Tittle : GONE
Casts: Suho/ Kim Joonmyeon
Kris/ Wu Yi Fan
Luhan/ Wu Luhan
Baekhyun/ Wu Baekhyun
Tao/ Wu Zitao
Zhang Yixing
Akan bertambah sesuai kebutuhan (?)
Genre : Drama, family, Hurt/Comfort, GenderSwitch (GS) for Suho
Rate : T
Disclaimer : Mereka semua punya Tuhan, dan cerita ini punya saya.
-Happy Reading-
Previous Chapter
"Keluarlah melalui gerbang belakang, Kai ada di gerbang utama."
'Kita tak bisa membiarkan pamanmu terus berada di atas angin Yifan, pamanmu bertingkah seolah ia yang memimpin perusahaan selama kau tak ada, kau tahu aku tak bisa mengatasi ini sendiri, kau harus segera pulang dan mengurus ini semua.'
'Dan juga, mengenai pewaris perusahaan, pikirkan itu juga Yifan, mereka mulai menanyakan hal itu.'
"Luhan!"
.
.
.
"Luhan!"
Luhan menoleh dan mendapati sosok yang akhir-akhir ini menjadi orang terakhir yang ingin dia lihat – ayahnya. Pemuda itu tak mengedipkan matanya saat sang ayah berjalan melewati kerumunan dan berdiri tepat di hadapannya. Tak pernah Luhan menyadari bahwa diusianya yang sudah tak muda lagi ayahnya masih tetap tampan, wajah beliau masih sama seperti yang ia lihat di foto pernikahan orang tuanya. Mata Luhan tak lepas dari wajah Kris, bukan tatapan penuh hormat yang dulu selalu ia berikan namun tatapan penuh rasa kecewa, tangan Luhan sedikit mengepal, ada perasaan takut dan khawatir disana, entah untuk alasan apa ia merasa waspada terhadap ayahnya sendiri, Luhan tak tahu.
Hanya bisa tersenyum dalam hati Kris melihat tatapan penuh rasa kecewa yang dilempar putra sulungnya, Kris mentertawakan dirinya sendiri. Memangnya apa yang ia harapkan? Bukankah ia pantas menerima setiap detik tatapan itu?
"Kau sudah makan siang?" Kris tersenyum, menunggu reaksi Luhan.
Luhan tak menjawab, hanya menundukkan kepalanya, memandangi trotoar yang berwarna abu-abu.
"Ah, kau pasti belum makan, bagaimana jika appa mentraktirmu ramen? Kau menyukainya kan?" Kali ini Luhan tak juga menjawab.
Kris mengulurkan tangannya hendak meraih bahu pemuda yang lebih pendek, tapi tangannya menggantung di udara karena dengan cepat Luhan memundurkan tubuhnya. Mata Luhan kembali menatap Kris tajam, yang ditatap hanya membentuk garis tipis di bibirnya. Berlebihan memang, tapi hati orangtua mana yang tak teriris melihat putranya menatapnya dengan tatapan seperti itu. Sekali lagi Kris menekankan pada dirinya sendiri dia pantas atas semua perlakuan itu.
"Ehem, ayo Luhan." Kris melangkah menuju Mercedez hitamnya, diikuti Luhan yang kembali menunduk.
Setelah menempuh perjalanan yang seperti tanpa akhir, karena tak seorangpun dari mereka yang buka suara, akhirnya ayah dan anak ini sampai di restoran ramen di kawasan Hongdae. Restoran yang dulu sering mereka kunjungi saat akhir pekan, saat keluarga mereka masih utuh, saat ayah mereka masih punya banyak waktu untuk keluarganya. Luhan tersenyum pahit, semua masih sama seperti saat mereka terakhir kali mengunjungi restoran ini. Yah, semua masih sama, kecuali keluarganya.
Kris memilih untuk duduk di pojok ruangan tepat di samping jendela kaca besar yang memperlihatkan lalu lintas jalanan. Sementara pria yang lebih muda hanya mengikuti kemana langkah ayahnya, dan berakhir mendudukkan tubuhnya di hadapan ayahnya. Kris mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari keberadaan pelayan, suasana restoran memang tidak terlalu ramai, karena jam makan siang sudah berakhir beberapa saat yang lalu. Duda tampan itu segera melambaikan tangannya saat melihat gadis berpakaian hitam putih berdiri di depan kasir.
Alih-alih membaca daftar menu yang diberikan oleh si gadis pelayan, Kris malah memperhatikan gerak-gerik Luhan. Sejak tadi putranya itu tak sekalipun mendongakkan kepalanya, pemuda itu terus menatap jari-jari yang saling bertaut di atas pahanya, terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Satu porsi ramen udang, dan satu ramen daging." Kris mengembalikan daftar menu kepada pelayan tersebut, tersenyum sekilas dan kembali memperhatikan Luhan.
