DEAD AT HEART

Cast:

CHO KYUHYUN

LEE SUNGMIN

Other Cast

Rate: T

Note: chapter ini lumayan panjang. jadi di baca saat waktu senggang lebih baik:D


Sungmin memandangai kalender yang terpajang di tembok ruang tengah. Ia memandangi satu tanggal yang sangat ingin ia loncati.

Besok…

Tangannya terkepal kuat saat menyadari bahwa hari besoklah hari yang sangat ingin ia anggap tidak ada. Haruskah secepat itu? Bahkan sepertinya baru kemarin Sungmin dan Kyuhyun duduk satu mobil berdua..

GREP

"Daritadi kau memperhatikan kalender melulu, Min. Apa kalender itu terlihat lebih tampan daripada wajahku?"

Sungmin tersenyum kecil seraya membalikkan badannya agar menghadap Kyuhyun. Ia mainkan telunjuknya mengitari wajah Kyuhyun. "Ani, aku hanya melihat tanggal. Kau yang tertampan, Kyu."

"Aigoo, aku senang sekali mendengar itu, Min. Hahaha." Kyuhyun kembali merapatkan tubuhnya dengan tubuh Sungmin. Ia tenggelamkan wajahnya di ceruk leher milik Sungmin.

Sungmin ikut memeluk tubuh yang lebih tinggi darinya itu. Ia ikut meletakkan kepalanya di bahu Kyuhyun.

"Pelukanmu begitu hangat, Min.."

Sungmin memejamkan matanya saat merasakan geli karna hembusan nafas Kyuhyun di lehernya. Ia mengelus-elus punggung Kyuhyun.

"Kau juga terasa hangat dan nyaman, Kyu." Sungmin menyunggingkan senyum manisnya, hanya untuk kali ini saja, sebelum ia benar-benar mengeluarkan kembali air mata. Ia tidak bohong atau menggombal, pelukan Kyuhyun adalah pelukan terhebat setelah Eommanya. Dan selamanya ia ingin merasakan pelukan ini.

"Hari ini kau ingin kemana, hm?" tanya Kyuhyun setelah melepaskan pelukannya.

Sungmin menggeleng pelan, "aku ingin dirumah saja bersamamu, Kyu. Tidak apa kan?"

Lelaki yang lebih tinggi mengangguk seraya tersenyum, "kau mau jalan atau dirumah saja, aku menurut, Min."

.

.

Sungmin tersenyum miris saat melihat wajah Kyuhyun yang sudah pulas tertidur di pangkuannya. Mereka sedang menyaksikan film drama romantis kesukaan Sungmin, mungkin karna Kyuhyun yang menyukai film action atau thriller merasa bosan dan akhirnya tertidur dengan kepalanya yang berada di pangkuan Sungmin.

Ia benarkan poni Kyuhyun yang berantakan, ia kembalikan helai demi helai rambut coklat Kyuhyun agar terlihat rapi kembali. Wajah Kyuhyun masih terlihat tampan walau mata obsidian itu tertutup rapat. Hembusan teratur yang dikeluarkan juga menandakan bahwa ia benar-benar terlelap.

"Kau tertidur, Kyu.. Padahal aku ingin melihat terus mata cokelat mu itu.." ucap Sungmin dengan nada pelan, takut membangunkan kekasihnya.

"Aku ingin merekam semua ekspresi wajahmu di otakku, Kyu. Aku ingin menghafal harum tubuhmu.. Karna aku takut, suatu saat nanti kau benar-benar jauh.."

Air mata itu kembali mengalir lagi, namun buru-buru ia hapus sebelum terjatuh dan mengenai Kyuhyun yang terlelap di bawahnya. Sungmin melayangkan pandangannya yang mengabur ke arah jendela mereka yang belum tertutup gorden.

"December yang indah, bukan?... Terasa lebih indah bila waktu benar-benar berhenti sekarang, Kyu.. Hanya ada kau dan aku. Tidak ada mereka.."

Jemari kecil itu masih sibuk memainkan surai coklat milik kekasihnya. Tidak peduli apakah kekasihnya nanti akan terbangun karna pergerakannya, Sungmin hanya ingin menyentuh Kyuhyun sekarang.

"Rambutmu halus sekali, Kyu." Sungmin bermonolog sendiri tanpa sadar bila Kyuhyun sudah terbangun dari tidurnya, tentu saja namja berwajah stoic itu enggan membuka matanya. Ia ingin mendengarkan apa yang Sungmin katakan.

Tapi sepertinya Kyuhyun tidak diperbolehkan mendengar gumaman Sungmin. Suara handphone Sungmin yang terletak di meja depan mereka berbunyi. Kyuhyun yang kaget pun segera membuka matanya dan mengambil posisi duduk.

"Ah maaf membangunkanmu." Sungmin yang turut kaget pun segera mengambil handphonenya.

Kepala Sungmin sakit tiba-tiba saat melihat id caller yang terpampang di layar.

"Kok tidak diangkat, Min? Dari siapa?" tanya Kyuhyun seraya berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati kulkas yang tidak jauh dari tempat ia dan Sungmin duduk.

Sungmin hanya diam. Yang menelfon adalah Appanya. Tidak perlu ditanya lagi apa yang ingin Ayah kandungnya tersebut bicarakan. Pasti tentang 'hari besok'.

Dengan sengaja Sungmin menekan tombol merah, dan seketika layar handphonenya kembali semula.

"Kau mematikannya?"

"Tidak ada nama ataupun nomor, mungkin orang iseng. Jadi aku matikan." Jawab Sungmin seraya memaksakan senyumnya pada Kyuhyun.

Kyuhyun kembali duduk disamping Sungmin setelah menaruh gelas berisi air di meja. Lengannya segera melingkar di pinggang Sungmin, menarik tubuh kekasihnya itu agar lebih mendekat ke arahnya.

Sungmin menurut, ia ikut menggeser tubuhnya agar mendekat ke Kyuhyun. Ia juga meletakkan kepalanya di bahu Kyuhyun. Seperti kebiasaan, Kyuhyun mengambil satu tangan Sungmin dengan tangannya yang bebas. Ia memainkan jemari kecil Sungmin.

"Sudah sore saja ya, Kyu." Ucap Sungmin memecah keheningan yang sempat tercipta. Bisa dirasakan oleh namja manis itu bahwa Kyuhyun sedang mengangguk.

"Hari memang cepat berlalu kalau kita tidak melakukan apa-apa, Min." tutur Kyuhyun lembut seraya memainkan hidungnya di rambut hitam Sungmin.

Tapi aku tidak ingin hari ini cepat berlalu, Kyu. Ya Tuhan, bisakah aku memberhentikan waktu?

"Hey, kau mau aku nyanyikan sebuah lagu?"

Sungmin mendongak, menatap heran kepada Kyuhyun yang tiba-tiba ingin bernyanyi. "Memang kau bisa bernyanyi?" Sungmin terkekeh geli saat melihat ekspresi terkejut Kyuhyun saat ia mengejek namjachingunya tersebut.

"Ya ya! Semua orang sudah tahu suara emasku, Min! Kau saja yang tidak pernah memintaku bernyanyi." Kyuhyun mendorong kepala Sungmin agar kembali bersandar di bahunya. Ia elus surai hitam itu dan ia kecup dahi mulus Sungmin.

"Tutup matamu dan dengarkan. Aku berusaha sebaik mungkin bernyanyi untukmu."

It can't be if it's not you

I can't be without you

It's okay if I'm hurt for a day and a year like this

It's fine if my heart's hurts

Yes, because I'm just fall in love with you..

I cannot send you away one more time.

I can't live without you..

If I live my life again

If I'm born over and over again

I can't live without you for a day

You're the one I will keep

You're the one I will love

Yes, because I'm happy enough if I could be with you..

(Yesung-I can't be without you)

"Yaaaaa, kau kenapa menangis, Min?!"

Kyuhyun kelabakan mencari tissue untuk menghapus air mata yang deras jatuh dari mata foxy Sungmin. Karna susah untuk mengambil tissue, Kyuhyun segera menghapus airmata itu dengan ibu jarinya.

"Hey, kau kenapa?" tanya Kyuhyun dengan lembut saat ia sudah menangkup kedua pipi besar itu di kedua telapak tangannya. Sungmin hanya menggeleng lemah.

