Choose!
Pair: BoBoiBoy (Gempa) x Yaya (slight Fang x Ying)
Genre: Romance, Humor, & Family
Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Nii hanya meminjam karakter-karakternya saja
Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.
Happy Reading~!
RnR please?
Chapter 8
"Tiga … dua … satu!"
Prek! Prek! Terdengar beberapa ledakan kecil dari lantai dua yang langsung menimbulkan hujan confetti warna-warni metalik dengan bentuk hati dan bintang.
"FESTIVAL SEKOLAH DIBUKA!"
Pengunjung mulai berdatangan sejak pagi saat festival sekolah baru saja dimulai. Malah sebelum pagar dibuka, sudah banyak yang mengantri panjang di luar. Gempa selaku ketua panitia pengganti, karena ketua sebelumnya pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit, berkeliling memastikan keadaan baik-baik saja.
"Gempa, tunggu!"
Sebuah suara lembut yang membuat langkah Gempa terhenti dan menoleh. Seorang gadis berkerudung merah muda tengah memeluk beberapa map di depan dadanya sedang berlari menuju ke arahnya.
"Kenapa, Yaya? Ada masalah?"
Yaya mengangguk. "Kayaknya sound system yang kita punya memiliki sedikit masalah. Padahal konsernya kan dimulai jam satu siang."
"Begitu? Hmm … oke, ayo kita ke sana sekarang."
Tempat yang mereka berdua tuju, ruang audio visual dimana para anggota band yang sudah berkumpul dengan wajah kebingungan mengelilingi sound system yang menjadi masalah utama mereka.
"Kenapa nih?" tanya Gempa menghampiri.
"Ada sedikit masalah, Ketua," ucap salah seorang anggota band yang menjadi pemain keyboard.
"Sound system-nya ya?" Gempa berjongkok di depan benda itu lalu mengangguk pelan. "Memang apanya yang salah?"
"Dari sound system-nya nggak keluar bunyi apa pun! Padahal aku sudah nyolok sambungan bass-ku di situ tapi nggak terjadi apa-apa."
"Hmm …" Gempa lagi-lagi manggut-manggut sendiri, lalu mendadak wajahnya menghitam melihat kabel yang harusnya terpasang di stop-kontak tergeletak begitu saja di hadapannya. "Ah ya, ngomong-ngomong … kabel listriknya … sudah kalian colok kan?" tanya Gempa sambil menunjuk kabel hitam yang terulur panjang tersebut.
"Eh? Harus dicolok ya?"
GUBRAAAAKKKK!
"Hadeuh, kenapa masalah sepele gini mesti kalian besar-besarin sampai ngelibatin Ketua segala sih?" kata Yaya sedikit sebal. "Terus, mana vokalis kalian? Masa nge-band cuma ada bunyi-bunyian musik doang?"
"Nah, itu juga masalah," ucap sang pemain drum. "Kami sudah berusaha mengontak dia berkali-kali, tapi jaringan sibuk. Orang banyak gini. Padahal dia vokalis sekaligus gitaris. Kalau dia nggak ada, performance kami nggak akan berjalan lancar!"
Gempa melirik jamnya. "Ini sudah jam sepuluh lewat tiga puluh menit. Anggota kalian itu sudah harus datang maksimal satu jam lagi untuk siap-siap. Jam dua belas tepat kalian sudah harus bawa barang-barang kalian ke belakang panggung," instruksi Gempa. "Kalau sampai jam setengah dua belas vokalis kalian belum juga datang, segera beritahu aku."
"Baik, Ketua!"
Gempa mengangguk lalu ia dan Yaya segera meninggalkan ruang audio visual.
"Haaaahh … ada-ada aja mereka ya," keluh Yaya.
"Yah, semoga vokalis mereka bisa datang tepat waktu," ucap Gempa, lalu mendadak langkahnya terhenti dan ia langsung merogoh kantongnya dan mengeluarkan notes kecil. Setelah melihat notes itu wajahnya langsung terlihat segar kembali. "Ah! Jam 10.45, sudah waktunya dibuka lho!"
"Eh?" Yaya terlihat bingung.
Melihat reaksi Yaya itu, Gempa langsung mendesah. "Ya ampun, jangan bilang kau lupa. Hari ini jam 10.45 di kelas IX-J, kelas kita kan ada …"
"Selamat datang kembali, Tuan dan Nona. Meja untuk berapa orang?"
"Ukh-" Yaya langsung menutup hidungnya, berusaha mencegah agar darah segar tidak keluar dari dalamnya karena saat ini ia sedang melihat … keempat cogan yang jalan-jalan dengannya kemarin mengenakan seragam pelayan alias butler! WAOW! (Author ikut mimisan sendiri ngebayanginnya)
"Kayaknya di sini lancar-lancar saja," ucap Gempa. "Banyak pengunjung yang memberikan review, kalau pelayan favorit mereka adalah Taufan dan Halilintar."
"Yah, mereka memang cocok jadi butler sih, terutama si Taufan yang sering tebar pesona itu," celetuk Yaya. "Sebagai partner, mereka bisa diandalkan. Aku cuma berharap, Blaze dan Ice nggak bikin masalah di sini."
"Oh? Nampaknya kita telah kedatangan Tuan Putri lagi?" Taufan terkekeh saat berjalan menemui Yaya yang bersebelahan dengan Gempa.
Cowok itu –Taufan- mengenakan jas berwarna navy dengan dalaman kemeja putih berdasi hitam panjang yang dimasukkan ke dalam jas. Topi dinosaurus biru andalannya tidak terlihat, digantikan oleh rambut hitamnya yang lurus, sedikit dimodel dengan wax, sehingga sehelai rambut putihnya juga terlihat jelas.
"Keadaan lancar saja kan?" tanya Gempa.
"Pastinya!" Taufan mengacungkan jempol. "Lebih banyak pengunjung perempuan, mereka berebut pengen dilayani aku atau Kak Hali. Yah, tapi adik-adikku juga nggak kalah banyak penggemarnya sih."