Kris tak begitu mendengarkan saat pelayan mengulang kembali pesanannya, fokusnya sekarang hanya kepada Luhan. Ia merasa aneh dengan sikap Luhan saat ini, dari awal ia memperkirakan jika Luhan akan meledak jika bertemu dengannya secara pribadi. Tapi yang ia dapatkan hanya beberapa tatapan tajam, dan sisanya adalah sikap diam Luhan.
Entahlah Kris harus merasa senang atau takut atas sikap Luhan tersebut. Haruskah ia merasa senang karena mungkin saja Luhan sudah sedikit memaafkannya, atau haruskah ia merasa takut karena bisa saja dibalik diamnya Luhan pemuda itu menyimpan dendam yang begitu besar, dan seperti bom waktu, akan meledak kapan saja.
"Luhan." Kris memecah kehingan diantara mereka.
Tak menyahut, Luhan hanya mendongak, mata rusanya menatap langsung ke mata elang milik sang ayah.
"Bagaimana sekolahmu?"
"Baik." Luhan mengangguk sekilas lalu kembali memperhatikan jemarinya.
"Baguslah," Kris tersenyum tipis, "lalu bagaimana dengan teman-teman dan guru-gurumu?"
Luhan kembali bertemu pandang dengan Kris, tak langsung menjawab Luhan malah menatap Kris tajam.
"Apa yang Anda inginkan? Kenapa begitu ingin tahu?"
"Luhan," Kris menghela nafas pelan, "Maaf jika selama ini Appa tak punya banyak waktu untuk kalian, tapi Appa hanya ingin memastikan semua baik-baik saja, mulai sekarang Appa akan berusaha untuk lebih memperhatikan kalian."
Luhan menatap mata sang ayah yang meredup, menunjukkan betapa ia menyesal, "Semua baik-baik saja."
Kris mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. Kesunyian kembali menghantui keduanya, tak ada mengucap kata. Luhan tak lagi menatap jemarinya, kini matanya beralih mengamati jalanan yang terlihat jelas dari jendela kaca di sampingnya. Pikirannya kembali melayang, apakah ia pantas bersikap seperti ini pada ayahnya? Ia tersakiti, tapi pernahkah ia berpikir bahwa mungkin saja ayahnya juga tersakiti? Apakah ia pernah tahu sakit seperti apa yang dialami ayahnya?
Mata Luhan beralih menatap sang ayah yang kini juga tengah menatap lalu lintas jalanan. Luhan tak tahu entah karena potongan rambut ayahnya yang baru atau karena memang begitu keadaannya, tapi ayahnya terlihat jauh lebih kurus, tulang pipi pria itu terlihat jelas.
Apakah ia makan dengan baik?
Apakah ia istirahat dengan cukup?
Apakah ia kesepian?
Apakah Appa benar-benar menyayangi kami?
Luhan segera mengalihkan pandangannya kembali menatap hiruk pikuk jalanan saat seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Setelah pelayan meletakkan dua mangkuk pesanan mereka – okay hanya pesanan Kris – pria tampan itu menggumamkan terima kasih yang dibalas bungkukan hormat oleh sang pelayan.
"Makanlah Luhan, ini ramen favoritmu bukan?" Kris menyodorkan mangkuk berisi mie berkuah kaldu dengan potongan daging sapi di atasnya.
Luhan menatap mangkuk di hadapannya, dengan gerakan lambat ia mengaduk ramennya dengan sumpit, sesekali matanya melirik ayahnya yang sudah menyeruput ramen udangnya. Melihat sang ayah makan dengan lahap mengingatkannya akan kenangan masa lalu yang membuat perutnya bergejolak.
Dulu tak jarang ia menemani ayahnya makan malam saat beliau baru pulang lembur. Saat-saat seperti itu ia akan melihat bagaimana ayahnya begitu menikmati masakan buatan sang eomma mereka dengan mata setengah tertutup. Setelahnya mereka akan menyaksikan pertandingan sepak bola yang disiarkan lewat tengah malam, walaupun akhirnya hanya Luhan saja yang menonton karena ayahnya itu sudah hanyut dalam lautan mimpi bahkan sebelum menit ke-dua puluh.
