Disclaimer : I do not own Naruto.
Warning : OOC
Cerita ini ditulis tanpa ada maksud untuk menyinggung perasaan pihak manapun. Rating T untuk teenager dan beberapa adegan yang tidak boleh ditiru tanpa ada pengawasan dari orang dewasa.
Untuk Hiburan.
Nasty Temper
The Invitation
"Barangkali kau lupa," Bisik Sai, ia mulai mengendus kulit leher gadis itu. "Aku masih memiliki kesan buruk terhadap acara pernikahan." gumam Sai.
"Ha?" seketika Ino berhenti bergerak. Gadis itu menoleh untuk menghadap si pemuda. "Kau trauma pada pernikahan?"
Hari itu, Ino dan Sai hampir menghabiskan malam bersama.
Untung saja alam mencegah, dengan berhenti mencurahkan butiran air jatuh dari langit pegunungan Konoha.
Jarum jam di arloji mewah milik Sai telah menunjukkan pukul 8 malam. Mobil sport hitam yang mereka kendarai kini sedang melesat meninggalkan kesunyian pegunungan tersembunyi Konoha.
Area pegunungan yang sepi di malam hari, ditambah dengan jalanan yang basah dibasuh hujan, membuat perjalanan pulang itu menjadi tiga kali lebih berbahaya. Tetapi Ino bersikeras meminta untuk pulang tepat saat tetesan gerimis terakhir berhenti. Meski ia menikmati kebersamaannya dengan Sai, tapi urat syaraf di otaknya masih bekerja dengan baik untuk menjaga kerasionalannya.
Akan jauh lebih berbahaya jika mereka harus menghabiskan malam bersama.
Kini Ino tengah mengenakan sebuah gaun malam berwarna merah-oranye-pink yang disiapkan oleh pihak resort sebagai ganti gaun jade-aquanya yang setengah basah. Rambut pirangnya yang sudah mengering, diikat dalam satu kuncir rendah. Sebenarnya, Ino lebih memilih untuk mengenakan setelan pakaian casual seperti sepasang denim dan jeans atau kaos katun combed yang di padukan dengan rok pendeknya daripada harus berpakaian formal seperti ini lagi. Tetapi Ino sadar diri ia tak bisa menjadi seorang pemilih di situasi seperti saat ini.
Berbeda dengan si gadis yang berpakaian serba cerah menggairahkan, Sai yang sedang mengemudikan mobilnya itu kini tengah memakai setelan kemeja dan celana hitam.
Tidak banyak percakapan yang dilakukan di sepanjang jalan tersebut. Sai sedang fokus mengemudikan mobilnya di jalanan licin, sehingga Ino tidak berniat untuk mengganggu dan membuyarkan fokusnya.
Jalanan di luar jendela mobil terlihat gelap dan sunyi.
Namun nampaknya sudah ada suatu hal yang mengganggu pikiran Sai.
"Ino." Kata pemuda itu, memecah keheningan.
"Hm?" gumam si gadis yang sedang tertunduk lunglai menyender ke punggung joknya, lelah dengan aktivas seharian itu.
"Kau takut padaku?"
"Ha?" Ino spontan memutar kepalanya ke arah Sai sambil alisnya naik.
"Jika aku tak salah dengar, tadi kau bilang lebih takut padaku daripada petir." Ujar Sai.
Ino berjengit. Ia hampir lupa dengan kata-kata yang spontan dikeluarkannya saat keceplosan karena panik tadi.
Sai agak memelankan kendalinya, lalu menoleh singkat. "Kenapa?"
Ino menelan ludah, ia menegakkan duduknya sambil memaksakan tertawa. Tidak mungkin ia mengaku bahwa tadi dirinya takut diserang oleh pemuda itu kan?
"Aku takut jika kau tiba-tiba jatuh pingsan saat hujan badai tadi." Sahut Ino, ngeles. Ia tidak bisa memikirkan jawaban lain.
Sai yang sedang memandang lurus ke depan itu dibuat mengerutkan dahi. "Kenapa aku bisa pingsan?"
"Kulit tubuhmu yang pucat itu mengingatkanku pada orang yang mengidap anemia." Mulut Ino dengan spontan menggumamkan kalimat tersebut.
Ino memang agak penasaran dengan warna kulit si pemuda yang kelampau putih itu. Di pertemuan pertamanya dengan Sai, Ino bahkan sempat berpikir bahwa ia adalah seorang lelaki angkuh yang hanya bisa bersembunyi di balik harta kekayaannya, alias anak manja pingitan yang menolak untuk panas-panasan dan cape-capean. Namun setelah melihat tubuh atletis pemuda itu, Ino jadi ragu.
