Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.

.

DISCLAIMER : TITE KUBO

.

RATE : M For Safe

.

Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan.

.

Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja. hehehe

.

.

.

"Yang Mulia harus menolak takdir yang akan menjemput Yang Mulia. Dan Hamba, ingin Yang Mulia memilih salah satu sekarang, yang mungkin tak bisa Yang Mulia dapatkan dua-duanya."

"Apa itu?"

"Yang Mulia harus memilih… calon bayi yang Yang Mulia kandung atau Yang Mulia Kaisar. Karena Yang Mulia, tidak ditakdirkan untuk mendapatkan keduanya."

Kontan saja Miyako terbelalak mendengar kata-kata itu.

"Apa… yang…"

"Jika Yang Mulia ingin calon bayi itu, Yang Mulia harus meninggalkan Yang Mulia Kaisar, tapi jika Yang Mulia ingin Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia harus melepaskan calon bayi itu. Hamba tidak ingin mengulangi kesalahan dengan tidak memperingati mendiang Putri Mahkota terdahulu yang kini kehilangan cahayanya untuk bertahan hidup karena kalah oleh cahayanya sang Kaisar. Maka dari itu, Hamba memohon dengan sangat kepada Yang Mulia untuk tidak mengecewakan Kaisar. Karena jika tidak… tidak ada lagi harapan untuk Kaisar…"

Tiba-tiba saja setitik air mata turun dari mata Miyako.

"Lalu… apa yang akan terjadi jika aku tidak bisa melepaskan keduanya?" tanya Miyako dengan nada getir.

"Yang Mulia akan menghilang…"

"Kalau begitu… tidak apa-apa. Karena aku, tidak bisa melepaskan siapapun untuk kepentinganku sendiri. Yang Mulia Kaisar sangat menyayangi bayi ini. Aku mungkin… bukan siapa-siapa untuk Yang Mulia Kaisar. Bahkan sebelum bertemu Kaisar, aku bukanlah siapa-siapa di dunia ini. Terima kasih sudah memberitahuku mengenai hal ini. Aku akan menjaga baik-baik bayi ini…"

Mungkin Miyako bisa digantikan dengan mudah, tapi tidak dengan anak ini. Karena itu, Miyako tidak ingin demi kepentingannya sendiri harus melepaskan siapapun yang sangat berarti untuknya.

Tidak Kaisar, tidak juga bayinya.

.

.

*KIN*

.

.

Seketika itu, Miyako kembali bermimpi dimana hari dirinya pergi bertemu dengan sosok peramal yang dikatakan oleh Kaisar pernah meramal dirinya pada masa 10 tahun yang lalu. Ketika itu, Miyako tak ingin mempercayai apa yang dikatakan oleh si peramal. Tapi hari ini, kata-kata peramal itu adalah bukti nyatanya.

Tubuh Miyako benar-benar mati rasa sekarang ini. Miyako tak bisa merasakan apapun lagi bahkan untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Seujung jari pun tak bisa digerakkannya sekarang. Sungguh membuatnya merasa begitu tak berdaya.

"Racunnya hampir menyebar! Bayi Yang Mulia sekarang berada dalam bahaya!"

Miyako mendengar suara hiruk pikuk yang berada di sekelilingnya itu. Begitu membuka matanya perlahan, ternyata beberapa perawat istana dan tabib tampak sibuk mondar mandir di sekelilingnya. Ternyata Miyako sedari tadi berbaring menyamping karena luka di bagian punggungnya. Ya, sedari tadi sepertinya punggungnya memang bermasalah.

"… a… anak… anakku…" lirih Miyako berusaha bersuara meski sepertinya rasanya sangat menyakitkan bahkan untuk berkata-kata sedikit saja.

Seorang perawat menyadari reaksi yang diberikan oleh Miyako. Perawat itu kemudian menghampiri Miyako untuk mendengar apa yang diinginkannya.

"To… tolong… s-selamat… kan… anakku…" lirih Miyako bersusah payah dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya hingga menitik jatuh di antara batang hidungnya.

"Kami akan berusaha Yang Mulia! Yang Mulia harus tetap kuat!" perawat istana itu memberikan semangat pantang menyerah untuk Miyako supaya tetap kuat.

"Tidak, tidak ada… waktu lagi… selamatkan… anakku… tolong…" isak Miyako semakin menjadi karena sekarang dirinya benar-benar sudah berada di ambang batasnya.

Perawat itu kemudian bergerak mencegat Tabib Istana yang terus menerus meminta obat herbal yang digunakannya untuk menekan racun yang mulai menyebar itu.

Tabib Istana berusia senja itu kemudian mendengar permintaan Miyako dari perawat istana itu untuk menyelamatkan bayinya apapun yang terjadi. Dia harus membawa bayi itu ke dunia ini. Kaisar… tengah menunggu kelahiran sang bayi yang sudah lama dirindukannya ini. Mana mungkin Miyako mengecewakan Kaisar yang sudah begitu mencintainya.

"Yang Mulia, jika Hamba melakukannya, nyawa Yang Mulia berada dalam bahaya besar! Bahkan Yang Mulia bisa kehilangan hidup Yang Mulia!" tegur Tabib Istana ketika selesai mendengarkan semua permintaan Miyako.

"Tidak, tidak apa-apa… kumohon… anak ini… anak yang dirindukan oleh… Yang Mulia… Baginda Kaisar… aku… aku akan baik… baik saja… tolong aku…"

Sang Tabib serba salah menanggapi permintaan Miyako yang begini menyulitkan. Jika sang Tabib menyelamatkan ibunya, tentu saja sang anak tidak mungkin selamat karena masih berada dalam kandungan. Tapi jika sang anak yang diselamatkan, tidak mungkin untuk sang ibu bertahan hidup setelah menerima racun yang begitu hebat itu.

Ini sama saja dengan memakan buah simalakama.

Tapi Miyako bersikukuh untuk tetap mempertahankan anak itu dan mengabaikan semua kata-kata sang Tabib. Miyako tetap ingin melakukannya.

.

.

*KIN*

.

.

Kuru terus berlari sekuat yang dia bisa dari kepungan pada prajurit istana yang mencoba menangkapnya. Mereka begitu banyak, dan Kuru juga baru saja diserang oleh salah seorang prajurit itu sewaktu hendak menyelamatkan Selir Miyako. Sepertinya mereka sudah salah paham pada Kuru. Itu karena Ichigo yang memang tidak ingin keberadaan Kuru diketahui oleh orang lain. Tapi jika seperti ini jadinya…

Kuru menyelinap memasuki hutan yang memang berada tak jauh dari istana utama Dinasti Kurosaki. Kuru mencoba bersembunyi sebentar di antara pohon-pohon yang tumbuh besar. Para prajurit itu terus memburunya bahkan membawa beberapa obor besar bersama mereka.

Kuru mengendalikan napasnya yang tersengal semenjak tadi. Ditambah lagi lengannya yang ternyata tergores lumayan dalam hingga darah mengucur jauh lebih deras dari perkiraannya. Kuru mencoba menahan luka dan rembesan darahnya dengan tangan satunya. Tapi tetap tak bisa menghentikan darahnya.

Ditambah lagi penutup wajah Kuru sudah lepas karena pertarungan di dalam istana Selir barusan.

Akhirnya Kuru melepas ikat kepala yang ada di dahinya lalu menutup lukanya dengan mengikatnya seerat mungkin dari jalan darah yang mungkin akan membuatnya mengeluarkan lebih banyak darah.

Kuru kembali hampir ditemukan, akhirnya mau tak mau pertarungan kembali terjadi saat salah satu prajurit berhasil menemukannya. Tapi dengan kondisi seperti ini, Kuru tidak bisa mengendalikan pedangnya dengan baik. Kuru lebih memilih memasang sikap melindungi tanpa menyerang. Dia hanya harus bertahan untuk pergi jauh dari sini.

Tapi di saat terdesak itulah ternyata Kuru sudah tersudut ke bibir jurang. Dan ketika Kuru nyaris hampir ditangkap, kaki Kuru tiba-tiba terpeleset dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Tanpa ampun, Kuru jatuh ke bawah dan terhempas ke dalam aliran sungai yang begitu deras di bawah jurang itu.

Ketika berada di dalam air, tiba-tiba mata Kuru menangkap sebuah bayangan aneh.

Kuru tahu di dalam air seperti ini apalagi ditambah suasana malam yang begitu gelap mana mungkin bisa melihat obyek dengan begitu jelas. Tapi seakan-akan ada sebuah potret yang terputar di depan matanya.

Seorang gadis yang mengenakan pakaian begitu cantik, seperti pakaian seorang putri, jatuh ke dalam air itu. Kedua tangannya mencoba menggapai permukaan air dengan sekuat tenaga. Dan jika Kuru tidak salah, penglihatan itu ada di waktu siang hari. Gadis berkimono indah itu berusaha untuk naik ke permukaan ketika arus air terus memaksanya untuk ikut hanyut dengan aliran air. Tak lama kemudian, gadis itu menyerah dan menggenggam sebuah kalung di lehernya yang ikut terbawa arus bersamanya. Kalung itu digenggamnya sekuat tenaga selagi satu tangannya terus menggapai air.

Tak lama, Kuru melihat seseorang datang menyelamatkan gadis cantik itu.

Seseorang yang tak asing bagi Kuru namun tak bisa diingatnya. Sosok itu berenang menyelamatkan sang gadis dan membawanya pergi ke permukaan.

Meninggalkan Kuru di dalam kegelapan ini.

Apa itu sebenarnya?

Bayangan apa yang dilihat oleh Kuru?

.

.

*KIN*

.

.