Saat itu tak pernah terpikir olehnya mereka akan berakhir seperti ini, ia mengaku bahwa dirinya terlalu naif jika dulu pernah berpikir ia akan terus bisa merasakan momen-momen itu seumur hidupnya. Bahkan tak perlu menunggu usianya dua puluh untuk membuktikan betapa naif pemikirannya itu. Lihatlah bagaimana keluarga mereka saat ini, lihatlah betapa ia menyimpan kecewa pada pria yang dulu sangat ia kagumi.
"Luhan." Sedikit terkejut, Luhan meletakkan sumpitnya di atas meja, menfokuskan pandangan pada Kris.
"Appa sudah membicarakan ini dengan eomma kalian," Kris menarik nafas pelan.
"Appa akan menuntut hak asuh salah satu dari kalian."
"Apa?" Luhan menatap Kris tak percaya.
"Luhan dengar, appa benar-benar tak ingin melakukan ini, tapi appa harus," Kris berhenti sejenak, menimbang-nimbang kalimat yang akan ia ucapkan berikutnya, "Kau tahu perusahaan kakekmu membutuhkan pewaris, appa segera mempersiapkan pewaris perusahaan jika tidak perusahaan kakekmu itu akan jatuh ke tangan orang lain, jadi appa mohon Luhan, ikutlah appa ke Cina, appa akan me – "
"Apakah Anda pikir perusahaan Anda lebih penting daripada kebahagiaan kami?! Pernahkah Tuan berpikir apa yang kami inginkan dan apa yang tidak kami inginkan?" Mata Luhan sudah basah.
Sebenarnya Luhan tak ingin menunjukkan emosinya di hadapan ayahnya, dia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri ia akan mencoba kembali menghormati pria yang telah menanam benih di rahim ibunya hingga akhirnya ia ada di dunia ini. Tapi tak semudah kedengarannya, Luhan tak bisa melakukan itu, terlebih saat pria yang menyebut diri sebagai ayahnya ini kembali mempermainkan perasaannya, perasaan mereka.
"Aku salah jika beberapa menit lalu aku berpikir untuk memaafkan Anda, kupikir Tuan benar-benar berubah saat Tuan berjanji pada Tao untuk menemuinya kembali, saat Tuan menghabiskan akhir pekan di rumah, dan hari ini saat Tuan mengingat ramen favoritku, aku berpikir 'ah appa pasti menyesal dan ingin memperbaiki semua' ternyata aku salah." Air mata Luhan benar-benar jatuh membasahi pipinya.
"Luhan..." Kris memejamkan matanya sejenak, "Bukan appa ingin mementingkan perusahaan diatas kebahagiaan kalian, tapi kau tahu perusahaan itu adalah amanat kakekmu, appa akan melepas apapun milik ayah jika itu demi kalian, tapi ini berbeda Luhan, ini perusahaan yang dengan susah payah kakek kalian bangun sendiri."
"Apakah eomma mengizinkan?" Mata merah Luhan menatap Kris tajam.
"Tidak," Kris menggeleng, "Oleh karena itu app – "
"Anda sudah mengetahui jawabannya," Luhan memotong kalimat Kris, "aku tak akan pergi jika eomma mengatakan tidak."
Luhan berdiri menyandangkan ranselnya di punggung.
"Terima kasih atas ramennya." Luhan membungkuk dalam.
Baru beberapa langkah Luhan meninggalkan kursinya, ia berbalik menghadap sang ayah.
"Pertanyaan ini selalu menggangguku, apakah appa benar-benar menyayangi kami?" Luhan terdiam sejenak memperhatikan ekspresi ayahnya, sebelum akhirnya benar-benar melangkah ke luar restoran.
Mata Kris tak pernah lepas memandangi punggung Luhan hingga pemuda itu menghilang di balik pintu restoran, berbaur dengan puluhan pejalan kaki lainnya. Tak berniat mengejar putranya, Kris hanya tertawa miris, mentertawakan dirinya sendiri.
'Bagus Wu Yifan, bagus sekali, kau menyakitinya, merusak kepercayaannya, dan membuatnya mempertanyakan kasih sayangmu.'
'Apakah kau masih pantas untuk disebut ayah?'
.
.
.
"Hyung~ berhentilah bermain curang."
"Hyung tidak curang Tao-ya, kau saja yang tidak bisa memainkannya."
"Ya! Hyung-ah! Berhenti mengataiku!"
Luhan yang berada di ambang pintu tersenyum melihat dua adiknya yang sedang bertengkar di depan televisi itu, keduanya baru saja bermain playstation di kamar Luhan. Saling tunjuk menunjuk menggunakan stik playststion masing-masing keduanya malah terlihat lucu. Tao yang selalu ingin menang dan Baekhyun yang tak pernah mau mengalah. Luhan mengetuk daun pintu beberapa kali mencoba menarik perhatian keduanya. Tao yang pertama kali menyadari itu langsung menghambur ke arah kakaknya.
