"A Life"
Disclaimers : Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei
Rated : T
Pairing : SasuFemNaru
Warning : Gander Bander,Gaje,Aneh,Typo bertebaran,dll
By : Runa BluGreeYama
.
"Kalian menutupi hubungan ini dari kami?!"
Naruto dan Sasuke menoleh kearah pintu dengan cepat. Kedua mata mereka melebar sempurna saat sosok itu menatap mereka dengan meminta penjelasan lebih.
"Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi diantara kalian?" Ucap orang itu lagi.
Tubuh Naruto menegang, ia melirik kearah Sasuke yang tengah terdiam. Apa orang itu telah melihatnya berciuman dengan Sasuke?
.
.
Itachi memijit pangkal hidungnya, rasa pening yang menyambar kepalanya membuatnya bingung dan kalut disaat yang bersamaan. Salahkan kedua adiknya yang membuatnya seperti ini. Feeling nya tentang hal ini telah terjadi, mereka benar-benar saling menyukai.
"Kalian benar-benar membuat semua ini semakin sulit." Gumamnya. Matanya menyorot dengan sendu kearah Naruto dan Sasuke.
Niat Itachi kembali keruangan Sasuke untuk menanyakan apa ada makanan yang ingin dibelikan, tapi ia malah menemukan masalah baru. Itachi bahkan lupa dengan Mikoto yang mungkin masih menunggunya di kantin rumah sakit.
Sebelumnya Itachi sudah menduga jika hal ini akan terjadi, "Aku akan merahasiakan ini dari semuanya. Tapi.." Itachi kembali menghela nafas dalam. "Kalian harus menyelesaikan ini dan memberitahu semuanya secepatnya."
Naruto mengangguk pelan, ia tidak menduga jika Itachi melihat semuanya. Rasa takut kini mulai menyerangnya. Naruto kembali menunduk, ia tidak mau jika hal ini menjadi besar dan akan merusak keluarga Sasuke. Ia tidak mau.
"Baiklah, apa yang kalian mau beli? Makanan?" Tawar Itachi seraya tersenyum. Ia menghampiri Naruto dan mengusap rambut pirang itu dengan lembut. "Kau tidak usah takut, semua akan baik-baik saja."
Naruto kembali mendongak ia membalas senyuman Itachi. "Hum." Angguknya.
"Sasuke tentu akan menemukan jalan keluar dari semua ini, iya kan?" Tanya Itachi.
Sementara yang ditanya hanya mendelik dan kembali membuang muka. Itachi hanya tertawa. Dan Naruto? Dia tersenyum kecut. Masalah baru kini mulai mengujinya lagi.
.
Naruto memandang kumpulan awan dengan tenang. Ia tengah berada di atap rumah sakit. Setelah Itachi dan Mikoto kembali keruangan Sasuke, ia meminta izin untuk pergi sebentar. Naruto tidak bilang ia akan keatap, karena yang ia butuhkan hanyalah ketenangan dan sendiri.
Ia butuh ketenangan, ia tahu ini kehidupannya. Kehidupan yang kelam dan mungkin ia akan terperosok jatuh dan tenggelam didalam kegelapan. Semakin lama, shappire nya terasa panas dan akhirnya butiran air bening jatuh membasahi kedua pipinya. Ia terisak dalam diam, bekas luka di hatinya kembali teroyak menimbulkan rasa perih yang melebihi apapun.
Minato,
Kushina,
Sakura,
Sasuke,
Dan keluarga Uchiha.
"Kau lihat Naruko? Bahkan semenjak kau tidak ada, masalah tetap saja datang!" Gumam Naruto. Tangisnya semakin memilukan untuk terdengar.
"Apa aku harus mati? Agar semua ini berakhir?" Suaranya semakin meninggi.
Ia memukul-mukul dinding pembatas didepannya. Kedua tangannya memerah, ia tidak menghiraukannya sama sekali. Rasa sakit ditangannya tidak seberapa dengan rasa sakit yang ia rasakan dihatinya. Sekali lagi, ia merutuki kehidupannya. Dari sekian banyak orang didunia ini kenapa? Kenapa harus dirinya?
Tubuh Naru merosot, ia menyenderkan tubuhnya didinding pembatas itu. Tangisnya semakin menjadi, sesekali ia memukul dadanya yang mulai berdenyut.
"Terus sakit! Terus, sampai aku mati hari ini juga!" Lirihnya.
Jujur, ia tidak bisa jika harus menjauh dari Sasuke. Selama ini Sasuke lah tempatnya untuk pulang dan Sasuke lah tempatnya untuk kembali. "Apa yang harus kulakukan?"