Prajurit istana telah dikerahkan untuk menemukan pelaku yang diduga telah mencoba membunuh Selir Miyako.

Bahkan Permaisuri telah diserang karena berusaha menyelamatkan sang Selir.

Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Orihime kepada kepala polisi istana.

Tapi…

Orihime benar-benar tidak tenang!

Dirinya diliputi perasaan kalut yang begitu besar. Perasaan gelisah yang tak bisa dihentikan oleh apapun. Kedua matanya melihat dengan jelas wajah sosok misterius yang tiba-tiba muncul dan mengganggu rencananya itu. Tapi dilihat bagaimana pun, dia berpakaian seperti seorang pria! Dan jelas tubuh itu seperti seorang laki-laki! Mana mungkin… lagipula…

Sosok misterius itu berhasil melukai salah satu lengannya hingga membuat Orihime harus mendapatkan perawatan.

Benarkah itu wajah yang selama ini Orihime takutkan muncul lagi? Wajah yang tak begitu asing.

Wajah yang seharusnya mati 10 tahun yang lalu!

.

.

*KIN*

.

.

Tiga hari yang lalu, Kaien memang mendapatkan undangan untuk bertemu dengan utusan negeri Cina. Sepertinya ada pembicaraan serius mengenai masalah jalur perdagangan antar wilayah.

Seharusnya Kaien memang bisa saja mengirim orang atau meminta utusan Cina itu untuk datang langsung ke istana. Tapi Kaien lebih suka menemui mereka langsung seperti ini agar bisa mendapat penjelasan langsung. Dan dengan ditemani oleh Ichigo, Kaien tidak akan merasa canggung lagi dan salah mengambil keputusan. Ichigo memang sangat pintar jika diajak untuk berdiskusi dan bertukar pikiran. Apalagi Ichigo mampu melobi seseorang untuk berada di pihaknya. Tentu saja kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Kaien.

Apalagi sejak kecil Ichigo sudah mengenal bahasa Cina. Ichigo memang sedikit lebih banyak belajar dari Kaien meskipun apapun yang mereka lakukan selalu bersama.

Tapi kemudian, setelah tiga hari berlalu dan pembicaraan juga berjalan dengan baik, tiba-tiba malam ini Kaien merasa gelisah bukan main. Dirinya tiba-tiba tidak tenang akan sesuatu. Dia ingin segera kembali ke istana.

Apakah waktu seminggu terlalu lama?

"Kaisar?"

Sekarang ini, Kaien menempati sebuah penginapan mewah yang memang sengaja disewa untuk kepentingan Kerajaan seperti ini. Tidak ada penghuni lain selain rombongan Kaien dan rombongan Cina. Kamar Kaien juga terpisah dari yang lainnya.

"Kaisar belum tidur?"

Ketika Kaien menoleh, ternyata itu adalah Ichigo yang masuk ke kamarnya.

"Oh, Ichigo. Ada apa?"

"Aku hanya ingin mengecek apakah Kaisar sudah tidur atau belum. Kaisar harus menjaga kesehatan," nasihat Ichigo.

"Oh, ya… sebentar lagi aku akan tidur…" ujar Kaien seraya tersenyum terpaksa.

Ichigo diam memperhatikan kakak sulungnya ini. Ya, kakaknya memang terlalu mudah untuk dibaca. Bahkan tanpa memperhatikannya pun Ichigo sudah sangat mengenal kakaknya satu ini.

"Apakah ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Ichigo akhirnya.

"Sudah kuduga kau pasti bisa menebaknya dengan mudah…" gumam Kaien.

"Tentu saja, aku sudah mengenaimu selama 20 tahun lebih. Memangnya apa yang tidak kuketahui tentang Kaisar negeri ini?"

"Kau benar. Hhh… aku senang ada kau yang mengerti aku tanpa harus kujelaskan padamu. Hm, tiba-tiba aku merindukan Miyako," lirih Kaien.

"Selir Miyako?"

"Perasaanku sungguh tidak tenang sekarang. Tiba-tiba aku ingin berada di dekatnya dan memastikan dirinya baik-baik saja. Semuanya terjadi begitu saja. Aku merasa cemas dan gelisah di waktu yang sama karena Selir Miyako."

"Apakah Kaisar ingin kembali besok pagi-pagi?"

"Huh?" Kaien langsung menoleh cepat ke arah Ichigo.

Sedangkan Ichigo hanya tersenyum penuh arti padanya.

"Tapi, bukankah kau mengatakan besok kita harus menemui—"

"Memang, tapi semuanya sudah selesai tadi. Jadi Kaisar tidak perlu khawatir lagi. Sisanya aku akan meminta Kasim Sentarou mengurusnya dan beberapa orang kepercayaanku. Besok, Kaisar bisa kembali ke istana bersama Grimmjow. Aku juga akan ikut menemani."

"Benarkah tidak apa-apa?" ujar Kaien was-was.

"Tentu saja, kau tidak percaya pada adikmu hm? Sepertinya saat ini Kaisar tengah mengalami gejala demam orangtua."

"Apa itu… demam orangtua?"

"Itu adalah kondisi dimana seseorang yang akan memiliki seorang anak pertama kalinya. Gejalanya seperti yang Kaisar alami, selalu gelisah dan cemas bersamaan jika pergi jauh dari sisi Selir Miyako dan calon anak Kaisar. Semua orang yang sudah memiliki pasangan yang hamil memang seperti itu."

"Wuah, kau banyak tahu rupanya. Sekarang aku jadi penasaran kenapa kau tidak mau juga menikah. Kelihatannya kau lebih ahli daripada aku yang sudah menikah ini…"

Ichigo hanya tersenyum tipis.

Kenapa Ichigo tidak kunjung menikah…?

Jawabannya hanya satu. Ichigo hanya ingin menikah dengan seseorang yang dia cintai saja. jika tidak ada seseorang itu, Ichigo rela tidak menikah seumur hidupnya. Lagipula, seseorang sudah menyumpahnya untuk tidak mendapatkan kebahagiaan secuil pun di dunia ini. Ya, selain balas dendamnya, Ichigo tidak memiliki keinginan lain. Bahkan untuk berusaha mencintai seseorang.

Meskipun Ichigo… merasa jika seseorang mulai menaruh perasaan padanya.

"Baiklah, aku akan tidur sekarang supaya besok pagi bisa langsung berangkat."

Setelah mengatakan itu, Kaien buru-buru menuju ranjangnya.

Baru saja Ichigo akan memastikan Kaien beristirahat dan kemudian kembali ke kamarnya, tiba-tiba dadanya merasa sesak bukan main. Ichigo terkejut luar biasa karena ini pertama kalinya dirinya merasa begini aneh. Tiba-tiba lagi Ichigo sulit bernapas dan membuatnya sampai jatuh ke lantai. Ichigo berusaha mencari pegangan di sekitar tempatnya dan akhirnya berpegangan pada kaki meja. Satu kakinya ditekuk untuk menahan beban tubuhnya.

"Ichigo?! Kau kenapa?"

Ternyata Kaien mendengar suara gaduh yang ditimbulkan Ichigo. Kaien langsung berlutut menyamakan tingginya dengan Ichigo.

Ada apa ini? Ichigo tidak pernah merasa seperti ini. Dadanya sakit sekali. Terasa sesak bukan main. Apakah ini yang dinamakan kecemasan dan kegelisahan?

"Ichigo?!" panggil Kaien lagi dengan nada tinggi ketika Ichigo sama sekali tidak merespon panggilannya.

Ichigo mengangkat wajahnya, kemudian menatap Kaien yang melihatnya dengan sorot kekhawatiran luar biasa. Bahkan wajahnya nyaris terlihat menyeramkan.

"Kakak…" lirih Ichigo.

"Kau kenapa? Apa yang sakit? Aku akan memanggil tabib secepatnya!"

Baru saja Kaien akan berdiri meminta pertolongan, Ichigo langsung menahan Kaien untuk tidak beranjak kemana-mana.

"Aku baik-baik saja. Sudah tidak apa-apa…" ujar Ichigo.

"Mana mungkin kau baik-baik saja! Wajahmu pucat! Lihat, kau berkeringat!"

"Sudah tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja setelah beristirahat. Kalau begitu, selamat malam, Kaisar."

Kaien sebenarnya masih tidak percaya dengan kata-kata Ichigo, tapi melihat adiknya yang sudah lebih baik beberapa saat, Kaien tak bisa berkata apa-apa lagi.

Kenapa tiba-tiba… Ichigo malah teringat dengan Kuru di saat dadanya merasa sesak tadi?

.

.

*KIN*

.

.

Kaien ingin pulang ke istananya dengan dandanan seperti rakyat biasa. Dia tidak ingin menimbulkan kehebohan yang tidak perlu jika berjalan-jalan di sekitar kota dengan pakaian Kaisar. Lagipula, Kaien memang ingin secepatnya tiba di istana. Jadi, dengan berpakaian layaknya rakyat biasa, tentu saja waktu yang digunakan untuk pergi jadi terasa mudah. Tidak akan ada orang yang mengenalinya.

Yang pergi kembali hari ini hanya Kaien, Grimmjow dan Ichigo. Sedangkan di tempat pertemuan hanya ada Kasim Sentarou bersama rombongan dari istana Kurosaki. Tadinya Kaien tidak bisa meninggalkan pertemuan begitu saja. Kasim Sentarou sudah menjelaskan situasinya pada Kaien mengapa dia tidak bisa meninggalkan pertemuan yang sudah dijadwalkan ini. Tapi tentu saja, Ichigo kemudian memberikan jalan keluar.

