DISCLAIMER : KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI

TITLE : BECAUSE IT IS YOU!

AUTHOR : HIMEVAILLE

PAIR : AKASHI SEIJUUROU X KUROKO TETSUYA

GENRE : ROMANCE(?), HURT/COMFORT(?) (baca saja lah hehehe)

RATE : M

WARN! TYPO, GAJE(?), DLL…

HAPPY READING… ENJOY!

.

Akashi tidak peduli jika nanti mobil yang sedang di kendarai saat ini menabrak sesuatu atau masuk jurang atau meledak atau apapun itu. ia hanya ingin segera bertemu dengan seseorang yang beberapa saat lalu mengatakan kata terlarang secara tidak langsung, PUTUS.

"Tetsuya"

Nama itu tidak henti disebut-sebut, takut sekali bisa lupa jika berhenti menyebut barang satu detik.

Gas diinjak semakin dalam, roda berputar semakin cepat, angin dilawan. Tujuan harus segera sampai bahkan kalau bisa dalam hitungan detik.

.

.

Kuroko mengenggam erat ponsel nya, menunggu balasan atas pesan yang tadi dikirim. Hati nya tak karuan bergerumuh, sesuatu seperti akan terjadi.

Kuroko merasa tak tenang untuk duduk, mondar mandir pun tak dapat membantu. Lelah berfikir mengapa pesan nya tak kunjung dibalas, Kuroko memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, berniat jalan-jalan keluar arena kampus.

Baru saja melewati gerbang kampus, sebuah mobil merah yang tak asing lagi berhenti tepat didepan nya.

"TETSUYA"

Tergesa-gesa, si pengemudi yang sudah jelas adalah Akashi, keluar sambil menyebut nama kekasihnya.

"Akashi-kun"

DEG!

Akashi gagap berkata-kata mendengar bibir manis itu menyebut kembali nama marga nya, padahal telinga nya sudah melekat pada nama panggilan yang sangat disukai nya.

Diam, Akashi diam untuk sejenak. Ok, masalah nama panggilan bukan masalah besar karena saat ini ada masalah yang lebih besar yang harus diselesaikan.

Tangan nya merogoh saku jas, ponsel merah di unlock. Pesan tadi dibuka kembali, Akashi mengikis jaraknya dengan Kuroko yang masih berdiri di pintu gerbang.

"Tetsuya, jelaskan padaku apa maksud pesan ini?"

"Aku rasa Akashi-kun bukan orang bodoh kan? maksud pesan itu jelas seperti yang tertulis disana"

Kuroko berusaha berbicara normal, berusaha tidak bergetar, berusaha tidak takut. Kuroko yang ingin menyudahi hubungan ini, ia yang meminta, jadi ia tak boleh terlihat lemah.

"Tetsuya, apa jari mu terkilir saat mengetik pesan?"

"Akashi-kun jangan bercanda"

"Aku tidak bercanda, sayang. Jari mu pasti terkilir kan? makanya pesan seperti ini bisa terkirim"

"Jari ku baik-baik saja, Akashi-kun"

"Kau sungguh-sungguh dengan pesan itu? apa kau tau maksud pesan itu? apa kau tidak berfikir saat mengetik nya atau pada saat kau mengirim nya?!"

Akashi ingin tenang, tapi tidak bisa. Emosi nya sudah naik ke ubun-ubun, ia ingin marah pada kekasihnya yang sudah bercanda kelewat begini.

"A-aku sungguh-sungguh"

"BOHONG!"

Suara Akashi terdengar lantang, menekan kan kata yang dianggap sudah paling tepat.

Kuroko terkejut, badan nya bergetar karena takut.

"Aku yakin kau bohong Tetsuya! Lihat! Kau saja ketakutan begitu. Hentikan candaan ini, Tetsuya! Ini tidak lucu!"

Kuroko tau dirinya lemah terhadap pria dihadapan nya ini, Kuroko tau dirinya sangat mencintai Akashi. Tapi Kuroko sudah membuat keputusan.

"ITU SUNGGUH-SUNGGUH!"

