapat menghilangkan kekesalan, dan ia tengah mencobanya sekarang. Dan cukup berhasil, meski bayang-bayang Chanyeol yang menyebalkan melintas tidak sengaja.

" Dasar dobi idiot, aku tidak akan membuatkannya makanan. " umpat Baekhyun dengan suara kecil. Ia tidak mau dianggap tidak waras karena berbicara sendiri di jalanan cukup sepi seperti ini.

Ia mengalihkan perhatian dengan melihat-lihat gedung pencakar langit di sepanjang jalan. Entah mengapa, supermarket terasa sangat jauh sekarang. Kakinya sudah mulai pegal akibat berjalan, dan matanya belum juga menangkap tanda-tanda ada sebuah supermarket.

" Andai saja ada kau, Yeol. " ujarnya membatin.

Namun, tiba - tiba saja, sebuah lengan kekar menahan langkahnya. Baekhyun segera membalikan tubuhnya, dan cukup mengejutkan. Matanya membulat penuh seiring melihat laki - laki di hadapannya ini. Ia adalah Daehyun, mantan sunbaenimnya dulu saat SHS. Baekhyun menelan salivanya dengan kasar, jujur saja ini seperti peringatan bahaya baginya. Ia tahu bagaimana Daehyun dulu, ya laki - laki ini sangat mencintainya. Dan laki - laki ini juga tidak segan untuk berlaku kasar pada siapapun yang mengganggu Baekhyun.

" S Sunbaenim? " kaget Baekhyun dengan tergagap.

Daehyun melingkarkan tangannya pada leher Baekhyun, membawa yeoja mungil ini pada pelukannya. " Ya. Kau apa kabar? " tanya nya sedikit menunduk.

Keringat sudah berjatuhan membasahi pelipis seorang Byun Baekhyun. Jantungnya berpacu cepat, aroma wewangian milik Daehyun sangat memabukan dan sedikit membuatnya pusing. " Baik, sunbaenim sendiri? " tanyanya membalas.

" Tentu baik. Lalu, apakah perasaan mu padaku sudah berubah? Mungkin kau menyukaiku sekarang? " tanya Daehyun dengan suara yang ia buat lembut.

Sungguh Baekhyun ingin segera pergi dari sini, ia sangat risih, terlebih jika Daehyun membahas hal itu kembali. " A.. ku tidak tahu sunbaenim. "

Daehyun menyesap wangi Baekhyun pada leher yeoja ini, ia seperti lupa tempat. " Apa kau sengaja memakai wewangian seperti ini agar aku tergoda, hm? " tanyanya dengan berbisik lembut.

Seluruh bulu pada tubuh Baekhyun mendadak bergidik ngeri, namun belum sempat ia menjawab, Daehyun sudah mencekram lengannya sangat kuat.

" Akkh! Sunbaenim! Apa yang kau lakukan! Akhh! Lepaskan! " teriak Baekhyun meminta tolong. Keadaan Seoul saat ini yang sangat sepi, membuatnya sedikit kelimpungan. Ia sangat takut.

Daehyun menarik Baekhyun cukup keras agar mengikutinya, namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba - tiba..

Bugh! Bugh! Bugh!

" Sialan kau brengsek! Lepaskan istriku! Bangsat! Rasakan ini! "

Ya. Itu adalah Chanyeol. Si penyelamat Baekhyun yang selalu datang tepat waktu. Ia memang sedari tadi mengikuti Baekhyun, namun di tengah jalan ia kehilangan jejak yeoja ini. Hingga ia memutuskan untuk berlari agar mempercepat langkahnya. Dan benar saja, Baekhyun tengah digoda pada ' musuh ' nya. Yups, Daehyun adalah saingannya dulu saat SHS. Mereka selalu berkelahi hanya untuk memperebutkan tahta ' ketua sekolah ' .

Baekhyun menangis dengan cukup keras. Satu tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya agar tidak lagi bersuara. Namun tetap saja, isaknya terdengar jelas.

" Baek! " pekik Chanyeol segera memeluk Baekhyun dengan erat. Daehyun sudah terbaring lemah di belakangnya. Ia tidak memperdulikan lagi pria brengsek itu. Yang ia khawatirkan sekarang adalah Baekhyun.

" Hiks Yeol.. " isak Baekhyun dalam pelukan hangat sang suami.

Daehyun melihat jelas kedua insan yang tengah berpelukan ini, hingga sebuah smrik ia keluarkan, dan..

STUK!