"Oh, Blaze dan Ice?"
"Itu tuh. Blaze cukup serampangan, dia hampir bikin beberapa gelas dan piring pecah dan Ice agak loyo dan lambat sewaktu bekerja, tapi itu bukan masalah besar. Toh, pengunjung justru menyukainya," ujar Taufan.
"Oooii! Pelayan favorit! Cepak balik kerja!" sindir Halilintar dari dalam.
"Sebentar Kaaakk!" Taufan buru-buru pergi ke dalam kelas (yang sekarang jadi butler café dadakan) setelah berpamitan singkat dengan Yaya dan Gempa.
Yaya masih memandangi pintu kelasnya yang telah disulap menjadi lebih elegan oleh teman-temannya dalam sekejap seharian kemarin. Terpampang dengan rapi tulisan 'IX-J Butler Café' berwarna abu-abu metalik atau silver.
"Kalau kau mau coba, reservasi tempat saja dulu. Terus nanti waktu kau dapat istirahat, datang saja," usul Gempa yang nampaknya bisa membaca pikiran cewek yang satu ini.
Yaya nyengir. "Hehe … tau aja."
"Hmm … terus habis ini kita harus ngecek-"
Drap! Drap! Drap! Terdengar saura orang tengah berlari kencang ke arah mereka berdua.
"Woooiii! Ketuaa!" seru orang itu yang ternyata adalah … Gopal.
"Kenapa sih, Gopal?" Yaya mengernyit melihat kawan bertubuh gempalnya itu ngos-ngosan.
"Kom-kompor di ruang PKK bermasalah! Gimana nih? Nanti kelas IX-F nggak bisa buka kedai crepe mereka! Uhuhuhuhuuu~! Padahal aku pengen makaaann!"
Yaya tepok jidat. "Sudah kuduga. Pasti makanan lagi."
Tanpa dua orang itu sadari, Gempa sudah telah selesai mengotak-atik ponselnya. "Aku sudah bilang ke Ibu Kantin untuk meminjamkan beberapa kompor portable untuk kalian. Gopal, nanti kau ke kantin untuk membawa kompor-kompor itu ke IX-F ya," instruksi Gempa.
"Baik!" Gopal langsung cabut ke kantin.
Gempa menatap kepergian kawan baiknya itu lalu balik menatap gadis di sampingnya, membuat gadis itu balas menatapnya bingung.
"Kenapa?"
"Ng-nggak ada … apa-apa kok." Gempa langsung membuang muka, refleks. "Ki-kita periksa dulu kelas-kelas yang lain yuk."
"KETUAAA!"
"Kenapa lagi?" tanya Gempa saat seseorang menghampirinya lagi untuk kesekian kalinya. Sudah berapa puluh kali ini terjadi hari ini? Gempa sudah lelah …
"Vokalis band kami belum juga datang nih! Tolong dong! Kami baru dapat kabar kalau dia terjebak macet di jalan, nggak akan bisa datang tepat waktu! Harus ada yang gantikan!" seru anggota band tadi. "Ketua bisa nyanyi sambil main gitar nggak?"
"Haaahhh? Suaraku rada feminim gini kau nyuruh aku nyanyi lagu rock?" Gempa sewot, lalu kemudian ia menghela napas, bermaksud untuk mengiyakan karena mungkin memang nggak ada pengganti, daripada pertunjukan mereka batal.
"Ketuaaa! Tungguu!"
Terdengar teriakan lagi yang sepertinya menuju ke arah sini. Dari suaranya yang cempreng, bisa dipastikan itu suara seorang perempuan. Benar saja, itu adalah Ying yang tengah berlari sambil menyeret-nyeret Fang.
"Ke-kenapa nih, Ying?" tanya Yaya kaget.
"I-ini nih! Aku bawain orang yang lagi nganggur. Pas banget katanya ada yang lagi butuh vokalis plus gitaris. Dia aja yang gantiin!" ucap Ying mantap sambil menunjuk Fang yang sedang membetulkan kerah bajunya yang sedari tadi ditarik Ying.
"Apaan sih? Aku kan ada urusan di stand donat lobak merahnya kelas-." Ucapan Fang terhenti begitu melihat Ying menatapnya horor.
Gempa manggut-manggut. "Oke, boleh saja. Fang bisa nyanyi sambil main gitar kan? Gayanya juga nggak jelek. Asal dia nggak nyanyi lagu tidur dengan gayanya yang selangit itu aja. Ya udah, dia aja yang jadi penggantinya."
"Oke. Nah, ayo kita adakan sesi latihan singkat dulu sekarang! Jangan khawatir, Ketua! Aku bakal awasi dia biar nggak kabur!" ujar Ying mantap.
"Tidaaakkk! Toloonggg!" Fang kembali meronta saat Ying kembali menyeretnya lagi menuju ruang audio visual bersama anggota band tadi.
"Nah, sekarang jam berapa?" tanya Gempa setelah ketiga orang itu pergi.
"Jam … 11.30. Ah, ini sudah masuk waktu istirahatku!" ujar Yaya senang saat melihat jamnya.
"Oh, begitu?" Wajah Gempa terlihat sedikit meredup. "Baguslah. Kau bisa pergi jalan-ja-"
Ucapan Gempa terhenti saat ia menyadari pergelangan tangannya digenggam gadis itu. Yaya tersenyum lalu menarik Gempa ikut bersamanya.
"Kau juga harus ikut!" ucapnya mantap, lalu tepat sebelum Gempa menyangkal mengingat tugasnya sebagai ketua, Yaya sudah mendului. "Habisnya … aku lebih senang kalau bersamamu. Ng-nggak boleh ya?"
Blush! Muka Gempa memerah seketika, membuat Yaya tertawa kecil saat melihatnya.
"Kalau begitu … tempat pertama yang akan kita kunjungi tentu saja 'itu'!"