Perasaan ini membuat Naruto serba salah. Ia tidak bisa melanjutkan hubungannya dengan Sasuke, karena dia dan Sasuke adalah saudara.
Cklek..
Naruto menoleh karah pintu. Suara denyitan pintu tua cukup membuatnya siaga dan menghapus jejak air matanya dengan kasar.
"Itachi-nii?" Ucap Naruto memastikan.
Itachi tersenyum. Ia menghampiri Naruto dan duduk disebelahnya. "Ternyata benar kata Sasuke. Kau ada disini."
".."
"Semua pasti ada jalan keluarnya, Naru-chan. Kau tidak perlu mati untuk keluar dari masalah ini."
Naruto tersenyum kecut. Begitu mudahnya Itachi bicara. Ia tidak merasakannya, jelas saja ia mudah mengatakannya.
"Kapanpun seseorang pasti akan mati, tidak perduli masalah yang menerpanya sudah selesai atau belum." Naruto bangkit dan kembali melihat kota yang terpampang luas dibawah. "Hingga akhirnya seseorang itu akan terlupakan dan nama orang itu akan menjadi memori yang tidak berarti."
"Hum? Kau sudah putus asa?"
Sekali lagi Naruto tersenyum kecut. "Ya, dari dulu."
"Lalu kenapa kau tidak bunuh diri sejak dulu?"
Naruto menoleh kearah Itachi. Pemuda itu juga ikut bangkit dan berdiri disamping Naruto. "Semua yang kau bicarakan tidak berlaku untuk orang yang menyayanginya."
"Maksudmu?"
"Siapapun tidak akan mau orang yang disayanginya mati dan meninggalkan mereka, Naru-chan." Itachi menepuk puncak kepala Naru pelan. "Fikirkan kembali sebelum kau bunuh diri. Fikirkan bagaimana reaksi Kurama, sepupumu, kaa-san, tou-san, Sasuke, dan Aku kalau kau mati."
Naruto terdiam, mungkin Itachi benar. "Dulu aku selalu berfikir semua masalah itu akan pergi dan aku bisa memeluk orang tua kandungku lagi. Untuk itu aku bertahan hidup." Naruto memandang Itachi dengan sendu. "Dan sekarang? Untuk apa aku hidup kalau masalah yang semakin besar akan membunuhku juga dengan perlahan? Bukankah lebih baik jika langsung mati daripada harus menahan sakit terlebih dahulu?"
Naruto mendengus lalu berlalu. Ia meninggalkan Itachi yang masih menatap punggungnya dengan tidak percaya. Inikah sosok Naruto yang benar-benar putus asa?
"Kau tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi diriku, Itachi-nii. Jadi jangan mencoba menasihatiku seakan kau merasakan apa yang kurasakan." Ucap Naruto sebelum ia membuka pitu reot itu dan berlalu.
Blam..
Itachi langsung melemaskan tubuhnya yang sempat menegang karena ucapan Naruto. ia menghela nafas lelah dan menggelengkan kepalanya. "Anak jaman sekarang.. Kuharap ia tidak benar-benar serius dengan ucapannya."
.
Pukul 06.45 pagi..
Naruto memandang jam dinding rumah sakit dengan datar. Masih ada waktu beberapa menit lagi untuk kesekolah, ia sudah beberapa hari absen dan sepertinya lebih baik ia masuk hari ini.
Ia pun bergegas untuk pulang ke mansion Uchiha tanpa memberi kabar apapun kepada Mikoto yang masih menunggu Sasuke diruangannya.
Setelah sampai di mansion Uchiha, Naru langsung bergegas menuju kamarnya. Kamar bernuansa paling mencolok diantara kamar lainnya. Dan kamar yang sudah beberapa hari lalu ia tinggalkan. Naru menatap tempat tidur dengan seprai berwarna orange nya, ingin rasanya ia kembali tidur dan memeluk guling kesayangannya. Tapi, ia menyambar handphone nya di meja lalu mengetikkan beberapa kalimat untuk Ino, sepupunya.
Ino, jemput aku di mansion Uchiha. Aku ingin sekolah hari ini.
Tanpa menunggu balasan, Naru segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian ia sudah selesai mandi dan berpakaian. Seragam sekolah dengan model rok 5 cm diatas lutut berpola kotak-kotak coklat tua, lalu kemeja putih polos dan dibalut lagi dengan jas berwarna coklat dan dasi berwarna senada dengan jasnya. Lalu rambut pirangnya ia sengaja digerai. Siap lah sudah, tinggal menunggu Ino menjemput.
