AUTHOR WARNING : OOC, OC, AU, DLL, DST, ECT, NGGAK SESUAI SEJARAH 3KINGDOM SAYA CUMAN NGAMBIL NAMANYA DAN SAYA PAKSAKAN MENJADI KELANJUTAN DARI FATAL FRAME 3 DAN 4. NGGAK SUKA? NGGAK TERIMA SEJARAH DI ACAK? KLIK TOMBOL CLOSE DI BROWSER ANDA SEKARANG! KALAU ANDA TETEP BACA, DAN DIRIVIEW TENTANG HAL YANG SUDAH SAYA WARNINGKAN. SAYA KASIH DOORPRISE JALAN KAKI DARI KOTA ANDA SAMPAI KE KAMPUNG HALAMAN SAYA BUAT WISATA KULINER!
Hour 9 – The Only Hatred
"Hei, bagaimana kabarmu, Zhong Hui?"
"Jangan berbasa-basi seperti itu, Sima Zhao. Kau tahu 'kan sebentar lagi aku akan menjalani ritual terkutuk itu?"
"Aku mengerti. Lagipula sorot matamu sekarang penuh kebencian. Ini pasti tidak mudah untukmu."
"Kurasa semua orang di rumah ini punya kebencian tertentu, kecuali kau. Kau memang orang yang aneh."
"Siapa bilang? Tentu saja ada hal yang kubenci di dunia ini."
"Apa itu?"
"Hmm… Itu adalah…"
-Everyone has a certain hatred that they can't deny no matter what-
=0=0=0=
Sima Zhao kini berdiri tegak di hadapan Kei dan anak-anak buahnya. Sorot matanya tidak lagi memancarkan keramahan yang jenaka seperti biasanya, melainkan penuh kebencian yang tidak tanggung-tanggung. Kekuatan spiritualnya meluap-luap, seolah mampu menghancurkan apa pun tanpa menyentuhnya.
"Gawat…" rutuk Kei, "Ini benar-benar gawat!"
"Padahal tenaga kita belum benar-benar pulih. Tak kusangka kita harus menghadapi yang seperti ini," timpal Maron.
"Dia akan menyerang…" Ying Fang memperingatkan dengan mata yang penuh ketakutan sekaligus kesedihan.
Tiba-tiba saja Kei dan Maron merasa ada sengatan listrik bertegangan tinggi dari dalam tubuh mereka. Sengatan listrik itu sukses mengejutkan mereka setengah mampus dan membuat seluruh indera mereka nyaris lumpuh. Serangan listrik itu juga membuat Rekka terjatuh dari gendongan Kei. Anak itu masih belum sadar sehingga tidak jelas apakah ia ikut terkena serangan listrik itu atau tidak.
"Ka… Kalian berdua tidak apa-apa?" Ying Fang bertanya dengan panik.
"Jelas saja kami apa-apa…" Maron hanya bisa berucap dalam hati karena tubuhnya masih kesemutan luar biasa.
Sima Zhao kini menyiapkan serangan yang lainnya. Di tangannya muncul sebuah bola api yang besar berwarna hitam pekat bercampur merah darah yang tampak mengerikan. Bila dilihat lebih dekat, bola api itu tampak berbentuk seperti kumpulan tengkorak-tengkorak manusia. Sima Zhao kini memandang Kei, Ying Fang, Maron, dan Rekka dengan tatapan yang penuh nafsu membunuh.
Dalam situasi normal, Kei dan yang lainnya pasti segera lari terbirit-birit tanpa sempat berpikir. Akan tetapi, kali ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Seluruh anggota tubuh mereka seolah kompak melakukan pemogokan kerja massal terhadap mereka.
Ying Fang sebagai satu-satunya yang masih bisa bergerak pun hanya bisa menggeleng lemah, "Seandainya mungkin, aku ingin membawa kalian lari dari sini, tetapi aku tidak bisa apa-apa… Maafkan aku…"
"Tidak adakah cara lain untuk lolos dari sini?" Kei berpikir sambil berusaha keras menatap Kamera Obscura di hadapannya. Sungguh menyedihkan bahwa sekarang untuk menatap sesuatu saja harus berusaha keras. Dalam kondisi seperti ini, membalikkan telapak tangan saja butuh usaha, keringat, dan air mata. Sama sekali tidak mudah.
"Kumohon, Kami-sama![1] Buat tanganku mampu meraih kamera ini meski hanya sesaat! Aku boleh saja mati berapa kali pun, tetapi tidak dengan anak-anak ini! Mereka sama sekali tidak boleh mati!"