Jiiiiittt…
"Ukh," Gempa menelan ludahnya, tidak nyaman dengan situasi dan kondisi di sekitarnya saat ini.
Di kelas IX-J, atau lebih tepatnya 'IX-J Butler Café', seorang 'Ketua Panitia Festival Sekolah' sedang duduk berdua dengan seorang perempuan. Terlebih lagi, yang dari tadi meliriknya adalah keempat adik(baca: pecahan)-nya sendiri.
"Aku mau ganggu mereka seben-" Halilintar langsung mencengkram kerah baju Taufan yang hendak menghampiri kakak tertua mereka itu. Menyadari bajunya ditarik, Taufan menunjukkan ekspresi tak senang. "Psst, Kak Hali apaan sih."
"Kau diam tenang di sini aja bisa nggak sih?" ujar Halilintar sengit sambil memandang adiknya dengan tatapan yang seakan bicara 'gue-juga-cemburu-tau'. "Biarin aja lah. Lagian hari ini memang giliran Kak Gempa."
Taufan mendengus pasrah. "Aku akan ambil pesanan mereka."
"Nggak usah Kak. Aku aja."
Di lain sisi, Gempa masih gugup dan keluar keringat dingin, sementara Yaya asyik memandangi interior kafe kelas mereka ini sambil tersenyum-senyum karena memang dia yang mendesainnya mati-matian kemarin kemudian segera dikerjakan oleh teman-teman sekelasnya secepat mungkin.
"Maaf," sela seseorang. "Boleh saya dengar pesanannya?"
"Ah iya, tolong-hiii!" Yaya bergidik kecil saat sosok pelayan yang menyambutnya adalah Ice, lengkap dengan tatapan mata horornya yang menusuk. "A-aku … cappuccino latte sama soft cream deh …"
"Ka-kalau aku … hot chocolate aja," ucap Gempa singkat.
"Baik, mohon tunggu sebentar."
Setelah mencatat pesanannya, Ice pun segera berlalu.
"Oh, iya, Gempa!" ujar Yaya tiba-tiba. "Kudengar kafe ini disponsori kedainya Tok Aba kan?"
"Eh? Iya," jawab Gempa. "Atok memberikan cuma-cuma beberapa tong bubuk cokelat untuk kafe ini dengan syarat sekalian promosiin tentang kedainya."
"Hooo… pantas aroma di sini nggak beda jauh dari kedainya," Yaya tertawa kecil. "Aah … jadi ingat waktu kita masih SD dulu, kau pernah jalan nyasar sampai ke pantai segala buat ke kedai Atok, nolak kukasih tau, padahal cuma tinggal jalan sedikit aja. Dulu banyak banget kejadian yang menyenangkan."
"Memangnya sekarang nggak?"
"Ehh … masih sih, tapi kan ya, kita nggak sebebas dulu. Tugas udah banyak yang numpuk."
"Iya ya … Ah! Jam 11.45 aku harus mengecek latihan anak band di ruang audi-"
Ssshhtt … Yaya metelakkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan untuk diam. "Lupakan semua hal tentang kepanitiaan yang ngebosenin itu kalau sedang bersamaku, oke?" ucapnya yang otomatis membuat Gempa mengangguk singkat dengan muka semerah tomat.
Di lain sisi, Fang yang bertugas menggantikan anggota band yang terkena masalah tengah bingung sendiri saat dipoles sedikit oleh Ying.
"Woi! Aku nih cowok tulen tau! Nggak perlu didandani segala!"
"Diam dan menurut aja susah banget bagimu ya?" Ying mendengus. Ia menyemprotkan spray khusus ke rambut cowok itu yang sedari tadi dimodelnya dengan susah payah. "Nah, dengan begini beres."
Fang mendesah kecil lalu berdiri sambil memegang gitar yang dipinjam dari klub musik ringan. Warnanya ungu metalik-putih dan kesannya cool.
"Oh iya, Abang Kaizo nggak datang?" tanya Ying sambil merapikan barang-barangnya yang dipinjamnya dari klub rias untuk memoles Fang tadi. Kok dia jadi make-up artist dadakan gini sih?
"Abang? Oh, dia katanya sih mau datang. Cuma mungkin bukan hari ini. Dia bakal datang pas Malam Puncak hari Senin," jawab Fang.
"Ohh …" Ying ber-oh ria tanpa menoleh ke arah cowok itu karena masih sibuk menaruh peralatannya.
Fang mengernyit. "Kenapa sih? Segitunya mau ketemu Abangku?"
"Aku nggak bilang gitu kok." jawab Ying singkat.
"Hmmm … kupikir tadinya kau … suka dia …" ucap Fang pelan.
"Hah? Kau bilang apa barusan?"
"Nggak, kupikir tadinya kalau kau suka … dia," ucap Fang pelan. Hatinya merasakan guncangan hebat setelah mengucapkan kalimat barusan. "A-Abangku …"
"Hah? Jarang banget melihatmu kurang percaya diri begitu," Ying menatap cowok itu aneh. "Jangan-jangan kau masih galau gara-gara nggak jadi ke stand donat lobak merahnya kelas-"
Fang menggigit bibirnya, tampak tidak senang dengan Ying yang tiba-tiba mengubah topik, terlihat seperti melarikan diri dari pembicaraan mereka tadi. Ia merasa perasaannya makin kacau dan teraduk-aduk karena tidak mendapat jawaban yang pasti atas pertanyaannya.
"Haloooo~?" Ying menatap Fang yang sedari tadi diam, sama sekali tidak menggubris celotehannya, padahal biasanya cowok itu langsung mendengus dan mengelak mati-matian.
"Jujur aja." ucap Fang tiba-tiba. "Kalau kau memang suka Abangku, akan akan berhenti berharap, daripada mengejar sebuah bayangan yang tidak akan bisa kudapatkan sekeras apa pun aku berusaha."
