Meant To Be
.
.
By phoenixmaiden
.
.
Translate by Uchiha Kazusha
.
.
Chapter 10
Harry melihat ke sekeliling rumah yang rapi yang akan di tinggalinya. Itu adalah sebuah rumah yang mempunyai 3 kamar tidur dekat di pinggiran kota Muggle. Itu akan menjadi tempat yang paling tidak mungkin baginya untuk di temukan.
"Ini...bagus," jawab Ron sambil melihat sekeliling.
"Aku tidak tau, aku lebih suka ini," kata Hermione.
"Ya, aku juga menyukainya," kata Harry, menggerakkan jari-jarinya ke sofa baru.
Ruangan itu mempunyai warna coklat dan krem. Dinding nya putih dan tidak ada apa-apa, kecuali beberapa foto pemandangan. Karpetnya berwarna coklat cerah dan memanjang ke koridor di mana ada 3 kamar tidur dan kamar mandi. Sofanya berwarna coklat dan bantal berwarna krem. Sebuah meja berada di tengah-tengah ruangan dengan sebuah vas bunga di atasnya. Sebuah TV 19 inci berada di sudut di meja dekat dinding.
"Whoa! Apa ini?" tanya Ron menunjuk ke Televisi.
"Itu adalah sebuah tv Ron. Teknologi Muggle," kata Hermione, "Aku pikir kau punya listrik di sekitar sini."
"Tapi bukankan sihir akan menganggu listrik?" tanya Ron.
Hermione berpikir sebentar, "Mungkin itu dibuat dengan sihir. Aku tidak tau bagaimana Professor Dumbledore melakukannya."
"Keren."
"Well, setidaknya aku tidak akan bosan. Aku akan berubah menjadi seorang pemalas." Kata Harry dan bergerak ke dapur.
"Walaupun begitu, kau pasti tidak dapat banyak bergerak," kata Hermione mengikuti.
Dapurnya kecil dan memiliki banyak hal-hal penting, termasuk kompor, microwave, kulkas dan pemanggang roti. Lemari dan laci penuh dengan piring, cangkir dan beberapa peralatan seperti panci dan wajan. Dapur dan kulkas penuh dengan makanan.
"Wow. Dumbledore benar-benar memanjakanmu," kata Ron.
"Terima kasih Tuan. Weasley."
Mereka semua berbalik pada suara itu dan bertemu dengan Dumbledore di depan pintu. Ron memerah, tetapi Dumbledore hanya tersenyum. "Aku harap semuanya sangat memuaskan untukmu, Harry?"
"Ya. Terima kasih."
Dumbledore mengangguk," Aku meninggalkan kamar tidur kedua kosong. Ku pikir kau suka untuk mendekorasinya menjadi kamar bayi sendiri."
"Ooh. Menyenangkan sekali!" Hermione berteriak kesenangan.
"Benar. Ini adalah pamflet untuk instruksi. Kau dapat menambah apa saja peralatan yang kau inginkan dan mengubah warnanya. Kau boleh melakukan apa saja yang kau mau." Kata Dumbledore.
"Terima kasih, Professor," kata Harry sambil mengambil kertas itu.
"Harry? Kau tidak apa-apa?" tanya Hermione padanya dan terlihat khawatir.
"...ya, hanya saja... semua ini terlihat nyata."
Hermione maju ke depan dan memeluk Harry. "Jangan khawatir. Kau tidak sendirian disini okay."
"Ya dan kami akan datang mengunjungimu seminggu sekali," kata Ron.
"Dan aku selalu ada melalui burung hantu," kata Dumbledore dengan baik.
Harry mengangguk dan meletakkan tangannya di perutnya. Dia tidak merasa yakin kalau dia dapat melakukannya, tapi dengan teman-temannya dan Dumbledore di sisinya, dia tau bahwa dia bisa melakukannya.
MMMMM
Setelah pindah ke rumah barunya, Harry dapat menyamankan diri dengan cepat. Dia tidak melakukan banyak karena dia tidak punya apapun yang bisa dia lakukan, juga dia harus membatasi apa yang dia lakukan karena kehamilannya. Dia kebanyakan duduk dan menonton TV dan Film.