Kuroko juga mengeluarkan suara nya yang tak kalah keras dengan suara Akashi. Masa bodoh sama orang-orang yang sekarang berbisik tentang mereka, kuroko juga perlu membuktikan pada Akashi, ia tidak selemah itu.

Ponsel Akashi terjatuh, lebih tepat nya tangan itu tidak sanggup mengenggam lagi. Mata nya menatap tak percaya pada kekasih nya.

"Kenapa? Kenapa Tetsuya jadi begini?"

Suara itu melembut, takut jika yang mendengar ikut marah lagi. Akashi tidak ingin mendengar teriakan yang menyuarakan perih untuknya.

"Ini yang terbaik. Aku tidak mau merusak hubungan keluarga Akashi-kun. Akashi-kun harus mendapat yang lebih pantas dari pada aku"

"Tetsuya, apa kau tahu?"

Akashi mendekat, tangan nya di ulurkan untuk mencengkram kedua pundak Kuroko.

"Aku rela kehilangan seluruh harta warisan keluarga ku, aku rela membuang marga nama ku, jika itu bisa membuat ku tetap bersama mu, Tetsuya"

"Tidak, Akashi-kun. Jangan begitu"

"Katakan jika kau tidak mencintaiku lagi, Tetsuya. Katakan saja. Itu kan yang sebenarnya?"

"Aku mencintai Akashi-kun, tapi—"

"Tapi apa Tetsuya? Jika kau mencintaiku, kau tidak akan meninggalkan ku. Kita bisa lewati ini bersama, sayang. Percayalah padaku"

Cengkraman itu semakin kuat, Kuroko bisa merasakan hati Akashi yang bergetar. Kuroko tidak tega, Akashi tidak pernah terlihat separah ini sebelumnya.

"Aku percaya pada Akashi-kun, tapi ini berat. Maaf Akashi-kun, kita memang lebih baik putus saja"

Kuroko menurunkan tangan Akashi yang ada dipundak nya, tangan nya terasa begitu dingin padahal cuaca sedang tidak berangin.

"Aku permisi dulu"

Akashi mematung begitu saja, ia kehabisan cernaan kata untuk membujuk sang kekasih. Akashi tau Kuroko keras kepala, tapi apakah hati nya sekeras itu juga? Tak berkesayangan untuk meninggalkan Akashi? Akashi masih mematung bahkan saat langkah kaki Kuroko sudah semakin menjauh, badan Akashi kaku untuk bergerak. Musim gugur belum datang, tapi hubungan nya gugur duluan.

Sebuah mobil hitam sedan tiba-tiba datang menghampiri Akashi, orang-orang tertarik untuk memindahkan arah pandangan nya demi melirik sosok yang ikut hadir ditengah suasana perih.

"Akashi"

Ia turun dari mobil itu, menghampiri Akashi yang menjadi sorot tontonan di depan kampus, kemudian ia berjongkok untuk memungut ponsel mahal yang berbaring tenang ditanah.

Akashi masih tak bergeming, orang itu menarik tangan Akashi untuk pergi dari sana.

"Lepaskan, Nijimura! Jangan mengangguku"

"Untuk apa kau disini? Apa kau tidak malu?"

Malu? Ya, Akashi dipermaluin oleh kekasihnya. Akashi tidak pernah merasa sedalam ini ketika jatuh cinta, tapi Kuroko, si bocah yang tiba-tiba tinggal dirumah nya membuatnya separah ini. Dan sekarang Kuroko mengakhiri hubungan ini. Padahal Akashi berfikir cinta nya telah sempurna, cinta nya telah indah bermekaran, semua hanya bayangan yang sirna saat ini.

"Akashi, ayo"

Nijimura tidak ingin harga diri Akashi jatuh lebih bawah lagi jika sampai Akashi benar-benar galau didepan kampus seperti ABG alay zaman sekarang.

Nijimura menarik Akashi lebih kuat lagi, membawa nya ke dalam mobil Akashi. Mobil Nijimura akan dibawa oleh orang suruhan nya.

"Saya mewakili untuk meminta maaf untuk kejadian yang memalukan ini"

Nijimura tahu sopan santun yang baik dan benar. Ia membungkuk hormat sebelum menutup pintu mobil dan melajukan meninggalkan Universitas Teiko.