Sungmin sendiri merutuki dirinya yang menangis dihadapan Kyuhyun seperti ini. Ia tidak menangis terharu karna Kyuhyun bernyanyi untuknya, namun ia menangis karna lyrics yang ada di lagu itu dan tentu saja karna Kyuhyun yang menyanyikan. Suara Kyuhyun memang sangat indah, dan Sungmin menyayangkan kenapa kekasihnya itu tidak menjadi penyanyi saja. Namun sekarang suara indah seperti nyanyian duka di telinga Sungmin. Setiap bait yang dinyanyikan Kyuhyun serasa seperti ditujukan kepada dirinya.

"Sungmin." Kyuhyun kembali memanggil nama namja yang masih saja berurai air mata dihadapannya. Kedua mata foxy Sungmin memang memandangnya, namun seperti mempunyai arti lain yang Kyuhyun sendiri tidak mengerti.

GREP

Bukan perkataan yang dilontarkan Sungmin, melainkan pelukan hangat yang ingin ia sampaikan. Kedua lengan yang lebih kecil itu seperti berusaha untuk memeluk erat tubuh kekasihnya. Ia juga menenggelamkan kepalanya di dada bidang Kyuhyun yang mungkin sekarang basah karna air mata. Kyuhyun tidak berpikir lama untuk membalas pelukan itu, segera ia ikut melingkarkan lengannya di tubuh Sungmin.

"Aku tidak tahu kau kenapa, Min.. Tapi terima kasih, pelukan ini selalu bisa menghangatkanku." Ucap Kyuhyun seraya mencium bahu Sungmin.

Sungmin mengangguk dan air mata makin deras keluar. Ia menggigit bibir bawahnya agar tidak ada isakan yang keluar, yang mungkin bisa membuat hati Kyuhyun sakit mendengarnya.

Mau Sungmin atau Kyuhyun, mereka berdua sama-sama diam dan lebih memilih untuk menikmati pelukan hangat satu sama lain. Film yang sudah habis itu tidak mereka matikan, biarkan saja begitu, pikir mereka. Salju yang mulai singgah sedikit demi sedikit di balkon mereka pun mulai menjadi saksi pelukan mesra dari sepasang kekasih yang saling mencintai, atau terlalu mencintai.


From: Appa

Aku yakin kau mempunyai ingatan yang kuat, Anakku. Jangan lupa tentang besok.

Sungmin menekan tombol delete dan sedetik kemudian, pesan yang baru sampai di handphonenya itu terhapus. Ia menghembuskan nafas seraya menaruh kembali handphonenya di meja nakas.

Ia menggeram pelan, mengapa tubuh dan jiwanya terlalu lemah untuk menolak ini. Mengapa semuanya terasa memojokkan dirinya dan perasannya.

"Sungmin? Kau kenapa? Wajahmu mengeras begitu?" tanya Kyuhyun saat namja itu baru saja keluar dari kamar mandi. Sungmin tersenyum dan menggeleng.

Namja pecinta salju itu mulai menaiki tempat tidur dan segera berbaring. Tidak lupa ia menepuk bagian kosong disebelahnya agar kekasih manisnya ikut tidur disampingnya.

"Belakangan ini aku sering melihat wajahmu yang begitu, Min. Ada apa sebenarnya?"

Sungmin tidak menjawab, ia malah makin mendekat ke arah Kyuhyun sehingga hidungnya berdempetan dengan dada Kyuhyun. Wangi maskulin dari tubuh kekasihnya itu sungguh membuatnya mabuk.

Kyuhyun tersenyum simpul, mungkin Sungmin terlalu lelah sehingga tidak ingin berbicara. Dengan pengertian, ia elus punggung Sungmin. Persis seperti Nyonya Cho dulu saat menidurkan Kyuhyun kecil.

Pikiran Sungmin kembali melayang. Bukankah hari ini sudah malam dan hari esok akan menjelang saat ia membuka mata? Ah, Sungmin lebih memilih meminum belasan cangkir kopi agar matanya terus terjaga. Agar matanya terus bisa memandang Kyuhyunnya. Ia ingin menghabiskan malam ini bersama Kyuhyun. Terserah hanya dengan mengobrol atau berpelukan seperti ini, yang terpenting, ia bisa menghabiskan waktunya berdekatan dengan Kyuhyun.

"Kau sudah tidur?" Kyuhyun memecah kesunyian, sedikit ia longgarkan pelukannya agar bisa melihat wajah Sungmin. Merasa terpanggil, Sungmin ikut mendongakkan wajahnya.

"Aku tidak mengantuk, Kyu." Jawab Sungmin.

Kyuhyun memberi kecupan kecil di bibir tipis Sungmin dan segera melepasnya sebelum namja itu menyadarinya. Sungmin sempat terkejut namun sedetik kemudian, ia tersenyum mengejek.

"Yaaa, mengapa sebentar sekali menciumnya?" Sungmin sedikit menaikkan tubuhnya agar ia dan Kyuhyun sejajar.

Sungguh Kyuhyun langsung merasakan badannya memanas saat jemari Sungmin mulai bermain di dadanya. Ditambah lagi dengan senyuman nakal dari bibir pink yang selalu menggoda itu..

"Kenapa wajahmu merah begitu, Kyuhyunie~" Sungmin menambah senyuman nakalnya dengan kedipan matanya. Membuat lagi-lagi namja yang ada dihadapannya menatapnya dengan lapar.

"Kau….membangunkanku, Sungminnie." Lirih Kyuhyun seraya menurunkan lengannya. Kini lengan nakal itu sudah bertengger di kedua bongkahan bokong Sungmin yang selalu menggoda untuknya.

"Itu memang tujuanku~"

GREP

Kyuhyun berpindah menjadi di atas Sungmin dan dengan ganasnya ia melumat kasar bibir kekasihnya itu. Belum lagi jemari panjangnya yang sudah bergerilya di sekujur tubuh Sungmin.

Walau salju turun di malam itu, aura panas di dalam kamar Apartment seperti mendominasi. Eluhan, erangan, bahkan kata cinta memenuhi Apartment yang menjadi saksi bisu di malam 'terakhir' mereka..

.

.

"Sudahlah, kita sudah melakukan ini empat ronde. Aku tahu kau lelah, Min." tangan Kyuhyun sudah terulur untuk mengambil selimut yang sudah jatuh di lantai. Namun tangan Sungmin menghalanginya.

"Tidak. Aku mau lagi, Kyu.. Sentuh aku. Jebal.."

Kyuhyun mengernyitkan dahinya. Ini bukan seperti Sungmin yang ia kenal. Namun ia juga tidak bisa berbohong bahwa ia menyukai Sungmin yang liar seperti ini.

"Hey, aku tidak suka bila kau memohon seperti itu.." tutur Kyuhyun seraya kembali mendekap tubuh polos kekasihnya. "Tapi baiklah~"

Sungmin kembali mendesah hebat saat seluruh daerah sesitivenya disentuh oleh Kyuhyun. Terasa nikmat dan ia seperti terbang ke surga. Kyuhyun selalu bisa membuatnya seperti ini, dan hanya Kyuhyun yang bisa.

Disela desahannya, mata foxy itu mengeluarkan air mata. Hatinya terasa sesak karna ini akan menjadi yang terakhir. Seluruhnya akan ia persembahkan untuk Kyuhyun malam ini. Agar Kyuhyun tahu, bahwa ia sangat mencintai seorang Cho Kyuhyun.

Sungmin melakukan ini untuk Kyuhyun, agar Kyuhyun tidak perlu lagi merasakan kesusahan. Dan agar seluruh hal yang pernah hilang, kembali lagi ke tangan namja itu. Sungmin tidak pernah menyesal pernah mengenal bahkan mencintai Kyuhyun, ia sangat bersyukur. Bila ada yang bisa ia perbuat untuk mengekspresikan rasa syukurnya, Sungmin akan lakukan itu.

"Ahhh… S-saranghae… Sshh… Kyuhh.."

Kedua lengan kecil Sungmin menarik wajah Kyuhyun agar ia bisa menyatukan kedua bibir mereka. Ia lumat dengan halus bibir tebal kekasihnya itu. Ia mulai memasukkan lidahnya untuk mengabsen seluruh rongga mulut Kyuhyun. Selalu manis, itu yang dirasakan Sungmin. Walau ia yakin, Kyuhyun pasti bisa merasakan sedikit asin dari air matanya yang tidak pernah berhenti mengalir malam itu.