Harry bahkan telah mulai membuat taman bunga di depan rumah, untuk membuatnya sibuk. Dia harus berhenti melakukannya saat dia sudah mencapai 7 bulan karena dia sudah tidak dapat membungkuk lagi, tapi dia masih bisa menyiramnya. Tapi ketika salju mulai turun dia harus berhenti juga.
Hermione telah membawanya beberapa buku untuk di baca dengan berbagai judul seperti yang telah dia janjikan dan karena dia tidak punya apapun yang bisa dia lakukan, dia membacanya. Jadi dia pikir dia juga bisa berlatih. Membaca mantra-mantra baru, walaupun dia tidak dapat melakukannya karena sihirnya sedang kacau. Salah satu buku tentang kehamilan mengatakan bahwa bayinya mengambil sihirnya untuk membuat inti sihirnya. Yang mana sangat keren, walaupun tidak setiap waktu karena kadang-kadang dia tidak dapat melemparkan mantra yang simpel.
Itulah bagaimana dia manghabiskan waktunya disini, di pondok kecilnya di pinggir kota Muggle dalam banyak mantra perlindungan. Hanya menghabiskan waktu sampai bayinya lahir. Ron dan Hermione datang sangat sering dan bermain catur atau hanya berbicara, memberitahukannya keadaan di luar sana. Banyak orang bertanya bagaimana keadaanya tetapi mereka tidak dapat memberitaukan mereka yang sebenarnya. Walaupun begitu Harry tidak tau apa yang akan dia lakukan ketika tiba-tiba dia keluar dengan seorang bayi.
Ron juga membawa kabar tentang Dia dan apa yang dia lakukan. Sepertinya pengikut Voldemort sedang mencarinya, dengan tidak ada keberuntungan. Tentu saja, ini membuat Voldemort marah dan membalas, ada banyak penyerangan. Tapi Harry aman dari semua itu, setidaknya, untuk sekarang.
Harry di izinkan untuk keluar, tapi tidak lama agar tidak ada orang yang mengenalinya. Juga karena dia tidak tahan berdiri terlalu lama, kakinya akan terasa sakit kalau dia melakukannya. Dia biasanya hanya keluar untuk ke toko dan dia menggunakan sebuah topi baseball dan jaket yang ada mantranya agar perutnya tidak terlihat, bagi orang lain, dia terlihat normal. Orang-orang di kota sangat baik, dia bahkan membuat beberapa teman. Itu sangat bagus untuk keluar sekali-kali.
Musim semi berubah menjadi musim panas, musim panas berubah menjadi musim gugur dan akhirnya menjadi musim dingin. Beberapa salju menutupi lantai, pohon-pohon kehilangan daun-daunnya dan semua bunga-bunga tertutupi.
Harry duduk di depan TV dan mengawasi waktu. Ron dan Hermione akan datang beberapa menit lagi, hal yang bagus juga karena dia mulai gila tinggal sendiri. Dia tidak dapat pergi kemana-mana karena salju dan dia terjebak.
Dua suara 'pop' terdengar dari luar pintu dan Harry nyengir dan mengangkat dirinya berjalan ke pintu.
"Whoa! Kau terlihat besar!" adalah hal pertama yang dia dengar.
"Terima kasih , Ron," kata Harry datar.
Ron nyengir, "Apa kabarmu teman?"
"Baik. Dan sangat bosan." Katanya dan minggir untuk membiarkan mereka masuk.
"Ron benar Harry," kata Hermione sambil membawa koper mereka masuk, "Kau menjadi sangat besar."
"Aku tau...um, ada apa dengan koper itu?"
Ron dan Hermione nyengir satu sama lain dan berbalik ke Harry."Kami mengambil beberapa minggu liburan,"
"Kenapa kalian melakukan itu?"
"Untuk disini, tentu saja," kata Ron.
"Kau akan melahirkan sebentar lagi dan kami disini untukmu." Kata Hermione.
"Kalian tidak perlu untuk melakukan ini." Kata Harry dengan senyuman.
"Kami tau, tapi kami ingin disini saat bayi itu lahir," kata Ron.
Harry tersenyum, "Dan?" katanya sangat tau.
"Dan...liburan!" kata Ron dengan senang.
"Aku tau. Aku hanya sebuah alasan."
"Nah. Aku bercanda. Semacam itu. Gezz kau terlihat ingin meledak," kata Ron mengusap perut Harry.
"Ugh. Jangan ingatkan aku. Aku tidak mau memikirkannya," kata Harry duduk lagi di kursi.