.

Kuroko menangis dibalik semak belukar, sangat deras dan keras. Sakit rasanya harus mengatakan semua itu, lebih lagi saat melihat bagaimana orang yang sangat dicintai menjadi separah itu.

'Apa ini sudah benar?'

Perasaan bersalah terlalu dalam menyuaraki. Kuroko mencintai Akashi, itu ada sedikitpun ragu disana, tapi apa daya saat orang tua tidak menyetujui?

Perlahan Kuroko menghapus airmata nya, menyakinkan diri seperti ini akan baik-baik saja.

.

.

"Putar"

"Huh?"

"Kubilang putar"

Nijimura gagal paham tapi tetap menuruti apa yang diperintahkan.

"Mau kemana? Kita harus kembali ke kantor"

"Night Club"

"Tapi ini masih sia—"

Nijimura tidak akan melanjutkan kata-katanya karena sepasang mata sudah mendelik tajam. Dengan berat hati Nijimura mengantarkan Akashi pada NightClub milik Mibuchi yang sudah menjadi tempat langganan mereka.

.

"Are.. Sei-chan?"

Mibuchi tampak terkejut melihat ada yang datang siang bolong begini. Dirinya sedang sibuk maskeran di ruang tengah. Tempat ini selain menjadi night club juga sekaligus rumah nya Mibuchi.

"Woi Mibuchi, tolong jaga dia. Aku kembali setelah jam pulang kantor"

Nijimura tidak bisa meninggalkan kantor begitu saja, tetap harus diurus sampai kelar.

Akashi duduk di sofa ruangan, mata itu tampak tak bercahaya lagi. Redup dan kelam. Mibuchi sampai miris melihat bagaimana keadaan Akashi yang biasanya tampil mengesankan.

"Sei-chan baik-baik saja?"

"Jangan ganggu aku, ambilkan saja wine ku"

Mibuchi tidak tahu apa-apa, tapi sepertinya terlibat dengan ini cukup menyusahkan. Akhirnya Mibuchi hanya menuruti dengan meletakkan 5 botol wine favorit Akashi, setelah itu meninggalkan Akashi sendirian diruang tengah.

Akashi meneguk wine tersebut langsung dari botolnya, tidak peduli jas atau kemaja mahal nya basah penuh noda wine. Ia hanya haus, ingin minum lebih banyak tanpa henti, ingin melepas dahaga ini.

Satu botol habis dalam satu kali minum. Itu tidak cukup, botol kedua dibuka. Diteguk dengan cara yang sama, seolah hanya ini lah minuman paling menyegarkan dalam kehidupan.

Akashi terluka, luka yang dibuat dan harus diobati oleh orang yang sama.

"Tetsuya"

Lirih, sangat lirih. Akashi yakin dia mampu memperjuangkan cinta nya, dia tidak mungkin kalah dengan kondisi sialan seperti ini. Karena Kuroko Tetsuya, orang yang tidak akan lagi tergantikan dalam hati nya. tapi bagaimana jika memang Kuroko yang tidak mencintai nya lagi? Akashi bisa memaksa siapa saja, memerintah siapa saja, namun untuk Kuroko, ia tidak sanggup berlaku kasar. Hati nya sangat luluh hanya untuk Kuroko seorang.

.

.

Malam hari sudah semakin larut, baik Akashi maupun Kuroko belum ada yang pulang kerumah.

Akashi Shiori sangat cemas. Ia menghubungi Akashi tetapi ponselnya tidak aktif, lalu mencoba menghubungi Kuroko tetapi tidak dijawab. Shiori takut bahwasanya percakapannya dengan Masaomi didengar oleh mereka.

"Sayang, Seijuurou dan Kuroko-kun belum pulang juga. Apa mungkin mereka mendengar percakapan kita?"

Shiori duduk disamping Masaomi yang sedang menonton berita di televisi pada ruang keluarga.

"Bagus jika mereka mendengarnya, dengan begitu mereka akan berjaga jarak"

"SAYANG! Bagaimana jika mereka kabur berdua?"

Masaomi menatap istrinya lekat-lekat. Romote tv diletak pada pinggiran sofa.