"Hyung sudah pulang," Tao memeluk pinggang Luhan, yang dipeluk hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Lu hyung~ lihatlah Baek hyung, dia bermain curang." Tao semakin bergelayut manja pada Luhan sambil menunjukkan wajah memelas andalannya.
"Baekhyun-ah mengalahlah pada adikmu."
"Hyung, aku sudah bermain seburuk mungkin, tapi tetap saja Tao kalah, dia yang tidak bisa memainkannya hyung." Kalimat Baekhyun tersebut mendapat tatapan sinis dari si Bungsu, Baekhyun yang ditatap begitu hanya menjulurkan lidahnya mengejek.
"Sudah, lain kali bermain yang lain saja, lagipula Baekhyun-ah apa yang eomma katakan untuk tidak mengajari Tao bermain playstation?"
"Maaf hyung." Baekhyun hanya menunduk sambil memanikan jari-jarinya.
"Hmm.. bagaimana jika kita bermain monopoli saja?" Luhan meletakkan ujung telunjuknya di dagu.
"Ah tidak seru, Tao sudah bosan memainkannya."
"Lalu?" Luhan mengernyit bingung menatap Tao.
"Bagaimana jika kita bermain ini saja." Tao melakukan smirk-nya, jemari kecilnya bergerak di pinggang Luhan.
"Ah Tao geli!" Luhan berteriak heboh. Teriakkannya melengking memenuhi ruangan.
"Baek Hyung! Ayo serang!"
Mendengar itu Baekhyun segera melompat dari depan televisi dan bergabung bersama Tao, menggelitik si sulung, Luhan. Yang digelitik tak punya kuasa apa-apa untuk menghindar hanya bisa pasrah sambil terus bergerak geli dan berteriak heboh.
Hampir lima belas menit dua kakak beradik itu menghabiskan waktu untuk menggelitik Luhan. Sambil terbaring di atas kasur Luhan ketiganya tampak terengah, benar-benar kelelahan terutama Luhan yang beberapa menit terakhir menjadi korban kejahilan adik-adiknya.
"Baekhyun-ah, Tao-ah, bagaimana jika suatu saat Hyung memilih untuk kuliah di luar negeri?" Tiba-tiba saja Luhan menyuarakan pikirannya.
"Hm? Hyung akan kuliah di luar negeri? Kenapa tidak di Korea saja?" Tao menelungkupkan tubuhnya, agar dapat melihat wajah Luhan.
"Hyung kan hanya mengatakan jikalau, Belum pasti Tao."
"Yah, Hyung, bagaimana jika Tao merindukan Lu hyung? Kuliah disini saja Hyung," si bungsu itu menunjukkan wajah memelasnya.
"Tao berjanji tak akan mengganggu Luhan Hyung belajar, Tao berjanji tak akan menyusahakan Hyung, jadi jangan pergi ke luar negeri Hyung," kini Tao mendudukkan tubuhnya, wajah memelas itu telah berubah menjadi guratan kesedihan mendalam.
" Jangan tinggalkan Tao, eomma, dan Baekhyun Hyung juga, appa... dia... appa sudah jarang di rumah, lalu bagaimana jika Luhan hyung juga ikut pergi." Mendengar kalimat Tao, Luhan menggigit lidahnya sendiri, menahan air matanya.
Pasti sangat berat bagi Tao, kepergian orang itu sudah membuatnya sangat sedih, lalu bagaimana jika dia juga harus pergi? Menjadi bagian termuda dalam keluarga, di tengah kekacauan semacam ini pasti sulit baginya. Meski tak mengerti masalah seperti apa yang sedang mereka hadapi, tapi Tao pasti merasakan bagaimana kerenggangan hubungan ibu dan kakak-kakaknya dengan ayah mereka.
Di tengah suasan murung yang tiba-tiba tercipta, Baekhyun bangkit dari tempat tidur, berjalan cepat menuju ke luar kamar Luhan. Tak meninggalkan sepatah katapun, tak pula jawaban atas pertanyaan Luhan. Membuat si kakak tertua bertanya-tanya heran.
Ada apa dengannya?
Meninggalkan pikirannya tentang Baekhyun, Luhan kini memandang Tao yang tengah bermain dengan jari-jari kecilnya. Hanya bisa tersenyum miris, Luhan mengusap pipi si bungsu yang masih gembil itu, Tao, adik kecilnya yang dulu hanya bisa menangis kini sudah bisa berjanji dan selalu menepati janjinya.