Sima Zhao lalu melemparkan bola api merah-hitam itu tanpa belas kasihan ke arah Kei dan yang lainnya. Maron hanya bisa mengeluarkan sebuah erangan lemah, yang sebenarnya berupa jeritan dalam kondisi normal. Ying Fang sempat berusaha mengumpulkan kekuatan spiritualnya yang tersisa untuk melindungi Kei, Maron, dan Rekka, namun kekuatan itu sama sekali tidak cukup untuk menandingi serangan Sima Zhao. Di lain pihak, Kei terus menatap bola merah hitam itu tanpa berkedip sambil terus berusaha menggerakkan tangannya untuk meraih Kamera Obscura.
Sebelum Kei sempat menyadarinya, kesemutan hebat di tubuhnya tiba-tiba lenyap dalam sekejap. Saat itu juga secara reflek Kei meraih kameranya dan memotret Sima Zhao bersama bola api merah-hitam yang tengah melesat ke arah mereka berempat.
JPRETTT!
Kei tidak pernah merasa suara Kamera Obscura terdengar sekeras ini sebelumnya, entah karena telinganya baru saja kembali normal atau yang lainnya. Yang pasti, hal yang terjadi selanjutnya sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun.
Seluruh bola api merah-hitam itu tiba-tiba terserap masuk ke dalam Kamera Obscura. Sedetik kemudian, muncul bola api merah-hitam dari lensa Kamera Obscura dengan ukuran 5 kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Bola api merah-hitam itu dengan cepat menghantam Sima Zhao.
"AAAARRGGHHH!" Sima Zhao mengerang dengan sangat keras. Erangannya jauh lebih mengerikan daripada erangan hantu mana pun yang pernah dihadapi Kei cs.
"Serangan yang hebat! Kekuatan spiritual Sima Zhao menurun drastis hingga mendekati titik nol sekarang!" seru Ying Fang.
Kei tersenyum. Senyumannya jauh lebih lebar daripada yang pernah dia tahu. Dalam hatinya diam-diam ia berterima kasih karena permohonannya dikabulkan.
"Ah, syukurlah…" Maron akhirnya bisa berbicara secara normal. Kesemutan di tubuhnya sepertinya sudah hilang.
"Sepertinya kau bisa mengetahui pergerakan dan stamina hantu ya, Ying Fang? Apakah sekarang Sima Zhao akan kembali menyerang?" tanya Kei.
"Stamina Sima Zhao nyaris nol karena kekuatan spiritualnya terserap besar-besaran, tetapi aku masih belum mampu merasakan tanda-tanda ia akan menyerang balik," jelas Ying Fang.
Sima Zhao pelan-pelan kembali berdiri tegak. Jelas sekali tampak bahwa ia masih sangat lemah dan tidak mampu menyerang, namun kebenciannya yang sangat kental masih terasa menghimpit seluruh udara di ruangan itu.
"Manusia-manusia busuk…." erang Sima Zhao, "Tidak akan kubiarkan kalian bertahan hidup lebih lama… Kalian sudah merampas segalanya dariku! Kebencian ini tidak dapat semudah itu kalian lenyapkan!"
"Hah? Omongan ngaco macam apa itu?" komentar Kei.
"Hati-hati, kekuatan spiritual Sima Zhao tiba-tiba menunjukkan gejala yang aneh!" seru Ying Fang memperingatkan. Kei dan Maron langsung waspada, sementara Rekka masih belum sadar.
Sima Zhao kembali berucap meski dengan susah payah, "Gara-gara kalian, aku kehilangan semuanya… Meimei juga…. Meimei juga…"
"Meimei? Apakah yang ia maksud adalah Wang Mei Yin? Kenapa ia membicarakan itu?" Ying Fang mengerinyitkan dahi sebelum akhirnya ia menyadari sesuatu, "Jangan-jangan dia—"
"CUKUP SAMPAI DI SITU!"
Secara mengejutkan, sesosok hantu lain tiba-tiba muncul di samping Sima Zhao. Kei, Maron, dan Ying Fang sangat terkejut saat mereka mengetahui bahwa hantu itu adalah Guo Jia.
Belum habis kekagetan Kei dan yang lainnya, dari tubuh roh Sima Zhao muncul kabut-kabut merah kehitaman yang penuh aura kebencian. Kabut itu kemudian terus mengalir masuk ke dalam tubuh roh Guo Jia. Guo Jia tampak sangat menderita karena ia berusaha melawan aura kebencian Sima Zhao yang sedikit demi sedikit mulai mengambil alih kesadarannya, namun di sisi lain aura kebencian itu membuat Guo Jia semakin kuat.