"Shiori, sebenarnya kenapa kau tampak sangat ingin Seijuurou menikah dengan Kuroko-kun?"

Dag Dig Dug! Shiori bergerak canggung, matanya menghindari tatapan Masaomi yang sudah berusaha mengorek alasan dibalik sikap nya.

"Kenapa kau jadi diam?"

"I-itu.. bukan begitu, bagi ku Seijuurou terlihat sangat akrab dengan Kuroko-kun, dia jadi lebih ceria daripada biasanya. jadi ku kira Kuroko-kun dapat selamanya menjaga anak kita"

Shiori merasa sedikit lega karena lidah nya masih dapat bergulir lancar untuk berbicara.

"Kau yakin hanya itu?"

"Iya, tentu. Lagian Kuroko-kun anak dari sahabatmu. Bukankah ini bisa membuat hubungan kita dengan keluarga Kuroko tambah baik? Iya kan?"

"Kau benar, tapi aku tetap tidak setuju"

"Kenapa?"

Shiori geram sekali dengan suami nya. mau nya sih memberi tahu yang sebenarnya, tapi ia takut suami nya malah tambah marah dan berlaku yang tidak-tidak.

"Aku tidak setuju bukan karena keluarga Kuroko atau Kuroko-kun yang tidak baik. Masalah ku hanya satu, mereka sama-sama pria"

"Zaman sekarang ini, sudah biasa hubungan seperti itu. hukum juga tidak melarang"

"Ini akibat nya jika terus mengikuti tren zaman, etika jadi hancur"

Shiori lelah berdebat dengan suami nya, keluarga ini memang menjunjung tinggi nilai moral dan tradisi. Pernikahan sesama jenis dianggap tidak bermoral. Meskipun begitu, Shiori saat ini lebih mencemaskan dua pemuda itu yang tak kunjung terlihat batang hidung nya. Shiori khawatir jika dugaan nya benar bahwa mereka mendengar, hubungan mereka akan berantakkan. Insting seorang ibu memang sangat tajam.

.

.

"Woi Akashi, sudah lah, kau kacau begini hanya karena bocah itu?"

Akashi tak perlu membuka suara, keadaan nya yang sekarang cukup menjawab. Dirinya lesu tak bersemangat, lengan kemeja sebelah naik sebelah turun, dasi sudah turun tak rapi, kemeja sudah kusut, jas nya dipakai menutupi wajah.

Nijimura tidak suka melihat Akashi dipermainkan begini, ia sempat kaget saat tau Akashi ternyata sudah berpacaran dengan Kuroko. Tapi saat ini, kesempatan ini tidak boleh dilewatkan. Nijimura harus mengakui bahwa dia senang karena Kuroko memutuskan Akashi, dengan begitu ia bisa miliki Akashi.

"Akashi, Kuroko itu sudah meninggalkan mu. Kenapa kau masih memikirkan nya sedalam itu?"

Jas ditarik turun guna melihat bagaimana ekspresi Akashi dengan topic yang dibicarakan.

Wajahnya masih sendu, namun Nijimura tau Akashi pasti dengar apa saja yang dia ucapkan.

"Dia sudah tidak mencintai mu lagi, dia tega menyakiti mu. Lihat keadaan mu sekarang! Semua karena dirinya. Kau ingat saat malam itu dia mendorong ku? Saat itu kau juga kacau karena dirinya. Apa baik nya dia? Dia hanya menyakitimu, menyusahkan. Dia masih bocah, tidak mengerti cinta"

Itu benar! Kuroko merepotkan, Kuroko membuat Akashi hilang kendali dan emosi, membuat Akashi mabuk sebegini parah, Kenapa Akashi harus menyukai orang macam itu? tapi karena memang itu Kuroko, Akashi rela mati demi bersamanya.

"Kita sudah lama mengenal, aku mengerti sepenuhnya tentang mu"

Hasut, hasutan terus diberi. Nijimura menyukai Akashi, anggap saja ini bentuk perjuangan Nijimura untuk mendapatkan cinta Akashi.