"Barangkali, kau menduga aku adalah seorang yang berpenyakitan?" tanya Sai.
"No offense. Tapi, yah semacam itu."
Sai tidak terdengar menjawab lagi, entah karena memang mengakui atau sedang memikirkan jawaban sanggahan, tetapi diamnya si pemuda membuat Ino menoleh ke arahnya lagi.
Rupanya pemuda itu malah sedang senyum-senyum, membuat si gadis menaikan pelipisnya.
Merasakan tatapan Ino, Sai berkata, "Aku tak menduga warna kulitku dapat membuatmu sekhawatir itu."
Ino terpaku sejenak, sebelum kalimat pemuda itu membuat pipinya memerah. Ia kembali meluruskan kepalanya sambil berkata tsundere, "Jika kau tiba-tiba jatuh tersungkur, itu hanya akan merepotkanku."
Sai tertawa. "Apa aku terlihat seperti lelaki lemah?"
"Barangkali." Ucap Ino, pendek.
Sai menoleh lagi kepada gadis itu. "Apa kau penasaran dengan kemampuan fisikku, Nona Ino?" bisik si pemuda, mengundang Ino memutar kepalanya untuk menemui onyxnya lagi.
Si gadis tersipu lebih dalam saat memandang ekspresi Sai yang tengah menyeringai tipis ke arahnya.
"Aku bahkan bisa melakukan beberapa hal padamu, yang mampu membuatmu menghapus pikiran itu." ucap Sai.
Ino sedikit menegang saat mendengar intonasi seduktif yang terselip dalam bisikan suara serak-serak basah itu.
Si gadis segera memalingkan kembali wajahnya untuk berpikir. Apa guyonannya barusan telah menyulut sesuatu di dalam diri pemuda pucat itu?
Sayup-sayup suara gesekan tungkai serangga terdengar dari kegelapan hutan.
Namun, bukan itu yang membuat si gadis tiba-tiba merasa merinding.
X X X
Siang hari menjelang sore di salah satu ruangan gedung perusahaan Shimura.
Seorang CEO muda nan tampan sedang memeriksa dokumen bisnis terakhirnya sebelum ia dapat memutuskan untuk membubuhkan tanda tangannya di atas kontrak kerja tersebut.
Belakangan ini seluruh pekerjaannya terasa ringan. Seolah ada motivasi lain yang membuat lahir dan batinnya terasa segar, seperti mendapat suntikan semangat. Si pemuda memang selalu menjadi seorang manusia yang peduli dengan kesehatan, namun Sai belum pernah merasa sebugar ini sebelumnya.
Di tengah kesibukan, sesekali ia sempat mengecek smartphonenya. Layar ponsel pintarnya itu masih menampilkan sebuah chat room kelanjutan dari percakapan semalam. Pemuda tersebut jarang menggunakan aplikasi chat online sebelumnya, namun beberapa pesan obrolan dengan seorang nona sempat mengerecoki handphonenya di beberapa malam terakhir. Kini bagi pemuda pucat itu, media sosial menjadi terasa lebih bermanfaat . . . dan menyenangkan.
Setelah senyum-senyum untuk kelima kalinya, si pemuda kembali menenggelamkan diri pada sebuah proposal bisnis yang baru dikirim ke ruangannya sekitar 7 menit lalu.
Meski ia lebih menyenangi untuk menghabiskan waktunya dalam studio lukis, tapi jangan salah, sebenarnya si pemuda adalah seorang workaholic. Ia bahkan tidak pernah mengeluh jika harus menghabiskan seluruh malamnya untuk lembur. Baginya, bekerja adalah sebuah pembunuh kebosanan.
Waktu berjalan lebih cepat saat pemuda itu menyibukan diri.
Tepat saat Sai menutup lembar terakhir berkas kerjanya, ponsel si pemuda berdering.
Pemuda itu langsung meraih alat telekomunikasi genggam yang tergeletak di mejanya. Sejenak, ia menatap nama di layar lalu tanpa ragu langsung menjawab panggilan masuk tersebut.
Yamanaka Ino. Nama yang ditampilkan di layar smartphonenya.
"Halo, Sai?" Segera, ponsel pintarnya mendengungkan suara gadis yang saat ini sedang menjadi pendamping kencannya.
"Ya?" jawab si pemuda.
"Sedang sibuk?"
Sai melirik sekilas ke arah setumpukan dokumen di meja kerjanya. "Tidak."
Terdengar desahan lega dari sebrang sana. "Syukurlah."
"Ada apa?" tanya Sai, tak bisa untuk tidak penasaran.
"Aku butuh pendamping untuk pergi ke suatu acara di suatu tempat. Kau datang menjemputku sekarang ya?"