"Nadohh saranghae.. Enggh.."


A day seems so long

And doesn't seem to have an end

How does another morning come?

I don't know

I know I shouldn't be doing this

I know that I can't love you

My confession will make you go through more pain

I know


Kyuhyun mengerjapkan matanya saat merasakan ada sinar mulai mengetuk-ngetuk matanya yang enggan terbuka. Dengan perlahan ia membuka matanya.

Dingin. Satu hal yang ia rasakan pagi ini. Kyuhyun tahu bahwa sekarang sudah memasuki winter, tapi ini berbeda. Ia merasakan tidak ada lengan kecil yang memeluk pinggangnya seperti biasa.

"Sungmin?"

Kyuhyun mulai mengambil posisi duduk dan berusaha untuk mengambil piyamanya yang berserakan di lantai. Sambil mengucek matanya, namja itu berdiri, memakai piyama, dan berjalan mendekati kamar mandi.

TOK TOK

"Sungmin? Kau ada didalam?"

Kyuhyun mengernyitkan dahinya saat tidak mendengar suara satupun dari dalam sana. Ia membuka kenop pintu yang tidak dikunci dan mendapati kamar mandi kosong melompong.

"Ah, mungkin ia sedang memasak."

Namja berambut coklat itu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tengah.

"Yesung hyung?! Hae? Wookie? Kalian sedang apa?!" Kyuhyun berjingkit kaget mendapati Yesung, Donghae, dan Ryeowook ada di ruang tengah Apartmentnya. Yesung dan Ryeowook duduk di sofa sambil menikmati kopi pagi mereka. Dan Donghae yang berdiri memandang ke luar jendela.

Ketiganya tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun, mereka sama-sama diam sambil saling memandang satu sama lain.

"Kami hanya berkunjung, Kyu." Jawab Yesung sambil berdiri menghampiri Kyuhyun. Saat sudah berada di depan Kyuhyun, tangannya terulur untuk merapikan rambut sang namdongsaengnya tersebut. "Kau telat bangun, hm?"

Kyuhyun bisa merasakan ada hal yang aneh dari cara pandang Yesung. Sudah hampir 10 tahun ia mengenal namja yang ada dihadapannya ini, ia pasti sudah tahu bila ada hal janggil yang terjadi. "Aku kelelahan. Hey, kalian belum menjawab! Kalian sedang apa? Dan mana Sungminku?!"

Yesung melirik ke arah Ryeowook dan Donghae, seakan meminta jawaban. Donghae yang mengerti segera menghampiri tempat Yesung dan Kyuhyun berdiri.

"Sungmin hyung sedang berkunjung ke rumah orangtuanya. Dia menitip pesan untukmu." Ucap Donghae.

"Pesan? Apa pesannya?"

"Maaf. Ia meminta maaf kepadamu, Kyu.." Donghae sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia benar-benar ingin pergi dari hadapan Kyuhyun dan berteriak sekeras-kerasnya saat melihat ekspresi wajah sahabat kesayangannya ini berubah sedih.

"Oh… Aku kira ia menitip pesan apa. Apa ia memberitahu kapan ia kembali?" tanya Kyuhyun sambil duduk di kursi makan.

Yesung menggeleng pelan seraya tersenyum. Ia berjalan mendekati kitchen set dan mengambil sepiring berisi nasi goreng. "Ia hanya menitipkan ini."

Kyuhyun berdecak sebal, "bukankah aku tidak bisa makan bila tidak ada Sungmin? Aku tunggu Sungmin saja."

Ryeowook yang sedari tadi diam langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri hyung dan kedua sahabatnya tersebut. Ia mengambil posisi duduk di sebelah Kyuhyun. "Kau harus makan, hyung. Sungmin hyung bisa marah bila mengetahui kau tidak mau makan makanan buatannya.."

Kyuhyun berpikir sebentar lalu mengambil sendok yang sudah disediakan Yesung. Tanpa berlama-lama ia menyuap nasi buatan kekasihnya tersebut. "Makanan Sungmin selalu lezat!"

Donghae terkekeh kecil. Atau lebih tepatnya berpura-pura terkekeh. Tidak berbeda jauh dengan Donghae, Yesung dan Ryeowookpun tersenyum kecil melihat ekspresi Kyuhyun yang seperti anak kecil saat menyuap sesendok demi sesendok nasi goreng buatan Sungmin.

"Kyu.."

Kyuhyun melirik ke arah Yesung, "ya hyung?"

"Temani kita bertiga ke upacara pernikahan, ne?"


KYUHYUN POV

Yah, disinilah aku. Duduk di jok depan bersama Yesung hyung yang menyetir. Kami berdua diam sepanjang jalan. Begitu juga dengan Ryeowook dan Donghae yang duduk di jok belakang. Sedari tadi aku berpikir, kenapa aku mau saja mengikuti mereka. padahal aku sama sekali tidak tahu siapa teman mereka. Aku saja baru tahu kalau mereka mempunyai teman yang sama.

Ku arahkan pandangan ke luar jendela. Jalanan sudah mulai memutih dengan turunnya salju. Kami berempat pun terpaksa membungkus tubuh yang sudah memakai jas ini dengan mantel tebal lagi.

Aku melirik sebentar ke arah Yesung hyung yang masih serius menyetir. Tumben sekali namja ini tidak mengajakku atau Donghae berdebat, biasanya ia selalu cerewet bila kita bertiga sudah berkumpul. Ah, atau karna ada Ryeowook ia jadi malu? Ku perhatikan belakangan ini, Yesung hyung sering jalan berdua dengan Ryeowook. Aku hanya berharap yang terbaik saja untuk mereka. Lebih baik lagi bila mereka bisa menjadi sepertiku dan Sungmin.

Sungmin? Ohya, namja itu tidak membalas pesanku atau mengangkat telfonku. Bukan sekali dua kali aku mengirim telfon atau mencoba menelfonnya, sepanjang jalan bahkan sampai sekarang aku masih berusaha menelfonnya. Sekali lagi aku coba melihat layar handphoneku, berharap bisa menemukan pesan yang Sungmin kirim atau ada panggilan dari Sungmin. Tapi sama sekali tidak ada.

"Hey, Donghae-ah." Panggilku pada Donghae. Aku sedikit memutar badanku agar bisa melihatnya.

"Ada apa, Kyu?"

"Apa temanmu ini mengenal Sungmin? Apa ia ikut ke resepsi ini?"

Aku melihat ia sedikit kaget mendengar pertanyaanku. Ryeowook yang duduk disebelahnya pun langsung menoleh kepadaku. Aku sendiri terus memandang wajah Donghae meminta jawaban.

"Ku dengar ia mengenal Sungmin. Mungkin Sungmin diundang, Kyu. Setelah urusannya selesai, mungkin."

Aku menoleh ke Yesung hyung yang menjawab pertanyaanku. Aku kembali duduk diposisi semula. "Benarkah? Baguslah. Tidak bertemu dengannya selama dua jam saja sudah membuatku rindu."

Aku bisa melihat senyum kecil mengembang di wajah Yesung hyung. "Kau pasti sangat mencintainya ya?"

"Tentu. Aku sangat mencintainya."

.

.

Gereja ini sangat indah. Walau tamannya sudah mulai penuh salju, namun sepertinya sang pendekorasi sangat ahli untuk menghiasnya. Ornament pink dan putih sangat mendominasi halaman gereja ini, dan aku sangat yakin bahwa dalam gerejanya pun pasti lebih indah.

Sungmin pasti menyukainya. Namja manis pecinta pink itu pasti sangat menyukai berada di sini.

"Kyu, ayo kita ke dalam." Ajak Donghae sambil merangkul pundakku. Setelah kami berempat menaruh mantel di mobil, kami mulai memasuki gereja.

Dan perkiraanku benar.

Gereja tua dan antic ini sudah disihir menjadi gereja yang sangat manis. Bunga rose pink bertebaran dimana-mana, aku sampai tidak tega untuk menginjaknya. Ada juga bunga rose yang dipajang dan digantung di atau gereja yang tinggi. Kain –kain berwarna putih dan pink juga membuatku seperti di negeri dongeng.

To: Lee Sungmin

Aku sedang menghadiri resepsi pernikahan teman Donghae dan Yesung hyung. Kau harus tahu, dekorasi mereka sangat cantik. Penuh dengan warna pink dan putih! Aku yakin kau sangat menyukainya!