"Aku menyayangi mu, Akashi. Aku jauh lebih pantas dari pada dia, aku tidak akan menyakiti mu begini, tidak akan membiarkan mu bersedih seperti ini. Selama kita kenal, apa aku pernah meninggalkan mu? Tidak kan? seharusnya kau tidak pernah mengenal dia, tidak pernah mencoba hubungan dengan bocah itu"

Itu juga benar! Seharusnya Akashi sadar umur nya berapa dan umur Kuroko berapa. Tapi sudah terlanjur, Akashi sudah terlanjur masuk dalam lingakaran cinta yang Kuroko bentuk, terjerat didalam nya dan tak mungkin keluar lagi.

Namun, semua yang Nijimura ucapkan, pelan-pelan menarik nya keluar. Lingkaran itu tidak kuat lagi,tidak aman lagi.

Entah karena Akashi yang sedang tidak fit, atau wangi wine yang memenuhi ruangan, atau juga suara music keras dari ruang night club? Semua beriring membawa nya keluar dari lingkaran itu.

Nijimura bisa menyadari bahwa Akashi mulai paham perkataaan nya dan mengikuti arus pembicaraan.

"Tidak akan apa-apa jika kau juga meninggalkan nya, kau memang harus berhenti memikirkan nya. dia yang menginginkan ini, dia yang meminta putus"

Fakta yang tak bisa dihindari, Nijimura mengaktifkan ponsel Akashi hanya untuk menunjukkan kembali isi pesan yang Kuroko kirimkan. Isi pesan yang mengakibatkan semua ini.

"Kau sudah baca dengan jelas, tidak ada yang salah. Dia yang meminta"

Akashi memandang Nijimura, wajah Nijimura sangat serius. Kuroko seperti penjahat sekarang, dan Nijimura adalah hakim nya serta Akashi lah korban nya. penjahat itu sedang dihakimi, dan korban akhirnya menyetujui itu.

Akashi sadar sepenuhnya dirinya masih mencintai Kuroko dan hanya Kuroko. Sementara untuk Nijimura, Akashi menganggapnya sahabat baik dan bagi nya ini sekedar curhatan belaka, tapi apa yang dikatakan oleh Nijimura tidak salah, Kuroko yang meminta ini. Akashi terlalu cinta sampai tak sanggup mengakui apalagi menerima itu.

"Shuuzo"

Nijimura senang mendengar nama kecil nya di panggil, itu berarti dia berhasil, dia pemenang nya. memang dalam keadaan begini, pengaruh sekecil apaapun akan memberi dampak besar.

Padahal hati Akashi masih terus memanggil nama Kuroko, tapi tubuhnya sedang malas bereaksi menolak pelukan yang sedang diberi Nijimura.

"Sepertinya kau sudah tenang sekarang. Ayo pulang, ibu mu berpuluh kali menelepon"

.

.

Nijimura kembali mengendarai mobil Akashi untuk mengantar nya pulang, Akashi masih sedikit pusing karena meneguk sangat banyak wine. Diam-diam Nijimura terusan tersenyum, ia lega karena Akashi setidaknya sudah baik-baik. Semenjak Akashi berpacaran dengan Kuroko, Akashi sudah jarang menghabiskan waktu dengan Nijimura. Biasanya mereka kompak kemana-mana. Itu membuat Nijimura merasa tidak senang. Nijimura memang tidak pernah berniat merusak hubungan mereka, ia sangat sabar menunggu saat-saat seperti ini.

"Akashi, kau mau makan dulu?"

"Tidak usah"

"Kau yakin tidak lapar?"

"Iya"

Mobil itu dengan mulus memperlambat laju nya karena sudah hampir sampai tujuan.

Didepan gerbang, sebuah taksi juga baru berhenti dan tampak seseorang turun dari taksi itu. surai yang tersinari lampu mobil terlihat berwarna biru muda, Kuroko ternyata juga baru sampai dirumah.

Tinn.. Tinn..

Klakson dibunyikan agar taksi itu cepat menyingkir.

Kuroko menoleh kearah mobil, sedikit terkejut karena pulang bersamaan dengan Akashi walau tidak satu rute. Tapi Kuroko melihat Akashi yang duduk dibangku penumpang dan orang lain yang mengemudikan mobil itu.

Tin.. tin…..