"Aku akan… membawa kebencian ini…. supaya Sima Zhao kembali… seperti semula…" ucap Guo Jia dengan susah payah sambil menahan sakit, "Aku akan kembali lagi… saat kalian sudah… cukup kuat… untuk mengalahkan… ku…"
Setelah seluruh aura kebencian Sima Zhao diserap oleh Guo Jia, Guo Jia langsung menghilang. Kini yang tertinggal hanyalah Sima Zhao yang nampak sedikit kesakitan dan kelelahan, namun telah kembali seperti semula.
"Kenapa ini bisa terjadi?" Kei bertanya-tanya dengan takjub, "Seharusnya Guo Jia sudah menghilang gara-gara kejadian tadi… Sungguh ajaib…"
"Mungkin karena roh seseorang selalu tertinggal di dalam roh lainnya," komentar Maron. Kei hanya mengerinyitkan dahi karena tidak mengerti sehingga ia akhirnya memutuskan untuk diam saja.
"Sima Zhao! Kamu tidak apa-apa?" tanya Ying Fang sambil mendekati Sima Zhao. Sima Zhao hanya memandang Ying Fang dan Kei dkk. dengan bingung.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Ngomong-ngomong, kenapa aku sendiri sudah bisa meninggalkan ruangan itu?" tanya Sima Zhao bingung.
"Ah, itu tidak penting, xiansheng[2]! Yang penting Anda sudah kembali seperti semula!" ucap Maron sambil tersenyum lebar.
Sima Zhao menggaruk-garuk kepalanya sambil berusaha mengingat-ingat, "Ah, kalau tidak salah, sebelumnya aku dibawa oleh Guo Jia, lalu aku sempat bertemu dengan—"
"—Zhong Hui?" Ying Fang tiba-tiba menyambung ucapan Sima Zhao sambil menatap Sima Zhao tajam. Sima Zhao mengangguk.
"Maksud kalian?" tanya Kei tidak mengerti.
"Tidak salah lagi. Guo-gege membawa Sima Zhao kepada Hui, lalu Hui membangkitkan kebencian Sima Zhao hingga ia jadi seperti tadi," ucapYing Fang, "Biar bagaimana pun, Sima Zhao juga memiliki kebencian meski sangat sedikit. Itulah yang dimanfaatkan oleh Hui. Apalagi Hui sekarang sudah menjadi penguasa kebencian gara-gara makhluk itu…"
"Hui itu maksudnya Zhong Hui?" tanya Maron. Ying Fang mengangguk.
"Yah, Zhong Hui itu 'kan adiknya Ying Fang, guniang ini. Makanya Ying Fang memanggil Zhong Hui dengan nama kecilnya saja," ucap Kei.
"HAH! JADI GUNIANG[3] INI JIEJIE[4]NYA ZHONG HUI?" seru Maron sambil melotot, "Kalau begitu mestinya kita langsung minta bantuannya tadi saat kita bingung mencari kunci kamarnya Zhong Hui! Tidak perlu kita repot-repot menolong Sima-xiansheng dulu!"
"Kau membuatku tersinggung!" seru Sima Zhao sambil mendelik sebal ke arah Maron.
Kei memutar bola matanya, "Bukannya tadi kau yang berinisiatif menolong Sima Zhao dulu, Maron?"
"Aku hanya bercanda, xianshengI Jangan dimasukkan ke hati!" ucap Maron sambil membuat tanda peace dengan kedua jarinya.
"Jadi bantuan yang kalian inginkan dari Sima Zhao adalah lokasi batu-batu yang menjadi kunci kamar Hui, ya? Soal itu, aku sama sekali tidak tahu, jadi tindakan kalian untuk menyelamatkan Sima Zhao dulu sudah tepat," ucap Ying Fang sambil tersenyum.
"Hmm, batu apa saja yang sudah kalian dapatkan?" tanya Sima Zhao.
"Kami sudah mendapatkan batu naga alias batu Qing Long dari Jiang Wei, juga batu phoenix alias batu Zhe Que dari Guo Jia. Selanjutnya kami butuh informasi soal keberadaan batu-batu yang lainnya," ucap Kei.
"Kalau kalian sudah bisa mendapatkan dua batu pertama, harusnya kalian sudah tahu lokasi batu-batu yang lainnya, 'kan?" tanya Sima Zhao.
"Memang, sih. Tapi buktinya batu Zhe Que tadi kami dapatkan langsung dari Guo Jia, padahal kami belum menuju ke tempat batu itu seharusnya disimpan. Berarti daripada menuju ke ruangannya, bukankah lebih baik kami mencari hantu yang pasti menyimpan batu-batu itu?" tanya Maron.