Kaien bisa meninggalkan pertemuan untuk dua hari saja. Jadi, dua hari lagi Kaien akan kembali ke pertemuan seperti biasa sampai waktu yang telah ditentukan. Lagipula, Kaien memang hanya ingin menengok Selir Miyako saja.

Grimmjow berjalan di depan Kaien dan Ichigo di belakang Kaien. Mereka menaiki kuda untuk cepat sampai. Masing-masing satu kuda untuk mereka. Sekarang, sudah memasuki pusat kota dan sebentar lagi akan tiba di istana.

Ichigo kemudian memegangi kembali dadanya yang terasa sakit semalam. Bukan sakit, dadanya tidak terasa sakit seperti mengalami sebuah penyakit atau keracunan. Dadanya hanya terasa… bagaimana mengatakannya?

"Hei, benarkah kau tidak apa-apa sejak semalam?"

Ichigo agak terkejut karena Kaien kini sudah berjalan di sisinya. Sepertinya Ichigo justru melamun sekarang.

"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, Kaisar," ucap Ichigo.

"Kenapa aku tidak merasa kau seperti itu?" tuduh Kaien.

"Mungkin hanya kurang istirahat saja…"

"Kalau begitu kau kuperintahkan untuk istirahat di istana sampai kita kembali ke pertemuan itu. Kau tidak boleh menolak kali ini, aku ingin memastikan kau istirahat dengan baik dan jangan keluyuran keluar dari istana!"

"Astaga, aku sungguh baik-baik saja," keluh Ichigo yang mulai menyadari sikap protektif sang kakak sejak dulu itu kembali kambuh.

"Tidak, tidak. Aku tidak terima alasan itu. Jelas-jelas semalam kau terlihat begitu sakit! Grimmjow! Begitu kita kembali, siapkan tempat untuk Ichigo beristirahat dan—"

"Kai—Kakak!" seru Ichigo ketika Kaien kemudian memilih meneruskan perjalanannya lebih dulu ke depan untuk berbicara dengan Grimmjow.

Terkadang jika sifat keras kepala sang kakak itu mulai datang, dia tidak bisa dicegah oleh siapapun.

Baru saja Ichigo akan menyusul, tiba-tiba kudanya terhenti mendadak dan meringkik panjang diikuti oleh suara jatuh yang terdengar begitu kuat di depannya. Tentu saja Ichigo kembali terkejut karena kemudian Ichigo sadar seseorang sudah jatuh terduduk di depannya. Astaga!

Ichigo langsung turun dari kudanya dan membantu seorang wanita yang terjatuh itu. Dia memakai kimono biasa. Wajahnya terlihat tidak begitu muda tapi tidak begitu tua pula. Mungkin memang tua, tapi kelihatan masih begitu baik.

"Mohon maafkan aku. Aku sungguh tidak sengaja menabrakmu tadi," ujar Ichigo seraya membantu si wanita untuk berdiri.

Wanita itu mengambil tangan Ichigo untuk membuatnya kembali berdiri.

"Tidak apa-apa, aku juga tidak lihat-lihat," sahut si wanita itu kemudian.

"Sekali lagi mohon maafkan aku, apa kau baik-baik saja?"

Si wanita yang wajahnya terkesan misterius dan seperti memiliki penglihatan yang berbeda dari kebanyakan orang itu sedikit membuat Ichigo seperti kebingungan. Dia melihat Ichigo begitu lama dengan tatapan yang sulit dimengerti.

"Ya… Hamba baik-baik saja, Yang Mulia Pangeran."

Entah untuk berapa kali hari ini Ichigo harus terkejut. Ichigo sudah menyamar sebisa mungkin untuk tidak dikenali. Dan sangat amat jarang orang-orang bisa mengenalinya karena memang sosok adik Kaisar seperti Ichigo ini memang tidak pernah menampakkan diri di depan banyak orang. Tentu saja orang-orang tak akan mengingat wajah Ichigo sebagai seorang Pangeran di negeri ini. Lagipula… kenapa wanita ini…

"Kau… mengenaliku?" tanya Ichigo perlahan, sedikit tak percaya.

"Hamba adalah seorang peramal. Hamba juga, yang pernah membaca nasib Yang Mulia Kaisar di negeri ini."

"Pe… ramal?" ulang Ichigo tak mengerti.

"Mohon maafkan kelancangan Hamba, tapi Hamba akan menyampaikan hal yang penting menurut Hamba kepada Yang Mulia Pangeran. Mohon, Yang Mulia sudi mendengarkannya."

"Apa… maksudmu?"

"Ada dua hal. Yang pertama, saat ini Kaisar tidak akan menemui kedua orang yang dicintainya sekaligus. Yang Mulia Kaisar, hanya akan bertemu dengan satu orang saja. Dan yang kedua… Bulan yang telah lama menghilang karena kalah oleh cahaya matahari, akan muncul lagi sekarang."

"Bulan?"

"Ya, Yang Mulia. Selama ini, sang bulan bersembunyi di balik kegelapan. Tapi karena kegelapan itulah yang menyelamatkan nyawanya. Sang bulan bisa muncul kembali, hanya saja… jika sang kegelapan mengijinkannya."

"Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau katakan barusan. Lagipula, aku tidak tahu apa maksudmu soal bulan, matahari dan kegelapan itu. Mohon maafkan aku, aku harus buru-buru sekarang."

Ichigo akan buru-buru naik ke kudanya karena sepertinya Kaien sudah berjalan lebih dulu ke depan. Tapi kemudian peramal wanita itu kembali berkata-kata.

"Rasa sakit di dada yang Yang Mulia rasakan itu adalah keterikatan batin pada sang bulan. Apa yang sang bulan rasakan sekarang, bisa Yang Mulia rasakan. Karena memang, sang bulan hanya mampu bertahan di dalam kegelapan agar cahayanya bisa hidup kembali. Hamba percaya, sang bulan tak bisa hidup tanpa kegelapan. Karena itu, mohon jagalah sang bulan supaya tetap bercahaya di sisi kegelapan."

Seusai mengatakan hal itu, si peramal wanita itu kemudian pergi dari hadapan Ichigo.

Ichigo memang tak pernah tahu Kaisar pernah bertemu dengan peramal wanita itu. Lagipula… siapa yang dia maksud dengan sang bulan itu?

.

.

*KIN*

.

.

Ternyata Ichigo benar-benar tertinggal.

Mereka berdua hampir tiba di depan gerbang istana, sekarang Ichigo berhasil menyusulnya.

"Kau darimana saja huh?" tegur Kaien yang kemudian baru menemukan Ichigo sudah muncul di belakangnya sekarng.

"Maaf, tadi aku menabrak seseorang…"

"Lihat?! Kau benar-benar sudah lelah kan?! Setelah ini kau harus istirahat, Grimmjow sedang meminta pengawal untuk membukakan pintu gerbang istana," jelas Kaien.

"Kaisar, boleh aku bertanya?"

"Kenapa tiba-tiba?"

"Apa… Kaisar pernah bertemu seorang peramal?"

"Huh? Kau tahu darimana aku pernah bertemu peramal? Ya… sepertinya itu sudah lama sekali rasanya…"

"Jadi dia berkata sungguh-sungguh," gumam Ichigo.

"Hah? Ada apa memang tiba-tiba kau bertanya soal peramal?"

"Kalau begitu, siapa sang bulan yang dibicarakan oleh peramal itu?"

"Sang bulan? Oh itu—"

"Yang Mulia!"

Tiba-tiba Grimmjow melaju cepat dengan kudanya ke tempat Kaien dan Ichigo. Melihat mimik wajah Grimmjow yang tak biasa, meski dia memang selalu terlihat datar, tapi kali ini terlihat sedikit berbeda. Ichigo menyadari hal itu.

"Hei, ada apa wajahmu gugup begitu? Kenapa? Tidak dibukakan gerbang oleh pengawal? Heee… memang mereka tidak tahu kalau aku yang mau masuk istana?" gerutu Kaien yang masih bersikap biasa saja.

"Bukan itu Yang Mulia, tapi… baru saja ada berita… penting…" jelas Grimmjow dengan suara bergetar.

"Hah? Berita apa memangnya? Kalau tidak begitu penting—"

"Katakan Grimmjow," potong Ichigo yang mulai menyadari firasat aneh.

"Yang Mulia Selir Miyako… baru saja… meninggal…"

Ichigo terbelalak mendengar berita itu. Apa?

"Apa? Meninggal? Haha… bagaimana mungkin… dia kan… Miyako… aku…" sekarang Kaien mendadak membatu. Lidahnya tiba-tiba kelu untuk berkata-kata.

Seketika itu pula Kaien segera memacu kudanya untuk berlari langsung memasuki gerbang istana yang baru saja dibuka oleh pengawal istana. Grimmjow segera memacu kudanya untuk mengikuti sang tuan yang sudah lebih dulu pergi.

Ichigo masih terpaku di sana.

Bagaimana mungkin Miyako bisa meninggal jika Kuru ada di sana selalu untuk melindunginya? Bukankah Kuru selalu berhasil melindungi Miyako?

Kalau Miyako sampai meninggal… dimana Kuru sekarang?

Apalagi keberadaannya yang tidak diketahui oleh siapapun di dalam istana ini…

Kaien tertegun kaku ketika menuju istana selir.

Semua dayang pribadi sang selir tampak menangis tersedu-sedu di depan halaman istana selir seraya berlutut di sana. Mereka terus memanggil-manggil nama sang Selir di sela isak tangis mereka.

Kaien benar-benar berubah menjadi begitu… bagaimana mengekspresikan kesedihannya saat ini? Ini… benar-benar menyakitkan. Jauh lebih menyakitkan daripada kematian mendiang ayahandanya dulu.