Sengaja diperkuat klakson, taksi segera meninggalkan tempat.

Kuroko berbaik hati sekalian membuka kan gerbang, Nijimura dengan gas penuh menerobos masuk.

.

"Kuroko-kun.."

"Tadaima Akashi-san"

"Okaeriiiii.."

Shiori langsung menghampiri Kuroko yang baru memasuki rumah, raut wajahnya sangat cemas tetapi sudah bisa tersenyum.

"Seijuurou mana?"

"Tadaima Okaa-sama"

Kuroko baru saja akan menjawab, tapi Akashi sudah memberi salam duluan.

"Eh ada Nijimura-kun juga"

"Konbanwa Akashi-san"

Shiori sudah harap-harap cemas melihat adanya Nijimura yang turut hadir. Kuroko juga tidak tersenyum atau menatap Akashi, begitu pula dengan Akashi.

"Aku mau istirahat. Terimakasih sudah mengantar ku, Shuuzo. Pulanglah dengan mobilku"

Kuroko terhenyak mendengar ada orang lain yang Akashi panggil dengan nama kecil nya secara baik-baik. Yang Kuroko tau, jika Akashi memanggil nama orang bukan dengan nama marga itu jika Akashi marah atau memberi perintah dan tidak menghormati orang itu. tapi yang ini beda, nada nya sama seperti Akashi memanggil nama kecil Kuroko.

Nijimura tersenyum lembut pada Akashi serta puas dengan menyadari reaksi Kuroko.

"Baiklah kalau begitu. Saya pamit dulu, Akashi-san"

"Hati-hati Nijimura-kun"

Sebelum keluar, Nijimura mendelik Kuroko dengan seringai yang tak bisa diartikan.

Akashi menunggu sampai Nijimura masuk ke mobil lalu ia berjalan ke kamarnya.

Sementara itu, Masaomi yang sedari tadi hanya memperhatikan bisa turut merasakan atmosfer yang tidak menyenangkan antara anak nya dan Kuroko. Ia jadi curiga dengan hubungan mereka yang sebenarnya.

.

.

Didalam kamar, tidak ada yang berbicara sepatah kata pun. Sangat sunyi. Akashi sibuk dengan lembaran kerja nya, Kuroko sibuk dengan mata kuliah nya. mereka tidak saling melirik, tapi hati kedua nya masih gundah satu sama lain.

Jam sudah menunjukkan jam 1 malam, Kuroko sudah mengantuk tapi hawa sekarang sangat tidak enak untuk nyenyak dalam tidur.

Kuroko melirik Akashi, Akashi sejak tadi sama sekali tidak singgah di kasur. Hati nya jadi tambah sedih mengingat bagaimana biasanya tiap malam mereka berbagi kehangatan. Biasanya Akashi sudah akan mulai menggoda Kuroko, memancing dengan jahil.

Akashi memang tidak melihat kearah Kuroko, tapi mata nya saat melirik dokumen kerja sebenarnya fokus pada diri Kuroko. Akashi masih ingat perkataan Nijimura tadi, betapa jahat Kuroko membuat Akashi hampir gila.

Kring kring kring

Mereka berdua sama-sama tertarik untuk sadar ponsel siapa yang berdering tengah malam begini, ternyata adalah milik Akashi.

"Shuuzo?"

"Kau belum tidur juga ternyata"

"Kau juga"

Kuroko menoleh pada Akashi yang mulai berbicara antar suara.

'Shuuzo? Nijimura-san ya? Kenapa tengah malam begini?'

Kuroko memang mengatakan putus, tapi itu bukan murni keinginan nya kan? Entah mengapa rasanya tidak nyaman melihat Akashi mengobrol dengan orang lain tengah malam begini.

"Apa dia disana?"

"Ya"

"Padahal dulu saat kita telfonan, kau selalu sendiri saja dikamar"

Kuroko samar-samar mendengar itu. suara Nijimura dan apa yang dikatakan dari sambungan telepon. Akashi tidak tahu volume suara panggilan sudah ter setel ke volume paling keras, dan Nijimura dari seberang sana memang sengaja mengeraskan suara nya.