"Tao, lihat hyung," Tao mendongak melihat wajah Luhan, "Hyung tak bisa berjanji akan selalu bersama Tao , karena kita, Tao, Baekhyun hyung, dan hyung akan menjadi dewasa, masing-masing kita punya impian yang ingin kita capai, tapi hyung bisa berjanji bahwa hyung akan selalu menjaga dan menyayangi Tao, eomma, dan Baekhyun hyung, hyung akan selalu mengingat kalian dimanapun hyung berada, Tao percaya pada hyung kan?"
Tao mengangguk pelan, tatapan sendu itu belum juga beranjak pergi dari mata hitam si bungsu. Luhan tersenyum samar dan kembali mengusap pipi Tao.
.
.
.
Suho berjalan tergopoh saat mendengar bel rumahnya berbunyi tiga kali, ia menerka-nerka siapakah yang bertamu sore-sore begini, pertanyaanya terjawab sudah saat ia membuka pintu utama. Pria dengan setelah kemeja biru laut dan celana kain berwarna hitam berdiri di depan pintu rumahnya, tidak terkesan formal namun sangat rapi dan elegan. Bibir tipis Suho membentuk senyum, matanya berbentuk bulan sabit saat ia tersenyum. Tak ragu ia menghambur memeluk pria itu.
"Siwon oppa!"
"Joonmyeon-ah." Siwon membalas pelukan adik satu-satunya ini.
"Kau tidak bilang akan datang, kan aku bisa menjemputmu di bandara." Suho melepas pelukannya.
"Aku tak ingin merepotkanmu, adikku sayang." Siwon tersenyum lalu mencubit pelan hidung bangir Suho, kebiasaan yang selalu ia lakukan.
"Jeez, akhirnya kau sadar, kau selalu merepotkan kau tahu?" Suho tertawa menggoda, "Masuklah oppa."
"Bagaimana kabarmu dan Appa?" Suho bertanya saat mereka sudah duduk di meja makan.
"Baik, akhir-akhir ini appa sering kelelahan, yah kau tahu appa, terlalu keras kepala, kami tak bisa membujuknya untuk diam di rumah." Siwon menyesap pelan tehnya.
"Lalu bagaimana kabar Ryeowook noona dan putri kecil kalian?"
"Mereka baik, Nara akan masuk sekolah dasar tahun depan, dan Kibum sedang mengandung anak kedua kami." Siwon tersenyum, memainkan tangkai cangkirnya.
"Benarkah?!" mata Suho membola, ia benar-benar terkejut.
"Eum, karena itu ia tak ikut ke Korea."
"Kenapa kalian tak mengatakannya padaku?" Suho sedikit memajukan bibirnya, membuat Siwon tertawa kecil, berapa usia adiknya, mengapa masih kekanakan.
"Kami tak enak hati memberitahu kabar ini padamu saat keluarga kalian dalam keadaan seperti ini." senyuman tadi seketika hilang dari wajah Siwon, digantikan tatapan prihatin.
"Maaf oppa, kalian harus mendengar berita ini dari orang lain." Alih-alih menatap kakaknya, Suho malah memandangi jari jemarinya.
"Joonmyeon-ah, kau bebas menyampaikan apa saja masalahmu pada oppa, jangan terlalu sering memendam perasaanmu sendiri Joonmyeon-ah." Siwon meremas pelan jari-jari adiknya.
Air mata Suho jatuh tepat di atas punggung tangan Siwon, membuat pria itu semakin prihatin melihat adiknya. Suho menggigit bibirnya keras, menahan isakannya sendiri, air mata tak berhenti menetes dari mata hitamnya. Selalu seperti ini, ia tak pernah bisa menahan perasaan di depan kakak laki-laki satu-satunya ini.
Siwon adalah satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya melebihi dirinya sendiri, di depan Siwon ia tak bisa berbohong, di depan Siwon ia selalu gagal memendam perasaannya, sedih, marah, kecewa, bahagia, di mata kakaknya itu Suho adalah buku yang terbuka. Setelah ibu mereka meninggal, Siwon selalu berusaha untuk memahami adik kesayangannya itu, selalu menjaganya dan selalu menyempatkan untuk mengobrol dengan Suho karena Suho bukanlah pribadi yang terbuka.
Bahkan saat ayah mereka menjodohkannya dengan Kris, Siwon yang jelas anak baik-baik dan penurut untuk pertama kalinya berteriak pada ayahnya, meneriakkan betapa ia menentang perjodohan itu. Bukan karena Kris pria yang buruk, tapi karena Suho berhak atas hidupnya sendiri. Tapi apa mau dikata, seberapapun ia menentang 'Tuan Besar' itu pernikahan antara putra dan putri dua pengusaha besar Asia itu tetap terjadi.