Ying makin merasa aneh dan bingung kuadrat. Ini anak kenapa sih? Kayaknya benar dia masih galau gegara nggak bisa makan makanan favoritnya, terus perasaannya langsung kebawa-bawa gini? Lagian juga, kapan Ying pernah bilang Kaizo itu keren atau semacamnya? Yang ada dia bilang Kaizo itu ngeselin. Yah, mungkin memang pernah sih dibilang keren, dulu. Tapi itu kan cuma ungkapan spontan saja, ia tidak benar-benar serius.
Gadis itu berjalan lurus ke arah cowok itu lalu berteriak keras.
"Fang!" Suara teriakannya bahkan terasa lebih keras daripada sound system. "Kau tuh, cemen banget jadi cowok! Kalau kau memang suka, memangnya harus menyerah begitu tau orang yang kau suka menyukai orang lain? Nggak ada peraturan konyol macam itu di dunia ini!"
Entah kenapa, hati Ying juga merasa sedikit sakit setelah Fang menuduhnya yang tidak-tidak.
"Aku tahu kok! Memang aku juga salah karena nggak pernah memberimu jawaban yang pasti dari dulu! Aku juga tahu kalau aku cuma cewek kutu buku yang gila belajar, tapi nggak tahu apa-apa soal cinta! Juga selalu acuh saat menerima semua kebaikanmu. Tapi, tapi … cuma satu yang aku mau kau tahu!" Suara Ying terdengar sedikit serak setelah mengatakan semua hal yang selama ini dipendamnya. Air mata mulai mengalir dari pelupuk mata gadis berkacamata itu. "Aku nggak pernah … sekalipun nggak suka dengan semua hal yang kau lakukan padaku itu, tahu?"
Setelah mengatakan itu, Ying langsung berlari kencang meninggalkan ruang audio visual dengan bendungan air matanya yang bocor. Sambil berlari, ia menyadari suatu hal penting yang selalu diacuhkannya selama ini.
'Ah … akhirnya aku menemukan jawabannya … jawaban yang selalu kusangkal kebenarannya selama ini …'
'Ya, aku … menyukaimu … Fang.'
"Terima kasih atas kunjungannya."
Setelah selesai bersantai sebentar di Butler Café kelas mereka, Gempa dan Yaya kembali untuk mengerjakan tugas panitia seperti semula.
"Mmm … soft cream yang mereka hidangkan di sana tadi yang terbaik yang pernah kumakan." Yaya menjilat bibirnya. "Tenaga sudah pulih, saatnya balik kerja!" seru gadis itu semangat.
"Itu baru semangat," Gempa tersenyum. "Oke, selanjutnya konser untuk band tadi akan digelar tiga puluh menit lagi. Ayo kita ke sana!"
"Ayo!"
Backstage yang telah disiapkan di belakang panggung telah penuh oleh alat-alat musik mulai dari gitar, bass, keyboard, drum, sampai biola karena klub biola juga akan turut menunjukkan unjuk kebolehannya di festival sekolah tahun ini, sekaligus mencari anggota baru karena sebentar lagi mereka akan lulus dan peminat biola di sekolah mereka saat ini jumlahnya sangat sedikit.
Gempa dan Yaya akhirnya sampai di sana dan Gempa langsung berbicara pada teman sekelasnya yang diutus (?) menjadi MC dan meminta daftar susunan acaranya untuk memastikan.
"Penampilan pertama band dari klub musik ringan kan? Mana nih, bubuhannya?" Gempa menoleh ke sekitar ruangan dan menangkap seorang cowok berkacamata dengan rambutnya yang telah dimodel rapi tengah duduk diam tanpa suara di kursi yang terletak persis di samping alat-alat musik. "Hoi, Fang! Kenapa? Lagi gugup atau grogi gegara sebentar lagi tampil?"
Fang tidak menjawab.
"Oh iya, Ying mana? Tadi dia bersamamu kan?" tanya Yaya.
Ekspresi di wajah Fang terlihat sedikit berubah. Ia tiba-tiba langsung berdiri tegak sambil memegang gitarnya.
"Aku … akan menyatakannya!"
"Hah? Nyatakan? Nyatakan apa?" Gempa bingung atas sikap kawannya yang gila popularitas ini.
"Kalau kau cowok, nggak usah pura-pura nggak ngerti!" Fang menunjuk Gempa yang langsung kaget, plus bingung. "Tentu saja ai!"
"Hah? Orang ini kenapa sih? Terus barusan dia bilang apa?" tanya Gempa, masih nggak mudeng. Atau lebih tepatnya dia nggak ngerti Fang barusan ngomong apa.
"Yah, kau nggak mungkin paham sih. Itu kan bahasa Mandarin," ujar Fang songong.
"Ai-artinya cinta. Oh, aku mengerti maksudmu. Kau mau bilang cinta di hadapan banyak penonton kalau kau suka dia?" kata Yaya. "Maaf kalau ini membuatmu ragu, tapi Ying bukan orang yang senang menarik perhatian seperti itu. Apalagi kalau kau sampai bilang hal begitu di depan banyak orang. Bukannya disukai balik, kau malah terancam dibenci."
"Nggak apa-apa. Itu lebih baik, daripada aku diam saja," ujar Fang mantap. "Masalah itu, nggak akan selesai kalau kita nggak mengambil resiko kan? Dan … aku yakin kok, dia nggak akan benci aku. Toh, dia sendiri yang bilang."
"Hah?" Yaya mengernyit. "Suka-suka deh. Tapi apa kau nggak terlalu percaya diri?"
"Hmph." Fang mendengus. "Seenggaknya itu lebih baik daripada menjadi seorang cowok cemen. Minggir, aku mau tunjukkan cintaku padanya!" Fang segera berjalan dengan mantap menuju panggung.
Tapi tepat sebelum cowok itu keluar, Gempa keburu menegurnya.