Tidak ada jeda saat pemuda itu langsung menyanggupi. "Oke."
. . .
Sai tiba di salah satu butik terbesar milik keluarga Yamanaka.
Ternyata Ino tidak meminta untuk dijemput di rumahnya, namun di butiknya.
Kedatangan si pemuda disambut khusus oleh para pegawai butik yang kebanyakan wanita dan semuanya langsung berblushing ria ketika melihat sosok pemuda berparas tampan tersebut. Mereka tak mampu menepis aura high class yang dipancarkan oleh si tuan muda. Para pegawai wanita itu segera menggeleng-gelengkan kepala, telah mewanti-wanti diri sendiri bahwa tuan muda charming ini pastilah seseorang yang sedang ditunggu oleh nona mereka, yang berarti sang tuan tersebut adalah milik si nona. Tidak boleh ada acara ganjen-ganjenan, atau sikap kelewat ramah yang dibuat-buat.
Salah seorang manajer mulai mengantarkan Sai menuju sebuah ruangan di sudut terdalam butik tersebut. Desain interior butik yang terkesan artistik dan minimalis, membuat tampilan toko pakaian eksklusif itu menjadi semakin menawan. Di setiap sudut ruangan butik diletakkan sebuah vas berisi beberapa jenis bunga potong. Aroma butik terselimuti oleh perpaduan wewangian manis dari berbagai bunga segar.
Sai melewati beberapa ruangan yang memajang banyak sekali busana branded yang tampak mewah. Berbagai koleksi pakaian di butik high fashion tersebut ditampilkan dalam banyak rak gantung terbuka. Busana wanita dan pria di tempatkan di ruangan yang berbeda.
Interior butik untuk zona wanita berkonsep ruang terbuka (open plan) yang dilengkapi bagian khusus asesoris, sepatu dan tas wanita yang dipajang pada ruangan berlantaikan marmer mengkilap dan berdinding berbeda warna, dan tidak dipisahkan oleh sekat-sekat. Beberapa busana formal dan gaun malam disimpan di rak kaca.
Zonasi pakaian pria dan wanita dipisahkan oleh partisi kaca dan tembok dengan pahatan timbul. Pusat butik dilengkapi area kecil untuk bersantai, sebuah sofa minimalis berwarna merah diletakkan di tengah ruangan untuk mempercantik desain interiornya.
Sai berjalan menuju sesi pakaian pria. Bagian pria terasa lebih hangat dengan penggunaan lantai kayu. Di bagian pusatnya terdapat sebuah walk-in closet berukuran besar dengan lemari-lemari kaca dan besi berpoles. Tampilan ruangan ini memberikan kesan elegan dan maskulin yang tidak berlebihan.
Kini si pemuda sudah berada di sebuah fitting room khusus setelan formal untuk pria. Berbagai macam jas, tuksedo sampai lounge suits tergantung rapi dalam rak kaca terbuka.
Tak lama kemudian, Sai melihat sang pemilik butik datang menghampirinya dengan sudah berbusana rapi nan elegan. Nona pirang itu sedang ditemani oleh dua pegawainya.
Ino tersenyum lebar saat melihat Sai, sudah memprediksikan ia akan datang dengan mengenakan setelah hitamnya seperti biasa. Sementara Sai agak takjub dengan penampilan si gadis. Ino membalut tubuhnya dengan sebuah busana formal, atasan sleveless berwarna putih dan rok span hitamnya yang sukses mencetak tubuh semampainya. Rambut pirang panjang si gadis dibiarkan terurai dengan bagian atas rambut sedikit diikat dalam sebuah half updo. Wajah eloknya dipertegas dengan polesan make up natural.
Penampilan nona pirang itu selalu sukses membuat hati Sai terasa berdenyut dan bergetar.
Saat si pemuda masih tampak tercengang dengan pesonanya, Ino segera melingkarkan lengannya menggaet pemuda itu untuk menariknya menuju sebuah cermin besar. Mereka berhenti tepat di depan cermin tersebut, sambil melihat bayangan keduanya terpantul di dalam kaca.
Ah, Sai dan Ino terlihat serasi bersanding berdampingan seperti demikian.
Ino memicingkan mata birunya untuk mengamati sosok si pemuda dari cermin. Dua buku jemarinya di ketuk-ketukan ke dagu, saat si gadis mempertimbangkan setelan mana yang akan cocok dipakai si pemuda.
"Kita akan menghadiri acara apa?" Sai bertanya, saat merasakan tatapan Ino fokus memperhatikan tubuh bagian atasnya. Untuk pertama kalinya si pemuda bersua semenjak ia melangkahkan kaki ke dalam tempat ini.