Saranghae. Tolong balas pesanku.

Aku tersenyum sendiri saat memencet tombol kirim. Entahlah, mungkin itu sudah pesan keberapa puluh yang aku kirim.

"Ayo duduk disana."

Yesung hyung menunjuk satu deret bangku yang masih kosong. Tanpa ragu, kami berjalan disana dan duduk. Aku mengedarkan pandanganku dan mendapati semua orang memandangku dengan penuh tanda tanya. Apa ada yang salah?

Aku melihat pakaianku. Kemeja hitam, jas putih, dan celana bahan putih. Tidak ada yang salah dan tidak ada noda di wajahku juga. Lalu mengapa mereka memandangku begitu?

"Hey, semua orang memandangku dengan aneh. Apa penampilanku ada yang salah?" tanya ku pada Donghae yang duduk disebelah kananku.

"Kau sangat tampan hari ini dan tidak ada yang salah, hyung." Yang menjawab malah Ryeowook yang duduk disebelah kiriku. Dan jawabannya diikuti anggukan oleh Donghae dan Yesung hyung.

Kembali aku lihat tamu-tamu yang hadir. Sepertinya ada yang aku kenal diantara mereka. Mereka seperti rekan bisnis ku dulu. Ah, apa teman Donghae dan Yesung hyung itu pengusaha juga?

Aku mencoba mengambil handphone yang ada dikantong celanaku. Berharap ada pesan dari Sungmin. Namun lagi-lagi, namja manis itu tidak menjawab. Apa ia tidak ada pulsa?

Lelah bermonolog, aku hanya mengambil sikap diam sambil memandang pembawa acara yang mulai berdiri di panggung kecil sebelah kiri mimbar. Mungkin acaranya sudah mau memulai.

GREP

Aku merasakan ada yang memeluk lengan sebelah kiriku. Aku melirik dan mendapati Ryeowook sedang memeluk erat lenganku.

"Wookie, kau kenapa, hm?" Aku mengangkat satu tanganku yang bebas untuk membersihkan keringat di dahinya. Bukankah hari ini lumayan dingin, mengapa namdongsaengku ini keringetan?

Aku melirik Yesung hyung yang duduk disebelah Ryeowook. Ia sama sekali tidak berkomentar ataupun menatap kami. Matanya lurus ke depan seolah tidak ada perbincangan antara aku dan Ryeowook.

"Ani. Aku hanya ingin memelukmu, hyung." Aku tersenyum pada Ryeowook, adik semata wayangku yang sangat manja.

"Baiklah. Kau bisa memeluk hyung, ne?" Ryeowook mengangguk dan makin mengeratkan pelukannya di lenganku.

Sang pembawa acara menyuruh semua hadirin untuk berdiri, menyambut sang mempelai lelaki yang akan memasuki gereja dan berdiri di altar menanti sang mempelai wanita sebelum mereka bersumpah janji. Aku berdiri mengikuti Donghae dan Yesung hyung yang sudah lebih dulu berdiri, tentunya aku berdiri dengan Ryeowook yang masih memeluk lenganku.

CKLEK

Suasana yang sempat hening itu terusik saat pintu besar gereja terbuka dari dua sisi pintu. Cahaya dari luar menyelesak memasuki gereja, menambah terangnya gereja indah ini. Aku bisa melihat ada sepasang namja berdiri di depan pintu itu. Ah, mungkin itu dia mempelai lelaki dan pengiringnya.

Aku mengutuk sifat pikunku yang selalu lupa membawa kacamata sehingga pandanganku kabur dan tidak dapat melihat dengan jelas pengantin prianya. Mempelai prianya mulai berjalan dan sebentar lagi melewati tempat dudukku. Bersyukurlah bahwa aku dan Donghae duduk di pinggir dan pasti aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Nyanyian dan dentingan piano yang indah mengiringi langkah demi langkah sang mempelai pria. Sungguh indah, pikiranku benar-benar melayang. Aku bersumpah, bila aku dan Sungmin menikah nanti, pernikahan kami harus lebih indah dari ini.

DEG

DEG

Mempelai pria itu melewatiku. Dan tepat ia menoleh ke arahku.

Apa penglihatanku benar-benar kacau? Atau mempelai pria itu memang berwajah mirip… Sungmin?

Aku bisa melihatnya. Mata foxynya memandangku dengan penuh arti, aku tidak tahu apa yang ingin ia sampaikan. Tapi aku sama sekali tidak mungkin salah, mempelai pria itu benar-benar mirip Sungmin.

"Mempelai pria, Lee Sungmin, sudah berdiri di depan altar yang akan mengantarkannya menemui kebahagiaan pernikahan dengan pasangannya, mempelai wanita, Park Sun Young."

Kakiku bergetar dan aku bisa merasakan bahwa setiap syaraf di dalam tubuhku melemah. Apa aku salah mendengar? Pembawa acara di depan sana apa mengucapkan satu nama yang sangat ku kenali itu? Apakah ia baru saja mengucapkan Lee Sungmin, kekasihku?

Aku menoleh ke arah Donghae dan Ryeowook bergantian, seperti meminta jawaban atas semua pertanyaan yang ada diotakku. Namun sama sekali dari mereka tidak ada yang melirikku, bahkan Yesung hyung pun serius menatap ke depan.

Ya Tuhan, apa ini hanya mimpi?

CKLEK

Aku bisa mendengar pintu itu kembali terbuka, dan sekarang menampilkan seorang yeoja bergaun putih-pink dengan sosok namja tua disampingnya. Mereka berdua berjalan perlahan dengan anak kecil pembawa bunga mengikuti mereka dibelakang. Hey, bukankah indah bila Sungmin yang berada di posisi yeoja itu dan aku yang berada di posisi Sungmin?

Aku menggelengkan kepalaku. Ini tidak nyata dan mungkin aku belum terbangun dari tidurku. Ini hanya sebagian dari mimpiku yang lelah bercinta semalaman bersama Sungmin. Mungkin saat aku membuka mataku, aku bisa melihat wajah Sungmin yang tertidur di dalam pelukan. Lalu ia terbangun dan membuatkan sarapan kesukaanku. Dan kami berdua keluar mengunjungi danau yang mungkin sudah berubah beku sekarang.

Tapi mengapa aku belum terbangun juga? Bahkan suara pendeta mengucapkan doa terdengar jelas di telingaku. Berkali-kali ia mengucapkan nama Lee Sungminku dan Park Sun-young. Aku bahkan tidak mengenal nama bermarga Park itu. atau nama bermarga Park yang sebentar lagi akan berubah menjadi bermarga Lee.

TES

Aku merasakan ada cairan mengalir dipipiku. Apa aku menangis? Memang, hati ini terasa sesak dan rasanya aku sama sekali susah bernafas. Tapi tidak, ini tidak nyata. Apakah aku bisa menangis di dalam mimpi?

Mungkin sebentar lagi aku akan terjatuh karna kedua kakiku sungguh terasa lemah. Hanya dengan Ryeowook yang memeluk lenganku aku berpegangan.

"Apakah Lee Sungmin, menerima, mempelai wanita, Park Sunyoung, dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat, dalam kaya maupun miskin? Apakah Lee Sungmin, bisa terus menjaga kesucian pernikahan dengan mempelai wanita, Park Sunyoung, sampai ajal memisahkan kalian berdua?"

Kedua tanganku terangkat, dan aku bisa merasakan Ryeowook menoleh saat aku melepaskan pelukannya. Aku menutup kedua kupingku dengan telapak tanganku. Sungguh, ini terasa nyata. Pertanyaan pendeta tadi benar-benar terngiang-ngiang di telingaku.

"Aku bersedia."

Suara tenor itu.. Suara tenor yang selalu bermanja-manja kepadaku. Itu suara tenor milik kekasihku.

Sungmin, mengapa kau bersedia menjadi pendampingnya? Mengapa kau meninggalkanku, sayang?

Aku benar-benar tidak ingin mendengar suara pendeta itu lagi saat ia bertanya hal yang sama pada yeoja yang telah bersanding dengan Sungminku didepan sana. Aku menutup mata dan telingaku. Kini aku benar-benar menutup semuanya.

"Kalian sudah sah menjadi suami-istri. Sekarang, kalian bisa memakaikan cincin pernikahan kalian. Dan kalian bisa mencium pasangan kalian."