Seraya menunggu Ino ia turun kebawah, menuju ruang keluarga. Beberapa maid yang sempat menyapanya hanya ia balas dengan senyuman. Tidak seperti biasanya yang selalu di balas Naru dengan riang dan semangat.
Tidak menunggu lama, suara klakson mobil terdengar. Ia segera memakai sepatu nya dan berlari keluar.
"Gomen'nasai merepotkanmu, Ino." Ucap Naru setelah ia masuk kedalam mobil.
Ino tersenyum. "Kukira kau masih perlu dirumah sakit, Naru. Jangan bilang kalau kau lari dari rumah sakit?"
Dengan cepat Naru menggeleng. "Tidak, aku sudah sembuh. Tidak ada gunannya aku lari."
Ino pun mengangguk. Hingga akhirnya suasana hening mendominasi di mobil itu.
"Um, ano. Naru, kau sudah tau kan kalau besok kau harus ke persidangan?"
Naru menoleh dengan cepat, salah satu alisnya terangkat. Sangat jelas ia bingung. "Persidangan apa?"
Ckiitt..
Tiba-tiba Ino mengerem mendadak, "Astaga Naru! Jangan bilang kau tidak tahu?! Kukira keluarga Uchiha sudah memberitahumu." Ino menghela nafas dalam ketika Naruto hanya menggeleng. "Besok itu persidangan pergantian namamu. Bisa dibilang kau ini belum sepenuhnya Uchiha. Harus ada pengakuan hukum juga."
Naruto mengalihkan pandangannya kearah jendela. Mungkin ini kesempatannya untuk bisa bersama Sasuke dengan ikatan yang berbeda. Ya, ia lebih ingin menjadi Uchiha dengan menjadi istri Sasuke bukan menjadi saudara.
Tidak lama kemudian, Ino dan Naruto sampai disekolah. Suasana dikelas tiba-tiba hening saat Naruto masuk keruangan itu. Namun, dengan datarnya Naruto menanggapi semua tatapan itu. Sama seperti Naruto yang dulu, yang selalu tidak perduli dengan apapun. Ia langsung duduk disebelah Hinata. Hinata dan Temari segera menyambutnya, mereka sudah lama sekali tidak bertemu Naruto.
"Naruto, kami ingin kekantin. Mau ikut?" Ajak Ino. Dibelakang Ino Temari dan Hinata sudah menunggu.
"Tidak." Jawab Naruto. Ia masih berkutat dengan buku tebal bahasa asing, matanya seakan lekat tertuju pada tulisan yang tidak dimengerti oleh Ino.
Ino pun mengangkat kedua bahunya dan berlalu, Hinata dan Temari pun mengikutinya. Dikelas itupun sepi, hanya ada beberapa anak.
"Naruto.."
Naruto menoleh saat namanya dipanggil. Karin dan Yugao telah berada dihadapannya. Dengan wajah datar, Karin menyodorkan sebuah gelang padanya. Gelang yang sempat ia perebutkan dulu dengan Sakura, gelang pemberian orang tuanya.
"Sakura menitipkan ini." Ucapnya datar.
Naruto tidak kunjung bergerak. Pasti ini siasat Sakura untuk mengerjainya lagi. Begitu fikirnya. Bukannya mau berfikir buruk, tapi apa salahnya kan kalau siaga terlebih dahulu?
"Kali ini apa rencana kalian, heh?"Naruto tersenyum meremehkan.
"Baka! Kami sudah berbaik hati memberikan ini padamu! Dan kau masih saja berfikir buruk?! Cih." Yugao geram, ia mengambil gelang yang dipegang Karin dan melemparkannya kearah Naruto lalu menyeret Karin keluar kelas.
Naruto mendecih, ia mengambil gelang itu lalu memakainya. Seketika matanya berubah sendu. Seandainya saja dulu Sakura tidak merebut gelang ini dan memberikan kebenaran bahwa Kurama masih menyayanginya mungkin sekarang ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya disayangi kakak kandungnya itu. Mungkin Naruto perlu berterima kasih pada Sakura.
Namun dengan cepat ia menggeleng. Tidak mungkin ia berterima kasih pada si pink itu. Karena seharusnya si pink lah yang berlutut menurunkan ego nya untuk berterima kasih atau sekedar meminta maaf padanya.
"Kepalamu bisa copot kalau kau menggeleng seperti itu."
Naruto terdiam, wajahnya memerah seketika. Gaara berada dihadapannya dengan tampang datar selayaknya Sasuke. Yang membuat wajahnya memerah bukanlah Gaara, tapi ia ketahuan bertingkah bodoh.