"Hmm, kesimpulan yang bagus. Memang awalnya batu-batu itu disimpan di lokasi yang ditunjukkan oleh puisi di depan kamar Zhong Hui, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, Zhong Hui sendiri sepertinya membuat batu-batu itu dibawa oleh hantu-hantu tertentu yang ia percayai. Zhong Hui berusaha keras agar semua manusia yang masuk tidak mampu memecahkan misteri yang ada di rumah ini; misteri yang bahkan tidak diketahui oleh kami sebagai penghuninya," jelas Sima Zhao.
"Lalu siapa hantu yang menyimpan batu-batu itu?" tanya Kei tidak sabar.
"Sabar dong, Om-om bermuka mesum!" seru Sima Zhao membuat Kei jengkel, "Aku tidak ingat pasti, sih… Kurasa hantu-hantu dengan kebencian terbesar pasti membawa kuncinya. Kemungkinannya mungkin Zhong Yao, ayah Zhong Hui dan Ying Fang, atau Sima Shi kakakku, atau sepasang manusia yang masuk sebelum kalian dan sekarang mereka sudah jadi arwah, atau mungkin juga…"
Sima Zhao tiba-tiba meneteskan air mata. Kei dan Maron hanya terbengong-bengong melihat perubahan ekspresi Sima Zhao sementara Ying Fang menepuk-nepuk punggung Sima Zhao sebagai tanda simpati.
"Yuan Ji-ku… Hiks…" Sima Zhao mulai menangis tersedu-sedu, "Aku benci ini! Kenapa semuanya harus menderita?"
"Wang Yuan Ji adalah istri Sima Zhao, sekaligus salah satu hantu dengan kebencian tebesar di rumah ini," jelas Ying Fang sambil menghela napas, "Aku turut sedih, Sima Zhao."
"Hati-hati, xiansheng! Kalau kamu terus memendam kebencian, bisa-bisa kau dimanfaatkan oleh Zhong Hui lagi!" seru Maron.
"Ini bukan salah Hui!" tukas Ying Fang tiba-tiba, "Ini semua salah Zhong Kui, iblis tua itu! Hui, Guo-gege, dan semua hantu dengan kebencian yang besar di rumah ini hanya diperalat olehnya!"
"Zhong Kui? Bukankah dia penguasa neraka yang disegel turun temurun oleh keluarga Zhong?" tanya Kei.
"Benar… Tapi sebenarnya itu semua salah kami… Zhong Kui sudah sejak lama mengincar anak laki-laki keluarga Zhong dengan kebencian dan kekuatan spiritual yang besar untuk dimanfaatkan dan Hui sangat sesuai untuk itu. Seandainya saja kami tidak mengorbankan Hui…. " ucap Ying Fang, "Ah, sudahlah! Ini tidak penting! Yang pasti tujuan kalian untuk masuk ke kamar Hui itu sudah tepat karena di dalam sana memang terdapat banyak rahasia yang pasti berguna untuk menyelamatkan rumah ini dari Zhong Kui! Ayo kita bergegas!"
"Kalian mau melanjutkan perjalanan, ya? Kalau begitu aku akan kembali ke ruanganku yang biasa. Segel di sana sudah terbuka sehingga kalian bebas memasukinya kapan saja. Kalau tidak berada di sana, aku bisa segera lenyap karena kekuatan spiritualku sedikit!" sahut Sima Zhao sambil berbalik. Sebelum ia pergi, ia kembali berkata dengan suara lirih, "Aku sungguh-sungguh berharap akan kemusnahan kutukan di rumah ini. Aku rela mengorbankan apa saja untuk itu."
"Aku juga demikian, Sima Zhao. Kita tidak sendirian," ucap Ying Fang sambil tersenyum, "Baiklah. Sampai ketemu, Sima Zhao!"
Sima Zhao kemudian menghilang dari tempat itu.
"Ngomong-ngomong, apakah kau bersedia menemani kami, Ying Fang? Kemampuanmu dalam mendeteksi stamina dan kekuatan spiritual hantu akan sangat berguna bagi kami untuk memecahkan misteri di rumah ini," pinta Kei.
"Hee, guniang ini punya kekuatan seperti itu ya? Menarik sekali!" puji Maron dengan kagum.
"Sebenarnya sejak awal aku bermaksud demikian. Aku sangat ingin memecahkan misteri di rumah ini dan menyelamatkan semuanya. Aku sangat senang kalau aku bisa membantu," ucap Ying Fang.
"Kalau begitu, kami mohon bantuannya," ucap Kei sambil tersenyum.
=0=0=0=
Glosarium
[1] Kami-sama: Tuhan, Dewa
[2] Xiansheng: Tuan
[3] Guniang: Nona
[4] Jiejie: Kakak perempuan