Si gadis mendongak. "Pernikahan," jawab Ino, sambil tersenyum ia melanjutkan, "Temani aku, ya?"
Tentu saja Sai tidak akan bisa menolak saat gadis itu meminta dengan senyuman mengundang seperti demikian. Ia menjawab dengan anggukan.
Ino sempat menyeringai lebar sebelum ia melenggangkan dirinya menghampiri sebuah rak lemari besar. Satu pegawainya mengikuti. Sai memperhatikan si gadis saat ia mulai menyisir jemarinya pada deretan setelan jas pria berwarna hitam. Gadis itu sibuk membolak-balik beberapa suits tersebut sebelum akhirnya ia bergeser ke deretan tuksedo dan mengambil tiga gantungan baju dari dalam rak kaca. Sai agak terpana melihat Ino berada dalam mode kerjanya ini, ia terlihat serius sekaligus menawan.
Kini Ino sudah berjalan menjauhi rak gantung berisi selusin men's suits tersebut, kembali menghampiri Sai yang masih berdiri diam di tempatnya.
"Buka jasmu." Kata Ino, membuat wajah bingung Sai menoleh.
"Pilih yang mana yang kau sukai." Ucap Ino lagi, sambil menyodorkan tiga gantung setelan tersebut.
Sai menggerakkan manik hitamnya untuk mengamati setelan itu satu per satu. Semuanya berwarna hitam, hanya sedikit berbeda model. Ada single breasted suit dan double breasted suit, yang pasti pakaian-pakaian tersebut termasuk pada kode busana black tie.
Setelah 6 detik pengamatan, akhirnya satu tangan si pemuda menjangkau sebuah setelan yang sedang dipegangi tangan kanan Ino. Si gadis tersenyum. Ia segera menyerahkan dua gantungan yang tidak terpilih kepada pegawainya.
Ino mulai mengetukkan jari telunjuk ke bibir mungilnya saat memperhatikan Sai yang sedang mencoba pakaian yang dipilihnya barusan. Ukuran tuksedo berwarna hitam itu ternyata cocok dengan lebar bahu dan dada si pemuda, sehingga membuat si gadis melonjak girang.
Ino cepat-cepat mencopot sampel jas tersebut dari tubuh Sai dan menyerahkannya lagi ke seorang pegawai lain yang berdiri di belakangnya. "Satu set tuksedo ini dengan perlengkapannya, bawakan ke ruanganku."
Pegawai wanita itu menggangguk paham.
. . .
Ino sedang terduduk santai di sofa santainya yang berwarna dark purple saat seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
Si gadis langsung menarik tubuhnya untuk berdiri dan melangkah menghampiri pintu. Saat daun pintu dibuka, Ino melihat pegawainya sedang berdiri setengah membungkuk. Ino segera memindahkan pandangannya ke setumpuk kain yang didekap satu tangan pegawai tersebut, tangannya yang lain menenteng hanger sebuah tuksedo.
Pegawainya mendongak, sambil sedikit malu-malu ia menyerahkan kemeja putih, setelan celana panjang, handuk, seperangkat pakaian dalam dan kosmetik khusus pria dari dekapannya ke dekapan si nona yang telah menunggu. Ino menyampaikan tuksedo hitam ke bahunya, karena kedua tangannya telah penuh.
Ino kembali melirik ke arah si pegawai lalu mengangguk pelan. "Trims," ucapnya.
Pegawai wanitanya itu terlihat tersipu, selalu kagum oleh kecantikan nonanya. Ia segera undur diri sambil membungkuk pelan sebelum akhirnya daun pintu kembali tertutup.
"Sai, sudah selesai?" panggil Ino saat dirinya mulai melenggang melewati meja kerjanya. Kemudian, ia menyimpan tumpukan pakaian dalam dekapannya ke sebuah keranjang troli yang terletak di ruang ganti pribadinya itu.
"Hampir." Jawab Sai dari dalam kamar mandi. Suara gemericik air shower masih terdengar dari dalam sana.
Ino langsung membuka daun pintu toiletnya, hanya untuk mendorong troli tersebut masuk. "Aku meletakkan baju gantimu di dalam sini ya."
"Oke." Sahut si pemuda dari balik ruangan shower yang terpisah dengan ruangan toilet tersebut.
Beberapa saat kemudian, Sai melangkah keluar dari kamar mandi. Satu tangan si pemuda membenahi kancing kemeja putihnya, satu tangannya yang lain menggesek-gesekkan handuk pada rambut hitamnya yang masih setengah basah.
Ino segera menghampiri Sai dan mengambil alih rambut si pemuda yang sedang berantakan. "Cepat, kita tidak punya banyak waktu."