Arrghhh..

Aku mengerang pelan. Sangat pelan sampai-sampai mungkin hanya aku yang mendengarnya. Aku bisa merasakan bahwa Donghae, Yesung hyung, dan Ryeowook sedang memperhatikanku dan mencoba memelukku. Tapi aku tetap tidak mau membuka mataku dan menjauhkan kedua telapak tanganku dari kedua telingaku. Walaupun suara-suara itu masih bisa terdengar, tapi aku tidak mau suara itu lebih terdengar jelas..

"Kita keluar." Suara Yesung hyung terdengar sayu di telingaku. Dan aku bisa merasakan bahwa mereka mulai menggiringku keluar dari gereja ini.

Terimakasih.. Aku memang tidak ingin berada di gereja itu. Aku tidak ingin terus melihat Sungminku berdiri di depan altar itu terus.. Aku tidak ingin melihat bibir tipis milikku itu mencium yeoja yang telah mengambil Lee Sungminku..

KYUHYUN POV END


Donghae mengerang frustasi saat ia baru saja menuntun Kyuhyun untuk masuk ke dalam mobil. Ia lebih memilih untuk berdiri di depan mobil dibanding di dalam mobil bersama Kyuhyun dan Ryeowook. Ia hanya tidak rela melihat keadaan Kyuhyun yang seperti itu.

"Apa aku salah membawanya kesini?..." lirih Donghae sambil mengacak-acak rambutnya.

Yesung yang berdiri disebelahnya juga hanya bisa menatap Donghae sambil merangkul pundak sahabatnya tersebut. "Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang. Kita harus memberi Kyuhyun waktu, Hae."

"Kita telah berdosa sudah menyembunyikan hal ini sebelumnya. Kyuhyun pasti membenci kita, hyung." Donghae bisa merasakan kalau matanya memanas dan genangan air mata mulai menumpuk di matanya.

"Jangan lemah, Hae. Kita harus kuat. Sungmin sudah menitipkan Kyuhyun pada kita.." ucap Yesung. Sebenarnya ia juga ingin sekali menangis bila ia tidak ingat bahwa ia yang paling tua diantara mereka. Melihat Donghae yang sudah menangis saja bisa membuatnya mengeluarkan air mata, bagaimana bila ia melihat ke dalam mobil?

Sosok Kyuhyun yang tetap menutup mata dan kedua telinganya. Ryeowook sudah bersusah payah menenangkan hyungnya yang terus menggumamkan nama Sungmin, namun usahanya selalu gagal.

"Hyunguljima, aku mohon…" Ryeowook memeluk tubuh kakaknya itu. Ia dekap kepala Kyuhyun di dalam dadanya. Hatinya sungguh meronta melihat keadaan sang kakak yang terus menangis dan memanggil nama kekasihnya.

"S-sungmin… Sungmin.." Bila hati Ryeowook sudah meronta, mungkin hati Kyuhyun sudah menjerit kesakitan. Ia meringkuk di dalam pelukan Ryeowook. Walau kini ia sudah menjauhkan kedua telapak tangannya dari telinganya, tetap saja ia tidak mau mendengarkan ucapan penenang dari adiknya. Ia hanya ingin teriak sekerasnya.

"Hyung. Kita harus pulang.." tutur Ryeowook saat Donghae dan Yesung sudah memasuki mobil. Tanpa berpikir panjang lagi, Donghae yang memegang kemudi segera menyalakan mobil dan pergi membawa mereka ke Apartment Kyuhyun.


Temaram lampu di dalam kamar penuh kenangan ini sepertinya lebih baik dibanding tempat manapun. Begitu pikir Kyuhyun. Hanya duduk di pinggir ranjang berjam-jam tanpa memperdulikan panggilan dari ketiga orang namja dibalik pintu kamarnya. Kyuhyun hanya ingin sendiri saat ini.

Matanya terus memandang satu pigura persegi yang berisi sebuah foto. Foto dua orang namja yang sedang berangkulan. Ia bisa melihat rona merah yang tertera jelas di pipi namja manis dan senyuman lebar dari namja yang sedang merangkul namja manis itu. Mereka berdua memakai bando berbentuk kuping kelinci dan mereka berdua sama-sama memegang segelas wine.

"Kenapa?"

Lirihan itu terdengar menyayat hati bila ada seseorang yang mendengarnya. Jemari panjang itu terulur untuk menyentuh wajah manis yang ada difoto itu. Seakan bisa terasa nyata, Kyuhyun mulai mengusap-usap pipi Sungmin.

"Kau meninggalkanku.."

Tangisan itu kembali lagi, walau tanpa isakan kali ini. Mengalir lurus jatuh sampai mendarat tepat diantara dua namja dalam pigura.

Kyuhyun ingin menjerit, namun hatinya terlalu sesak. Ia ingin mengeluarkan isakan agar bisa terasa lega, tapi ia hanya bisa menangis dalam diam. Pandangannya terus mengabur seiring dengan air matanya yang makin deras mengalir.

BRAK

"Aaarggghhhh!"

Kyuhyun berteriak frustasi seraya melempar pigura fotonya dan Sungmin. Tepat mengenai tembok dan pigura itu sudah tidak berbentuk.

Duduk namja itu merosot, seakan ia tidak sanggup lagi menggunakan kedua kakinya untuk bertopang.

"Hikss…"

Isakan itu akhirnya keluar juga saat ia mulai meringkukkan badannya. Kyuhyun memeluk kedua lututnya, seakan ia adalah anak umur 8 tahun yang sedang kedinginan.

"Maafkan aku, Min.. Kembalilah.. Aku mohon kembalilah.."

Kyuhyun benar-benar merasakan kesakitan di seluruh jiwanya. Sungminnya sudah pergi dan meninggalkannya. Sungminnya lebih memilih menikahi seorang yeoja dibanding menepati janjinya untuk terus bersama Kyuhyun.

Kyuhyun merasakan dirinya sudah mati saat ia melihat Sungminnya berada digereja tadi. Tidak perlu menunggu saat malaikat kematian menghampirinya, sekarangpun ia benar-benar tidak bisa merasakan kehidupan sama sekali.

Namja berambut coklat itu mengalihkan pandangannya yang mengabur ke arah pigura yang tadi ia lempar. Penuh kaca berserakan dengan sebuah foto yang terletak lemah disana. Bukan, bukan foto itu yang dapat membuat Kyuhyun menghapus air matanya. Ada sebuah surat terselip dibalik foto itu.

Dengan gontai Kyuhyun mencoba merangkak untuk mengambil surat itu. Tidak ia perdulikan jemarinya yang terkena goresan kaca, Kyuhyun hanya ingin membaca surat yang ia yakini dari Sungminnya.

Dengan perlahan jemari panjang itu mulai membuka lipatan kertas berwarna putih..

Untuk Kyuhyun.

Maafkan aku. Maafkan aku telah meninggalkanmu.
Kau boleh membenciku bahkan mengutukku, aku pantas menerima hal itu, Kyu.
Namun satu yang harus kau tahu,
Aku tetap mencintaimu. Aku tetap sangat mencintaimu.

Kyu, bukankah kau pernah berjanji tidak pernah menangis untukku atau karnaku?
Bisakah kau tepati janji itu sekarang dan untuk selamanya?
Maafkan aku bila aku egois. Maafkan aku bila seenaknya aku menyuruhmu untuk tidak menangis dan mungkin menyuruhmu untuk melupakan aku.

Kyu, cinta itu tidak harus memiliki kan?
Terasa mudah untuk diucapkan tapi mengapa susah untuk dilakukan ya?
Hatiku sakit, Kyu. Hatiku terasa sesak saat memikirkan istilah itu.

Dunia ini tidak adil ya?
Dunia ini menyuruhku untuk menikahi seorang yeoja yang tidak ku cintai, tapi mengapa aku tidak bisa menikah dengan seorang namja yang aku sangat cintai?
Bukankah pernikahan harus dilandasi dengan cinta?

Kyu, apa kita sudah berbuat dosa yang besar?
Mengapa dunia dan isinya berusaha kuat memisahkan kita?
Apakah salah bila dua hati saling mencintai?
Dan kenapa harus kita yang mengalami ini? bukankah banyak pasangan seperti kita diluar sana?

Namun aku tidak peduli lagi, Kyu.
Semuanya terasa hambar sekarang dan aku tidak bisa merasakan apa-apa, selain cintamu.