"Eh, woi, Fang! Kau mau kemana? Pertunjukannya belum mulai udah main ke panggung aja! Aku ngerti kau itu lagi dimabuk cinta, tapi tunggu dulu bentar napa! Temen satu band-mu aja masih siap-siap! Kau mau nyanyi sendirian? Terus, kau mau naik ke panggung dengan kaki nyeker kayak gitu? Malu-maluin sekolah kita tahu?" protes Gempa yang membuat Fang langsung malu sendiri ngeliat kakinya yang hanya berbalut kaus kaki hitam.
"Ah, terus ya … sebenarnya yang kau ucapkan tadi, ai-atau artinya cinta, itu bahasa Jepang lho," tukas Yaya.
"Hah?"
"Ya, ai dalam bahasa Jepang artinya cinta. Dengan kata lain, itu kau yang sok tau bilang itu bahasa Mandarin," Yaya mendengus.
Fang malu kuadrat.
"Nah, sekarang sudah saatnya. Pergilah, kawan-kawan kecilku. Akan ada banyak permainan di sana. Bersenang-senanglah. Khukhu …"
"Apa ini memang yang terbaik, Tuan?"
"Yah, habisnya selama beberapa bulan ini nggak ada yang seru sih! Jadi membuat beberapa kesenangan itu dengan tanganku sendiri tidak apa-apa kan?"
"Tuan ini ya …"
"Sudah berapa kali aku suruh panggilnya Kapten saja? Bukan 'Tuan'? Terus terang aku risih dipanggil begitu. Kau salah makan apa sih?"
"Maaf Tuan-eh, Kapten. Yah, tiap hari aku salah makan kali, Kapten. Cuma aku ada baca di sebuah majalah, katanya sebutan Kapten itu terlalu kanakan, jadi aku mulai memanggil Kapten dengan sebutan Tuan."
"Kau baca buku apaan sih?"
"Nggak tahu, aku lupa judulnya. Tapi yang jelas itu buku anak-anak dan banyak kalimat 'Aku seorang kapiten!' gitu,"
"Aaahh, berisik. Pokoknya aku nggak sreg kalau nggak dipanggil Kapten. Jangan pernah panggil aku Tuan lagi, mengerti?"
"Baik, Kapten."
"Bagus. Nah, baiklah. Pertunjukannya sebentar lagi akan segera dimulai!"
Tirai panggung dibuka. Seorang laki-laki yang bertugas menjadi MC mulai menjalankan tugasnya dengan baik, menarik perhatian dan mengakrabkan diri dengan penonton. Setelah membacakan susunan acara dan berbasa-basi sedikit, ia pun langsung mempersembahkan penampilan pertama dari sekolah mereka, band dari SMP Pulau Rintis.
"Nah, sekarang mari kita saksikan … pertunjukan band SMP Pulau Rintis!"
Tepuk tangan dan jeritan dari gadis-gadis membahana, apalagi begitu melihat seorang cowok berambut ungu raven memegang sebuah gitar, berada di posisi center, tepat di depan mike. Sudah jelas ia adalah gitaris sekaligus vokalis band ini.
"One! Two! One two three four!"
Musik mulai mengalun. Suara dari sound system itu begitu keras hingga terdengar oleh telinga seorang gadis kepang dua yang tengah berpegangan pada dinding koridor sekolah sambil ngos-ngosan.
"Ah … pertunjukannya sudah mulai ya? Sayang aku nggak punya keberanian lagi untuk pergi ke sana," Gadis itu kemudian roboh di sana dan menekuk serta memeluk lututnya. "Lagu yang bagus … setidaknya aku bersyukur masih bisa mendengar suaramu … walau dalam jarak sejauh ini …"
Gadis itu tersenyum miris, tidak sadar kalau ada seseorang yang memerhatikannya, lalu berlari pergi.
Di lain sisi, Yaya yang tengah berada di belakang panggun sedang mengamati pertunjukan band sekolah mereka itu, menggerak-gerakkan kakinya, merasa ikut terpancing mengikuti nada lagu tersebut. Tiba-tiba saja ia mendapat sebuah ide brilian.
Yaya menarik pelan kain baju di siku Gempa.
"Eh? Kenapa Yaya?"
"Aku punya ide!" serunya dengan mata berbinar-binar.
Band itu membawakan tiga buah lagu dengan sempurna. Banyak anak-anak perempuan jejeritan menyebut-nyebut, berteriak berbarengan 'Encore! Encore!' dan mengelu-elukan si vokalis, yang tak lain dan tak bukan adalah si Fang. Bahkan ada yang sampai nekat naik ke panggung untuk sekadar meminta nomor teleponnya! Tapi, apa yang cowok itu bilang?
Cowok itu mengambil mike yang sedari tadi dipakainya untuk bernyanyi, lalu mengumumkan. "Aku ingin membuat pengumuman di sini, sekarang juga. Jadi dengarkan baik-baik. Aku yakin kau mendengarnya meski dari jauh! Aku nggak akan berdiri di sini, kalau bukan karenamu. Sampai saat ini, aku selalu berbuat hal yang kukira bisa membuatnya jatuh cinta padaku. Tapi apa aku berhasil? Atau tidak? Itu persoalan yang rumit."
Para penonton terheran-heran. Kenapa tiba-tiba suasananya jadi galau begini? Tapi karena terdorong oleh rasa penasaran, penonton diam-diam saja menanti kelanjutan kata dari cowok itu.
"…berulang kali aku berpikir tentang perasaanmu padaku, tapi aku tidak dapat menemukan jawabannya. Kau begitu rumit, juga susah digapai seperti bayangan. Apa aku yang harus berhenti berharap? Juga berhenti mengejarmu?" Fang menarik napas, lalu menghembuskannya. Terlihat kalau dia akan mengucapkan klimaks dari pidato singkat dadakannya di kalimat berikutnya. "Jadi akan aku perjelas di sini, sekarang juga! Aku menyukaimu, Ying!"