Isakan yang sejak tadi Suho tahan kini lolos dari bibir tipisnya, isakan demi isakan mengalun pelan beriringan dengan air mata yang terus menetes. Siwon membawa tubuh ramping Suho dalam pelukannya, mengusap pelan punggung sempit itu.
"Ma-maaf Oppa, a-aku tak bisa men-menjaga pernikahanku, a-aku tak bisa mem-membuatnya mencintaiku, aku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan cinta pertamanya." isakan Suho semakin keras terdengar meski sudah teredam dada Siwon.
"Sakit oppa, rasanya sakit sekali, a-aku dulu sangat men-mencintainya." Siwon terus mengusak pelan punggung Suho, mencoba menenangkan adiknya.
"Maaf Joonmyeon-ah, aku tak ada di saat kau membutuhkan dukungan, maafkan oppa tak ada di masa masa sulit itu, mianhae." Pria tampan itu memejamkan matanya, mengutuk dalam hati atas kebodohannya yang tak ada di masa-masa sulit adiknya. Pasti sangat berat bagi Suho.
.
.
.
"SAMCHON!" Tao berlari memeluk Siwon saat menyadari pria itu sedang duduk di kursi makan.
"Hey jagoan, bagaimana kabarmu?" Siwon berdiri lalu mengangkat tubuh kecil Tao dan sedikit melambungkannya di udara, kekehan kecil lepas dari bibir Tao.
"Hehehe baik samchon." Tao menjawab diantara gelaknya setelah Siwon kembali mendaratkannya di lantai.
"Hey Luhan, bagaimana denganmu?" Siwon memeluk Luhan, menepuk pelan bahu pemuda itu.
"Baik samchon," Luhan tersenyum, "Samchon?"
"Baik, tentu saja."
"Samchon tidak mengajak Kibum imo dan Nara?" Tao bertanya saat Siwon duduk tepat di kursi di sampingnya.
"Tidak Tao, Kibum imo sedang hamil jadi tak bisa bepergian jauh." Siwon mengusak pelan puncak kepala Tao.
"Benarkah? Jadi Tao akan punya adik kecil? Whooa!" Tao berkata girang sambil berteriak heboh.
"Tao senang?" pertanyaan Siwon ini langsung dibalas anggukan semangat dari si kecil, tak lupa cengirannya yang begitu menggemaskan.
Melihat kelakuan si Bungsu, Suho hanya menggeleng kepalanya sambil tersenyum. Tao yang sedang bersemangat memang menggemaskan.
"Lu, kemana Baekhyun? Sebentar lagi waktu makan malam." Suho bertanya pada Luhan yang sedang membantunya membawa mangkuk dan piring berisi makanan dari pantry ke meja makan.
"Mungkin masih di kamar eomma, sebentar aku akan memanggilnya." Luhan berlari melintasi ruang makan menuju kamar Baekhyun.
Setelah mengetuk pintu kamar Baekhyun beberapa kali, Luhan menggeser pelan pintu kayu tersebut. Disinari remangnya lampu baca Luhan dapat melihat Baekhyun duduk di depan meja belajarnya. Di depannya terdapat potret keluarga mereka.
"Baekhyun-ah, ada apa?" Luhan mengusap bahu Baekhyun.
"Hyung, apa kau menyayangi kami? Aku, eomma, dan Tao." Baekhyun tak mengalihkan pandangannya.
"Tentu saja Baekhyun-ah, kenapa kau menanyakan pertanyaan yang sudah kau tahu pasti jawabannya?" Luhan tersenyum tipis.
"Lalu apa kau menyayangi appa?" kali ini Baekhyun benar-benar menatap Luhan.
Luhan terdiam, apakah ia menyayangi appa?, pertanyaan itu, bahkan ia sendiri tak tahu jawabannya.
"Ada apa Baek? Kenapa tiba-tiba menanyakan ini?"
"Jawab aku hyung." Baekhyun menatap Luhan memohon.
"Aku... hyung tak tahu Baekhyun-ah." Luhan menatap photo keluarga mereka yang ada di meja Baekhyun, "Jika ditanya sebagai seorang anak, tentu saja hyung menyayanginya, tapi aku tak tahu apakah itu berasal dari hati yang terdalam, atau hanya suatu keharusan saja."
"Hyung..." Baekhyun menggigit bibirnya, "apa hyung akan ikut appa ke Beijing?"
"Apa maksudmu Baekhyun-ah?" Luhan mengerutkan kening, bingung sekaligus terkejut atas pertanyaan Baekhyun. Mungkinkah Baekhyun sudah mengetahuinya?