Kuroko sadar diri, dia hanya numpang disini. Sudah merepotkan banyak hal, lalu sekarang menganggung privasi Akashi.

Kuroko bangun dari kasur, Buku mata kuliah Kuroko letak pada laci meja belajar nya yang terletak disamping meja kerja Akashi. Akashi baru membelikan satu set meja belajar lengkap dengan laci bertingkat dan memang permintaan Akashi untuk diletakkan disamping meja kerja nya. kata nya supaya Akashi lebih semangat kerjain tugas kerja dan Kuroko semangat untuk tugas kuliah serta bisa sama-sama selalu.

Kuroko tidak ingin menganggu Akashi, dia memilih keluar kamar saja.

Akashi menoleh pada punggung Kuroko yang sudah berjalan keluar kamar, pintu kamar pun dengan perlahan tertutup rapat. Akashi sendu kembali.

"Akashi?"

"Ah maaf, sepertinya aku sudah mengantuk"

"Benarkah? Yasudah kalau begitu, sampai jumpa besok"

"Ya"

Akashi menutup sambungan telepon. Layar kembali pada menu utama yang wallpaper nya masih gambar si malaikat biru. Layar itu di elus pelan, malam ini hanya bisa mengelus yang tercinta lewat sebuah foto.

.

.

Sudah satu jam Kuroko belum kembali ke kamar. Akashi sedari tadi sudah berbaring di tempat tidur. Niatnya ingin tidur tapi tidak tenang karena memikirkan Kuroko, dan tidak terbiasa tidur sendiri lagi.

"Kemana dia? Apa dia berfikir aku mengobrol selama ini? Yang benar saja"

Akashi bangkit dari kasur kemudian berjalan keluar kamar.

Rumah nya yang amat besar tidak menyalakan banyak lampu di jam begini, tapi suara tv dari ruang keluarga menarik perhatian nya.

Sampai disana, yang Akashi temui adalah tv menyala yang menayangkan acara tanding basket ulangan.

"Hei, sampai jam berapa kau mau menonton?"

Tidak ada sahutan selain dengkuran halus yang terdengar, karena Kuroko sudah tertidur pulas di sofa.

"Hah.. ternyata.."

Akashi menghela nafas, dirinya tidak bisa tidur karena khawatir, ternyata yang dikhawatirkan sudah terlelap disini. Remove tv diambil untuk mematikan saluran tv.

"Bangun. Jangan tidur disini bisa masuk angin"

Akashi memandang Kuroko yang tak bergeming dengan ucapan nya.

"Hei" dicoba lagi dan masih sama.

Kemudian Akashi mendekat dan berjongkok didepan sofa. Mata nya dengan sendu menatap wajah putih mulus yang selalu ceria tapi malam ini terlihat lelah.

"Lihat kan? Kau tampak rapuh begini tapi bagaimana bisa kau begitu sok kuat meminta putus dariku? Hmmm?"

Telapak tangan Akashi dengan sangat pelan mengelus helai rambut Kuroko yang lembut.

Akashi tidak bisa berbohong pada perasaan nya, tidak sanggup untuk menolak perasaan hangat yang menjalar tiap kali berada didekat Kuroko.

Akashi tahu hati nya tersakiti, tapi ia sadar penyebabnya adalah orang tua sendiri. Akashi paham Kuroko terlalu khawatir mengatasi ini.

"Seharusnya kau percaya padaku, sayang" bisiknya.

Kuroko tentu saja tidak menjawab, ia menggeliat mengigil saja karena suhu tengah malam yang dingin.

Akashi tersenyum geli, Kuroko sangat imut dengan tubuh mungil yang menggeliat seperti itu.

Helaian rambut yang menghalangi dahi disingkirkan, dahi itu dicium sangat mesra.

CUP!

"Aku sangat mencintai mu, Tetsuya"

.

.

.

TBC

.

.

.

Terimakasih buat yang sudah baca, Fav, Follow, Review.

BIG THANKS buat Vanilla Parfait, Divanabila1717, Liuruna, AkaKuro-nanodayo, Izumi-H, Taurus'99, nimuixkim90 yang sudah meluagkan waktu memberikan review pada chap yang lalu

TERIMAKASIH~