"Aku ingin bicara denganmu. Aku tunggu kau di atap." Ucapnya datar lal berlalu. Meninggalkan Naruto yang cengo tak jelas.
.
Kini Naruto sudah sampai di atap. Ia tengah berhadapan dengan Gaara. Satu hal yang membuatnya kaget adalah Gaara menembaknya! Gaara menyukainya! Sahabat Sasuke ini telah menyukainya. Bagaimana bisa pemuda rambut merah itu menyukainya sementara dia tahu perempuan yang ia sukai itu sudah milik orang lain, meskipun itu belum pasti.
"A—Aku tidak habis fikir. Kau sahabat Sasuke, dan kau menyukaiku?" Naruto mengangkat kedua alisnya.
"Aku hanya ingin memilikimu.." Gaara semakin mendekat. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya jadi diriku saat kau bermesraan dengan Sasuke.." Pemuda itu semakin menghimpit Naruto yang sudah terpojok dengan tembok dibelakangnya. "Aku menyukaimu."
Cup..
Bibir Gaara menempel begitu saja. Naruto melotot, ia meronta sebisanya tapi tangan Gaara mencengkram kedua tangannya. Gaara terus memaksa Naruto membuka mulutnya,namun ia gagal. Naruto menginjak kakinya dengan keras lalu mendorongnya.
"Kau gila, Gaara!" Bentak Naruto. Ia hendak melangkah pergi namun Gaara menghentikannya.
"Maaf, Naruto. Aku benar-benar menyukaimu."
Naruto berbalik, air matanya sudah jatuh membasahi pipinya. Ia tidak menyangka Gaara melakukan hal seperti itu padanya. "Tapi tidak seperti ini, Gaara. K—Kau jahat."
Gaara terdiam. Timbul rasa penyesalan dihatinya. "Maaf.."
"Akan ku anggap semua ini tidak pernah terjadi. kau tahu Gaara? Aku sangat menyukai Sasuke. Perlakuan kau tadi hanya akan menambah masalahku, Gaara. Aku mohon, jangan membuatku mati dengan tiba-tiba hari ini." Pinta Naruto yang membuat Gaara mematung tidak percaya.
"Naruto.." Gaara hendak menghampiri Naruto namun ia kembali terdiam. "Cepat temui Sasuke. Ia mungkin akan dalam bahaya."
"Maksudmu?"
.
"Kau lihat Naruto? Foto ini akan kuberikan pada Sasuke, semoga hidupmu hancur hari ini juga, Naruto." Ucap gadis bersurai pink seraya memperhatikan foto yang baru saja ia dapatkan. Foto Naruto yang tengah dicium paksa oleh Gaara.
.
Wanita bersurai merah tengah memasuki kantor polisi. Wajahnya berseri seakan ada kejadian yang menyenangkan. Dia Kushina, ia berniat menjenguk Minato yang masih di bui dan memberitahukan rencananya dengan Sakura.
Setelah menunggu beberapa saat, Akhirnya Minato bisa ditemui. Wajah Minato sedikit pucat dan kurus, dimatanya terdapat kantung mata yang sedikit menghitam dan sangat terlihat jika tubuhnya tidak terurus. Ia pun sedikit terbatuk-batuk.
"Minato, Sakura sudah menjalankan rencana yang kubuat.." Kushina tersenyum sumringah. "Uchiha bungsu itu mungkin akan tewas.." Bisiknya.
"Hentikan, Kushina."
Belum sempat Kushina melanjutkan perkataannya, Minato sudah menyelanya. "Naruto sudah cukup menderita. Tidakkah kau rasakan itu? Bagaimanapun kita orang tua kandungnya, Kushina."
Kushina terdiam. Alisnya mengerut heran. Ia sangat heran mengapa suaminya itu berbuah fikiran. Padahal sebelum masuk bui ia sangat benci Naruto.
"Kau kenapa, Minato?" Ucap Kushina pelan.
Minato mengambil nafas dalam, lalu mulai menceritakan semuanya pada Kushina.
Flashback..
Hari dimana Minato masuk penjara.
Saat pulang sekolah, Naru tidak langsung kerumah sakit untuk menjenguk Sasuke. Ia berniat menemui Minato terlebih dahulu dipenjara. Ia sudah siap dengan semua resiko yang akan dia dapatkan untuk berbicara secara langsung dengan ayah kandungnya itu.
"Tou-san.." Panggil Naruto lirih. "Maafkan Naru.."