Aku. Menyukaimu. Ying. Tiga buah kata yang membentuk sebuah kalimat yang bisa membuat Ying membeku. Mungkin tidak kalau itu diucapkan oleh orang lain, tapi lain halnya dengan yang didengarnya saat ini. Suaranya khas dan selalu membuat hatinya bergetar tiap mendengarnya. Suara seorang lelaki … yang tanpa sadar sudah mengisi ruang di hatinya.
Puk! Tiba-tiba Ying merasa pundaknya ditepuk seseorang. Saat ia menoleh, terlihat seorang gadis berkerudung merah muda yang tersenyum tipis.
"Halo, Gadis Berkacamata yang sedang murung!" sapanya riang.
"Halo juga, Gadis Berkerudung Merah Muda yang tengah berbahagia. Ada perlu apa?" tanya Ying, membalas sapaan Yaya dengan nada yang terdengar sama isengnya agar tidak ketahuan kalau dia sedang gundah.
"Oh, ayolah." Yaya merangkul Ying. "Daripada terus-menerus galau begitu, bagaimana kalau kau temani aku minum cappuccino di Butler Café kelas kita? Kau belum ada ke sana kan? Tempatnya bagus lho!" Yaya, tanpa disuruh langsung menarik tangan Ying.
"Eh! Tunggu, Yaya!" Ying tidak dapat mengelak. Akhirnya ia pasrah saja dibawa oleh gadis itu ke kelas mereka yang telah disulap menjadi kafe.
Saat mereka sampai, dan disambut oleh keempat butler andalan yang sepertinya sudah bisa menebak mereka berdua akan datang, mereka diantar oleh seorang butler bermata tajam berwarna merah menyala menuju ke sebuah ruang private yang sebenarnya hanya dinding di pojokan yang separuhnya lagi ditutup dengan gorden berwarna hitam. Sengaja dibuat baru saja karena …
"Heeiii! Butler cakep yang di sana itu!" seru Yaya riang.
"Heeii, ada apa, Tuan Putri?" balas butler itu, sama riangnya, sekaligus senang dibilang 'cakep'.
"Pesan caramell latte dua ya!" ucap Yaya, ikut memesankan untuk Ying.
"Siap! Silakan tunggu, Tuan Putri."
Yaya mengangguk-angguk ceria.
"Oke, sekarang mari kita dengar ceritamu."
"Eeehh? Cerita tentang apa? Aku sama sekali nggak-"
"Jangan pura-pura! Aku agak nggak suka kalau sahabatku menyembunyikan fakta kalau dia sedang menyukai seseorang. Terlebih lagi 'seseorang' itu adalah salah satu di antara squad gaje kita berlima. Gimana aku nggak penasaran coba? Jadi, sekarang ceritakan, oke? Baik, cerita dimulai! Nah, nah, ayo cerita!" serang Yaya bertubi-tubi, membuat Ying yang masih berusaha mencerna suasana di sekelilingnya kalang kabut.
"U-umm … maafkan aku, Yaya. Ja-jadi, begini … aku …" Ying mulai membuka mulutnya.
"Halooo?! Gempa ya? Aduh, maaf. Aku lagi ada pembicaraan penting nih!" Yaya tiba-tiba menelpon membuat Ying kaget. "Ehhh? Masa harus ke sana sekarang? Duh, iya iya. Aku ke sana deh."
Yaya memutuskan sambungan.
"Maaf ya, Ying! Aku harus pergi sekarang. Kau tunggu dulu di sini, nggak lama aku pasti balik. Oke? Daaahhh!" Yaya langsung melesat pergi, membuat Ying sedikit curiga, jangan-jangan dia itu sengaja…
Tunggu! Kalau Yaya itu sengaja, dan ini berarti dia sudah masuk dalam rencana gadis itu, sepertinya dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Private room yang baru saja dibuat. Dia yang awalnya diseret Yaya ke sini langsung ditinggal. Berarti yang muncul berikutnya adalah …
'Mampus! Aku harus pergi dari sini secepatnya!' pikir Ying panik. Tapi sayangnya, rencananya untuk kabur langsung gagal dalam sekejap, karena seorang cowok dengan tampang merasa direpotkan langsung didorong masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Woooii! Nggak usah dorong-dorong juga napa sih! Memangnya ada apaan co ... ba?" Omongan cowok itu terhenti begitu melihat gadis berkepang dua di depannya yang mukanya sudah memucat. "Heeiii! Ini maksudnya apaan hah?!" Fang menyibak gorden hitam itu lalu protes dengan Gempa yang tadi menyeret-nyeretnya ke sini.
"Hei, jangan jadi cowok cemen! Sudah, masuk sana! Masuk! Kau kira nggak repot apa, nyiapin rencana dadakan kayak gini di masa kita lagi sibuk-sibuknya!" Cowok berkacamata itu kembali didorong masuk. Dalam sekejap tangan yang tadi mendorongnya untuk masuk langsung menutup gorden sehingga sekarang benar-benar tinggal mereka saja … berdua.
'Nggak mungkin! Ini pasti yang lain sudah pasang telinga mau nguping nih!' Fang mendengus sebal.
Kembali ke situasinya yang super-gaswat sekarang. Ia sendiri tidak berani menatap wajah gadis di depannya itu, sama seperti sebaliknya.
"Penampilan kalian tadi bagus. Ah, barusan itu aku memujimu, oke?" ujar Ying membuka topik pembicaraan dengan nada tsundere khasnya, tapi gadis itu belum bisa membalikkan wajahnya untuk menatap cowok berkacamata di depannya ini. "Dan ... aku juga ... senang mendengar pengumumanmu tadi. Terima kasih."
"Jadi ... aku diterima nih?"
Ying mengangguk singkat.
Fang langsung tersenyum lebar, tapi sedetik kemudian senyuman itu langsung terganti oleh sengiran.