Aroma segar peppermint sabun berpadu dengan bau parfum pria beraroma musk terpancar dari tubuh si pemuda.
Sai yang mulai membenahi kancing lengan kemejanya dibuat mendongak sambil merengut. "Kau yang menyuruhku untuk mandi."
Ino hanya tertawa. Gadis itu segera mendorong tubuh Sai untuk duduk di sofanya.
"Kau sudah seharian berada di kantor. Acara pernikahannya akan berlangsung sampai malam. Memangnya ganti baju saja sudah cukup?" sahut Ino, ia berdiri di depan Sai sambil kedua tangannya menekan bahu pemuda itu, menahannya untuk tetap berada dalam posisi duduk. Sai hanya mendesah pelan.
Ino segera menyalakan sebuah hair dryer untuk mengeringkan rambut raven Sai yang masih agak basah dan berantakan. Jemari tangannya membolak-balik helaian hitam tersebut.
Tiga setengah menit kemudian suara desingan kipas pengering rambut yang memenuhi seantero ruangan itu melemah. Ino mematikan hair dryernya, tangannya dengan cekatan menyisir rapi rambut hitam si pemuda. Jemari Ino sempat mengecek kerah sayap kemeja putih Sai dan sempat merapikan bow tie pemuda itu. Sementara Sai tetap diam sambil masih memperhatikan gadis itu yang sedang meraba-raba tubuh bagian atasnya dengan sesuka hati. Akhirnya, si gadis memutar tubuhnya untuk mengambil sentuhan terakhir pada penampilan Sai, yaitu tuksedo hitamnya.
"Tunggu di sini, aku akan mengambilkan jasmu." Ujar Ino.
Sai dapat melihat rambut pirang si gadis bergoyang ketika Ino memutar tubuhnya. Rambut panjang gadis itu menutupi seluruh bagian punggung, bahkan dua pertiga tubuh bagian belakang si gadis.
Saat Ino hendak melangkah menjauhi pemuda yang masih terduduk di sofa itu, tiba-tiba saja Sai menarik satu lengan Ino sehingga membuat tubuh jenjang gadis itu jatuh ke pangkuan si pemuda.
"Kyaa!" pekik si gadis, terkejut saat tubuhnya ditarik dari belakang sampai punggungnya menabrak tubuh depan Sai yang masih sedang duduk dengan tenang.
Kini Ino sudah duduk di pangkuan Sai, punggungnya membelakangi tubuh si pemuda.
"Kau seenaknya saja menyuruhku untuk melakukan ini itu." Ucap Sai, tangannya yang tidak memegangi lengan Ino segera dilingkarkan di perut ramping si gadis.
"A-apa yang kau lakukan, Sai?!" jerit Ino, ia membelalakkan aqua beningnya. Rupanya, menjadi sedikit bossy memang sudah merupakan sifat alami si gadis.
"Tampaknya kau sudah lupa cara untuk bersikap formal kepadaku, nona." sahut si pemuda dengan santai.
"Ha?" Ino mengerjap dengan mulut agak terbuka.
"Tak ada sambutan hangat setelah sekian hari tak berjumpa. Sesaat setelah melihatku, kau langsung menarik dan menyuruhku berbenah untuk menghadiri acara yang bahkan tidak kuketahui. Bukankah itu tidak sopan, nona?" ucap si pemuda, sambil mulai membenamkan wajahnya di rambut pirang Ino. Aroma manis melon tercium dari helaian blonde itu.
Ino meringik. "Hei, kau sendiri tidak menolak! Tadi kau sudah sepakat untuk menemaniku kan?" protes si gadis.
Sai melepaskan genggamannya atas lengan Ino. Lalu dengan santai pemuda itu mulai menelusurkan jemarinya pada rambut pirang si gadis. Sambil menyematkan rambut panjang yang menjuntai itu ke belakang telinga Ino, Sai menyandarkan tubuhnya mendekati punggung Ino lalu berbisik, "Ke acara pernikahan."
Ino meringsut geli saat merasakan napas Sai berhembus di belakang telinganya. "S-sa-"
Si gadis sedikit memberontak, tapi Sai tidak bisa berhenti. Ada dorongan kuat dari dalam dirinya, yang membuatnya ingin mempertahankan dan menyentuh gadis dalam dekapannya itu.
Sai memotong. "Barangkali kau lupa," Bisik Sai, ia mulai mengendus Ino dengan menempatkan batang hidungnya di kulit leher gadis itu. Ia bisa merasakan tubuh Ino menegang saat bibirnya mulai menyentuh kulit sensitif di area leher si gadis. "Aku masih memiliki kesan buruk terhadap acara pernikahan." gumam Sai.