Minato membuang muka. Tangannya terlipat didepan dada. Wajahnya mengeras menahan marah. Ingin rasanya ia kembali ke balik jeruji besi dan mengurung diri disana daripada melihat wajah Naruto. Tapi diurungkannya niat itu karena beberapa polisi yang berada disampingnya memaksanya untuk mendengarkan Naruto.
"Naru tahu, tou-san sangat membenci Naru. Naru akan mengurangi masa tahanan tou-san, tapi Naru mohon dengarkan Naru.." Air mata mulai jatuh membasahi pipinya. "Naru sakit, Naru sudah tidak bisa hidup normal lagi, Naru bisa mati kapan saja, tou-san. Naru hanya ingin tou-san dan kaa-san bisa memeluk Naru."
"Sakit?" Minato menatap Naruto dengan intens. Didalam hatinya terasa sesak saat Naru bilang ia bisa mati kapan saja. Mungkin ia sudah mulai tersentuh. Selama ini ia memang tahu Naru sedang sakit, tapi ia kira Naru sakit biasa dan kematian tidak harus menjemputnya kapan saja. Dan baru kali ini pula Minato mau mendengarkan ucapan Naruto.
"Sebelum pergi ke Indonesia, tou-san dan kaa-san memarahi Naru dan Naru pergi dari rumah. Dan saat itu Naru kecelakaan, Naru tertabrak truk dan Naru koma selama seminggu. Mulai saat itu Naru tahu kalau jantung Naru bermasalah karena benturan keras.."
Minato meneguk ludahnya, ia tidak menyangka Naruto benar-benar tersiksa karena dirinya. Kali ini, Minato benar-benar menyesal. Setetes air mata mengalir dipipinya. Shappirenya menatap sendu wajah Naruto yang memucat. Minato sangat menyesal. Minato bahkan tidak tahu menahu soal kecelakaan Naru, seharusnya Naru yang membenci dirinya. Bukan dirinya yang membenci Naru.
"Ma—Maafkan tou-san.." Minato hendak bangkit untuk memeluk Naruto, namun Naruto sudah bangkit terlebih dahulu karena jam besuk sudah selesai. Naru berojigi, ia menghapus air mata yang mengalir dipipinya dengan kasar dan tersenyum getir kearah Minato.
"Arigatou, tou-san." Lirirhnya lalu berlalu meninggalkan Minato.
Sejak saat itu, Minato selalu termenung. ia selalu makan sedikit dan kadang menangis dalam diam.
Flashback Off..
Kushina nyaris membuka mulutnya lebar, matanya menyorot tak percaya kearah Minato. Jadi keadaan Minato yang sakit-sakitan sekarang karena memikirkan Naruto? Pengakuan Naruto memang sangat tidak diduga, apalagi soal penyakitnya. Jujur, Kushina tidak tahu menahu tentang ini.
"Aku memang sempat benci padanya, apalagi saat ia menolak untuk pindah ke Amerika dan meneruskan perusahaan kita disana. Padahal saat itu kita sudah memberinya kepercayaan.." Minato menutup mukanya dengan kedua tangannya. "Tapi.. Aku benar-benar tidak menduga dia bermasalah dengan jantungnya.."
Kushina tidak tahu harus berkata apa. "Minato, kurasa.. Apa anak itu tidak berbohong? " Minato menggeleng, Kushina terdiam hingga akhirnya ia mendongak dengan tiba-tiba. "Astaga!" Kushina terpekik, ia bahkan tidak menghiraukan Minato yang ikut panik karenanya.
Kushina mencari kontak telefon di handphone nya dengan terburu-buru. Setelah ketemu, ia langsung menekan tombol hijau dan menempelkan handphone itu ditelinga kanannya. "Angkatlah, angkatlah.." Gumamnya.
.
Piipp..
Dengan cepat, pemuda itu mengambil handphone nya, sebuah e-mail masuk yang membuatnya sedikit curiga err.. bukan sedikit, tapi sangat curiga. E-mail dari Sakura Haruno. Dengan rasa penasaran ia pun membuka e-mail itu.
Deg..
Baru saja ia membuka e-mail itu, mata onyx nya sudah membulat. Sebuah foto yang membuat hatinya panas dan geram secara bersamaan. Naruto dan Gaara..
Aku menemukan mereka di gedung tua dekat taman Konoha. Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas kau sangat mengenali penampilan Naruto kan? Ah ya, mereka masih disini. Kuharap kau tidak menganggap ini lelucon, Sasuke. Mungkin saja mereka dapat berbuat lebih.