Note:
Udara sekarang sangat dingin, usahakan jangan lupa memakai mantel saat keluar.
Perbanyaklah makan dan olahraga. Tidurlah tepat waktu.

Dan jangan lupa,
Aku mencintaimu.

Lee Sungmin.

Pandangan dari kedua mata obsidian itu kembali mengosong. Memandang ke depan tanpa tahu apa yang dipandang. Kertas berwarna putih dengan tinta hitam diatasnya sudah tergeletak lemah di sampingnya.

Kyuhyun kembali memeluk kedua lututnya, kembali menangis dan kembali merutuki takdir mereka berdua.

"Kau jahat, Min.. Kau jahat.."


Why? Why are you leaving?
Why? Why are you tossing me away?
If you were going to be like this
Why did you love me in the first place?

Did you remember that day?
That day when we first met
I still remember it
The promise you made to me
That you will only care for me
I believed your lies, I believed it


"Oke, terima kasih atas informasinya."

Donghae menutup telfonnya dan kembali berjalan menuju Yesung dan Ryeowook yang sedang duduk di meja makan.

"Apa kata orang suruhanmu, Hae?" tanya Yesung.

"Mereka bilang bahwa acara pernikahan Sungmin hyung sudah selesai. Tapi ia tidak menemukan Sungmin hyung." Jawab Donghae. Ia mengusap kasar wajah tampannya. Memandang frutasi ke arah Yesung dan Ryeowook. "aku yakin, Lee ahjuhsshi pasti sudah membawa Sungmin hyung pergi."

"Ya Tuhan… tidak bisakah Kyuhyun hyung bertemu sebentar dengan Sungmin hyung?" Ryeowook menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tidak mau bila kedua sahabat hyungnya ini melihat wajahnya yang menangis.

Yesung menghembuskan nafasnya, tanda dia kecewa. Donghae sudah mengutus bawahannya agar bisa membawa Sungmin ke sini, setidaknya untuk berbicara sebentar kepada Kyuhyun. Namja bermata sipit itu juga sudah mengutus orang suruhannya untuk memata-matai Sungmin. Tapi sepertinya, Tuan Lee sudah mengetahui itu semua dan membawa Sungmin pergi tanpa mereka ketahui.

"Aku akan berusaha mencari Sungmin hyung." Tutur Donghae seraya mengambil jas dan kunci mobilnya.

"Aku ikut!" Yesung segera berdiri dari duduknya. Mengacak rambut Ryeowook sebentar sebelum pergi mengikuti Donghae.

"Tetaplah disini dan jaga Kyuhyun."

Ryeowook mengangguk mendengar permintaan atau mungkin suruhan dari Donghae maupun Yesung.

Pandangan Ryeowook teralih ke sebuah pintu yang tertutup rapat. Pintu itu dihiasi tulisan hangul kyumin yang menambah kesan lucu. Senyum sedikit terkembang di bibir tipis milik Ryeowook saat melihat deretan pigura berisi foto hyungnya bersama Sungmin.

Kau pasti sangat mencintainya, hyung. Bertahanlah, kau bisa..

Tanpa sadar, kaki Ryeowook sudah berada di depan pintu Kyuhyun. Sedikit berpikir untuk mengetuk atau sekedar memanggil nama hyungnya itu, mengingat Kyuhyun sudah hampir lima jam mengurung diri di kamar sejak mereka pulang dari pernikahan Sungmin.

"Kyuhyun hyung.."

Lirihan itu terdengar jelas ditelinga Ryeowook dan dia berharap bahwa kakaknya di dalam sana juga mendengar. Ryeowook yakin Kyuhyun tidak tertidur. Dia sangat hafal dengan sifat kakaknya yang tidak pernah bisa tidur bila tertiban beban berat, seperti saat ini.

TOK TOK

Ryeowok memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu, walau ia sangat yakin bahwa Kyuhyun tidak akan membukakan pintu untuknya. Namja itu mendesah seraya menjatuhkan badannya, bersandar pada pintu kamar Kyuhyun. Ryeowook memainkan kemeja putihnya yang sudah keluar dari celana bahannya.

"Hyung, apa kau dengar aku?" tanya Ryeowook tanpa berubah posisi. "Kau pasti dengar aku."

"Aku sangat menyayangimu, hyung. Hanya kau yang tersisa dari keluargaku, dan hanya kau lah yang selalu menjagaku dari aku kecil sampai saat ini. Aku mohon, jangan terlalu lama berlarut dalam kesedihanmu, hyung.. Aku kesepian. Aku membutuhkanmu untuk menjagaku.."

Cairan bening itu kembali mengalir di mata coklat milik Ryeowook. Ia benar-benar tidak kuat melihat keadaan seperti ini terus. Walau baru beberapa jam Kyuhyun seperti ini, Ryeowook benar-benar merasa kesepian.

"Aku mohon.. Bertahanlah, hyung.."


Pagi ini Donghae, Yesung, maupun Ryeowook sudah sibuk di dapur Apartmetn Kyuyun. Mereka bertiga sibuk menyiapkan sarapan untuk namja yang sudah sehari semalam tidak keluar dari kamarnya sendiri.

Tidak ada obrolan yang berarti dari ketiganya. Mereka lebih memilih diam dan sibuk dengan kerjaan masing-masing. Ryeowook menyiapkan makanan, Donghae menyiapkan susu, dan Yesung yang mempersiapkan piringnya.

Setelah dua roti sandwich dan segelas susu tertata rapi di nampan, Yesung segera mencuci tangannya dan mengambil kunci mobil, handphone, serta jas yang tergeletak di sofa. "Ada hal yang harus aku tanda tangani di kantor. Maafkan aku tidak bisa menemani kalian."

Donghae mengangguk, "pergilah, hyung. Kyuhyun biar aku dan Ryeowook yang menjaganya."

"Ne. usahakan agar dia bisa keluar kamar hari ini dan yang terpenting makan. Aku pergi."

Donghae dan Ryeowook saling bertatapan saat Yesung sudah menghilang dari balik pintu. Keduanya seperti melempar kode kapan nampan itu akan diantarkan ke Kyuhyun.

"Ayo, kita antarkan ini ke Kyuhyun." Ajak Donghae seraya membawa nampan dan sudah berjalan menuju kamar Kyuhyun dengan Ryeowook yang mengikutinya di belakang.

Drrrttt.. Drrttt…

"Ah, hyung, telfonku berbunyi. Kau saja yang antar ke kamar Kyuhyun hyung, ne? Maaf ya." Tutur Ryeowook seraya mengambil handphone yang ia letakkan di meja nakas dekat tv. Segera ia menuju balkon untuk menerima telefon.

Donghae menggeleng pelan, Ryeowook selalu saja seperti itu. Meminta ijin kepadanya tapi tidak pernah peduli apa ia mengijinkan atau tidak. Setelah melirik sebentar ke arah Ryeowook, Donghae kembali berjalan menuju tempat tujuan pertamanya, kamar Kyuhyun.


KYUHYUN POV

Aku bisa merasakan sinar matahari mulai menerpa kulitku, ku alihkan pandanganku ke jendela kamar yang terbuka lebar. Aku belum menutupnya, pantas sinar matahari pagi itu mengenai kulitku.

Ku edarkan lagi pandanganku menuju bagian kosong tempat tidurku. Hey, bukankah seharusnya ada kekasihku sedang tertidur disana sambil memeluk tubuhku? Bukankah biasanya ada ucapan selamat pagi beserta ciuman manis di pagi hari dari Sungminku?

Aku mulai berdiri dari tidurku dan berjalan menuju balkon kamar. Melemparkan pandanganku ke pemandangan di depan sana. Tapi bukan itu yang sebenarnya ku perhatikan. Aku sama sekali tidak memperhatikan itu. Pikiran ku terlanjur melayang-layang entah kemana.

Sungmin, selamat pagi..

Apa tidurmu malam ini indah? Apa kau memimpikanku seperti biasa?

Apa yeoja itu tidur sambil memelukmu seperti yang sering ku lakukan padamu, Min?

Hidupku seperti tidak ada arah lagi saat kau tidak ada disampingku. Ini baru beberapa jam saat kau berjanji sumpah setia di hadapan Tuhan, tapi mengapa sepertinya kau sudah lama meninggalkanku, Min?