"Ha?" seketika Ino berhenti bergerak. Gadis itu tampak lebih sok dengan pernyataan Sai dan mengabaikan sapuan lembut bibir si pemuda. Ino menoleh, lalu memutar paksa setengah tubuh atasnya ke belakang, berusaha untuk menghadap si pemuda. "Kau trauma pada pernikahan?"
Sai mendongak. Ia menahan sementara gerakannya saat melihat ekspresi kaget di wajah si gadis, lalu mulai menyeringai tipis.
Sai mengeratkan dekapan tangannya yang kini sedang melingkari pinggang si gadis, lalu tangannya yang lain meraih dagu Ino, menahan usaha gadis itu untuk menjauh. "Sepertinya kau sudah sepenuhnya melupakan tindakan tidak sopanmu di acara pernikahan kita tempo hari. Begitu, nona Ino?"
Ino berjengit.
Rupanya si nona sudah benar-benar melupakan kelakuannya saat kabur dari pernikahannya di hari itu dan meninggalkan pengantin prianya tercengang menyedihkan disana.
"Haha." Si gadis tertawa canggung. Ia menempatkan kedua telapak tangannya di dada si pemuda, berusaha untuk menegakkan duduknya dan menjauhkan dirinya dari wajah Sai. "Nampaknya seseorang disini masih merasa dongkol dengan kejadian tersebut."
Sai menekukkan bibirnya ke bawah.
Ino memiringkan kepalanya lalu tersenyum seduktif sambil memainkan dasi hitam yang tersemat di kerah berdiri milik si pemuda. "Seorang pria sejati pasti akan bisa move on dari pengalaman buruknya. Bukan begitu, tuan?" Ino meledek sambil sedikit menggodai pemuda itu.
Sai menyipitkan manik gelapnya sebelum akhirnya tersenyum tipis lagi. Kini ibu jari dan telunjuknya mulai mencengkram pelan kedua sisi tulang rahang si gadis untuk menundukkan kepala Ino dan mengunci pergerakan gadis itu.
Si gadis pun nampaknya sudah sepenuhnya lupa bahwa tuan muda di depannya ini pernah ia labeli sebagai seseorang yang 'berbahaya'.
Sai membawa aqua Ino untuk menatap onyxnya. "Benar. Tetapi, selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketidaksopanan yang dilakukan oleh seorang lady. Terutama pada tuan muda sepertiku."
Deg. Tubuh Ino bergidik.
Sai mulai membawa wajah Ino mendekat ke wajahnya sehingga dahi mereka bersentuhan. Cengkraman kuat tapi lembut di pipi mulus Ino memaksa gadis itu merenggangkan bibirnya. "Kurasa kau paham akan hal itu, nona." Bisik Sai, ia melirik bibir merah Ino sesaat sebelum ia memiringkan kepalanya dan mulai membawa bibirnya untuk mengklaim bibir merah si gadis.
Duk.
Tepat sebelum bibir keduanya sempat bersentuhan, Ino mengangkat satu siku tangannya dan menubrukan siku tersebut tepat di puncak dada Sai, mendorong leher beserta kepala berambut hitam pemuda itu untuk terkulai di puncak punggung sofa. "Barangkali, kau sudah lupa bahwa aku adalah seorang lady kasar yang tidak menyesali ketidaksopannya, tuan?" ujar Ino.
Wajah Ino yang sedang tersipu berpadu dengan ekspresi menantangnya.
Sai tercengang beberapa detik sebelum akhirnya tawanya lepas. Perlahan, ia melepaskan tangannya dari wajah Ino. "Aku lupa."
Ino merengut. Ia memang menduga pasti dalam hatinya Sai merasa kesal terhadap beberapa hal yang telah dilakukannya. Tapi Ino tak pernah mengambil pusing karena dulu, ia merasa si pemuda berhak mendapatkan perlakuan seperti itu. Maksudnya, dulu pemuda itu pun bersikap sangat menyebalkan dan banyak mengatakan hal-hal diluar kesopanan.
Ino mengerutkan bibirnya. Ia mulai menarik sikunya menjauh dari leher bawah si pemuda. Melonggarkan tangannya yang sempat mengunci pergerakan pemuda itu. Tapi nampaknya Ino salah bertindak.
Bruk.
Tiba-tiba masing-masing tangan Sai meraih lengan atas dan bahu Ino lalu secara paksa mendorong tubuh gadis itu menghantam dudukan empuk sofa, sehingga membuat Ino tertidur terlentang pada punggungnya.