Begitulah pesan Sakura. Pesan yang membuatnya semakin panas. Tanpa fikir panjang, Sasuke menyibakkan selimut yang membungkus kakinya, dan mengambil tongkat disamping tempat tidurnya. Ia pun mengganti baju pasien yang ia kenakan dengan baju biasa. Ia cukup bersyukur karena Mikoto ataupun Itachi tengah tidak berada diruangan itu. Kalau ada mereka, Sasuke tidak akan mungkin dibolehkan keluar rumah sakit.
Dengan tertatih ia berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit dengan bantuan tongkatnya, ia tidak perduli denga hari yang semakin gelap. Hatinya sudah teriris, ia tidak menyangka sahabatnya sendiri tega melakukan itu. Inikah yang namanya teman makan teman?
"Gaara, brengsek!" Desisnya.
Setelah berhasil keluar rumah sakit, ia naik taksi dan melesat menuju gedung tua dekat taman Konoha. Ia tidak tahu bahwa kematian mungkin akan menjemputnya malam ini juga.
.
Set..
Pemuda bersurai merah itu menggenggam tangan kiri Naruto dengan erat, Naruto yang hendak pergi saat ini juga berusaha memberontak.
"Aku ikut denganmu." Ucap Gaara memaksa.
Naruto mendecih. "Kau dan Sakura sama saja! Kalian licik! Lepaskan tanganku, kalau Sasuke kenapa-kenapa aku tidak akan memaafkan kalian sampai kapanpun!"
"Aku tahu, akan lebih cepat kalau kau naik mobil denganku. Aku ingin menebus kesalahanku, Naru."
Naruto menyentakkan tangannya dan menatap Gaara nyalang. "Huh? Apa kau bilang? Kau fikir aku akan percaya begitu saja?"
Mata Gaara terpejam sesaat, lalu ia menatap Naruto dengan sendu. "Aku tahu aku salah, bagaimanapun Sasuke sahabatku. Izinkan aku menolongnya sekali ini saja."
Naruto diam, dan dengan cepat Gaara menyeretnya menuruni tangga. Betapa bodohnya Gaara, karena perasaan suka nya, ia rela meninggalkan kata persahabatannya. Kali ini ia tidak ada bedanya dengan Sakura. Gaara hanya berharap, rasa sesalnya sekarang belum terlambat.
Gaara melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi. Tangannya mencengkram erat kemudi mobil. Berulang kali hatinya mengucapkan kata maaf.
.
Tak.. Takk..
"Gaara! Keluar kau, brengsek!"
Suara menggema kesegala arah. Pemuda reven itu berteriak keras seraya tersengah-engah. Hari sudah gelap, Namun ia belum menemukan sosok Naruto dan Gaara. Kakinya hendak menapak tangga, namun sebuah suara menghentikannya.
"Kau terjebak.."
Set..
Disaat yang bersamaan kedua tangan Sasuke sudah dipegang erat oleh dua orang berbadan besar. Tongkatnya pun terjatuh. Sosok yang bersuara itupun semakin mendekat. Tangan kanannya memegang sebuah pistol.
"Ikat dia dikursi.."
Sesuai dengan perintahnya, kedua orang berbadan besar itupun menghempaskan Sasuke kekursi dan mengikatnya dengan kencang. Mereka bahkan tidak perduli saat Sasuke meringis. Sosok itupun menghampiri Sasuke dan mengacungkan pistol itu dipipi kanan Sasuke.
"Ada permintaan terakhir, Sasuke-kun?" Sosok itu tersenyum sinis.
"Sakura! Apa maksudmu, hah?!" Sasuke mendesis. Tubuhnya sudah penuh dengan peluh dan berkali-kali memberontak agar tali yang mengikat tangan dan tubuhnya terlepas, tapi seberapa besarpun ia berusaha tetap saja hasilnya nihil.
Sakura terkikik, namun perlahan berubah menjadi tawa yang menggelegar. Suara tawa Sakura yang menggema digedung tua itu membuat Sasuke sedikit mengerutkan keningnya. 'Orang ini gila?' Fikirnya.
Sakura kembali terdiam, "Tentu saja membunuhmu, Sasuke. Menurutmu apalagi?"
Sasuke semakin menggeram. Kemarin Minato, sekarang Sakura, nanti siapa lagi yang akan mencoba membunuhnya? Oh ayolah, tidak adakah orang lain yang lebih pantas untuk diburu oleh mereka? Misalnya koruptor atau para maling mungkin? Sementara dirinya bukan orang jahat, lalu kenapa orang-orang itu ingin sekali membunuhnya?