"Oho? Aku sama sekali belum mendengar pernyataan yang sama dari gadis di depanku ini ... Aku jadi nggak tahu apa aku beneran diterima? Atau ditolak? Yang mana? Bilang dong~" ujar Fang. Keisengannya langsung menjadi-jadi, membuat muka Ying semakin memerah, entah karena malu ... atau kesal?
"Berisik! Kau menyuruhku mengatakannya? Kau ini ya-!"
"Ahh ... balik lagi ke sikap biasa nih? Gadisku yang tsundere?" goda Fang.
Ngek! Fang langsung dihadiahi cubitan gemes dari Ying.
"Haaahh… dengan begini masalah selesai!" Yaya merentangkan tangannya ke atas.
"Hahaha, masa sih?" Gempa tertawa kecil. "Yah, beres atau tidak, sekarang itu urusan mereka. Sebaiknya kita nggak usah ikut campur."
"Benar juga ya…"
AC (baca: angin cepoi-cepoi) berhembus dari belakang mereka berdua menerbangkan topi Gempa, tapi dengan cekatan cowok itu kembali menangkap dan memasangnya. Yaya juga, mengencangkan pegangan pada kerudungnya agar tidak terhempas angin. Tentu saja, karena sekarang mereka tengah berada di atap sekolah.
"Jadi, sekarang apa tujuanmu mengajakku ke atap sekolah sampai membuat keempat adikmu cemburu?" tanya Yaya mengalihkan pembicaraan, memulai topik baru.
Gempa menelan ludah. Ya, beberapa saat setelah sukses memancing Ying dan Fang masuk ke private room abal-abal di Butler Café mereka, Gempa langsung menarik Yaya untuk pergi sebelum keempat adiknya sadar. Sadar sih, tapi terlambat. Mereka hanya bisa menatap tidak percaya, sekaligus iri.
"Umm … yah … sebenarnya bukan hal yang penting sih," Gempa memalingkan muka.
"Oh, gitu?" Yaya mengernyit, merasa diabaikan. "Bukan hal yang penting kan? Kalau gitu aku balik! Masih banyak yang harus kuurus!" Gadis itu langsung berbalik sambil menggembungkan pipinya kesal.
"Waaa! Yaya, jangan main pergi-pergi dong!" cegat Gempa.
"Habis, kau juga! Jangan jadi cowok cemen!"
"Ma-maaf deh," ucap Gempa pelan. "Aku cuma ingin menikmati hembusan angin di atap ini lebih lama lagi sebelum membicarakannya. Tapi kayaknya nggak bisa ya? Masih banyak hal yang harus kita urus. Haaahh … tahu gini aku nggak akan setuju jadi Ketua Panitia."
Gempa lalu berbalik, menatap gadis itu.
"Ada … yang ingin kusampaikan padamu … sejak dulu …"
Waduh! Situasi kayak gini kan … biasanya … Hati Yaya langsung berdegup kencang. Jujur, dia belum siap untuk situasi seperti ini. Mukanya perlahan memerah, tidak mengira kalau Gempa sekarang mau …
"A-anu …" ucap Gempa lagi. "Aku … sebenarnya …"
Dug … dug … dug …
"Aku itu … anu …"
Dug … dug …
"Ng … jadi ya …"
Dug …
"Aku itu …"
"Berisiikkk!" seru Yaya tiba-tiba, tidak tahan dengan debaran jantungnya yang sungguh membuatnya tidak nyaman. "Aku itu … ng … anu … jadi ya … Apa-apaan itu!" emosi Yaya meluap-luap. "Aku paling benci kalimat yang nggak pasti. Cepat susun dulu kata-kata yang mau kau ucapkan di benakmu lalu bilang! Kuberi waktu 30 detik!"
"Eh? Ehhh?" Gempa kalang kabut. "U-uhuk! Baiklah!"
Angin itu kembali berhembus, memisahkan jarak antara Gempa dan Yaya. Tiga puluh detik telah berlalu, dan Gempa mulai membuka mulutnya.
"Akan kukatakan sekarang. Yap!" ucap Gempa, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Tapi maaf sebelumnya, kalau ini akan membuatmu tidak nyaman dan bingung nantinya. Aku … menyukaimu, Yaya."
Ucapan yang tulus itu keluar dari mulut Gempa, beriringan dengan angin yang berembus kencang.
"Hah?" Yaya nggak mudeng. "Eh, eh, tadi kau bilang apa, Gempa? Nggak kedengaran, anginnya kencang banget. Bisa diulang nggak?"
"Tidak masalah, aku akan mengulangnya sebanyak apa pun kau mau. Aku menyukaimu." Ucap Gempa, kali ini sambil tersenyum gentle.
"…"
"…"
Hyuuu~ Angin kembali berhembus dan menerpa kedua orang yang tengah berhadapan itu.
"Kau … barusan … bilang …"
"Aku menyukaimu." potong Gempa.
Bohong! Ini nggak mungkin.
"Aku sungguh-sungguh," ucap Gempa, seakan bisa membaca pikiran Yaya. "Sebenarnya sudah lama perasaan ini ada padaku. Tapi sejak dulu aku hanya seorang anak SD yang polos. Tidak pernah memikirkan dan tahu apapun soal cinta. Mungkin sekarang juga masih, tapi setidaknya aku mengerti. Aku merasa senang kalau bersamamu."
"… itu … aku nggak pantas untuk semua kata-katamu itu …"
"Itu nggak benar! Cuma kau yang bisa membuatku-" Perkataan Gempa terpotong, sepertinya ia menyadari sesuatu. "Ah, aku mengerti." Cahaya di matanya meredup. "Kalau begitu, bisa kita anggap tidak ada yang terjadi tadi? Sebagai gantinya, jawablah satu pertanyaan ini dariku."
Yaya menatap Gempa bingung.
"Dari kita berlima, siapa yang lebih kau suka?"
"!"