Kaien turun perlahan dari kudanya. Tubuhnya ikut limbung mendadak ketika harus berjalan melewati semua dayang-dayang sang selir yang bersedih begitu mendalam atas kepergian selir yang begitu baik hati dan lemah lembut.

Ini masih bukan kenyataan. Kaien menolak bahwa ini kenyataan… ini mimpi terburuknya…

Dengan langkah lunglai, Kaien akhirnya tiba di dalam istana Selir.

Hanya ada beberapa perawat istana yang berkeliling di sekitar ranjang, lalu tabib istana yang baru saja menutup selimut si pemilik ranjang.

Kaien tak bisa lagi menyembunyikan airmatanya yang sejak tadi ditahannya untuk tidak keluar lebih dulu. Tapi kemudian… melihat sesosok kaku yang terbujur di sana… membuat jantung Kaien mendadak nyeri bukan main.

"Yang Mulia, Yang Mulia…" gumam sang tabib yang ketika berbalik sudah melihat Kaien berdiri tak jauh dari ranjang.

"Kaisar?"

Sepertinya itu suara Ibu Suri. Ya, Kaien tidak begitu peduli apakah Ibu Suri ada di sana atau tidak. Kaien hanya berjalan lurus menuju ranjang itu ketika beberapa perawat itu mulai membuka jalan dan sang tabib istana yang mundur dari tempatnya berdiri sejak tadi. Tangan Kaien begitu gemetar ketika hendak membuka selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Berulang kali Kaien meyakinkan dirinya untuk tetap kuat, tapi pada akhirnya tidak begitu. Hatinya tak cukup kuat sekarang diberikan kabar yang begini mendadak. Semuanya sepertinya serangan bom yang mendadak muncul di sekitarnya dan meledak membuat tubuhnya hancur berkeping-keping.

Begitu berhasil mengendalikan dirinya untuk membuka penutup wajah itu, ternyata benar. Itu memang wajah wanita yang amat dia cintai. Wajahnya terlihat kaku dan pucat juga sedikit membiru di beberapa bagian. Rambutnya yang hitam dan panjang dibiarkan tergerai begitu saja. Ini… benar-benar…

"Tidak…" gumam Kaien.

Kaien menolaknya! Sungguh dia menolaknya!

"Ini bukan Miyako-ku… bukan… dia tidak meninggal seperti ini…" lirih Kaien.

"Kaisar, dia adalah Selir-mu. Dia sudah meninggal…" sela Masaki.

"TIDAK! DIA TIDAK BOLEH MENINGGAL! KALIAN YANG MEMBUNUHNYA! KALIAN SEMUA YANG MEMBUNUHNYA!" pekik Kaien keras dan hampir kalap. Sama seperti apa yang terjadi ketika dirinya tidak berhasil menemukan mendiang Putri Mahkota terdahulu.

"Kaisar," ujar Masaki yang melihat putra sulungnya berubah menjadi begini kalap.

"APA SALAHNYA SEBENARNYA?! APA YANG SUDAH DILAKUKANNYA SAMPAI DIA HARUS SEPERTI INI?! APA YANG DILAKUKANNYA SAMPAI KEMATIAN MENJEMPUTNYA BEGINI CEPAT?! APA?!" jerit Kaien dengan suara pilu.

Menolak kenyataan yang ada sudah lama dilakukan oleh Kaien. Menolak kematian mendiang Putri Mahkota… sekarang dia harus menolak kematian Selir Miyako pula.

Mengapa semua wanita yang dia cintai pergi begitu cepat seperti ini? Apa salahnya mencintai seseorang sehingga mereka harus berhadapan dengan takdir yang begini menyakitkan?

Kemudian Kaien berlari dan memeluk tubuh kaku Miyako yang begitu dingin. Tubuhnya bahkan begitu dingin dan kaku sehingga Kaien benar-benar tak bisa merasakan lagi hawa kehidupan di sana. Kaien memeluknya begitu erat sampai-sampai Kaien tidak bisa melepaskannya lagi.

Mengapa seperti ini?

"Miyako… jangan pergi seperti ini… kumohon… kembalilah…" isak Kaien.

Yang pertama, saat ini Kaisar tidak akan menemui kedua orang yang dicintainya sekaligus. Yang Mulia Kaisar, hanya akan bertemu dengan satu orang saja.

Ichigo berdiri di depan pintu masuk istana selir dan melihat kakaknya yang kembali berubah tak terkendali. Semua orang yang berada di sana tak mampu meredam perasaan emosional sang Kaisar bahkan Ibu Suri yang ada di sana juga tidak bisa.

Tapi tiba-tiba Ichigo teringat lagi kata-kata si peramal wanita itu.

Entah Ichigo harus percaya atau tidak, tapi kata-katanya benar. Kalau memang dua orang yang dicintai oleh Kaien maksudnya adalah Selir Miyako dan bayi yang ada di dalam kandungannya artinya…

"Bagaimana bayi yang dikandung oleh Selir Miyako?" tanya Ichigo pada Grimmjow yang tepat berdiri di sebelahnya. Ichigo baru saja tiba ketika Grimmjow masih berdiri di depan pintu masuk istana selir setelah Kaien masuk ke dalam untuk melihat Miyako terakhir kalinya.

"Menurut tabib istana, bayinya… selamat. Sekarang dijaga oleh pengawal dan dayang istana."

Jadi peramal itu benar.

Kalau begitu… siapa sang bulan dan sang kegelapan yang ada di dalam ramalannya itu?

.

.

*KIN*

.

.

"Kenapa aku tidak boleh masuk?"

"Ini adalah amanat dari mendiang Yang Mulia Selir Miyako. Mohon maafkan kelancangan Hamba."

"Apa? Amanat? Aku juga ibu dari anak itu?! Bagaimana mungkin dia melarang semua orang melihat bayi itu sekarang?!"

"Mendiang Yang Mulia Selir Miyako berpesan hanya Yang Mulia Baginda Kaisar yang diperbolehkan melihat bayinya terlebih dahulu."

Ichigo terhenti di depan paviliun yang sebelumnya kosong itu. Tapi tentu saja, itu adalah paviliun yang sudah disiapkan oleh Kaien jauh hari, beberapa bulan sebelum Miyako melahirkan. Sekarang paviliun itu sepertinya dijaga ketat oleh pengawal istana dan dayang.

"Ada apa ini?"

Rupanya ada Permaisuri di sana. Sepertinya yang berdebat tadi adalah Permaisuri dan dayang istana yang menjaga di depan pintu masuk paviliun.

Orihime terkejut melihat kemunculan mendadak Ichigo di sebelahnya.

"Kau…? Bukankah kau akan kembali beberapa hari lagi bersama Kaisar?" tanya Orihime yang diliputi oleh perasaan terkejut yang luar biasa.

"Ada apa ini?" tanya Ichigo pada dayang yang berada di depannya. Mengabaikan keterkejutkan Orihime.

"Sebelum mendiang Yang Mulia Selir Miyako menghembuskan napas terakhirnya, Yang Mulia berpesan untuk tidak membiarkan siapapun melihat sang bayi sebelum Yang Mulia Baginda Kaisar melihatnya lebih dulu. Dan mendiang Yang Mulia Selir juga menyampaikan beberapa pesan penting di sisa tenaganya pada dayang pribadi yang mendampingi saat-saat terakhir beliau…" jelas dayang itu panjang lebar.

"Lalu, dimana dayang pribadi Selir Miyako?" tanya Ichigo pula.

"Ada di dalam."

"Katakan padanya, aku ada di sini," perintah Ichigo.

"Apa? Kau pikir kau bisa masuk ke sana? Bahkan pengawal istana melarangku masuk!" sindir Orihime.

Ichigo kemudian berbalik menatap Orihime dengan tatapan tajam yang begitu… yah… tak bisa dikatakan sebenarnya.

"Berlagak menjadi seorang Permaisuri yang baik huh?" sindir Ichigo.

"Apa maksudmu Pangeran?!" geram Orihime.

"Tunggu sampai aku menyelidiki kematian Selir Miyako. Kuharap, kau sama sekali tidak terlibat, Yang Mulia Permaisuri," kata Ichigo dengan nada merendahkan.

"Jaga mulutmu Pangeran, jangan terlalu lancang padaku. Kau sudah berkali-kali kuperingatkan, jika sampai batas kesabaranku tiba, aku tidak akan sungkan-sungkan untuk memberikan pelajaran padamu!"

"Kita lihat saja nanti, Yang Mulia Permaisuri. Apakah aku, atau kau yang akan mendapatkan pelajaran berharga itu."

"Yang Mulia Pangeran, silahkan masuk."

Orihime menoleh kepada dayang yang sedari tadi menjaga pintu utama paviliun tempat dimana bayi Miyako dititipkan. Pandangannya berubah garang dan tak percaya.

"Kau mengatakan tak boleh seorang pun yang masuk ke sana kecuali Kaisar! Mengapa orang ini kau perbolehkan masuk hah?!" bentak Orihime.

"Itu juga amanat dari mendiang Yang Mulia Selir Miyako, Hamba hanya menjalankan perintah saja. Yang Mulia Pangeran, silahkan lewat sini."

Kedua pengawal istana yang sedari tadi menutup jalan masuk ke dalam paviliun itu kemudian membukakan jalan untuk Ichigo. Setelah Ichigo masuk, mereka kembali menutupnya supaya Orihime tidak bisa lewat lagi.

Baik Ichigo maupun Orihime kemudian saling bertatapan dari jarak itu. Orihime jelas memandang penuh amarah dan benci pada Ichigo di sana. Tapi tatapan Ichigo sulit sekali ditebak. Merasa tak ada gunanya Orihime berada di sana, Orihime memilih pergi.