"Astaga.. Bisakah kalian ini berhenti memburuku?"
Sekali lagi Sakura tertawa, kepalanya hingga mendongak. Pertanyaan Sasuke sungguh konyol, "Kemana otak pintarmu pergi, Sasuke-kun?" Suara tertawanya mereda, "Seseorang ingin memburu karena ada suatu hal yang membuatnya terpaksa memburu. Kau fikir aku dengan tanpa alasan memburumu dan ingin membunuhmu?"
"Karena Naruto?" Sasuke menunduk, sedikit merasa miris. "Bunuh aku, dan berhenti menyakitinya.."
Sakura mendengus kasar, matanya mengerling sinis. "Lihat, sangat drama sekali.." Sakura menatap Sasuke dengan datar, seakan mencoba menyalurkan rasa bencinya. "Naruto.. Anak itu terlalu sempurna! Lihat berapa banyak orang yang menyayanginya! Dan aku? Apa yang aku punya? Apa?!" Geramnya.
Wajah Sakura merah padam. Emosi nya hampir mencapai ubun-ubun. Satu percikan api saja, dan dia akan benar-benar membunuh semuanya.
"Kau hanya melihat semuanya dari luar, Sakura." Ucap Sasuke pelan.
Ya, Sakura tidak tahu bagaimana rapuhnya Naruto selama ini. Dia tidak tahu bagaimana masalah yang selama ini ia buat membuat Naruto hampir mati beberapa kali. Da juga tidak tahu bagaimana sulitnya hidup Naruto meskipun keluarga Uchiha dan kekayaan selalu ada disisinya.
Karena yang Sakura lihat hanyalah hal yang menyenangkannya saja, bukan hal yang lain..
Cklak..
Sakura menodongkan pistolnya, bersiap menembak. Tangannya tidak terlihat gemetar sedikitpun. "Aku akan membuatnya hancur hanya dengan membunuhmu, Sasuke.." Sakura kembali tersenyum sinis. "Dia akan gila dan akhirnya bunuh diri.."
Mata Sasuke membola, ia semakin berusaha melepas tali yang mengikat kedua tangannya. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terbunuh. Ia sudah berjanji pada Naruto. ia akan bahagia dengan Naruto.
Tapi.. Kalau saat ini memang akhirnya? Tubuhnya melemas, ia tidak lagi memberontak. Setidaknya saat ia mati nanti, jantungnya bisa menolong hidup Naruto. Naruto pasti bisa bahagia tanpa dirinya, justru dirinya lah yang tidak bisa bahagia tanpa mataharinya, tanpa sosok cahaya yang menyinari kehidupannya.
"Aku yakin dia akan bahagia meski aku mati. Usahamu akan sia-sia, Sakura." Ucap Sasuke sinis.
"Kau terlalu percaya diri, Sasuke!"
Braakk...
"Sasuke!"
"Terlambat.."
Dorr...
"Ugh.."
TBC
Yaaaaaakkk chapter 10 selesai~~ Banzaaii! Maafkan Runa untuk keterlambatan updatenya. Rencananya setelah Runa akan benar-benar hiatus dulu sampai Runa lulus, mungkin sampai tahun depan. Soalnya Runa udah kelas 3 SMK jadi harus banyak persiapan buat ulangan. Sekali lagi Runa minta maaf buat para readers yang udah nunggu fic Runa!
Dan Runa mau ucapkan terima kasih buat yang sudah menunggu fic ini. Terima kasih juga buat yang udah mem fav, follow, dan review. Jujur Runa seneng banget, banyak yang mem favorite kan dan mem follow. Terima kasih banyak semuanyaa!
Ah ya.. Fic SasuFemNaru kayanya mulai punah ya.. :'( Udah jarang ada yang nge post fic baru SasuFemNaru..
Semoga chapter ini memuaskan ya. Runa minta maaf buat para Sakura lovers! Jangan lupa review! :D
Balasan Review :
mifta cinya : Mama Kushi nya masih kepengen jadi jahat katanya :'( Tapi sekarang udah engga kok :D Jawabannya udah ada di chapter ini yaa.. Arigatou review nyaa..
Akhyar Oruchimaru : Yap, sudah dilanjutt.. Arigatou review nyaa :D
Uzumaki Prince Dobe-Nii: Siapaa yaa? Hehe, jawabannya ada dichapter ini loh :D Arigatou reviewnyaa..