Kini Ino yang tercengang. Tubuh Sai sedang merangkak di atasnya. "A-apa yang sedang kau la-"
"Barangkali kau pun lupa, nona. Bahwa aku bisa melakukan beberapa hal padamu, yang mampu mencegahmu bersikap arogan seperti itu." Ucap si pemuda, mata hitamnya menatap lekat mata biru gadis itu yang sedang terbelalak.
Tulang rahang Ino terbuka tanpa mampu mengeluarkan suara.
Sai mulai menyondongkan tubuhnya untuk mendekatkan lagi kepalanya ke wajah si gadis. "Apa kau pikir aku akan membiarkanmu terus bersikap tidak sopan padaku?" bisik Sai, kedua lengannya masih memaku tubuh Ino, mencegahnya untuk kabur. Sai tersenyum geli saat melihat ekspresi tegang si gadis.
Ino menelan ludahnya. Wajahnya tersipu, hatinya berdebar. Tapi ia kesal melihat senyum yang sekarang sedang tersungging di wajah pucat Sai. Bagaimana bisa pemuda itu dengan mudah mempermainkannya seperti ini?
Sai sudah mulai menciumi pipi Ino, membuat gadis itu mengambil napas dalam-dalam untuk setiap sentuhan dari bibir hangat si pemuda. Kedua tangannya mulai terangkat untuk mencengkram ujung kerah kemeja Sai, membuat bowtienya miring. Jujur saja, Ino suka dengan kecupan itu. Tapi, kenapa pula ia harus diam saja saat seenaknya diserang seperti ini?
Sai sekali lagi menjauhkan wajahnya hanya untuk melihat wajah si gadis yang sedang memerah. Ekspreksi manis Ino saat ini adalah salah satu alasan dirinya merasa ketagihan untuk mencium gadis itu, lagi dan lagi. Kemudian si pemuda menurunkan kembali wajahnya sambil mulai menutup netra gelapnya.
Grab.
Sayang seribu sayang, satu tangan Ino dengan cepat menghalangi bibir mereka bersentuhan. Telapak tangan si gadis secara paksa membekap wajah bagian bawah milik si pemuda, membuat Sai kembali menarik kepalanya untuk menjauh.
"Seorang tuan muda menyerang seorang lady di dalam ruang kerjanya adalah sebuah bentuk ketidaksopanan. Bahkan, kriminalitas. Seharusnya kau pun paham akan hal itu, tuan?" ucap Ino, sedikit menyelipkan ancaman.
Sai tidak menjawab ataupun bergerak selama kurang lebih 5 detik. Ia hanya mengerjap tiga kali sampai akhirnya tertawa lepas lagi.
Ino mengerutkan dahi.
Sai mulai menarik dirinya ke dalam posisi duduk, masih membiarkan si gadis terbaring di sofa di belakang punggungnya.
Sementara Ino langsung menata napasnya yang sedang naik turun. Ia kesal saat Sai bisa dengan mudahnya membuat jantungnya berdetak kencang seperti ini, Punggung tangannya di tempatkan di dahi, saat mulutnya megeluarkan desahan panjang.
"Maaf." Ucap si pemuda, membuat si gadis mendongak ke arahnya. "Ternyata, kau tidak berubah, Ino."
Sai yang masih tertawa menoleh ke arahnya. Ino kembali menatap si pemuda yang sedang mentertawakannya. "Aku memang suka sekali dengan lady kasar sepertimu." tambah Sai.
Mendengarnya, Ino memberengut lalu segera meraih bantal sofa dan melemparkannya ke wajah Sai. Tetapi bantal itu tidak berhasil menyentuh wajah tampan si pemuda karena Sai dengan sigap mampu menangkap lemparan lemah tersebut.
"Berhenti menyudutkanku, secara verbal dan fisik." geram si gadis, pipinya yang merah masih menggembung karena cemberut.
. . .
"Sudah kubilang kita tidak mempunyai banyak waktu." Omel Ino.
"Kau yang menghabiskan waktu berdandan lebih lama dariku." Ujar Sai saat mengemudikan mobil Bugatti Veyron miliknya.
Ino menoleh sambil mengernyitkan dahinya. "Kau yang membuat penampilanku kembali berantakan."
Ya. Adegan sofa barusan membuat fisik dan mental Ino menjadi sedikit tidak karuan.
"Aku sudah membantu merapikan rambutmu, apa itu tidak cukup?"
Ino memutar mata, kembali meluruskan lehernya. Ia menarik napas dalam-dalam. "Jangan pernah bercanda seperti itu lagi."
"Kau yang membuatku melakukan hal itu." Jawab Sai.
"Ha?" Ino berdecak pelan. "Jika kau tidak suka diatur olehku, bilang saja dari awal."
"Itu bukan masalahnya, nona." Jawab Sai cepat.