Ichigo masih memandang kepergian Orihime.

Tak bisa dipungkiri, perasaan itu masih ada. Namun perasaan tulus itu kalah oleh rasa dendam dan benci Ichigo padanya. Jika saja, jika Orihime bisa membalas perasaannya meski tidak bisa bersamanya, Ichigo akan menerima keputusan wanita berambut orange itu dengan lapang dada. Tapi jangankan membalas, wanita cinta pertamanya itu justru membuang mukanya dan tak sudi melihat Ichigo, bahkan untuk membalasnya.

Mengabaikan hal itu, Ichigo kemudian masuk ke dalam. Rupanya sudah terdengar isak tangis suara bayi di sana yang tengah ditenangkan oleh dayang pribadi Miyako yang sibuk menggendongnya. Ichigo kemudian menghampiri sang dayang yang sepertinya tak mengetahui kedatangan Ichigo.

Ichigo mengenal dayang itu bernama Kotetsu Isane.

Tadinya dia pernah menjadi dayang untuk mendiang Putri Mahkota, tapi kemudian setelah insiden perburuan itu, Isane ditarik lagi kembali menjadi pelayan istana. Setelah bertemu dengan Miyako, kembali ditempatkan menjadi dayang pribadi. Isane memang dikenal sebagai dayang yang begitu patuh dan setia.

"Yang Mulia Pangeran," sapa Isane yang mulai menyadari kedatangan Ichigo.

"Kenapa Pangeran kecil ini diasingkan dari siapapun? Benarkah Selir Miyako yang beramanat demikian?" tanya Ichigo langsung.

Ichigo begitu terenyuh melihat sosok bayi mungil digendongan Isane. Kulitnya masihlah kemerahan dengan pipinya terlihat berisi. Tapi sepertinya tubuhnya begitu mungil. Rambutnya hitam seperti ayah dan ibunya. Matanya terlihat besar dari balik kelopak itu. Mungkin mirip dengan Miyako. Namun perawakannya begitu mirip dengan Kaien.

"Ya, di saat terakhir Yang Mulia Selir Miyako, beliau… menitipkan beberapa pesan pada Hamba."

"Pesan apa?"

Isane terlihat begitu sedih dibalik tundukkan kepalanya. Sepertinya rasa kehilangan begitu nyata dirasakannya. Apalagi sampai menemani saat terakhir sang Selir yang begitu baik hati.

Sang bayi yang belum memiliki nama itu kemudian mulai tertidur kembali. Isane meletakkannya di dalam keranjang tempat tidur khas bayi. Satu dayang lagi ditempatkan untuk mengawasi bayi kecil itu agar tetap terlelap.

Kini, Isane dan Ichigo berdiri agak jauh dari tempat tidur sang bayi.

"Hamba, tidak tahu kejadiannya. Tapi malam itu, Yang Mulia Permaisuri datang ke kediaman Yang Mulia Selir. Setelah itu, Hamba tidak tahu apa yang terjadi sampai terjadi sebuah keributan. Katanya… ada seorang pembunuh yang menyusup masuk ke dalam kediaman Yang Mulia Selir dan hendak membunuhnya. Yang Mulia Permaisuri memberi kesaksian jika Yang Mulia Permaisuri hendak melindungi Yang Mulia Selir, tapi sebelum sempat ditangkap oleh pengawal istana, pembunuh itu… sudah melarikan diri."

Kontan saja Ichigo terbelalak mendengar cerita dayang itu.

Apa? Pembunuh? Mana mungkin ada pembunuh jika ada Permaisuri. Satu-satunya orang yang pasti ingin membunuh Selir Miyako sudah jelas adalah Permaisuri Orihime yang dendam padanya. Tapi… bukankah di sana…

Kuru?!

"Apalagi yang dikatakan oleh Selir Miyako?" tanya Ichigo dengan nada sedikit panik.

"Itu… katanya… Yang Mulia Pangeran harus melindungi… Kuru. Saat ini, Kuru berada dalam bahaya…"

Jadi benar!

Kuru-lah yang disangka menjadi seorang pembunuh karena muncul tiba-tiba di sana untuk melindungi Miyako!

Dan karena tak seorang pun yang tahu keberadaan Kuru, Orihime membuat keadaannya jadi terbalik seperti ini!

Dasar licik!

Kalau begitu, dimana Kuru sekarang? Kalau seperti ini jadinya, Ichigo tidak bisa melindungi Kuru tanpa bukti apapun. Bahkan Kaisar sendiri tidak tahu keberadaan Kuru!

Degh!

Muncul lagi. Rasa sakit semalam muncul lagi di dada Ichigo.

Kuru…

"Oh ya Yang Mulia, Hamba… menemukan sesuatu sewaktu menolong Yang Mulia Selir malam itu."

Isane merogoh sesuatu dari balik kimononya.

Ichigo tertegun melihat sebuah tusuk rambut yang berlumuran darah kering yang menghitam di ujung tusuk rambut yang tajam itu. Isane menyerahkannya pada Ichigo dengan kedua tangannya.

"Tusuk rambut ini, Hamba temukan tergeletak di bawah meja tempat Yang Mulia Selir diserang oleh si pembunuh itu. Dan Hamba yakin, ini bukanlah milik Yang Mulia Selir karena Hamba tahu semua barang milik Yang Mulia Selir termasuk tusuk rambut ini."

Ichigo mengambil tusuk rambut itu dan melihatnya dengan teliti.

Tusuk rambut ini terbuat dari perak dengan untaian bunga berwarna putih yang tampak bergelantungan. Bunga yang terbuat dari manik kaca. Tapi kemudian, di ujung tusuk rambut yang terdapat darah kering dan menghitam ini berubah menjadi kekuningan.

Apa ini… racun?

"Apa penyebab kematian Selir Miyako?" tanya Ichigo lagi.

"Itu… Hamba tidak tahu. Tapi dari kesaksian Yang Mulia Permaisuri, Yang Mulia Selir ditusuk oleh pedang si pembunuh. Tidak ada yang benar-benar mengetahui apa penyebab pastinya karena Yang Mulia Selir dijaga ketat dan tidak diperbolehkan masuk oleh siapapun kecuali tabib istana dan perawat istana oleh Yang Mulia Permaisuri."

"Tapi kau bisa di sana saat terakhirnya?"

"Itu karena Yang Mulia Selir yang memohon khusus pada Hamba untuk dipertemukan sebagai permintaan terakhir Yang Mulia Selir sebelum… Yang Mulia Selir meninggal…"

Astaga… ternyata… ini ulahnya!

.

.

*KIN*

.

.

Orihime terkejut karena tiba-tiba Kaien mendatanginya setelah lama berada di sisi Miyako sebelum melepas sang Selir untuk dikremasi. Orihime berharap mungkin Kaien akan berubah sedikit padanya setelah kepergian Miyako. Tidak ada lagi penghalang yang akan menyakitinya.

Baru saja Orihime akan menyambut kedatangan Kaien, tiba-tiba sang Kaisar negeri ini langsung masuk membabi buta untuk bertemu langsung dengan Orihime.

Orihime tentu saja terkejut karena mereka bertemu secara tiba-tiba di depan pintu paviliun kediaman Permaisuri.

"Yang Mulia—"

"Benarkah itu kau?"

Orihime berubah gugup saat Kaien menatapnya begitu tajam dan seperti dibakar oleh emosi yang begitu meledak-ledak.

"Yang Mulia… ada apa—"

"Apakah kau bersama Selir Miyako saat dia diserang?"

Orihime kemudian diam. Jadi… lagi-lagi masih soal Selir itu.

"Katakan Permaisuri! Apa benar kau ada di sana saat Selir Miyako diserang?!" pekik Kaien yang mulai hilang kendali.

"Ya… Hamba… ada di sana…" lirih Orihime.

Kaien mengguncang kedua lengan Orihime dengan sekuat tenaga dan mencengkeramnya dengan erat.

"KENAPA KAU TIDAK MENGHALANGINYA?! KENAPA KAU TIDAK MELINDUNGINYA?! KAU ADA DI SANA TAPI KAU DIAM SAJA DAN MEMBIARKAN SELIR MIYAKO MENDERITA SEPERTI ITU SAMPAI MATI?! APA KAU TIDAK PUNYA HATI?!" bentak Kaien.

Orihime hanya mampu meringis saat kedua lengannya dicengkeram begitu kuat oleh Kaien yang terlihat begitu emosi.

Setelah Kaien puas, Kaien kemudian melepaskan cengkeramannya dan masih terlihat begitu frustasi. Kaien mulai menendang apa saja yang ada di dekatnya dan berteriak sekencangnya.

Orihime kemudian merobek salah satu lengan kimono miliknya. Melihat itu, Kaien sedikit terkejut. Ya, Orihime kemudian menunjukkan satu lengannya yang dibalut perban di lengan atasnya dan kemudian mengeluarkan bercak darah segar di sana.

"Hamba, sudah berusaha menolongnya sekuat tenaga Hamba. Bahkan sampai diserang seperti ini, Hamba tetap berusaha melindunginya. Semua itu Hamba lakukan demi Yang Mulia Kaisar. Apakah, apakah setelah seperti ini, Yang Mulia Kaisar masih tidak percaya pada Hamba?" lirih Orihime.

Kaien sepertinya sadar jika bercak kemerahan yang berada di antara perban-perban yang melilitnya itu buah dari perbuatannya barusan. Sepertinya saking tak bisa mengontrol emosinya, Kaien terlalu kuat mencengkeram lengan Orihime.