Pertanyaan yang tidak akan bisa dijawab oleh Yaya. Pertanyaan itu hanya membatasi Yaya pilihan jawaban di antara kelima orang. Yaitu Gempa, Halilintar, Taufan, Blaze, atau Ice. Tidak mungkin dia bisa memilih satu di antara kelima orang itu.
"Jadi siapa?" tanya Gempa lagi. Sorot matanya terlihat sungguh-sungguh. "Apa kau tidak bisa memilih? Atau kau menyukai orang lain?"
"U-ugh …" Yaya bungkam. "Gempa, a-aku-"
BLAAAARRRRR!
Terdengar suara ledakan yang dahsyat dari lapangan. Gempa dan Yaya yang tadinya terlibat pembicaraan serius langsung buru-buru mengecek apa yang terjadi dari atap. Dan mereka kaget setengah mati bahwa kini sekolah mereka … diserang.
Jam di pergelangan tangan Gempa dan Yaya berbunyi. Setelah menekannya, muncullah sebuah hologram yang menampakkan teman-teman mereka.
"Gempa! Yaya! Tolong! Kita sedang diserang!"
"Oke, oke, aku mengerti. Aku juga sedang melihatnya. Siapa penyerangnya?"
"Itu … kami belum tahu. Pokoknya kalian cepat gabung dengan kita-kita di sini! Kalian punya waktu 5 detik! Buruan!"
Pip. Hologram itu langsung lenyap. Gempa dan Yaya saling berpandangan dan mengangguk, lalu langsung lompat dari atas atap sekolah dan lari menuju tempat kejadian. Kedanya masing-masing berusaha melupakan apa yang terjadi tadi dan berusaha fokus pada situasi yang mereka alami sekarang.
Tapi ... itu nggak mungkin, kan?
~To Be Continued~
Haloo~ Nii kembali dengan apdet yang (sedikit) lebih cepat. Chapter kemarin ancur banget, yah, chapter ini rasanya juga sih. Ketahuan banget Nii lagi setress. Maklumin aja ya ahahaha/tertawamiris Jadi setelah semua dapat giliran, sekarang tiba saatnya untuk berlawan! Horeee!/plak Maaf, jadi kegirangan gegara seneng apdet jadi lebih cepat. Di chapter kemarin-kemarin banyak banget kekurangan-kekurangan yang menonjol dari fanfic Nii, jadi Nii mohon maaf sekaligus berterima kasih sebanyak-banyaknya pada readers yang masih sudi untuk membaca dan mengikut fanfic ini. Semoga untuk berikutnya Nii tidak membuat kalian kecewa :'3 Oke, daripada Nii ngoceh terus dan akhirnya jadi spoiler, Nii sudahi dulu di sini ya. Jangan lupa tinggalkan review X3, agar Nii bisa terpancing untuk apdet lebih cepat lagi kayak gini XD Oke, sedikit bocoran lagi deh. Nii berencana untuk menamatkan fanfic ini segera sebelum Boboiboy Galaxy dimulai, terus habis itu bikin fanfic baru dengan main pairing FaYi, X3 Doain semoga kesampaian ya :'3 See you next chapter~! X3
Balasan review untuk yang nggak login:
Ililara: Waduh, kalau semua pingsan nggak ada yang ngurus kepanitiaannya dong? X'D Ahaha, tenang, FaYinya, Nii perbanyak di chapter ini kok (padahal harusnya chapter ini fokus ke GempaYa, tapi malah jadi gini. Nggak pa-pa ya? :'3/plak) Ehehe, makasih untuk semangatnya XD
Tasha: Sudah lanjut, selamat membaca X3
Baekday: Uwoohh! Baekday-san punya indera ke 7? XD Hm? Kalau ditanya inspirasi, mungkin dari beberapa shoujo manga yang pernah Nii baca X3 Terima kasih untuk semangatnya, Nii akan terus berjuang! XD
Guest Guest: Eh iya, Nii tau, cumaa~ sistem sekolah di animasi Boboiboy itu juga kadang nggak masuk akal kan? Kayak yang minggu kemarin baru ulangan, masa minggu ini ulangan lagi, terus pas sekolah mereka lagi diujung tanduk, masih bela-belain ngerjain ujian X'3 Jadi Nii coba buat sistem yang ga masuk akal juga, tapi jadinya malah beneran ga masuk akal (banget) X'3 Ah, Kakak dulu mantan anak OSIS ya? Di kelas Nii juga ada anak OSIS, hidupnya serba gak jelas, jarang masuk kelas, nggak tau kenapa bisa dia naik kelas X'3 Makasih untuk semangatnya Kak :3
siti wulandari: puk puk Taufan. Tenang saja, Taufan itu tsuyoi!/dihajarUpan
BBB Lover's: Iya. Hali maniss X3 Terima kasih untuk semangatnya, Nii akan terus berjuang! X3
Guest: Ufufu, Hali terlalu tsundere untuk ngegombal, jadi dia deh yang malah kena gombal X3 Eh, ini bukan chapter the last lho, malah chapter the beginning X3 Hm, hm, yup, mungkin chapter depan-depan bakal jadi penentu. Bakal balik nggak ya? Atau bagusnya tetap begini aja? X'D Oke, sudah lanjut. Selamat membaca X3
Aline: Kangen? Sini Nii peluk/plak Waduh, kok meleleh sih? Icee, bekuin Aline-san dong, bekuin! *malahtambahmeleleh* Tuhh, Hali, gimana? Puas nggak? (Halilintar: *malingkan muka sambil blushing*) Doita~ Aline-san :3 Oh, kita sekelas? Kelas 11 juga dong? Kyaa~~ XD
Guest (orang yang sama kah?): Siap! Dengan senang hati akan Nii lanjutkan! XD
Terima kasih untuk review para readers sekalian. Maaf kalau fanfic Nii belum bisa memenuhi ekspektasi kalian semua. Jumpa lagi di chapter berikutnya ya XD
