A/N : Maaf updatenya makan waktu yang sangat lama, terima kasih buat para reviewer sebelumnya~~ XOXO XDD
Warning : AU, OOC, bahasa tidak baku, typo, jumlah kata yang sedikit tiap chapter/pendek-pendek karena ini memang DRABLE. Semoga cukup jelas untuk salah satu reviewer yang nggak login :/
Balada Sasuke
~Sai II~
Ada berita yang menghebohkan di kampus belakangan ini. Pasangan paling aneh bin ajaib, Sai dan Gaara mendadak putus. Kejadiannya tepat sehari setelah Gaara mergokin Sai lagi menganiaya Sasuke. Tak ayal nama Sasuke jadi dibawa-bawa dalam masalah ini.
"Lumayan Sas numpang tenar." Ujar Naruto yang langsung disambut ayunan cangkul oleh Sasuke (maklum saat ini mereka lagi nyangkul di sawah pak RT buat nyari tambahan uang saku.)
"Masa iya si mereka putus gara-gara gue?" pikir Sasuke begitu pulang dari sawah. Mau ga mau dia jadi kepikiran juga. Seminggu setelah putus, Gaara langsung ngegandeng cewe baru. Cewe? Iya cewe, soalnya di kampus ga ada lagi stok cowok mulus kayak Sai. Adanya yang macam gorilla dengan bulu kaki dan dada yang lebat bak hutan Sumatra pindah. Ngebayanginnya aja Gaara udah merinding disko. Gimana kalau dia harus 'ehem-ehem' ma mereka entar? "Endang bambang mendingan eke tobat." cerocos Gaara jijay.
Sementara Sai? Wah.. jangan ditanya. Dia udah benar-benar kayak istri-istri yang ditinggal poligami ama suaminya. Tiap hari dia selalu duduk termenung di pojokan dengan di kelilingi aura-aura negative berwarna hitam di sekitar tubuhnya. Singkat kata hidupnya berubah jadi suram.
Sasuke yang melihat hal itu makin merasa tidak enak hati. Jika berpapasan dengannya, setidaknya biasanya Sai akan menabok pantatnya atau menggelitik pinggangnya, namun sekarang, melirik ke arah Sasuke saja tidak. Bukannya dia kangen digrepe-grepe atau dicolek-colek ma Sai, melainkan karena dia merasa ada sesuatu yang kurang. Seperti kalau Sakura yang tiba-tiba tidak lagi mengejar-ngejar dirinya atau Itachi yang tiba-tiba mengkriting rambutnya.
Sesampainya dirumah, Sasuke langsung ngacir ke kamar mandi, menghilangkan kotoran-kotoran laknat yang melekat di tubuhnya. Kalau nggak salah tadi Naruto berteriak soal tai kebo atau apa gitulah sambil masang tampang jijik kearahnya. Dan Sasuke baru sadar maksud Naruto sekarang.
-o0O0o-
"Menurut lo gue perlu minta maaf nggak?" Sasuke bertanya pada sobat baiknya di kantin. Mereka sedang menyantap makanan favorit mereka sekarang. Rujak cingur.
"Minta maaf apaan Sas?" Naruto balik tanya males-malesan. Sebenarnya dia lagi pengen puasa ngomong karena sedikit kesal gara-gara menu rujak cingurnya ketuker dengan punya Sasuke yang notabene 'nggak pake cingur.' Sementara Sasuke sendiri yang nggak sadar kalau makanannya ketuker sama Naruto nampak cuek bebek memakannya sambil berpikir, "Kok ada yang aneh ya ma ni rujak hari ini? Ada yang kenyal-kenyal gimanaaaa gitu. Tapi ciamik juga si rasanya."
"Soal si mayat idup itulah Nar!" Seru Sasuke kemudian sambil cemberut. Dia paling benci kalau dirinya dicuekin.
"Aaah lu mah idup dibikin ribet Sas! Noh samperin sono!" Naruto menunjuk meja paling belakang yang dihuni oleh sesosok makhluk pucat yang sedang bermuram durja sambil diam-diam melirik piring Sasuke. "Lumayan rujaknya masih banyak," pikir Naruto.
Sasuke menelan makanan yang dia makan dengan susah payah sambil mengikuti arah telunjuk Naruto. Dia menggigit bibirnya dan mulai berdebat dengan pikirannya sendiri : haruskah nyamperin tuh makhluk atau ngabisin rujaknya dulu baru nyamperin?
"Udah ah Sas banyak mikir lo!" Naruto menendang pantat Sasuke hingga dia terpaksa meninggalkan singgasananya. Sambil melotot ke arah Naruto dia berjalan males-malesan ke tempat Sai.