Aku membenci mengingat ini semua, Min. Aku benci saat kau berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan meninggalkanku. Aku benci saat kau bicara tentang masa depan kita yang cerah. Aku benci saat kau tertawa dan tersenyum dimalam sebelum kau meninggalkanku.

Aku bisa merasakan air mata itu mengalir lagi di pipiku. Lihatlah, Min, Kyuhyunmu ini sudah berubah menjadi anak yang cengeng semenjak kau meniggalkanku. Bukankah kau malu mempunyai namjachingu yang cengeng? Maka dari itu, kembalilah kepadaku, Sungmin.

Mataku menatap ke langit cerah di atas sana. Ada sekawanan burung yang berterbangan memenuhi pandanganku akan langit biru itu.

Sungmin, andaikan saja kita ini sepasang burung merpati. Kita hanya perlu terbang sejauh mungkin, tidak peduli dengan hujan atau panas, sayap kita akan selalu mengepak untuk menuju kebahagiaan. Bukan begitu?

Bibirku tersenyum kecil, betapa bodohnya aku, masih saja berharap bahwa kau akan kembali kepadaku. Masih saja berharap bahwa ini hanya sebagian dari bunga tidurku. Sungminku sudah pergi. Sungminku sudah berjanji pada Tuhan untuk menjaga pasangannya..

Dan aku?

Aku hanya seonggok sampah yang ia tinggalkan..

Aku kembali memasuki kamar dengan langkah gontai. Sedikit banyak aku bisa mendengar percakapan Donghae, Yesung hyung, dan Ryeowook di luar kamar. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin sendiri.

Ku dudukkan diriku di bangku meja rias yang sering dipakai Sungmin untuk merapikan rambutnya. Ku tatap refleksi tubuhku di cermin.

Bukankah orang di cermin itu sudah tidak berguna?

Aku sudah kehilangan jabatanku sebagai Presiden Direktur, aku sudah kehilangan kehormatanku sebagai orang terpandang, dan sekarang aku kehilangan kehidupanku..

Untuk apa aku hidup lagi?

Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar. Mencari sesuatu untuk memudahkanku pergi dari semua rasa sakit yang sangat mendera jiwa dan tubuhku ini. Dan sepertinya, untuk kali ini saja, Tuhan berpihak padaku..

Aku sudah tidak bisa membedakan, mana bisikan setan atau suara dari hati nuraniku. Yang aku tahu sekarang, kaki ini sudah melangkah menuju tengah kamar. Dengan susah payah aku menggantung tali, persis seperti penjual daging memasang tali untuk dagangannya. Dan tepat dibawah tali itu, ada sebuah bangku kecil yang biasa digunakan Sungmin untuk mengambil barang di tempat yang tinggi.

Namja itu memang tidak pernah memintaku untuk mengambil barang. Ia selalu berusaha sendiri tanpa mau membebani orang lain. Itu lah hal yang paling aku benci dari dirinya. Sungminku tidak pernah mau membagi kesuliltannya padaku..

Mataku berputar-putar, melihat kamar ini. Terasa menyesakkan karna tidak ada satupun yang luput dari kenanganku bersama Sungmin.

Dalam pandanganku yang mengabur, aku bisa melihat ada sosok namja manis yang tengah memelukku dari belakang di ranjang tempat tidur. Biasanya, Sungmin selalu mencari perhatianku bila aku sudah sibuk membaca buku. Kata-kata manisnya kini masih terdengar jelas di telingaku.

Aku juga masih mengingat bagaimana kebiasannya yang selalu menyendiri di balkon ketika aku belum pulang. Dan disaat aku sudah pulang, kedua lengan ini pasti merengkuh tubuh itu dari belakang.

"Kyu, apa aku terlihat lebih gemuk?"

Sungmin selalu memutar –mutar badannya di depan cermin sambil bertolak pinggang. Terus menanyakan hal yang sama kepadaku yang hanya tersenyum kepadanya sambil duduk dipinggir ranjang.

Seharusnya kau tidak usah menanyakan hal itu, sayang. Aku akan selalu mencintaimu bagaimanapun keadaanmu. Walau kedua pipi itu terlihat lebih menggembung, walau nanti dahi dan pipi mu mulai berkerut, atau walau kini kau sudah pergi meninggalkanmu. Bukankah aku pernah berjanji untuk selalu mencintaimu, Sungmin sayang?

TAP

Aku tersenyum manis, sangat manis karna aku bisa melihat wajah dan diriku yang sudah berdiri di atas bangku dari kaca tepat dihadapanku.

Pantas saja Sungmin pergi, lelaki di cermin itu sungguh mengerikan. Rambut coklat yang dulu sering ia tata itu terlihat menyeramkan. Bahkan wajah tampannya yang dulu ia banggakan, tidak lebih baik dari wajah monster di dongeng.

Ku tutup kedua mataku seiring dengan gerakan tanganku untuk mengalungkan tali itu dileherku.

I stop the moments that I love you

Even we're together, I won't be able to remember you

If I just think that I wasn't any of these, then it's nothing..

If I can forget you.. It's as if I'm dead.

(Super Junior-Dead at Heart)

Bibir ini masih saja mengalunkan sebuah lagu saat tali itu sudah terlingkar indah dan pas di leherku.

Sungmin, apa kau bisa mendengar lantunan terakhirku?

BRAK

Dengan satu gerakan di kakiku, kursi itu sudah tak lagi menopang seluruh berat badanku..

.

.

Mungkin ini yang sering dibilang orang-orang,

Saat kau ingin meregang nyawa, seluruh memori manismu pasti berputar-putar.

Dari mulai Appa dan Eomma yang menggendongku dan tertawa bersamaku. Ryeowook, sang dongsaeng kecil yang selalu saja minta ditemani saat badai datang. Donghae dan Yesung hyung yang selalu memelukku dan menganggapku sebagai dongsaeng mereka.

Dan Sungminku..

Ah, aku sudah merasa tidak ada oksigen lagi disekitarku. Perlahan, memori itu juga mengabur dan menghilang. Kepalaku sakit, namun aku tidak mau memberhentikan ini.

Bukankah sehabis ini semua rasa sakitku akan hilang?

TOK TOK

"Kyuhyun-ah.."

Sayup-sayup aku masih mendengar suara Donghae hyung diluar sana. Hyung? Biarlah, terakhir kalinya aku memanggilnya dengan sebutan hyung.

Aku merasa tidak kuat lagi. Aku bahkan sudah melihat Appa dan Eomma yang melambaikan tangannya ke arahku dikejauhan sana.

Sungmin, maafkan aku.

Maafkan aku telah meninggalkanmu, Sayang..

.

.

.

.

.

.

BRAK

PRANG

"YA TUHAN KYUHYUN!"


NORMAL POV

Yesung berdiri mematung di depan seorang namja berwajah pucat yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Berkali-kali namja bermata sipit itu mengucap kata syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada Donghae yang tepat waktu untuk menyelamatkan Kyuhyun, adik kecilnya.

Kyuhyun sudah siuman sejak sejam yang lalu. Ryeowook, Donghae, bahkan dirinya sudah berkali-kali mencoba mengajak bicara, namun usaha mereka gagal.

Kyuhyun bak boneka yang hanya bisa memandang lurus ke depan. Dada namja itu naik-turun, menandakan ia masih hidup dan bernafas. Namun tingkahnya seolah-olah ia adalah mayat hidup.

"Kyuhyun-ah.." Yesung menundukkan sedikit badannya, sehingga membuatnya bisa memeluk tubuh lemah yang sedang terbaring itu.

"Ya Tuhan, hyung mohon.. Bicaralah, Kyu."

Namja yang lebih tua itu tidak bisa menyembunyikan lagi tangisan dan isakannya saat namja yang lebih muda tidak merespon apa-apa saat dipeluk. Biarlah baju rawat Kyuhyun basah karna tangisannya, ia hanya ingin menangis di depan Kyuhyun.

"Kau boleh mencaci-maki hyung, kau boleh memukul hyung, kau boleh membenci hyung karna menyembunyikan ini semua.. Tapi hyung mohon.. Bicaralah, Kyu.."

Ryeowook dan Donghae yang melihat situasi itu hanya bisa berpelukan. Melampiaskan rasa sedih mereka melihat sosok namja yang mereka sayangi hanya bisa diam kaku seperti itu.