Tak mampu berkata-kata, Kaien memilih pergi begitu saja. Tapi kemudian, melihat Orihime yang begitu menyedihkan di sana, Kaien akhirnya tak tega pula. Sepertinya memang benar Orihime sudah berkorban begitu banyak sampai lengannya ikut diserang seperti itu.

Kaien kemudian kembali berbalik, melepas mantel luaran miliknya dan menyampirkannya di sekeliling bahu Orihime untuk menutupi lengan Orihime yang telanjang karena Orihime merobek kimononya tadi. Tentu saja sikap sang Kaisar yang tak pernah ditunjukkannya seperti ini membuat Orihime berseri-seri bukan main.

"Yang Mulia—"

"Grimmjow, katakan pada Kepala Polisi Istana untuk tetap memburu pembunuh itu sampai dapat. Tidak peduli hidup atau mati, dia tetap harus ditemukan. Aku sudah mendengar jika Kepala Polisi Istana mulai menyebarkan gambar wajah pembunuh itu. Aku ingin kau ikut menyelidikinya. Dan bawakan kepalanya untukku sesegera mungkin!" perintah Kaien.

Orihime tersenyum.

Mungkin… masih ada kesempatan.

Ya, kemarin memang Kepala Polisi Istana meminta Orihime menggambarkan wajah si pembunuh untuk disebar sesegera mungkin supaya mudah ditangkap. Karena Orihime masih ragu pada wajah itu, akhirnya Orihime hanya mengingatnya ketika si pembunuh memakai penutup wajah saja. Lagipula, seseorang dengan mata besar seperti itu mudah dicari. Apalagi dia sudah memiliki ciri fisik yang nyata.

Bahwa pelaku pembunuhan itu memiliki luka di lengan atasnya. Tidak akan sulit mencarinya di seluruh negeri ini. Dia tidak mungkin punya tempat bersembunyi.

Orihime tak peduli apakah dia mirip seseorang yang seharusnya sudah mati 10 tahun yang lalu atau seseorang yang menjadi cinta pertama Kaisar. Orihime tak peduli itu.

Yang penting, penghalangnya sudah tidak ada lagi!

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo berlari secepat yang dia bisa untuk mencari Kaien di sekitar istana ini.

Ini bisa jadi salah paham besar yang tak akan bisa dimaafkan!

Rupanya, setelah menyaksikan Miyako dikremasi, tampaknya Kaien pergi menuju paviliun Permaisuri. Tapi tampaknya juga tidak ada di sana karena sudah sepi. Akhirnya Ichigo kembali berlari menuju kediaman Kaisar.

Dadanya mulai terasa sesak karena perasaan tak tentu ini. Ditambah lagi dirinya mulai kehabisan napas karena terus berlari.

"Kaisar!" pekik Ichigo ketika tiba di kediaman Kaisar.

Kaien memang ada di sana bersama dengan Grimmjow.

"Ichigo… bisakah kau temui aku nanti. Aku ingin… istirahat sebentar…" lirih Kaien.

"Tunggu dulu! Aku mendengar dari pengawal istana kalau Kaisar ingin melanjutkan penyelidikan ini? Bahkan Kaisar sudah menyebar gambar?"

Grimmjow menunjukkan sebuah gambar wajah pada Ichigo.

Melihatnya sekilas memang ini adalah Kuru!

"Kaisar, hentikan penyelidikan ini sekarang juga! Aku yang akan mengambil alih semuanya!"

"Kau tidak usah khawatir. Pembunuh itu tidak akan pergi jauh. Dia terluka pasti masih ada di sekitar sini. Lagipula, aku sudah menawarkan hadiah untuk yang menemukannya, bahkan yang bisa membawa kepalanya kehadapanku."

"Apa?! Kenapa kau begitu kejam! Ini semua salah paham!"

"Memang kau punya bukti kalau semua ini salah paham hah?! Memangnya kau melihat kejadiannya?! Kau dan aku tidak ada di sana! Bahkan Permaisuri ikut diserangnya! Kau pikir aku bisa memaafkan perbuatannya? Tidak! Aku tidak akan pernah memaafkannya! Bahkan nyawanya tidak akan cukup untuk menebus semua perbuatannya!"

Ichigo terdiam melihat kakaknya yang begitu marah.

Menunjukkan tusuk rambut ini sekarang tidak akan jadi bukti apapun dihadapan Kaien. Yang dia inginkan adalah pelakunya. Dia ingin orangnya langsung supaya Kaien bisa membalas perbuatannya yang sudah membunuh wanita yang dicintainya. Bukti nyata yang tak bisa dielaknya.

Tapi bagaimana Ichigo bisa membiarkan semua ini terjadi? Semua ini salah paham dan kesalahannya!

"Kalau begitu, hentikan penyelidikan ini sekarang juga. Aku akan membawa pelaku yang sebenarnya ke hadapanmu sesegera mungkin!"

"Tidak, aku tidak akan menghentikannya. Kecuali kau sudah menemukan bukti dan pelakunya ke hadapanku!"

"Apa kali ini Kaisar tidak percaya padaku?"

"Untuk kali ini, aku ingin aku sendiri yang menanganinya. Aku ingin, dengan tanganku sendiri yang menghukum pembunuh itu!"

Ichigo tak bisa berkata apa-apa lagi.

"Kaisar, aku mengatakan ini sebagai seorang adik. Tolong kali ini, dengarkan kata-kataku sebelum kau menyesal. Jika kau ingin pembunuhnya, baik… aku akan membawanya ke hadapanmu. Tapi, jika sebelum aku menemukan pelaku dan bukti yang sebenarnya kau sudah mendapati pembunuh yang berada dalam gambar ini, kuharap kau tidak akan pernah menyesal dengan keputusanmu."

Setelah mengatakan hal itu, Ichigo kemudian pergi dari paviliun Kaisar.

Ichigo tidak akan membiarkan Kuru ditemukan oleh siapapun. Tidak akan menyerahkan Kuru pada Kaien. Tidak juga merelakan Kuru menanggung semua kesalahpahaman ini. Ichigo tidak akan membiarkan takdir yang sama menimpanya sebelum dendam itu terbalaskan.

Tidak selama Ichigo masih hidup!

.

.

*KIN*

.

.

"Yang Mulia?! Apa Yang Mulia baik-baik saja?!"

Aizen tiba-tiba muncul di paviliun Permaisuri setelah mendengar berita mengejutkan semalam. Ya, tadinya Aizen berada di luar kota mengemban misi untuk menggagalkan penyusupan di perbatasan. Itu adalah tugas yang diberikan langsung oleh Kaisar. Tadinya Aizen tidak percaya Kaien akan mengutusnya sesegera mungkin. Tapi sepertinya itu bukanlah perintah langsung dari Kaien. Menurut Aizen, kemungkinan itu adalah perintah Pangeran Ichigo untuk menjauhkan Aizen dari istana selagi tak ada Kaisar dan Ichigo.

"Paman, bagaimana perjalanan Paman?" tanya Orihime dengan wajah sumringah ketika Aizen tiba di kamar pribadinya.

Orihime baru saja selesai mengganti perban di lengannya yang dibantu oleh dayang-dayangnya. Wajahnya tampak berseri-seri dan begitu ceria. Setelah selesai, Orihime langsung menyuruh semua dayang dan pengawalnya untuk menjauh dari kamarnya. Tentu saja Orihime tidak ingin ada yang mendengar pembicaraannya.

"Yang Mulia, Hamba mendengar kabar bahwa semalam terjadi hal besar di istana Selir. Dan Yang Mulia hampir diserang oleh seorang pembunuh?"

"Ah~ begitu. Ternyata Paman sudah mendengarnya. Aku hanya menjalankan rencanaku selagi tidak ada Pangeran Ichigo dan Yang Mulia Kaisar di istana."

"Rencana?" ulang Aizen.

"Melenyapkan pengganggu."

"Jadi, Yang Mulia melakukannya semalam? Seorang diri? Apakah Yang Mulia terluka?"

"Tadinya aku mau membuat itu sebagai bunuh diri, tapi ternyata ada seseorang yang tidak kuduga, muncul di sana. Makanya reflek akhirnya, aku mengatakan kalau ada seorang pembunuh. Dan lebih bagusnya, tidak akan ada yang curiga padaku karena seseorang itu."

"Seseorang? Siapa?"

"Aku tidak tahu. Dia muncul begitu saja saat aku tengah menyerang Selir Miyako. Dan sepertinya, tidak seorang pun tahu mengenai keberadaan laki-laki misterius itu," jelas Orihime.

"Laki-laki? Mau apa seorang laki-laki menyelinap di istana Selir?"

"Entahlah. Tidak mungkin dia orang yang diutus oleh Pangeran kan? Lagipula, tak mungkin laki-laki itu mendadak muncul di saat aku akan melenyapkan Selir Miyako. Rasanya itu terlalu kebetulan."

"Yang Mulia ingat wajahnya?"

Orihime diam sejenak. Wajahnya? Tentu saja Orihime ingat. Tapi karena itulah Orihime selalu dibayang-bayangi mimpi aneh karena hal itu. Perasaannya selalu berubah tidak enak setiap kali mengingat wajah laki-laki misterius itu. Makanya Orihime ingin melupakannya.

"Paman, apa mungkin… wajah seseorang bisa mirip dengan orang lainnya?"

"Apa maksud Yang Mulia? Memang laki-laki itu mirip dengan siapa?"

Orihime tampak ragu-ragu menyebutkannya. Tapi kemudian Orihime percaya bahwa apa yang dilihatnya adalah kebetulan belaka. Dia hanya perlu keyakinan dari orang lain.

"Laki-laki itu… mirip dengan… mendiang Putri Mahkota," jelas Orihime.