Sebuah tusukan pisau dalam genggamannya berhasil menusuk punggung Chanyeol. Ia tertawa dengan penuh kemenangan.

" Yeol! Astaga Yeol! " pekik Baekhyun kembali, air matanya semakin deras berjatuhan. Chanyeol kini sudah tidak sadarkan diri dengan punggung bersimpuh darah. Ia dengan gerak cepat mengeluarkan telfon genggamnya. Menelfon ambulance dengan tidak sabarnya.

Sementara Daehyun, sudah tidak sadarkan diri dengan pisau di genggamannya.


Sudah dua hari belakangan ini, laki - laki berparas tampan serta gagah terbaring lemah di salah satu ruang inap rumah sakit Seoul. Ia belum juga sadarkan diri pasca kejadian tempo lalu yang membuat seluruh Seoul geger. Chanyeol, laki - laki tampan ini, terlihat tenang dalam lelap nya, namun tepat di sampingnya sang istri tidaklah terlihat tenang.

Baekhyun sudah dua hari belakangan ini menangis hingga menerus, meskipun sang eomma sudah menyuruhnya berhenti, namun tetap saja ia akan menangis setelahnya. Ia merasa ini semua adalah salahnya, jika saja ia pergi bersama Chanyeol, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Ia juga sudah tidak memikirkan untuk pergi bekerja, dan berniat untuk mengundurkan diri setelah Chanyeol sembuh nanti.

" Baek, ini eomma bawakan makanan. Ayo makan. " ujar Ny. Byun tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan. Baekhyun mendengarnya, namun tetap saja ia tidak mengalihkan pandangannya pada Chanyeol.

" Chanyeol tidak akan kemana-mana, berhentilah menangisinya. Kau hanya nembuatnya tambah sedih. Cepat makan. " ujar Ny. Byun kembali membuat Baekhyun akhirnya menolehkan kepalanya agar menatap Ny. Byun. Ia tidak bisa mengelak, menangis dari kemarin membuatnya sangat lapar saat ini.

Baekhyun menghapus air matanya sesaat, " Mana makanan nya? " tanyanya dengan suara parau.

Ny. Byun tersenyum, ia dengan segera memberikan sebuah kotak makanan pada Baekhyun. Dan Baekhyun mengambilnya dengan cepat. Ia melahap makanan dengan terburu, sekali - kali pandangannya ia alihkan untuk menatap Chanyeol. Takut - takut ia terbangun.

Ny. Byun menggelengkan kepalanya melihat tingkah Baekhyunm saat ini. Ia segera mengambil remote tv, sudah lama ia tidak menonton acara televisi. Ny. Byun terpaku setelah melihat berita yang di siarkan langsung saat ini. " Baek! Coba kau lihat! " pekiknya membuat Baekhyun menghentikan makan.

Baekhyun hampir saja tersedak melihat berita saat ini. Lihat saja, disana terpampang jelas wajah Daehyun yang tengah menunduk. Tepat di samping kanan dan kiri, terdapat polisi yang mengawalnya. Ia dinyatakan bersalah setelah menusuk Chanyeol. Polisi sendiri belum menemukan identitas korban tusuk Daehyun ini. Mata Baekhyun ikut membelalak lagi, tepat di belakang Daehyun, sang ' majikan ', Irene ikut menjadi tersangka. Dan Baekhyun benar-benar tidak menyangka bahwa ini adalah ulah Irene.

" Polisi akan secepatnya menemui Chanyeol, aku yakin itu. " ujar Ny. Byun masih menatap layar televisi.

Baekhyun menganggukan kepalanya, hatinya sedikit lega sebenarnya. Dengan begitu tidak akan ada lagi yang menganggu hubungannya dengan Chanyeol.

" Baek... " lirih Chanyeol tiba - tiba sontak membuat Baekhyun mengalihkan perhatiannya cepat.

" Yeol!? "

.


To Be Continue


Astagfirullah, maaf semuanya baru update... Padahal ini file nganggur dari dua hari yang lalu. Tapi lupa mau di upload :'''''D

Maaf cerita makin ngga jelas alurnya, tenang aja chapter depan bakalan END kok. Hehehee, ENDnya happy atau sad ya? Liat chapter depan yaa~~ xP

Meski review menurun drastis, tapi aku sekali lagi ucapkan terimakasih yang sebesar - besarnya pada kalian yg udah sempetin waktunya untuk baca, follow, dan favorite cerita abal ini :'D

Akhir kata aku ucapan...

Thank youuu and review again? ^^