"Kenapa?" tanya Hermione duduk di sofa.
"Kalian pasti tau bagaimana mereka mengeluarkannya kan? Mereka harus memotongku untuk terbuka, mengeluarkannya keluar. Disana akan ada banyak darah di mana-mana..."
"Oh Harry, jangan terlalu berlebihan," kata Hermione.
"Itu benar"
"Yuck." Kata Ron terlihat jijik.
Harry nyengir, " Kau bisa memegang tali pusarku."
"Menjijikkan!"
Mereka tertawa.
"Itu akan sangat berharga di akhirnya. Kau akhirnya akan bisa melihat bayimu."
Harry tersenyum dan menyentuh perutnya. "Ya, kalau itu aku tidak bisa menunggunya."
"Jadi kami bisa tinggal?" tanya Ron.
"Tentu saja. Kau dapat tinggal selama yang kau inginkan."
"Keren. Kami akan mengambil kamar kosong."
"Selama tidak ada sex yang terjadi di rumahku, aku akan baik-baik saja."
"Harry!" teriak Hermione dan pipinya berubah jadi merah.
Ron tertawa, ""Tidak janji teman." Dia menjauh dari tangan Hermione dan mengambil koper mereka ke kamar tidur.
"B-Bagaimanapun," kata Hermione tergagap dan membersihkan tenggorokannya. "Kau yakin tidak mau tau tentang jenis kelaminnya?"
"Aku yakin. Aku ingin ini menjadi kejutan." Kata Harry. Dia telah memutuskan itu sejak lama.
"Aku pikir aku tidak dapat melakukan itu. Ketegangan itu membunuhku."
"Harry yang merasakan," kata Ron datang kembali ke ruang keluarga dan duduk dekat Hermione di sofa.
"Aku tau. Tapi tetap saja... apakah kau sudah menemukan sebuah nama?" tanya Hermione.
Harry menggeleng kepalanya, "Tidak."
"Tidak? Harry, bayimu akan lahir sebentar lagi, kau harus menemukan sebuah nama."
"Aku tau dan aku telah mencari. Ada beberapa yang aku suka tapi tidak ada yang keluar, kau tau?"
"Tidak" kata mereka berdua.
"Tapi aku tau apa maksudmu," kata Hermione, "Nama adalah segalanya."
"Aku pikir aku hanya butuh untuk melihat bayiku untuk mengetahuinya."
"Terdengar bagus untukku." Kata Ron.
Harry mengangguk,"Jadi... siapa yang mau nonton Film?"
MMMMM
Sekitar 3 minggu dan 2 hari kemudian, pada 12 Desember Harry melahirkan.
Harry, Ron and Hermione sedang duduk di meja bermain monopoli. Mereka baru saja selesai makan, sebuah kue keju yang Harry buat dan mereka kekenyangan. Sekarang mereka hanya sedang beristirahat.
"Okay Harry giliranmu," kata Ron memberikan dadu itu.
Harry mengambilnya dan merasakan bayinya bergerak di dalam perutnya, yang mana bukanlah hal yang tidak biasa karena dia telah merasakannya bergerak banyak beberapa bulan yang lalu, tapi kali ini itu sakit! dia berhenti dan menunggu rasa itu pergi.
"Harry? Kau tidak apa-apa?" tanya Hermione.
"Ya. Ya, aku baik-baik saja." Kata Harry dan dia mengambill dadunya di meja.
"Empat." Dia mengambil anjing kecilnya dan bergerak. "Satu, dua ti-" dia menahan nafasnya saat sebuah gelombang rasa sakit menimpanya lagi.
"Harry?" tanya Ron.
"Tuhan, itu sakit," Harry tersentak.
"Itu sakit? dimana?" tanya Hermione, mendekat padanya.
"Disini."kata Harry meletakkan tangannya di bawah perutnya di mana bayinya berada.
"Perutmu?" tanya Hermione lagi.
"Ya," jawab Harry sambil menggertakkan giginya, "Aku pikir sesuatu sedang terjadi. A-" Gelombang rasa sakit yang lain. "Apa yang terjadi?"
Mata Hermione melebar,"Harry. Kupikir kau akan melahirkan."
"Aku laki-laki. Aku tidak melahirkan!" bentak Harry.
"Well, kelihatannya itu yang terjadi. Bayinya sedang mencari jalan keluar."