-oOo—
"Ehem, boleh duduk disini?" Tanpa menunggu jawaban, Sasuke langsung narik kursi di sebelah si makhluk pucat. Kelihatan banget kalau sebenarnya Sasuke ini nggak ngerti sopan santun.
Si makhluk pucat bernama Sai yang merasa seseorang duduk di sebelahnya langsung menolehkan kepalanya. "Oh, hai ganteng." Ujar Sai datar. Sasuke langsung mendadak mual di buatnya.
"Muka ma kata-katanya berbanding terbalik," pikir Sasuke waktu melihat muka Sai nampak seperti para prajurit perang yang tertangkap oleh kompeni, 'mati segan, hidup pun enggan.'
Setelah menyapa Sasuke ala kadarnya, Sai kembali ke kegiatannya semula, mengaduk-ngaduk nasi pecel yang di pesannya tanpa memakannya barang sebutirpun.
Sementara itu Sasuke mulai gelisah karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia bukan tipe-tipe cowok romantis yang akan mengusap-ngusap rambut seseorang yang lagi patah hati sambil berkata, "Tenang sayang, ada abang disini, cup cup ya jangan nangis." Entah kenapa tiba-tiba Sasuke jadi merinding sendiri.
"hmmm masih sedih ya?" Tanya Sasuke kemudian yang langsung menyesali pilihan kata-katanya. Dia menepuk jidatnya sendiri sambil meringis. Entah kenapa dia tadi terdengar seperti om-om mesum yang merayu anak ABG untuk diajak bobo bareng.
Sai menggeleng pelan tanpa susah-susah menatap ke arah Sasuke. Dirinya masih sok sibuk mengaduk-ngaduk nasi pecel yang udah nggak karuan bentuknya.
"Maap ya…" ujar Sasuke lagi sambil menggaruk-garuk rambutnya. Sai lagi-lagi cuma menggeleng.
"Aduk mak susah!" ratap Sasuke dalam hatinya. Akhirnya dia nyerah dan cuma naruh kepalanya diatas meja sambil nyembunyiin mukanya di antara sikunya. Sasuke memejamkan matanya sejenak lalu membukanya sedikit buat ngintip si makhluk pucat. Sasuke menggerutu pelan dan kembali mengangkat kepalanya.
"Dengar deh," ucapnya kali ini mantap. "Aku bener-bener minta maaf kalau udah bikin kalian putus. Serius. Jangan bermuram durja teruslah."
Sasuke menghentikan ucapannya untuk melihat reaksi Sai. Tapi si makhluk pucat cuma menunjukkan muka bloon seakan-akan berkata, "Ni bocah ngemeng ma gue ya?" Tapi tentu saja itu cuma imajinasi Sasuke doang.
Begitu si makhluk pucat paham Sasuke ngomong apaan dia langsung tersenyum ke arahnya. Dan sumpah Sasuke melotot lihatnya sambil teriak di dalam hati, "OHMAIGOT MANIS AMAT SENYUMNYA! SAYANG DIA SEBANGSA AMA GUE! HUWAAAA!"
"Ehem," Sasuke berdeham untuk menenangkan sisi negative bin laknat dalam dirinya : sweet smile addict.
"Nggak papa kok Sasuke-kun. Honey Gaara aslinya emang udah bosen ma aku.. jadi dia cari-cari alasan aja biar bisa putus…" ucapan Sai terhenti di tengah-tengah kalimat dan air mata segera bercucuran di wajahnya. Sasuke yang panik cuma bisa nepuk-nepuk bahu Sai sambil melontarkan kalimat apapun yang terlintas di otaknya saat itu.
"Ehh… jangan nangis donk! Aduh…"
Dan hari itu berakhir dengan Sasuke yang terus merayu Sai agar tidak menangis. Dan entah bagaimana ceritanya Sasuke mengajukan diri untuk menjadi pengganti Gaara. Tentu saja Sai walau shock, menerimanya dengan mata yang berbinar-binar. Sementara Sasuke? Sepertinya tadi dia cuma refleks ngomong kayak tadi. Dan diapun berkhir dengan mengurung diri di kamar dengan tampang bak kembang desa yang di paksa kawin ma tuan tanah yang udah bulukan.
"POKOKNYA GUE KAGAK MAU NGAMPUS MULAI BESOK!"
-o0O0o-
A/N : garink amat yak T^T saya bikinnnya mendadak plus ga sempet baca ulang bab-bab sebelumnya T^T jadi mungkin gaya bahasanya agak beda ma chapter-chapter yang lalu apalagi belakangan saya moodnya bikin yang emo terus u_u
Hwaaa akhir kata terima kasih banyak buat yang udah baca (_ _)
Terima kasih lagi kalau ada yang berminat review *-*