Tidak ada yang bisa mereka perbuat. Sungmin yang menjadi satu-satunya harapan mereka untuk membuat Kyuhyun kembali, malah entah dimana keberadaannya. Sungmin telah menghilang, bahkan orang tua Donghae tidak mengetahui keberadaannya. Perusahaan yang dipegang Sungmin juga sudah diganti oleh anggota redaksi. Sungmin seperti ditelan bumi.


Namja itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Lagi-lagi, malam ini ia tidak bisa tidur. Sudah banyak malam yang ia lewati dengan namja manis dipelukannya. Bagaimana bisa sekarang ia tidur sendiri?

Kyuhyun memperhatikan sekitarnya. Bisa ia lihat Donghae tidur di sisi ranjangnya dengan keadaan duduk. Di sofa, Yesung dan Ryeowookpun tidur dengan posisi yang sama. Mereka pasti kelelahan.

Ini sudah tengah malam dan Kyuhyun belum juga bisa menutup matanya. Ia menyesali, kenapa ia tidak mati juga? Rasa sakit ini datang lagi. Sakit sekali sampai Kyuhyun tidak sanggup untuk bernafas.

Perlahan, namja itu melepas infusnya tanpa rasa sakit sama sekali. Ia turun dari ranjang dengan usaha tanpa menimbulkan bunyi apapun. Memakai satu jaket yang ia yakini milik Yesung. Dan kakinya melangkah menuju pintu rumah sakit, sempat berhenti sebentar untuk kembali mengingat ketiga namja yang selama ini menemaninya.

Aku tidak bisa terus begini..

Wookie, Hae, Yesung hyung, kalian tidak tahu bagaimana rasa sakit ini..

Aku kesakitan..

Maaf.

KRIET

Kyuhyun melangkah dengan tertatih-tatih. Berusaha bersikap sebaik mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan dari suster-suster yang masih saja lalu lalang. Hingga sampailah ia dipinggir jalan. Menyusuri jalanan Seoul di tengah malam dengan pikiran yang kalut dan nafas yang tersengal-sengal, bahkan malam ini salju turun lagi.

Kyuhyun tersenyum. Dengan jalan begini di udara entah minus berapa, apalagi ditambah dengan pneumothraxnya yang kambuh. Ia yakin tubuhnya pasti akan terjatuh dan mati.

BRAK

"Saya minta maaf! Apa anda tidak apa-apa?"

Kyuhyun merasakan ada sepasang lengan yang memegang bahunya. Ia menggeleng, berharap namja yang baru saja menabraknya dan membuatnya terjatuh itu cepat pergi.

"Badan anda panas sekali! Dan waj- anda lari dari rumah sakit?! Ya Tuhan, mari ikut saya!"

Sekali lagi, Kyuhyun bisa merasakan namja itu merangkulnya dan memapahnya ke suatu tempat, seperti sebuah café dengan lumayan banyak kursi meja yang teratur. Namja itu memapahnya sampai memasuki sebuah kamar dan membaringkan tubuh lemahnya di sebuah ranjang.

Kyuhyun tidak mampu bicara, apalagi menolak saat tangan namja itu mulai menaruh kompres di dahinya.

"Maaf lancang membawamu ke rumahku. Ibuku mengajarkanku untuk membantu orang yang kesusahan. Ku rasa kau lari dari rumah sakit karna kau masih memakai baju rawat. Jadi aku membawamu ke rumahku."

Kyuhyun sedikit menoleh ke arah namja itu. Dia tidak seperti orang korea kebanyakan, aksen koreanya pun sedikit janggal ditelinga Kyuhyun.

"Ah iya, namaku Tan Hangeng."

FLASHBACK OFF


"Selama tiga hari, dia selalu diam dan tidak pernah menjawab pertanyaanku. Namun saat aku menyanyikan lagu Dead at Heart saat sedang membereskan sarapannya, tiba-tiba ia ikut bernyanyi. Sungguh, itu adalah suara menyayat hati yang pernah ku dengar. Syukurlah, setelah itu, ia mau berbicara denganku dan menjadi penyanyi cafeku sebagai imbalan karna telah menolongnya."

Hangeng tersenyum manis saat menyelesaikan cerita yang panjang dan menghabiskan hampir dua jam untuk bercerita. Heechul, sang namja manis yang sedari tadi mendengarkan, menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

"Dia sungguh mempunyai masa lalu yang menyedihkan.." tutur Heechul dengan nada pelan, "apa sahabat dan adiknya itu tidak pernah mencarinya selama enam bulan ini?"

"Karyawanku pernah mendengar, disekitar ini pernah ada dua namja yang mencari-cari Kyuhyun. Namun, saat aku bertanya kepada Kyuhyun apa ia ingin pulang, Kyuhyun hanya menggeleng." Jawab Hangeng seraya merapikan dua cangkir kopi yang telah kosong.

"Ya Tuhan!"

Hangeng berjingkit kaget saat Heechul berteriak tiba-tiba. "Ada apa, Heechul-ssi?"

"Bisakah kau beritahu nama wanita yang dinikahi Sungmin?" tanya Heechul seraya menahan lengan Hangeng agar berhenti sejenak dari bersih-bersih.

"Errr.. Kyuhyun pernah bilang bahwa nama wanita itu, Park Sun-young."

Heechul berpikir sejenak. Segera ia ambil handphone yang ada di saku celananya. Setelah berkutak-kutik dengan sang handphone selama beberapa menit. Ia mendongakkan wajahnya dan menatap Hangeng dengan mata berbinar.

"Ya Tuhan! Park Sun-young itu adalah saudara sepupuku! Dia adalah Luna!" heechul berdiri dari duduknya dan memegang kedua bahu Hangeng.

"Kau yakin? Heechul-ssi, dunia ini tidak sesempit di dalam cerita. Bisa saja, Park Sun-youngmu itu bukanlah wanitanya Sungmin." Hangeng menyingkirkan tangan Heechul dari bahunya dan bergegas kebelakang sambil membawa cangkir-cangkir bekas kopinya dan Heechul.

"Aku sangat yakin. Aku pernah menghadiri pernikahannya beberapa bulan lalu. Tapi aku tidak tahu nama pengantin prianya karna aku datang terlambat dan aku juga hanya berkunjung sebentar. Tidak ku sangka, kekasih Kyuhyunlah pengantinnya. Aku tidak pernah bertemu dengan Luna, eh maksudku Park Sun-young lagi. Tapi aku tahu rumah orangtuanya." Jelas Heechul. Untuk pertama kalinya, ia menyingkirkan semua atribut evil di dalam dirinya. Ia menatap wajah Hangeng yang bingung dengann puppy eyesnya.

"Aku tidak mungkin salah. Percayalah, dunia ini memang sempit. Aku akan temui Luna dan tanyakan keberadaan Sungmin, kekasih Kyuhyun. Dengan begitu, Kyuhyun pasti bisa kembali ceria seperti dulu lagi dan kembali ke lingkungannya. "

Hangeng menatap ragu ke wajah Heechul, "aku tidak ingin Kyuhyun kembali terluka dengan harapanmu yang bisa saja hanya semu."

"Jangan beritahu Kyuhyun sampai aku menemukan Luna dan Sungmin."

"Baiklah. Sekarang pulanglah, sudah malam dan aku ingin tutup." Tutur Hangeng yang dibalas dengan anggukan Heechul.

Heechul berniat untuk memberi beberapa lembar uang untuk membayar kopi dan waktu Hangeng yang telah ia pakai, namun namja berwajah tegas itu menolaknya. "Kau sudah mau membantu Kyuhyun itu sudah cukup. Aku akan memberikan kopi gratis setiap hari."

"Hahaha, terimakasih. Aku pulang, ne?" Heechul sudah memunggungi Hangeng dan berjalan mendekati pintu keluar café. Pintu terbuka dan bunyi dentingan bel yang meman menandakan ada orang masuk-keluar. "Salam untuk Kyuhyun!"

Dan namja cantik itu benar-benar hilang dari pandangan Hangeng.

Kyu, aku akan membantumu. Sebisa mungkin aku akan membantumu..


TBC

ehem..

panjang banget ya?-_-

gimana? dapet gak feelnya? *enggak!* #authorpundungdipojokan..

susah banget nyari pilihan katanya! jadi ya gitu deh-_-

banyak ide tapi gak bisa diungkapkan..

makasih ya udah menanti dan ngasih review!

a lots of love from me for u all3