Aizen tampak mengerutkan dahinya mendengar penuturan Orihime. Terdengar aneh. Memangnya ada wajah seorang laki-laki yang mirip dengan wajah perempuan?

"Apa Yang Mulia tidak salah lihat? Bukankah kejadiannya malam hari? Pasti Yang Mulia salah lihat. Mana mungkin wajah seorang laki-laki bisa mirip dengan wajah perempuan. Kecuali kalau mereka kembar. Tapi seingat Hamba, mendiang Putri Mahkota tidak memiliki saudara kembar selain kakak kandungnya saja."

Salah lihat. Entah mengapa Orihime merasa setuju dengan kata-kata itu. Ya, waktu itu malam hari, kemungkinan apa saja bisa terjadi. Mungkin Orihime memang salah lihat.

"Ya, kurasa… Paman benar. Aku hanya salah lihat. Karena kejadian itu benar-benar mengejutkan."

"Lalu… apa benar Yang Mulia diserang oleh laki-laki itu?"

Orihime tersenyum penuh arti. Tapi jelas itu senyuman yang penuh dengan kelicikan.

"Tidak, dia tidak sempat menyerangku karena prajurit istana lebih dulu datang. Aku membuat luka ini sendiri."

"Apa? Yang Mulia… apa?" tentu saja Aizen terkejut bukan main mendengar penuturan dari Orihime sendiri. Langkah yang begitu berani sekaligus penuh resiko.

"Paman tahu, karena luka ini, Yang Mulia Kaisar akhirnya melihatku. Yang Mulia akhirnya peduli padaku setelah sekian lama. Karena luka ini, bahkan Yang Mulia Kaisar memberikan pakaiannya padaku. Tidakkah menurut Paman ini adalah kemajuan besar? Aku tidak peduli tubuhku terluka berkali-kali jika ini bisa membuat Yang Mulia Kaisar melihatku," jelas Orihime.

"Kau benar. Ini adalah langkah besar. Syukurlah. Dengan hilangnya penghalang, Yang Mulia Permaisuri pasti bisa selangkah lagi berada di sisi Kaisar seutuhnya. Begitu besar pengorbanan Yang Mulia untuk bisa berada di sisi Yang Mulia Kaisar…"

"Suatu saat, pengorbanan ini… akan dibayar kembali Paman… aku hanya harus percaya pada Yang Mulia Kaisar…"

Ya, suatu saat. Pasti. Suatu saat Kaisar akan berpaling pada Orihime.

Orihime hanya perlu menjadi sosok wanita yang diinginkan oleh Kaisar.

Tak masalah harus mengorbankan diri sebanyak apapun, Orihime tidak peduli asalkan Kaisar mau berpaling padanya.

.

.

*KIN*

.

.

"Yang Mulia, mohon beristirahat lebih dahulu," ujar Grimmjow yang memandang prihatin pada Kaien yang mulai bersiap keluar dari paviliunnya sendiri.

"Aku sudah lebih baik."

"Yang Mulia harus mementingkan kesehatan Yang Mulia. Hari ini sudah terlalu banyak yang terjadi. Mohon Yang Mulia—"

"Grimmjow, aku ingin… melihat wajah anakku…" lirih Kaien dengan wajah lelahnya.

Melihat Kaisar yang begitu terlihat tertekan membuat Grimmjow tak punya pilihan laen. Wajar bagi Kaien jika dia ingin melihat wajah anaknya meski ibu si anak sudah berpulang. Sedih rasanya membayangkan anak yang mereka nantikan akan tumbuh besar tanpa sang ibu di sisinya. Lalu, bagaimana Kaien bisa sendirian membesarkannya?

Kini, Kaien tiba di paviliun sang Pangeran kecil yang baru saja lahir ke dunia ini dengan mengorbankan nyawa seorang wanita yang amat dicintai oleh Kaien. Dayang pribadi Miyako sendiri yang mengantarkan bayi merah dan mungil itu kepada Kaien. Melihat wajah tanpa dosanya yang begitu polos sungguh membuat siapa saja akan terenyuh dibuatnya. Apalagi mengingat takdir menyedihkan mengenai kelahiran sang bayi.

"Yang Mulia Selir, ingin Yang Mulia Kaisar yang melihatnya pertama kali…" lirih Isane, dayang pribadi Miyako semasa hidupnya dulu.

Kaien berjalan menuju keranjang bayi dimana sang Pangeran kecil ditidurkan.

Bayinya memang terlihat begitu mungil. Masih begitu merah.

Rambutnya sama seperti ibunya. Berwarna hitam. Sedangkan matanya, terlihat mirip dengan Miyako. Juga bibir dan hidungnya. Benar-benar seperti ibunya.

Sedikit gemetar, Kaien mencoba mengelus wajah kecil bayi mungil itu dengan ujung jarinya. Dia tertidur begitu tenang. Melihatnya begini damai, siapa yang akan menyangka takdir ibunya tak begitu.

"Terima kasih Miyako… kau sudah… berusaha keras untuk anak kita…" gumam Kaien.

Ya, Kaien akan menjaga baik-baik bayi ini. Bayi yang akan menjadi satu-satunya putra Kaien. Dialah yang akan mewarisi semua milik Kaien. Dan nantinya dialah yang mungkin akan menggantikan tahta Kaien. Anak ini akan dijaga oleh Kaien sebagai pengganti Miyako.

Miyako sudah berusaha keras untuk membawa anak ini lahir ke dunia. Kaien tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.

"Yang Mulia, di luar… ada Yang Mulia Ibu Suri…" lapor seorang dayang pada Kaien yang masih begitu rindu melihat wajah anaknya.

"Perintahkan prajurit istana untuk mengawal Pangeran. Segera setelah ini pindahkan Pangeran ke paviliun yang paling dekat dengan kediaman Kaisar. Aku tidak akan membiarkan seorang pun yang mendekati putraku selain orang-orang yang kutunjuk," perintah Kaien yang ditunjukkan pada Grimmjow yang berdiri di sisinya.

Grimmjow segera menerima perintahnya dan mulai mengikuti Kaien untuk keluar dari tempat bayinya beristirahat.

Benar saja, di luar sana Masaki sudah berdiri. Ekspresinya terlihat sedikit marah.

"Kaisar, apa maksudnya semua orang dilarang melihat Pangeran? Bahkan Permaisuri dilarang masuk ke dalam?" tanya Masaki dengan nada sedikit emosi.

"Tidak apa-apa, lagipula, aku memang tidak berniat membiarkan siapapun melihat putraku selain orang-orang yang kutunjuk langsung. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan mengingat bagaimana Selir Miyako berakhir seperti ini. Aku akan memastikan sendiri keselamatan putraku."

"Kaisar, kalau memang sikapmu seperti itu, aku bisa menerimanya. Tapi tidak dengan Permaisuri! Dia sudah berkorban banyak dengan melindungi Selir Miyako bahkan sampai diserang oleh pembunuhnya! Apa kau tidak bisa bersikap sedikit adil padanya?"

Kaien diam sejenak mendengar kata-kata itu. Memang Orihime mengatakan dia melindungi Selir Miyako sampai diserang seperti itu. Tapi walaupun melindungi, nyatanya Selir Miyako tetap meninggal. Dan tentu saja Kaien masih belum percaya sepenuhnya pada Permaisuri. Sulit untuk percaya padanya meski apapun yang dilakukannya. Setidaknya, sebelum kasus ini terungkap, Kaien belum bisa membuka hatinya hanya untuk memperlakukan Permaisuri dengan baik.

"Keputusanku tidak bisa diganggu gugat. Harap Ibu Suri mengerti tentang hal itu. Aku hanya ingin menjaga putraku agar tidak terjadi hal yang sama seperti yang dialami ibunya. Jika waktunya sudah tiba, aku akan membiarkan kalian melihatnya. Tapi tidak untuk sekarang. Mohon Ibu Suri mengerti itu dan untuk sekarang, tolong jangan bahas tentang Permaisuri dulu padaku."

Kaien benar-benar lelah dengan semua yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Jelas saja membuatnya merasa begitu sedih bukan main apalagi dirinya baru saja kehilangan orang yang sangat dicintainya.

Seseorang yang sulit dicari penggantinya.

.

.

*KIN*

.

.

"Renji!"

Ichigo akhirnya tiba di kediamannya sendiri yang berada di luar istana dan mulai memanggil bawahannya tersebut ke seantero mansion ini.

Sosok Renji datang terburu-buru menyambut kedatangan Ichigo yang begitu mendadak.

"Yang Mulia? Bukankah Yang Mulia akan kembali beberapa hari lagi? Yang Mulia kan ikut pergi dengan Yang Mulia Kaisar ke—"

"Jangan banyak bicara! Sekarang, perintahkan beberapa orang, usahakan jangan berpenampilan mencolok yang mencurigakan. Menyamarlah sebagai pemburu, pengemis atau rakyat biasa. Kita harus mencari seseorang sekarang!"

"Heee? Mencari orang lagi? Bukankah Yang Mulia Pangeran baru saja memberikan perintah mencari orang? Kali ini siapa—"

"Kuru! Sekarang Kuru berada dalam bahaya! Kita harus bergerak cepat! Menurut laporan prajurit istana, Kuru pergi menuju hutan di belakang istana!" bentak Ichigo tak sabaran karena Renji terus bertanya-tanya yang membuatnya kehilangan emosi.

"K-Kuru? Ada apa dengannya?!" tanya Renji histeris.

"Kuru… dituduh melakukan pembunuhan…" lirih Ichigo. Seketika rasa bersalah menggelayuti Ichigo.