Naminamifrid: Kayanya sih iya, Runa belum bisa memprediksikan *cieilah* :D humm, akan Runa pertimbangkan lagi kehadiran jiraya. Arigatou reviewnyaa :D
Dewi15: Siapa hayoo? :D Hehe.. Yap ini sudah dilanjut, Arigatou ya reviewnya...
kawaihana : Okay, sudah dilanjuut.. Arigatou reviewnyaa :D
Sazumi Misako : Benarkah? :D ya ini sudah dilanjut, salam kenal juga Sazumi-chan! Arigatou reviewnya..
: Yap, sudah dilanjut.. Wah jenong? Haha, siaap.. Runa pasti akan membuat mereka menderita! *Ketawajahat*. Arigatou reviewnyaa..
Kuraki Shuiha : Maaf Runa belum bisa update kilat :'( Gomen'nasai.. Btw, Arigatou sudah suka fic Runa..Yap, saran nya akan Runa pertimbangkan lagi.. Arigatou sudah review
Atarashi ryuuna : Yaaappp, sudah dilanjuuttt ;) Arigatou reviewnyaa...
Yuukio: Yeeey, Okey sudah dilanjut.. Arigatou ya reviewnya.. :D
Temeiki Ryu : Wah, Arigatou reviewnya yaa.. :D
Nokia 7610 : Iya, terima kasih reviewnya..
Ymd : Iya tuh, gimana sih mama Kushina masih aja anggap Sakura anak.. Hayoo siapa yang mergokin.. Hehe.. Sip.. Arigatou sudah review..
amour-chan : woaa.. Senengnya di review sama penerus SBY *blingbling* Sudah dilanjutkaaann... Arigatou sudah review :D
Uchiha XXXXXX : Woaa... Arigatou pujiannya.. Arigatou juga sudah review.. :D
Ara Uchiha : Okey.. Sudah dilanjut, maaf Runa belum bisa update kilat :'( Arigatou sudah review
Lutfi : Okey, sudah dilanjut.. Arigatou sudah review...
Ryunkasanachikyu : Hayoo.. Tebakannya ada yang bener ga tuh? :D okey sudah Runa lanjut yaa.. Arigatou sudah review
Uchiha natsumi : Yap sudah di update... Okay akan Runa usahakan agar diperpanjang :D Arigatou ya sudah review..
Blossom-Hime : Wah, Arigatou pujiannya.. Jawabannya ada di chap ini yaa.. hehe.. Arigatou sudah review
RaFa LLight S.N : Hehe.. Jawaban dari tebakanmu ada di chap ini yaa.. Okeh sudah dilanjut.. Arigatou ya review nya..
Tsuki Nigatsu No KinyoubiNatsu : Yosh.. sudah dilanjut.. Arigatou reviewnyaa.. :D
Yuichi : Jawaban dari tebakanmu ada di chap ini yaa.. :D Ini sudah dilanjut.. Arigatou reviewnya yaa..
Guest : Iyaa.. chapter sebelumnya emang pendek :') Akan Runa usahakan lagi untuk diperpanjang di chap setelahnya.. Arigatou ya reviewnyaa.. :D
B-Rabbit Ai : Yap.. Akan Runa usahakan agar tidak sad ending.. Tapi suatu saat bisa berubah loh :D hehe Arigatou ya reviewnya...
sfsclouds : Hehe... Okaayy.. Sudah Runa lanjutkaan.. Arigatou ya reviewnyaa..
alta0sapphire: Okay.. Sudah Runa lanjut.. Arigatou reviewnya.. :D
yunita : Okay.. Sudah Runa lanjut.. Arigatou sudah menunggu dan reviewnya.. :D
zaladevita: Hmm.. Sebenernya untuk ending Runa masih blank.. belum kefikiran sama sekali.. hehe.. Arigatou ya sudah review :D
Calpa: Iya.. Runa harus ganti kartu buat buka fanfiction :'( Wah benarkah? Hehe Arigatou pujiannya.. Arigatou juga reviewnya.. :D
bellakyu: YOSHH! Arigatou! Akan Runa usahakan perbanyak SasuNaru nya.. Hehe Arigatou sudah reviewnya yaa..
kazekageashainuzukaasharoyani : Yosh.. Gak apa-apa.. :D Sudah review juga Runa udah seneng banget.. Hehe.. Arigatou ya reviewnyaa..
Guest : Arigatou.. Arigatou sudah review :D
Uzumaki Fiyyana : Yosh, salam kenal juga Fiyyana chan.. :D Oke, Arigatou sudah review
za hime : Yap.. Ini sudah diupdate, Arigatou sudah menunggu.. Arigatou juga sudah review
love sasunaru : Woaa.. Benarkah? *kasihtissue* Hehe Arigatou ya sudah review..