"Terus kenapa?" tanya Ino acuh tak acuh.
"Aku hanya tidak tahan ingin menggodaimu." Jawab Sai dengan polosnya.
Si gadis sontak manyun. Dengan segera, ia menyelipkan satu tangannya ke dalam jas si pemuda lalu mencubit kulit Sai tepat di pinggangnya.
Membuat Sai melonjak.
"Hei, aku sedang menyetir." Protes Sai.
Ino mendesah lagi. "Kau tahu, aku harus tampil sesempurna mungkin di hari pernikahan sahabatku."
Sai ber-oh pelan. "Jadi kita akan pergi ke pernikahan sahabatmu." ujarnya, mulai paham kemana destinasi mereka.
Ino mengangguk, masih melihat pemandangan jalanan lurus di luar kaca. "Karena itu, jangan sampai terlambat."
Sai menginjak gas untuk mempercepat laju mobilnya. "Kau bilang prosesinya dilangsungkan malam nanti. Sekarang masih senja, kenapa terburu-buru?"
Ino mendadak jadi bersemangat. "Tentu saja aku ingin cepat-cepat menemui Hinata dalam balutan gaun pengantinnya."
Sai agak menaikan alis saat nama Hinata disebut. Rasanya, ia pernah dengar nama itu, dimana . . gitu.
"Setelah lama sekali hanya bertindak sebagai pengagum rahasia, dan lama terjebak dalam friend zone, aku jadi bertanya-tanya bagaimana kisahnya sampai mereka bisa menikah." ungkap Ino.
"Perjodohan, barangkali?" Si pemuda berkomentar santai.
Ucapan Sai itu sukses membuyarkan mood baik Ino. "Jangan meremehkan gadis itu. Hinata selalu setia mencintai Naruto-kun dari dulu sekali, dan sekarang mereka berhasil naik ke pelaminan. Pernikahan mereka sama-sekali bukan suatu bentuk dari perjodohan." Tegas Ino.
"Naruto?" gumam Sai. Kali ini keningnya dinaikkan.
Ino mendesah singkat. "Ya. Aku sempat khawatir Hinata akan menikah dengan lelaki lain, gadis itu cukup populer loh. Namun mungkin kali ini, laki-laki tak sensitif itu sudah bisa menyadari perasaannya sendiri." Oceh Ino, selalu merasa tertarik dengan kisah percintaan sahabat-sahabatnya. Tidak menyadari, padahal kisah cintanya sendiri perlu dipikirkan.
"Ah." Sai bergumam lagi, "Aku hampir lupa kalau Naruto menikah hari ini."
Ino segera menoleh lagi ke arah Sai, pelipisnya naik. "Kau mengenal mempelai prianya?"
Sai menahan jawabannya. Dengan spontan ia mengangkat satu tangannya dari kemudi lalu mulai memijati jidatnya yang sedang tidak pegal, ketika mencoba mengingat-ngingat pemuda yang sedang mereka obrolkan.
"Kurasa begitu." Jawab Sai pada akhirnya.
Ino semakin mengerutkan dahi. "Kenapa seperti tidak ikhlas begitu? Kau teman Naruto-kun?"
Ada jeda selama 4 detik saat Sai terdiam. "Sepertinya."
Kening si gadis mengernyit saat mendengar jawaban Sai yang terdengar enggan untuk mengakui. "Kau melupakan hari pernikahan temanmu sendiri? Bagaimana bisa? Kau sungguh keterlaluan, Tuan Sai. Itu sungguh tidak sopan."
"Aku tidak lupa, hanya tidak mengingat-ngingat." Elak si pemuda.
"Apa-apaan itu?"
"Well, aku senang kau datang bersamaku ke pernikahannya, Ino." Ujar Sai, melirik singkat Ino sambil tersenyum.
Ino hanya memandang balik si pemuda dengan tatapan heran.
Jadi sekarang, siapa yang sedang mendampingi siapa?
.
.
.
To be continued . . .
[Bila ada yang merasa tersinggung dengan beberapa percakapan disini, mohon maaf karena itu murni hanya sebagai hiburan]
Chapter apa ini, ngelantur T_T Maaf jika fiksi ini sudah mulai ternodai (?)
Hahahaha Aku ngegambarin Sai jadi nakal gimana gitu. Tapi suka. lol Sai pun masih seorang lelaki~
Terimakasih banyak atas dukungan, komentar dan reviewmu. Berarti sekali bagi author :)
Jika berkenan, silakan repyu lagi XD
Jangan bosan buat ketemu di chapter depan ya. Latar ceritanya di pesta pernikahan NaruHina.
Updated : 23/04/16
(Waktu Indonesia)