"Dia tidak akan menemukannya. Aku tidak mempunyai Vagina! Fuck!" bentak Harry dan melingkarkan tangannya di perutnya.
"Harry dimana benda yang Dumbledore berikan untukmu untuk memanggil Healer?"
"Laci." Dia menggerutu.
"Ron..."
"Sedang mengambilnya," kata Ron dan berlari keluar ruangan.
Apa yang terjadi selanjutnya sangat kabur. Healer tersebut tiba dan juga Dumbledore dan Madam Pomfrey. Harry di bawa ke tempat tidur, selimut di pindahkan dan handuk melingkar di tempat tidur agar tidak berantakan. Dia diberikan sesuatu untuk rasa sakitnya saat dia dipotong terbuka. Dia fokus pada salju yang jatuh dari jendela sebagai ganti dari tekanan dari perutnya. Ini bersalju... pikirnya teralihkan.
Walaupun begitu rasa sakit dan obat dan dengan kata-kata semangat Hermione dan Ron, Harry mendengar suara tangis bayinya.
Tangisannya sangat menakjubkan di telinga Harry. Setelah 9 bulan membawa bayinya di dalam dirinya, bayinya disini. Harry tertawa dan merasakan air matanya, dia mencoba untuk duduk agar dia bisa melihat bayinya tapi dia tidak bisa mengangkat dirinya, dia gemetaran.
Healer tersebut tersenyum padanya saat dia memegang sebuah bundelan kecil di tangannya." Selamat Tuan Potter. Anak anda perempuan."
Perempuan? Aku mempunya anak perempuan? Pikir Harry saat dia tenang kembali dan menutup matanya. Aku mempunya anak perempuan!
Harry membuka matannya dan melihat saat Healer tersebut memberikannya bayinya- tidak, anak perempuannya, ke Madam Pomfrey untuk dibersihkan, selagi dia di bersihkan dan menutupnya. Ron dan Hermione sedang melihat ke arah anaknya dan tersenyum padanya, mata mereka berbinar karena senang.
Harry mencoba duduk lagi. " Aku ingin melihatnya," bisik Harry.
Healer tersebut membantunya untuk duduk di tempat tidur dan Madam Pomfrey maju kedepan dan meletakkan bundelan kecil itu di tangannya dan Harry melihat putrinya untuk yang pertama kalinya.
Air mata keluar dari matanya saat dia melihat tubuh kecilnya. Matanya sedikit terbuka dan Harry dapat melihat warna hijau di bawah bulu mata itu. Dia mempunyai hidung dan mulut yang kecil, pipi berwarna merah jambu dan rambut berwarna hitam di kepalanya. Dia tidak besar, hanya sedikit kecil dari panjang lengannya. "Dia sempurna," Harry berbisik sambil menghitung semua jari tangan dan kakinya. Masing-masing sepuluh.
"Kau benar," kata Hermione dengan lembut, duduk di sisi kanannya. "Dia cantik Harry. Kau melakukan yang terbaik."
"Ya teman. Dia terlihat seperti dirimu." Kata Ron dari sisinya yang lain.
Mirip dia juga, pikirnya. Pikirannya melihat ke tulang pipi yang tinggi dan hidung mancung itu. Itu semua adalah Dia, tidak salah lagi. Harry membuang pikiran itu. Ini adalah suasana yang menyenangkan, tidak perlu untuk membuat dirinya sedih dengan pikiran tidak berguna. Bayinya akhirnya disini, di tangannya. Sekarang dia telah melihatnya, dia tidak akan melepasnya pergi.
"Wynter."
"Apa?" tanya Hermione.
"Namanya. Wynter."
Dumbledore melihat ke jendela ke salju yang jatuh dan tersenyum,"Nama yang bagus."
"Ya," kata Harry dan memegang putrinya mendekat dan mencium keningnya,"Aku juga berpikir begitu."
"Wynter, huh?" tanya Ron sambil berpikir, "Aku menyukainya."
"Aku juga." Hermione menyetujui. "Itu sangat unik. Wynter Potter. Nama itu mempunyai cincin yang bagus."
Harry mengangguk dan melihat ke Wynter saat dia membuka mata hijau besarnya. "Hello, Wynter. Senang bertemu denganmu."
End Of Chapter
Welcome to the world Wynterrrrrr...
Huuuh that is so long.