"Apa? Pembunuhan…? Bagaimana… bisa?" gumam Renji tak percaya. Mana mungkin kan Kuru melakukan pembunuhan? Lagipula, siapa yang dibunuh oleh Kuru?

Selama ini Kuru selalu bertindak sesuai dengan perintah dari Ichigo langsung. Jadi mana mungkin Kuru…

"Ini… salahku. Yang penting kita harus menemukan Kuru lebih dulu."

"Yang Mulia Pangeran sudah berjanji akan menjaga Kuru di sana kan?! Yang Mulia mengatakan kalau dia akan aman saja di sana?! Tapi kenapa Yang Mulia menanggung beban seberat ini?! Dituduh melakukan pembunuhan? Bagaimana tuduhan itu jadi bumerang untuknya dan Kuru terbukti bersalah?! Dia bisa mendapat hukuman mati dari Yang Mulia Kaisar! Apalagi dia membunuh di dalam lingkungan istana!" pekik Renji tak terima dengan penjelasan Ichigo barusan.

"Aku sedang mencari cara untuk menyelamatkannya sekarang! Makanya kita harus bergerak cepat untuk menemukannya sebelum prajurit istana!" balas Ichigo.

Renji tampak memandang marah pada Ichigo.

Karena sebenarnya… Renji mengetahui siapa sebenarnya jati diri Kuru. Bahwa dia adalah mantan Putri Mahkota, putri dari Guru Besar dan bangsawan Kuchiki. Renjilah yang menyelamatkan Kuru ketika dirinya di ambang kematian 10 tahun yang lalu dan kemudian Ichigo datang untuk mengambil Kuru bersamanya.

Dan sekarang… sekarang apa yang terjadi pada Kuru?

"Yang Mulia harus menyelamatkannya. Bahkan jika Yang Mulia harus mengorbankan nyawa Yang Mulia, Yang Mulia harus… harus menyelamatkannya," kata Renji dengan suara rendah.

Renji ingin memberontak, tapi tak bisa. Tanpa Ichigo, Renji tak bisa melakukan apapun. Ichigo-lah yang punya kuasa di sini dan mampu melakukan segalanya untuk bisa menyelamatkan Kuru…

"Aku akan menyelamatkannya. Pasti, karena dia tidak boleh mati sekarang. Aku akan menghalangi kematian itu meski harus bersekutu dengan iblis!"

Ya, Ichigo tidak akan membiarkannya mati konyol seperti ini.

Kuru tidak akan mati sebelum mereka semua mendapat ganjarannya.

Ini memang di luar rencana Ichigo, tapi dengan ini Ichigo akan memajukan rencana besar yang sudah ditunggunya selama 10 tahun lebih!

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Hola minna, akhirnya bisa update, saya bales review yaa…

Darries : makasih udah review senpai… ahaha soal ramalannya udah tahu ya, tinggal pesennya aja belum hihi sama-sama met jalanin ibadah puasa yang bentar lagi lebaran nih heheeh

Shuuhi-sama : makasih udah review senpai… kalo chapnya gak bisa saya prediksi, tapi yang saya bisa bilang sih ini fic agak panjang aja. Ahaha memang agak susah ya dapet feelnya IR, tapi saya usahakan gak mengecewakanlah buat mereka bersatu heheh

Miskiyatuleviana : makasih udah review senpai… hehee sayangnya gak bisa dua-duanya yang selamat hiksss

Rini desu : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe kalo Orihime sih belum tahulah… soalnya kalo tahu secpet itu ntar gak seru lagi kan?

Azura Kuchiki : makasih udah review senpai… kalo dibilang sedikit lagi mau tamat kayaknya gak sih, soalnya ini pasti masih panjang lagi chapnya hehehe… kalo perasaan Ichi, ya dia kan pernah kecewa sama satu cewek, kayaknya susah buat ke yang laen sih ehehhe

Cristiyunisca : makasih udah review senpai… kalo soal suka itu biarkan mengalir aja yaa hehehe soalnya saya lebih suka yang alami sih hehehe..

Nayasant japaneze : makasih udah review senpai… iya ya kayaknya susah banget nyari momen ichiruki, yaa bersabar aja. Biasanya yang susah bersatu itu lebih indah di akhirnya. Jadi ditunggu aja yaa eheheh

Rukichigo : makasih udah review senpai… ahaha makasih udah gak sabar yaa ini udah saya lanjut lagi kok…

3nd4h : makasih udah review senpai… iya ramalannya udah ketahuan kan yaa hehehe tadinya sih maunya pas aja Ruki nolongnya tapi kayaknya gak seru aja sih ehhehe

Tiwie okaza : makasih udah review senpai… hahaha maaf ya, soalnya kalo ichi terpesona begitu mudah, kayaknya gak ada kesan berarti deh. Apalagi ichi kan belum suka sama ruki. Jadi kayaknya dibuat-buat banget… makanya ditunggu aja yaa hehehe

Guest : makasih udah review senpai… ahaha iya dong, kalo gak seru motongnya kan jadi gak menarik lagi bacanya hehehe makasih semangatnya yaaa

Anonim : makasih udah review senpai… ahh gak juga kok, ini mudah ditebak kalo senpai suka nonton drama saeguk korea, saya ngambil ilhamnya dari sana semua hehehe

Ella mabby chan : makasih udah review senpai… gak begitu banget, jadi malu dibilang berbakat eheheh… iya tadinya mau nunggu, tapi kan jadi gak ada tensionnya gitu heheheh sebelumnya maaf ya, saya taruh ini di rate m karena temanya yang agak berat, bukan semata-mata karena mau lemon, gak semua cerita di rate m itu lemon senpai, kadang ada beberapa hal yang membuatnya jadi rate m, kayak tema, kata-katanya, bahkan konfliknya yang gak baik untuk anak dibawah dewasa sih hehehe, tapi saya usahakan ada lemonnya deh hehe

Loopend Lilia : makasih udah review senpai… iya kalo gak percaya dibacanya pas ending aja gak papa daripada nahan hati karena gelisah mikirin ini ichiruki atau bukan. Ya saya juga mengakui kalau tulisan saya tidak bagus, lagipula ini kan fanfic, gak mesti terlalu bagus kan tulisannya biar bisa dipajang di sini? Ah ya, kalo fic jadul, kan tulisan bisa berubah seiring dengan waktu, saya tipikal orang yang dinamis, bisa berubah, jadi maaf kalo memang tulisan saya semakin jelek, saya menyadari itu kok, tapi karena ini hobi yang gak bisa saya tinggalkan, jadi apa boleh buat. Kalo typo, ya saya kan manusia, bukannya saya males cek typo atau sembarang publish, tapi yang namanya ngetik di kompter kan gak bisa selalu seakurat yang kita inginkan pasti ada beberapa typo yang terlupa. Kalau misalkan keberatan dengan typo dalam tulisan saya, saya gak tahu harus bilang apa selain gak perlu dibaca aja yaa… saya tahu kok typo memang sangat mengganggu, tapi gak mungkin bisa dihilangkan begitu saja. kadang penulis besar juga pernah membuat kesalahan, apalgi saya penulis amatir yang karyanya gak seberapa ini. Hehehe

HestyEclair : makasih udah review senpai… memang, saya kan udah kasih tahu dari chap awal kalau fic nya agak beda dari semua fic saya. Saya cuma pengen ganti suasana aja, jadi gak melulu harus ichiruki terus hehehe salam kenal juga.

Genie luciana : makasih udah review senpai… iya samurai bloodnya masih dalam pengetikan. Lagi susah dapetin feelnya sih, takut mengecewakan kalo asal ngetik hikss heheh

Stefymayu yeniferangelina : makasih udah review senpai… ahaha namanya juga cwook yang pernah kecewa sama cewek, jadi wajar kalo sikapnya gitu sama ruki hehehe iya ini udah update.

Fuuchi : makasih udah review senpai… estimasi chapnya saya gak tahu berapa, karena proses kan gak bisa dikira-kira ehhehehe, kalo motongnya gak pas ntar kan gak seru hehehe

Wowwoh geegee : makasih udah review senpai… makasih semangatnya yaa hehehe, iya pasti bakal kebongkar kok, tinggal tunggu proses aja hehehe

Wakamiya Hikaru II : makasih udah review senpai… iya, kan ruki memang sempet terpesona sama kaien yang baik itu. Kalo momen itu kayaknya harus ditunggu ya hehehe makasih semangatnya.

Ciel Strife : makasih udah review senpai… ahahah iya momennya emang masih lama, save for the best aja sih kalo saya hehehe, ini udah lanjut lagi…

Natashaurel : makasih udah review senpai… selamat ulangtahun yaa walo telat hehehe, boleh juga jadi kado tuh chap kemarin dari saya hehehe kalo persennya udah masuk 50 kok, jadi memang setengah jalan lagi hehehe makasih semangatnya…

Naruzhea Aichi : makasih udah review senpai… wah, kalo cepet ketahuan ya cepet abis dong ficnya heheheh bentar lagi pasti deh ditunggu yaa hehehe

Lenora Jime : makasih udah review senpai… makasih banyak yaa hehehe, memang saya lagi suka sama model cowok macam ichi di sini, kesannya memang gak punya hati, tapi sebenarnya kan dia orangnya yang paling perasa hehehe…

Ara Uchiha : makasih udah review senpai… iya ini udah update hehehe

Fressia Athena : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut kok hehehe ahaha makasih banyak yaa… gak mudah loh buat pembaca membayangkan apa yang ditulis oleh penulis, tapi syukurlah senpai bisa mengerti tulisan saya ini hehehe

Makasih yang udah ngeluangin waktunya untuk fic saya.

Jaa Nee!