"Hyung, aku tak sengaja mendengar percakapan, ah, pertengkaran appa dan eomma tentang hak asuh." Baekhyun menarik nafas pelan, menenangkan diri, kejadian tempo hari bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk diingat.
"Aku juga mendengar tentang Appa yang menginginkan salah satu dari kita menjadi pewaris perusahaan kakek, dan aku yakin appa sudah memintamu untuk ikut dengannya," Baekhyun menatap tepat ke dalam mata rusa Luhan, "saat kau menanyakan tentang kuliah di luar negeri tadi aku tahu itu bohong, apa kau setuju untuk ikut dengan appa?"
"Baekhyun-ah, kenapa kau tak mengatakan ini pada hyung sejak awal? Kenapa kau selalu memendam masalahmu sendiri? Lain kali bicaralah pada-"
"Hyung, kau belum menjawab pertanyaanku, apa kau akan ikut appa?" kali ini mata Baekhyun mulai berkaca-kaca.
"Baek, hyung tak tahu, hyung benar-benar bingung." Luhan mendudukkan tubuhnya di atas temoat tidur Baekhyun.
"Kenapa hyung? Saat appa dan eomma bercerai, saat appa meninggalkan kita, kau benar-benar marah pada appa, kau bahkan tak mau menyebut namanya, lalu kenapa sekarang hyung? Apa karena kau ingin jadi pewaris?" air mata Baekhyun jatuh perlahan melewati pipinya.
"Apa aku terlihat begitu rendah Baekhyun-ah?" Luhan menatap Baekhyun tajam, ada sekilas perasaan terluka disana.
"Lalu apa alasanmu hyung? Kenapa menanyakan tentang kuliah di luar negeri? Aku sangat paham dirimu hyung, sejak awal kau tak pernah berniat kuliah di luar negeri, meski kau mendapat beasiswa sekalipun, kau bahkan menolak tawaran tawaran coach Choi untuk mengikuti training di Old Trafford." Kini giliran Baekhyun yang menatap kakaknya itu.
Luhan hanya mendesah, menarik nafasnya pelan. Hati dan pikirannya sedang kacau saat ini, otak Luhan terus meneriakkan bahwa ia seharusnya menolak tawaran ayahnya dan tetap tinggal di Korea, tapi di saat yang sama bagian lain dari hatinya terus mendorong untuk meng-iyakan tawaran itu. Ada perasaan yang mengatakan bahwa ia harus melakukan ini, demi dirinya, demi keluarganya, tapi Luhan tak tahu untuk apa dan atas dasar apa perasaan itu terus mendesaknya.
"Entahlah Baek, Hyung tak tahu." Luhan menggeleng, menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangannya.
"Bagian mana yang tak kau tahu hyung? Bukankah sudah jelas apa yang dilakukan pria itu pada keluarga kita? Bukankah memang seharusnya ia tak ada lagi dalam kehidupan kita? Dia seharusnya menghilang dan tak pernah muncul lagi di tengah keluarga kita!"
"Wu Baekhyun!" Luhan berdiri dari duduknya menatap Baekhyun tajam, "siapa yang mengajarimu menyumpahi ayahmu sendiri?!"
Yang ditatap hanya bisa menunduk, Baekhyun tahu jika hyungnya itu benar-benar marah. Jujur Baekhyun tak percaya ia bisa berkata seperti itu tentang ayahnya, perceraian orangtuangnya memang jadi pukulan berat baginya, awalnya ia bisa menerima kenyataan itu. Tapi sejak ia mendengar sendiri bahwa ayahnya ingin mengambil hak asuh hanya demi perusahaan kemarahan Baekhyun meluap, ia tak bisa lagi menahan dirinya, tak bisa lagi bersembunyi di balik topeng penerimaan dan kepasrahan diri. Terlebih lagi saat Luhan, kakaknya, seolah menyetujui untuk tinggal bersama ayah mereka.
Baekhyun sadar betul bahwa apapun yang akan dilakukan Luhan adalah hak pribadi hyungnya. Tentu saja Baekhyun tahu bahwa ia tak punya kewenangan atas keputusan Luhan, ia tak berhak memaksa hyungnya itu untuk tetap tinggal. Tapi perasaan terkhianati tak bisa lagi ia elakkan, bagaimana bisa hyungnya pergi bersama orang yang telah menghancurkan mimpi mimpi mereka tentang keluarga bahagia hingga akhir masa, meninggalkan dirinya bersama ibu dan adiknya yang mencoba merangkai kembali mimpi mimpi indah itu.
"Ayo turun Baekhyun-ah, mereka sudah menunggumu untuk makan malam." Luhan tersenyum tipis, senyuman untuk dirinya sendiri karena Baekhyun tak kunjung mendongakkan kepalanya.
Luhan menyentuh bahu baekhyun, memaksa pria yang lebih muda untuk melihat wajah kakaknya. Luhan kembali tersenyum tipis.
"Percayalah Baekhyun-ah, semua yang hyung lakukan demi kebaikan kita semua, kau hanya perlu mempercayai itu Baek, kau percaya pada Hyung kan?" Luhan terus menatap mata Baekhyun yang berkaca-kaca.
Sementara Baekhyun mencoba mencari kepastian dalam tatapan Luhan, setidaknya untuk saat ini ia butuh meyakinkan dirinya akan kebenaran kata-kata Luhan itu. Baekhyun yakin bahwa Luhan akan terus menyayangi mereka, Luhan dapat melihat itu di mata hyungnya. Tapi Baekhyun tak yakin apakah ia bisa terus menatap ke dalam netra kecoklatan hyung kesayangannya itu. Baekhyun tak tahu apakah Luhan akan terus ada disana untuk meyakinkannya.
.
.
.
Pemuda itu berjalan dengan kepala menunduk rendah, koridor yang ia lewati sudah mulai sepi karena bel masuk telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Jemarinya memainkan ujung tali ranselnya yang menjuntai. Pikirannya benar-benar tak fokus sampai akhirnya seseorang menabraknya, membuatnya terjatuh terduduk.
Pemuda itu mendesis tak suka, moodnya sedang buruk saat ini. Baru hendak mengeluarkan sumpah serapahnya, Luhan, pemuda itu sudah ditarik paksa oleh orang yang baru saja menabraknya, melewati koridor-koridor yang hening mereka berlari. Luhan dapat melihat jelas punggung bidang itu, rambut kecoklatan yang sedikit memanjang menutupi sebagian lehernya.
Sehun?
.
.
.
To Be Continued...
.
.
Hallloooooo reader-nimi
Piye kabare? Apik to? (lah bahasa kampung keluar)
Yeah breaking news! Ini bukan fast update seperti yang kalian harapkan. Mian... T.T
Yah biasalah author abal-abal, idenya tiba-tiba hilang dan lama banget baliknya, ditambah tugas kuliah yang gak tau toleransi. (authornya kebanyakan alibi)
Gimana? Gimana? Puaskah? Pendek ya? Iya sih...
Hmm sorry gak bisa balesin review satu-satu T.T , bukannya sombong tapi ini mata udah kriyep kriyep, gak kuat melek lagi.
Banyak yang pada nanya, 'Kris sama Suho bakal balikan lagi ya thor?' pertanyaan ini juga yang jadi pertanyaan saya, menurut kalian bagusnya gimana nih?
Dan pertanyaan apakah Suho akan bersama dengan Chanyeol itu jawabannya tidak. Mereka murni profesionalitas antara pengacara dan client aja kok, tapi sebagai pria yang selalu pengertian Chanyeol mencoba untuk bantuin Suho dengan dukungan moral, jadi kesannya mereka itu ada 'sesuatu' padahal sebenarnya enggak.
Dan ada yang minta Chanyeol sama Baekhyun, hmmm mari kita pikirkan, apakah harus kita buat konsep pedofil dan Baekhyun bakal manggil Chanyeol daddy? Muehehehehe (astaga thor, sing eling thor, nyebut)
Udah sampai disini dulu reader-nimi, udah malem author udah mulai gesrek.
Berdoa aja saya bisa fast update, dan membawa alur yang lebih ngena.
Terakhir maaf atas kesalahan dalam penulisan.
Don't forget to leave your review below ^^
EXO WE ARE ONE!
EXO SARANGHAJA!
.
.
Big Thanks to:
Pinker61 – AkaSunaSparKyu – babyjunma – ruixi1 – – BunnyJoon – hannik2206 – sayakanoicinoe – OhByunSoo – Dianafarfalla – hunexohan – Taman Coklat – ArumL – Raemyoon – NajmaRosya3027 – Baby niz 137 – Bbangssang – Nadhefuji – Emmasuho – tokisaki – Yifanfhie – Meclaulin – Rilah safitri – oh chaca – Guest – SyiSehun – zahra – BLUEFIRE0805 – Soororo – yesbyunbaekhee12 – chenma – Silent Reader - daebaektaeluv – kimikrisho – gaemxian137 – hanhyewon357 – Suhocang – 1313 – chanbaeklupp – jaei100 – anoncikiciw – NameDiana Wu – flameshine –
